<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah &#187; riba</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/tag/riba/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Blog Ustadz Aris Munandar</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 17:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Adakah Utang Piutang Yang Boleh Menarik Untung?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/adakah-utang-piutang-yang-boleh-menarik-untung</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/adakah-utang-piutang-yang-boleh-menarik-untung#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 20:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[utang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1323</guid>
		<description><![CDATA[Hukum transasi semacam ini diperselisihan oleh para ulama. Mayoritas ulama membolehkannya. Meski ada juga yang mengharamannya dengan alasan di dalamnya terdapat manfaat tambahan disebabkan transaksi hutang piutang. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Suftajah </em>adalah kasus dengan gambaran sebagai berikut. A berhutang kepada B di suatu kota dengan perjanjian A melunasi hutangnya kepada B di kota yang lain. Misal A berhutang B dan B menyerahkan uang kepada A di kota Jogja dengan syarat pelunasan dilakukan di Jakarta.<span id="more-1323"></span></p>
<p>Hukum transasi semacam ini diperselisihan oleh para ulama. Mayoritas ulama membolehkannya. Meski ada juga yang mengharamannya dengan alasan di dalamnya terdapat manfaat tambahan disebabkan transaksi hutang piutang. Sedangkan kaedah mengatakan bahwa semuan transaksi hutang piutang yang menyebabkan adanya manfaat tambahan maka status hukum manfaat tersebut adalah <strong>riba</strong>.<br />
Pendapat yang benar transaksi ini<strong> hukumnya boleh</strong> dengan pertimbangan kaedah tentang hukum asal perkara muamalah dan tidak terdapat dalil yang melarangnya.<br />
Transaksi ini juga tidak termasuk dalam kaedah riba di atas. Ingat tidak semua manfaat tambahan dalam transaksi hutang piutang itu terlarang.</p>
<p>Manfaat yang ada dalam transaksi <em>suftajah </em>adalah manfaat bersama antara kedua belah pihak dan pihak yang berhutang pun tidak dirugikan.</p>
<p>Pihak yang berhutang menilai bahwa dirinya mendapat manfaat berupa keamanan. Dia bisa melunasi hutangnya dengan menggunakan uang yang dia miliki di Jakarta, misalnya, tanpa harus memindah uangnya di Jogja ke Jakarta.</p>
<p>Pihak yang menghutangi juga mendapat manfaat berupa keamanan. Jadi kedua belah pihak diuntungkan dalam hal ini.<br />
Syariat tidak pernah melarang hal-hal yang manfaat. Yang dilarang syariat hanya hal-hal yang membahayakan. Dalam transasi <em>suftajah </em>tidak terdapat bahaya bagi pihak yang menghutangi dan pihak yang dihutangi. Sehingga pada asalnya transaksi ini dibolehkan. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah.</p>
<p>Beliau mengatakan, “Syariat tidaklah melarang hal-hal yang manfaatnya itu lebih besar asal hanya menimbulkan bahaya yang lebih ringan. Kaedah ini diketahui dari berbagai dalil syariat. Di antaranya adalah suftajah yang diambil oleh pihak yang menghutangi. Suftajah adalah A menghutangi B dan akan menagih B di negeri lain yang berbeda dengan negeri tempat diadakannya transaksi. Misalnya A bertujuan memindahkan uang ke suatu tempat sedangkan B kebetulan punya harta di tempat tersebut dan B perlu uang saat ini di tempat ini.</p>
<p>Akhirnya B berhutang kepada A di tempat ini lalu menulisan transaksi ini di sebuah suftajah –makna asli suftajah adalah kertas-untuk dibawa ke negeri yang dituju oleh A.<br />
Transasi semacam ini dibolehkan menurut pendapat yang paling kuat dari dua pendapat yang ada di antara para ulama. Pendapat yang lain mengatakan bahwa transaksi ini terlarang karena termasuk dalam kaedah hutang piutang yang menghasilkan manfaat tambahan maka manfaat tambahan tersebut adalah riba.</p>
<p>Pendapat yang benar transaksi di atas dibolehkan karena pihak yang menghutangi merasa dapat manfaat yaitu keamanan karena dia bertujuan memindahkan hartanya ke tempat lain. Jadi kedua belah pihak mendapat manfaat” (Majmu Fatawa 29/455-456). [Diolah dari Qawaid al Buyu’ wa Faraid al Furu’ karya Walid bin Rasyid al Saidan hal 12-14]
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fadakah-utang-piutang-yang-boleh-menarik-untung&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1323&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/riba-dan-bunga-bank-itu-haram" title="Riba dan Bunga Bank itu Haram">Riba dan Bunga Bank itu Haram</a> (32)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mau-beli-rumah-dengan-hutang-ke-bank-dan-mengandung-riba" title="Mau Beli Rumah dengan Hutang Ke Bank Namun Mengandung Riba">Mau Beli Rumah dengan Hutang Ke Bank Namun Mengandung Riba</a> (17)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/adakah-utang-piutang-yang-boleh-menarik-untung/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Riba dan Bunga Bank itu Haram</title>
		<link>http://ustadzaris.com/riba-dan-bunga-bank-itu-haram</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/riba-dan-bunga-bank-itu-haram#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 20:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>
		<category><![CDATA[bunga bank]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=941</guid>
		<description><![CDATA[“Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, sungguh ada sejumlah orang dari umatku yang menghabiskan waktu malamnya dengan pesta pora dengan penuh kesombongan, permainan yang melalaikan lalu pagi harinya mereka telah berubah menjadi kera dan babi. Hal ini disebabkan mereka menghalalkan berbagai yang haram, mendengarkan para penyanyi, meminum khamr, memakan riba dan memakai sutra”]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَأْكُلُونَ الرِّبَا فَمَنْ لَمْ يَأْكُلْهُ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ</p>
<p>“<em>Suatu saat nanti manusia akan mengalami suatu masa yang ketika itu semua orang memakan riba. Yang tidak makan secara langsung itu akan terkena debunya</em>” (HR Nasai no 4455, namun dinilai <em>dhaif </em>oleh al Albani).<span id="more-941"></span></p>
<p>Meski secara sanad hadits di atas adalah hadits yang lemah namun <span style="text-decoration: underline;">makna yang terkandung di dalamnya adalah benar dan zaman tersebut pun telah tiba</span>. Betapa riba dengan berbagai kedoknya saat ini telah menjadi komsumsi publik bahkan suatu yang mendarah daging di tengah banyak kalangan. Padahal ancaman dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang riba sungguh mengerikan bagi orang yang masih memiliki iman kepada Allah dan hari akhir.</p>
<p>عَنْ عَوْفِ بن مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:&#8221;إِيَّاكَ وَالذُّنُوبَ الَّتِي لا تُغْفَرُ: الْغُلُولُ، فَمَنْ غَلَّ شَيْئًا أَتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَآكِلُ الرِّبَا فَمَنْ أَكَلَ الرِّبَا بُعِثَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْنُونًا يَتَخَبَّطُ&#8221;</p>
<p>Dari Auf bin Malik, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “<em>Hati-hatilah dengan dengan dosa-dosa yang tidak akan diampuni. Ghulul (baca:korupsi), barang siapa yang mengambil harta melalui jalan khianat maka harta tersebut akan didatangkan pada hari Kiamat nanti. Demikian pula pemakan harta riba. Barang siapa yang memakan harta riba maka dia akan dibangkitkan pada hari Kiamat nanti dalam keadaan gila dan berjalan sempoyongan</em>” (HR Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir no 110 dan dinilai <em>hasan li ghairihi </em>oleh al Albani dalam Shahih at Targhib wa at Tarhib no 1862).</p>
<p>Berdasarkan hadits tersebut maka pelaku riba itu telah menghalangi dirinya sendiri dari ampunan Allah.<br />
Makna hadits di atas bukanlah menunjukkan bahwa orang yang memakan riba meski sudah bertaubat tetap tidak akan diampuni oleh Allah. Akan tetapi maksudnya adalah menunjukkan tentang betapa besar dan ngerinya dosa memakan riba.</p>
<p>Umat Islam bersepakat berdasarkan berbagai dalil dari al Qur’an dan sunnah bahwa orang yang bertaubat dari dosa maka Allah akan menerima taubatnya baik dosa tersebut adalah dosa kecil maupun dosa besar.</p>
<p>عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَيَبِيتَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِى عَلَى أَشَرٍ وَبَطَرٍ وَلَعِبٍ وَلَهْوٍ فَيُصْبِحُوا قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ بِاسْتِحْلاَلِهِمُ الْمَحَارِمَ وَاتِّخَاذِهِمُ الْقَيْنَاتِ وَشُرْبِهِمُ الْخَمْرَ وَأَكْلِهِمُ الرِّبَا وَلُبْسِهِمُ الْحَرِيرَ ».</p>
<p>Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, sungguh ada sejumlah orang dari umatku yang menghabiskan waktu malamnya dengan pesta pora dengan penuh kesombongan, permainan yang melalaikan lalu pagi harinya mereka telah berubah menjadi kera dan babi. Hal ini disebabkan mereka menghalalkan berbagai yang haram, mendengarkan para penyanyi, meminum khamr, memakan riba dan memakai sutra” (HR Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawaid al Musnad [Musnad Imam Ahmad no 23483], dinilai hasan li ghairihi oleh Al Albani dalam Shahih at Targhib wa at Tarhib no 1864).</p>
<p>Pada saat haji wada’, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>أَلاَ كُلُّ شَىْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوعٌ وَدِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَضَعُ مِنْ دِمَائِنَا دَمُ ابْنِ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ كَانَ مُسْتَرْضِعًا فِى بَنِى سَعْدٍ فَقَتَلَتْهُ هُذَيْلٌ وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ وَأَوَّلُ رِبًا أَضَعُ رِبَانَا رِبَا عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوعٌ كُلُّهُ</p>
<p>“Ingatlah, segala perkara jahiliah itu terletak di bawah kedua telapak kakiku. Semua kasus pembunuhan di masa jahiliah itu sudah dihapuskan. Kasus pembunuhan yang pertama kali kuhapus adalah pembunuhan terhadap Ibnu Rabi’ah bin al Harits. Dulu dia disusui oleh salah seorang Bani Saad lalu dibunuh oleh Hudzail. Riba jahilaih juga telah dihapus. Riba yang pertama kali kuhapus adalah riba yang dilakukan oleh Abbas bin Abdil Muthallib. Sungguh semuanya telah dihapus” (HR Muslim 3009 dari Jabir bin Abdillah).</p>
<p>Dalam hadits di atas Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengatakan bahwa riba itu berada di bawah telapak kaki beliau untuk <span style="text-decoration: underline;">menunjukkan betapa rendah dan hinanya pelaku riba dan riba juga dinilai oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagai perkara jahiliah.</span></p>
<p>عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ &#8211; رضى الله عنه &#8211; قَالَ قَالَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِى ، فَأَخْرَجَانِى إِلَى أَرْضٍ مُقَدَّسَةٍ ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيهِ رَجُلٌ قَائِمٌ ، وَعَلَى وَسَطِ النَّهْرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ ، فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِى فِى النَّهَرِ فَإِذَا أَرَادَ الرَّجُلُ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِى فِيهِ فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ ، فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِى فِيهِ بِحَجَرٍ ، فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ ، فَقُلْتُ مَا هَذَا فَقَالَ الَّذِى رَأَيْتَهُ فِى النَّهَرِ آكِلُ الرِّبَا »</p>
<p>Dari Samurah bin Jundab, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Semalam aku bermimpi ada dua orang yang datang lalu keduanya mengajakku pergi ke sebuah tanah yang suci. Kami berangkat sehingga kami sampai di sebuah sungai berisi darah. Di tepi sungai tersebut terdapat seorang yang berdiri. Di hadapannya terdapat batu. Di tengah sungai ada seorang yang sedang berenang. Orang yang berada di tepi sungai memandangi orang yang berenang di sungai. Jika orang yang berenang tersebut ingin keluar maka orang yang berada di tepi sungai melemparkan batu ke arah mulutnya. Akhirnya orang tersebut kembali ke posisinya semula. Setiap kali orang tersebut ingin keluar dari sungai maka orang yang di tepi sungai melemparkan batu ke arah mulutnya sehingga dia kembali ke posisinya semula di tengah sungai. Kukatakan, “<em>Siapakah orang tersebut?</em>”. Salah satu malaikat menjawab, “<em>Yang kau lihat berada di tengah sungai adalah pemakan riba</em>” (HR Bukhari no 1979).</p>
<p>Dalam hadits di atas jelas sekali betapa kerasnya hukuman bagi pemakan riba sementara ketika di dunia dia mengira bahwa dirinya bergelimang kenikmatan.</p>
<p>Akhirnya seluruh umat Islam beserta segenap ulamanya baik yang terdahulu ataupun yang datang kemudian telah sepakat bahwa riba adalah <strong>haram</strong>. Mereka juga menegaskan bahwa <span style="text-decoration: underline;">bunga bank dan yang semisal dengannya</span> adalah <strong>haram</strong>. Mereka juga sepakat bahwa siapa saja yang menghalalkan riba maka dia kafir. Sedangkan siapa saja yang melakukan transaksi riba namun masih memiliki keyakinan bahwa riba itu haram maka dia telah melakukan dosa besar, orang yang fasik dan berani memerangi Allah dan rasulNya.</p>
<p>Para ulama telah menetapkan haramnya bunga yang telah dipatok di awal transaksi misal 3%, 5% dan seterusnya. Para ulama telah membantah orang-orang yang menghalalkan bunga bank dan merontokkan argument-argumen mereka secara total. <em>Tidak ada beda antara bunga dalam jumlah kecil ataupun dalam jumlah besar. Semuanya adalah riba yang diharamkan. </em></p>
<p>Hanya Allah yang memberi taufik.<em><br />
</em>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Friba-dan-bunga-bank-itu-haram&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=941&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-utang-piutang-yang-boleh-menarik-untung" title="Adakah Utang Piutang Yang Boleh Menarik Untung?">Adakah Utang Piutang Yang Boleh Menarik Untung?</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mau-beli-rumah-dengan-hutang-ke-bank-dan-mengandung-riba" title="Mau Beli Rumah dengan Hutang Ke Bank Namun Mengandung Riba">Mau Beli Rumah dengan Hutang Ke Bank Namun Mengandung Riba</a> (17)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/riba-dan-bunga-bank-itu-haram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mau Beli Rumah dengan Hutang Ke Bank Namun Mengandung Riba</title>
		<link>http://ustadzaris.com/mau-beli-rumah-dengan-hutang-ke-bank-dan-mengandung-riba</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/mau-beli-rumah-dengan-hutang-ke-bank-dan-mengandung-riba#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 20:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>
		<category><![CDATA[artikel riba]]></category>
		<category><![CDATA[bank konvensional]]></category>
		<category><![CDATA[kredit rumah]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[Tanya :
“Saya PNS mau beli rumah, tetapi hutang ke bank dengan jumlah setelah lunas sekitar menjadi dua kali lipat. Bagaimana menurut syari&#8217;at?”

Sumar 08564362xxx
Jawab:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.
Dari Jabir bin Abdillah, beliau berkata,
“Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, orang yang mau berhutang dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya </strong>:</p>
<blockquote><p>“Saya PNS mau beli rumah, tetapi hutang ke bank dengan jumlah setelah lunas sekitar menjadi dua kali lipat. Bagaimana menurut syari&#8217;at?”</p></blockquote>
<p><span id="more-260"></span></p>
<p>Sumar 08564362xxx</p>
<p><strong>Jawab</strong>:</p>
<p>عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah, beliau berkata,</p>
<blockquote><p>“Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, orang yang mau berhutang dengan cara riba, penulis dan saksi dalam transaksi riba”. Rasulullah bersabda, “Mereka itu dosanya sama” (HR Muslim no 4177).</p></blockquote>
<p>Yang dimaksud dengan laknat adalah dijauhkan dari rahmat Allah. Semua perbuatan yang diancam dengan laknat termasuk perbuatan yang berstatus dosa besar.<br />
Dengan sangat gamblang dalam hadits di atas Nabi menjelaskan bahwa dosa besar karena praktek riba bukan hanya ditanggung oleh orang yang memakan hasil riba <strong>bahkan orang yang tanpa terpaksa mau berhutang dengan cara riba</strong> juga mendapatkan dosa yang sama dengan yang memakan riba.</p>
<p>Untuk memiliki rumah bisa kita mulai dengan menabung kecil-kecilan, meski lama namun dengan cara yang halal maka itulah nantinya menjadi <strong>harta yang berkah.</strong></p>
<p><strong>[Rubrik Konsultasi di Majalah Swara Qur'an]</strong>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmau-beli-rumah-dengan-hutang-ke-bank-dan-mengandung-riba&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=260&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-utang-piutang-yang-boleh-menarik-untung" title="Adakah Utang Piutang Yang Boleh Menarik Untung?">Adakah Utang Piutang Yang Boleh Menarik Untung?</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/riba-dan-bunga-bank-itu-haram" title="Riba dan Bunga Bank itu Haram">Riba dan Bunga Bank itu Haram</a> (32)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/mau-beli-rumah-dengan-hutang-ke-bank-dan-mengandung-riba/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
