<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah &#187; ramadhan</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/tag/ramadhan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 00:00:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Saling Berkunjung Ketika Lebaran</title>
		<link>http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 17:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[halal bi halal]]></category>
		<category><![CDATA[idul fithri]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>
		<category><![CDATA[syawalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1922</guid>
		<description><![CDATA[Adalah menjadi kebiasaan di masyarakat kita untuk saling berkunjung ke rumah kerabat dan tetangga saat lebaran tiba. Bahkan orang rela datang jauh-jauh dengan tujuan pokok bisa berjumpa kerabat ketika hari raya idul fitri. Bagaimanakah hukum agama menyikapi fenomena ini? Apa benar bid’ah sebagaimana anggapan sebagian orang? Berikut ini beberapa kutipan dari ulama dan para penuntut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsaling-berkunjung-ketika-lebaran&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Adalah menjadi kebiasaan di masyarakat kita untuk saling berkunjung ke rumah kerabat dan tetangga saat lebaran tiba. Bahkan orang rela datang jauh-jauh dengan tujuan pokok bisa berjumpa kerabat ketika hari raya idul fitri. Bagaimanakah hukum agama menyikapi fenomena ini? Apa benar bid’ah sebagaimana anggapan sebagian orang? Berikut ini beberapa kutipan dari ulama dan para penuntut ilmu yang berhasil kami dapatkan, moga bisa memberi sedikit gambaran untuk mendudukkan masalah ini secara arif dan bijaksana.</p>
<p>Ummu Abdillah al Wadi’iyyah, putri Syeikh Muqbil mengatakan, “Sebagian orang ketika ada momen tertentu semisal hari raya atau ada yang baru pulang dari bepergian pergi menemui kerabatnya baik masih mahram ataukah tidak dan berjabat tangan dengan perempuan yang masih kerabatnya tersebut. Hal ini boleh jadi dilakukan dengan maksud mendekatkan diri kepada Alloh atau hanya sebagai tradisi. Demikian pula yang dilakukan oleh perempuan.</p>
<p>Ini adalah sebuah kekeliruan yaitu berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Sedangkan mengkhususkan saling berkunjung dan berjabat tangan pada saat hari raya demikian pula ucapan selamat hari raya bukanlah amal yang disyariatkan (baca: dianjurkan apalagi diwajibkan) baik bagi laki-laki ataupun perempuan. Namun tidak sampai derajat bid’ah kecuali jika acara tersebut dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Pada saat demikian maka berstatus bid’ah karena ibadah dengan bentuk demikian tidak pernah dilakukan di masa Nabi.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengada-ada dalam agama kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya maka sesuatu tersebut pasti tertolak”.</p>
<p>Juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir, sesungguhnya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p>“Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah firman Alloh sedangkan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Sejelek-jelek perkara dalam agama adalah perkara yang baru. Setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bidah adalah kesesatan”.</p>
<p>Lafazh ‘kullu’ yang berarti setiap atau seluruh adalah kata yang menunjukkan makna yang luas sehingga tercakup di dalamnya semua bid’ah dan semua bidah adalah kesesatan.</p>
<p>Tradisi itu sendiri jika tidak memiliki landasan dalam agama sebaiknya dimusnahkan saja.</p>
<p>Lebih-lebih acara saling berkunjung saat hari raya itu banyak membuang-buang waktu secara percuma. Sedangkan perempuan tidaklah dibolehkan sering keluar rumah.</p>
<p>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى</p>
<p>Yang artinya, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS al Ahzab:33).</p>
<p>Realitanya perempuan yang berkunjung saat lebaran keluar masuk dari suatu rumah ke rumah yang lain.<br />
Namun perlu diperhatikan, kami tidaklah melarang kegembiraan dan bersenang-senang ketika lebaran dan idul adha. Bahkan hal ini disyariatkan (baca:dianjurkan) selama tidak menyelisihi ajaran al Qur’an dan sunnah” (Nasihati lin Nisa’ hal 124-125).<br />
Kutipan ini menunjukkan bahwa beliau berpendapat bahwa kebiasaan berkunjung saat lebaran itu adalah perkara non ibadah sehingga tidak bisa dinilai bid’ah kecuali jika diiringi niat menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Alloh meski demikian beliau berpandangan agar sebaiknya kebiasaan ini ditinggalkan (ingat, beliau tidak mewajibkannya) dengan alasan: a) ini adalah kebiasaan yang tidak ada landasannya dalam syariat b)membuang-buang waktu c)menyebabkan perempuan keluar rumah tanpa ada keperluan mendesak.</p>
<p>Akan tetapi prinsip bahwa adat kebiasaan yang tidak ada landasannya dalam syariat sebaiknya ditinggalkan adalah suatu hal yang perlu dikaji ulang mengingat hukum asal perkara non ibadah adalah boleh.</p>
<p>Sedangkan Syeikh Wahid Abdus Salam Bali mengatakan, “Di antara kaum muslimin ada yang kembali dari sholat hari raya menuju pekuburan untuk menziarahi kuburan famili atau temannya. Di antara mereka ada yang mengakhirkan ziarah hingga waktu Ashar di hari raya. Kedua perbuatan tersebut adalah keliru disebabkan dua alasan:</p>
<p>1. bukan termasuk petunjuk Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, tidak pula salah seorang dari shahabatnya mengkhususkan hari raya untuk ziarah kubur.<br />
2. hari raya merupakan hari untuk berbahagia bukan hari untuk berduka dan menangis. <strong>Hari raya merupakan hari untuk mengunjungi orang yang hidup, bukan untuk mengunjungi orang yang telah meninggal</strong>” (50 Kesalahan Dalam Berhari Raya hal 48-49).</p>
<p>Di halaman lain dari buku yang sama, beliau mengatakan, “<strong>Pada hari raya, mengunjungi kerabat itu dianjurkan, demikian juga silaturrahmi</strong>. Akan tetapi dalam acara berkunjung ini terkadang terjadi beberapa pelanggaran syar’i. Saat berkunjung ke rumah paman, terkadang bertemu dengan anak perempuan paman lalu orang tersebut bersalaman dengannya. Hal ini tidak boleh dilakukan, dikarenakan anak paman dan anak bibi adalah bukan mahram, tidak boleh bersalaman dengan mereka” (50 Kesalahan Dalam Berhari Raya hal. 66).</p>
<p>Mungkin beliau berpendapat <strong>dianjurkan saling berkunjung</strong> karena saling berkunjung adalah salah satu bentuk mengungkapkan rasa gembira saat hari raya yang disyariatkan.</p>
<p>Hal ini juga pernah kami diskusikan dengan salah seorang penuntut ilmu yaitu Ustadz Anas Burhanuddin di kota Madinah, melalui sms beliau mengatakan, “<em>Jika mengkhususkannya pada idul fitri, hal tersebut bid’ah. Tapi jika memanfaatkan momen orang mudik untuk ziarah (baca:berkunjung)</em>, Syeikh Ibrahim (ar Ruhaili) pernah bilang, ‘<em>Syai-un thoyyib, suatu yang baik</em>” (26 Agustus 2006, 13:09 waktu Madinah).</p>
<p>Hal ini juga pernah ditanyakan kepada Syeikh Sami Shughair, menantu dan murid senior Syeikh Ibnu Utsaimin-melalui Ustadz Abu Ubaidah as Sidawi ketika beliau masih di Unaizah- dan kurang lebih beliau mengatakan, “<em>Boleh saja, itu adat yang bagus</em>”.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsaling-berkunjung-ketika-lebaran&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1922&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan" title="Syawal Bulan Peningkatan?">Syawal Bulan Peningkatan?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat" title="Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?">Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?</a> (26)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi" title="Memahami Silaturahmi">Memahami Silaturahmi</a> (15)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran" title="Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?">Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman" title="Hukum Sungkeman">Hukum Sungkeman</a> (17)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil" title="Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil">Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil</a> (20)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/apakah-panitia-zakat-sama-dengan-amil" title="Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?">Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?</a> (14)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syawal Bulan Peningkatan?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Sep 2010 17:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1900</guid>
		<description><![CDATA[Ibnul ‘Allan asy Syafii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat al Ibil yang maknanya onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang karena sudah dekat dengan bulan-bulan haram (yang merupakan bulan terlarang perang di masa jahiliyyah, pent)” ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsyawal-bulan-peningkatan&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Banyak orang mengatakan bahwa makna syawal adalah peningkatan sehingga syawal adalah bulan peningkatan amal shalih. Benarkah anggapan ini?</p>
<p>(&#8230; من شوال) مأخوذ من شالت الإبل أذنابها إذا رفعتها لأن العرب كانوا يرفعون فيه آلات الحرب لقرب الأشهر الحرم</p>
<p>Ibnul ‘Allan asy Syafii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat <em>Sya-lat al Ibil </em>yang maknanya <em>onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya</em>. Syawal dimaknai demikian karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang karena sudah dekat dengan bulan-bulan haram (yang merupakan bulan terlarang perang di masa jahiliyyah, pent)”</p>
<p>[Dalil al Falihin li Thuruq Riyadh al Shalihin-syarh Riyadh al Shalihin- karya Muhammad bin ‘Allan al Shiddiqi al Syafii al Maki –wafat tahun 1057 H-, jilid 4 hal 63, terbitan Darul Fikr Beirut].</p>
<p>Jadi syawal disebut syawal bukan karena bulan ini adalah bulan peningkatan amal-bahkan kita diperintahkan untuk meningkatkan amal setiap hari-namun syawal disebut syawal karena di bulan ini orang-orang Arab mengangkat atau meninggikan alat-alat perang yang mereka miliki atau dengan bahasa lain, mereka menggantungkan pedang, tombak dan lainnya karena terjerumus dalam larangan berperang di bulan Dzulqa’dah yang merupakan bagian dari bulan-bulan haram. Jika mereka masing menenteng pedang dan yang lainnya di bulan syawal sangat dimungkinkan mereka akan melanggar larangan berperang di bulan Dzulqa’dah.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsyawal-bulan-peningkatan&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1900&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran" title="Saling Berkunjung Ketika Lebaran">Saling Berkunjung Ketika Lebaran</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat" title="Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?">Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?</a> (26)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi" title="Memahami Silaturahmi">Memahami Silaturahmi</a> (15)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran" title="Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?">Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman" title="Hukum Sungkeman">Hukum Sungkeman</a> (17)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil" title="Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil">Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil</a> (20)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/apakah-panitia-zakat-sama-dengan-amil" title="Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?">Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?</a> (14)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ucapan Selamat Hari Raya</title>
		<link>http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 23:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[hari besar]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya islam]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[idul fithri]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[selamat]]></category>
		<category><![CDATA[tahniah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1867</guid>
		<description><![CDATA[Di antara penghormatan yang dituntunkan pada hari ied yang merupakan faktor yang sangat efektif untuk mewujudkan kesatuan dan kedekatan hati adalah ucapan selamat hari raya yang diucapkan oleh para sahabat ketika bersua dengan sesama mereka. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fucapan-selamat-hari-raya&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>الجواب المفيد عن حكم التهنئة بالعيد</p>
<p>Hukum Ucapan Selamat Hari Raya</p>
<p>وإن من التحية المشروعة يوم العيد والتي تكون سببا قويا من أسباب تأليف القلوب وتحابها التهنئة بالعيد التي كان الصحابة يقولها بعضهم لبعض ،</p>
<p>Di antara penghormatan yang dituntunkan pada hari ied yang merupakan faktor yang sangat efektif untuk mewujudkan kesatuan dan kedekatan hati adalah ucapan selamat hari raya yang diucapkan oleh para sahabat ketika bersua dengan sesama mereka.</p>
<p>وهذه التهنئة ليست خاصة بعيد دون آخر ، بل هي مشروعة في كلا العيدين.</p>
<p>Ucapan selamat ini tidak hanya berlaku untuk idul fitri saja bahkan berlaku untuk dua hari raya idul fitri dan idul adha.</p>
<p>بعضهم زعم أن التهنئة خاصة بعيد الفطر دون عيد الأضحى ، وهذا قول غريب ليس عليه آثار من آثار العلم والهدى ، ولا هو من هدي صحابة المصطفى.</p>
<p>Sebagian orang beranggapan bahwa ucapan selamat hari raya tersebut hanya berlaku untuk iedul fitri tanpa iedul adha. Ini adalah pendapat yang aneh, tidak berdalil dan tidak demikian yang dicontohkan oleh para shahabat Nabi.</p>
<p>ذكر الآثار الواردة في التهنئة يوم العيد</p>
<p>Riwayat-riwayat tentang ucapan selamat hari raya</p>
<p>وردت طائفة طيبة من الآثار جاء فيها ذكر التهنئة بالعيد واستحبابها ، ذكر منها البيهقي طائفة لا بأس بها في سننه الكبرى ( ج3 / 319 ).</p>
<p>Ada sejumlah riwayat yang menyinggung ucapan selamat hari raya bahkan menganjurkannya. Sebagian besar diantaranya telah disebutkan oleh al Baihaqi dalam Sunan Kubro juz 3 hal 319.</p>
<p>فقال رحمه الله : باب ما روي في قول الناس يوم العيد بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك</p>
<p>Al Baihaqi mengatakan, “Bab berisi riwayat tentang ucapan selamat ketika hari ied dengan kata-kata taqabballahu minna wa minka”</p>
<p>عن خالد بن معدان قال لقيت واثلة بن الأسقع في يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . فقال : نعم ، تقبل الله منا ومنك . قال واثلة لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . قال : نعم ، تقبل الله منا ومنك .</p>
<p>Dari Khalid bin Ma’dan, “Aku berjumpa dengan Watsilah bin al Asqa’ pada hari ied lantas kukatakan taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban beliau, “Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”. Watsilah lantas bercerita bahwa beliau berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu beliau mengucapkan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”</p>
<p>أخبرنا أبو سعد الماليني وبنفس السند إلى واثلة بن الأسقع  قال لقيت رسول الله  يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك.قال:نعم،تقبل الله منا ومنك .</p>
<p>Abu Saad al Maliyani juga meriwayatkan dengan sanad yang sama dengan yang di atas sampai ke Watsilah bin al Asqa’, beliau mengatakan, “Aku berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu kukatakan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”</p>
<p>أخبرنا أبو سعد الماليني قال : قال أبو أحمد بن عدي الحافظ هذا منكر لا أعلم يرويه عن بقية غير محمد بن إبراهيم هذا .</p>
<p>Al Hafizh Abu Ahmad bin Adi mengatakan, “Hadits ini statusnya adalah munkar (baca:lemah). Setahuku tidak ada yang meriwayatkan dari Baqiyah kecuali Muhammad bin Ibrahim ini”.</p>
<p>قال الشيخ رحمه الله ( يعني البيهقي ) قد رأيته بإسناد آخر عن بقية موقوفا غير مرفوع ، ولا أراه محفوظا .</p>
<p>Al Baihaqi mengatakan, “Aku pernah menjumpai sanad yang lain dari Baqiyyah secara mauquf, bukan marfu namun aku tidak menilainya sebagai hadits yang mahfuzh”</p>
<p>قلت : بقية مدلس ، وقد عنعنه ، ثم قد اختلف عليه فيه فمرة يرويه مرفوعا وأخرى موقوفا ، فالحديث ضعيف لهاتين العلتين والله أعلم .</p>
<p>Kesimpulannya, Baqiyah adalah seorang mudallis dan dalam sanad di atas dia menggunakan ‘an yang berarti dari. Yang kedua riwayat dari Baqiyah itu kontradiktif terkadang dalam bentuk marfu’ dan terkadang dalam bentuk mauquf. Sehingga hadits di atas adalah hadits yang lemah dengan dua sebab di atas.</p>
<p>أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب حدثنا العباس بن محمد حدثنا أحمد بن إسحاق حدثنا عبد السلام البزاز عن أدهم مولى عمر بن عبد العزيز قال :<br />
كنا نقول لعمر بن عبد العزيز في العيدين تقبل الله منا، ومنك يا أمير المؤمنين فيرد علينا ولا ينكر ذلك علينا .</p>
<p>Dari Adham, bekas budaknya Umar bin Abdul Aziz, “Kami mengatakan kepada Umar bin Abdul Azizi ketika Iedul Fitri dan Adha, taqabbalallu minna wa minka wahai pemimpin orang-orang yang beriman. Beliau menjawab ucapan kami dan tidak menyalahkan kami”.</p>
<p>قال ابن التركماني رحمه الله في ذيله على السنن الكبرى المسمى&lt; &lt; الجوهر النقي على سنن البيهقي ( ج 3/ 320 ): في هذا الباب حديث جيد أغفله البيهقي وهو حديث محمد بن زياد قال: كنت مع أبي أمامة الباهلي وغيره من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فكانوا إذا رجعوا يقول بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك . قال أحمد بن حنبل إسناده إسناد جيد</p>
<p>Ibnu Turkumani dalam Dzail (baca:tambahan) beliau untuk Sunan Kubro yang berjudul al Jauhar al Naqiyyi ‘ala Sunan al Baihaqi juz 3 hal 320 mengatakan, “Dalam masalah ini terdapat hadits dengan kualitas jayyid yang tidak disebutkan oleh al Baihaqi. Itulah hadits Muhammad bin Ziyad, “Aku bersama dengan Abu Umamah al Bahili dan sejumlah sahabat Nabi yang lain. Jika mereka pulang dari shalat Ied sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain taqabbalallahu minna wa minka”. Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa sanad hadits ini adalah berkualitas jayyid.</p>
<p>قال العلامة الشيخ الألباني رحمه الله تمام المنة ( 355 (356- بعد أن ساق كلام ابن التركماني في الجوهر النقي: لم يذكر من رواه – أي ابن التركماني- وقد عزاه السيوطي لزاهر أيضا بسند حسن عن محمد بن زياد الألهاني قال: رأيت أبا أمامة الباهلي يقول في العيد لأصحابه : تقبل الله منا ومنكم</p>
<p>Al Albani dalam Tamam al Minnah 355-356 setelah membawakan perkataan Ibnu Turkumani dalam al Jauhar al Naqiyy mengatakan, “Ibnu Turkumani tidak menyebutkan siapa yang meriwayatkan atsar tersebut. Sedangkan Suyuthi mengatakan bahwa atsar tersebut diriwayatkan oleh Zahir dengan sanad yang hasan dari Muhammad bin Ziyad al Alhani, “Aku melihat Abu Umamah al Bahili mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum kepada kawan-kawannya”.</p>
<p>قلت : فقد صح الأثر والحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات بشهادة ثلاثة من فحول وفرسان علم الحديث.</p>
<p>Kesimpulannya atsar di atas adalah riwayat yang sahih berdasarkan penilaian tiga pakar hadits, Imam Ahmad, Ibnu Turkumani dan Suyuthi.</p>
<p>قال الحافظ ابن حجر في فتح الباري (ج2/ ص446) : ورينا في المحامليات بإسناد حسن عن جبير بن نفير قال: كان أصحاب رسول الله إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض:تقبل الله مناومنك &gt;&gt;</p>
<p>Dalam Fathul Bari juz 2 hal 446, al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Kami mendapatkan riwayat dalam al Mahamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair, beliau menceritakan bahwa para shahabat Nabi jika saling berjumpa pada hari ied mereka saling mengatakan taqabbalallahu minna wa minka”.</p>
<p>وأنظر أيضا تمام المنة للشيخ الألباني رحمه الله( ص354 – 355).</p>
<p>Bacalah Tamam al Minnah karya al Albani pada hal 354-355.</p>
<p>وفيه من الفوائد :</p>
<p>Beberapa petikan pelajaran</p>
<p>1- قوله : كنت مع أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه .. حرص التابعين على التعلم من الصحابة والاقتداء فيما يقومون به من أعمال .</p>
<p><strong>Pertama, </strong>atsar dari Abu Umamah menunjukkan betapa besar antusias para tabiin untuk belajar dari para shahabat dan meneladani amal yang dilakukan oleh para shahabat.</p>
<p>2- وقوله وغيره من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ،وقول جبير بن نفير : كان أصحاب رسول الله ، يعني ثبت عن مجموع الصحابة، وليس عن أبي أمامة فقط ..</p>
<p><strong>Kedua, </strong>atsar dari Abu Umamah dan dari Jubair bin Nufair menunjukkan bahwa ucapan taqabbalallahu minna wa minka itu dilakukan oleh sejumlah sahabat, bukan hanya Abu Umamah al Bahili.</p>
<p>3- أن قول ذلك كان عند رجوعهم وانصرافهم من صلاة العيد .</p>
<p><strong>Ketiga, </strong>ucapan ini diucapkan sepulang para sahabat dari shalat ied.</p>
<p>4- وأن ذلك يكون منهم في يوم العيد كما جاء في رواية جبير بن نفير قال: كان أصحاب رسول الله إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض:تقبل الله مناومنك.</p>
<p><strong>Keempat, </strong>ucapan tersebut diucapkan oleh para shahabat pada hari ied sebagaimana dalam atsar dari Jubair bin Nufair.</p>
<p>Penjelasan Para Ulama tentang Ucapan Selamat Ied</p>
<p>وقد سئل شيخ الإسلام ابن تيميه قدس الله روحه : هل التهنئة في العيد وما يجري على ألسنة الناس : &lt; &lt; عيدك مبارك &gt;&gt; وما أشبهه ، هل له أصل في الشريعة ؟ أم لا؟ وإذا كان له أصل في الشريعة فما يقال ؟ أفتونا مأجورين .</p>
<p>Ibnu Taimiyyah pernah ditanya, “Apakah ucapan selamat hari raya yang biasa diucapkan oleh banyak orang semisal “Ied Mubarak” memiliki dasar dalam agama ataukah tidak? Jika memang memiliki dasar dalam ajaran agama lalu ucapan apa yang tepat? Berilah kami fatwa”.</p>
<p>الجواب: أما التهنئة يوم العيد يقول بعضهم لبعض إذا لقيه بعد صلاة العيد : تقبل الله منا ومنك. وأحاله الله عليك، ونحو ذلك، فهذا قد روي عن طائفة من الصحابة أنهم كانوا يفعلونه ، ورخص فيه الأئمة كأحمد وغيره .</p>
<p>Jawaban Ibnu Taimiyyah, “Ucapan taqabbalallahu minna wa minka atau ucapan ahalahullahu ‘alaika yang dijadikan sebagai ucapan selamat hari raya yang diucapkan ketika saling berjumpa sepulang shalat hari raya adalah ucapan yang diriwayatkan dari sejumlah shahabat bahwa mereka melakukannya. Karenanya banyak ulama semisal Imam Ahmad membolehkan hal tersebut.</p>
<p>لكن قال أحمد أنا لا أبتدئ أحدا ، فإن ابتدأني أحد أجبته ، وذلك لأن جواب التحية واجب ، وأما الإبتداء بالتهنئة فليس سنة مأمورا بها ، ولا هو أيضا مما نهي عنه ،</p>
<p>Akan tetapi Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului untuk mengucapkan selamat hari raya namun jika ada yang memberi ucapan selamat hari raya kepadaku maka pasti akan aku jawab”. Beliau mengatakan demikian karena menjawab penghormatan hukumnya wajib sedangkan memulai mengucapkan selamat hari raya bukanlah sunnah Nabi yang diperintahkan, bukan pula hal yang terlarang.</p>
<p>فمن فعله فله قدوة ، ومن تركه فله قدوة . والله أعلم.</p>
<p>Siapa yang memulai mengucapkan selamat hari raya dia memiliki teladan dari para ulama dan yang tidak mau memulai juga memiliki teladan dari kalangan ulama”.</p>
<p>مجموع الفتاوى لابن تيميه (ج24 / ص233) ،والفتاوى الكبرى له ( ج2 /ص371).</p>
<p>Perkataan Ibnu Taimiyyah ini ada di Majmu Fatawa jilid 24 hal 233 dan di Fatawa Kubro jilid 2 hal 371.</p>
<p>قال ابن ضويان الحنبلي رحمه الله في منار السبيل (ج1 / ص100 ) ولا بأس بقوله لغيره تقبل الله منا ومنك ، نص عليه أي في مذهب أحمد ، قال لا بأس به ، يرويه أهل الشام عن أبي أمامة ، وواثلة بن الأسقع</p>
<p>Ibnu Dhawayan al Hanbali dalam Manar al Sabil jilid 1 hal 100 mengatakan, “Tidaklah mengapa mengucapkan taqabbalallahu minna wa minka. Demikianlah yang ditegaskan dalam mazhab Ahmad. Imam Ahmad mengatakan, “Ucapan tersebut tidaklah mengapa diucapkan. Para penduduk Syam telah meriwayatkan atsar tersebut dari Abu Umamah dan dari Watsilah bin al Asqa’”.</p>
<p>وقال الشيخ صالح البليهي رحمه الله في كتابه السلسبيل في معرفة الدليل : (ج1 /209 ) بعد الكلام على صلاة العيدين.</p>
<p>Syaikh Shalih al Balihi dalam kitabnya al Salsabil fi Ma’rifati al Dalil jilid 1 hal 209 mengatakan setelah membahas shalat dua hari raya mengatakan,</p>
<p>تكملة : لا بأس بتهنئة الناس بعضهم بعضا بما هو مستفيض بينهم من الكلام الذي لا محذور فيه ،</p>
<p>“Boleh hukumnya mengucapkan ucapan selamat hari raya dengan ucapan yang beredar di masyarakat asalkan tidak ada unsur yang terlarang dalam ucapan tersebut”.</p>
<p>ثم ذكر حديث واثلة ، وأبي أمامة ، وقول الإمام أحمد ، ثم قال : ويدل لما تقدم – أي التهنئة – ما ورد أن الملائكة قالت لآدم لما حج بر حجك . ولما تاب الله على كعب بن مالك قام إليه طلحة فهنئه .</p>
<p>Setelah itu beliau menyebutkan hadits Watsilah dan Abu Umamah ditambah ucapan Imam Ahmad. Kemudian beliau mengatakan, “Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya ucapan selamat hari raya adalah riwayat yang berisi ucapan para malaikat kepada Adam setelah Adam berhaji, “Moga jadi haji mabrur”. Dalil yang lain adalah ucapan selamat yang diberikan oleh Thalhah kepada Kaab bin Malik ketika Allah menerima taubat Kaab.</p>
<p>وقال عليه الصلاة والسلام :ليهنئك العلم أبا المنذر في قصة مشهورة .أه</p>
<p>Demikian pula, ucapan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepada Ubay bin Kaab, “Moga ilmu itu menjadi suatu yang mudah bagimu” dalam sebuah kisah yang terkenal”.</p>
<p>ذكر الآثار الواردة في كراهية التهنئة يوم العيد :</p>
<p>Riwayat yang melarang ucapan selamat hari raya</p>
<p>لم يصح في ذلك شيء ولله الحمد والمنة .</p>
<p>Tidak ada satupun riwayat yang shahih terkait hal ini.</p>
<p>قال البيهقي رحمه الله في السنن الكبرى: (ج3 / 319 –320 ).<br />
وقد روي حديث مرفوع في كراهية ذلك ولا يصح .</p>
<p>Al Baihaqi dalam Sunan Kubro juz 3 hal 319-320 mengatakan, “Terdapat hadits marfu’ yang melarang ucapan selamat hari raya namun hadits tersebut bukanlah hadits yang shahih”.</p>
<p>ثم ساق بسنده إلى الصحابي عبادة بن الصامت  قال : سألت رسول الله  عن قول الناس في العيدين تقبل الله منا ومنكم .قال ذلك فعل أهل الكتابين وكرهه.</p>
<p>Setelah itu al Baihaqi membawakan hadits dari Ubadah bin Shamit, Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ucapan yang diucapkan oleh banyak orang ketika dua hari raya yaitu ucapan taqabbalallahu minna wa minkum. Nabi bersabda, “Itu adalah perbuatan Yahudi dan Nasrani”. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak menyukainya.</p>
<p>قال البيهقي: عبد الخالق بن زيد- أحد الرجال الذين رووا هذا الحديث – منكر الحديث .<br />
قاله البخاري .</p>
<p>Al Baihaqi mengatakan, “Salah seorang perawi hadits di atas yaitu al Khalid bin Zaid adalah munkarul hadits”.</p>
<p>قلت : وفيه نعيم بن حماد ، وإن كان إماما في السنة وشديدا على أهل البدع والأهواء فقد ضعف من أجل روايته للمناكير وتفرده بها.</p>
<p>Di samping itu di dalam sanadnya juga terdapat Nu’aim bin Hammad. Meski beliau adalah seorang imam dalam sunnah dan seorang yang keras dengan ahli bid’ah, beliau dinilai lemah dikarenakan beliau sering bersendirian dalam meriwayatkan riwayat-riwayat yang munkar.</p>
<p>وعلى هذا يكون هذا الحديث ضعيف لضعف كل من نعيم بن حماد وعبد الخالق بن زيد، ولمخالفته للآثار الأخرى وهي صحيحة في استحباب التهنئة ومشروعيتها في العيدين .</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas maka hadits di atas adalah hadits yang lemah dengan dua alasan. Pertama kelemahan perawi yang bernama Nu’aim bin Hammad dan al Khaliq bin Zaid. Kedua riwayat tersebut bertolak belakang dengan berbagai riwayat lain yang shahih yang menunjukkan dianjurkannya ucapan selamat pada dua hari raya.</p>
<p>الراجــــــــــــح :<br />
وعليه فهذا هو الراجح لثبوته عن السلف ،وخاصة الصحابة منهم في فعل التهنئة ،</p>
<p><strong>Kesimpulannya, </strong>yang benar ucapan selamat dengan <strong>taqabbalallahu minna wa minka</strong> adalah perbuatan yang disyariatkan karena telah dipraktekkan oleh salaf, terlebih lagi para shahabat.</p>
<p>وما ذهب إليه هؤلاء الأئمة الأعلام الذين ذكرت لك أقوالهم آنفا.</p>
<p>Inilah yang menjadi pendapat para ulama yang perkataan mereka telah dikutip di atas.</p>
<p>مسألة : هل تختص التهنئة بعيد الفطر دون عيد الأضحى أم هي عامة :</p>
<p>Apakah ucapan selamat hari raya hanya berlaku untuk iedul fitri saja ataukah untuk semua hari raya?</p>
<p>لم يثبت ولا حديث مرفوع إلى النبي أو أثر عن الصحابة والتابعين فيما نعلم فيه ذكر اختصاص التهنئة بعيدالفطر دون غيره ، بل ثبت خلاف ذلك.</p>
<p>Tidak ada hadits marfu’ sampai kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam atau atsar dari shahabat dan tabiin-sebatas pengetahuan kami-yang menyebutkan bahwa ucapan selamat hari raya itu hanya berlaku untuk iedul fitri saja. Bahkan terdapat riwayat yang sebaliknya.</p>
<p>قال البيهقي في سننه الكبرى(ج3 /ص319 ): أخبرنا أبو عبد الله الحافظ حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب حدثنا العباس بن محمد حدثنا أحمد بن إسحاق حدثنا عند السلام البزاز عن أدهم مولى عمر بن العزيز قال كنا نقول لعمر بن عبد العزيز ( في الـعيدين ) تقبل الله منا ومنك يا أمير المؤمنين فيرد علينا ولا ينكر ذلك علينا.</p>
<p>Riwayat tersebut terdapat dalam Sunan Kubro karya al Baihaqi pada juz 3 hal 319. Dari Adham, bekas budaknya Umar bin Abdul Aziz, “Kami mengatakan kepada Umar bin Abdul Azizi ketika Iedul Fitri dan Adha, taqabbalallu minna wa minka wahai pemimpin orang-orang yang beriman. Beliau menjawab ucapan kami dan tidak menyalahkan kami”.</p>
<p>فقول أدهم في العيدين ينصرف إلى ما عهد في الشرع وهو عيد الفطر والأضحى ، ولأنه لا يوجد عيدين سنويين في الإسلام إلا هذين اليومين</p>
<p>Dua ied dalam riwayat di atas tentu maknanya adalah ied yang dikenal dalam syariat yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha. Tambahan lagi tidak ada dalam Islam dua ied tahunan kecuali dua hari tersebut.</p>
<p>وأيضا فإن كل من ذكر التهنئة يذكرها في باب صلاة العيدين ، ولو كان المقصود عيد الفطر لقيدوه حتى لا يفهم من الإطلاق أنهم أرادوا العيدين المعروفين عند المسلمين،</p>
<p>Di samping itu bahasan tentang ucapan selamat berupa taqabbalallahu minna wa minka disebutkan  oleh para ulama dalam bab shalat dua hari raya. Andai yang diinginkan hanyalah iedul fitri tentu para ulama akan menegaskannya agar penjelasan mereka tidak dipahami dengan dua hari raya yang dikenal oleh kaum muslimin.</p>
<p>ثم نقول : ما وجه التفرقة بين عيد الفطر؛ وعيد الأضحى؛ وكل منهما جاء بعد عبادة فعلها المسلم تقربا إلى الله ؟ فلما يخص هذا بالتحية والدعاء دون هذا ؟ مع عدم ثبوت شيء عن النبي  في ذلك</p>
<p>Demikian pula, dengan alasan apa kita bedakan iedul fitri dengan iedul adha padahal masing-masing dari keduanya adalah hari raya yang datangnya setelah sebuah ibadah yang dikerjakan oleh seorang muslim dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah? Mengapa ucapan taqabbalallahu minna wa minka hanya dikhususkan untuk Iedul Fitri tanpa Iedul Adha? Selain itu, bacaan ini tidaklah berasal dari Nabi namun dari para shahabat.</p>
<p>Sumber: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=14987 dengan peringkasan.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fucapan-selamat-hari-raya&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1867&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran" title="Saling Berkunjung Ketika Lebaran">Saling Berkunjung Ketika Lebaran</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah" title="Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?">Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah" title="Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah">Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji" title="Menjaga Kemabruran Haji">Menjaga Kemabruran Haji</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hari-arofah-ikut-siapa" title="Hari Arofah, Ikut Siapa?">Hari Arofah, Ikut Siapa?</a> (28)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/khotbah-hari-raya" title="Khutbah Ied Dimulai Dengan Takbir">Khutbah Ied Dimulai Dengan Takbir</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jika-pemerintah-menetapkan-hari-raya-dengan-hisab" title="Jika Pemerintah Menetapkan Hari Raya Dengan Hisab">Jika Pemerintah Menetapkan Hari Raya Dengan Hisab</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain" title="Antara Dua Arbain">Antara Dua Arbain</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan" title="Syawal Bulan Peningkatan?">Syawal Bulan Peningkatan?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat" title="Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?">Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?</a> (26)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 05:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1839</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang berpandangan bahwa di antara ciri khas seorang ahli sunah adalah alergi dengan shalat tarawih 23 rakaat secara mutlak. Ini adalah anggapan yang tidak benar. Memang benar, kita tentu sangat tidak setuju jika shalat tarawih 23 rakaat dilakukan dengan ngebut. Perlu diketahui bahwa sebagian ulama ahli sunah menilai bahwa riwayat shalat tarawih di masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Falergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Sebagian orang berpandangan bahwa di antara ciri khas seorang ahli sunah adalah alergi dengan shalat tarawih 23 rakaat secara mutlak. Ini adalah anggapan yang tidak benar. Memang benar, kita tentu sangat tidak setuju jika shalat tarawih 23 rakaat dilakukan dengan ngebut.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa sebagian ulama ahli sunah menilai bahwa riwayat shalat tarawih di masa Umar itu 23 rakaat adalah <strong>riwayat yang valid</strong>. Di antara mereka adalah imam ahli sunah di zaman ini yaitu <strong>Syaikh Abdul Aziz bin Baz</strong>. Sehingga berdasarkan hal tersebut, maka shalat tarawih 23 rakaat adalah sunah sahabat dan sunah khulafaur rasyidin.</p>
<p>Andaipun riwayat ini lemah, bukan berarti shalat tarawih lebih dari 11 rakaat itu terlarang karena shalat tarawih adalah bagian dari shalat malam sedangkan shalat malam itu tidak memiliki batas maksimal sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim.</p>
<p>Oleh karena di antara anggapan yang kurang tepat adalah kesimpulan sebagian orang bahwa jika riwayat Umar tentang Shalat Tarawih 23 rakaat adalah riwayat yang lemah maka berarti maksimal shalat Tarawih adalah 11 atau 13 rakaat.</p>
<p>Berikut ini adalah penjelasan Syaikh Ibnu Baz tentang masalah ini:</p>
<p>ومن الأمور التي قد يخفى حكمها على بعض الناس:<br />
ظن بعضهم أن التراويح لا يجوز نقصها عن عشرين ركعة،</p>
<p>“Di antara hal yang hukumnya tidak diketahui oleh sebagian orang adalah anggapan sebagian orang bahwa shalat tarawih itu tidak boleh kurang dari 20 rakaat.</p>
<p>وظن بعضهم أنه لا يجوز أن يزاد فيها على إحدى عشرة ركعة أو ثلاث عشرة ركعة، وهذا كله ظن في غير محله بل هو خطأ مخالف للأدلة.</p>
<p>Demikian pula anggapan sebagian orang bahwa shalat tarawih itu tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Kedua anggapan ini adalah anggapan yang tidak pada tempatnya bahkan keduanya adalah anggapan yang menyelisihi banyak dalil.</p>
<p>وقد دلت الأحاديث الصحيحة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم على أن صلاة الليل موسع فيها ، فليس فيها حد محدود لا تجوز مخالفته،</p>
<p>Terdapat banyak hadits yang sahih dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang menunjukkan bahwa bilangan rakaat shalat malam itu longgar, tidak ada batasan baku yang tidak boleh dilanggar.</p>
<p>بل ثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه كان يصلي من الليل إحدى عشرة ركعة، وربما صلى ثلاث عشرة ركعة، وربما صلى أقل من ذلك في رمضان وفي غيره.</p>
<p>Bahkan terdapat riwayat yang sahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa beliau shalat malam sebanyak 11 rakaat dan terkadang 13 rakaat. Terkadang pula beliau shalat malam kurang dari 11 rakaat ketika Ramadhan atau pun di luar Ramadhan.</p>
<p>ولما سئل صلى الله عليه وسلم عن صلاة الليل قال: مثنى مثنى ، فإذا خشي أحدكم الصبح صلى ركعة واحدة توتر له ما قد صلى . متفق على صحته .</p>
<p>Ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ditanya tentang shalat malam, beliau mengatakan, “<em>Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam. Jika kalian khawatir waktu subuh tiba maka hendaknya dia shalat sebanyak satu rakaat sebagai witir untuk shalat malam yang telah dia kerjakan</em>” (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>ولم يحدد ركعات معينة لا في رمضان ولا في غيره،</p>
<p>Jadi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak menentukan jumlah rakaat tertentu untuk shalat malam di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.</p>
<p>ولهذا صلى الصحابة رضي الله عنهم في عهد عمر رضي الله عنه في بعض الأحيان ثلاثا وعشرين ركعة، وفي بعضها إحدى عشرة ركعة،</p>
<p>Oleh karena itu para sahabat di masa Umar terkadang shalat tarawih sebanyak 23 rakaat dan terkadang sebanyak 11 rakaat.</p>
<p>كل ذلك ثبت عن عمر رضي الله عنه وعن الصحابة في عهده.</p>
<p>Kedua riwayat tersebut adalah riwayat yang sahih dari Umar dan para sahabat di masa Umar.</p>
<p>وكان بعض السلف يصلي في رمضان ستا وثلاثين ركعة ويوتر بثلاث،</p>
<p>Sebagian salaf ketika bulan Ramadhan shalat tarawih sebanyak 36 rakaat terus ditambah witir 3 rakaat.</p>
<p>وبعضهم يصلي إحدى وأربعين،</p>
<p>Sebagian salaf yang lain shalat tarawih sebanyak 41 rakaat.</p>
<p>ذكر ذلك عنهم شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله وغيره من أهل العلم،</p>
<p>Kedua riwayat di atas disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan para ulama selainnya.</p>
<p>كما ذكر رحمة الله عليه أن الأمر في ذلك واسع، وذكر أيضا أن الأفضل لمن أطال القراءة والركوع والسجود أن يقلل العدد، ومن خفف القراءة والركوع والسجود زاد في العدد، هذا معنى كلامه رحمه الله.</p>
<p>Ibnu Taimiyyah juga menyebutkan bahwa permasalahan bilangan shalat malam adalah <strong>permasalahan yang ada kelonggaran di dalamnya</strong>. Ibnu Taimiyyah juga menyebutkan bahwa yang paling <em>afdhol </em>bagi orang yang mampu untuk berdiri, ruku dan sujud dalam waktu yang lama adalah mempersedikit jumlah rakaat yang dia lakukan. Sedangkan orang yang berdiri, ruku dan sujudnya tidak lama hendaknya memperbanyak jumlah rakaat yang dikerjakan. Inilah inti dari perkataan Ibnu Taimiyyah dalam masalah ini.</p>
<p>ومن تأمل سنته صلى الله عليه وسلم علم أن الأفضل في هذا كله هو صلاة إحدى عشرة ركعة، أو ثلاث عشرة ركعة، في رمضان وغيره؛</p>
<p>Siapa saja yang merenungkan dengan baik sunah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentu dia akan berkesimpulan bahwa bilangan rakaat shalat malam yang terbaik adalah 11 rakaat atau 13 rakaat baik di bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan.</p>
<p>لكون ذلك هو الموافق لفعل النبي صلى الله عليه وسلم في غالب أحواله، ولأنه أرفق بالمصلين وأقرب إلى الخشوع والطمأنينة ، ومن زاد فلا حرج ولا كراهية كما سبق.</p>
<p>Ada dua alasan untuk kesimpulan di atas:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, itulah yang sesuai dengan perbuatan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam mayoritas shalat malam yang beliau kerjakan</p>
<p><strong>Kedua</strong>, itulah yang lebih mudah bagi banyak orang sehingga orang-orang yang melakukannya bisa lebih khusyu’ dan tenang ketika mengerjakan shalat. Sedangkan orang yang ingin lebih dari 11 atau 13 rakaat maka hukumnya adalah mubah dan tidak makruh sebagai penjelasan di atas”.</p>
<p><strong>Sumber</strong>: Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawi’ah jilid 15 hal 18-19, terbitan Dar Ashda’ al Mujtama’ cetakan ketiga 1428 H.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Falergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1839&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/shalat-tarawih-bermakmum-dengan-ahli-bidah" title="Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah">Shalat Tarawih Bermakmum Dengan Ahli Bidah</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/lihat-orang-makan-karena-lupa" title="Lihat Orang Makan Karena Lupa">Lihat Orang Makan Karena Lupa</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran" title="Saling Berkunjung Ketika Lebaran">Saling Berkunjung Ketika Lebaran</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan" title="Syawal Bulan Peningkatan?">Syawal Bulan Peningkatan?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi" title="Memahami Silaturahmi">Memahami Silaturahmi</a> (15)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran" title="Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?">Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman" title="Hukum Sungkeman">Hukum Sungkeman</a> (17)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil" title="Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil">Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil</a> (20)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/seputar-puasa-daud" title="Seputar Puasa Daud">Seputar Puasa Daud</a> (77)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Silaturahmi</title>
		<link>http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 17:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[hukum silaturrahmi]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1806</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Apakah silaturahmi hanya boleh dilakukan dalam lingkungan keluarga sendiri, tidak boleh pada lingkungan orang lain? 081548843xxx Jawaban: Silaturahmi diambil dari kata-kata shilah dan rahim. Shilah berarti menyambung sedangkan rahim atau rahm adalah kekerabatan atau sebab-sebabnya (Mu’jam Wasith 1/335). Terdapat perselisihan di antara ulama tentang batasan kerabat yang wajib disambung dan haram untuk diputus. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmemahami-silaturahmi&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><strong>Tanya:</strong><br />
Apakah silaturahmi hanya boleh dilakukan dalam lingkungan keluarga sendiri, tidak boleh pada lingkungan orang lain? 081548843xxx</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Silaturahmi diambil dari kata-kata <em>shilah </em>dan <em>rahim</em>. <em>Shilah </em>berarti menyambung sedangkan <em>rahim </em>atau <em>rahm </em>adalah kekerabatan atau sebab-sebabnya (Mu’jam Wasith 1/335).</p>
<p>Terdapat perselisihan di antara ulama tentang batasan kerabat yang wajib disambung dan haram untuk diputus. Ada tiga pendapat dalam hal ini.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, kerabat yang masih berstatus mahram. Artinya seandainya salah satunya laki-laki dan yang lain perempuan maka tidak boleh menikah. Menurut pendapat ini maka anak paman dan anak bibi tidak termasuk kerabat yang tetap wajib disambung. Ulama yang berpendapat semisal ini beralasan terlarangnya menikahi seorang perempuan dengan bibinya sekaligus. Hal ini tidaklah diharamkan melainkan karena dikhawatirkan putusnya hubungan kekerabatan. Sehingga jika bukan mahram maka tidak ada hubungan kekarabatan yang dikhawatirkan putus.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, kerabat yang masih berstatus ahli waris. Yang berpendapat semisal ini berdalil dengan hadits,</p>
<p>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ قَالَ « أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ ».</p>
<p>Dari Abu Hurairah, ada seorang yang bertanya, “Ya, rasulullah siapakah orang yang paling berhak kuperlakukan dengan baik?” Nabi bersabda, “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian kerabat yang dekat dan yang dekat” (HR Muslim no 6665).</p>
<p>Dalam hadits ini hubungan yang Nabi perintahkan untuk  tetap dipelihara adalah kerabat yang dekat. Yang dimaksud kerabat yang dekat adalah yang masih berstatus ahli waris.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, semua kerabat baik mahram ataukah bukan, ahli waris ataukah bukan.</p>
<p>Pendapat ketiga ini dikomentari oleh Syeikh Abdullah Al Bassam, “Ini merupakan pendapat yang kuat namun bentuk menjalin hubungan kekerabatan itu berbeda-beda tergantung kedekatan hubungan dan kemampuan serta kebutuhan” (Lihat Taudhih al Ahkam 7/324-325).</p>
<p>Inilah pengertian rahim yang dimaksudkan dalam hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan silaturahmi. Oleh karena itu tidaklah tepat menggunakan hadits-hadits tentang keutamaan silaturahmi untuk memotivasi agar menjaga hubungan baik dengan sesama muslim dengan saling berkunjung saat hari raya atau yang lainnya.</p>
<p>Meskipun sesama muslim itu saudara,</p>
<p>الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “<em>Muslim itu saudara bagi muslim yang lain</em>” (HR Bukhari no 6951 dan Muslim no 6743 dari Ibnu Umar). Namun ini adalah ikatan kekerabatan dengan pengertian yang luas, sebagaimana yang dijelaskan oleh al Qurthubi.</p>
<p>قَالَ الْقُرْطُبِيّ : الرَّحِم الَّتِي تُوصَل عَامَّة وَخَاصَّة ، فَالْعَامَّة رَحِم الدِّين وَتَجِب مُوَاصَلَتهَا بِالتَّوَادُدِ وَالتَّنَاصُح وَالْعَدْل وَالْإِنْصَاف وَالْقِيَام بِالْحُقُوقِ الْوَاجِبَة وَالْمُسْتَحَبَّة . وَأَمَّا الرَّحِم الْخَاصَّة فَتَزِيد لِلنَّفَقَةِ عَلَى الْقَرِيب وَتَفَقُّد أَحْوَالهمْ وَالتَّغَافُل عَنْ زَلَّاتهمْ</p>
<p>Beliau mengatakan, “Rahim (kekerabatan) yang wajib dijaga itu ada dua, kekerabatan dalam makna luas dan kekerabatan dalam makna sempit. Kekebatan dalam makna luas adalah kekerabatan karena agama. Kekerabatan ini wajib dijaga dengan saling mencintai, saling memberi nasihat, bersikap adil dan menunaikan hak sesama muslim baik yang wajib maupun yang dianjurkan.</p>
<p>Sedangkan kekerabatan dalam makna sempit itu dijaga dengan memberi bantuan materi kepada kerabat, memperhatikan keadaan mereka dan mudah melupakan kesalahan mereka” (Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 17/115).</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmemahami-silaturahmi&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1806&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran" title="Saling Berkunjung Ketika Lebaran">Saling Berkunjung Ketika Lebaran</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan" title="Syawal Bulan Peningkatan?">Syawal Bulan Peningkatan?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat" title="Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?">Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?</a> (26)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran" title="Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?">Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman" title="Hukum Sungkeman">Hukum Sungkeman</a> (17)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil" title="Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil">Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil</a> (20)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/apakah-panitia-zakat-sama-dengan-amil" title="Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?">Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?</a> (14)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 22:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1756</guid>
		<description><![CDATA[Penjelasan dari Syaikh Sholih Al Munajjid dalam sitenya &#8220;Al Islam Sual wa Jawab&#8221; هل في السنة دعاء بعد ختم القرآن ؟ Adakah dalam sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam doa khataman al Qur’an? أرجو منكم إرسال دعاء ختم القرآن الكريم كما ورد في السنة النبوية . Aku berharap agar anda mengirimiku doa yang diucapkan ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fadakah-doa-khotaman-al-quran&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Penjelasan dari Syaikh Sholih Al Munajjid dalam sitenya &#8220;<a href="http://islamqa.com/ar">Al Islam Sual wa Jawab</a>&#8221;</p>
<p>هل في السنة دعاء بعد ختم القرآن ؟</p>
<p>Adakah dalam sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam doa khataman al Qur’an?</p>
<p>أرجو منكم إرسال دعاء ختم القرآن الكريم كما ورد في السنة النبوية .</p>
<p>Aku berharap agar anda mengirimiku doa yang diucapkan ketika khataman al Qur’an sebagaimana yang terdapat dalam sunah Nabi.</p>
<p>الحمد لله<br />
ليس في السنة النبوية دعاء خاص بعد ختم القرآن الكريم ، ولا حتى عن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أو الأئمة المشهورين ، ومن أشهر ما ينسب في هذا الباب الدعاء المكتوب في آخر كثير من المصاحف منسوباً لشيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله ، ولا أصل له عنه .<br />
انظر : &#8220;فتاوى الشيخ ابن عثيمين&#8221; (14/226) .</p>
<p>Jawaban, “Tidak terdapat dalam sunah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam doa khusus yang dibaca saat khataman al Qur’an. Demikian pula tidak terdapat doa khusus dalam hal ini yang berasal dari para sahabat Nabi atau imam yang terkenal. Dalam hal ini terdapat sebuah rangkaian doa yang terdapat di bagian akhir berbagai mushaf yang katanya merupakan rangkaian doa dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah namun ini adalah <strong>anggapan yang tidak berdasar</strong>. Silahkan cek Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 14/226.</p>
<p>والدعاء بعد ختم القرآن إما أن يكون بعد ختمه في الصلاة ، أو خارجها ، ولا أصل للدعاء بعد الختمة في الصلاة ، وأما خارجها فقد ورد فعله عن أنس رضي الله عنه .</p>
<p>Doa saat khataman al Qur’an ada dua kategori. (a) doa tersebut dibaca di dalam shalat, (b) doa tersebut dibaca di luar shalat. Tidak ada landasan syar’i yang akurat yang melegalkan pembacaan doa khataman al Qur’an dalam shalat. Sedangkan doa khataman al Qur’an di luar shalat itu <strong>dibolehkan </strong>berdasarkan perbuatan salah seorang sahabat Nabi, yaitu Anas <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>.</p>
<p>سئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : ما حكم دعاء ختم القرآن في قيام الليل في شهر رمضان ؟</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah </em>ditanya tentang apa hukum membaca doa khataman al Qur’an dalam shalat Tarawih saat bulan Ramadhan.</p>
<p>فأجاب : لا أعلم في ختمة القرآن في قيام الليل في شهر رمضان سنة عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا عن الصحابة أيضا ، وغاية ما ورد في ذلك أن أنس بن مالك رضي الله عنه كان إذا ختم القرآن جمع أهله ودعا . وهذا في غير الصلاة &#8221; انتهى .<br />
&#8220;فتاوى أركان الإسلام&#8221; (ص 354) .</p>
<p>Jawaban beliau, “Aku tidak mengetahui adanya hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>ataupun riwayat dari para sahabat yang menunjukkan dituntunkannya membaca doa khataman al Qur’an ketika shalat Tarawih di bulan Ramadhan. <strong>Yang ada hanyalah riwayat dari Anas bin Malik</strong>. Jika beliau mengkhatamkan al Qur’an beliau mengumpulkan anggota keluarga beliau lalu memanjatkan doa. Namun perbuatan Anas ini beliau lakukan <strong>di luar shalat</strong>” (Fatawa Arkan al Islam hal 354).</p>
<p>وللشيخ بكر أبو زيد رسالة نافعة في هذه المسألة ، ومما جاء في خاتمتها:</p>
<p>Syaikh Bakr Abu Zaid memiliki buku bagus yang khusus membahas permasalahan ini. Di bagian kesimpulan tertulis sebagai berikut:</p>
<p>من مجموع السياقات في الفصلين السالفين نأتي إلى الخاتمة في مقامين :</p>
<p>Dari berbagai riwayat yang telah dibahas di dua fasal di atas, berikut ini kami sampaikan dua poin kesimpulan.</p>
<p>المقام الأول : في مطلق الدعاء لختم القرآن :</p>
<p>Kesimpulan pertama, tentang doa khataman al Qur’an secara umum.</p>
<p>والمتحصل في هذا ما يلي :</p>
<p>Kesimpulan bahasan tentang hal ini adalah sebagai berikut:</p>
<p>أولاً :<br />
أن ما تقدم مرفوعا وهو في مطلق الدعاء لختم القرآن :<br />
لا يثبت منه شيء عن النبي صلى الله عليه وسلم , بل هو إما موضوع أو ضعيف لا ينجبر ،</p>
<p><strong>Pertama</strong>, kesimpulan tentang hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>terkait dengan doa khataman al Qur’an adalah tidak ada satu pun yang sahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>. Riwayat yang ada adalah hadits palsu atau hadits lemah yang tidak mungkin terangkat ke derajat hasan.</p>
<p>ويكاد يحصل القطع بعدم وجود ما هو معتمد في الباب مرفوعاً ؛ لأن العلماء الجامعين الذين كتبوا في علوم القرآن وأذكاره أمثال : النووي , وابن كثير , والقرطبي , والسيوطي , لم تخرج سياقاتهم عن بعض ما ذكر ، فلو كان لديهم في ذلك ما هو أعلى إسناداً لذكروه .</p>
<p>Kita hampir saja bisa menegaskan tentang tidak adanya hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang bisa dijadikan pegangan dalam beramal dalam masalah ini. Alasannya adalah para ulama yang menulis buku tentang ilmu-ilmu al Qur’an dan dzikir semisal an Nawawi, Ibnu Kasir, al Qurthubi dan Suyuthi seluruh riwayat yang mereka bawakan tentang doa khataman al Qur’an tidak lepas dari dua kemungkinan di atas. Seandainya mereka mengetahui adanya sanad yang lebih berkualitas tentang akan mereka sebutkan dalam karya-karya mereka.</p>
<p>ثانياً :<br />
أنه قد صح من فعل أنس بن مالك رضي الله عنه الدعاء عند ختم القرآن ، وجمع أهله وولده لذلك , وأنه قد قفاه (أي : تابعه) على ذلك جماعة من التابعين , كما في أثر مجاهد بن جبر رحمهم الله تعالى أجمعين .</p>
<p><strong>Kedua</strong>, terdapat riwayat yang shahih menceritakan perbuatan Anas bin Malik yang berdoa ketika khataman al Qur’an dan beliau mengumpulkan istri dan anak-anaknya untuk keperluan acara tersebut. Perbuatan Anas ini diikuti oleh sejumlah tabiin semisal Mujahid bin Jabar.</p>
<p>ثالثاً :<br />
أنه لم يتحصل الوقوف على شيء في مشروعية ذلك في منصوص الإمامين : أبي حنيفة والشافعي رحمهما الله تعالى</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, tidak dijumpai satu pun perkataan Imam Abu Hanifah dan Syafii yang membahas tentang disyariatkannya doa khataman al Qur’an.</p>
<p>وأن المروي عن الإمام مالك رحمه الله : أنه ليس من عمل الناس ، وأن الختم ليس سنة للقيام في رمضان .</p>
<p>Sedangkan dari Imam Malik diriwayatkan bahwa beliau mengatakan, “Doa khataman al Qur’an itu tidak pernah dilakukan oleh manusia (yang beliau jumpai) dan tidaklah termasuk sunah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membaca doa khataman al Qur’an dalam shalat Tarawih”.</p>
<p>رابعاً :<br />
أن استحباب الدعاء عقب الختم , هو في المروي عن الإمام أحمد رحمه الله تعالى , كما ينقله علماؤنا الحنابلة , وقرره بعض متأخري المذاهب الثلاثة .</p>
<p><strong>Keempat</strong>, menganjurkan untuk membaca doa khataman al Qur’an adalah pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad sebagaimana yang dinukil oleh para ulama yang bermazhab Hanbali dan ditetapkan oleh beberapa ulama generasi belakangan dari tiga mazhab (selain Hanbali).</p>
<p>المقام الثاني : في دعاء الختم في الصلاة :</p>
<p>Kesimpulan kedua mengenai doa khataman al Qur’an di dalam shalat.</p>
<p>وخلاصته فيما يلي :</p>
<p>Kesimpulannya adalah sebagai berikut:</p>
<p>أولاً :<br />
أنه ليس فيما تقدم من المروي حرف واحد عن النبي صلى الله عليه وسلم أو عن أحد من صحابته رضي الله عنهم يفيد مشروعية الدعاء في الصلاة بعد الختم قبل الركوع أو بعده لإمام أو منفرد .</p>
<p><strong>Pertama</strong>, berdasarkan riwayat-riwayat yang ada tidak dijumpai satupun riwayat dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ataupun satu pun sahabat yang menunjukkan dianjurkannya membaca doa khataman al Qur’an di dalam shalat baik sebelum ruku ataupun setelah ruku baik selaku imam ataupun selaku makmum.</p>
<p>ثانياً :<br />
أن نهاية ما في الباب هو ما يذكره علماء المذهب من الرواية عن الإمام أحمد رحمه الله تعالى في رواية حنبل والفضل والحربي عنه &#8211; والتي لم نقف على أسانيدها &#8211; : من جعل دعاء الختم في صلاة التراويح قبل الركوع .</p>
<p><strong>Kedua</strong>, maksimal yang bisa kita jumpai adalah apa yang disebutkan oleh para ulama mazhab Hanbali yang mengatakan bahwa Imam Ahmad sebagaimana dituturkan oleh Hanbal, al Fadhl dan al Harbi- namun sayang sanadnya sampai Imam Ahmad tidak terdeteksi-mengatakan bahwa doa khataman al Qur’an itu diletakkan sebelum ruku’ dalam shalat Tarawih.</p>
<p>وفي رواية عنه &#8211; لا يعرف مخرجها &#8211; : أنه سهل فيه في دعاء الوتر &#8230;<br />
انظر : &#8221; مرويات دعاء ختم القرآن &#8221; .</p>
<p>Dalam riwayat lain yang juga tidak diketahui ulama yang meriwayatkannya dengan bersanad, Imam Ahmad memberi kelonggaran untuk membaca doa khataman al Qur’an ketika shalat Witir”.</p>
<p>Untuk lebih detailnya silahkan baca buku <em>Marwiyat Doa Khatmil Qur’an </em>karya Syaikh Bakr Abu Zaid.</p>
<p>Sumber: http://islamqa.com/ar/ref/65581/sunnah</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fadakah-doa-khotaman-al-quran&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1756&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/meletakkan-buku-di-atas-mushaf-al-quran" title="Meletakkan Buku di atas Mushaf Al Quran">Meletakkan Buku di atas Mushaf Al Quran</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran" title="Saling Berkunjung Ketika Lebaran">Saling Berkunjung Ketika Lebaran</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan" title="Syawal Bulan Peningkatan?">Syawal Bulan Peningkatan?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat" title="Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?">Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?</a> (26)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi" title="Memahami Silaturahmi">Memahami Silaturahmi</a> (15)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bacaan-al-quran-untuk-ringtone-dan-nada-tunggu" title="Bacaan Al Qur&#8217;an untuk Ringtone dan Nada Tunggu">Bacaan Al Qur&#8217;an untuk Ringtone dan Nada Tunggu</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/status-riwayat-senandung-al-quran" title="Status Riwayat &#8220;Senandung Al Qur&#8217;an&#8221;">Status Riwayat &#8220;Senandung Al Qur&#8217;an&#8221;</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran" title="Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an">Sunnah yang Hilang: Bacaan Setelah Membaca Al Qur&#8217;an</a> (30)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman" title="Hukum Sungkeman">Hukum Sungkeman</a> (17)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Sungkeman</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 14:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ruku]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[sungkeman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1434</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah fatwa ulama yang kami dapatkan terkait dengan acara sungkeman atau sejenisnya yang hakikatnya adalah mencium tangan orang tua dalam kondisi badan dibungkukkan. Fatwa ini adalah penjelasan tambahan untuk sebagian pembaca blog ini yang telah mendiskusikan permasalahan ini bersama kami di kolom komentar. حكم تقبيل يد الوالدين Hukum Mencium Tangan Kedua Orang Tua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-sungkeman&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Berikut ini adalah fatwa ulama yang kami dapatkan terkait dengan acara sungkeman atau sejenisnya yang hakikatnya adalah <em>mencium tangan orang tua dalam kondisi badan dibungkukkan</em>. Fatwa ini adalah penjelasan tambahan untuk sebagian pembaca blog ini yang telah mendiskusikan permasalahan ini bersama kami di kolom komentar.<br />
حكم تقبيل يد الوالدين<br />
<em>Hukum Mencium Tangan Kedua Orang Tua</em><br />
رقم الفتوى<br />
8577<br />
تاريخ الفتوى<br />
27/9/1425 هـ &#8212; 2004-11-10<br />
No Fatwa: 8577<br />
Fatwa ini disampaikan pada tanggal 27 Ramadhan 1425 H atau 10 November 2004M<br />
السؤال<br />
هل يجوز تقبل أيادي الوالدين؟ ففي تقبيل يد الوالد أو الوالدة ما يؤدي إلى الانحناء والخضوع, ولا انحناء ولا خضوع إلا الله سبحانه وتعالى. فهل هذا حلال أم حرام؟ أفيدونا وجزاكم الله خيرًا.<br />
<strong>Tanya</strong>: Apakah diperbolehkan mencium tangan kedua orang tua padahal untuk mencium tangan ayah atau ibu mengharuskan kita untuk membungkukkan badan (baca: ruku) dan menunjukkan sikap ketundukkan (khudhu’) padahal tidak boleh membungkukkan badan dan kutundukkan hati kecuali hanya kepada Allah. Apakah cium tangan semacam ini boleh ataukah haram?<br />
الإجابة<br />
تقبيل يد الوالد أو الوالدة, أباحه بعض العلماء ومنعه آخرون. وهذا لا يسمى خضوعًا ولا انحناءً لغير الله؛ لأنه لم يقصد الانحناء لغير الله, ولكن الأولى أن يقبل رأسيهما.<br />
<strong>Jawaban</strong>:<br />
“Mencium tangan ayah atau ibu itu dibolehkan oleh sebagian ulama dan dilarang oleh sebagian ulama yang lain. Merundukkan badan yang terjadi saat mencium tangan ortu itu tidak bisa disebut sebagai merendahkan diri dan membungkuk (baca: ruku) kepada selain Allah karena pelakunya tidak meniatkan dengan hal tersebut sebagai ruku kepada selain Allah. Namun yang lebih baik adalah mencium dahi ortu.</p>
<p>فالإمام مالك يقول: إن تقبيل اليد هو السجدة الصغرى. والإمام الشافعي يمنع ذلك. وأباح بعض أهل العلم أيضًا تقبيل يد الوالدين, أو يد العالم. لكن الأولى ترك ذلك لله, فتقبيل رأس أمك أو رأس أبيك أفضل, ولا بأس. والله أعلم.</p>
<p>Imam Malik mengatakan, “Sesungguhnya cium tangan itu adalah sujud kecil-kecilan”. Imam Syafii juga melarang cium tangan. Namun sebagian ulama membolehkan cium tangan ortu atau cium tangan ulama. Namun yang lebih baik adalah meninggalkan hal tersebut karena Allah. <strong>Cium dahi ibu atau ayah (sebagai bentuk penghormatan) itulah yang lebih afdhol dan tidak mengapa untuk dilakukan</strong>”.</p>
<p>مصدر الفتوى: فتاوى سماحة الشيخ عبد الله بن حميد ص256 رقم الفتوى في مصدرها: 272</p>
<p>Fatwa ini dikutip dari buku Fatawa Samahatus Syeikh Abdullah bin Humaid hal 256 dengan nomor fatwa di buku tersebut 272.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.islamlight.net/alhomaid/index.php?option=com_ftawa&#038;task=view&#038;id=8577&#038;Itemid=31">http://www.islamlight.net/alhomaid/index.php?option=com_ftawa&#038;task=view&#038;id=8577&#038;Itemid=31</a></p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a></p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-sungkeman&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1434&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/turun-sujud-lutut-tangan" title="Lutut Dulu atau Tangan Dulu">Lutut Dulu atau Tangan Dulu</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-sujud-kepada-manusia" title="Hukum Sujud Kepada Manusia">Hukum Sujud Kepada Manusia</a> (3)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran" title="Saling Berkunjung Ketika Lebaran">Saling Berkunjung Ketika Lebaran</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan" title="Syawal Bulan Peningkatan?">Syawal Bulan Peningkatan?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat" title="Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?">Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?</a> (26)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi" title="Memahami Silaturahmi">Memahami Silaturahmi</a> (15)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran" title="Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?">Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pahami-dua-macam-sujud" title="Pahami Dua Macam Sujud">Pahami Dua Macam Sujud</a> (6)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil" title="Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil">Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil</a> (20)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil</title>
		<link>http://ustadzaris.com/mengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/mengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 20:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[qodho puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1321</guid>
		<description><![CDATA[Jika pada Ramadhan yang lalu ibu tidak berpuasa karena sakit atau bepergian jauh maka ibu berkewajiban mencari waktu yang longgar untuk melakukan puasa qadha meski itu setelah melahirkan dan menyusui. Artinya boleh jadi ibu berpuasa qadha setahun atau dua tahun lagi. Puasa qadha dalam hal ini tidak bisa diganti dengan fidyah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><strong>Tanya</strong>: “<em>Assalamu’alaikum.</em> Bagaimana cara saya mengganti puasa Ramadhan yang lalu sedangkan saat ini saya dalam keadaan hamil empat bulan dan puasa Ramadhan tahun depan ini sebentar lagi akan tiba? Terimakasih”. 08572997xxxx<span id="more-1321"></span><br />
<strong>Jawab</strong>:</p>
<p><em>Wa’alaikumussalam</em>.</p>
<p>Jika pada Ramadhan yang lalu ibu tidak berpuasa karena sakit atau bepergian jauh maka ibu berkewajiban mencari waktu yang longgar untuk melakukan puasa qadha meski itu setelah melahirkan dan menyusui. Artinya boleh jadi ibu berpuasa qadha setahun atau dua tahun lagi. Puasa qadha dalam hal ini tidak bisa diganti dengan fidyah.</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p>وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ</p>
<p>Yang artinya, “<em>Dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu</em>” (QS al Baqarah:185).</p>
<p>Demikian pula halnya, jika ibu memiliki hutang puasa karena haid. Hutang puasa karena haid tidak bisa dibayar dengan fidyah, harus berupa puasa.</p>
<p>عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.</p>
<p>Dari Mu’adzah, aku bertanya kepada Aisyah, “Mengapa wanita haid itu mengqadha puasa namun tidak mengqadha shalat (yang ditinggalkan selama haid, pent)?”.<br />
Aisyah mengatakan, “Apakah engkau adalah wanita Khawarij?”.<br />
Kukatakan, “Aku bukan wanita Khawarij namun aku sekedar bertanya”. Aisyah berkata, “Dulu (di zaman Nabi) kami mengalami hal tersebut lantas kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat” (HR Muslim no 789).
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/mengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1321&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran" title="Saling Berkunjung Ketika Lebaran">Saling Berkunjung Ketika Lebaran</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan" title="Syawal Bulan Peningkatan?">Syawal Bulan Peningkatan?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat" title="Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?">Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?</a> (26)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi" title="Memahami Silaturahmi">Memahami Silaturahmi</a> (15)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran" title="Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?">Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman" title="Hukum Sungkeman">Hukum Sungkeman</a> (17)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/apakah-panitia-zakat-sama-dengan-amil" title="Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?">Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?</a> (14)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/mengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/apakah-panitia-zakat-sama-dengan-amil</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/apakah-panitia-zakat-sama-dengan-amil#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 21:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[amil zakat]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islam]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=526</guid>
		<description><![CDATA[Sedangkan amil adalah orang yang diangkat oleh penguasa untuk mengambil zakat (bukan sekedar menerima zakat, pent).
Sehingga ayat di atas adalah dalil tegas yang menunjukkan bahwa penguasalah yang memiliki kewenangan untuk mengambil harta zakat. Kebenaran pernyataan ini semakin kuat dengan firman Allah,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fapakah-panitia-zakat-sama-dengan-amil&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Ketika menjelaskan firman Allah di surat at Taubat:60, Fakhruddin ar Razi mengatakan, “Kandungan hukum yang kedua, ayat di atas menunjukkan bahwa penguasa atau orang yang diangkat oleh penguasalah yang memiliki kewenangan untuk mengambil dan mendistribusikan harta zakat. Sisi pendalilannya, Allah menetapkan bahwa amil mendapatkan bagian dari zakat. Ini menunjukkan bahwa untuk membayarkan zakat harus ada amil.<span id="more-526"></span></p>
<p style="text-align: center;">والعامل هو الذي نصبه الإمام لأخذ الزكوات</p>
<p><strong>Sedangkan amil adalah orang yang diangkat oleh penguasa untuk mengambil zakat (bukan sekedar menerima zakat, pent).</strong><br />
Sehingga ayat di atas adalah dalil tegas yang menunjukkan bahwa penguasalah yang memiliki kewenangan untuk mengambil harta zakat. Kebenaran pernyataan ini semakin kuat dengan firman Allah,</p>
<p style="text-align: center;">خُذْ مِنْ أموالهم صَدَقَةً</p>
<p style="text-align: center;"><em>“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka” (QS at Taubah:103).</em></p>
<p>Oleh karena itu mengatakan bahwa pemilik harta itu diperbolehkan untuk membayarkan zakat hartanya yang tersembunyi (yaitu zakat uang, pent) secara langsung adalah berdasarkan dalil yang lain. Mungkin di antara dalil yang menunjukkan pernyataan ini adalah firman Allah,</p>
<p style="text-align: center;">وَفِى أموالهم حَقٌّ لَّلسَّائِلِ والمحروم</p>
<p style="text-align: center;"><em>“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta-minta” (QS adz Dzariyat:19).</em></p>
<p>Jika zakat adalah hak orang miskin yang meminta-minta dan yang tidak meminta-minta maka tentu dibolehkan menyerahkan zakat secara langsung kepada yang berhak menerima” (<em>Mafatiih al Ghaib atau Tafsir ar Razi</em> 8/77, Maktabah Syamilah).</p>
<p>Ketika membahas hadits Ibnu Abbas tentang pengutusan Muadz bin Jabal ke Yaman, Ibnu Hajar al Asqolani berkata, “Hadits ini bisa dijadikan dalil bahwa penguasalah yang memiliki otoritas untuk mengambil zakat dan menditribusikannya baik secara langsung ataupun melalui orang yang dia angkat. Barang siapa yang menolak untuk membayar zakat maka akan diambil secara paksa” (<em>Fathul Bari</em> 5/123 hadits no 1401, Maktabah Syamilah).<br />
Ibnu Humam al Hanafi mengatakan, “Makna tekstual dari firman Allah yang artinya, ‘Ambillah zakat dari harta mereka’ (QS at Taubah:103) menunjukkan bahwa hak mengambil zakat itu secara mutlak berada di tangan penguasa” (Fath al Qodir 3/478).</p>
<p>Ketika menjelaskan firman Allah dalam surat at Taubah ayat yang ke-60, al Qurthubi al Maliki mengatakan, “Yang dimaksud dengan amil zakat adalah para petugas yang diangkat oleh penguasa untuk mengumpulkan zakat dengan status sebagai wakil penguasa dalam masalah tersebut” (<em>al Jami’ li Ahkam al Qur’an</em>, 8/177 Maktabah Syamilah).</p>
<p>Asy Syaerozi asy Syafii mengatakan, “Penguasa memiliki kewajiban untuk mengangkat amil untuk mengambil zakat karena Nabi dan para khalifah setelahnya selalu mengangkat petugas zakat. Alasan lainnya adalah karena di tengah masyarakat ada orang yang memiliki harta namun tidak mengatahui kadar zakat yang wajib dikeluarkan. Demikian pula diantara mereka ada yang memiliki sifat pelit sehingga penguasa wajib mengangkat petugas. Petugas yang diangkat penguasa haruslah orang yang merdeka (bukan budak), baik agamanya dan bisa dipercaya karena status sebagai amil zakat adalah sebuah kekuasaan dan amanah. Sedangkan seorang budak dan orang yang fasik tidak berhak diberi kekuasaan dan amanah. Penguasa tidak boleh mengangkat sebagai amil zakat kecuali orang yang faham fiqih karena hal ini membutuhkan pengetahuan tentang harta yang wajib dizakati dan yang tidak wajib dizakati serta perlu adanya ijtihad berkaitan dengan berbagai permasalahan dan hukum zakat yang dihadapi”(<em>al Muhadzab</em> hal 308 dan<em> al Majmu’ Syarh al Muhadzab</em> 6/167, Maktabah Syamilah)</p>
<p>Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan, “Golongan ketiga yang berhak mendapatkan zakat adalah amil zakat. Amil zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa untuk mengambil zakat dari orang-orang yang berkewajiban untuk menunaikannya lalu menjaga dan mendistribusikannya. Mereka diberi zakat sesuai dengan kadar kerja mereka meski mereka sebenarnya adalah orang-orang yang kaya. Sedangkan orang biasa yang menjadi wakil orang yang berzakat untuk mendistribusikan zakatnya bukanlah termasuk amil zakat. Sehingga mereka tidak berhak mendapatkan harta zakat sedikitpun disebabkan status mereka sebagai wakil. Akan tetapi jika mereka dengan penuh kerelaan hati mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan penuh amanah dan kesungguhan  maka mereka turut mendapatkan pahala…. Namun jika mereka meminta upah karena telah mendistribusikan zakat maka orang yang berzakat berkewajiban memberinya upah dari hartanya yang lain bukan dari zakat” (<em>Majalis Syahri Ramadhan </em>hal 163-164, cet Darul Hadits Kairo).<br />
Sayid Sabiq mengatakan, “<strong>Amil zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa atau wakil penguasa untuk bekerja mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya.</strong> Termasuk amil zakat orang yang bertugas menjaga harta zakat, penggembala hewan ternak zakat dan juru tulis yang bekerja di kantor amil zakat” (Fiqh Sunnah 1/327, terbitan Dar al Fikr Beirut).</p>
<p>Syeikh Shalih al Fauzan, salah seorang ulama dari Arab Saudi, menjelaskan, “Amil zakat adalah para pekerja yang bertugas mengumpulkan harta zakat dari orang-orang yang berkewajiban membayar zakat lalu menjaganya dan mendistribusikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka bekerja berdasarkan perintah yang diberikan oleh penguasa kaum muslimin. Mereka diberi dari sebagian zakat sesuai dengan upah yang layak diberikan untuk pekerjaan yang mereka jalani kecuali jika pemerintah telah menetapkan gaji bulanan untuk mereka yang diambilkan dari kas Negara karena pekerjaan mereka tersebut. Jika demikian keadaannya, sebagaimana yang berlaku saat ini (di Saudi, pent), maka mereka tidak diberi sedikitpun dari harta zakat karena mereka telah mendapatkan gaji dari negara” (<em>al Mulakhash al Fiqhi</em> 1/361-362, cet Dar al ‘Ashimah Riyadh).</p>
<p>‘Adil bin Yusuf al ‘Azazi berkata, “Yang dimaksud dengan amil zakat adalah para petugas yang dikirim oleh penguasa untuk mengunpulkan zakat dari orang-orang yang berkewajiban membayar zakat. Demikian pula termasuk amil adalah orang-orang yang menjaga harta zakat serta orang-orang yang membagi dan mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka itulah yang berhak diberi zakat meski sebenarnya mereka adalah orang-orang yang kaya” (<em>Tamam al Minnah fi Fiqh al Kitab wa Shahih al Sunnah</em> 2/290, terbitan Muassasah Qurthubah Mesir).</p>
<p>Berdasarkan paparan di atas jelaslah bahwa syarat agar bisa disebut sebagai amil zakat adalah diangkat dan diberi otoritas oleh penguasa muslim untuk mengambil zakat dan mendistribusikannya sehingga panitia-panitia zakat yang ada di berbagai masjid serta orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai amil bukanlah amil secara syar’i. Hal ini sesuai dengan istilah amil karena yang disebut amil adalah pekerja yang dipekerjakan oleh pihak tertentu.<br />
Memiliki otoritas untuk mengambil dan mengumpulkan zakat adalah sebuah keniscayaan bagi amil karena amil memiliki kewajiban untuk mengambil zakat secara paksa dari orang-orang yang menolak untuk membayar zakat.</p>
<p>Sayid Sabiq berkata, “Siapa yang menolak untuk membayar zakat padahal dia menyakini kewajibannya maka dia berdosa karena tidak mau membayar zakat meski hal ini tidak mengeluarkannya dari Islam. Penguasa memiliki kewajiban untuk mengambil harta zakat tersebut secara paksa darinya serta memberikan hukuman atas sikap orang tersebut” (Fiqh Sunnah 1/281).
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fapakah-panitia-zakat-sama-dengan-amil&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/apakah-panitia-zakat-sama-dengan-amil"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=526&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/jual-beli-via-internet" title="Jual Beli via Internet">Jual Beli via Internet</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir" title="Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir">Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir</a> (8)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kuliah-ikhtilat-penuh-dilema" title="Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema">Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema</a> (25)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/semir-rambut-untuk-anak-perempuan" title="Semir Rambut untuk Anak Perempuan">Semir Rambut untuk Anak Perempuan</a> (16)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mencabut-rambut-antara-dua-alis" title="Mencabut Rambut Antara Dua Alis">Mencabut Rambut Antara Dua Alis</a> (6)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/toga-sarjana" title="Toga Sarjana">Toga Sarjana</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-lomba-maraton" title="Hukum Lomba Maraton">Hukum Lomba Maraton</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/zakat-untuk-penuntut-ilmu-dunia" title="Zakat untuk Penuntut Ilmu Dunia">Zakat untuk Penuntut Ilmu Dunia</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran" title="Saling Berkunjung Ketika Lebaran">Saling Berkunjung Ketika Lebaran</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan" title="Syawal Bulan Peningkatan?">Syawal Bulan Peningkatan?</a> (2)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/apakah-panitia-zakat-sama-dengan-amil/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.877 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-07 16:04:29 -->

