<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah &#187; shalat</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/tag/shalat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 00:00:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Tidak Memakai Peci Saat Shalat</title>
		<link>http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 00:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[kopiah]]></category>
		<category><![CDATA[peci]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=3020</guid>
		<description><![CDATA[“Wahai anak keturunan Adam kenakanlah pakaian perhiasan kalian setiap kali kalian mengerjakan shalat” [QS al A’raf:31].

Syaikh Abdurrahman as Sa’di menjelaskan ayat di atas dengan mengatakan, “Maknanya tutupilah aurat kalian ketika kalian mengerjakan shalat baik shalat yang wajib maupun shalat sunah karena tertutupnya aurat itu menyebabkan indahnya badan sebagaimana terbukanya aurat itu menyebabkan badan nampak jelek dan tidak sedap dipandang. Zinah [perhiasan] dalam ayat di atas bisa juga bermakna pakaian yang lebih dari sekedar menutup aurat itulah pakaian yang bersih dan rapi.
Jadi dalam ayat di atas terdapat perintah untuk menutupi aurat ketika ketika hendak mengerjakan shalat dan memakai pakaian yang menyebabkan orang yang memakainya nampak sedap dipandang mata serta memakai pakaian yang bersih dari kotoran dan najis” [Taisir Karim ar Rahman hal 311, terbitan Dar Ibnul Jauzi , cet kedua 1426 H].]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Ftidak-memakai-peci-saat-shalat&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Pertanyaan:<br />
Ustadz, apa hukum laki2 yg tdk memakai peci atau kopiah saat sholat..?</p>
<p>Jawaban:</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;"><strong>يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ</strong></p>
<p>Yang artinya, “Wahai anak keturunan Adam kenakanlah pakaian perhiasan kalian setiap kali kalian mengerjakan shalat” [QS al A’raf:31].</p>
<p>Syaikh Abdurrahman as Sa’di menjelaskan ayat di atas dengan mengatakan, “Maknanya tutupilah aurat kalian ketika kalian mengerjakan shalat baik shalat yang wajib maupun shalat sunah karena tertutupnya aurat itu menyebabkan indahnya badan sebagaimana terbukanya aurat itu menyebabkan badan nampak jelek dan tidak sedap dipandang.</p>
<p>Zinah [perhiasan] dalam ayat di atas bisa juga bermakna pakaian yang lebih dari sekedar menutup aurat itulah pakaian yang bersih dan rapi.<br />
Jadi dalam ayat di atas terdapat perintah untuk menutupi aurat ketika ketika hendak mengerjakan shalat dan memakai pakaian yang menyebabkan orang yang memakainya nampak sedap dipandang mata serta memakai pakaian yang bersih dari kotoran dan najis” [Taisir Karim ar Rahman hal 311, terbitan Dar Ibnul Jauzi , cet kedua 1426 H].</p>
<p>Berdasarkan makna yang kedua yang disampaikan oleh Ibnu Sa’di di atas maka ketika kita mengerjakan shalat kita dianjurkan untuk memakai pakaian perhiasan. Itulah pakaian yang menyebabkan kita sedap dipandang jika kita memakainya. Tolak ukur pakaian perhiasan adalah kebiasaan masyarakat sehingga berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah yang lain, satu zaman dengan zaman yang lain.</p>
<p>Sehingga jika di suatu daerah memakai peci adalah bagian dari berpakaian rapi dan menarik ketika shalat maka memakai peci adalah suatu hal yang dianjurkan sehingga tidak memakai peci dalam kondisi tersebut berarti melakukan hal yang kurang afdhol. Akan tetapi hukum memakai peci menjadi berbeda manakala kita<br />
berdomisili di suatu yang tidak menilai berpeci sebagai bagian dari kerapian berpakaian dalam shalat.</p>
<p>Artikel www.ustadzaris.com
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Ftidak-memakai-peci-saat-shalat&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=3020&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah" title="Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah">Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah" title="Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah">Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk" title="Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk">Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mushalla-kantor" title="Hukum Mushalla Kantor">Hukum Mushalla Kantor</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq" title="Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?">Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq" title="Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? ">Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? </a> (29)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-tangan-ketika-shalat" title="Posisi Tangan Ketika Shalat">Posisi Tangan Ketika Shalat</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memejamkan-mata-ketika-shalat" title="Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat">Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-badan-ketika-sujud-2" title="Posisi Badan Ketika Sujud ">Posisi Badan Ketika Sujud </a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bersedekap-dalam-shalat-yang-benar" title="Bersedekap dalam Shalat yang Benar">Bersedekap dalam Shalat yang Benar</a> (4)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 00:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=3013</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Mahir al Qahthani mengatakan, “Tidaklah berdosa shalat bermakmum dengan ahli bid’ah jika bid’ah yang dia miliki bukanlah bidah yang membatalkan iman sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ‘Tidak mau shalat bermakmum dengan ahli bid’ah itu termasuk bid’ah’.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fshalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;"><strong>ولا أثم على من صلى خلف مبتدع إذا لم تكن بدعته مكفر ة كما قال شيخ الاسلام ترك الصلاة خلف أهل البدع بدعة</strong></p>
<p>Syaikh Mahir al Qahthani mengatakan, “Tidaklah berdosa shalat bermakmum dengan ahli <em>bid’ah</em> jika <em>bid’ah</em> yang dia miliki bukanlah bidah yang membatalkan iman sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ‘<strong>Tidak mau shalat bermakmum dengan ahli <em>bid’ah</em> itu termasuk <em>bid’ah</em></strong>’.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">وأما البدع المكفرة فقد اختلف العلماء فمنهم من يمنع الصلاة خلفه ومنهم من يمنع لو أقيمت الحجة عليه والأحوط ترك الصلاة خلف مثل هذا لأنه يقول بوحدة الوجود وهي أن مافي الوجود هو عين الله عياذا بالله وأما إذا أقيمت عليه الحجة فلاتصح الصلاة خلفه قولا واحدا</p>
<p>Akan tetapi jika<em> bid’ah</em> yang ada pada dirinya adalah <em>bid’ah</em> yang membatalkan iman maka para ulama berselisih pendapat. Pendapat pertama, melarang shalat bermakmum dengannya. Pendapat kedua, melarang shalat bermakmum dengannya jika <em>hujjah</em> telah disampaikan kepadanya.</p>
<p>Sikap yang lebih hati-hati adalah tidak bermakmum kepada orang memiliki faham <em>wahdatul wujud</em>, semua yang ada di alam semesta ini adalah <em>dzat</em> Allah, meski <em>hujjah</em> belum disampaikan kepadanya.</p>
<p>Namun jika <em>hujjah</em> sudah disampaikan kepadanya maka shalat bermakmum kepadanya itu tidak sah dengan sepakat ulama.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;"><strong>وعلى كل حال صلاة الرجل في منزله آخر الليل للتراويح أفضل ان كان قاريئا ولو بحمل المصحف كما كان عمر يصلي في منزله لقول النبي صلى الله عليه وسلم لمن جاء يصلي خلفه التراويح ايها الناس ارجعوا فصلوا في بيوتكم فإن صلاة الرجل في بيته خير إلا المكتوبة</strong></p>
<p>Walhasil, shalat Tarawih yang dilakukan oleh seseorang di rumahnya pada akhir malam itulah yang lebih baik jika dia adalah seorang yang pandai membaca al Qur’an meski membacanya melalui mushaf sebagaimana Umar sendiri shalat Tarawih di rumahnya sendiri mengingat sabda Nabi kepada orang-orang yang hendak shalat Tarawih di belakang beliau, ‘Wahai sekalian manusia, pulanglah. Kerjakan shalat Tarawih di rumah kalian karena shalat seorang laki-laki di rumahnya sendiri itu yang lebih baik kecuali shalat wajib’.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;"><strong>وهو معارض بحديث من يقم مع الامام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة</strong></p>
<p>Penjelasan di atas nampaknya bertentangan dengan hadits ‘Siapa saja yang mengerjakan shalat Tarawih bersama imam sampai imam selesai maka tercatat untuknya pahala shalat malam sepanjang malam’.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;"><strong>وقد جمع بينهما البيهقي فقال من كان قاريئا فصلاته في منزله خير ومن كان دون ذلك فمع الجماعة خير</strong></p>
<p>Al Baihaqi mengkompromikan dua hal di atas yang nampak bertentangan dengan mengatakan bahwa siapa saja yang pandai membaca al Qur’an maka shalat tarawih di rumah baginya itu yang lebih baik. Akan tetapi jika kondisinya tidak demikian, shalat tarawih berjamaah di masjid itulah yang lebih baik baginya”.</p>
<p><strong>Sumber</strong>:<br />
<a href="http://http://www.al-sunan.org/vb/showthread.php?t=9571">http://www.al-sunan.org/vb/showthread.php?t=9571</a></p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fshalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=3013&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat" title="Tidak Memakai Peci Saat Shalat">Tidak Memakai Peci Saat Shalat</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah" title="Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah">Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk" title="Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk">Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mushalla-kantor" title="Hukum Mushalla Kantor">Hukum Mushalla Kantor</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat" title="Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?">Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?</a> (26)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq" title="Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?">Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq" title="Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? ">Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? </a> (29)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-tangan-ketika-shalat" title="Posisi Tangan Ketika Shalat">Posisi Tangan Ketika Shalat</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memejamkan-mata-ketika-shalat" title="Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat">Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-badan-ketika-sujud-2" title="Posisi Badan Ketika Sujud ">Posisi Badan Ketika Sujud </a> (11)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2010 00:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[qiyamul lail]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tahajud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=2244</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan, “Sejumlah anak muda telah terbiasa mengadakan shalat malam berjamaah di rumah salah satu dari mereka. Demikian itu dilakukan sekali dalam sebulan. Apakah hal ini dibolehkan?
Jawaban Syaikh Abu Said al Jazairi, “Tidaklah disyariatkan shalat sunah dengan berjamaah kecuali yang diizinkan oleh syariat semisal shalat Tarawih dan shalat Istisqa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>حكم قيام الليل جماعة</p>
<p><strong>Hukum Shalat Malam Berjamaah</strong></p>
<p>السؤال:<br />
مجموعة من الشباب تعودوا قيام الليل جماعة عند أحدهم مرة في الشهر فهل يجوز هذا</p>
<p><strong>Pertanyaan</strong>, “Sejumlah anak muda telah terbiasa mengadakan shalat malam berjamaah di rumah salah satu dari mereka. Demikian itu dilakukan sekali dalam sebulan. Apakah hal ini dibolehkan?</p>
<p>الجواب<br />
لا تشرع صلاة الجماعة في النافلة إلا ما أذن به الشرع الحنيف كصلاة التراويح ، وصلاة الاستسقاء ونحو ذلك</p>
<p>Jawaban Syaikh Abu Said al Jazairi, “Tidaklah disyariatkan shalat sunah dengan berjamaah kecuali yang diizinkan oleh syariat semisal shalat Tarawih dan shalat Istisqa.</p>
<p>ويجوز أحيانا أداء النافلة جماعة لكن بدون قصد لذلك ولا موعد ، وإنما جاء عرضا والدليل على هذا هو عمل الصحابة رضي الله عنهم وفهمهم الصحيح للدين</p>
<p>Dibolehkan namun <em>kadang-kadang</em> shalat sunah dengan berjamaah dengan syarat tanpa ada unsur kesengajaan dan tidak ada janjian terlebih dahulu. Jadi hal tersebut terjadi karena kebetulan. Dalil tentang hal ini adalah praktek para sahabat dan pemahaman para sahabat yang tentu saja merupakan pemahaman yang tepat terhadap ajaran agama.</p>
<p>Sumber:</p>
<p>http://www.abusaid.net/index.php/fatawi-sites/395-2010-02-25-13-32-13.html</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=2244&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat" title="Tidak Memakai Peci Saat Shalat">Tidak Memakai Peci Saat Shalat</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah" title="Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah">Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk" title="Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk">Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mushalla-kantor" title="Hukum Mushalla Kantor">Hukum Mushalla Kantor</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq" title="Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?">Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq" title="Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? ">Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? </a> (29)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-tangan-ketika-shalat" title="Posisi Tangan Ketika Shalat">Posisi Tangan Ketika Shalat</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memejamkan-mata-ketika-shalat" title="Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat">Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-badan-ketika-sujud-2" title="Posisi Badan Ketika Sujud ">Posisi Badan Ketika Sujud </a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bersedekap-dalam-shalat-yang-benar" title="Bersedekap dalam Shalat yang Benar">Bersedekap dalam Shalat yang Benar</a> (4)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk</title>
		<link>http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Oct 2010 17:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[makmum]]></category>
		<category><![CDATA[masbuk]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sutrah]]></category>
		<category><![CDATA[sutroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=2007</guid>
		<description><![CDATA[Sehingga yang tepat kita katakan kepada makmum masbuk bahwa kondisi sutrah imam adalah sutrah bagi makmum itu telah berakhir dengan salamnya imam. Andai saat ini tidak perlu mencari sutrah. Dengan alasan (baca:ketiga), tidak terdapat dalil dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk mencari sutrah di tengah-tengah shalat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fcari-sutrah-bagi-makmum-masbuk&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>سترة الإمام سترة للمأموم أثناء الصلاة:</p>
<p>Sutrah Imam adalah Sutrah bagi Makmum ketika Shalat</p>
<p>السؤال: نعلم بأن سترة الإمام سترة للمأموم، فإذا انتهى الإمام من صلاته وقام المأموم يقضي فهل تستمر سترة الإمام سترة للمأمومين، أو يكون الإمام سترة للمأموم بعد انفراده؟</p>
<p><strong>Pertanyaan</strong>, “Kita tahu bahwa sutrah imam adalah sutrah bagi makmum. Jika imam sudah menyelesaikan shalatnya dan makmum masbuk menyelesaikan kekurangan shalatnya maka apakah sutrah imam tetap menjadi sutrah bagi para makmum ataukah imam itu menjadi sutrah bagi makmum setelah dia berpisah dari imamnya?</p>
<p>الجواب: المأموم لما سلم الإمام صار منفرداً فلا تكون سترة الإمام سترة له حتى الإمام الآن ليس بإمام؛ لأنه انصرف وذهب عن مكانه،</p>
<p><strong>Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin</strong>, “Setelah imam mengucapkan salam, makmum masbuk berubah status menjadi orang yang shalat sendirian. Oleh karena itu, sutrah imam tidak lagi berfungsi sebagai sutrah baginya bahkan imam shalat saat ini tidak lagi berstatus sebagai imam karena dia mengucapkan salam dan meninggalkan tempatnya.</p>
<p>لكن هل يشرع للمأموم بعد ذلك إذا قام يقضي ما فاته أن يتخذ سترة؟</p>
<p>Akan tetapi, setelah imam mengucapkan salam  dan makmum masbuk berdiri untuk menyelesaikan sisa shalatnya apakah makmum dituntunkan untuk mencari sutrah?</p>
<p>الذي يظهر لي: أنه لا يشرع،</p>
<p>Menurut hemat saya, <em>hal itu tidak dituntunkan</em>.</p>
<p>وأن الصحابة رضي الله عنهم إذا فاتهم شيء قضوا بدون أن يتخذوا سترة،</p>
<p><em>Alasan pertama</em>, para sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika mereka masbuk dan hendak menyelesaikan sisa shalatnya mereka tidak mencari sutrah</p>
<p>ثم لو قلنا: بأنه يستحب أن يتخذ سترة، أو يجب على قول من يرى وجوب السترة، فإن الغالب أنه يحتاج إلى مشي وإلى حركة لا نستبيحها إلا بدليل بين،</p>
<p><em>Alasan kedua</em>, andai kita berpendapat bahwa memakai sutrah ketika shalat itu dianjurkan atau wajib menurut yang menilai hal tersebut sebagai kewajiban maka biasanya untuk mencari sutrah lagi makmum masbuk perlu berjalan atau melakukan gerakan yang kita tidak bisa mengatakan hal itu dibolehkan melainkan berdasarkan dalil yang jelas.</p>
<p>فالظاهر أن المأموم يقال له: سترة الإمام انتهت معك وأنت لا تتخذ سترة؛ لأنه لم يرد اتخاذ السترة في أثناء الصلاة، وإنما تتخذ السترة قبل البدء في الصلاة.</p>
<p>Sehingga yang tepat kita katakan kepada makmum masbuk bahwa kondisi sutrah imam adalah sutrah bagi makmum itu telah berakhir dengan salamnya imam. Andai saat ini tidak perlu mencari sutrah. Dengan alasan (baca:ketiga), tidak terdapat dalil dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk mencari sutrah di tengah-tengah shalat. Hadits-hadits yang ada hanya menunjukkan bahwa kita mencari sutrah sebelum mulai shalat”.</p>
<p>لقاءات الباب المفتوح &#8211; (155 / 16)</p>
<p>Sumber:<br />
Liqa’ al Bab al Maftuh-kaset no 155 pertanyaan no 16- Maktabah Syamilah</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fcari-sutrah-bagi-makmum-masbuk&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=2007&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq" title="Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?">Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq" title="Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? ">Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? </a> (29)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/duduk-makmum-masbuk" title="Makmum Masbuk, Iftirasy atau Tawaruk">Makmum Masbuk, Iftirasy atau Tawaruk</a> (14)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menjadikan-alfatihah-sebagai-wirid" title="Hukum Menjadikan al-Fatihah Sebagai Wirid">Hukum Menjadikan al-Fatihah Sebagai Wirid</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat" title="Tidak Memakai Peci Saat Shalat">Tidak Memakai Peci Saat Shalat</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah" title="Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah">Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah" title="Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah">Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehnya-cerita-fiksi" title="Bolehnya Cerita Fiksi">Bolehnya Cerita Fiksi</a> (28)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mushalla-kantor" title="Hukum Mushalla Kantor">Hukum Mushalla Kantor</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/apa-yang-dimaksud-istilah-jamaah" title="Apa yang Dimaksud Istilah Jama&#8217;ah?">Apa yang Dimaksud Istilah Jama&#8217;ah?</a> (5)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Mushalla Kantor</title>
		<link>http://ustadzaris.com/mushalla-kantor</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/mushalla-kantor#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 22:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[musholla]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1977</guid>
		<description><![CDATA[Sedangkan ketentuan yang berlaku untuk masjid semisal disyariatkannya shalat dua rakaat ketika memasukinya sebelum duduk, orang yang junub tidak boleh duduk di dalamnya kecuali setelah berwudhu terlebih dahulu, menjadi tempat i’tikaf dan ketentuan yang lain maka tidak bisa diberlakukan untuk musholla rumah dan musholla sekolah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmushalla-kantor&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>مكتبة الفتاوى : فتاوى نور على الدرب (نصية) : الصلاة<br />
السؤال: بارك الله فيكم نعود إلى رسالة المستمع م. أ. أ يقول فضيلة الشيخ مصلى المدرسة هل يأخذ أحكام المساجد</p>
<p>MC program acara <em>Nurun ‘ala al Darbi </em>yang disiarkan oleh radio al Qur’an al Karim KSA mengatakan, Kita kembali ke surat pertanyaan dari pendengar, “<em>Apakah ketentuan-ketentuan masjid itu berlaku untuk musholla sekolah?</em>”</p>
<p>الجواب<br />
الشيخ: مُصلى المدرسة أو المصلى في البيت الذي أعده الإنسان للصلاة فيه لا يأخذ حكم المساجد</p>
<p>Jawaban Ibnu Utsaimin, “Musholla sekolah, demikian pula musholla rumah yang memang dibuat untuk tempat mengerjakan shalat tidaklah berlaku padanya ketentuan yang berlaku untuk masjid.</p>
<p>وإنما هو مصلى يُحترم لكون الناس يصلون فيه</p>
<p>Tempat tersebut hanyalah tempat shalat yang kita hormati karena banyak orang yang mengerjakan shalat di tempat tersebut.</p>
<p>أما أن يُعطى حكم المسجد من كونه إذا دخل فيه لا يجلس حتى يصلى ركعتين وإذا كان جنبا لا يجلس فيه إلا بوضوء ويعتكف فيه وما أشبه ذلك من أحكام المساجد فلا</p>
<p>Sedangkan ketentuan yang berlaku untuk masjid semisal disyariatkannya shalat dua rakaat ketika memasukinya sebelum duduk, orang yang junub tidak boleh duduk di dalamnya kecuali setelah berwudhu terlebih dahulu, menjadi tempat i’tikaf dan ketentuan yang lain maka tidak bisa diberlakukan untuk musholla rumah dan musholla sekolah.</p>
<p>فالمصلى في مكان العمل والمصلى في البيت ليس بمسجد وليس له أحكام المسجد لكنه مكان اجتماعي يصلى الناس فيه.</p>
<p>Jadi musholla kantor dan musholla rumah itu bukan masjid sehingga tidak berlaku padanya ketentuan-ketentuan untuk masjid. Tempat tersebut sekedar tempat umum yang banyak orang mengerjakan shalat di dalamnya”.</p>
<p>Sumber: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_3386.shtml</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmushalla-kantor&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/mushalla-kantor"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1977&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat" title="Tidak Memakai Peci Saat Shalat">Tidak Memakai Peci Saat Shalat</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah" title="Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah">Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah" title="Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah">Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk" title="Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk">Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq" title="Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?">Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq" title="Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? ">Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? </a> (29)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-tangan-ketika-shalat" title="Posisi Tangan Ketika Shalat">Posisi Tangan Ketika Shalat</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memejamkan-mata-ketika-shalat" title="Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat">Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-badan-ketika-sujud-2" title="Posisi Badan Ketika Sujud ">Posisi Badan Ketika Sujud </a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bersedekap-dalam-shalat-yang-benar" title="Bersedekap dalam Shalat yang Benar">Bersedekap dalam Shalat yang Benar</a> (4)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/mushalla-kantor/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 17:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[imam]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[makmum]]></category>
		<category><![CDATA[masbuq]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1750</guid>
		<description><![CDATA[Penjelasan ulama mengenai &#8220;Masbuq Jadi Imam utk Masbuq&#8221;. وسئل بعضهم: عن مسبوق ائتم بمثله، هل ينويان حالة دخولهما مع الإمام أنه يأتم أحدهما لصاحبه بعد المفارقة؟ أو تكفي بعد السلام، لأنه وقت ائتمامه به؟ Salah seorang Aimah Dakwah an Najdiah (tokoh dakwah salafiyyah di Najd) mendapatkan pertanyaan tentang masbuq yang bermakmum kepada sesama masbuq. Apakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fbolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Penjelasan ulama mengenai &#8220;Masbuq Jadi Imam utk Masbuq&#8221;.</p>
<p>وسئل بعضهم: عن مسبوق ائتم بمثله، هل ينويان حالة دخولهما مع الإمام أنه يأتم أحدهما لصاحبه بعد المفارقة؟ أو تكفي بعد السلام، لأنه وقت ائتمامه به؟</p>
<p>Salah seorang Aimah Dakwah an Najdiah (tokoh dakwah salafiyyah di Najd) mendapatkan pertanyaan tentang masbuq yang bermakmum kepada sesama masbuq. Apakah kedua berniat pada saat bergabung dengan jamaah masjid ataukah yang satu bermakmum kepada yang lain setelah berniat <em>mufaraqah </em>(berpisah dengan imam) ataukah cukup dengan salam imam masjid karena setelah imam mengucapkan salam adalah waktu seorang masbuq bermakmum kepada sesama masbuq?</p>
<p>فأجاب: هذه المسألة فيها وجهان لأصحاب أحمد، وبعضهم حكى فيها روايتين؛ قال في الإنصاف: وإن سبق اثنان ببعض الصلاة، فأتم أحدهما بصاحبه في قضاء ما فاتهما، فعلى وجهين.<br />
<strong><br />
Jawaban beliau</strong>,<br />
“Dalam masalah ini para ulama Hanabilah memiliki dua pendapat. Sebagian ulama bermazhab Hanbali bahkan ada yang mengatakan bahwa dalam hal ini Imam Ahmad memiliki dua pendapat.<br />
Penulis kitab al Inshaf mengatakan, ‘Jika ada dua orang masbuq lalu yang satu bermakmum kepada yang lain untuk menggenapi kekurangan shalat mereka berdua maka dalam hal ini hanabilah memiliki dua pendapat’.</p>
<p> وحكى بعضهم الخلاف روايتين، منهم ابن تميم:</p>
<p>Sebagian ulama bermazhab Hanbali mengatakan bahwa Imam Ahmad memiliki dua pendapat dalam masalah ini. Di antara yang mengatakan demikian adalah Ibnu Tamim.</p>
<p>إحداهما: يجوز ذلك، وهو المذهب؛ قال المصنف، والشارح، وصاحب الفروع، وغيرهم &#8211; لما حكوا الخلاف -: هذا بناء على الاستخلاف، وتقدم جواز الاستخلاف على الصحيح من المذهب، وجزم بالجواز هنا في الوجيز، والإفادات، والمنور، وغيرهم، وصححه في التصحيح والنظم.</p>
<p>Pendapat pertama mengatakan bahwa demikian itu hukumnya adalah boleh. Penulis kitab al Inshaf, pen-syarah al Inshaf, penulis kitab al Furu’ dll ketika membahas adanya perbedaan pendapat di antara para ulama dalam masalah ini mengatakan, ‘Perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah derivat atau turunan dari perbedaan pendapat tentang hukum istikhlaf-imam yang meminta salah satu makmum untuk menjadi imam untuk melanjutkan shalat berjamaah menggantikan dirinya-. Pendapat yang benar dalam mazhab Hanbali mengatakan bolehnya istikhlaf. Penulis kitab al Wajiz, al Ibadat, al Munawwir dll secara tegas mengatakan bolehnya istikhlaf. Inilah pendapat yang dinilai benar dalam kitab al Tash-hih dan al Nazhm. </p>
<p>والوجه الثاني: لا يجوز، قال المجد في شرحه هذا منصوص أحمد، في رواية صالح. وعنه: لا يجوز هنا، وإن جوزنا الاستخلاف، اختاره المجد في شرحه، فرق بينها وبين مسألة الاستخلاف. </p>
<p>Pendapat kedua mengatakan bahwa hal ini tidak dibolehkan. Al Majd Ibnu Taimiyyah dalam syarahnya mengatakan bahwa pendapat inilah yang merupakan pendapat tegas Imam Ahmad sebagaimana penuturan Shalih. Imam Ahmad mengatakan bahwa hal ini tidak diperbolehkan meski kita membolehkan istikhlaf. Inilah pendapat yang dipilih oleh al Majd Ibnu Taimiyyah, pembedakan antara kasus ini dengan kasus istikhlaf.  </p>
<p>والذي يترجح عندنا هو الوجه الأول، سواء نويا ذلك في حال دخولهما مع الإمام، أو لا، والله أعلم.</p>
<p>Pendapat yang paling kuat menurut kami adalah pendapat yang pertama baik kedua masbuq tersebut berniat untuk berjamaah di antara sesama mereka pada saat bergabung dengan jamaah masjid atau pun niatnya setelah itu”.</p>
<p>Sumber: Al Durar al Saniyah fi al Ajwibah al Najdiah juz 4 halaman 277 cetakan kelima 1414 H.</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Demikian pendapat yang beliau pilih meski saya pribadi lebih cenderung kepada pendapat yang melarang kasus di atas mengingat pada dasarnya ibadah itu mengikuti dalil yang ada tentu dengan tetap menghormati orang-orang yang mengambil pendapat yang lain dalam masalah ini.</p>
<p>Keterangan di atas menunjukkan <strong>kurang tepatnya</strong> pendapat sebagian orang yang menilai bid’ah jika ada masbuq yang bermakmum kepada sesama masbuq. Tepatkah kita nilai hal ini sebagai bid’ah padahal tokoh dakwah salafiyah dari Najd yang berstatus sebagai murid dari Imam Muhammad bin Abdul Wahhab saja tidak menilainya sebagai bid’ah?</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a></p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fbolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1750&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk" title="Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk">Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq" title="Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? ">Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? </a> (29)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat" title="Tidak Memakai Peci Saat Shalat">Tidak Memakai Peci Saat Shalat</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah" title="Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah">Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah" title="Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah">Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mushalla-kantor" title="Hukum Mushalla Kantor">Hukum Mushalla Kantor</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/apa-yang-dimaksud-istilah-jamaah" title="Apa yang Dimaksud Istilah Jama&#8217;ah?">Apa yang Dimaksud Istilah Jama&#8217;ah?</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-tangan-ketika-shalat" title="Posisi Tangan Ketika Shalat">Posisi Tangan Ketika Shalat</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memejamkan-mata-ketika-shalat" title="Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat">Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-badan-ketika-sujud-2" title="Posisi Badan Ketika Sujud ">Posisi Badan Ketika Sujud </a> (11)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 17:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masbuq]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1731</guid>
		<description><![CDATA[Bolehkah bermakmum kepada masbuq? Silakan simak dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al &#8216;Ilmiyyah wal Ifta&#8217; beriktu ini. السؤال الثامن والتاسع من الفتوى رقم ( 820 ) Pertanyaan kedelapan untuk fatwa no 820 س8: إذا دخلت المسجد فوجدت الإمام قد صلى ما كتب له الله أن يصلي فدخلت معه، ثم بعد ما سلم [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fbolehkah-bermakmum-kepada-masbuq&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Bolehkah bermakmum kepada masbuq? Silakan simak dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al &#8216;Ilmiyyah wal Ifta&#8217; beriktu ini.</p>
<p>السؤال الثامن والتاسع من الفتوى رقم ( 820 )</p>
<p><strong>Pertanyaan kedelapan untuk fatwa no 820</strong></p>
<p>س8: إذا دخلت المسجد فوجدت الإمام قد صلى ما كتب له الله أن يصلي فدخلت معه، ثم بعد ما سلم قمت أتمم ما فاتني، ثم دخل رجل آخر واقتدى بي، فهل يصح لهذا الرجل الاقتداء بي أو لا؟</p>
<p><strong>Pertanyaan</strong>, “<em>Jika aku masuk ke dalam masjid dan menjumpai imam telah shalat sebanyak beberapa rakaat lalu aku pun shalat bersamanya. Setelah imam mengucapkan salam aku berdiri untuk melengkapi rakaat yang tertinggal. Kemudian ternyata ada orang yang masuk ke masjid dan bermakmum kepadaku. Bolehkan orang tersebut bermakmum kepadaku yang berstatus sebagai masbuq?</em>”</p>
<p>ج8: إذا كان المأموم قد أدرك بعض الركعات مع الإمام ثم قام بعد سلام إمامه ليتم ما بقي عليه من الصلاة فلمن يريد أن يصلي معه أن يقتدي به على الصحيح من أقوال الفقهاء، </p>
<p><strong>Jawaban al Lajnah ad Daimah</strong>, “Jika ada makmum masbuq yang mendapatkan beberapa rakaat bersama imam lalu si masbuq berdiri untuk melengkapi rakaat yang tertinggal maka boleh bagi siapa saja yang ingin shalat bersamanya untuk bermakmum dengannya menurut pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat pakar fikih dalam masalah ini. </p>
<p>وذهب بعضهم كالحنفية والمالكية إلى أنه لا يصح الاقتداء بمن قام يقضي ما بقي عليه بعد سلام إمامه، والمسألة اجتهادية، حيث لم يرد فيها نص صريح.</p>
<p>Meski sebagian ulama fikih semisal para ulama yang bermazhab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa tidak sah bermakmum kepada makmum masbuq yang sedang melengkapi kekurangan rakaatnya setelah imam mengucapkan salam.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa masalah ini adalah masalah khilafiyyah ijtihadiah dikarenakan tidak ada dalil tegas dalam masalah ini”.</p>
<p>س9: إذا دخلت المسجد فوجدت الإمام في التشهد الأخير فدخلت معه، ولما سلم قمت أصلي، فدخل رجل واقتدى بي، فهل أصلي بهذا أو أدفعه؟</p>
<p><strong>Pertanyaan kesembilan</strong>, “<em>Jika aku masuk ke dalam masjid dan kujumpai imam sudah dalam posisi tasyahud akhir lalu tetap bermakmum kepadanya. Setelah imam mengucapkan salam aku berdiri untuk menyelesaikan shalatku. Taklama setelah itu ada orang yang masuk masjid dan bermakmum kepadaku. Bolehkah aku shalat bersama orang tersebut ataukah aku tolak kehadirannya?</em>”</p>
<p>ج9: من أدرك التشهد الأخير مع الإمام فلغيره ممن يريد الصلاة معه أن يقتدي به، وهذه المسألة أولى بالجواز من المسألة التي قبلها، وعلى ذلك فليس لهذا الشخص أن يدفع من يريد الاقتداء به في الصلاة.</p>
<p><strong>Jawaban al Lajnah ad Daimah</strong>, “Siapa saja yang menjumpai tasyahud akhir bersama imam maka boleh bagi orang lain yang ingin shalat bersamanya untuk bermakmum dengan orang tersebut. Kasus ini lebih layak untuk kita katakan bahwa hukumnya boleh dibandingkan kasus sebelumnya. Berdasarkan penjelasan di atas maka si masbuq tidak boleh menolak orang yang ingin bermakmum kepadanya dalam shalat tersebut”.</p>
<p>وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.<br />
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء<br />
عضو &#8230; عضو &#8230; نائب الرئيس<br />
عبد الله بن منيع &#8230; عبد الله بن غديان &#8230; عبد الرزاق عفيفي</p>
<p>Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Abdurrazaq Afifi selaku wakil ketua Lajnah Daimah dan Abdullah bin Ghudayan serta Abdullah bin Mani’ selaku anggota.</p>
<p><strong>Sumber</strong>: Fatawa Lajnah Daimah jilid 7 hal 395-396 terbitan Dar Balansiah Riyadh, cetakan ketiga tahun 1421 H</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a></p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fbolehkah-bermakmum-kepada-masbuq&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1731&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq" title="Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?">Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk" title="Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk">Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat" title="Tidak Memakai Peci Saat Shalat">Tidak Memakai Peci Saat Shalat</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah" title="Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah">Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah" title="Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah">Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mushalla-kantor" title="Hukum Mushalla Kantor">Hukum Mushalla Kantor</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/apa-yang-dimaksud-istilah-jamaah" title="Apa yang Dimaksud Istilah Jama&#8217;ah?">Apa yang Dimaksud Istilah Jama&#8217;ah?</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-tangan-ketika-shalat" title="Posisi Tangan Ketika Shalat">Posisi Tangan Ketika Shalat</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memejamkan-mata-ketika-shalat" title="Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat">Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-badan-ketika-sujud-2" title="Posisi Badan Ketika Sujud ">Posisi Badan Ketika Sujud </a> (11)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Posisi Tangan Ketika Shalat</title>
		<link>http://ustadzaris.com/posisi-tangan-ketika-shalat</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/posisi-tangan-ketika-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 14:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1419</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana posisi tangan pada saat shalat? Di sebelah kiri, di atas pusar atau di mana yang benar? Jawaban: Pendapat yang terkenal dalam madzhab Imam Ahmad menyatakan bahwa saat sholat tangan diletakkan di bawah pusar. Hal ini berdasarkan perkataan Ali radhiyallahu &#8216;anhu “Termasuk sunnah Nabi adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fposisi-tangan-ketika-shalat&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><strong>Pertanyaan</strong>: <em>Bagaimana posisi tangan pada saat shalat? Di sebelah kiri, di atas pusar atau di mana yang benar?</em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Pendapat yang terkenal dalam madzhab Imam Ahmad menyatakan bahwa saat sholat tangan diletakkan <strong>di bawah pusar</strong>. Hal ini berdasarkan perkataan Ali radhiyallahu &#8216;anhu “<em>Termasuk sunnah Nabi adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah pusar</em>.” (HR Ahmad dalam tambahan musnad dalam Fathul Baari 2/262 al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan sanadnya <strong>dhaif</strong>)</p>
<p>Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa tangan saat sholat diletakkan di atas pusar dan inilah yang ditegaskan oleh Imam Ahmad. Beliau menegaskan bahwa tangan itu diletakkan di atas pusar di bawah dada. Pendapat yang ketiga menyatakan bahwa tangan diletakkan di atas dada dan pendapat ini merupakan pendapat yang <strong>paling mendekati kebenaran</strong>. Sebenarnya hadits-hadits yang mendukung pendapat ketiga ini mengandung pembicaraan. Akan tetapi hadits yang dibawakan oleh Sahal bin Sa’id di mana beliau mengatakan para shahabat diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan di atas hasta tangan kiri di dalam sholat. (HR Bukhari no 740), makna eksplisit dari hadits ini mendukung pendapat yang menyatakan bahwa tangan diletakkan di atas dada. Meskipun hadits-hadits berkenaan dengan hal ini mengandung pembicaraan namun hadits yang paling kuat dalam hal ini adalah hadits yang disampaikan oleh Wail bin Hujr sesungguhnya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam meletakkan tangannya di atas dada. (Lihat Ahkamul Janaiz Karya al-Albani hal 118) Inilah tempat meletakkan tangan yang terbaik</p>
<p>Akan tetapi kita lihat sebagian orang meletakkan tangan di atas lambung kiri dan jika kita tanya alasannya mereka mengatakan ini adalah letak hati. Namun alasan ini tidak bisa diterima disebabkan:<br />
<em>Pertama</em>, hal ini adalah alasan logika yang berseberangan dengan sunnah Nabi, sedangkan semua alasan logika yang berseberangan dengan sunnah Nabi harus ditolak karena sunnah Nabi-lah yang lebih berhak untuk diikuti.<br />
<em>Kedua</em>, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang shalat dalam posisi tangan diletakkan di pinggang sedangkan perbuatan di atas jika tidak sesuai dengan larangan dalam hal ini maka minimal mendekati larangan ini. Oleh karena itu jika kita melihat ada seorang yang melakukan demikian hendaklah mereka kita nasihati baik-baik.<br />
<em>Ketiga</em>, posisi seperti ini adalah posisi yang tidak seimbang karena dalam hal ini sisi kiri badan lebih diutamakan daripada sisi kanan. Dan kita katakan perkara yang terbaik adalah yang pertengahan. Sedangakan posisi pertengahan antara sisi kiri dan sisi kanan adalah dengan meletakkan tangan di atas dada. (Lihat Shifat as-Sholah karya Ibn Utsaimin hal 49-50 cetakan Darul Kutub al-Ilmiah)</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fposisi-tangan-ketika-shalat&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/posisi-tangan-ketika-shalat"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1419&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat" title="Tidak Memakai Peci Saat Shalat">Tidak Memakai Peci Saat Shalat</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah" title="Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah">Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah" title="Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah">Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk" title="Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk">Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mushalla-kantor" title="Hukum Mushalla Kantor">Hukum Mushalla Kantor</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq" title="Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?">Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq" title="Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? ">Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? </a> (29)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memejamkan-mata-ketika-shalat" title="Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat">Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-badan-ketika-sujud-2" title="Posisi Badan Ketika Sujud ">Posisi Badan Ketika Sujud </a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bersedekap-dalam-shalat-yang-benar" title="Bersedekap dalam Shalat yang Benar">Bersedekap dalam Shalat yang Benar</a> (4)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/posisi-tangan-ketika-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-memejamkan-mata-ketika-shalat</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-memejamkan-mata-ketika-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 11:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1407</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Berdoa atau berdzikir dengan keadaan mata terpejam memang terasa lebih khusyuk. Dan saya sering melakukannya. Namun akhir-akhir ini ada perasaan khawaatir, jangan-jangan hal itu tidak sesuai deengan ajaran Nabi. Mohon penjelasan. Jika ada orang yang bertanya, “Seandainya ada seorang yang memejamkan kedua matanya sehingga tidak memandang apa-apa, apakah hal ini diperbolehkan ataukah tidak, maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-memejamkan-mata-ketika-shalat&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Pertanyaan: <em>Berdoa atau berdzikir dengan keadaan mata terpejam memang terasa lebih khusyuk. Dan saya sering melakukannya. Namun akhir-akhir ini ada perasaan khawaatir, jangan-jangan hal itu tidak sesuai deengan ajaran Nabi. Mohon penjelasan.<br />
</em><br />
Jika ada orang yang bertanya, “Seandainya ada seorang yang memejamkan kedua matanya sehingga tidak memandang apa-apa, apakah hal ini diperbolehkan ataukah tidak, maka jawabannya pendapat yang benar, hal tersebut dimakruhkan karena tindakan tersebut menyerupai tindakan <strong>majusi </strong>pada saat memuja api. Di mana mereka pada saat itu memejamkan mata-mata mereka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa hal tersebut juga merupakan perbuatan orang-orang Yahudi sedangkan menyerupai orang-orang non Islam, minimal hukumnya adalah haram, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Jika demikian memejamkan mata pada saat sholat minimal hukumnya adalah makruh. Kecuali jika ada penyebab untuk melakukannya. Misalnya di sekeliling orang yang sholat tersebut, terdapat sesuatu yang mengganggu konsentrasinya seandainya dia membuka kedua matanya. Nah! Pada saat inilah hendaknya mata dipejamkan dalam rangka menghindari hal yang tidak diinginkan tersebut. Andai ada orang yang bertanya, ‘<em>Jika aku memejamkan mataku, maka aku merasa lebih khusyu’ daripada aku tidak memejamkan mataku</em>’ lalu apakah aku diperbolehkan memejamkan mata karena alasan demikian. Jawabannya adalah <strong>tetap tidak boleh</strong>. Karena kekhusyukan yang didapatkan melakukan perbuatan yang hukumnya makruh itu berasal dari syetan. Kekhusyukan seperti itu tak ubahnya sebagaimana kekhusyukan orang-orang sufi. Ketika melafadzkan dzikir-dzikir bid’ah, syetan terkadang menjauh dari hati kita sehingga tidak menimbulkan was-was ketika kita memejamkan mata dengan maksud untuk menjerumuskan kita dalam hal yang hukumnya makruh. Hendaknya mata tetap kita buka hendaknya kita berusaha untuk khusyuk ketika melaksanakan shalat. Sedangkan memejamkan mata tanpa sebab agar mendapatkan kekhusyukan sekali lagi ini berasal dari syetan. (Lihat <em>Shifat as-Sholah</em> karya Ibn Utsaimin hal 53 cetakan Darul Kutub al-Ilmiah) </p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a></p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-memejamkan-mata-ketika-shalat&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/hukum-memejamkan-mata-ketika-shalat"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1407&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat" title="Tidak Memakai Peci Saat Shalat">Tidak Memakai Peci Saat Shalat</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah" title="Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah">Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah" title="Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah">Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk" title="Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk">Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mushalla-kantor" title="Hukum Mushalla Kantor">Hukum Mushalla Kantor</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq" title="Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?">Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq" title="Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? ">Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? </a> (29)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-tangan-ketika-shalat" title="Posisi Tangan Ketika Shalat">Posisi Tangan Ketika Shalat</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-badan-ketika-sujud-2" title="Posisi Badan Ketika Sujud ">Posisi Badan Ketika Sujud </a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bersedekap-dalam-shalat-yang-benar" title="Bersedekap dalam Shalat yang Benar">Bersedekap dalam Shalat yang Benar</a> (4)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-memejamkan-mata-ketika-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Posisi Badan Ketika Sujud</title>
		<link>http://ustadzaris.com/posisi-badan-ketika-sujud-2</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/posisi-badan-ketika-sujud-2#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 13:40:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[posisi sujud]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1369</guid>
		<description><![CDATA[Yang benar memanjangkan sujud itu dilakukan pada saat ruku’. Sedangkan pada saat sujud cukuplah perut itu ditinggikan sehingga tidak menempel paha, namun punggung tidak perlu dipanjangkan.” (Lihat Shifat as-Sholah karya Ibn Utsaimin hal 114-115 cetakan Darul Kutub al-Ilmiah) ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fposisi-badan-ketika-sujud-2&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Pertanyaan: <em>Bagaimana posisi badan kita yang benar sesuai yang diajarkan Nabi ketika bersujud?</em></p>
<p>Ibnu Ustaimin mengatakan, “Seorang yang shalat hendaknya menjauhkan perutnya dari dua pahanya. Demikian juga meninggikan dua paha sehingga jauh dari betis. Lengkapnya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam sujud.<br />
1.	Merenggangkan lengan dari lambung<br />
2.	Menjauhkan perut dari paha<br />
3.	Menjauhkan paha dari dua betis<br />
Oleh karena itu, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Hendaklah kalian bersikap pertengahan ketika bersujud.</em>” (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik) artinya hendaknya posisi sujud itu pertengahan tidak terlalu pendek sehingga perut sampai bersentuhan dengan paha dan paha bisa bersentuhan dengan betis. Tidak pula terlalu panjang sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang. Kita temukan sebagian orang yang sujud dengan terlalu memanjang sampai-sampai seperti orang yang hampir telungkup. Tidak diragukan lagi bahwasanya hal ini termasuk bid’ah, karena hal tersebut bukanlah sunnah Nabi. Sepengetahuan kami, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para shahabat tidaklah melakukan demikian, yaitu memanjangkan punggung saat bersujud.</p>
<p>Yang benar memanjangkan sujud itu dilakukan pada saat ruku’. Sedangkan pada saat sujud cukuplah perut itu ditinggikan sehingga tidak menempel paha, namun punggung tidak perlu dipanjangkan.” (Lihat Shifat as-Sholah karya Ibn Utsaimin hal 114-115 cetakan Darul Kutub al-Ilmiah)</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fposisi-badan-ketika-sujud-2&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/posisi-badan-ketika-sujud-2"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1369&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/tidak-memakai-peci-saat-shalat" title="Tidak Memakai Peci Saat Shalat">Tidak Memakai Peci Saat Shalat</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah" title="Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah">Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah" title="Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah">Hukum Shalat Tahajud Secara Berjama&#8217;ah</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/cari-sutrah-bagi-makmum-masbuk" title="Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk">Cari Sutrah Bagi Makmum Masbuk</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mushalla-kantor" title="Hukum Mushalla Kantor">Hukum Mushalla Kantor</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq" title="Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?">Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-bermakmum-kepada-masbuq" title="Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? ">Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq? </a> (29)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/posisi-tangan-ketika-shalat" title="Posisi Tangan Ketika Shalat">Posisi Tangan Ketika Shalat</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memejamkan-mata-ketika-shalat" title="Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat">Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bersedekap-dalam-shalat-yang-benar" title="Bersedekap dalam Shalat yang Benar">Bersedekap dalam Shalat yang Benar</a> (4)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/posisi-badan-ketika-sujud-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.559 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-05-23 08:29:25 -->

