Tidak Salafi Karena Boikot Produk Yahudi?

«قلت آنفاً لبعض إخواننا سألني وكثيراً ما نُسأل عن اللحم البلغاري، وأنا حقيقة أتعجب من الناس! اللحم البلغاري بُلينا به منذ سنين طويلة كل هذه السنين ما آن للمسلمين أن يفهموا شو حكم هذا اللحم البلغاري؟ أمر عجيب!

Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani mengatakan, “Baru saja kukatakan kepada salah seorang saudara kita yang bertanya- dan sering sekali kami ditanyai-mengenai hukum daging impor dari Bulgaria. Sebenarnya saya heran dengan keadaan banyak orang. Daging dari Bulgaria bertahun-tahun telah dipasarkan di masyarakat kita. Tidakkah sudah tiba saatnya bagi kaum muslimin untuk mengetahui hukum daging dari Bulgaria ini? Suatu hal yang sangat mengherankan.

فأنا أقول: لا بدَّ أنكم سمعتم إذا كنتم في شك وفي ريب من أن هذه الذبائح تذبح على الطريقة الإسلاميَّة أو لا تذبح على الطريقة الإسلاميَّة، فلستم في شكّ بأنهم يذبحون إخواننا المسلمين هناك الأتراك المقيمين منذ زمن طويل يذبحونهم ذبح النعاج،

Kukatakan jika kalian ragu-ragu terhadap daging sembelihan dari Bulgaria tersebut apakah disembelih sesuai dengan ajaran Islam ataukah tidak tentu saja kalian mendengar dan kalian tentu tidak saja tidak ragu bahwa orang-orang Bulgaria membantai saudara-saudara kita kaum muslimin di sana. Orang-orang Turki muslim yang menetap di sana sejak lama dibantai oleh orang-orang Bulgaria sebagaimana mereka menyembelihi biri-biri.

فلو كان البلغاريون يذبحون هذه الذبائح التي نستوردها منهم ذبحاً شرعيّاً حقيقةً أنا أقول لا يجوز لنا أن نستورده منهم، بل يجب علينا أن نقاطعهم حتى يتراجعوا عن سفك دماء إخواننا المسلمين هناك،

Andai saja orang-orang Bulgaria menyembelih binatang yang dagingnya kita impor dengan cara penyembelihan yang benar-benar syar’i tetap saja aku katakan bahwa kita tidak boleh mengimpor barang dari mereka. Bahkan kita wajib melakukan boikot perdagangan dengan mereka hingga mereka menghentikan tindakan mereka membantai saudara-saudara kita kaum muslimin di sana.

فسبحان الله مات شعور الأخوة التي وصفها الرسول -عليه السلام- بأنها كالجسد الواحد «مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم كمثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمَّى والسهر»، لم يعد المسلمون يحسُّون بآلام إخوانهم فانقطعت الصلات الإسلاميّة بينهم، ولذلك همهم السؤال أيجوز أكل اللحم البلغاري!

Subhanallah, telah mati perasaan persaudaraan di antara kaum muslimin yang Rasulullah gambarkan bagaikan sebuah badan. Gambaran rasa cinta dan kasih sayang di antara kaum muslimin itu bagaikana badan yang jika ada anggota badan yang sakit maka seluruh badan ikut merasakan dampaknya berupa demam dan tidak bisa tidur semalaman. Kaum muslimin tidak lagi merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh saudara-saudara mereka. Putus sudah ikatan keislaman di antara mereka. Oleh karena itu yang mereka pikirkan adalah pertanyaan “apakah diperbolehkan mengonsumsi daging impor dari Bulgaria?”

لك يا أخي أنت عرفت أن البلغار يذبحون المسلمين هناك، ولا فرق بين مسلم عربي ومسلم تركي ومسلم أفغاني إلى آخره، والأمر كما قال -تعالى

Wahai saudaraku, jika anda telah mengetahui bahwa orang-orang Bulgaria menyembelihi kaum muslimin di sana dan tidak ada beda antara muslim arab, muslim turki, muslim Afghanistan dst serta mengingat firman Allah,

-: { إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ } [الحجرات:10]،

Hanya orang-orang berimanlah yang bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah dua saudara kalian (yang bertengkar) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian mendapatkan limpahan rahmat-Nya” [al Hujurat:10].

فإذا كنّا إخوانناً فيجب أن يغار بعضنا على بعض، ويحزن بعضنا لبعض، ولا يهتم بمأكله ومشربه فقط.

Jika benar-benar bersaudara maka kita wajib merasa marah karena saudara kita dianiaya oleh orang kafir. Kita wajib bersedih karena saudara kita menderita. Kita tidak boleh hanya sibuk dengan urusan makan dan minum saja.

فلو فرضنا أن إنساناً ما اقتنع بعد بأنّ اللحم البلغاري فطيسة . . . حكمها فطيسة؛ لأنها تقتل ولا تذبح، لا نستطيع أن نقنع الناس بكل رأي؛ لأنَّ الناس لا يزالون مختلفين إلا من رحم ربك كما جاء في القرآن الكريم،

Andai ada orang yang tidak percaya bahwa daging impor dari Bulgaria adalah bangkai atau berstatus bangkai karena berasal dari hewan yang dibunuh, bukan disembelih, kita tidak bisa menyakinkan semua orang dengan suatu pendapat karena memang manusia itu selalu berselisih kecuali orang-orang yang Allah sayangi sebagaimana yang terdapat dalam al Qur’an.

فإذا كنا لا نستطيع أن نقنع الناس بأنّ هذه اللحوم التي تأتينا من البلغار هي حكمها كالميتة، لكن ألا يعلمون أن هؤلاء البلغار يذبحون إخواننا المسلمين هناك، أما يكفي هذا الطغيان وهذا الاعتداء الأليم على إخواننا من المسلمين هناك أن يصرفنا عن اللحم البلغاري، ولو كان حلالاً هذا يكفي، وهذه ذكرى والذكرى تنفع المؤمنين»

Jika kita tidak mampu menyakinkan semua orang bahwa daging impor dari Bulgaria yang masuk ke negeri kita statusnya adalah bangkai namun tidakkah semua orang mengetahui bahwa orang-orang Bulgaria itu menyembelihi saudara-saudara kita kaum muslimin di sana. Tidakkah tindakan kelewat batas yang sangat menyakitkan yang dialami oleh saudara kita kaum muslimin di sana itu cukup untuk membuat kita meninggalkan daging impor dari Bulgaria. Andai daging tersebut disembelih dengan cara yang halal, realita ini sudah cukup untuk membuat kita meninggalkan daging impor dari Bulgaria. Yang aku sampaikan ini hanyalah peringatan dan peringatan itu hanya bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” [Kaset Silsilah al Huda wan Nur no 190].

Transkipnya bisa dibaca di sini: http://www.mashhoor.net/inside/articles/archive/boycott.htm

Wal hasil, masalah setuju atau tidak setuju dengan boikot produk negara kafir yang menindas kaum muslimin bukanlah masalah manhajiyyah, yaitu masalah yang membedakan ahli sunnah ataukah bukan.

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 1
  • Assalaamu’alaikum Ustadz.
     
    Saya ingin menanyakan bagaimana cara membedakan suatu perkara itu manhajiyyah atau bukan?
    Saya juga ingin menanyakan, kapan perbuatan ulama atau bahkan, jika ada, perbuatan sahabat, yang tidak dicontohkan Nabi, termasuk bid’ah atau tidak. Semisal anjuran membaca alquran sebelum pengajian, saya pernah mendengar, Imam Al Baghdadi menganjurkan hal tersebut. Apakah kita tidak boleh menyebut perbuatan tersebut adalah bid’ah karena Nabi dan sahabat tidak mencontohkan?
    Kemudian yang terakhir Ustadz, kapankah kita bisa membedakan suatu permasalahan termasuk bid’ah dan bukan bid’ah atau termasuk perkara rojih dan marjuh?
    Saya mengucapkan terima kasih atas penjelasan Ustadz. Semoga Alloh menambah ilmu dan keberkahan pada Ustadz.
    Terima kasih.