<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah &#187; sunnah</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/tag/sunnah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 03:00:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2011 00:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[angkat tangan berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[berdo'a]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa ulama]]></category>
		<category><![CDATA[hukum angkat tangan]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=3173</guid>
		<description><![CDATA[Angkat tangan ketika berdoa adalah dianjurkan manakala dilakukan pada situasi yang tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Nabi berdoa ketika itu. Angkat tangan ketika berdoa adalah amalan yang dianjurkan karena terdapat hadits sahih yang menjelaskan bahwa angkat tangan dalam doa adalah salah satu sebab dikabulkannya doa dan melakukan hal yang menyebabkan doa dikabulkan adalah suatu hal yang dianjurkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fkapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">نعم، أما المسألة ما وجد مقتضاه في زمان النبي-صلى الله عليه و سلم- ولم يفعل ففعله بدعة فلا شك في هذا. لأنه إذا وجد سببه في زمان النبي- صلى الله عليه و سلم- ولم يفعله دل ذلك على أنه غير مشروع. إذ لو كان مشروعا لفعله النبي- صلى الله عليه و سلم- ومن ذلك مثلا رفع اليدين في الدعاء في المواطن التى ورد أن النبي-صلى الله عليه و سلم- دعا فيها ولم يرفع. المقتضي موجود وهو طلب الاستجابة ولكن النبي-صلى الله عليه و سلم- لم يرفع يديه فرفع اليدين في هذه المواطن بدعة.</p>
<p>Syaikh Dr Sulaiman ar Ruhaili mengatakan, “Amal ibadah yang di masa hidupnya Nabi telah dijumpai faktor pendorong untuk melakukannya namun ternyata Nabi tidak melakukannya maka melakukannya adalah bid’ah. Kaedah ini tidaklah diragukan kebenarannya. Karena di masa hidup Nabi sudah dijumpai sebab untuk melakukannya namun Nabi tidak melakukannya, hal ini menunjukkan bahwa hal itu tidak dituntunkan karena andai saja itu dituntunkan tentu saja Nabi akan melakukannya.</p>
<p>Contohnya adalah doa sambil angkat tangan dalam situasi yang terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ketika itu berdoa tanpa sambil angkat tangan. Faktor pendorong untuk mengangkat tangan ketika itu sudah ada yaitu keinginan agar doa yang dipanjatkan dikabulkan oleh Allah akan tetapi ternyata Nabi tidak mengangkat tangannya saat itu. Mengangkat tangan dalam kondisi ini hukumnya adalah bid’ah.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فمن جاء يرفع يديه في صلاة الجمعة وهو يخطب أو يؤمن على دعاء الخطيب هذا نقول هذه بدعة لأنه وجد سببها في زمان النبي-صلى الله عليه و سلم- ولم يفعله</p>
<p>Jika ada yang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya saat menyampaikan khutbah Jumat atau saat mengamini doa khatib, kita katakan bahwa perbuatan ini hukumnya adalah bid’ah karena sebab untuk melakukannya sudah dijumpai di masa Nabi namun Nabi sendiri tidak melakukannya.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">ولهذا من باب الفائدة:أقول: يقول أهل العلم الدعاء رفع اليدين في الدعاء له ثلاثة أحكام، سنة وبدعة ومستحب.</p>
<p>Oleh karena itu sebagai tambahan pengetahuan kami sampaikan bahwa para ulama menjelaskan bahwa angkat tangan ketika berdoa itu memiliki tiga status hukum, sunnah, bid’ah dan mustahab (dianjurkan).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أما السنية فهي المواطن التي ثبث أن النبي- صلى الله عليه و سلم- رفع فيها. فالرفع سنة، مجرد الرفع هذه العبادة، سنة تقتدي بالنبي- صلى الله عليه و سلم- مثل ما في الاستسقاء مثلا.</p>
<p>Angkat tangan ketika berdoa hukumnya sunnah manakala dilakukan pada sikon yang terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Nabi mengangkat tangannya sambil berdoa ketika itu. Dalam hal ini, mengangkat tangan adalah sunnah Nabi. Mengangkat tangan dalam kondisi ini adalah ibadah. Sejalan dengan sunnah manakala anda meneladani Nabi semisal angkat tangan ketika doa untuk meminta hujan.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">والبدعة في المواطن التي ثبت أن النبي-صلى الله عليه و سلم- دعا ولم يرفع مثل الدعاء في الجمعة ومثل الدعاء عند الطواف تجد أن بعض المسلمين يمشي ويطوف حول الكعبة ويرفع يديه يدعو، هذا بدعة لأنه ثبت عن النبي-صلى الله عليه و سلم- الدعاء ولم يثبت أنه رفع.</p>
<p>Mengangkat tangan dalam doa adalah bidah manakala dilakukan pada kondisi tertentu yang Nabi ketika itu berdoa namun beliau tidak mengangkat tangannya saat itu semisal doa dalam khutbah Jumat dan doa saat tawaf. Kita jumpai sebagian kaum muslimin ketika berjalan mengelilingi Ka’bah mereka berdoa sambil mengangkat kedua tangannya. Perbuatan ini adalah bid’ah karena Nabi berdoa ketika melakukan tawaf akan tetapi beliau tidak mengangkat tangannya.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">ومستحب في المواطن التي لم يثبت عن النبي- صلى الله عليه و سلم- أنه دعا فيها فإن رفع اليدين في الدعاء مستحب لأنه ثبت أنه من أسباب الإجابة وفعل ما يقتضي الإجابة مستحب، فيستحب للإنسان إذا دعا دعاء مطلقا أن يرفع يديه لأنها من أسباب الإجابة.</p>
<p>Angkat tangan ketika berdoa adalah dianjurkan manakala dilakukan pada situasi yang tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Nabi berdoa ketika itu. Angkat tangan ketika berdoa adalah amalan yang dianjurkan karena terdapat hadits sahih yang menjelaskan bahwa angkat tangan dalam doa adalah salah satu sebab dikabulkannya doa dan melakukan hal yang menyebabkan doa dikabulkan adalah suatu hal yang dianjurkan. Sehingga dianjurkan bagi orang yang berdoa dengan doa mutlak [baca: doa masalah] untuk mengangkat kedua tangannya karena hal tersebut adalah salah satu sebab dikabulkannya doa.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">كذا، كل دعاء ثبت عن النبي-صلى الله عليه و سلم- ولم يثبت أنه رفع فالرفع بدعة. وكل دعاء ثبت عن النبي-صلى الله عليه و سلم- أنه دعا ورفع فالرفع سنة كما في الدعاء بعد رمي الجمر كما في الدعاء علي الصفا والمروة ونحو هذا</p>
<p>Demikianlah, semua doa yang sahih dari Nabi namun ketika itu beliau tidak mengangkat tangannya maka mengangkat tangan saat itu hukumnya adalah bid’ah.</p>
<p>Sebaliknya, semua doa yang riwayat yang sahih menunjukkan bahwa Nabi berdoa ketika itu sambil mengangkat kedua tangannya maka mengangkat tangan saat itu adalah sunnah Nabi semisal doa setelah melempar jumrah [ula dan wustho, pent] dan doa saat berada di bukit Shafa dan Marwa ketika melakukan sai”</p>
<p><span style="color: #800000;">[Penjelasan di atas disampaikan oleh Syaikh Sulaiman ar Ruhaili pada sesi tanya jawab dalam <em>daurah</em> beliau yang mengkaji kitab <em>Qawaid Nuraniyyah</em> karya Ibnu Taimiyyah. Transkrip di atas bisa disimak pada menit <strong>1:18:46</strong> sampai <strong>1:21:44</strong> kaset no. dua yang diterbitkan oleh<em> Muassasah Dar Ibnu Rajab</em>, <em>Madinah Nabawiyyah</em>]</span>.
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fkapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=3173&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/doa-setelah-kajian" title="Do&#8217;a Setelah Kajian">Do&#8217;a Setelah Kajian</a> (1)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-mengusap-wajah-setelah-berdoa" title="Hukum Mengusap Wajah Setelah Berdo&#8217;a">Hukum Mengusap Wajah Setelah Berdo&#8217;a</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2" title="Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)">Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/baiat-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah" title="Bai&#8217;at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (1)">Bai&#8217;at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (1)</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/biji-tasbih-tanda-orang-shalih" title="Biji Tasbih Tanda Orang Shalih?">Biji Tasbih Tanda Orang Shalih?</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/minta-doa-orang-shalih-bisa-haram" title="Minta Doa Orang Shalih Bisa Haram">Minta Doa Orang Shalih Bisa Haram</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-anjing-penjaga-rumah" title="Hukum Anjing Penjaga Rumah">Hukum Anjing Penjaga Rumah</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/toga-sarjana" title="Toga Sarjana">Toga Sarjana</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/angkat-tangan-dalam-doa" title="Angkat Tangan dalam Doa">Angkat Tangan dalam Doa</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/perayaan-21-april" title="Perayaan 21 April">Perayaan 21 April</a> (5)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 17:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1705</guid>
		<description><![CDATA[Penjelasan menarik mengenai bacaan penutup setelah membaca Al Qur&#8217;an. الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله. أما بعد: فإنَّ إحياء السنن النبوية من أعظم القربات إلى الله، Sesungguhnya menghidupkan sunah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah termasuk amal yang sangat bernilai untuk mendekatkan diri kepada Allah. فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ، قَالَ: (( [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Penjelasan menarik mengenai bacaan penutup setelah membaca Al Qur&#8217;an.</p>
<p>الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله.<br />
أما بعد: فإنَّ إحياء السنن النبوية من أعظم القربات إلى الله،</p>
<p>Sesungguhnya menghidupkan sunah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah termasuk amal yang sangat bernilai untuk mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ، قَالَ: (( مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا )) [رواه مسلم].</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Barang siapa yang mengajak orang lain kepada kebaikan maka baginya pahala semua orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun</em>” (HR Muslim).</p>
<p>فإليكم أحبتي في الله، هذه السُّنة التي غفل عنها كثيرٌ من الناس:</p>
<p>Saudaraku, berikut ini adalah sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang sudah dilalaikan oleh banyak orang.</p>
<p>يُسْتَحَبُّ بعد الانتهاء من تلاوة القرآن أن يُقال:<br />
((سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ)).</p>
<p>Setelah selesai membaca al Qur’an <strong>dianjurkan</strong> untuk mengucapkan bacaan berikut ini: <strong>Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika</strong>. Yang artinya: maha suci Engkau ya Allah sambil memuji-Mu. Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.</p>
<p>الدليل: عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ : مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلاَ تَلاَ قُرْآناً، وَلاَ صَلَّى صَلاَةً إِلاَّ خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ مَا تَجْلِسُ مَجْلِساً، وَلاَ تَتْلُو قُرْآنًا، وَلاَ تُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ خَتَمْتَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ ؟<br />
قَالَ: (( نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْراً خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرّاً كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ [اللَّهُمَّ] وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ))([]).</p>
<p>Dalilnya, dari Aisyah beliau berkata, “<em>Tidaklah Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- duduk di suatu tempat atau <strong>membaca al Qur’an</strong> ataupun melaksanakan shalat kecuali beliau akhiri dengan membaca beberapa kalimat</em>”. Akupun bertanya kepada Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, “<em>Ya Rasulullah, tidaklah anda duduk di suatu tempat, <strong>membaca al Qur’an </strong>ataupun mengerjakan shalat melainkan anda akhiri dengan beberapa kalimat?</em>” Jawaban beliau, “<em>Betul, barang siapa yang mengucapkan kebaikan maka dengan kalimat tersebut amal tadi akan dipatri dengan kebaikan. Barang siapa yang mengucapkan kejelekan maka kalimat tersebut berfungsi untuk menghapus dosa. Itulah ucapan Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika</em>. &#8221;</p>
<p>) إسناده صحيح: أخرجه النسائي في &#8220;السنن الكبرى&#8221; (9/123/10067)، والطبراني في &#8220;الدعاء&#8221; (رقم1912)، والسمعاني في &#8220;أدب الإملاء والاستملاء&#8221; (ص75)، وابن ناصر الدين في &#8220;خاتمة توضيح المشتبه&#8221; (9/282).</p>
<p>Hadits di atas sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Nasai dalam Sunan Kubro 9/123/1006, Thabrani dalam ad Du-a no 1912, Sam’ani dalam Adab al Imla’ wa al Istimla’ hal 75 dan Ibnu Nashiruddin dalam Khatimah Taudhih al Musytabih 9/282.</p>
<p>وقال الحافظ ابن حجر في &#8220;النكت&#8221; (2/733): [إسناده صحيح]، وقال الشيخ الألباني في &#8220;الصحيحة&#8221; (7/495): [هذا إسنادٌ صحيحٌ أيضاً على شرط مسلم]، وقال الشيخ مُقْبِل الوادعي في &#8220;الجامع الصحيح مما ليس في الصحيحين&#8221; (2/12: [هذا حديثٌ صحيحٌ</p>
<p>Al Hafizh Ibnu Hajar dalam an Nukat 2/733 mengatakan, “Sanadnya shahih”. Syaikh al Albani dalam Shahihah 7/495 mengatakan, “Sanad ini adalah sanad yang juga shahih menurut kriteria Muslim”. Syaikh Muqbil al Wadi’I dalam al Jami’ al Shahih mimma laisa fi al Shahihain 2/12 mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang shahih”.</p>
<p>وقد بَوَّبَ الإمام النسائي على هذا الحديث بقوله: [ما تُختم به تلاوة القرآن].</p>
<p>Hadits ini diberi judul bab oleh Nasai dengan judul “<strong>Bacaan penutup setelah membaca al Qur’an</strong>”.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=18477">http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=18477</a></p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Realita menunjukkan bahwa ketika banyak orang meninggalkan amalan yang sesuai dengan sunah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>maka muncullah<strong> amalan yang mengada-ada</strong>.<br />
Banyak orang mengganti bacaan yang sesuai sunah Nabi di atas dengan bacaan tashdiq yaitu ucapan<em> Shadaqallahul ‘azhim</em> yang tidak ada dalilnya.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1705&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah" title="Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?">Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/meletakkan-buku-di-atas-mushaf-al-quran" title="Meletakkan Buku di atas Mushaf Al Quran">Meletakkan Buku di atas Mushaf Al Quran</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bacaan-al-quran-untuk-ringtone-dan-nada-tunggu" title="Bacaan Al Qur&#8217;an untuk Ringtone dan Nada Tunggu">Bacaan Al Qur&#8217;an untuk Ringtone dan Nada Tunggu</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/status-riwayat-senandung-al-quran" title="Status Riwayat &#8220;Senandung Al Qur&#8217;an&#8221;">Status Riwayat &#8220;Senandung Al Qur&#8217;an&#8221;</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran" title="Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?">Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/yang-dilalaikan-oleh-wanita" title="Yang Dilalaikan oleh Wanita">Yang Dilalaikan oleh Wanita</a> (32)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sunnah-nabi-yang-ditinggalkan" title="Sunnah Nabi yang Ditinggalkan">Sunnah Nabi yang Ditinggalkan</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/dalil-pendukung-keadaan-hadats-tidak-boleh-menyentuh-mushaf-al-quran" title="Dalil Pendukung: Keadaan Hadats Tidak Boleh Menyentuh Mushaf al Qur&#8217;an">Dalil Pendukung: Keadaan Hadats Tidak Boleh Menyentuh Mushaf al Qur&#8217;an</a> (30)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/al-qur%e2%80%99an-dan-sunnah-adalah-segalanya" title="Al Qur’an dan Sunnah adalah Segalanya">Al Qur’an dan Sunnah adalah Segalanya</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sandal-salafi" title="Sandal Salafi">Sandal Salafi</a> (24)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Dilalaikan oleh Wanita</title>
		<link>http://ustadzaris.com/yang-dilalaikan-oleh-wanita</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/yang-dilalaikan-oleh-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 20:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah nabi]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=829</guid>
		<description><![CDATA[Sangat disayangkan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ini telah ditinggalkan berganti dengan mewarnai kuku yang panjang dengan kuteks, mirip sudah dengan perempuan-perempuan kafir.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fyang-dilalaikan-oleh-wanita&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><strong>Pertama: Mewarnai kuku dengan pacar</strong></p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ &#8211; رضى الله عنها &#8211; قَالَتْ أَوْمَتِ امْرَأَةٌ مِنْ وَرَاءِ سِتْرٍ بِيَدِهَا كِتَابٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَبَضَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَدَهُ فَقَالَ « مَا أَدْرِى أَيَدُ رَجُلٍ أَمْ يَدُ امْرَأَةٍ ». قَالَتْ بَلِ امْرَأَةٌ. قَالَ « لَوْ كُنْتِ امْرَأَةً لَغَيَّرْتِ أَظْفَارَكِ ». يَعْنِى بِالْحِنَّاءِ.</p>
<p>Dari Aisyah, “Ada seorang perempuan menyodorkan sebuah surat kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dari balik tirai. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menarik tangan beliau sambil berkata, ‘Aku tidak tahu apakah ini tangan laki-laki ataukah tangan perempuan’. Perempuan tersebut menjawab, ‘Bahkan tangan perempuan’. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau memang perempuan tentu engkau akan mewarnai kukumu” yaitu <strong>dengan pacar</strong> (HR Abu Daud no 4166, dinilai hasan oleh al Albani).</p>
<p>Sangat disayangkan sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ini telah ditinggalkan berganti dengan mewarnai kuku yang panjang dengan <em>kuteks</em>, mirip sudah dengan perempuan-perempuan kafir.</p>
<p><strong>Kedua: Memanjangkan ujung kain bagi perempuan</strong></p>
<p>عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ أَبِى عُبَيْدٍ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حِينَ ذَكَرَ الإِزَارَ فَالْمَرْأَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « تُرْخِى شِبْرًا ». قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ إِذًا يَنْكَشِفُ عَنْهَا. قَالَ « فَذِرَاعًا لاَ تَزِيدُ عَلَيْهِ ».</p>
<p>Dari Shafiyah binti Abu Ubaid, beliau bercerita bahwa Ummi Salamah, istri Nabi berkata kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika beliau membicarakan larangan isbal (celana di bawah mata kaki, ed) bagi laki-laki, “Bagaimana dengan perempuan, wahai Rasulullah?”. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “<strong>Hendaknya perempuan memanjangkan ujung kainnya sebanyak sejengkal (dari mata kaki)</strong>”. Ummu Salamah berkata, “Jika demikian, ada bagian tubuh perempuan yang masih mungkin untuk tersingkap”. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Jika demikian, ditambahkan satu hasta (dua jengkal)-dari mata kaki-tapi tidak boleh lebih dari itu” (HR Abu Daud no 4117, dinilai shahih oleh al Albani).</p>
<p>Ini adalah suatu sunnah Nabi yang telah ditinggalkan oleh banyak muslimah bahkan meski sudah bertahun-tahun komitmen dengan jilbab.</p>
<p><strong>Ketiga: Betah di rumah</strong></p>
<p>Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.</p>
<p>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى</p>
<p>Yang artinya, “<strong>Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian</strong> dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS al Ahzab:33).</p>
<p>Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan”.</p>
<p>وذكر أن سودة قيل لها: لم لا تحجين ولا تعتمرين كما يفعل أخواتك ؟ فقالت: قد حججت واعتمرت، وأمرني الله أن أقر في بيتي.<br />
قال الراوي:فوالله ما خرجت من باب حجرتها حتى أخرجت جنازتها.</p>
<p>Disebutkan bahwa ada orang yang bertanya kepada Saudah -istri Rasulullah-, “Mengapa engkau tidak berhaji dan berumrah sebagaimana yang dilakukan oleh saudari-saudarimu (yaitu para istri Nabi yang lain, pent)?” Jawaban beliau, “Aku sudah pernah berhaji dan berumrah, sedangkan Allah memerintahkan aku untuk tinggal di dalam rumah”. Perawi mengatakan, “Demi Allah, beliau tidak pernah keluar dari pintu rumahnya kecuali ketika jenazahnya dikeluarkan untuk dimakamkan”. Sungguh moga Allah ridha kepadanya. (Tafsir al Qurthubi ketika menjelaskan ayat di atas).</p>
<p>Ibnul ‘Arabi bercerita, “Aku sudah pernah memasuki lebih dari seribu perkampungan namun aku tidak menjumpai perempuan yang lebih terhormat dan terjaga melebihi perempuan di daerah Napolis, Palestina, tempat Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. Selama aku tinggal di sana aku tidak pernah melihat perempuan di jalan saat siang hari kecuali pada hari Jumat. Pada hari itu para perempuan pergi ke masjid untuk ikut shalat Jumat sampai masjid penuh dengan para perempuan. Begitu shalat Jumat berakhir mereka segera pulang ke rumah mereka masing-masing dan aku tidak melihat satupun perempuan hingga hari Jumat berikutnya” (Tafsir al Qurthubi ketika menjelaskan al Ahzab:33).</p>
<p>عن عبد الله : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : إن الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ و أقرب ما تكون من وجه ربها و هي في قعر بيتها<br />
Dari Abdullah, dari Nabi beliau bersabda, “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya” (HR Ibnu Khuzaimah no 1685, sanadnya dinilai shahih oleh al Albani).</p>
<p><strong>Keempat: Perempuan ketika keluar rumah tidak mengenakan minyak wangi</strong><br />
عَنْ أَبِى مُوسَى عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِىَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِى زَانِيَةً ».<br />
Dari Abu Musa, dari Nabi, “Semua mata yang melihat hal yang terlarang itu telah berzina. Perempuan yang memakai wewangian lalu melalui sekelompok laki-laki yang sedang duduk-duduk maka perempuan tersebut adalah demikian dan demikian yaitu pelacur” (HR Tirmidzi no 2786, dinilai hasan oleh al Albani).<br />
عَنِ الأَشْعَرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ ».<br />
Dari al Asy’ari, Rasulullah bersabda, “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur” (HR Nasai no 5126, dinilai hasan oleh al Albani).<br />
عن يحيى بن جعدة أن عمر بن الخطاب خرجت امرأة على عهده متطيبة فوجد ريحها فعلاها بالدرة ثم قال تخرجن متطيبات فيجد الرجال ريحكن وإنما قلوب الرجال عند أنوفهم اخرجن تفلات<br />
Dari Yahya bin Ja’dah, “Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata, “Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?!! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian” (HR Abdurrazaq dalam al Mushannaf no 8107).<br />
عن بن جريج عن عطاء قال كان ينهى أن تطيب المرأة وتزين ثم تخرج<br />
Dari Juraij, Atha, seorang tabiin, melarang perempuan yang hendak keluar rumah untuk memakai wewangian dan berdandan (Riwayat Abdur Razaq no 8108).<br />
عن إبراهيم قال طاف عمر بن الخطاب في صفوف النساء فوجد ريحا طيبة من رأس امرأة فقال لو أعلم أيتكن هي لفعلت ولفعلت لتطيب إحداكن لزوجها فإذا خرجت لبست أطمار وليدتها قال فبلغني أن المرأة التي كانت تطيبت بالت في ثيابها من الفرق<br />
Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata, “Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuan”. Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)” (Riwayat Abdur Razaq no 8118).</p>
<p><em>Hanya Allah yang memberi taufik.</em>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fyang-dilalaikan-oleh-wanita&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/yang-dilalaikan-oleh-wanita"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=829&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-berbicara-dengan-wanita" title="Hukum Berbicara dengan Wanita">Hukum Berbicara dengan Wanita</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-pewangi-pakaian-bagi-wanita" title="Hukum Pewangi Pakaian bagi Wanita">Hukum Pewangi Pakaian bagi Wanita</a> (3)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-wanita-membuka-aurat-selain-di-rumah-suaminya" title="Bolehkah Wanita Membuka Aurat Selain di Rumah Suaminya?">Bolehkah Wanita Membuka Aurat Selain di Rumah Suaminya?</a> (3)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sunnah-nabi-yang-ditinggalkan" title="Sunnah Nabi yang Ditinggalkan">Sunnah Nabi yang Ditinggalkan</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jilbab-wanita-muslimah-bag-2ah" title="Audio &#8211; Jilbab Wanita Muslimah (Bag. 2)">Audio &#8211; Jilbab Wanita Muslimah (Bag. 2)</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/poligami-haram" title="Bisa Jadi Ada Hukum Haram Bagi Poligami">Bisa Jadi Ada Hukum Haram Bagi Poligami</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/celana-panjang-bagi-muslimah-di-rumah" title="Celana Panjang Bagi Muslimah di Rumah">Celana Panjang Bagi Muslimah di Rumah</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-kuliah-di-fakultas-kedokeran-bagi-muslimah" title="Hukum Kuliah di Fakultas Kedokeran Bagi Muslimah">Hukum Kuliah di Fakultas Kedokeran Bagi Muslimah</a> (8)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah" title="Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?">Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/wanita-haram-berpendidikan-tinggi" title="Wanita Haram Berpendidikan Tinggi?">Wanita Haram Berpendidikan Tinggi?</a> (3)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/yang-dilalaikan-oleh-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sunnah Nabi yang Ditinggalkan</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sunnah-nabi-yang-ditinggalkan</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/sunnah-nabi-yang-ditinggalkan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 20:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Ibnu Baz]]></category>
		<category><![CDATA[syeikh ibnu baz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=812</guid>
		<description><![CDATA[“Barang siapa yang merintis kebiasaan yang baik dalam Islam maka untuknya pahalanya dan pahala orang yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR Muslim no 2398 dari Jarir bin Abdillah).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsunnah-nabi-yang-ditinggalkan&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Sunnah (baca:hadits) itu termasuk wahyu. Allah berfirman,</p>
<p>وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)</p>
<p>Yang artinya, <em>“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”</em> (QS An-Najm:3-4).<span id="more-812"></span></p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">أَلاَ إِنِّى أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ</p>
<p>“Ingatlah bahwa aku itu diberi al Qur’an dan yang semisalnya (baca:hadits) bersamanya” (HR Ahmad no 17213 dari al Miqdam bin Ma’di Yakriba, Syeikh Syuaib al Arnauth mengatakan, “Sanadnya shahih”).</p>
<p>Hasan bin ‘Athiyyah, seorang tabiin mengatakan, “Jibril itu turun untuk menemui Nabi dengan membawa sunnah sebagaimana dia turun dengan membawa al Qur’an”.</p>
<p>Allah juga menjamin untuk menjaga sunnah sebagaimana menjaga al Qur’an. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan adz dzikr dan kamilah yang menjaganya” (QS al Hijr:9). Yang dimaksud dengan adz dzikr dalam ayat ini mencakup al Qur’an dan sunnah.</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ</p>
<p>“Barang siapa yang merintis kebiasaan yang baik dalam Islam maka untuknya pahalanya dan pahala orang yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR Muslim no 2398 dari Jarir bin Abdillah).</p>
<p>Hadits ini berkenaan dengan menghidupkan sunnah dan mendorong manusia untuk melakukannya. Ini semua mengharuskan kita untuk berusaha sungguh-sungguh untuk turut melestarikan sunnah dan membersihkannya dari noda bid’ah.</p>
<p>Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah tiba suatu tahun melainkan banyak orang yang mengada-ada suatu bid’ah dan mematikan suatu sunnah sehingga bid’ah hidup sedangkan sunnah mati”.</p>
<p>Berikut ini adalah beberapa sunnah/ajaran Nabi yang sudah banyak dilupakan.</p>
<p><strong>1.	Bersiwak (gosok gigi) sebelum berwudhu</strong></p>
<p>Seorang muslim dianjurkan untuk bersiwak sebelum berwudhu. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ</p>
<p>“Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya kuwajibkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak berwudhu” (HR Ahmad no9930, menurut Syeikh Su’aib al Arnauth sanadnya shahih menurut kriteria Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>2. Selalu dalam kondisi berwudhu dan shalat sunah dua rakaat setelah berwudhu</strong></p>
<p style="text-align: center;">عن عبد الله بن بريدة : عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم سمع خشخشة أمامه فقال : ( من هذا ) ؟ قالوا : بلال فأخبره وقال : ( بما سبقتني الى الجنة ) ؟ فقال : يارسول الله ما أحدثت إلا توضأت ولا توضأت إلا رأيت أن لله علي ركعتين أصليهما قال صلى الله عليه و سلم : ( بها )</p>
<p>Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mendengar suara di depannya (di dalam surga, pent), lalu bertanya, ‘Siapa ini?’. Para malaikat mengatakan, ‘Bilal’. Hal ini lantas diceritakan oleh Nabi kepada Bilal seraya bertanya, “Dengan sebab apa engkau bisa mendahuluiku ke surga?”. Bilal berkata, “Wahai rasulullah, tidaklah aku berhadats melainkan aku berwudhu dan tidaklah aku berwudhu melainkan aku shalat sebanyak dua rakaat. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Memang karena itu” (HR Ibnu Hibban no 7087, Syeikh Syu’aib al Arnauth mengatakan, ‘Sanadnya shahih sesuai dengan kriteria Muslim’).</p>
<p><strong>3. Menjilati ujung jari setelah selesai makan</strong></p>
<p><strong>4. Makan dengan menggunakan tiga jari</strong></p>
<p><strong>5. Memakan makanan yang jatuh setelah kotoran yang melekat dibuang</strong></p>
<p>Dalam Shahih Muslim terdapat bab yang berjudul, “Anjuran menjilati jari dan piring (setelah selesai makan, pent) serta memakan suapan yang jatuh setelah kotoran yang melekat dibersihkan dan dimakruhkan membersihkan tangan sebelum dijilati”.</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِلَعْقِ الأَصَابِعِ وَالصَّحْفَةِ وَقَالَ « إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ فِى أَيِّهِ الْبَرَكَةُ ».</p>
<p>Dari Jabir, sesungguhnya Nabi memerintahkan untuk menjilati jari jemari dan piring makan. Nabi bersabda, “Kalian tidak mengetahui di bagian makanan yang mengandung barokah” (HR Muslim no 5420).</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فِى أَىِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ ».</p>
<p>Dari Jabir, Rasulullah bersabda, “Jika ada suapan makanan yang jatuh maka hendaknya diambil, kotoran yang melekat dibuang lalu dimakan. Jangan biarkan suapan makanan tersebut untuk setan. Janganlah kalian bersihkan tangan kalian sesudah makan dengan sapu tangan hingga kalian jilati terlebih dahulu jari jemari kalian karena kalian tidak tahu secara pasti letak dari barokah makanan” (HR Muslim no 5421).</p>
<p>Berdasarkan dua hadits ini jelaslah bahwa menjilati jari atau piring bukan hanya perbuatan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahkan perintah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagaimana dalam dua hadits di atas.</p>
<p style="text-align: center;">عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْكُلُ بِثَلاَثِ أَصَابِعَ وَيَلْعَقُ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يَمْسَحَهَا.</p>
<p>Dari Ka’ab bin Malik, adalah menjadi kebiasaan rasulullah makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilati tangan sebelum diusap (dengan sapu tangan, pent) (HR Muslim no 5417).<br />
Anjuran untuk makan dengan tiga jari itu berlaku untuk makanan yang memungkinkan mennggunakan tiga jari semisal korma, roti dll. Adapun makanan yang tidak memungkinkan semisal bubur atau yang lainnya maka tidak berlaku anjuran untuk makan dengan tiga jari.</p>
<p><strong>6. Duduk di tempat shalat setelah shalat shubuh hingga matahari terbit</strong></p>
<p style="text-align: center;">عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا صَلَّى الْفَجْرَ جَلَسَ فِى مُصَلاَّهُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَسَنًا.</p>
<p>Dari Jabir bin Samurah, sesungguhnya di antara kebiasaan Nabi adalah duduk di tempat shalatnya setelah shalat shubuh sampai matahari agak meninggi (HR Muslim no 1558).</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ ».</p>
<p>Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, “Siapa yang shalat shubuh berjamaah kemudian dudukmengingat Allah hingga matahari terbit kemudian shalat sebanyak dua rakaat, maka untuknya pahala sebagaimana pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna dan sempurna” (HR Tirmidzi no 586, menurut al Albani, ‘sanadnya hasan’).</p>
<p>Syeikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Seorang perempuan yang shalat shubuh di rumah lalu duduk di tempat shalatnya untuk mengingat Allah atau membaca alQur’an sampai matahari meninggi kemudian shalat dua rakaat. Perempuan tadi akan mendapatkan pahala yang dijanjikan”.
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsunnah-nabi-yang-ditinggalkan&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/sunnah-nabi-yang-ditinggalkan"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=812&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/lihatlah-keteladanan-syaikh-ibnu-baz" title="Lihatlah Keteladanan Syaikh Ibnu Baz!">Lihatlah Keteladanan Syaikh Ibnu Baz!</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/yang-dilalaikan-oleh-wanita" title="Yang Dilalaikan oleh Wanita">Yang Dilalaikan oleh Wanita</a> (32)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/takut-poligami" title="&#8216;Tauhid&#8217; Para Penakut">&#8216;Tauhid&#8217; Para Penakut</a> (1)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah" title="Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?">Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran" title="Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an">Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an</a> (30)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/dosa-bidah-dibanding-maksiat" title="Dosa Bid&#8217;ah Dibanding Maksiat">Dosa Bid&#8217;ah Dibanding Maksiat</a> (29)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/katakan-saja-saya-tidak-tahu" title="Katakan Saja &#8220;Saya Tidak Tahu&#8221;">Katakan Saja &#8220;Saya Tidak Tahu&#8221;</a> (3)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sandal-salafi" title="Sandal Salafi">Sandal Salafi</a> (24)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2" title="Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)">Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/baiat-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah" title="Bai&#8217;at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (1)">Bai&#8217;at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (1)</a> (2)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/sunnah-nabi-yang-ditinggalkan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sandal Salafi</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sandal-salafi</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/sandal-salafi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 20:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[sandal salafi]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=486</guid>
		<description><![CDATA[Saya pernah mendengar ada seorang yang menamai sandal model atau jenis tertentu sebagai sandal salafi. Demikian pula ada orang yang beranggapan bahwa seorang muslim salafi itu memiliki model penutup kepala yang khas semisal sorban model Yaman atau memakai syamagh khas laki-laki Saudi. Untuk menilai fonemena di atas mari kita renungkan bersama penjelasan Syeikhul Islam Ibnu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsandal-salafi&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Saya pernah mendengar ada seorang yang menamai sandal model atau jenis tertentu sebagai sandal salafi. Demikian pula ada orang yang beranggapan bahwa seorang muslim salafi itu memiliki model penutup kepala yang khas semisal sorban model Yaman atau memakai <em>syamagh </em>khas laki-laki Saudi.</p>
<p><span id="more-486"></span></p>
<div id="attachment_495" class="wp-caption aligncenter" style="width: 239px"><a href="http://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2009/08/sandal.jpg"><img class="size-medium wp-image-495" title="sandal" src="http://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2009/08/sandal-229x300.jpg" alt="Ilustrasi" width="229" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi</p></div>
<p>Untuk menilai fonemena di atas mari kita renungkan bersama penjelasan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berikut ini. Perkataan beliau ini ada di kitab<em> al Furqon Baina Auliya ar Rohman wa Auliya asy Syaithon </em>hal 65-66 terbitan Maktabah ar Rusyd Riyadh, cetakan kedua tahun 1424 dengan tahqiq dari Salim al Hilali.</p>
<p><strong>وليس لأولياء الله شيء يتميزون به عن الناس في الظاهر من الأمور المباحات فلا يتميزون بلباس دون لباس إذا كان كلاهما مباحا ولا بحلق شعر أو تقصيره أو ظفره إذا كان مباحا</strong></p>
<p>Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah-rahimahullah-mengatakan,<br />
“Para kekasih Allah itu tidaklah memiliki ciri khas dalam penampilan lahiriah yang membedakan mereka kebanyakan anggota masyarakat selama hal tersebut masih dalam ruang lingkup hukum mubah. Mereka tidaklah memiliki ciri khas berupa model pakaian tertentu selama model pakaian tersebut hukumnya mubah dalam timbangan syariat. Mereka juga tidak memiliki ciri khas berupa berkepala gundul atau potongan rambut yang pendek ataupun kondisi kuku tertentu selama itu semua hukumnya mubah dalam timbangan syariat.</p>
<p><strong>كما قيل : كم من صديق في قباء وكم من زنديق في عباء بل يوجد في جميع أصناف أمة محمد صلى الله عليه و سلم إذا لم يكونوا من أهل البدع الظاهرة والفجور فيوجدون في أهل القرآن وأهل العلم ويوجد في أهل الجهاد والسيف ويوجدون في التجار والصناع والزراع</strong></p>
<p>Sebagaimana ungkapan sebagian orang yang mengatakan, “Betapa banyak shidiq (manusia bertakwa) yang berpakaian biasa dan berapa banyak zindiq (munafik durjana) yang berjubah”.<br />
Bahkan kekasih Allah itu berasal dari berbagai ragam umat Muhammad-Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- selama mereka bukan bagian dari ahli bid’ah yang sangat jelas kebid’ahannya dan bukan pula bagian dari para pendosa. Ada kekasih Allah yang berasal dari kalangan penghafal al Qur’an, ulama, mujahid, pedagang, pengrajin dan petani.</p>
<p><strong>وقد ذكر الله أصناف أمة محمد صلى الله عليه و سلم في قوله تعالى : { إن ربك يعلم أنك تقوم أدنى من ثلثي الليل ونصفه وثلثه وطائفة من الذين معك والله يقدر الليل والنهار علم أن لن تحصوه فتاب عليكم فاقرؤوا ما تيسر من القرآن علم أن سيكون منكم مرضى وآخرون يضربون في الأرض يبتغون من فضل الله وآخرون يقاتلون في سبيل الله فاقرؤوا ما تيسر منه }</strong></p>
<p>Allah telah menyebutkan berbagai jenis umat Muhammad-Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- dalam firman-Nya yang artinya, “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran” (QS al Muzzammil:20).</p>
<p><strong>وكان السلف يسمون أهل الدين والعلم : ( القراء ) فيدخل فيهم العلماء والنساك ثم حدث بعد ذلك اسم الصوفية و الفقراء واسم الصوفية : هو نسبة إلى لباس الصوف هذا هو الصحيح</strong></p>
<p>Dahulu di masa Salaf orang-orang yang taat beragama dan berilmu disebut dengan istilah qurra’. Sehingga tercakup dalam istilah qurra’ para ulama dan ahli ibadah. Baru setelah masa salaf muncul istilah shufi dan faqir (baca:shufi). Menurut pendapat yang benar istilah shufi itu diambil dari shuf yang berarti kain wol yang kasar”.</p>
<p>***<br />
Berdasarkan penjelasan di atas jelaslah bahwa seorang muslim salafi itu tidaklah memiliki ciri khas tertentu yang membedakan mereka dari masyarakat sekelilingnya dalam penampilan lahiriah selama penampilan lahiriah yang dimiliki oleh masyarakat sekelilingnya itu hukumnya mubah.<br />
Bukanlah syarat muslim salafi harus memakai peci putih, ghutroh kesukaan orang-orang Saudi, sorban ala Yaman, atau sandal karet model tertentu.<br />
Muslim salafi tidak memiliki ciri khas dengan model rumah tertentu, model kendaraan tertentu, model sepatu tertentu, buku tulis tertentu, model hp tertentu dan seterusnya. Tentu dengan catatan selama hal-hal tadi hukumnya mubah dalam timbangan syariat, tidak terlarang karena bendanya (misal sepatu dari kulit babi), karena menjadi ciri khas orang kafir, lawan jenis ataupun orang fasik dan seterusnya. Ingat, sekali lagi selama hal tersebut hukumnya mubah dalam timbangan syariat.<br />
Bahkan menjadikan model penampilan lahiriah tertentu sebagai tolak ukur orang shalih dan bertakwa adalah bid’ah yang dibuat oleh orang-orang shufi. Mereka disebut shufi disebabkan mereka menjadikan pakaian dari shuf atau wol kasar sebagai ciri khas mereka dengan keyakinan itulah ciri khas pakaian orang yang zuhud, shalih dan bertakwa.<br />
Maka sungguh aneh jika ada orang yang demikian anti dengan jalan shufi dalam beragama namun tertular penyakit dan penyimpangan shufi.<br />
Ini semua menunjukkan pentingnya ilmu sehingga kita bisa bersikap dan berpandangan yang tepat dan tidak kontradiktif.
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsandal-salafi&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/sandal-salafi"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=486&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah" title="Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?">Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-pewangi-pakaian-bagi-wanita" title="Hukum Pewangi Pakaian bagi Wanita">Hukum Pewangi Pakaian bagi Wanita</a> (3)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/partai-politik-menurut-salafi" title="Partai Politik Menurut Salafi">Partai Politik Menurut Salafi</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/beda-salafi-dengan-takfiri" title="Beda Salafi dengan Takfiri">Beda Salafi dengan Takfiri</a> (6)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/embel-embel-as-salafi-al-atsari" title="Embel-embel As Salafi Al Atsari">Embel-embel As Salafi Al Atsari</a> (3)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran" title="Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an">Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an</a> (30)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/haruskah-hitam-menyeramkan" title="Haruskah Muslimah Memakai Hitam-Hitam Menyeramkan?">Haruskah Muslimah Memakai Hitam-Hitam Menyeramkan?</a> (29)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pakaian-tenar-syuhroh-makruh-atau-haram" title="Pakaian Tenar (Syuhroh) Makruh atau Haram?">Pakaian Tenar (Syuhroh) Makruh atau Haram?</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/lihatlah-keteladanan-syaikh-ibnu-baz" title="Lihatlah Keteladanan Syaikh Ibnu Baz!">Lihatlah Keteladanan Syaikh Ibnu Baz!</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pilih-pilih-guru-ngaji" title="Pilih-pilih &#8220;Guru Ngaji&#8221;">Pilih-pilih &#8220;Guru Ngaji&#8221;</a> (15)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/sandal-salafi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 20:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[bai'at]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Dampak buruk yang keempat, bai'at semacam ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi timbulnya berbagai problem bahkan di antara sesama anggota dalam satu kelompok. Ada salah satu anggota yang memiliki suatu pemikiran (boleh jadi bersifat kritikan, pent) namun dia tidak menjumpai orang yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fbai%25e2%2580%2599at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%25e2%2580%2599ah-2&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p style="text-align: left;">Berikut adalah lanjutan dari bahasan mengenai &#8220;bai&#8217;at&#8221; &#8230;</p>
<p style="text-align: center;">
<span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;sans-serif&quot;;" lang="AR-SA">كذلك, هذه البيعة كان لها أثرها الكبير في الفتنة حتى بين أهل هذه البيعة الواحدة. فينشأ عند رجل فكرة فلا يجد من يشفي غليله فيها و يطالب بالسكوت و يقال له &#8220;من اعترض انطرد&#8221; ويهدد: أنت أفضل من فلان و أعلم و يفعل غير ذلك. فتبقي الفكرة تختمر في ذهنه و في قلبه و تطور يوما بعد يوم ولا يجد من ينفعه و يفيده. فإما أن يفجر مشكلة مع هؤلاء و إما يسحب بكلية و يترك هؤلاء و ؤلاء. أما هؤلاء لأنه عرف ما عندهم  و أما هؤلاء لإنه قد حذر منهم و اقتنع بأنهم لا يقترب منهم من قريب و لا من بعيد. الأمر الذي يؤدي في النهاية ربما إلى الانتكاسة</span></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dampak buruk yang keempat</strong></span>, bai&#8217;at semacam ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi timbulnya berbagai problem bahkan di antara sesama anggota dalam satu kelompok. Ada salah satu anggota yang memiliki suatu pemikiran (boleh jadi bersifat kritikan, pent) namun dia tidak menjumpai orang yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan dia diharuskan untuk diam dan mendapatkan ancaman, ‘<em>siapa yang ngeyel pasti akan didepak</em>’. Dia juga ditakut-takuti, ‘<em>apakah kamu ini lebih baik dan lebih pintar dari pada A</em>’ (pada kenyataannya si A tidak pernah mempermasalahkannya, pent). Dia juga mendapat perlakuan yang lain.<br />
Akhirnya pemikiran tersebut hanya tersimpan dalam benaknya dan terus berkembang seiring berjalannya waktu karena tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sehingga dia dihadapkan pada dua pilihan antara membuat masalah dengan kelompoknya sendiri atau menarik diri dari dunia dakwah secara total tidak lagi bersama kelompoknya namun juga tidak bersama yang lain.<br />
Tidak lagi bersama kelompoknya karena dia telah mengetahui borok kelompoknya. Tidak juga bersama yang lain karena dia telah diingatkan oleh kelompoknya tentang borok yang ada pada kelompok di luar kelompoknya yang dulu. Dia juga sudah yakin tentang tidak bolehnya mendekati kelompok-kelompok yang lain. Hal ini boleh jadi menyebabkan dirinya menjadi berbalik (menjadi orang awam lagi, pent).
</p>
<p style="text-align: center;">
<span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;sans-serif&quot;;" lang="AR-SA">هذه البيعة أصبحت حجرا أطرا و حائلا بين الناس و بين كثير من وجوه الخير. كيف يقال بعد هذا أنها كبيعة الرسول و الصحابة, كبيعة الرسول- لما قال &#8220;بايعوني على كذا و كذا&#8221;. فرق كبير ينبغي أن يوضع الاستدلال في موضعه</span></p>
<p>Nyata sudah, bahwa bai&#8217;at-bai&#8217;at semacam ini menjadi <strong>batu penghambat dan tirai yang menghalangi banyak orang untuk mendapatkan berbagai kebaikan</strong>. Setelah penjelasan di atas, bagaimana mungkin kita katakan bahwa baiat semacam ini semisal dengan bai&#8217;at Rasul dengan para shahabat, sebagaimana bai&#8217;at Rasul tatkala berkata kepada para shahabat, “<em>bai&#8217;atlah aku untuk demikian dan demikian</em>”. Terdapat perbedaan yang sangat di antara dua baiat ini. Sepatutnya kita letakkan dalil pada tempatnya yang tepat.
</p>
<p style="text-align: center;">
<span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;sans-serif&quot;;" lang="AR-SA">عندما يقال إن النبي-عليه الصلاة و السلام-قد شرع الإمارة في الاجتماع القليل الطارئ في السفر فمن باب الأولي أن يكون ذلك في الاجتماع العظيم المستقر نقول:نعم, لكن في موضعه و في بابه. في السفر نعم. أما إذا كنا مستقرين فلماذا؟ إذا كنا مستقرين فالناس يرجعون إلى والي أمرهم. هناك والي الأمر. الناس يسمعون و يطيعون. فإذا خرجنا في فلاة من الأرض فيكون لنا أمير يأمرنا و ينهانا فإذا استقررنا في مصر من الأمصار أصبحنا نتبع ما يقوله والي هذه البلدة. فقياسات في غير موضعها و نصوص توضع في غير موضعها</span></p>
<p>Jika ada yang beralasan bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mensyariatkan pengangkatan pemimpin dalam sebuah perkumpulan orang yang jumlahnya sedikit dan berkumpul karena sebuah keperluan yaitu bepergian jauh maka tentu lebih layak lagi adanya pemimpin dalam perkumpulan yang besar dan terus menerus.</p>
<p>Kami katakan, memang namun masalah ini harus kita letakkan pada posisi yang tepat. Mengangkat pemimpin untuk sebuah rombongan orang yang mengadakan perjalanan jauh memang benar. Namun jika sudah tidak lagi bepergian, mengapa masih ada pengangkatan pemimpin? Jika tidak dalam kondisi bepergian, <strong>maka yang dijadikan acuan adalah aturan penguasa yang ada</strong>. Dalam kondisi ini, ada penguasa. Masyarakat pun mendengar dan taat dengan aturan penguasa. Nah, ketika kita bepergian baru kita memiliki pmimpin sementara yang mengatur kita selama dalam perjalanan. Sedangkan ketika kita berdomisili di suatu tempat maka kita mengikuti peraturan penguasa di daerah itu. Dalil di atas adalah analog yang tidak tepat dan dalil yang dipahami secara tidak tepat.
</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;sans-serif&quot;;" lang="AR-SA">فأنتم طلبة العلم فقط تأخذون العلم, تستفيدون منه و تـنتفعون بالعلم. لا تشتغلون أنفسكم بالتكتلات. لا تشتغلون أنفسكم بتجمعات ضيقة. فلتكن آفاقكم واسعة. الخير من أي إنسان خذوه. والشر من أي إنسان دعوه. تربوا على علم نافع لتعرفوا على الحق. اعرف الحق تعرف رجاله. لا تعرف الحق بالرجال ولكن اعرف الحق تعرف رجاله. فإذا عرفتم الحق فخذوه من أي جماعات ومن أي طائفة و من أي عالم. و إذا عرفتم الباطل فاحذروا منه من أقرب الناس إليكم فضلا عن البعيد. و تعاونوا على البر و التقوى</span></p>
<p>Kalian adalah para penuntut ilmu. Kewajiban kalian hanyalah belajar dan mengamalkan ilmu yang telah didapat. Jangan sibukkan diri kalian dengan kelompok-kelompok yang sempit. Hendaklah kalian memiliki cakrawala yang luas.<br />
Ambillah kebaikan dari semua orang dan tinggalkan keburukan dari setiap orang. Didiklah diri kalian sendiri dengan ilmu yang manfaat sehingga kalian mengetahui kebenaran. Kenalilah kebenaran, tentu kalian akan bisa mengetahui para pembelanya.<strong> Jangan ukur kebenaran dengan person tertentu</strong>. Jika kalian benar-benar mengetahui adanya sebuah kebenaran maka ambillah dari kelompok manapun dan ulama manapun. Jika kalian mengetahui adanya sebuah kebatilan maka jauhilah meski itu dikatakan oleh orang yang kita cintai, terlebih lagi jika selainnya. Hendaknya kalian saling tolong menolong dalam melakukan kebaikan.</p>
<p style="text-align: center;">
<span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;sans-serif&quot;;" lang="AR-SA">في الحقيقة يحصل الإفراط و التفريط. إما البيعة تمسك الناس بهذا التى ذكرت قبل القليل. و إما الفوضى و الفلتة. كل يذهب حيث ولا وجهه. هذا غير صحيح, لا هذا ولا ذاك.<br />
أراد أصحاب البيعة أن يضبط العمل و أن يوجهه توجيحا صحيحا فسلكوا وسيلة خاطئة. و أراد أصحاب الفوضى و الفلتة أن ينكروا هذا التحزب و هذا التكتل فسلكوا وسيلة خاطئة. و هي الفوضى و التفلت. ليس هذا و لا ذاك. لا هذا الطريق صحيح ولا ذاك صحيح</span></p>
<p><span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;sans-serif&quot;;" lang="AR-SA"><br />
</span></p>
<p>Sebenarnya dalam realita, terdapat sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan. Ada fenomena bai&#8217;at untuk mengikat orang yang baru saja kita bahas. Ada juga kekacauan dan ketidakteraturan. Masing-masing orang berbuat sekehendaknya sendiri. Dua fenomena ini tidaklah benar baik yang pertama maupun yang kedua. Orang yang membuat-buat bai&#8217;at ingin meneraturkan kerja dakwah dan mengarahkannya dengan benar namun mereka menempuh jalan yang tidak benar. Sedangkan orang-orang yang memiliki fenomena ‘kekacauan’ sebenarnya ingin mengingkari fenomena kekelompokan  namun mereka menempuh jalan yang keliru itulah kekacauan dan ketidakteraturan. Keduanya bukanlah jalan yang benar.
</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;sans-serif&quot;;" lang="AR-SA">لا بد أن يكون أهل الحق متعاونين على البر و التقوي. لا بد أن يتناصروا. لا بد أن يعين بعضهم بعضا. وهذا لا بد فيه من الاجتماع ولكن يكون الاجتماع على وسيلة شرعية. و هذا هو السنة. ولذلك سموا أهل السنة و الجماعة. ما سموا باسم دون اسم, السنة و الجماعة. السنة في الاجتماع و الاجتماع في السنة. فعندما تتعاونون على البر و التقوي. تتعاونون على العلم و تتناصرون. يجتمع القادة في العمل و كبار الدعوة في المحافظة في المديرية, في الدولة, في العالم. و يتشاورون فيما بينهم, فيما يتعلق بالدعوة إلى غير ذلك. هذا الذي يرضي الله عز و جل</span></p>
<p>Pembela kebenaran haruslah tolong menolong dalam kebaikan, saling membela dan membantu. Untuk itu, harus ada perkumpulan namun perkumpulan dengan cara yang dibenarkan oleh syari&#8217;at. <strong>Inilah yang sesuai dengan sunnah</strong>. Oleh karena itu, para pembela kebenaran itu disebut <em>ahli sunnah wal jamaah</em>. <strong>Mereka tidak memiliki nama yang lain selain sunnah dan jamaah</strong>. Sunnah dalam berjamaah dan berjamaah (baca: bersatu) di atas sunnah. Saat kalian bekerja sama untuk melakukan kebaikan dan kalian saling tolong menolong dan saling membela dengan dasar ilmu,  para senior dalam dakwah dan perjuangan dalam satu propinsi atau kabupaten atau negara atau dunia bisa berkumpul dan bermusyawarah membicarakan problematika dakwah dan yang lainnya. Inilah amal yang diridhoi oleh Allah.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;sans-serif&quot;;" lang="AR-SA">وهنا السؤال؟ هل يمكن التعاون على البر و التقوي دون المبايعات هذه أو لا يمكن؟ هذا السؤال, يمكن أو لا يمكن؟ الجواب: يمكن. إذا ما نحتاج إليها. لو قيل: لا يمكن التعاون على البر و التقوي الا بها, قلنا: نعم. هي الوسيلة لا بد أن نعمل بها. لكن قد أثبت الواقع امكانية ذلك </span></p>
<p>Ada pertanyaan, <strong>“Apakah mungkin ada tolong menolong dalam kebaikan tanpa bai&#8217;at?” </strong>Jawabannya adalah <strong><em>mungkin</em></strong>. Jika demikian, kita tidak membutuhkan bai&#8217;at-bai&#8217;at semacam ini. Seandainya tidak mungkin tolong menolong dalam kebaikan kecuali dengan bai&#8217;at tentu akan kita katakan bahwa bai&#8217;at adalah sebuah sarana yang harus kita pakai. <strong>Akan tetapi realita membuktikan bahwa mungkin saja ada kerja sama dalam kebaikan tanpa baiat.</strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;sans-serif&quot;;" lang="AR-SA">الشيخ ابن باز عالم. علمه منتشر في المشارق و المغارب. الشيخ ابن عثيمن كذلك. الشيخ الألباني كذلك. العلماء كثيرون في المشارق و المغارب. انتشر علومهم و انتفع الناس بهم. و تعاونوا فيما بينهم. و تواصلوا فيما بينهم. وكل منهم يكمل الآخر دون بيعة تجمعهم و دون عهد يربطهم. ولكن كل منهم حمل هم الدعوة ثم أدرك أن أخاه في جانب أخر أو في ثغر أخر هو يقوم ببعض ما أوجب الله عليه فحث عليه و رغب الناس في الاستفادة منه. فحصل التعاون و حصل الخير</span></p>
<p>Syeikh Ibnu Baz adalah seorang ulama yang ilmunya tersebar di seluruh penjuru dunia. Demikian pula, Syeikh Ibnu Utsaimin dan Syeikh Al Albani. Terdapat banyak ulama di seluruh belahan dunia. Ilmu mereka tersebar dan banyak orang yang mendapatkan manfaat dengan keberadaan mereka. Para ulama saling bekerja sama dan saling berhubungan. Sebagian mereka melengkapi apa yang telah dilakukan oleh pihak lain tanpa ada bai&#8217;at yang menyatukan mereka dan tanpa ada perjanjian yang mengikat mereka. Masing-masing mereka memikirkan dakwah kemudian memahami bahwa saudaranya menekuni suatu bidang yang dengan itu maka dia telah melakukan sebagian kewajiban yang Allah bebankan kepadanya. Setelah itu, pihak yang lain memotivasi saudaranya tersebut untuk terus melakukan apa yang telah dia lakukan dan dia semangati umat untuk mengambil manfaat dari saudaranya. Dengan ini, ada kerja sama dan terwujudlah banyak kebaikan.</p>
<p style="text-align: center;">
<span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;sans-serif&quot;;" lang="AR-SA">ما يكون التعاون الا بالبيعة المبتدعة و لا يكون التعاون الا بالبيعة المحدثة, هذا غير صحيح. نحن لا نسلم بأنه لا يصح أو لا يمكن اتمام العمل الا بالبيعة. نحن لا نسلم بهذه المقدمة. لو سلمنا بهذه المقدمة لقلنا بوجوبها. نحن لا نسلم بهذه المقدمة و الواقع خير دليل علي ذلك</span></p>
<p>Tidaklah benar anggapan yang mengatakan bahwa kerja sama dalam kebaikan hanya bisa diwujudkan dengan adanya baiat yang bid’ah dan mengada-ada. Ini adalah anggapan yang tidak benar. Kami tidak menerima asumsi bahwa usaha memperjuangkan Islam hanya bisa terwujud dengan bai&#8217;at. Sekali lagi, asumsi ini tidak kami terima. Andai asumsi ini kami terima tentu kita katakan bahwa bai&#8217;at semacam ini hukumnya wajib. Asumsi ini kami tolak dan realita adalah bukti paling kuat yang menunjukkan tidak benarnya hal ini.
</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;sans-serif&quot;;" lang="AR-SA">ولكن صحيح هناك ما عكر و كدرهذا الواقع عندما وجد من بعض السلفيين المخاطر و تضييع للجهود أو بعض الجهود ولكن هذا لم يكن فقط بسبب أنهم ليسوا مبايعين, لم يكن بسبب أنهم تركوا البيعة ولكن هذا للنـزغ عندهم و الطيش. عندهم طيش لا يفقهون. حصل منهم هذا. ولو كانوا مبايعين و عندهم طيش لفعلوا هذا أيضا</span></p>
<p>Memang beralasan dengan realita ini memang kurang tepat ketika jumpai sejumlah salafi melakukan hal-hal yang bersifat gambling dan membuang-buang energi atau sedikit energi. Namun hal ini terjadi bukan hanya dikarenakan mereka tidak terikat dengan bai&#8217;at dan menolak bai&#8217;at-bai&#8217;at semacam ini. Yang tepat, faktor pokok terjadinya hal tersebut adalah godaan setan sehingga sembrono dalam bertindak. Orang-orang tersebut sembrono dan tidak memahami permasalahan dengan tepat. Inilah yang sebenarnya terjadi. Andai mereka terikat dengan baiat, namun sembrono tersebut masih ada pada diri mereka maka mereka tetap akan melakukan hal tersebut.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;sans-serif&quot;;" lang="AR-SA">لكن من فقه هذا الدين فقها صحيحا يتعاونون على البر و التقوي دون هذه البيعة التي في بلاد الإسلام و التي تفرقوا المسلمين و تشتت جهودهم و تغير صدور بعضهم على بعض. و الحمد لله الذي عافانا من هذا. و نسأل الله أن يتم مسيرتنا جميعا على خير</span></p>
<p>Siapa saja yang memahami agama ini dengan baik tentu akan bisa bekerja sama dalam kebaikan tanpa ada bai&#8217;at semacam ini. Bai&#8217;at yang ada di dalam negeri Islam semacam ini hanya memecah belah kaum muslimin dan mencerai beraikan hasil jerih payah mereka serta memancing emosi pihak-pihak tertentu. <em>Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kita dari hal ini. Kita memohon kepada Allah agar Allah menyempurnakan langkah-langkah kita dengan kebaikan.</em>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fbai%25e2%2580%2599at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%25e2%2580%2599ah-2&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=435&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/baiat-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah" title="Bai&#8217;at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (1)">Bai&#8217;at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (1)</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah" title="Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?">Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/biji-tasbih-tanda-orang-shalih" title="Biji Tasbih Tanda Orang Shalih?">Biji Tasbih Tanda Orang Shalih?</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/perayaan-21-april" title="Perayaan 21 April">Perayaan 21 April</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-mengisi-acara-maulid-nabi" title="Mengisi Pengajian Maulid Nabi">Mengisi Pengajian Maulid Nabi</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkan-mengisi-pengajian-di-masjid-ahli-bidah" title="Mengisi Pengajian di Masjid Ahli Bid&#8217;ah">Mengisi Pengajian di Masjid Ahli Bid&#8217;ah</a> (3)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/biji-tasbih-bukan-bidah-2" title="Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (2)">Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (2)</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pandangan-ibnu-taimiyah-mengenai-biji-tasbih" title="Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (1)">Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (1)</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sanggahan-untuk-amalan-dzikir-berjamaah" title="Sanggahan untuk Amalan Dzikir Berjama&#8217;ah">Sanggahan untuk Amalan Dzikir Berjama&#8217;ah</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran" title="Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an">Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an</a> (30)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bai&#8217;at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (1)</title>
		<link>http://ustadzaris.com/baiat-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/baiat-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 20:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[bai'at]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini transkrip bahasan Syeikh Abul Hasan al Ma’ribi tentang baiat. Masalah ini beliau bahas ketika beliau memberikan pelajaran Mukhtashor Shahih al Bukhari. Rekaman kajian ini ada pada kami tepatnya di rekaman nomor dua pada menit 20:34-36:21]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fbaiat-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%25e2%2580%2599ah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Berikut ini transkrip bahasan Syeikh Abul Hasan al Ma’ribi tentang baiat. Masalah ini beliau bahas ketika beliau memberikan pelajaran <em>Mukhtashor Shahih al Bukhari.</em> Rekaman kajian ini ada pada kami tepatnya di rekaman nomor dua pada menit 20:34-36:21<span id="more-433"></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>قال- رحمه الله- قوله &#8220;بايعوني&#8221; المبايعة عبارة عن المعاهدة سميت بذلك تشبيها بالمعاوضة  المالية-يعني سميت المعاهدة مبايعة تشبيها بالمعاوضة المالية كالبيع و الشراء-كما في قوله تعالى ( إن الله اشترى من المؤمنين أنفسهم وأموالهم بأن لهم الجنة ) .</strong></p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah </em>-dalam Fathul Bari- mengatakan bahwa yang dimaksud dengan <em>mubaya’ah</em> atau <em>bai&#8217;at </em>adalah saling mengikat janji. Saling mengikat janji disebut demikian dengan tujuan diserupakan dengan transaksi tukar menukar barang -seperti jual beli- sebagaimana firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, “<em>Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang yang beriman dan surga itu untuk mereka</em>”.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>هذه بيعة صحيحة. و أحب أن أنبه وإن كان خارج موضوع الدرس. أن البيعات التي تتخذها كثير من الجماعات الإسلامية علي المنتسبين إليها أو الموالين لها أنها بيعة غير شرعية. و أن استدلالهم بعموم الأدلة الواردة في أن النبي-عليه الصلاة و السلام- كان يبايع أصحابه و منها هذا الحديث و غيره استدلال في غير موضعه.</strong></p>
<p>Bai&#8217;at kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>adalah <strong>bai&#8217;at yang sah</strong>. Aku ingin mengingatkan satu hal meski hal tersebut di luar topik bahasan bahwa bai&#8217;at yang diadakan oleh berbagai kelompok terhadap orang-orang yang menisbatkan diri kepada kelompok tersebut dan orang-orang yang loyal dengannya adalah bai&#8217;at yang tidak dibenarkan oleh syariat. Dasar pijakan mereka adalah berdalil dengan dalil-dalil yang bersifat umum yang menunjukkan bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>itu membai&#8217;at para shahabatnya dan di antaranya adalah hadits yang kita kaji saat ini, namun ini adalah <strong>menggunakan dalil tidak pada tempatnya yang tepat</strong>.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>فبيعة الصحابة للنبي- عليه الصلاة و السلام -بيعة للنبي المرسل ولوالي الأمر الممكن و حتى بيعتهم له قبل أن يمكن فلأنهم في مجتمع كافر وهذه فئة مؤمنة التى قال عنها النبي- عليه الصلاة و السلام-يوم بدر &#8220;اللهم إن تهلك هذه العصابة فلن تعبد في الأرض بعد اليوم&#8221;. هذه فئة مؤمنة في مجتمع كافر بايعوا نبيا مرسلا فلا غبار في ذلك.</strong></p>
<p>Bai&#8217;at para shahabat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>adalah bai&#8217;at kepada seorang nabi yang sekaligus menjadi rasul di samping merupakan penguasa yang memiliki kedaulatan. Sedangkan bai&#8217;at para shahabat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>sebelum beliau menjadi penguasa adalah dikarenakan mereka tinggal di tengah-tengah masyarakat kafir. Sekelopok manusia beriman inilah yang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>doakan pada saat perang Badar, “<em>Ya Allah, jika kelompok ini kalah perang saat ini maka Engkau tidak akan pernah lagi disembah di muka bumi ini setelah hari ini</em>”. Sehingga yang terjadi adalah bai&#8217;at sekelompok orang yang beriman yang hidup di tengah-tengah masyarakat kafir dan membai&#8217;at seorang nabi sekaligus rasul. <strong>Tidaklah diragukan bahwa hal ini diperbolehkan</strong>.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وأما أن يقاس على ذلك رجل غايته أن يكون عالما أو داعية أو صالحا في نفسه ثم يبرز نفسه للناس و يطلب منهم أن يبايعوه في وسط مجتمعات مسلمة و فئة مؤمنة فيختص هو و هذه الجماعة أو هذه العصابة أو هذه الطائفة دون بقية الناس بأنواع من الولاء و أنواع من المحبة و أنواع من الوصل و العطاء إلي غير ذلك ثم يترتب علي ذلك أمور أخري سأذكرها أيضا-إن شاء الله-. القياس بعيد, قياس مع الفارق. وليس فيه اتباعا للنبي- عليه الصلاة و السلام-. هذا الأمر الأول.</strong></p>
<p>Sedangkan menyamakan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan seorang yang paling banter adalah seorang ulama, dai atau orang sholih yang menampilkan dirinya di hadapan banyak orang lalu meminta mereka agar membai&#8217;atnya di tengah-tengah masyarakat muslim dan mukmin. Setelah itu, dirinya dan anggota kelompoknya memiliki loyalitas, kecintaan, hubungan dan pemberian serta yang lainnya yang bersifat khusus dan tidak diberikan kepada orang di luar kelompoknya. Kemudian muncul dampak-dampak lain yang akan kami sebutkan. Analog dalam hal ini adalah analog yang tidak tepat karena menyamakan dua hal yang berbeda. Perbuatan ini tidaklah mengikuti Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. <strong><span style="color: #ff0000;">Ini alasan yang pertama.</span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>الأمر الثاني: لو سلمنا بأن البيعة في أصلها جائزة فما حصل مع هذه البيعة من منكرات و محظورات تجعلنا نقول أنها غير جائزة.فالبيعة التي تؤدي إلي تفريق المسلمين, لا يمكن أن تكون جائزة. فإن لك جماعة وأن لي جماعة ولك بيعة و لي بيعة. ما الذي يجعل بيعتك أولي من بيعتي؟ وإذا جازت لي جازت لك. و إذا جازت لي ولك جازت لغيرنا. وعلي هذا يحصل التصادم و التناثر و التبعثر بين المسلمين.</strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Alasan yang kedua,</strong></span> andai kita terima bahwa pada asalnya bai&#8217;at semacam itu diperbolehkan maka karena menimbang adanya berbagai kemungkaran dan hal-hal terlarang yang muncul dari bai&#8217;at tersebut maka kita katakan bahwa itu adalah <strong>bai&#8217;at yang tidak diperbolehkan</strong>. <strong>Bai&#8217;at yang menyebabkan perpecahan kaum muslimin tidak mungkin hukumnya diperbolehkan</strong>. Bai&#8217;at semacam ini menyebabkan saya memiliki kelompok yang berbeda dengan kelompok anda dan saya terikat dengan bai&#8217;at yang berbeda dengan bai&#8217;at yang mengikat anda. Atas dasar apa, kita katakan bahwa bai&#8217;at anda itu lebih layak untuk diikuti dari pada bai&#8217;at saya. Jika saya boleh terikat dengan suatu bai&#8217;at maka Anda pun boleh terikat dengan bai&#8217;at yang lain. Jika demikian itu boleh untuk kita, tentu juga boleh untuk selain kita. Dengan demikian maka akan terjadilah <strong>pertikaian, perpecahan dan permusuhan </strong>di antara kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>فإننا إذا أجزنا البيعة لأحد أجزناها لغيره, مثله أو دونه أو فوقه. ما الذي يمنع؟ ما الدليل الذي يحصر جوازها في شخص دون آخر؟ فعلي هذا نحن سنسعي إلي تفريق كلمة الأمة. لأن كل المجعوعة ستعصب لنفسها (و) ستحزب لنفسها و يحصل بينهم ولاءات معينة و علاقات معينة. هذه الولاءات لا تعطى لمجموعة آخري. يؤدي هذا إلي تفرق الكلمة و تعميق الجرح الذي ينـزف من دماء المسلمين ومن أخوتهم و من إيمانهم حتى وصلوا إلى ما وصلوا إليه. تفرقوا دولا. تفرقوا شعوبا. تفرقوا جماعات. تفرقوا طرائق و علماء. الأمر الذي وصل إلي مالا تحمد عقباه.</strong></p>
<p>Jika kita katakan boleh membaiat A tentu juga kita bolehkan membaiat B dan seterusnya baik B itu selevel, lebih rendah ataupun lebih tinggi dari pada A dalam masalah agama. Apa dalil yang melarang untuk membai&#8217;at B? Apa dalil yang membatasi bolehnya bai&#8217;at hanya pada individu tertentu? Dengan hal ini, maka berarti kita berupaya untuk merusak persatuan kaum muslimin. Masing-masing kelompok akan fanatik dengan kelompoknya masing-masing. Ada loyalitas dan hubungan tertentu yang terjadi pada orang-orang yang satu kelompok. Loyalitas semacam ini tidak akan diberikan kepada kelompok yang lain. Hal ini hanya akan menimbulkan perpecahan dan memperdalam luka yang telah mengoyak kaum muslimin sehingga menghabiskan darah kaum muslimin, persaudaraan dan keimanan mereka sehingga kaum muslimin mengalami apa yang saat ini mereka alami. Mereka terpecah belah karena faktor negara, bangsa, kelompok dakwah, tarekat sufi dan ulama (baca: <em>mazhab fiqh</em>). Dampak dari ini semua adalah suatu hal yang tentu tidak kita harapkan.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>حتى لو قلنا أن الأصل في ذلك الجواز فلا يمكن أن نجيز مع هذه الحالات. لا يمكن أن نجيز مع هذه الفرقة المفضية إلى ضعف الكلمة و وهن الصفوف و نزع الهيـبة. نسأل الله العفو و العافية.</strong></p>
<p>Jadi andai kita katakan bahwa pada asalnya bai&#8217;at semacam ini diperbolehkan maka menimbang adanya berbagai hal ini di antaranya adalah perpecahan maka tidak mungkin kita perbolehkan. Perpecahan hanya menyebabkan lemahnya persatuan, rapuhnya barisan dan hilangnya wibawa ummat. <em>Moga Allah menyelamatkan dan memaafkan kita.</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>أيضا رأينا من المحذورات التى تبعت هذه البيعة أنها وسيلة للضغط على الأتباع. فإذا أراد أحد أن يخرج بعد أن علم الحق و بان له أن هذا الطريق غير صحيح و أن الأولي أن يسلك طريقا آخر مع عالم آخر أو مع طائفة آخرى فإنه يهدد بالبيعة و يخاطب بها. و يؤتي له بالأحاديث الواردة في نقض العقود و نقض المواثيق و غير ذلك من المخاطر التابعة أو الناجمة عن نقض هذه البيعة. فعندما يسمع هذه النصوص يبقي فيما هو فيه و إن كان غير مقتنع بأنه حق.<br />
أصبحت هذه البيعة حائلا بين كثير من الناس و اتباع الحق. عمقت الفرقة. حالت بين كثير من الناس وبين اتباع الحق.</strong></p>
<p>Di samping perpecahan, di antara dampak buruk yang ditimbulkan oleh bai&#8217;at ini adalah bai&#8217;at itu dijadikan sebagai sarana untuk menekan para anggota kelompok. Jika ada anggota yang hendak meninggalkan suatu kelompok setelah dia mengetahui kebenaran dan setelah sadar bahwa jalan yang selama ini ditempuh itu bukanlah jalan yang benar sehingga yang lebih baik adalah meniti jalan lain bersama guru yang berbeda atau kelompok yang berbeda maka orang tersebut akan diancam dan ditakut-takuti dengan bai&#8217;at yang pernah dia berikan kepada kelompok tersebut. Berbagai hadits tentang dampak dari membatalkan bai&#8217;at akan disampaikan kepada orang tersebut, di samping berbagai resiko yang akan terjadi disebabkan membatalkan bai&#8217;at. Ketika orang tersebut mendengar dalil-dalil tersebut maka akhirnya dia akan memilih untuk tetap bertahan dalam kelompok tersebut meski dia sebenarnya tidak yakin kalau kelompoknya adalah kelompok yang benar. Jadilah bai&#8217;at ini penghalang banyak orang untuk mengikuti kebenaran. <strong>Dengan baiat-baiat ini perpecahan semakin parah dan banyak orang yang terhalangi untuk mengikuti kebenaran</strong>.
</p>
<p style="text-align: center;"><strong>أيضا هذه البيعة حرمت كثيرا من الناس أو من الأتباع من معرفة الخير الذي عند الآخرين. فأنت في جماعة تحصر علي منظريها و تحصر علي علمائها و دعاتها. تأخذ عنه. و الآخرون يشوهون أمامك. يطعن في أعراض الآخرين و يستجاز ذلك و يستباح بسبب مصلحة الدعوة- كما يزعمون-. فأنت عندما تعاب على أن الآخرين عملاء و منافقون و مداهنون و باعوا دينهم بيعا رخيصا. عندما تعاب على أن الآخرين هم أعين الكفار و هم أيديهم و هم أصواتهم التى يضربون بها المسلمين. عندما تعاب الآخر هذا الاقتراب منه اقتراب من حافة جهنم. فأنت-لا شك-أنك ستبتعد عن هذا العالم و ستبتعد عن هذه الطريقة. و لا تستيفيد من خير عندها. فتبقي في دائرة واحدة.</strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dampak buruk yang ketiga</strong></span> adalah bai&#8217;at-bai&#8217;at ini berhasil mencegah banyak orang atau banyak anggota suatu kelompok untuk mengetahui kebaikan yang ada pada kelompok yang lain. Anda berada dalam suatu kelompok sehingga anda dibatasi untuk terikat dengan para pembina kelompoknya, ulama dan para juru dakwah yang ada dalam kelompoknya saja. Anda hanya boleh belajar agama kepada mereka. Sedangkan kelompok yang lain dihabisi dan kehormatan mereka dinodai. Ini semua diperbolehkan demi kepentingan dakwah. Demikian anggapan mereka.<br />
Disampaikan kepada Anda bahwa orang-orang yang ada dalam kelompok lain adalah para antek penguasa, munafik, basa-basi dalam masalah agama dan menjual agama dengan harga yang sangat murah. Disampaikan kepada Anda bahwa orang-orang di luar kelompoknya itu mata-mata orang kafir, alat dan corong orang kafir untuk menggilas kaum muslimin. Jika demikian yang anda dapatkan tentu Anda akan menjauhi ulama dan metode lain dalam beragama yang dimaksudkan. Anda tidak akan bisa mengambil kebaikan yang ada pada kelompok lain. Jadinya anda terkurung dalam satu wadah saja.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وقد كان السلف يذهبون إلى مشايخ في المشارق و المغارب و يسمعون من جميع العلماء. هذا يأخذون منه الفقه و هذا الحديث و هذا يأخذون منه القرآن. وذاك اللغة و ذاك التاريخ. وذاك كذا و ذاك كذا.</strong></p>
<p>Dahulu salaf belajar kepada berbagai ulama yang ada di berbagai belahan dunia. Mereka belajar dengan semua ulama yang ada. Dari ulama A belajar fiqih. Dengan ulama B belajar hadits. Dari ulama C belajar al Qur’an. Dari D belajar bahasa Arab. Dari E belajar sejarah dan seterusnya dan seterusnya.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وكل عالم يجلس عنده طالب يستفيد منه فوائد. هذا يستفيد في سعة العلم و هذا يستفيد في قوة الحجة و المناظرة. وذاك يستفيد في الصدع بالحق و الثبات عليه. وقد يستفيد في العبادة و الإخبات و الخشوع لله عز و جل. و ذاك يستفيد منه في الزهد و ذاك في الكرم و ذاك في كذا. </strong></p>
<p>Semua murid yang belajar pada seorang guru akan terkesan dalam hal yang berbeda-beda. Ada yang terkesan dengan keluasan ilmunya. Ada yang terkesan dengan kekuatan dalam berargumen ketika berdiskusi. Ada yang terkesan dengan sikap terus terang mengatakan kebenaran dan tegar membela kebenaran. Ada juga yang terkesan dengan ibadah dan kekhusyuan sang guru kepada Allah. Yang lain terkesan dengan zuhudnya. Ada yang terkesan dengan kedermawanan dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>فعندما يكون أبناء المسلمين يطوفون على مشايخ و على علماء تتزن شخصيته (و) تتزن عقليته (و) تتزن أفهامه. يأخذون من هذا كذا و من ذاك كذا ومن ذاك كذا من العلوم و من الأخلاق و من أشياء التى تقوي شخصيته. </strong></p>
<p>Saat generasi muda Islam belajar kepada berbagai ulama maka mereka memiliki kepribadian, daya intelektual dan pemahaman yang bagus. Dari guru yang pertama terkesan dengan ini dan itu yang ada pada guru tersebut. Sehingga seorang pelajar agama mendapatkan berbagai ilmu dan akhlak dan hal-hal lain yang mendukung pembentukan kepribadiannya.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>يحرم أتباع هذه الجماعات من هذا. أنه يقال لا تأخذ من فلان!! لا تأخذ من فلان!!خذ من فلان و فلان!!يبقي محصورا على ما عند فلان. فإن كان من حظه حسن أن الذي حصر عليه أهل خير استفاد منه. و إن كان من حظه سيء أنه ليس كذلك ما له إلا الذي عنده.<br />
إذا إن البيعة هذه نفرته عمن كان من الممكن أن يكون بابا إلى الجنة, بابا إلى مكارم, بابا إلى خير.</strong></p>
<p>Para anggota kelompok tersebut tidak bisa mendapatkan hal ini. Setiap anggota didoktrin agar tidak belajar agama A atau B dan hanya boleh belajar kepada C. Akhirnya orang ini hanya mendapatkan ilmu dari guru tertentu saja. Jika dia orang yang beruntung dia mendapatkan guru yang baik, dia bisa mendapatkan banyak manfaat. Jika dia bukan manusia yang beruntung maka nasibnya berbeda. Sehingga di antara bahaya bai&#8217;at semacam ini adalah menyebabkan seseorang itu menjauhi seorang yang akan menjadi pintu baginya menuju surga, pintu menuju hal-hal mulia dan pintu menuju kebaikan.</p>
<p><a>-bersambung insya Allah-</a></p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fbaiat-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%25e2%2580%2599ah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/baiat-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=433&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2" title="Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)">Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah" title="Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?">Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/biji-tasbih-tanda-orang-shalih" title="Biji Tasbih Tanda Orang Shalih?">Biji Tasbih Tanda Orang Shalih?</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/perayaan-21-april" title="Perayaan 21 April">Perayaan 21 April</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-mengisi-acara-maulid-nabi" title="Mengisi Pengajian Maulid Nabi">Mengisi Pengajian Maulid Nabi</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkan-mengisi-pengajian-di-masjid-ahli-bidah" title="Mengisi Pengajian di Masjid Ahli Bid&#8217;ah">Mengisi Pengajian di Masjid Ahli Bid&#8217;ah</a> (3)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/biji-tasbih-bukan-bidah-2" title="Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (2)">Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (2)</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pandangan-ibnu-taimiyah-mengenai-biji-tasbih" title="Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (1)">Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (1)</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sanggahan-untuk-amalan-dzikir-berjamaah" title="Sanggahan untuk Amalan Dzikir Berjama&#8217;ah">Sanggahan untuk Amalan Dzikir Berjama&#8217;ah</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran" title="Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an">Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an</a> (30)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/baiat-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.767 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-05 11:34:47 -->

