<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah &#187; tanya jawab</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/tag/tanya-jawab/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 00:00:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Ada Apa dengan Mihrab?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/ada-apa-dengan-mihrab</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/ada-apa-dengan-mihrab#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 20:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[mihrab]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[Jika di arah barat tidak dijumpai sebuah bangunan menjorok maka orang ini dengan yakin menilai bahwa pengelola masjid ini seorang ahli sunnah atau salafy tulen.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fada-apa-dengan-mihrab&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Ketika memasuki sebuah masjid di negeri kita, sebagian orang akan melemparkan pandangannya ke arah barat. Jika di arah barat tidak dijumpai sebuah bangunan menjorok maka orang ini dengan yakin menilai bahwa pengelola masjid ini seorang ahli sunnah atau salafy tulen. Sebaliknya jika di bagian barat masjid tersebut terdapat mihrab maka muncullah berbagai praduga. Jangan-jangan ini adalah masjid ahli bid’ah atau minimal orang-orang yang mengelola masjid tersebut layak diragukan ke-ahli sunnah-annya.<span id="more-566"></span></p>
<p>Berikut ini kami bawakan salah satu fatwa yang diberikan oleh Lajnah Daimah dan kita semua yakin bahwa para ulama yang duduk di Lajnah Daimah adalah para ulama yang tidak diragukan ke-salafy-annya.</p>
<p>Fatwa ini terdapat di Fatawa Lajnah Daimah 6/252-253 terbitan Dar Balansiah, Riyadh KSA cetakan ketiga 1421 H.</p>
<p>Moga dengan membaca dan merenungkan fatwa berikut ini kita bisa memiliki cakrawala yang luas dalam memandang masalah ini.</p>
<p>Boleh jadi kita memilih pendapat lain yang berbeda dengan pendapat yang termuat dalam fatwa ini. Namun pendapat yang kita pilih tersebut janganlah kita jadikan sebagai satu-satunya pendapat ulama ahli sunnah dalam masalah ini. Apalagi dijadikan sebagai tolak ukur apakah pengelola suatu masjid itu ahli sunnah ataukah bukan.</p>
<p style="text-align: center;">المحاريب في المساجد<br />
السؤال الأول من الفتوى رقم ( 5614 )<br />
س: المحراب في المسجد هل كان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟</p>
<p><strong><em>Mihrab di Dalam Masjid</em></strong><br />
Pertanyaan pertama dalam fatwa no 5614<br />
Tanya, “Tentang mihrab di dalam masjid apakah itu ada di masa Rasulullah?”
</p>
<p style="text-align: center;">ج: لم يزل المسلمون يعملون المحاريب في المساجد في القرون المفضلة وما بعدها؛ لما في ذلك من المصلحة العامة للمسلمين، ومن ذلك بيان القبلة وإيضاح أن المكان مسجد.<br />
(الجزء رقم : 6، الصفحة رقم: 253)</p>
<p>Lajnah Daimah mengatakan, “Kaum muslimin senantiasa membuat mihrab di dalam masjid sejak tiga masa emas (baca: shahabat, tabiin dan tabi’ tabiin) dan masa-masa sesudahnya dikarenakan adanya manfaat besar bagi kaum muslimin dengan adanya mihrab. Di antara manfaat tersebut adalah menjadi alat bantu untuk mengetahui kiblat dan alat penjelas bahwa tempat tersebut adalah masjid”
</p>
<p style="text-align: center;">وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.<br />
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء<br />
عضو &#8230; نائب رئيس اللجنة &#8230; الرئيس<br />
عبد الله بن غديان &#8230; عبد الرزاق عفيفي &#8230; عبد العزيز بن عبد الله بن باز</p>
<p>Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz sebagai ketua Lajnah Daimah, Abdurrazzaq Afifi sebagai wakil ketua dan Abdullah bin Ghadayan sebagai anggota.</p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fada-apa-dengan-mihrab&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/ada-apa-dengan-mihrab"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=566&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-masjid-bawa-tanah" title="Hukum Masjid Bawah Tanah">Hukum Masjid Bawah Tanah</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menyewakan-masjid-untuk-akad-nikah" title="Menyewakan Masjid Untuk Akad Nikah">Menyewakan Masjid Untuk Akad Nikah</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-jihad-di-zaman-ini" title="Adakah Jihad di Zaman Ini?">Adakah Jihad di Zaman Ini?</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/apakah-halaman-masjid-termasuk-masjid" title="Apakah Halaman Masjid Termasuk Masjid?">Apakah Halaman Masjid Termasuk Masjid?</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-berdagang-di-halaman-masjid-kampus-ugm" title="Hukum Berdagang di Halaman Masjid Kampus UGM">Hukum Berdagang di Halaman Masjid Kampus UGM</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-jual-beli-di-halaman-masjid" title="Hukum Jual Beli di Halaman Masjid">Hukum Jual Beli di Halaman Masjid</a> (26)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini" title="Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini">Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</a> (35)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps" title="Hukum Bermain Play Station (PS)">Hukum Bermain Play Station (PS)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi" title="Dasi Menurut Ibnu Utsaimin">Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak" title="Hukum Kerja di Kantor Pajak">Hukum Kerja di Kantor Pajak</a> (74)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/ada-apa-dengan-mihrab/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanya Jawab: Apa Hukum Talqin?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/tanya-jawab-apa-hukum-talqin</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/tanya-jawab-apa-hukum-talqin#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 00:34:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[talqin]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Apa hukum talqin?

Jawab: Talqin itu ada dua macam: yaitu Talqin sunnah dan Talqin bid'ah]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Ftanya-jawab-apa-hukum-talqin&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><strong>Tanya: Apa hukum talqin? </strong></p>
<p><strong>Jawab: </strong>Talqin itu ada dua macam: yaitu <em>Talqin sunnah</em> dan <em>Talqin bid&#8217;ah</em><span id="more-29"></span></p>
<p><strong>[Pertama] Talqin Sunnah</strong></p>
<p>( 501 ) &#8211; وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالْأَرْبَعَةُ</p>
<blockquote><p>Dari Abu Sa&#8217;id dan Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>“Ajarilah orang-orang yang hendak meninggal dunia di antara kalian ucapan<em> laa ilah illallah</em>” (Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram no 501 mengatakan, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dan kitab hadits yang empat [Nasai, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, pent]”).</p></blockquote>
<p>Ibnu Utsaimin pernah ditanya,</p>
<p>“Apa yang perlu dilakukan oleh orang yang duduk di dekat orang yang hendak meninggal dunia? Apakah membaca surat Yasin di dekat orang yang hendak meninggal dunia adalah amal yang berdasar hadits yang shahih atau tidak?”.</p>
<p>Jawaban beliau,</p>
<p>“Membesuk orang yang sakit adalah salah satu hak sesama muslim, satu dengan yang lainnya. Orang yang menjenguk orang yang sakit hendaknya mengingatkan si sakit untuk bertaubat dan menulis wasiat serta memenuhi waktunya dengan berdzikir karena orang yang sedang sakit membutuhkan untuk diingatkan dengan hal-hal ini.<br />
Jika si sakit dalam keadaan sekarat dan orang-orang di sekelilingnya merasa yakin bahwa si sakit hendak meninggal dunia maka sepatutnya orang tersebut ditalqin <em>laa ilaha illallah </em>sebagaimana perintah Nabi.</p>
<p>Orang yang berada di dekat orang yang sedang sakaratul maut hendaknya menyebut nama Allah (baca: <em>laa ilaha illallah</em>) di dekatnya dengan suara yang bisa didengar oleh orang yang sedang sekarat sehingga dia menjadi ingat. Para ulama mengatakan dia sepatutnya menggunakan kalimat perintah untuk keperluan tersebut karena boleh jadi dikarenakan sedang susah dan sempit dada orang yang sekarat tadi malah tidak mau mengucapkan laa ilaha illallah sehingga yang terjadi malah suul khatimah. Jadi orang yang sedang sekarat tersebut diingatkan dengan perbuatan dengan adanya orang yang membaca laa ilaha illallah di dekatnya.</p>
<p>Sampai-sampai para ulama mengatakan bahwa jika setelah diingatkan untuk mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em> orang tersebut mengucapkannya maka hendaknya orang yang mentalqin itu diam dan tidak mengajaknya berbicara supaya kalimat terakhir yang dia ucapkan adalah <em>laa ilaha illallah</em>. Jika orang yang sedang sekarat tersebut mengucapkan sesuatu maka talqin hendaknya diulangi sehingga kalimat terakhir yang dia ucapkan adalah <em>laa ilaha illallah.<br />
</em><br />
Sedangkan membaca <strong>surat Yasin</strong> di dekat orang yang hendak meninggal dunia adalah amalan yang dianjurkan oleh banyak ulama mengingat sabda Nabi, “<em>Bacakanlah surat Yasin untuk orang-orang yang hendak meninggal dunia di antara kalian</em>”.<br />
Akan tetapi derajat hadits ini diperbincangkan oleh sebagian ulama. Jadi kesimpulannya, menurut ulama yang menshahihkan hadits tersebut maka membaca surat Yasin di dekat orang yang meninggal dunia adalah amalan yang dianjurkan. Sedangkan menurut ulama yang menilainya sebagai hadits yang lemah maka perbuatan tersebut tidaklah dianjurkan” <strong>(Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 215/40, Asy Syamilah).</strong></p>
<p><strong>[Kedua] Talqin Bid&#8217;ah</strong></p>
<blockquote><p>وَعَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ &#8211; أَحَدِ التَّابِعِينَ &#8211; قَالَ : كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إذَا سُوِّيَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْرُهُ ، وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ .أَنْ يُقَالَ عِنْدَ قَبْرِهِ : يَا فُلَانُ ، قُلْ : لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، يَا فُلَانُ : قُلْ رَبِّي اللَّهُ ، وَدِينِي الْإِسْلَامُ ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ ، رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مَوْقُوفًا &#8211; وَلِلطَّبَرَانِيِّ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا مُطَوَّلًا .</p>
<p>Dari Dhamrah bin Habib, seorang tabiin, “Mereka (yaitu para shahabat yang beliau jumpai) menganjurkan jika kubur seorang mayit sudah diratakan dan para pengantar jenazah sudah bubar supaya dikatakan di dekat kuburnya, ‘Wahai fulan katakanlah <em>laa ilaha illallah 3x</em>. Wahai fulan, katakanlah ‘Tuhanku adalah Allah. Agamaku adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad” [Dalam Bulughul Maram no hadits 546, Ibnu Hajar mengatakan, “Diriwayatkan oleh Said bin Manshur secara mauquf (dinisbatkan kepada shahabat). Thabrani meriwayatkan hadits di atas dari Abu Umamah dengan redaksi yang panjang dan semisal riwayat Said bin Manshur namun secara marfu’ (dinisbatkan kepada Nabi)].</p></blockquote>
<p>Muhammad Amir ash Shan’ani mengatakan, “Setelah membawakan redaksi hadits di atas al Haitsami berkata, ‘Hadits tersebut diriwayatkan oleh ath Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir dan dalam sanadnya terdapat sejumlah perawi yang tidak kukenal’. Dalam catatan kaki Majma’uz Zawaid disebutkan bahwa dalam sanad hadits tersebut terdapat seorang perawi yang bernama<strong> ‘Ashim bin Abdullah dan dia adalah seorang perawi yang lemah</strong>…. Al Atsram mengatakan, ‘Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang apa yang dilakukan oleh banyak orang ketika jenazah telah dimakamkan ada seorang yang berdiri dan berkata, ‘Wahai fulan bin fulanah’. Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku tidak mengetahui ada seorang pun yang melakukannya melainkan para penduduk daerah Syam ketika Abul Mughirah meninggal dunia. Tentang masalah tersebut diriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi Maryam dari guru-guru mereka bahwa mereka, para guru, melakukannya”. Menganjurkan talqin semacam ini adalah pendapat para ulama bermazhab Syafii.</p>
<p>Dalam Al Manar Al Munif, Ibnul Qoyyim mengatakan,</p>
<p>“Sesungguhnya hadits tentang talqin ini adalah hadits yang tidak diragukan oleh para ulama hadits sebagai hadits palsu. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam sunannya dari Hamzah bin Habib dari para gurunya yang berasal dari daerah Himsh (di Suriah, Syam, pent). Jadi perbuatan ini hanya dilakukan oleh orang-orang Himsh….</p>
<p>Dalam Zaadul Ma’ad, Ibnul Qoyyim juga berkata tegas sebagaimana perkataan beliau di Al Manar Al Munif. Sedangkan di kitab Ar Ruuh, Ibnul Qoyyim menjadikan hadits talqin di atas sebagai salah satu dalil bahwa mayit itu mendengar perkataan orang yang hidup di dekatnya. Terus-menerusnya talqin semacam ini dilakukan dari masa ke masa tanpa ada orang yang mengingkarinya, menurut Ibnul Qoyyim, sudah cukup untuk dijadikan dalil untuk mengamalkannya. Akan tetapi di kitab Ar Ruuh, beliau sendiri tidak menilai hadits talqin di atas sebagai hadits yang shahih bahkan beliau dengan tegas mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits yang lemah.</p>
<p>Yang bisa kita simpulkan dari perkataan para ulama peneliti sesungguhnya hadits tentang talqin di atas adalah <strong>hadits yang lemah</strong> sehingga mengamalkan isi kandungannya adalah <strong>bid’ah</strong> (amalan yang tidak ada tuntunannya). Tidak perlu tertipu dengan banyaknya orang yang mempraktekkannya” <strong><em>(Subulus Salam 3/157, Asy Syamilah). </em></strong></p>
<p><strong>Syeikh Ibnu Utsaimin ditanya tentang kapankah waktu talqin.</strong></p>
<p>Jawaban beliau,</p>
<p>“Talqin itu dilakukan ketika hendak meninggal dunia yaitu pada saat proses pencabutan nyawa. Orang yang hendak meninggal ditalqin laa ilaha illallah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika pamannya, Abu Thalib hendak meninggal dunia. Nabi mendatangi pamanya lantas berkata, ‘Wahai pamanku, ucapkanlah laa ilaha illallah, sebuah kalimat kalimat yang bisa kugunakan untuk membelamu di hadapan Allah’. Akan tetapi paman beliau tidak mau mengucapkannya sehingga mati dalam keadaan musyrik.<br />
Sedangkan talqin setelah pemakaman maka itu adalah <strong>amal yang bid’ah</strong> karena tidak ada hadits yang shahih dari Nabi tentang hal tersebut. Yang sepatutnya dilakukan adalah kandungan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud. Nabi jika telah selesai memakamkan jenazah berdiri di dekatnya lalu berkata, ‘Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mintakanlah agar dia diberi keteguhan dalam memberikan jawaban. Sesungguhnya sekarang dia sedang ditanya’.<br />
Adapun membaca Al Qur’an, demikian pula talqin di dekat kubur maka keduanya adalah <strong>amal yang bid’ah</strong> karena tidak ada dalil yang mendasarinya” <strong><em>(Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 215/42, Asy Syamilah). </em></strong><em><br />
</em>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Ftanya-jawab-apa-hukum-talqin&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/tanya-jawab-apa-hukum-talqin"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=29&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/toga-sarjana" title="Toga Sarjana">Toga Sarjana</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-lomba-maraton" title="Hukum Lomba Maraton">Hukum Lomba Maraton</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini" title="Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini">Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</a> (35)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps" title="Hukum Bermain Play Station (PS)">Hukum Bermain Play Station (PS)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi" title="Dasi Menurut Ibnu Utsaimin">Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menyikapi-pajak-dengan-bijak" title="Menyikapi Pajak dengan Bijak">Menyikapi Pajak dengan Bijak</a> (32)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/di-masa-muda-bergelimang-maksiat" title="Di Masa Muda Bergelimang Maksiat">Di Masa Muda Bergelimang Maksiat</a> (26)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-bea-cukai-untuk-barang-orang-kafir" title="Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?">Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-mengheningkan-cipta" title="Hukum Mengheningkan Cipta">Hukum Mengheningkan Cipta</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram" title="Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?">Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?</a> (14)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/tanya-jawab-apa-hukum-talqin/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.557 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-07 16:27:56 -->

