<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Yang Layak Jadi Guru Ngaji</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/yang-layak-jadi-guru-ngaji/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com/yang-layak-jadi-guru-ngaji</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 10:14:30 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/yang-layak-jadi-guru-ngaji/comment-page-1#comment-1569</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 15:55:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=638#comment-1569</guid>
		<description>Untuk Abu Abdirrahman
Wa&#039;alaikumussalam
Secara umum sebenarnya tidak masalah selama tidak ada hal-hal yang masalah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Abu Abdirrahman<br />
Wa&#8217;alaikumussalam<br />
Secara umum sebenarnya tidak masalah selama tidak ada hal-hal yang masalah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: abu abdirrahman</title>
		<link>http://ustadzaris.com/yang-layak-jadi-guru-ngaji/comment-page-1#comment-1566</link>
		<dc:creator>abu abdirrahman</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 10:07:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=638#comment-1566</guid>
		<description>Assalamu&#039;alaikum ustad.. bolehkah kita menyontoh dakwah dari jamah tabligh dalam hal keluar untuk ke masjid ato ke masyarakat secara langsung untuk mendakwahkan islam, meramaikan masjid kampung tersebut dengan silahturahim, membentuk kajian2 rutin untuk masyarakat dewasa dan anak anak (TPA). Kita membentuk rombongan yang terbuka untuk umum bentuknya mungkin seperti KKN waktu mahasiswa ustad.. Setelah berjalan baik di kampung tersebut, kita berpindah ditempat laen tapi ditempat semula kita sudah membuat jadwal untuk ustad pengisi kajian rutinnya.. tentunya hal yang bersifat penentuan2 yang bisa menjadi bid&#039;ah kita tinggalkan.. Mohon sekali tanggapannya dari ustad... kadang kita walau tidak memiliki banyak ilmu, pengen sekali berdakwah dengan tenaga/ fisik kita untuk membangun komunikasi dengan masyarakat, sedangkan dari ilmu syar&#039;inya tetap berasal dari ustad2 yang diketahui keilmuannya..  jazakallah khoiron</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum ustad.. bolehkah kita menyontoh dakwah dari jamah tabligh dalam hal keluar untuk ke masjid ato ke masyarakat secara langsung untuk mendakwahkan islam, meramaikan masjid kampung tersebut dengan silahturahim, membentuk kajian2 rutin untuk masyarakat dewasa dan anak anak (TPA). Kita membentuk rombongan yang terbuka untuk umum bentuknya mungkin seperti KKN waktu mahasiswa ustad.. Setelah berjalan baik di kampung tersebut, kita berpindah ditempat laen tapi ditempat semula kita sudah membuat jadwal untuk ustad pengisi kajian rutinnya.. tentunya hal yang bersifat penentuan2 yang bisa menjadi bid&#8217;ah kita tinggalkan.. Mohon sekali tanggapannya dari ustad&#8230; kadang kita walau tidak memiliki banyak ilmu, pengen sekali berdakwah dengan tenaga/ fisik kita untuk membangun komunikasi dengan masyarakat, sedangkan dari ilmu syar&#8217;inya tetap berasal dari ustad2 yang diketahui keilmuannya..  jazakallah khoiron</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ibnu Shalih</title>
		<link>http://ustadzaris.com/yang-layak-jadi-guru-ngaji/comment-page-1#comment-1563</link>
		<dc:creator>Ibnu Shalih</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 02:32:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=638#comment-1563</guid>
		<description>Jazaakallah khair, baiklah ustadz sekarang ana telah merasa tenang dengan jawaban antum...terima kasih banyak</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jazaakallah khair, baiklah ustadz sekarang ana telah merasa tenang dengan jawaban antum&#8230;terima kasih banyak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/yang-layak-jadi-guru-ngaji/comment-page-1#comment-1561</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 00:27:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=638#comment-1561</guid>
		<description>Untuk Ibnu 
Kita hanya mendakwahkan yang kita ketahui. Katakanlah, &quot;Demikianlah sebatas pengetahuan saya&quot;.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Ibnu<br />
Kita hanya mendakwahkan yang kita ketahui. Katakanlah, &#8220;Demikianlah sebatas pengetahuan saya&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ibnu Shalih</title>
		<link>http://ustadzaris.com/yang-layak-jadi-guru-ngaji/comment-page-1#comment-1555</link>
		<dc:creator>Ibnu Shalih</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 16:21:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=638#comment-1555</guid>
		<description>Assalaamu&#039;alaykum.
Ustadz, ada realita yang ana hadapi, begini... ana ini kan muqallid terutama dalam masalah tashhih dan tadh&#039;if hadits, taunya cuma &quot;disahihkan oleh syaikh Al-Albani&quot; dst, lalu apakah orang seperti ana ini boleh menda&#039;wahkan misalnya &quot;tawassul itu BID&#039;AH karena tak ada sunnahnya, adapun dalil hadits tawassul, dari jalur Maalik Ad-Daari adalah lemah seperti yang dijelaskan Syaikh Al-Albani&quot;. apakah ini boleh? padahal ana tidak tahu dasar kenapa syaikh Al-Albani menghukumi hadits tersebut lemah...
 </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu&#8217;alaykum.<br />
Ustadz, ada realita yang ana hadapi, begini&#8230; ana ini kan muqallid terutama dalam masalah tashhih dan tadh&#8217;if hadits, taunya cuma &#8220;disahihkan oleh syaikh Al-Albani&#8221; dst, lalu apakah orang seperti ana ini boleh menda&#8217;wahkan misalnya &#8220;tawassul itu BID&#8217;AH karena tak ada sunnahnya, adapun dalil hadits tawassul, dari jalur Maalik Ad-Daari adalah lemah seperti yang dijelaskan Syaikh Al-Albani&#8221;. apakah ini boleh? padahal ana tidak tahu dasar kenapa syaikh Al-Albani menghukumi hadits tersebut lemah&#8230;<br />
 </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/yang-layak-jadi-guru-ngaji/comment-page-1#comment-403</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 07:17:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=638#comment-403</guid>
		<description>Untuk Abu Zahroh
Tentang hal ini Nabi bersabda kepada Umar, &quot;Jika datang kepadamu harta tanpa kau minta dan tanpa kau harap maka terimalah&quot;.
Perintah untuk menerima harta pemberian dalam hadits ini bermakna anjuran menurut mayoritas ulama dan wajib menurut zhahiriah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Abu Zahroh<br />
Tentang hal ini Nabi bersabda kepada Umar, &#8220;Jika datang kepadamu harta tanpa kau minta dan tanpa kau harap maka terimalah&#8221;.<br />
Perintah untuk menerima harta pemberian dalam hadits ini bermakna anjuran menurut mayoritas ulama dan wajib menurut zhahiriah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Abu Zahroh</title>
		<link>http://ustadzaris.com/yang-layak-jadi-guru-ngaji/comment-page-1#comment-394</link>
		<dc:creator>Abu Zahroh</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 05:49:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=638#comment-394</guid>
		<description>Ustadz Aris Munandar yang semoga dicintai Allah,
Jazakallah khairan atas tulisan Ustadz.

Menata hati memang bukan hal yang mudah. Rasanya tidak berlebihan jika saya mengutip nasihat &#039;pinisepuh&#039; jaman dahuulu: &quot;Yen dikeki arep, yen ora dikeki ora ngarep-arep&quot;. Kalau dikasih mau, kalau nggak dikasih ya tidak mengharap-harap.
Bagi yang ikhlas dan tidak mengharap-harap pemberian orang, bisa jadi rejekinya malah &#039;ndlidir&#039; dan &#039;teko tanpo kulonuwun&#039;.

Masalah dana/harta ini memang cukup pelik, dan sependek yang saya tahu telah cukup mengganggu &#039;keharmonisan&#039; antar juru dakwah di Indonesia.

Ustadz Aris, mohon dijelaskan juga tentang pertanyaan-pertanyaan saya berikut:
a. Apakah seorang da&#039;i boleh menerima bantuan dari mad&#039;u nya ?
b. Jika jawaban pada point a adalah boleh, mana yang lebih utama: memberikan langsung kepada da&#039;i ataukah melalui lembaga ?
c. Mohon dikupas, -bisa dijadikan artikel tersendiri-, bagaimana para salafush sholih dalam mencari nafkah untuk diri dan keluarganya. Dan bagaimana para salafush sholih tersebut me-manage waktu antara mencari nafkah dan berdakwah. Mungkin bisa diberikan contoh kisah beberapa ulama dalam hal ini.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#039;ala memberikan kelonggaran dan keberkahan waktu kepada Ustadz Aris Munandar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Mohon maaf bagi pembaca lain karena saya mencantumkan beberapa ungkapan dalam bahasa Jawa, bukan bermaksud untuk mengunggulkan bahasa Jawa, tetapi sekedar untuk menyampaikan maksud yang terasa lebih mengena dalam hal &#039;rasa bahasa&#039;.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ustadz Aris Munandar yang semoga dicintai Allah,<br />
Jazakallah khairan atas tulisan Ustadz.</p>
<p>Menata hati memang bukan hal yang mudah. Rasanya tidak berlebihan jika saya mengutip nasihat &#8216;pinisepuh&#8217; jaman dahuulu: &#8220;Yen dikeki arep, yen ora dikeki ora ngarep-arep&#8221;. Kalau dikasih mau, kalau nggak dikasih ya tidak mengharap-harap.<br />
Bagi yang ikhlas dan tidak mengharap-harap pemberian orang, bisa jadi rejekinya malah &#8216;ndlidir&#8217; dan &#8216;teko tanpo kulonuwun&#8217;.</p>
<p>Masalah dana/harta ini memang cukup pelik, dan sependek yang saya tahu telah cukup mengganggu &#8216;keharmonisan&#8217; antar juru dakwah di Indonesia.</p>
<p>Ustadz Aris, mohon dijelaskan juga tentang pertanyaan-pertanyaan saya berikut:<br />
a. Apakah seorang da&#8217;i boleh menerima bantuan dari mad&#8217;u nya ?<br />
b. Jika jawaban pada point a adalah boleh, mana yang lebih utama: memberikan langsung kepada da&#8217;i ataukah melalui lembaga ?<br />
c. Mohon dikupas, -bisa dijadikan artikel tersendiri-, bagaimana para salafush sholih dalam mencari nafkah untuk diri dan keluarganya. Dan bagaimana para salafush sholih tersebut me-manage waktu antara mencari nafkah dan berdakwah. Mungkin bisa diberikan contoh kisah beberapa ulama dalam hal ini.</p>
<p>Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memberikan kelonggaran dan keberkahan waktu kepada Ustadz Aris Munandar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.</p>
<p>Mohon maaf bagi pembaca lain karena saya mencantumkan beberapa ungkapan dalam bahasa Jawa, bukan bermaksud untuk mengunggulkan bahasa Jawa, tetapi sekedar untuk menyampaikan maksud yang terasa lebih mengena dalam hal &#8216;rasa bahasa&#8217;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.393 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-05-23 09:02:10 -->

