Bid'ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah

Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani mendapatkan pertanyaan sebagai berikut,

ما حكم الإسلام في الضرائب؟

“Apa hukum pajak dalam ajaran Islam?”

الجواب: الضرائب هي التي تسمى بلغة الشرع (المكوس)، والمكوس من المتفق بين علماء المسلمين أنها لا تجوز إلا في حالة واحدة، يتحدث عنها بحجة بينة الإمام الشاطبي رحمه الله في كتابه العظيم الاعتصام،

Jawaban al Albani sebagai berikut, “Pajak dalam istilah syariat disebut dengan istilah mukus (bentuk jamak dari maks). Mukus itu tidak boleh dengan kesepakatan ulama kaum muslimin kecuali dalam satu kondisi. Kondisi tersebut dikupas secara bagus oleh Imam asy Syathibi dalam bukunya yang sangat berharga yaitu al I’tisham.

حيث يتكلم فيه بكلام علمي دقيق قلما نجده في كتاب آخر سواه، يفرق فيه بين البدعة التي أكد في بحثه في هذا الكتاب أن قول النبي صلى الله عليه وسلم: (كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار) أن هذا القول الكريم هو على إطلاقه وعمومه وشموله،

Dalam buku tersebut dengan pembahasan ilmiah yang cermat yang jarang-jarang bisa kita jumpai dalam buku yang lain. Dalam buku tersebut beliau membedakan antara bid’ah dengan selainnya. Dalam buku tersebut beliau menegaskan bahwa sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu dalam neraka” itu berlaku dan bersifat umum dan mutlak serta mencakup semua jenis bid’ah.

وأنه ليس في الإسلام ما يسميه بعض المتأخرين بالبدعة الحسنة؛ لأن هذه البدعة الحسنة أولاً: لا دليل عليها في الكتاب ولا في السنة، وثانياً: هي مخالفة لعموم الأحاديث التي تطلق ذم البدعة إطلاقاً شاملاً، فكلما تعرض النبي صلى الله عليه وسلم لذكرها فإنه يطلق الذم عليها، ولا يقيدها بقيد ما، كمثل الحديث السابق،

Sesungguhnya dalam ajaran Islam tidak terdapat istilah bid’ah khasanah (bid’ah yang baik) sebagaimana istilah yang dibuat oleh sebagian orang-orang belakangan. Istilah bid’ah khasanah itu bermasalah: (a) istilah tersebut tidak memiliki dasar berupa dalil dari al Qur’an dan sunah (b)istilah tersebut menyelisihi hadits-hadits berisi celaan terhadap bid’ah yang bersifat umum. Setiap kali Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut bid’ah, beliau pasti mencelanya secara umum dan tidak membatasinya dalam bentuk-bentuk tertentu semisal dalam hadits yang lain.

ومثل الحديث الآخر الذي أخرجه الشيخان في صحيحيهما من حديث عائشة رضي الله تعالى عنها، قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم: (من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد)،

Contoh hadits yang lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengada-ada dalam agama ini padahal bukan bagian darinya maka amal mengada-ada tersebut pasti tertolak”.

أكد الإمام الشاطبي في كتابه المشار إليه آنفاً: أن هذه الأحاديث تحمل على عمومها وشمولها، فكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.

Dalam buku di atas Imam asy Syathibi menegaskan bahwa hadits-hadits di atas dipahami bersifat umum dan mencakup semua bentuk bid’ah. Sehingga semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka.

ولكنه من إحسانه في هذا البحث العظيم أن تعرض لما يسمى أو يعرف عند بعض العلماء بـ(المصالح المرسلة)،

Akan tetapi di antara kebaikan asy Syathibi dalam bahasan yang sangat bernilai ini adalah beliau menyinggung apa yang disebut atau dikenal oleh sebagian ulama dengan istilah maslahat mursalah.

وهذه المصالح المرسلة التي تلتبس على بعض المتأخرين من الذين ذهبوا إلى القول بأن في الدين بدعة حسنة، تختلط عليهم المصالح المرسلة بالبدعة الحسنة، وشتان ما بينهما،

Istilah maslahat mursalah inilah yang menjadi sebab kerancuan sebagian orang belakangan yang mengatakan adanya bid’ah khasanah dalam agama Islam. Akhirnya mereka tidak bisa membedakan antara maslahat mursalah dengan bid’ah. Padahal dua hal tersebut sangat berbeda.

فالمصلحة المرسلة -التي يتبناها بعض العلماء ومنهم إمامنا الشاطبي رحمه الله- هي التي توجبها ظروف وضعية أو زمنية، تؤدي إلى تحقيق مصلحة شرعية. فهذه ليس لها علاقة بالبدعة التي يستحسنها بعض الناس؛

Maslahat mursalah yang dijadikan dalil oleh sebagian ulama – di antaranya adalah Imam asy Syathibi- adalah kebijakan yang diharuskan oleh kondisi dan waktu tertentu dan diharapkan kebijakan tersebut akan mewujudkan manfaat yang diakui oleh syariat. Maslahat mursalah sebagaimana pengertian ini tidak memiliki hubungan dengan bid’ah yang dinilai baik oleh sebagian orang.

لأن البدعة التي يسمونها بالبدعة الحسنة إنما يقصدون بها زيادة التقرب إلى الله تبارك وتعالى، وهذه الزيادة لا مجال لها في دائرة الإسلام الواسعة، التي مما جاء فيها قول ربنا تبارك وتعالى: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً [المائدة:3]،

Bid’ah yang dibungkus oleh sebagian orang dengan nama bid’ah hasanah adalah amal mengada-ada yang dilakukan oleh pelakunya dengan tujuan agar semakin dekat kepada Allah. Ajaran Islam yang demikian luas ini tidak memberi tempat untuk tambahan dengan bentuk semacam itu karena Allah telah berfirman yang artinya, “Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kulengkapkan untuk kalian nikmat-nikmatku serta aku telah rela Islam menjadi agama kalian” (QS al Maidah:3).

ولذلك لقد أجاد إمام دار الهجرة الإمام مالك رحمه الله حينما قال كلمته الذهبية المشهورة، قال: من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة؛ فقد زعم أن محمداً صلى الله عليه وسلم خان الرسالة -وحاشاه- اقرءوا قول الله تبارك وتعالى: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً [المائدة:3] .

Oleh karena itu, sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Imam Dar al Hijrah, Imam Malik yang telah mengatakan perkataan beliau yang terkenal. Perkataan beliau layak untuk ditulis dengan tinta emas. Beliau mengatakan, “Barang siapa membuat bid’ah dalam Islam dan dia menilainya sebagai suatu hal yang baik berarti telah menuduh Muhammad tidak amanah – dan itu adalah suatu hal yang tidak mungkin- dalam menyampaikan wahyu. Bacalah firman Allah yang artinya, “Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kulengkapkan untuk kalian nikmat-nikmatku serta aku telah rela Islam menjadi agama kalian” (QS al Maidah:3)”.

قال مالك : فما لم يكن يومئذ ديناً -أي: يتقرب به إلى الله- فلا يكون اليوم ديناً، ولا يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها.

Malik melanjutkan perkataannya dengan mengatakan, “Maka segala sesuatu yang pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak dianggap sebagai bagian dari agama-yang bisa mendekatkan diri kepada Allah – maka pada saat ini juga bukan bagian dari agama. Yang bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini hanyalah hal yang telah berhasil memperbaiki keadaan genarasi awalnya”.

إذا كان هذا هو شأن البدعة التي يسمونها بالبدعة الحسنة، وهو أنهم يريدون التقرب إلى الله تبارك وتعالى بها، زيادة على ما جاء به رسول الله صلى الله عليه وسلم

Jika demikian hakikat bid’ah yang disebut sebagian orang dengan istilah bid’ah khasanah. Pelaku ‘bid’ah hasanah’ ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang mereka kerjakan lebih dari sekedar ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

القائل: (ما تركت شيئاً يقربكم إلى الله إلا وأمرتكم به، وما تركت شيئاً يباعدكم عن الله ويقربكم إلى النار إلا ونهيتكم عنه).

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah kutinggalkan sesuatu pun yang mendekatkan kalian kepada Allah melainkan telah kuperintahkan. Sebaliknya, tidaklah kubiarkan sesuatu pun yang bisa menjauhkan kalian dari Allah dan mendekatkan kalian kepada neraka melainkan telah kularang untuk dikerjakan”.

إذاً: لا مجال لاتخاذ محدثة سبيلاً للتقرب إلى الله تبارك وتعالى، ما دام أن الله قد أتم النعمة علينا بإكماله لدينه.

Jika demikian maka tidak ada ruang untuk menjadikan bid’ah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah selagi Allah memberikan nikmat yang lengkap untuk kita dengan disempurnakannya agama Allah.

أما المصلحة المرسلة فشأنها يختلف كل الاختلاف عن البدعة الحسنة -المزعومة- فالمصلحة المرسلة يراد بها تحقيق مصلحة يقتضيها المكان أو الزمان ويقرها الإسلام.

Sedangkan maslahat mursalah itu jelas sangat beda dengan bid’ah yang dianggap hasanah. Maksud dari maslahat mursalah adalah mewujudkan manfaat yang menjadi tuntutan kondisi tempat dan waktu dan manfaat tersebut dibenarkan oleh ajaran Islam.

وفي هذا المجال يؤكد الإمام الشاطبي شرعية وضع ضرائب

Dalam kesempatan inilah Imam asy Syathibi membahas diperbolehkannya mengambil pajak.

تختلف عن الضرائب التي اتُخذت اليوم قوانين مضطربة في كثير إن لم نقل في كل البلاد الإسلامية، تقليداً للكفار الذين حرموا من منهج الله المتمثل في كتاب الله وسنة نبيه صلى الله عليه وعلى آله وسلم،

Pajak yang beliau maksudkan sangat berbeda dengan pajak yang ada di zaman ini. Di zaman ini pajak adalah sebuah aturan yang dipaksakan di berbagai negeri Islam jika tidak boleh kita katakan seluruh negeri Islam karena membebek orang kafir yang memang tidak mengerti aturan-aturan Allah yang tergambar pada al Qur’an dan sunah Nabi-Nya.

فكان من الضرورة بالنسبة لهؤلاء المحرومين من هدي الكتاب والسنة أن يضعوا لهم مناهج خاصة، وقوانين يعالجون بها مشاكلهم، أما المسلمون فقد أغناهم الله تبارك وتعالى بما أنزل عليهم من الكتاب، وبما بين لهم رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم،

Sebuah keniscayaan bagi orang-orang yang tidak mengerti aturan al Qur’an dan sunah (baca:orang-orang kafir) untuk membuat aturan-aturan sendiri dan undang-undang yang diharapkan bisa menyelesaikan problematika mereka. Sedangkan kaum muslimin telah Allah cukupi dengan al Qur’an yang Allah turunkan untuk mereka dan penjelasan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (baca:hadits).

لذلك فلا يجوز للمسلمين أن يستبدلوا القوانين بالشريعة، فيحق فيهم قول الله تبارك وتعالى: أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ [البقرة:61]

Oleh karena itu, kaum muslimin tidak boleh mengganti syariat Allah dengan undang-undang buatan manusia. Jika hal dilakukan maka tepatlah firman Allah berikut ini untuk mereka. Allah berfirman yang artinya, “Apakah hal yang baik akan kalian ganti dengan hal yang lebih rendah?” (QS al Baqarah:61).

فلا يجوز أبداً أن تتخذ الضرائب قوانين ثابتة، كأنها شريعة منزلة من السماء أبد الدهر، وإنما الضريبة التي يجوز أن تفرضها الدولة المسلمة هي في حدود ظروف معينة تحيط بتلك الدولة.

Tidak boleh sama sekali menjadikan pajak sebagai aturan baku aturan permanen seakan-akan aturan yang turun dari langit sehingga berlaku selama-lamanya. Pajak yang boleh diwajibkan oleh negara Islam adalah situasional dibatasi oleh kondisi tertentu yang sedang meliputi negara Islam tersebut.

مثلاً -وأظن أن هذا المثال هو الذي جاء به الإمام الشاطبي :- إذا هوجمت بلدة من البلاد الإسلامية، ولم يكن هناك في خزينة الدولة من المال ما يقوم بواجب تهيئة الجيوش لدفع ذلك الهجوم من أعداء المسلمين، ففي مثل هذه الظروف تفرض الدولة ضرائب معينة وعلى أشخاص معينين، عندهم من القدرة أن يدفعوا ما فرض عليهم

Misalnya- kalau tidak salah contoh berikut ini dibawakan oleh Imam asy Syathibi- jika sebuah negeri Islam diserang musuh sedangkan dalam kas negara tidak terdapat dana yang cukup untuk menyiapkan pasukan yang bisa mencegah serangan yang dilancarkan oleh musuh kaum muslimin. Dalam sikon semacam ini negara boleh mewajibkan pajak dengan besaran tertentu atas person-person tertentu yang dinilai memiliki kemampuan untuk membayar pajak yang diwajibkan atas mereka.

ولكن لا تصبح هذه الضريبة ضريبة لازمة، وشريعة مستقرة -كما ذكرنا آنفاً- فإذا زال السبب العارض وهو هجوم الكافر ودفع عن بلاد الإسلام؛ أُسقطت الضرائب عن المسلمين؛ لأن السبب الذي أوجب تلك الضريبة قد زال،

Akan tetapi aturan pajak itu tidak boleh dijadikan sebagai pajak yang bersifat permanen sehingga menjadi sebuah aturan yang baku. Jika sebab diwajibkannya pajak yaitu serangan orang-orang kafir dan usaha untuk membela negeri Islam telah hilang maka kewajiban membayar pajak atas kaum muslimin menjadi hilang karena faktor pendorong diwajibkannya pajak telah hilang.

والحكم -كما يقول الفقهاء- يدور مع العلة وجوداً وعدماً، فالعلة أو السبب الذي أوجب تلك الفريضة قد زال، فإذاً تزول بزوالها هذه الضريبة.

Sedangkan ada atau tidak adanya suatu hukum itu sebagaimana yang dikatakan oleh para pakar fiqih mengikuti sebab. Sedangkan sebab diwajibkannya pajak telah hilang sehingga secara otomatis kewajiban pajak ditiadakan.

وباختصار جواب ذاك السؤال: ليس هناك ضرائب تتخذ قوانين في الإسلام، وإنما يمكن للدولة المسلمة أن تفرض ضرائب معينة لظروف خاصة، فإذا زالت الظروف زالت الضريبة.

Secara ringkas jawaban pertanyaan di atas adalah dalam ajaran Islam tidak ada pajak yang dijadikan sebagai aturan baku. Yang ada hanyalah negara Islam mewajibkan pajak dengan besaran tertentu karena kondisi tertentu. Jika kondisi tersebut telah hilang maka secara otomatis pajak ditiadakan

جزء من محاضرة : أسئلة الإمارات )  للشيخ : ( محمد ناصر الدين الألباني

Transkrip di atas adalah cuplikan ceramah dengan judul As-ilah al Imarat yang disampaikan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albania.

Sumber: http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=109346-44k