Awas Korupsi !!

Dari Abu Humaid as Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

“Hadiah untuk para pegawai adalah ghulul (harta yang di dapat dari khianat terhadap amanah, korupsi)” (HR Ahmad no 23601).

عَنْ عَدِىِّ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِىِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولاً يَأْتِى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».

Dari ‘Adi bin ‘Amirah al Kindi, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولاً يَأْتِى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».

“Siapa di antara kalian yang kami beri amanah dengan suatu pekerjaan lalu dia tidak menyerahkan sebuah jarum atau yang lebih bernilai dari pada itu kepada kami maka harta tersebut akan dia bawa pada hari Kiamat sebagai harta ghulul (baca:korupsi)” (HR Muslim no 4848).

Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, Buraidah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ ».

“Siapa saja yang kami pekerjakan lalu telah kami beri gaji maka semua harta yang dia dapatkan di luar gaji (dari pekerjaan tersebut, pent) adalah harta yang berstatus ghulul (baca:korupsi)” (HR Abu Daud no 2943, Dalam Kaifa hal 11, Syeikh Abdul Muhsin al Abbad mengatakan, ‘Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih dan dinilai shahih oleh al Albani’).

Dari Musa bin ‘Uqbah, ketika ‘Iyadh bin Ghanam diangkat sebagai gubernur Himsh di masa Khalifah Umar bin Khatab, sejumlah keluarganya datang menemuinya dengan maksud mengharap bantuan Iyadh. Iyadh menyambut mereka dengan wajah ceria, memberi tempat untuk menginap dan memuliakan mereka. Mereka tinggal selama beberapa hari. Setelah itu mereka berterus terang meminta bantuan. Mereka juga bercerita bagaimana susahnya perjalanan dengan harapan agar mendapat bantuan. Iyadh lantas memberikan kepada masing-masing mereka uang sebanyak sepuluh dinar. Mereka semua berjumlah lima orang. Ternyata mereka kembalikan uang sepuluh dinar tersebut. Mereka merasa marah dan mencela Iyadh.

Iyadh lantas berkata, “Wahai anak-anak pamanku, demi Alloh aku tidaklah mengingkari hubungan kekerabatan yang ada di antara kita. Aku juga menyadari bahwa kalian punya hak untuk mendapat bantuanku serta jauhnya perjalanan kalian sehingga bisa sampai sini. Namun aku tidak punya melainkan apa yang sudah kuberikan. Untuk lebih daripada itu aku harus menjual budakku dan barang-barang kebutuhanku maka tolong pahamilah keadaanku”.

Mereka mengatakan, “Demi Alloh kami tidak bisa menerima alasanmu karena engkau adalah penguasa separoh negeri Syam (sekarang meliputi Suriah, Yordania, Palestina dan Libanon pent). Masak engkau tidak mampu memberi kami ongkos perjalanan pulang yang mencukupi?”.

Beliau dengan tegas mengatakan, “Apakah kalian menyuruhku untuk mencuri harta Alloh?!

فوالله! لأن أُشقَّ بالمنشار أحبُّ إليَّ من أن أخون فلساً أو أتعدَّى!

Demi Alloh, seandainya badanku dibelah dengan gergaji itu lebih aku sukai dari pada aku berkhianat mengambil harta negara meski hanya satu fulus (baca: seratus rupiah) atau aku bertindak melampaui batas”.

Mereka berkata, “Kami sudah bisa memahami kemampuan finansialmu. Sebagai gantinya, berilah kami jabatan yang menjadi kewenanganmu. Kami akan melaksanakan tugas sebagaimana para pegawai yang lain dan kami mendapatkan gaji sebagaimana yang juga mereka dapatkan. Engkau telah mengenal kami dengan baik. Kami tidak akan menyalahgunakan wewenang yang kau berikan kepada kami”.

Beliau berkata, “Sungguh aku adalah orang yang sangat ingin berbuat baik dan memberi jasa kepada kepada orang lain. Namun apa jadinya jika sampai berita kepada Umar bahwa aku memberi jabatan kepada sejumlah keluargaku. Tak ayal lagi beliau pasti akan menyalahkanku”.

Mereka berkata, “Bukankah Abu Ubaidah yang mengangkatmu sedangkan engkau masih kerabat dekat Abu Ubaidah dan nyatanya Umar menyetujui pengangkatanmu? Seandainya engkau mengangkat kami niscaya Umarpun akan setuju”.

Beliau berkata, “Aku tidaklah sebagaimana Abu Ubaidah dalam pandangan Umar”. Akhirnya mereka ngeloyor sambil mencela Iyadh (Shifat al Shofwah karya Ibnul Jauzi 1/669-670, cet Dar al Ma’rifah Beirut).

Beliaulah ‘Iyadh bin Ghanam bin Zuhair. Beliau masuk Islam sebelum perjanjian Hudaibiyah. Beliaupun menyaksikan Hudaibiyyah bersama Rasulullah. Ketika Abu Ubaidah hendak meninggal dunia. Abu Ubaidah mengangkat Iyadh untuk menggantikan jabatannya dan khalifah Umar menyetujui keputusan beliau tersebut.

Beliau adalah seorang yang dermawan. Ada yang mengadukan sifat beliau ini kepada Umar dengan tuduhan beliau suka menghambur-hamburkan harta dengan maksud agar beliau dipecat oleh khalifah. Mendengar laporan tersebut, Umar malah berkata, “Beliau hanya dermawan dengan hartanya. Akan tetapi jika beliau memegang harta Alloh (baca: uang negara) maka tidak akan beliau berikan sedikitpun kepada siapapun. Aku tidak akan memecat orang yang diangkat oleh Abu Ubaidah”. Kisah di atas menunjukkan benarnya perkataan Umar bin Khattab.

Beliau meninggal dunia tanpa meninggalkan harta sedikitpun. Beliau meninggal tahun 20 H dalam usia 60 tahun.

Demikianlah kehati-hatian shahabat terhadap korupsi, suatu hal yang langka kita jumpai di zaman ini.

Benarlah sabda Nabi.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ » .

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Manusia akan menjumpai suatu masa yang di masa tersebut orang tidak lagi memiliki kepedulian apakah dia mendapatkan harta dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram” (HR Bukhari no 2083).

Menurut Syeikh Abdul Muhsin al Abbad, orang-orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap halal dan haram memiliki prinsip bahwa semua harta yang bisa didapatkan itulah harta yang halal. Sedangkan semua harta yang tidak bisa mereka dapatkan itulah harta yang haram. Sedangkan dalam ajaran Islam halal adalah semua yang dihalalkan oleh Alloh dan rasulNya. Sebaliknya haram adalah semua yang diharamkan oleh Alloh dan rasulNya (Kaifa Yu-addi al Muwazhzhaf al Amanah hal 10).

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُنْتِنُ مِنَ الإِنْسَانِ بَطْنُهُ ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ يَأْكُلَ إِلاَّ طَيِّبًا فَلْيَفْعَلْ

“Sesungguhnya bagian badan manusia yang pertama kali membusuk adalah perutnya. Oleh karena itu, siapa yang mampu untuk hanya makan makanan yang halal saja maka hendaknya dia usahakan” (HR Bukhari no 6733 dari Jundab bin Abdillah).

COMMENTS

WORDPRESS: 36
  • Jazäkallähu khairan wa zädakallahu ‘ilman näfi’an

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Ummu. Waiyyak wallahu yubarik fiik.

  • Barokallohu fik ya ustadz. Artikel yang sangat bermanfaat

    BURSA MUSLIM
    http://www.bursamuslim.web.id

  • ass. ust, sy ingin bertanya, tmn saya bkrja pd org asing, statusnya pekerja kontrak. Dia disuruh mencari barang yg bosnya mau membeli mahal, kalau ia mendapatkan hrg separuhnya, tp dia tambahkan hrg 10% utk keuntungan dia (utk biaya2 yg dia keluarkan, utk sedekah dan kebutuhan hidupnya), apakah dia berdosa? tlg dijwb ya ustad. terima kasih sebelumnya. wass.

  • abu abdirrahman 9 years ago

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz ana ingin menanyakan tentang honor diluar gaji pegawai. misalkan kantor ana mengadakan kegiatan sebut saja seminar, kemudian dibentuk panitia pelaksana kegiatan tersebut dari intern pegawai. lalu ana ditunjuk untuk membuat notulen dan laporan kegiatan. apakah honor dari penulisan notulen dan pembuatan laporan itu sah? apakah honor tersebut adalah yang dimaksud dalam hadits Abdullah bin Buraidah diatas?

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Sari. Yang jelas seorang yang bekerja pada satu pihak dan dia telah mendapatkan gaji yang jelas untuk pekerjaannya maka dia tidak boleh menerima uang tambahan atas pekerjaan yang dia lakukan.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Abu Abdurrahman, Wa’alaikumussalam. Insya Allah, tidak termasuk dalam hadits di atas.Uang yang terlarang adalah jika uang tambahan tersebut didapatkan karena pekerjaan padahal kita sudah mendapatkan gaji tertentu untuk pekerjaan tersebut. Dalam hal ini, antum mendapatkan gaji untuk pekerjaan-pekerjaan kantor. sedangkan acara seminar tersebut bukan bagian dari pekerjaan kantor.

  • ari suseno 9 years ago

    terimakasih ustad, semoga bermanfaat bagi semua umat.

  • Faisal 9 years ago

    Assalamu’alaykum,.
    Ustadz apa khabar,..
    Ustadz, ana bekerja pada perusahaan konstruksi sebagai internal auditor. pola kerja pada perusahaan ini adalah pembangunan baik gedung, jalan, dan lainnya (infrastruktur).
    nah untuk mendapatkan proyek-proyek tersebut, perusahaan (manajemen) sudah pasti akan memberikan uang (tanda terimakasih atau pelicin) kepada orang yang telah memberikan proyek tersebut, dan ini merupakan hal yang lumrah (kebudayaan) dalam bidang konstruksi.
    Bagaimana menurut pendapat ustadz.
    jazakallohu khoiron..

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Faisal, Wa’alaikumussalam. Hukum uang tersebut jelas haram baik untuk pihak pemberi dan pihak penerima.

  • Faisal 9 years ago

    afwan Ustadz, dan bagaimana dengan kami sebagai pekerja yang bekerja di perusahaan tersebut apakah gaji yang kami terima juga menjadi haram.?
    jazakallohu khoiron.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Faisal. Jika antum bekerja di bagian yang tidak ada unsur yang terlarang di dalamnya maka gaji yang antum halal. Akan tetapi pimpinan perusahaan yang melakukan ‘risywah’ tersebut telah melakukan dosa besar dikarenakan perbuatan yang dia lakukan. Wallahu a’lam.

  • bismillah,,
    assalamu’alaykum ustadz,,

    afwan ana mau nanya lagi,,
    tapi sebelumnya mau cerita sedikit,,

    salah seorang akhwat bertanya sama ana,,
    pekerjaannya sama kayak ana, tenaga penyuluh lapangan,.

    kami nantinya akan dikumpulkan di Jakarta untuk Tanda Tangan Kontrak,,

    untuk masalah biaya transport, dinas perindustrian propinsi yg menanggungnya,,

    nah, berdasarkan kebijakan dari dinas mereka, biaya transport ditanggung sendiri dulu, nantinya akan dibayarkan nanti..

    sementara bukti transport yg akan muncul hanyalah tiket untuk biaya transport dari padang ke jakarta,, untuk dari terminal ke hotel yg dituju tidak ada buktinya,, padahal uang yang dikeluarkan tidak hanya tiket dari daerah asal ke jakarta

    dari akhwat ini sendiri mengambil inisiatif untuk me’mark up’ harga tiket,,
    dia sudah menanyakan hal ini kepada beberapa ustadz,, dan dari jawaban yg diterima hal ini tidak masalah…

    akan tetapi, masalah muncul, saat tahu kalau me’mark up’ harga tiket sejumlah yg dikeluarkan sendiri sampai tiba di hotel (total yg dikeluarkan disamakan dengan harga tiket yg akan diterima), ternyata harus membayarkan sejumlah uang kepada pengelola tiket,,

    dari sini, dia bertanya lagi pada ustadz, dan ustadz meminta dia untuk keluar dari pekerjaan tersebut..

    perlu diketahui,, untuk pekerjaan kami ini, sudah ada perjanjian sejak 3 tahun yg lalu sebelum kami memasuki lingkungan ini, dimana kami merupakan siswa lulusan SMU/SMK yg mendapatkan beasiswa D3 TPL – IKM Kementerian Perindustrian, yg setelah lulusnya terikat Kontrak Tertulis dengan pemerintah,,

    apabila mengundurkan diri diharuskan mengembalikan sejumlah dana yg telah digunakan selama 3 tahun…

    ana mohon nasehat ustadz.. bagaimana menyelesaikan masalah ini.. sementara untuk mengeluarkan uang akhwat tersebut harus meminjam dulu…

  • ustadzaris 8 years ago

    #abu
    Mark up adalah penipuan. Penipuan hukumnya haram bahkan dosa besar

  • jadi bagaimana seharusnya ya ustadz..
     
    ana mohon solusi dari antum..
     
    barakallahu fiyk..

  • ustadzaris 8 years ago

    #abu
    Jadi pemerintah hanya mau mengganti biaya transportasi dari daerah asal ke jakarta. Sisanya ya tanggungan anda.

  • hamba Allah 8 years ago

    ustadz jika ada suatu perusahaan yg memang sudah peraturan tetap dari perusahaan dan sudah tertulis serta semua karyawannya memang mengetahui bahwa memang setiap bulan para karyawan tidak hanya mendapat gaji pokok namun juga mendapat tunjangan, bonus. Dan menurut saya bonus serta tunjangan itu diperoleh dari laba perusahaan yg berlebih,,bolehkah kita menerima tunjangan dan bonus itu ustadz?

  • ustadzaris 8 years ago

    #hamba
    Boleh menerima tunjangan dan bonus dari perusahaan.

  • ABDULLAH 8 years ago

    Assalammualaikun.. ustad, menyikapi pertanyaan sodara faisal diatas:
    (Faisal
    Posted Agustus 3, 2009 at 5:08 PM), saya mw tanya,

    jadi jika kita kerja di perusahaan yg mendapatkan tenderny dgn cara spt itu asalkan ika bekerja di bagian yang tidak ada unsur yang terlarang di dalamnya maka gaji yang ny halal???
    kemudian bgaimana dengan status pendapatan perusahaan itu sendiri bagi si pemilik perusahaan tersebut, mengingat dalam mencari tender ato proyek tersebut dengan cara menyuap, karna jika tidak diberi suap oleh periusahaan umumny oknum yg memberikan tender tsbt tidak  mau memberikan tender lagi dikemudian hari pada perusahaan…????

  • rahmat 8 years ago

    ustadz.. ana bekerja sebagai tenaga kontrak di dinas pemerintahan.. ana digaji langsung oleh pemerintah pusat untuk melakukan penyuluhan kepada industri kecil dan menengah..

    dalam pelaksanaan tugas.. salah satu industri binaan ana memberikan ana uang sebelum ana pulang..
    ana sudah menolaknya.. dan ana tegas mengatakan bahwa ana sudah digaji untuk tugas ini.. akan tetapi pengusaha tersebut tetap memaksa dan mengatakan.. walaupun sudah digaji.. ini uang bensin saja..
    pada akhirnya ana tetap menerimanya.. dan sampai sekarang ana masih menyimpan uang tersebut.. karena ana tidak tau harus dikemanakan uang ini..

    yang ingin ana tanyakan..
    1. Apa hukum dari uang ini ustadz?!! apakah ini termasuk korupsi?!!
    jika ya,, kemana uang ini harus ana kembalikan?!!

    2. jika kita merasa mengambil uang negara yg bukan hak kita.. kemanakah uang itu harus kita kembalikan?!! jika belum ada uang sekarang.. bolehkah kita menundanya sampai uangnya benar2 terkumpul untuk nantinya dikembalikan?!

    mohon nasehatnya ustadz..

  • Assalamualaikum ustadz, mohon bantuan jawabannya krn pertanyaan2 ini mengganggu saya..
    saya bekerja di perusahaan BUMN yg mendapat gaji, tunjangan dan bonus apabila mencapai/melebihi target perusahaan. merujuk jawaban ustadz diatas bahwa harta2 tersebut halal, namun sbg pegawai tetap saya juga memperoleh pemasukan tambahan setiap bulannya yg telah disetujui oleh direksi (tidak semua pegawai dapat), 1. apakah ini termasuk ghulul? 2. krn ketidaktahuan dan kejahilan saya, dahulu saya pernah menggunakan harta tersebut utk membeli barang2 (bukan makanan), bagaimana status barang2 tersebut, apa boleh tetap saya pergunakan atau harus saya musnahkan saja?
    sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas wadah website ini yg telah ustadz sediakan untuk kami dapat bertanya. jazzakollahu khoir
     
     

  • ustadzaris 8 years ago

    #arfan
    namun sbg pegawai tetap saya juga memperoleh pemasukan tambahan setiap bulannya yg telah disetujui oleh direksi (tidak semua pegawai dapat)
    Bentuk real dari pemasukan ini apa?

  • ustadzaris 8 years ago

    #ramat
    1. ya. Jika tidak mungkin dimasukkan ke kas negara maka sedekahkan untuk kepentingan sosial.
    2. Jika tidak mungkin dimasukkan ke kas negara maka sedekahkan untuk kepentingan sosial.

  • rahmat 8 years ago

    untuk pembangunan masjid bisa ustadz?!

  • ustadzaris 8 years ago

    #rahmat
    Diperselisihkan ulama bolehnya.
    Ibnu Jibrin membolehkannya.

  • afwan, dalam bentuk real uang ustadz, dengan jumlah tetap setiap bulannya, saya tidak tahu sumbernya dari mana, menurut saya kenapa mendapatkan tambahan ini disebabkan oleh peran aktif saya dalam membantu penyelesaian pekerjaan proyek, mohon bantuan penjelasannya ustadz, jazzakollahu khoir

  • ustadzaris 8 years ago

    #arfan
    Kalo tidak jelas atas dasar apa anda mendapatkannya maka jangan di terima atau minimal jangan anda manfaatkan untuk kepentingan pribadi anda.

  • jazzakumullohu khoir ustadz, dahulu sewaktu saya masih jahil dan blm mengenal agama islam dgn benar, saya pernah memakan dan mempergunakan uang riba/uang tidak jelas utk kepentingan diri sendiri, bagaimanakah status barang2 tersebut? apakah tetap boleh saya gunakan? sejujurnya saya tidak ingat apa saja barang2 tersebut. syukron ustadz atas jawabannya.

  • ummu hazimah 8 years ago

    ustadz, saya adalah akhwat yang diceritakan oleh abu abdillah al gharantaliy pada pertanyaannya di atas (memark up tiket)..
    alhamdulillah saya tidak jadi melakukannya karena masih bingung dengan perkara tersebut. Dasar jawaban dari  beberapa ustadz yang memperbolehkan adalah salah satu hadist (maaf karena saya tidak hafal teksnya) yg intinya begini:
    pernah seorang sahabat wanita (saya tidak ingat namanya) mengadukan suaminya yg pelit memberi nafkah kepada rasulullah dan rasulullah memperbolehkan kepadanya untuk mengambil harta suaminya-tanpa sepengetahuan suaminya tersebut-sebatas yang dia perlukan…
    Apakah hasdist itu relevan untuk kasus saya??
    satu lagi ustadz, (pekerjaan saya sama dengan akh rahmat yaitu membina industri kecil dan menengah) seringkali daerah yang saya suluh sangat minim transportasi sehingga saya harus menginap di rumah pengusaha yang saya suluh. jarak dari rumah ke lokasi adalah 80 km… bagaimana hukum saya menginap tersebut?? catatan: saya menyuluh tidak disertai mahram
    terima kasih…
     
     
     

  • Ben Yohanan 7 years ago

    Ustadz,
    Saya bekerja di perusahaan swasta, bagian pembelian.
    akhir2 ini, ada vendor/supplier saya yang ingin memberikan hadiah ponsel (BB) kepada saya.
    Dan si supplier ini, sangat getol ingin memberikan saya hadiah tersebut
    Bolehkah saya terima?
    Ustadz, Saya bekerja di perusahaan swasta, bagian pembelian. akhir2 ini, ada vendor/supplier saya yang ingin memberikan hadiah ponsel (BB) kepada saya. Dan si supplier ini, sangat getol ingin memberikan saya hadiah tersebut Bolehkah saya terima? kalau boleh, apa ada syarat2nya? karena menurut ustadz lain, syaratnya boleh, jika diijinkan atasan kita untuk menerima.

  • #ben
    Boleh jika pemilik perusahaan atau orang yang diberi mandat oleh pemilik perusahaan membolehkannya.

  • Ben Yohanan 7 years ago

    Perusahaan tempat saya bekerja milik orang asing. Jadi, kemanakah saya harus memberitahukan (bahwa saya diberi hadiah), apakah ke direktur langsung, atau ke kepala departemen/bagian saja cukup?

  • #ben
    Ke direksi

  • Ustadz,
    Saya bekerja di bidang jasa, pengguna jasa biasanya membayar jasa dalam jumlah tertentu, misal d kuitansi tertera 100rb, namun bendahara meminta pengguna jasa membayar 120rb, yg saya sendiri belum paham dasar pembayaran yg 20rb itu. Kuitansi tetap diberikan ke pengguna jasa, sehingga mereka tahu jumlah pembayaran yg sebenarnya. Akumulasi kelebihan pembayaran tsb kadang dibagikan unt karyawan dg jumlah yg tidak tetap, sesuai jlh beban kerja kami. Apakah uang yg saya terima tsb haram? Bagaimana jika pengguna jasa memang sengaja melebihkan pembayaran tsb unt kami (seperti tip)? Trimakasih

  • Assalamualaikum ustadz, saya mau bertanya. Pekerjaan suami saya adalah dosen, beliau suka dimintakan bantuan untuk menjadi tim ahli/peneliti untuk proyek dinas dan balitbang dan mendapatkan honor bulanan sampai proyek itu selesai atas pekerjaannya. Selama bekerja, suami saya melihat proyek tersebut terindikasi ada unsur korupsi, terus yang mau saya tanyakan apakah honor yg dia dapat dari proyek tersebut masuk ke dalam hukum yg haram atau tidak?

    Jazakallah khair

  • assalamualaikum.
    saya mau nanya, jika saya diminta perusahaan untuk membeli barang dan dari barang tersebut saya menerima hadiah. jika hadiah itu saya ambil untuk saya miliki sendiri apa hukumnya?. kemudian saya pernah mengadakan gthering saya sebagai panitia menerima uang sisa acara gathering dan uang itu kami bagikan ke panitia. bagaimana hukum uang tersebut..
    Terima Kasih