<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah &#187; Syaikh Ibnu Baz</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/tag/syaikh-ibnu-baz/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Blog Ustadz Aris Munandar</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 17:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Lihatlah Keteladanan Syaikh Ibnu Baz!</title>
		<link>http://ustadzaris.com/lihatlah-keteladanan-syaikh-ibnu-baz</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/lihatlah-keteladanan-syaikh-ibnu-baz#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 20:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Ibnu Baz]]></category>
		<category><![CDATA[syeikh ibnu baz]]></category>
		<category><![CDATA[teladan]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1294</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan Syeikh Ibnu Baz itu penuh dengan keteladanan dalam kedermawanan. Inilah sifat menonjol yang ada pada diri beliau. Beliau adalah seorang yang dermawan sejak belia dan terus dermawan hingga beliau meninggal dunia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang menuturkan bahwa dia suatu hari membaca al Qur’an di dekat Syeikh Ibnu Baz dan bacaannya keliru. Mendengar hal tersebut, beliau berkata, “<em>Bukan demikian, perbaiki bacaan al Qur’anmu</em>”. Lalu beliau sendiri yang mengoreksi bacaan orang tersebut. Setelah itu beliau berpesan, “<em>Simakkan bacaan al Qur’anmu pada seorang guru al Qur’an sehingga engkau bisa memperbaiki bacaanmu. Jangan terus menerus seperti ini</em>”.<span id="more-1294"></span></p>
<p>Suatu hari Syeikh Ibnu Baz berkata kepada orang yang ada di dekatnya, “<em>Apakah engkau rutin membaca al Qur’an dengan target tertentu setiap harinya?</em>”. Orang tersebut berkata, “<em>Aku tidak rutin membaca membaca  al Qur’an. Kadang aku membaca dan sekali membaca langsung dengan kadar yang banyak</em>”. Ibnu Baz berkata, “<em>Jangan demikian. Rutinkan membaca al Qur’an. Bukankah jika dalam sehari engkau membaca sebanyak satu juz maka dalam sebulan engkau bisa mengkhatamkan al Qur’an?!. Tiap hari engkau harus punya target yang jelas. Jangan sekedar asal-asalan</em>”.</p>
<p><strong>Teladan dalam Kedermawanan</strong></p>
<p>Kehidupan Syeikh Ibnu Baz itu penuh dengan keteladanan dalam kedermawanan. Inilah sifat menonjol yang ada pada diri beliau. Beliau adalah seorang yang dermawan sejak belia dan terus dermawan hingga beliau meninggal dunia.<br />
Muhammad bin Baz, kakak beliau, bercerita bahwa saudara kandungnya yaitu Syeikh Abdul Aziz bin Baz dulu ketika kecil suka meminta kepada ibunya tambahan porsi makan siang dan makan malam kemudian dibagikan kepada teman-teman ngajinya.<br />
Karena hal ini, sang kakak pernah menegur adiknya, “Mengapa kau lakukan hal ini terus menerus? Engkau selalu meminta tambahan porsi makan siang dan makan malam kepada ibu. Sedangkan engkau sendiri tahu keadaan ekonomi kita yang pas-pasan bahkan serba kekurangan?!”.<br />
Jawaban Ibnu Baz ketika itu, “<strong><em>Sesungguhnya Allah itu maha pemurah. Allah pasti akan melapangkan rizkiNya untuk kita</em></strong>”.<br />
Ada seorang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Syeikh Ibnu Baz bernama Saad bin Husain. Saad ini sepuluh tahun lebih tua dibandingkan Ibnu Baz. Saad berkata, “Dulu Syeikh Ibnu Baz mengikuti kajian Syeikh Muhammad bin Ibrahim. Sepulang dari pengajian, di jalan beliau mengajak semua orang yang beliau temui baik itu teman kajian, orang yang tidak dikenal, ataupun fakir miskin untuk mampir ke rumah beliau. Apa yang ada di rumah, beliau suguhkan kepada mereka semua. Inilah yang beliau lakukan di awal-awal menuntut ilmu”.</p>
<p>Seringkali beliau mengambil gaji bulan depan untuk bisa membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.<br />
Tidak ada satu pun permasalahan melainkan beliau berupaya untuk membantunya.</p>
<p>Ada seorang perempuan yang berkirim surat kepada beliau. Isinya perempuan ini bercerita bahwa dia adalah seorang perempuan yang memiliki cacat fisik. Karena tidak ada seorang pun yang berminat untuk menikahinya. Lalu perempuan ini meminta bantuan agar bisa membeli rumah. Dengan pertimbangan seorang perempuan yang memiliki rumah sendiri kemungkinan besar akan ada lelaki yang mau menikahinya karena rumah yang dia miliki.</p>
<p>Setelah surat tersebut dibacakan kepada beliau, beliau berkata, “Tidak masalah”. Beliau lantas meminta sekretaris beliau untuk mengirimkan lebih dari 400 ribu real guna membelikan rumah untuk perempuan tersebut dengan tujuan agar bisa segera menikah.</p>
<p>Ada seorang di Filipina yang masuk Islam. Setelah masuk Islam, masyarakat di sekelilingnya mengintimidasinya. Bahkan rumahnya pun dirobohkan. Akhirnya orang ini berkirim surat kepada Syeikh Ibnu Baz. Dalam suratnya, orang ini berkata, “Sungguh aku tidak mengetahui di dunia ini orang yang bisa kukirimi surat melainkan dirimu”. Syeikh pun membalas surat tersebut. Di samping itu beliau kirimkan uang sejumlah sepuluh ribu real untuk membantu orang tersebut membangun rumah.</p>
<p>Suatu ketika sopir pribadi beliau, Syahin Abdurrahman dan juru masak beliau, Nashir Ahmad Kholifah bercerita bahwa suatu ketika Syeikh Ibnu Baz pergi ke tempat kediaman beliau di Mekkah. Beliau masuk rumah pada saat waktu makan malam namun beliau tidak mendengar suara orang-orang yang biasa datang ke rumah beliau untuk makan siang dan makan malam.<br />
Beliau bertanya kepada salah seorang yang menemani beliau, “Mengapa hari ini, tidak ada orang-orang yang datang? Aku tidak mendengar suara mereka?”.<br />
Orang yang ditanya menjawab, “Satpam melarang mereka”. Mendengar hal tersebut, beliau marah dan melarang satpam melakukan hal. Beliau perintahkan satpam agar mempersilahkan semua orang yang ada untuk makan malam di rumah beliau</p>
<p>Suatu ketika ada orang yang datang ke kantor mufti dan mengucapkan salam kepada Syeikh Ibnu Baz. Orang tersebut adalah orang afrika yang tidak dikenal identitasnya. Ibnu Baz berkata kepadanya, “Engkau bisa tinggal bersama kami. Engkau jadi tamu kami”.<br />
Beliau tampak ceria dan menyambut orang tersebut lalu beliau minta gaharu atau cendana untuk mewangikan ruangan sebagaiman kebiasaan beliau ketika ada tamu.<br />
Orang tersebut berkata, “Kami ingin singgah di tempat anda”. Jawaban beliau, “Silahkan, silahkan”.<br />
Orang tersebut berkata, “Ya Syeikh, hari ini kami bisa makan siang bersamamu?”. Jawaban beliau, “Silahkan, hari ini bahkan meski setiap hari”.</p>
<p>[Disarikan dari <em>Ma’alim Tarbawiyyah min Sirah al Imam Abdul Aziz bin Baz</em> karya Muhammad ad Duhaim hal 10-11]
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Flihatlah-keteladanan-syaikh-ibnu-baz&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1294&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/sunnah-nabi-yang-ditinggalkan" title="Sunnah Nabi yang Ditinggalkan">Sunnah Nabi yang Ditinggalkan</a> (15)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/3-teladan-syaikh-ibnu-baz" title="3 Teladan Syaikh Ibnu Baz">3 Teladan Syaikh Ibnu Baz</a> (6)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pilih-pilih-guru-ngaji" title="Pilih-pilih &#8220;Guru Ngaji&#8221;">Pilih-pilih &#8220;Guru Ngaji&#8221;</a> (6)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/haram-menipiskan-alis-mata" title="Haram Menipiskan Alis Mata">Haram Menipiskan Alis Mata</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mungkinkah-salafi-berdasi-berjas-dan-memakai-pantalon" title="Mungkinkah Salafi Berdasi, Berjas dan Memakai Pantalon?">Mungkinkah Salafi Berdasi, Berjas dan Memakai Pantalon?</a> (38)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sarjana-komputer-yang-jadi-ulama-hadits" title="Sarjana Komputer yang Jadi Ulama Hadits">Sarjana Komputer yang Jadi Ulama Hadits</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/orang-teknik-mesin-yang-jadi-ulama" title="Orang Teknik Mesin yang Jadi Ulama">Orang Teknik Mesin yang Jadi Ulama</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mungkinkah-sarjana-umum-menjadi-ulama" title="Mungkinkah Sarjana Umum Menjadi Ulama?">Mungkinkah Sarjana Umum Menjadi Ulama?</a> (17)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menggunakan-obat-penumbuh-jenggot" title="Hukum Menggunakan Obat Penumbuh Jenggot">Hukum Menggunakan Obat Penumbuh Jenggot</a> (6)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ulama-pun-bisa-bercanda" title="Ulama pun Bisa Bercanda">Ulama pun Bisa Bercanda</a> (1)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/lihatlah-keteladanan-syaikh-ibnu-baz/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sunnah Nabi yang Ditinggalkan</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sunnah-nabi-yang-ditinggalkan</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/sunnah-nabi-yang-ditinggalkan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 20:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Ibnu Baz]]></category>
		<category><![CDATA[syeikh ibnu baz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=812</guid>
		<description><![CDATA[“Barang siapa yang merintis kebiasaan yang baik dalam Islam maka untuknya pahalanya dan pahala orang yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR Muslim no 2398 dari Jarir bin Abdillah).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sunnah (baca:hadits) itu termasuk wahyu. Allah berfirman,</p>
<p>وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)</p>
<p>Yang artinya, <em>“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”</em> (QS An-Najm:3-4).<span id="more-812"></span></p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">أَلاَ إِنِّى أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ</p>
<p>“Ingatlah bahwa aku itu diberi al Qur’an dan yang semisalnya (baca:hadits) bersamanya” (HR Ahmad no 17213 dari al Miqdam bin Ma’di Yakriba, Syeikh Syuaib al Arnauth mengatakan, “Sanadnya shahih”).</p>
<p>Hasan bin ‘Athiyyah, seorang tabiin mengatakan, “Jibril itu turun untuk menemui Nabi dengan membawa sunnah sebagaimana dia turun dengan membawa al Qur’an”.</p>
<p>Allah juga menjamin untuk menjaga sunnah sebagaimana menjaga al Qur’an. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan adz dzikr dan kamilah yang menjaganya” (QS al Hijr:9). Yang dimaksud dengan adz dzikr dalam ayat ini mencakup al Qur’an dan sunnah.</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ</p>
<p>“Barang siapa yang merintis kebiasaan yang baik dalam Islam maka untuknya pahalanya dan pahala orang yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR Muslim no 2398 dari Jarir bin Abdillah).</p>
<p>Hadits ini berkenaan dengan menghidupkan sunnah dan mendorong manusia untuk melakukannya. Ini semua mengharuskan kita untuk berusaha sungguh-sungguh untuk turut melestarikan sunnah dan membersihkannya dari noda bid’ah.</p>
<p>Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah tiba suatu tahun melainkan banyak orang yang mengada-ada suatu bid’ah dan mematikan suatu sunnah sehingga bid’ah hidup sedangkan sunnah mati”.</p>
<p>Berikut ini adalah beberapa sunnah/ajaran Nabi yang sudah banyak dilupakan.</p>
<p><strong>1.	Bersiwak (gosok gigi) sebelum berwudhu</strong></p>
<p>Seorang muslim dianjurkan untuk bersiwak sebelum berwudhu. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ</p>
<p>“Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya kuwajibkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak berwudhu” (HR Ahmad no9930, menurut Syeikh Su’aib al Arnauth sanadnya shahih menurut kriteria Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>2. Selalu dalam kondisi berwudhu dan shalat sunah dua rakaat setelah berwudhu</strong></p>
<p style="text-align: center;">عن عبد الله بن بريدة : عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم سمع خشخشة أمامه فقال : ( من هذا ) ؟ قالوا : بلال فأخبره وقال : ( بما سبقتني الى الجنة ) ؟ فقال : يارسول الله ما أحدثت إلا توضأت ولا توضأت إلا رأيت أن لله علي ركعتين أصليهما قال صلى الله عليه و سلم : ( بها )</p>
<p>Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mendengar suara di depannya (di dalam surga, pent), lalu bertanya, ‘Siapa ini?’. Para malaikat mengatakan, ‘Bilal’. Hal ini lantas diceritakan oleh Nabi kepada Bilal seraya bertanya, “Dengan sebab apa engkau bisa mendahuluiku ke surga?”. Bilal berkata, “Wahai rasulullah, tidaklah aku berhadats melainkan aku berwudhu dan tidaklah aku berwudhu melainkan aku shalat sebanyak dua rakaat. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Memang karena itu” (HR Ibnu Hibban no 7087, Syeikh Syu’aib al Arnauth mengatakan, ‘Sanadnya shahih sesuai dengan kriteria Muslim’).</p>
<p><strong>3. Menjilati ujung jari setelah selesai makan</strong></p>
<p><strong>4. Makan dengan menggunakan tiga jari</strong></p>
<p><strong>5. Memakan makanan yang jatuh setelah kotoran yang melekat dibuang</strong></p>
<p>Dalam Shahih Muslim terdapat bab yang berjudul, “Anjuran menjilati jari dan piring (setelah selesai makan, pent) serta memakan suapan yang jatuh setelah kotoran yang melekat dibersihkan dan dimakruhkan membersihkan tangan sebelum dijilati”.</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِلَعْقِ الأَصَابِعِ وَالصَّحْفَةِ وَقَالَ « إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ فِى أَيِّهِ الْبَرَكَةُ ».</p>
<p>Dari Jabir, sesungguhnya Nabi memerintahkan untuk menjilati jari jemari dan piring makan. Nabi bersabda, “Kalian tidak mengetahui di bagian makanan yang mengandung barokah” (HR Muslim no 5420).</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فِى أَىِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ ».</p>
<p>Dari Jabir, Rasulullah bersabda, “Jika ada suapan makanan yang jatuh maka hendaknya diambil, kotoran yang melekat dibuang lalu dimakan. Jangan biarkan suapan makanan tersebut untuk setan. Janganlah kalian bersihkan tangan kalian sesudah makan dengan sapu tangan hingga kalian jilati terlebih dahulu jari jemari kalian karena kalian tidak tahu secara pasti letak dari barokah makanan” (HR Muslim no 5421).</p>
<p>Berdasarkan dua hadits ini jelaslah bahwa menjilati jari atau piring bukan hanya perbuatan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahkan perintah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagaimana dalam dua hadits di atas.</p>
<p style="text-align: center;">عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْكُلُ بِثَلاَثِ أَصَابِعَ وَيَلْعَقُ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يَمْسَحَهَا.</p>
<p>Dari Ka’ab bin Malik, adalah menjadi kebiasaan rasulullah makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilati tangan sebelum diusap (dengan sapu tangan, pent) (HR Muslim no 5417).<br />
Anjuran untuk makan dengan tiga jari itu berlaku untuk makanan yang memungkinkan mennggunakan tiga jari semisal korma, roti dll. Adapun makanan yang tidak memungkinkan semisal bubur atau yang lainnya maka tidak berlaku anjuran untuk makan dengan tiga jari.</p>
<p><strong>6. Duduk di tempat shalat setelah shalat shubuh hingga matahari terbit</strong></p>
<p style="text-align: center;">عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا صَلَّى الْفَجْرَ جَلَسَ فِى مُصَلاَّهُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَسَنًا.</p>
<p>Dari Jabir bin Samurah, sesungguhnya di antara kebiasaan Nabi adalah duduk di tempat shalatnya setelah shalat shubuh sampai matahari agak meninggi (HR Muslim no 1558).</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ ».</p>
<p>Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, “Siapa yang shalat shubuh berjamaah kemudian dudukmengingat Allah hingga matahari terbit kemudian shalat sebanyak dua rakaat, maka untuknya pahala sebagaimana pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna dan sempurna” (HR Tirmidzi no 586, menurut al Albani, ‘sanadnya hasan’).</p>
<p>Syeikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Seorang perempuan yang shalat shubuh di rumah lalu duduk di tempat shalatnya untuk mengingat Allah atau membaca alQur’an sampai matahari meninggi kemudian shalat dua rakaat. Perempuan tadi akan mendapatkan pahala yang dijanjikan”.
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsunnah-nabi-yang-ditinggalkan&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=812&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/lihatlah-keteladanan-syaikh-ibnu-baz" title="Lihatlah Keteladanan Syaikh Ibnu Baz!">Lihatlah Keteladanan Syaikh Ibnu Baz!</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/yang-dilalaikan-oleh-wanita" title="Yang Dilalaikan oleh Wanita">Yang Dilalaikan oleh Wanita</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran" title="Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an">Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/dosa-bidah-dibanding-maksiat" title="Dosa Bid&#8217;ah Dibanding Maksiat">Dosa Bid&#8217;ah Dibanding Maksiat</a> (15)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/katakan-saja-saya-tidak-tahu" title="Katakan Saja &#8220;Saya Tidak Tahu&#8221;">Katakan Saja &#8220;Saya Tidak Tahu&#8221;</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sandal-salafi" title="Sandal Salafi">Sandal Salafi</a> (23)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2" title="Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)">Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)</a> (37)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/baiat-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah" title="Bai&#8217;at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (1)">Bai&#8217;at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (1)</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/begitu-sederhana-hafalannya-luar-biasa" title="Begitu Sederhana, Hafalannya Luar Biasa">Begitu Sederhana, Hafalannya Luar Biasa</a> (31)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kukatakan-kebenaran-dan-aku-siap-bersabar" title="Kukatakan Kebenaran dan Aku Siap Bersabar">Kukatakan Kebenaran dan Aku Siap Bersabar</a> (5)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/sunnah-nabi-yang-ditinggalkan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Katakan Saja &#8220;Saya Tidak Tahu&#8221;</title>
		<link>http://ustadzaris.com/katakan-saja-saya-tidak-tahu</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/katakan-saja-saya-tidak-tahu#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 20:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Ibnu Baz]]></category>
		<category><![CDATA[tidak tahu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[Di antara prinsip Syeikh Ibnu Baz adalah tidak malu untuk mengatakan, “Saya tidak tahu”. Ini adalah prinsip yang diajarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di antara prinsip Syeikh Ibnu Baz adalah tidak malu untuk mengatakan, <strong>“Saya tidak tahu”.</strong> Ini adalah prinsip yang diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.<span id="more-489"></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ َنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ قَالَ فَقَالَ « لاَ أَدْرِى ». فَلَمَّا أَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ « يَا جِبْرِيلُ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ ». قَالَ لاَ أَدْرِى حَتَّى أَسْأَلَ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ. فَانْطَلَقَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ سَأَلْتَنِى أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ فَقُلْتُ لاَ أَدْرِى وَإِنِّى سَأَلْتُ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ فَقَالَ َسْوَاقُهَا.</strong></p>
<p>Dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya, sesungguhnya ada seorang yang menemui Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lalu berkata, “<em>Wahai rasulullah tempat apakah yang paling buruk?</em>”. Jawaban Rasul, “<em>Aku tidak tahu</em>”. Ketika Jibril datang menjumpai Nabi, beliau bertanya kepada Jibril, “<em>Wahai Jibril, tempat apakah yang paling buruk?</em>”. Jibril berkata, “<em>Aku tidak tahu. Kutanyakan dulu kepada Rabbku azza wa jalla</em>”. Jibril lantas pergi. Setelah beberapa waktu lamanya, Jibril datang dan berkata, “<em>Wahai Muhammad, engkau pernah bertanya kepadaku tentang tempat yang paling buruk lalu jawabku adalah aku tidak tahu. Hal itu telah kutanyakan kepada tuhanku azza wa jalla, ‘Tempat apakah yang paling buruk?</em>’. FirmanNya, “<em>Pasar</em>”. (HR Ahmad no 16790, namun Syeikh Syu’aib al Arnauth mengatakan, ‘Sanadnya lemah’).</p>
<p style="text-align: center;"><strong>عن ابن عمر أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه و سلم : أي البقاع شر ؟ قال : ( لا أدري حتى أسأل جبريل ) فسأل جبريل فقال : لا أدري حتى أسأل ميكائيل فجاء فقال : ( خير البقاع المساجد وشرها الأسواق )</strong><strong><br />
</strong><strong><br />
قال شعيب الأرنؤوط : حديث حسن</strong></p>
<p>Dari Ibnu Umar, ada seorang yang bertanya kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “<em>Tempat apakah yang paling buruk?</em>”. Jawaban Nabi, “<em>Aku tidak tahu. Kutanyakan dulu kepada Jibril</em>”. Setelah ditanyakan kepada Jibril, Jibril mengatakan, “<em>Aku juga tidak tahu. Kutanyakan dulu kepada Mikail</em>”. Pada akhirnya, Jibri datang dan mengatakan, “<em>Tempat yang paling baik adalah masjid. Sedangkan tempat yang paling buruk adalah pasar</em>”. (HR Ibnu Hibban no 1599. Syeikh Syuaib al Arnauth mengatakan, “Hadits hasan”).</p>
<p>Perkataan seorang ulama, “<em>Aku tidak tahu</em>” akan meningkatkan kedudukannya dan menyebabkan Allah membukakan untuknya ilmu yang tiada disangka-sangka karena dia telah menyerahkan ilmu hal yang ditanyakan kepada yang mengetahuinya. Syeikh Ibnu Baz adalah seorang yang sangat luas ilmu dan telaahnya meski demikian beliau tidak berani komentar dalam masalah yang beliau tidak tahu.<br />
Suatu ketika beliau ditanya tentang seorang yang dalam shalat membaca ayat hutang yang merupakan ayat terpanjang dalam alQur’an. Ayat tersebut dibagi untuk dua rakaat. Ketika Syeikh Ibnu Baz ditanya tentang hukum hal ini pada awalnya beliau tidak memberikan jawaban. Beliau mengatakan, “<em>Baru pertama kali ini saya mendapatkan pertanyaan tentang hal ini</em>”. Kemudian beliau berkata, “<em>Jika hal tersebut dia lakukan maka tidak mengapa akan tetapi yang lebih baik jika satu ayat tersebut dibaca untuk satu rakaat</em>”.<br />
Meski beliau banyak membahas berbagai permasalahan dan pertanyaan yang diajukan kepada beliau. Dengan sahaja dan didengar oleh para murid, beliau mengatakan, “<em>Baru pertama kali ini saya mendapatkan pertanyaan tentang hal ini</em>”. Perkataan beliau ini sangat jauh berbeda dengan orang yang sok tahu segalanya. Sedangkan beliau adalah ulama sejati yang merasa takut kepada Allah.<br />
Sangat sering Syeikh Ibnu Baz mengatakan, “<em>Masalah ini perlu dikaji ulang</em>” lantas beliau berkata kepada salah seorang murid yang mengikuti kajian, “<em>Wahai fulan tolong kaji masalah ini dan untukmu doa kebaikan dari kami</em>”. Sang muridpun menyanggupinya kemudian murid tersebut pada kesempatan yang lain datang membawa makalah hasil pengkajian masalah tersebut. Setelah dia bacakan di hadapan Syeikh Ibnu Baz, beliau menyampaikan beberapa komentar.<br />
Suatu waktu ada orang yang datang dan meminta fatwa saat Syeikh Ibnu Baz memberikan pengajian. Adalah kebiasaan beliau memberi fatwa di tengah pengajian meski masalah yang ditanyakan tidak terkait dengan topik pengajian. “<em>Mereka adalah orang-orang yang memiliki hajat</em>”, demikian komentar beliau.<br />
Ternyata jawaban beliau untuk pertanyaan yang diajukan pada saat itu, “<em>Saya tidak tahu. Saya tidak tahu</em>”. “<em>Engkau tidak tahu??!!</em>”, komentar orang tersebut. Syeikh Ibnu Baz berkata, “<em>Umumkan ke seluruh penjuru dunia bahwa Ibnu Baz tidak tahu</em>”.</p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fkatakan-saja-saya-tidak-tahu&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=489&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/jagalah-lisanmu" title="Jagalah Lisanmu!">Jagalah Lisanmu!</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/lihatlah-keteladanan-syaikh-ibnu-baz" title="Lihatlah Keteladanan Syaikh Ibnu Baz!">Lihatlah Keteladanan Syaikh Ibnu Baz!</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sunnah-nabi-yang-ditinggalkan" title="Sunnah Nabi yang Ditinggalkan">Sunnah Nabi yang Ditinggalkan</a> (15)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pacaran-terselubung-via-chatting-dan-hp" title="Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP">Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP</a> (76)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/akhlaq-seorang-ahlus-sunnah-terhadap-musuhnya" title="Akhlaq Seorang Ahlus Sunnah Terhadap Musuhnya">Akhlaq Seorang Ahlus Sunnah Terhadap Musuhnya</a> (6)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sarjana-komputer-yang-jadi-ulama-hadits" title="Sarjana Komputer yang Jadi Ulama Hadits">Sarjana Komputer yang Jadi Ulama Hadits</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/orang-teknik-mesin-yang-jadi-ulama" title="Orang Teknik Mesin yang Jadi Ulama">Orang Teknik Mesin yang Jadi Ulama</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ulama-pun-bisa-bercanda" title="Ulama pun Bisa Bercanda">Ulama pun Bisa Bercanda</a> (1)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/dapat-hidayah-lewat-majalah" title="Dapat Hidayah Lewat Majalah">Dapat Hidayah Lewat Majalah</a> (15)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kukatakan-kebenaran-dan-aku-siap-bersabar" title="Kukatakan Kebenaran dan Aku Siap Bersabar">Kukatakan Kebenaran dan Aku Siap Bersabar</a> (5)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/katakan-saja-saya-tidak-tahu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Canda dan Tangis Syaikh Ibnu Baz</title>
		<link>http://ustadzaris.com/antara-canda-dan-tangis-syaikh-ibnu-baz</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/antara-canda-dan-tangis-syaikh-ibnu-baz#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 06:12:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Ibnu Baz]]></category>
		<category><![CDATA[tangis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa di Saudi Arabia). Meski beliau adalah seorang ulama besar kelas internasional namun di antara sisi-sisi kehidupan beliau juga terdapat guyon dan canda. Seorang ulama tidak harus hanya menjalani hidup dengan keseriusan. Canda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz pernah menjabat sebagai ketua <em>Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ </em>(komisi fatwa di Saudi Arabia). Meski beliau adalah seorang ulama besar kelas internasional namun di antara sisi-sisi kehidupan beliau juga terdapat guyon dan canda. Seorang ulama tidak harus hanya menjalani hidup dengan keseriusan. Canda yang tepat dan proposional adalah bagaikan garam bagi kehidupan kita.<span id="more-76"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jika ada seorang yang berkunjung ke rumah Syaikh Ibnu Baz maka beliau pasti menawari orang tersebut untuk turut makan malam bersama beliau. Jika orang tersebut beralasan, “Wahai Syaikh, saya tidak bisa” maka dengan nama berkelakar Ibnu Baz berkata, “Engkau takut dengan istrimu ya?! Marilah makan malam bersama kami”.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada salah seorang suami dari cucu Syaikh Ibnu Baz menemui beliau dan berkata, “Wahai Syaikh, kami ingin  agar engkau mengunjungi dan makan di rumah kami”. Jawaban beliau, “Tidak masalah, jika engkau menikah untuk kedua kalinya maka kami akan datang ke acara walimah insya Allah”.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pulang, orang ini bercerita kepada istrinya tentang apa yang dikatakan oleh kakeknya. Kontan saja cucu perempuan dari Syaikh Ibnu Baz buru-buru menelpon kakeknya. “Wahai Syeikh, apa maksudnya?”. Ibnu Baz berkata kepada cucunya, “Kami hanya guyon dengan dia. Kami tidak mengharuskannya untuk nikah lagi. Kami akan berkunjung ke rumahmu meski tidak ada acara pernikahan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Syaikh Ibnu Baz hendak rekaman untuk acara Nurun ‘ala Darb (acara tanya jawab di radio Al Qur’an Al Karim di Saudi), biasanya beliau melepas kain sorbannya dan dengan nada canda beliau berkata, “Siapa yang mau memikul amanah?”. Jika ada salah seorang yang ada di tempat tersebut mengatakan, “Saya” maka beliau berkata, “Silahkan ambil”.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika, ketika Syaikh Ibnu Baz hendak rekaman untuk acara Nurun ‘ala Darbi ada seorang yang berada di tempat tersebut sedangkan Syaikh ingin agar dia keluar namun dengan cara baik-baik. Beliau berkata, “Wahai fulan, kami hendak rekaman untuk dua seri sekaligus dan aku kira hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama”. “Tidak apa-apa, insya Allah. Aku akan duduk dan mendapat banyak ilmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Baz berkata, “Aku khawatir engkau akan batuk. Bukankah kau tahu bahwa dalam proses rekaman tidak boleh ada suara batuk ataupun suara lainnya”. Orang tersebut berkata, “Insya Allah, aku tidak akan batuk”. Syaikh berkata, “Tidak, batuk yang akan mendatangimu”. Akhirnya orang tersebut faham apa yang diinginkan oleh Syaikh Ibnu Baz. Orang tersebut lantas keluar meninggalkan ruangan rekaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Disamping bercanda, beliau juga terkadang menangis. Beberapa kali acara pengajian berhenti dan putus di tengah jalan dikarenakan beliau menangis.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Syeikh Ibnu Qasim membaca kitab Zaad al Ma’ad di hadapan beliau, ketika sampai pembahasan tuduhan dusta terhadap Aisyah, beliau menangis. Jadilah pengajian terputus di tengah jalan karena tangisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika dibacakan di hadapan beliau kejadian wafatnya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tepatnya ketika Abu Bakr berkata, “Siapa yang menyembah Muhammad maka sungguh Muhammad telah meninggal dunia” maka Syeikh Ibnu Baz menangis keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula, beliau menangis ketika di sampaikan kepada beliau berbagai musibah yang menimpa kaum muslimin, meski ketika beliau sedang makan atau mengisi pengajian.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah canda dan tangisan seorang ulama, menangis ketika sikon menuntut demikian. Sebaliknya, bercanda juga pada kondisi yang tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Terkait dengan canda, Syeikh Ibnu Sa’di mengatakan,<br />
<em>“Canda itu bagaikan  garam untuk makanan. Jika terlalu banyak tidak enak, terlalu sedikit juga tidak enak”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jangan pula bercanda dengan semua orang. Canda adalah bagian dari dakwah.<br />
Dalam kitab Al Istiqomah, Ibnu Taimiyyah berkata,</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>“Nabi tidak pernah bercanda dengan para sahabat senior baik dari kalangan muhajirin ataupun anshar. Beliau hanya bercanda dengan wanita, orang miskin, anak-anak dan orang-orang lemah semisal budak yang memang memerlukan perhatian khusus”.</p></blockquote>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fantara-canda-dan-tangis-syaikh-ibnu-baz&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=76&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/lihatlah-keteladanan-syaikh-ibnu-baz" title="Lihatlah Keteladanan Syaikh Ibnu Baz!">Lihatlah Keteladanan Syaikh Ibnu Baz!</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sunnah-nabi-yang-ditinggalkan" title="Sunnah Nabi yang Ditinggalkan">Sunnah Nabi yang Ditinggalkan</a> (15)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/katakan-saja-saya-tidak-tahu" title="Katakan Saja &#8220;Saya Tidak Tahu&#8221;">Katakan Saja &#8220;Saya Tidak Tahu&#8221;</a> (2)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/antara-canda-dan-tangis-syaikh-ibnu-baz/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
