<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah &#187; idul adha</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/tag/idul-adha/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 03:00:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Nov 2010 06:59:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[awal dzulhijjah]]></category>
		<category><![CDATA[dzulhijjah]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=2147</guid>
		<description><![CDATA[Kami katakan bahwa dalam masalah ini Imam Ahmad berpedoman dengan hadits tentang seorang arab badui yang memberikan persaksian bahwa semalam hilal Ramadhan telah muncul maka Nabi memerintahkan para sahabat untuk berpuasa dengan dasar rukyah orang tersebut padahal rukyah orang arab badui tersebut terjadi di luar Madinah bahkan boleh jadi terjadi di daerah yang melebihi jarak qashar dengan Madinah. Namun dalam hadits di atas Nabi tidak meminta rincian kepada orang badui tentang posisi dia ketika melihat hilal. Cara berdalil Imam Ahmad ini tidak bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu Abdil Barr.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p style="text-align: right;">فصل<br />
<strong>مسألة رؤية بعض البلاد رؤية لجميعها فيها اضطراب</strong></p>
<p>Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Permasalahan apakah rukyah sebagian negeri kaum muslimin adalah rukyah untuk seluruh kaum muslimin adalah masalah yang diperselisihkan secara tajam.</p>
<p style="text-align: right;">فانه قد حكى ابن عبد البر الاجماع على ان الاختلاف فيما يمكن اتفاق المطالع فيه فاما ما كان مثل الاندلس وخراسان فلا خلاف انه لا يعتبر</p>
<p>Ibnu Abdil Barr menukil adanya ijma ulama bahwa perbedaan pendapat di antara para ulama itu berlaku untuk daerah yang memiliki kesamaan mathla’ (posisi terbitnya hilal). Sedangkan daerah yang berbeda mathla’ semisal Spanyol dengan Khurasan (sekitar Iran) maka tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa hilal yang terlihat di satu tempat tersebut tidaklah teranggap untuk penduduk yang tinggal di tempat yang lain.</p>
<p style="text-align: right;">قلت أحمد اعتمد فى الباب على حديث الاعرابى الذي شهد انه اهل الهلال البارحة فامر النبى الناس على هذه الرؤية مع انها كانت فى غير البلد وما يمكن ان تكون فوق مسافة القصر ولم يستفصله وهذا الاستدلال لا ينافى ما ذكره ابن عبد البر لكن ما حد ذلك</p>
<p>Kami katakan bahwa dalam masalah ini Imam Ahmad berpedoman dengan hadits tentang seorang arab badui yang memberikan persaksian bahwa semalam hilal Ramadhan telah muncul maka Nabi memerintahkan para sahabat untuk berpuasa dengan dasar rukyah orang tersebut padahal rukyah orang arab badui tersebut terjadi di luar Madinah bahkan boleh jadi terjadi di daerah yang melebihi jarak qashar dari Madinah. Namun dalam hadits di atas Nabi tidak meminta rincian kepada orang badui tentang posisi dia ketika melihat hilal. Cara berdalil Imam Ahmad ini tidak bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu Abdil Barr. Akan tetapi yang jadi pertanyaan adalah tolak ukur apa yang akan dipakai untuk menentukan teranggapnya rukyah hilal ataukah tidak teranggap?</p>
<p style="text-align: right;">والذين قالوا لا تكون رؤية لجميعها كأكثر اصحاب الشافعي منهم من حدد ذلك بمسافة القصر ومنهم من حدد ذلك بما تختلف فيه المطالع كالحجاز مع الشام والعراق مع خراسان</p>
<p>Para ulama yang berpendapat bahwa rukyah suatu daerah itu tidaklah otomatis menjadi rukyah untuk seluruh kaum muslimin semisal mayoritas Syafiiyyah ada yang menjadikan tolak ukur adalah jarak yang membolehkan qashar (kurang lebih 83 KM). Pendapat yang lain menjadikan tolak ukur adalah perbedaan mathla’ semisal Hijaz dengan Syam atau Irak dengan Khurasan.</p>
<p style="text-align: right;">وكلاهما ضعيف فان مسافة القصر لا تعلق لها بالهلال</p>
<p>Kedua pendapat di atas adalah pendapat yang lemah karena jarak yang membolehkan seorang musafir untuk mengqashar shalat itu tidak memiliki hubungan dengan permasalahan kemunculan hilal.</p>
<p style="text-align: right;">واما الاقاليم فما حدد ذلك ثم هذان خطأ من وجهين</p>
<p>Sedangkan perbedaan daerah bukanlah para meter yang bisa diukur. Di samping itu kedua pendapat di atas adalah pendapat yang keliru karena dua alasan.</p>
<p style="text-align: right;">أحدهما أن الرؤية تختلف باختلاف التشريق والتغريب فانه متى رؤي فى المشرق وجب ان يرى فى المغرب ولا ينعكس</p>
<p>Pertama, terlihat atau tidaknya hilal itu tergantung posisi di barat ataukah di timur. Jika hilal terlihat di daerah timur, otomatis terlihat di daerah barat. Namun tidak sebaliknya.</p>
<p style="text-align: right;">لانه يتأخر غروب الشمس بالمغرب عن وقت غروبها بالمشرق فاذا كان قد رؤي ازداد بالمغرب نورا وبعدا عن الشمس وشعاعها وقت غروبها فيكون احق بالرؤية</p>
<p>Tenggelamnya matahari di daerah barat itu lebih belakangan dari pada tenggelamnya matahari di daerah timur. Jika hilal sudah terlihat di daerah timur maka hilal semakin bercahaya dan jauh dari bulatan dan sinar matahari pada saat matahari tenggelam jika dilihat di daerah barat. Sehingga dalam kondisi ini orang yang berada di daerah barat lebih layak lagi untuk melihat kemunculan hilal.</p>
<p style="text-align: right;">وليس كذلك اذا رؤي بالمغرب لانه قد يكون سبب الرؤية تاخر غروب الشمس عندهم فازداد بعدا وضوءا ولما غربت بالمشرق كان قريبا منها</p>
<p>Lain halnya jika hilal terlihat di daerah barat. Boleh jadi yang menyebabkan orang yang berada di barat bisa melihat hilal adalah karena di tempat mereka tenggelamnya matahari lebih belakangan dibandingkan di daerah timur. Kondisi ini menyebabkan hilal lebih bercahaya dan posisi hilal lebih jauh dari matahari (sehingga hilal lebih mudah terlihat). Sedangkan ketika matahari tenggelam di daerah timur, posisi hilal dekat dengan matahari sehingga hilal tidak terlihat.</p>
<p style="text-align: right;">ثم إنه لما رؤي بالمغرب كان قد غرب عن اهل المشرق فهذا امر محسوس فى غروب الشمس والهلال وسائر الكواكب</p>
<p>Di samping itu ketika hilal terlihat di daerah barat, hilal telah tenggelam dalam pandangan orang yang tinggal di daerah timur. Ini adalah sebuah fakta empiris terkait dengan tenggelamnya matahari, hilal dan benda langit lainnya.</p>
<p style="text-align: right;">ولذلك اذا دخل وقت المغرب بالمغرب دخل بالمشرق ولا ينعكس</p>
<p>Oleh karena itu jika waktu shalat magrib sudah tiba di daerah barat otomatis waktu shalat magrib di daerah timur juga sudah tiba. Namun tidak sebaliknya.</p>
<p style="text-align: right;">وكذلك الطلوع اذا طلعت بالمغرب طلعت بالمشرق ولا ينعكس فطلوع الكواكب وغروبها بالمشرق سابق</p>
<p>Demikian pula jika matahari sudah terbit di daerah barat otomatis matahari sudah terbit di wilayah timur namun tidak sebaliknya. Jadi terbit dan tenggelamnya matahari di daerah timur itu lebih dahulu dari pada di daerah barat.</p>
<p style="text-align: right;">وأما الهلال فطلوعه ورؤيته بالمغرب سابق لانه يطلع من المغرب وليس فى السماء ما يطلع من المغرب غيره</p>
<p>Sedangkan hilal lebih dahulu muncul dan terlihat di daerah barat di bandingkan daerah timur karena hilal itu terbit di barat. Tidak ada benda angkasa yang terbit di barat selain hilal.</p>
<p style="text-align: right;">وسبب ظهوره بعده عن الشمس</p>
<p>Sebab hilal bisa terlihat dengan jelas adalah jika posisi hilal jauh dari posisi matahari.</p>
<p style="text-align: right;">فكلما تأخر غروبها ازداد بعده عنها</p>
<p>Sehingga jika tenggelamnya matahari itu makin belakangan maka posisi hilal semakin jauh dari matahari ( sehingga hilal semakin jelas terlihat).</p>
<p style="text-align: right;">فمن اعتبر بعد المساكن مطلقا فلم يتمسك بأصل شرعى ولا حسي</p>
<p>Jadi orang yang menjadikan tolak ukur terlihatnya hilal hanya posisi orang yang melihat jauh dari perkampungan adalah orang yang berpendapat tanpa dasar syariat dan tanpa dasar fakta empiris.</p>
<p style="text-align: right;">وأيضا فان هلال الحج ما زال المسلمون يتمسكون فيه برؤية الحجاج القادمين وان كان فوق مسافة القصر</p>
<p>Di samping itu terkait hilal Dzulhijjah, <strong>seluruh kaum muslimin selalu mendasari penetapan awal Dzulhijjah dengan rukyah para jamaah haji yang datang ke Mekkah dari berbagai penjuru dunia</strong> tanpa menimbang apakah posisi mereka ketika melihat hilal Dzulhijjah itu lebih dari 83 KM ataukah kurang dari itu.</p>
<p style="text-align: right;">الوجه الثانى أنه إذا اعتبرنا حدا كمسافة القصر او الاقاليم فكان رجل في آخر المسافة والاقليم فعليه ان يصوم ويفطر وينسك وآخر بينه وبينه غلوة سهم لا يفعل شيئا من ذلك</p>
<p>Kedua, jika yang kita jadikan tolak ukur adalah jarak yang membolehkan untuk mengqashar shalat atau daerah maka akan ada kejadian, <strong>seorang muslim yang tinggal di ujung daerah atau dekat tapal batas jarak qashar wajib berpuasa Ramadhan, berhari raya Idul Fitri dan menyembelih hewan qurban</strong> namun muslim lain yang menjadi tetangganya tidak melakukan hal-hal di atas karena alasan beda daerah atau karena di atas jarak qashar.</p>
<p style="text-align: right;">وهذا ليس من دين المسلمين</p>
<p>Tentu saja kemungkinan di atas bukanlah bagian dari ajaran Islam.</p>
<p style="text-align: right;">فالصواب فى هذا والله أعلم ما دل عليه قوله صومكم يوم تصومون وفطركم يوم تفطرون وأضحاكم يوم تضحون فإذا شهد شاهد ليلة الثلاثين من شعبان أنه رآه بمكان من الأمكنة قريب أو بعيد وجب الصوم</p>
<p>Wal hasil, pendapat yang benar dalam masalah di atas adalah isi kandungan hadits Nabi, “Awal Ramadhan adalah hari di mana kalian semua berpuasa. Idul Fitri adalah hari di mana kalian semua merayakan Idul Fitri. Idul Adha adalah hari di mana kalian semua merayakan Idul Adha”. Sehingga jika ada seorang saksi pada malam 30 Sya’ban yang mengatakan bahwa dia telah melihat hilal Ramadhan di tempat mana pun baik posisinya jauh dari domisili penguasa yang dia lapori ataupun tidak maka wajib berpuasa Ramadhan”.</p>
<p><strong>Sumber:<br />
Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah jilid 25 hal 103-105, cetakan standar.</strong></p>
<p>Artikel <a href="http://www.ustadzaris.com" target="_blank">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=2147&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah" title="Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah">Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji" title="Menjaga Kemabruran Haji">Menjaga Kemabruran Haji</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hari-arofah-ikut-siapa" title="Hari Arofah, Ikut Siapa?">Hari Arofah, Ikut Siapa?</a> (28)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/khotbah-hari-raya" title="Khutbah Ied Dimulai Dengan Takbir">Khutbah Ied Dimulai Dengan Takbir</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jika-pemerintah-menetapkan-hari-raya-dengan-hisab" title="Jika Pemerintah Menetapkan Hari Raya Dengan Hisab">Jika Pemerintah Menetapkan Hari Raya Dengan Hisab</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain" title="Antara Dua Arbain">Antara Dua Arbain</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/berdzikir-di-hari-tasyriq" title="Berdzikir di Hari Tasyriq">Berdzikir di Hari Tasyriq</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adab-menyembelih-hewan-qurban" title="Adab Menyembelih Hewan Qurban">Adab Menyembelih Hewan Qurban</a> (21)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hari-raya-yang-sunah-dan-yang-bid%e2%80%99ah" title="Hari Raya yang Sunah dan yang Bid’ah">Hari Raya yang Sunah dan yang Bid’ah</a> (12)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Nov 2010 05:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bimbingan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[hilal]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=2134</guid>
		<description><![CDATA[“Adanya perselisihan tentang penentuan awal Ramadhan itu berlaku jika pemerintah tidak menetapkan keputusan dalam masalah tersebut. Jika pemerintah memutuskan dengan apa yang menjadi pendapatnya maka seluruh rakyat wajib berpuasa dan keputusan pemerintah tidak boleh dilanggar”]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Ffatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Pimpinan Sidang Komisi A<br />
Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia<br />
Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia<br />
Tentang<br />
Fatwa Bunga (Interest/Faidah), Terorisme dan Penetapan Awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah<br />
Memutuskan<br />
Menetapkan:<br />
B. Fatwa Tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah:</p>
<ol>
<li>Penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode ru’yah dan hisab.</li>
<li>Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah.</li>
<li>Dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam dan instansi terkait.</li>
</ol>
<p>Rekomendasi:<br />
Agar Majelis Ulama Indonesia mengusahakan adanya kriteria penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah untuk dijadikan pedoman oleh Menteri Agama dengan membahasnya bersama ormas-ormas Islam dan para ahli terkait.</p>
<p><strong>Dasar-Dasar Penetapan Fatwa:</strong><br />
<strong>Pertama</strong>, Hadits riwayat Bukhari Muslim dari Ibnu Umar:<br />
<strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>لا تصوموا حتي تروا الهلال ولا تفطروا حتي تروه فإن غم عليكم فاقدروا له</strong></p>
<p>“Janganlah kamu berpuasa (Ramadhan) sehingga melihat tanggal (satu Ramadhan) dan janganlah berbuka (mengakhiri puasa Ramadhan) sehingga melihat tanggal (satu Syawal). Jika dihalangi oleh awan/mendung maka kira-kirakanlah”</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Hadits riwayat Bukhari Muslim dari Abu Hurairah:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته  فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين</strong></p>
<p>“Berpuasalah (Ramadhan) karena melihat tanggal (satu Ramadhan). Dan berbukalah (mengakhiri puasa Ramadhan) karena melihat tanggal (satu Syawal). Apabila kamu terhalangi sehingga tidak dapat melihatnya maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari”</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Firman Allah QS Yunus [10]:5</p>
<p style="text-align: center;"><strong>هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ (٥)</strong></p>
<p>“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)”.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Firman Allah QS an Nisa’[4]:59</p>
<p style="text-align: center;"><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ (٥٩)</strong></p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, Hadits riwayat Bukhari (demikian yang tercantum dalam teks fatwa MUI, &#8211;Aris) dari Irbadh bin Sariyah:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>عليكم بالسمع والطاعة وإن ولي عليكم عبد حبشي</strong></p>
<p>“Wajib bagi kalian untuk taat (kepada pemimpin) meskipun yang memimpin kalian itu seorang hamba sahaya habsyi”.</p>
<p><strong>Keenam</strong>, Kaidah Fiqhiyah</p>
<p style="text-align: center;"><strong>حكم الحاكم إلزام ويرفع الخلاف</strong></p>
<p>“Keputusan pemerintah itu mengikat (wajib dipatuhi) dan menghilangkan silang pendapat”</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, Imam al Syarwani dalam Hasyiyah al Syarwani:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>ومحل الخلاف إذا لم يحكم به حاكم، فإن حكم به حاكم يراه وجب الصوم علي الكافة ولم ينقض</strong></p>
<p>“Adanya perselisihan tentang penentuan awal Ramadhan itu berlaku jika pemerintah tidak menetapkan keputusan dalam masalah tersebut. Jika pemerintah memutuskan dengan apa yang menjadi pendapatnya maka seluruh rakyat wajib berpuasa dan keputusan pemerintah tidak boleh dilanggar”</p>
<p>Jakarta, 22 Syawal 1424 H/ 16 Desember 2003 M<br />
Pimpinan Sidang Komisi B<br />
<strong>Ketua</strong>: KH Ma’ruf Amin<br />
<strong>Sekretaris</strong>: Drs. H. Hasanuddin, M.Ag</p>
<p><strong>Sumber</strong>:<br />
Buku Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia hal 724-725, penerbit Sekretariat MUI, Jakarta, 2010, edisi ketiga.</p>
<p>Artikel: <a href="www.ustadzaris.com" target="_blank">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Ffatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=2134&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/hari-arofah-ikut-siapa" title="Hari Arofah, Ikut Siapa?">Hari Arofah, Ikut Siapa?</a> (28)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jika-pemerintah-menetapkan-hari-raya-dengan-hisab" title="Jika Pemerintah Menetapkan Hari Raya Dengan Hisab">Jika Pemerintah Menetapkan Hari Raya Dengan Hisab</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah" title="Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?">Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji" title="Menjaga Kemabruran Haji">Menjaga Kemabruran Haji</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/khotbah-hari-raya" title="Khutbah Ied Dimulai Dengan Takbir">Khutbah Ied Dimulai Dengan Takbir</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/minta-fatwa-pada-hatimu" title="Minta Fatwa pada Hatimu">Minta Fatwa pada Hatimu</a> (1)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/amplop-hasil-khutbah-jumat" title="Amplop Hasil Khutbah Jum&#8217;at">Amplop Hasil Khutbah Jum&#8217;at</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain" title="Antara Dua Arbain">Antara Dua Arbain</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/berdzikir-di-hari-tasyriq" title="Berdzikir di Hari Tasyriq">Berdzikir di Hari Tasyriq</a> (12)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Dua Arbain</title>
		<link>http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 00:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[arba'in]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[madinah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid nabawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=2108</guid>
		<description><![CDATA[Dari Nubaith bin Umar dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barang siapa yang mengerjakan shalat di masjidku (baca: masjid nabawi) dalam keadaan tidak tertinggal satu pun shalat maka akan dicatat untuknya keterbebasan dari api neraka dan keselamatan dari kemunafikan” (HR Ahmad no 12605, Syeikh Syu’aib al Arnauth mengatakan, “Sanadnya lemah karena jati diri Nubaith bin Umar itu tidak diketahui”. Dalam Silsilah Shahihah no 2652, Al Albani menilai hadits ini sebagai hadits yang munkar dan munkar termasuk hadits yang lemah).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fantara-dua-arbain&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>عَنْ نُبَيْطِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « مَنْ صَلَّى فِى مَسْجِدِى أَرْبَعِينَ صَلاَةً لاَ يَفُوتُهُ صَلاَةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ ».</p>
<p>Dari Nubaith bin Umar dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau bersabda, “<em>Barang siapa yang mengerjakan empat puluh shalat di masjidku (baca: masjid nabawi) dalam keadaan tidak tertinggal satu pun shalat maka akan dicatat untuknya keterbebasan dari api neraka dan keselamatan dari kemunafikan</em>” (HR Ahmad no 12605, Syeikh Syu’aib al Arnauth mengatakan, “<strong>Sanadnya lemah</strong> karena jati diri Nubaith bin Umar itu tidak diketahui”. Dalam Silsilah Shahihah no 2652, Al Albani menilai hadits ini sebagai hadits yang munkar dan munkar termasuk hadits yang lemah).</p>
<p>Inilah yang menjadi dasar banyak orang yang mengharuskan dirinya untuk berada selama sepekan di kota Madinah pada saat mereka mengerjakan ibadah haji. Sehingga istilah arbain dengan pengertian shalat sebanyak empat puluh kali di masjid Nabawi adalah sebuah istilah yang demikian populer pada banyak kalangan.</p>
<p>Semangat untuk selalu mengerjakan shalat dengan berjamaah terutama di masjid nabawi adalah amal yang sangat terpuji. Bahkan menurut pendapat yang kuat shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki itu hukumnya wajib ‘ain.</p>
<p>Akan tetapi yang memotivasi amal tersebut adalah sebuah hadits yang lemah tentu sangat disayangkan. Lebih ironi lagi jika mewajibkan untuk berada di kota Madinah selama sepekan dalam rangka mendapatkan keutamaan arbain ini.</p>
<p>Andai motivasi untuk melakukan arbain tersebut adalah hadits yang kuat berikut ini tentu lain lagi keadaannya.</p>
<p>عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِى جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ ».</p>
<p>Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “<em>Barang siapa mengerjakan shalat secara ikhlas karena Allah selama empat puluh hari dengan berjamaah dan dengan mendapatkan takbiratul ihram maka dicatat untuknya dua kebebasan, bebas dari neraka dan bebas dari kemunafikan</em>” (HR Tirmidzi no 241 dan dinilai hasan oleh Al Albani).</p>
<p>Tentang makna hadits ini ath Thibi berkata, “Di dunia Allah akan menyelamatkannya dari beramal sebagaimana amal orang munafik dan Allah beri taufik untuk beramal sebagaimana amal orang yang ikhlas dalam beramal. Sedangkan di akherat nanti Allah akan menyelamatkannya dari berbagai amal yang menyebabkan orang munafik disiksa dan Allah akan bersaksi bahwa dia bukanlah seorang munafik. Artinya sesungguhnya orang-orang munafik jika hendak mengerjakan shalat mereka berdiri dengan malas sedangkan keadaan orang tersebut jelas sangat berbeda”(Tuhfatul Ahwadzi 1/274, Maktabah Syamilah).</p>
<p>Akan tetapi dalam hadits ini <em>tidaklah dipersyaratkan harus masjid nabawi </em>sehingga keutamaan yang dikandung oleh hadits ini juga bisa didapatkan oleh orang yang belum memiliki kemampuan untuk menunaikan ibadah haji.</p>
<p>Sungguh benar apa yang Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam katakan bahwa nilai suatu amal itu sangat tergantung motivasi yang mendorongnya. Ada amal yang nampak sama namun yang satu mengamalkan hadits yang lemah sedangkan yang lain mengamalkan hadits yang bisa dijadikan dasar untuk beramal.</p>
<p>Oleh karena itu jika ada jamaah haji yang mengejar ‘arbain’ karena hadits yang berstatus hasan ini maka tidak bisa dinilai salah. Berbeda jika ‘arbain’ yang diburu adalah arbain yang ada dalam hadits pertama di atas.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan adanya keutamaan bagi orang yang mendapatkan takbiratul ihram bersama imam. Penulis Tuhfatul Ahwadzi mengatakan, “Oleh karena itu mendapatkan takbiratul ihram bersama imam hukumnya adalah sunnah muakkadah/sangat dianjurkan. Para ulama salaf jika mereka tidak mendapatkan takbitarul ihram bersama imam maka mereka demikian sedih sehingga mereka sampai-sampai menghibur hatinya selama tiga hari. Sedangkan jika mereka tertinggal shalat berjamaah maka mereka perlu menghibur diri mereka sendiri selama tujuh hari karena demikian sedihnya” (Tuhfatul Ahwadzi 1/274, Syamilah).</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fantara-dua-arbain&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=2108&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji" title="Menjaga Kemabruran Haji">Menjaga Kemabruran Haji</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hadyu-umroh-sunnah-yang-hilang" title="Hadyu Umroh, Sunnah Yang Hilang">Hadyu Umroh, Sunnah Yang Hilang</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/haji-wajib-boleh-tanpa-mahram" title="Haji Wajib Boleh Tanpa Mahram">Haji Wajib Boleh Tanpa Mahram</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/anggapan-salah-tentang-masjid-nabawi" title="Anggapan Salah Tentang Masjid Nabawi">Anggapan Salah Tentang Masjid Nabawi</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-hotel-di-mina" title="Hukum Hotel di Mina">Hukum Hotel di Mina</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah" title="Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?">Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah" title="Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah">Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/haji-ke-bangladesh" title="JT Berhaji ke Bangladesh?">JT Berhaji ke Bangladesh?</a> (20)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/berdzikir-di-hari-tasyriq" title="Berdzikir di Hari Tasyriq">Berdzikir di Hari Tasyriq</a> (12)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ucapan Selamat Hari Raya</title>
		<link>http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 23:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[hari besar]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya islam]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[idul fithri]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[selamat]]></category>
		<category><![CDATA[tahniah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1867</guid>
		<description><![CDATA[Di antara penghormatan yang dituntunkan pada hari ied yang merupakan faktor yang sangat efektif untuk mewujudkan kesatuan dan kedekatan hati adalah ucapan selamat hari raya yang diucapkan oleh para sahabat ketika bersua dengan sesama mereka. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fucapan-selamat-hari-raya&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>الجواب المفيد عن حكم التهنئة بالعيد</p>
<p>Hukum Ucapan Selamat Hari Raya</p>
<p>وإن من التحية المشروعة يوم العيد والتي تكون سببا قويا من أسباب تأليف القلوب وتحابها التهنئة بالعيد التي كان الصحابة يقولها بعضهم لبعض ،</p>
<p>Di antara penghormatan yang dituntunkan pada hari ied yang merupakan faktor yang sangat efektif untuk mewujudkan kesatuan dan kedekatan hati adalah ucapan selamat hari raya yang diucapkan oleh para sahabat ketika bersua dengan sesama mereka.</p>
<p>وهذه التهنئة ليست خاصة بعيد دون آخر ، بل هي مشروعة في كلا العيدين.</p>
<p>Ucapan selamat ini tidak hanya berlaku untuk idul fitri saja bahkan berlaku untuk dua hari raya idul fitri dan idul adha.</p>
<p>بعضهم زعم أن التهنئة خاصة بعيد الفطر دون عيد الأضحى ، وهذا قول غريب ليس عليه آثار من آثار العلم والهدى ، ولا هو من هدي صحابة المصطفى.</p>
<p>Sebagian orang beranggapan bahwa ucapan selamat hari raya tersebut hanya berlaku untuk iedul fitri tanpa iedul adha. Ini adalah pendapat yang aneh, tidak berdalil dan tidak demikian yang dicontohkan oleh para shahabat Nabi.</p>
<p>ذكر الآثار الواردة في التهنئة يوم العيد</p>
<p>Riwayat-riwayat tentang ucapan selamat hari raya</p>
<p>وردت طائفة طيبة من الآثار جاء فيها ذكر التهنئة بالعيد واستحبابها ، ذكر منها البيهقي طائفة لا بأس بها في سننه الكبرى ( ج3 / 319 ).</p>
<p>Ada sejumlah riwayat yang menyinggung ucapan selamat hari raya bahkan menganjurkannya. Sebagian besar diantaranya telah disebutkan oleh al Baihaqi dalam Sunan Kubro juz 3 hal 319.</p>
<p>فقال رحمه الله : باب ما روي في قول الناس يوم العيد بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك</p>
<p>Al Baihaqi mengatakan, “Bab berisi riwayat tentang ucapan selamat ketika hari ied dengan kata-kata taqabballahu minna wa minka”</p>
<p>عن خالد بن معدان قال لقيت واثلة بن الأسقع في يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . فقال : نعم ، تقبل الله منا ومنك . قال واثلة لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . قال : نعم ، تقبل الله منا ومنك .</p>
<p>Dari Khalid bin Ma’dan, “Aku berjumpa dengan Watsilah bin al Asqa’ pada hari ied lantas kukatakan taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban beliau, “Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”. Watsilah lantas bercerita bahwa beliau berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu beliau mengucapkan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”</p>
<p>أخبرنا أبو سعد الماليني وبنفس السند إلى واثلة بن الأسقع  قال لقيت رسول الله  يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك.قال:نعم،تقبل الله منا ومنك .</p>
<p>Abu Saad al Maliyani juga meriwayatkan dengan sanad yang sama dengan yang di atas sampai ke Watsilah bin al Asqa’, beliau mengatakan, “Aku berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu kukatakan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”</p>
<p>أخبرنا أبو سعد الماليني قال : قال أبو أحمد بن عدي الحافظ هذا منكر لا أعلم يرويه عن بقية غير محمد بن إبراهيم هذا .</p>
<p>Al Hafizh Abu Ahmad bin Adi mengatakan, “Hadits ini statusnya adalah munkar (baca:lemah). Setahuku tidak ada yang meriwayatkan dari Baqiyah kecuali Muhammad bin Ibrahim ini”.</p>
<p>قال الشيخ رحمه الله ( يعني البيهقي ) قد رأيته بإسناد آخر عن بقية موقوفا غير مرفوع ، ولا أراه محفوظا .</p>
<p>Al Baihaqi mengatakan, “Aku pernah menjumpai sanad yang lain dari Baqiyyah secara mauquf, bukan marfu namun aku tidak menilainya sebagai hadits yang mahfuzh”</p>
<p>قلت : بقية مدلس ، وقد عنعنه ، ثم قد اختلف عليه فيه فمرة يرويه مرفوعا وأخرى موقوفا ، فالحديث ضعيف لهاتين العلتين والله أعلم .</p>
<p>Kesimpulannya, Baqiyah adalah seorang mudallis dan dalam sanad di atas dia menggunakan ‘an yang berarti dari. Yang kedua riwayat dari Baqiyah itu kontradiktif terkadang dalam bentuk marfu’ dan terkadang dalam bentuk mauquf. Sehingga hadits di atas adalah hadits yang lemah dengan dua sebab di atas.</p>
<p>أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب حدثنا العباس بن محمد حدثنا أحمد بن إسحاق حدثنا عبد السلام البزاز عن أدهم مولى عمر بن عبد العزيز قال :<br />
كنا نقول لعمر بن عبد العزيز في العيدين تقبل الله منا، ومنك يا أمير المؤمنين فيرد علينا ولا ينكر ذلك علينا .</p>
<p>Dari Adham, bekas budaknya Umar bin Abdul Aziz, “Kami mengatakan kepada Umar bin Abdul Azizi ketika Iedul Fitri dan Adha, taqabbalallu minna wa minka wahai pemimpin orang-orang yang beriman. Beliau menjawab ucapan kami dan tidak menyalahkan kami”.</p>
<p>قال ابن التركماني رحمه الله في ذيله على السنن الكبرى المسمى&lt; &lt; الجوهر النقي على سنن البيهقي ( ج 3/ 320 ): في هذا الباب حديث جيد أغفله البيهقي وهو حديث محمد بن زياد قال: كنت مع أبي أمامة الباهلي وغيره من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فكانوا إذا رجعوا يقول بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك . قال أحمد بن حنبل إسناده إسناد جيد</p>
<p>Ibnu Turkumani dalam Dzail (baca:tambahan) beliau untuk Sunan Kubro yang berjudul al Jauhar al Naqiyyi ‘ala Sunan al Baihaqi juz 3 hal 320 mengatakan, “Dalam masalah ini terdapat hadits dengan kualitas jayyid yang tidak disebutkan oleh al Baihaqi. Itulah hadits Muhammad bin Ziyad, “Aku bersama dengan Abu Umamah al Bahili dan sejumlah sahabat Nabi yang lain. Jika mereka pulang dari shalat Ied sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain taqabbalallahu minna wa minka”. Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa sanad hadits ini adalah berkualitas jayyid.</p>
<p>قال العلامة الشيخ الألباني رحمه الله تمام المنة ( 355 (356- بعد أن ساق كلام ابن التركماني في الجوهر النقي: لم يذكر من رواه – أي ابن التركماني- وقد عزاه السيوطي لزاهر أيضا بسند حسن عن محمد بن زياد الألهاني قال: رأيت أبا أمامة الباهلي يقول في العيد لأصحابه : تقبل الله منا ومنكم</p>
<p>Al Albani dalam Tamam al Minnah 355-356 setelah membawakan perkataan Ibnu Turkumani dalam al Jauhar al Naqiyy mengatakan, “Ibnu Turkumani tidak menyebutkan siapa yang meriwayatkan atsar tersebut. Sedangkan Suyuthi mengatakan bahwa atsar tersebut diriwayatkan oleh Zahir dengan sanad yang hasan dari Muhammad bin Ziyad al Alhani, “Aku melihat Abu Umamah al Bahili mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum kepada kawan-kawannya”.</p>
<p>قلت : فقد صح الأثر والحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات بشهادة ثلاثة من فحول وفرسان علم الحديث.</p>
<p>Kesimpulannya atsar di atas adalah riwayat yang sahih berdasarkan penilaian tiga pakar hadits, Imam Ahmad, Ibnu Turkumani dan Suyuthi.</p>
<p>قال الحافظ ابن حجر في فتح الباري (ج2/ ص446) : ورينا في المحامليات بإسناد حسن عن جبير بن نفير قال: كان أصحاب رسول الله إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض:تقبل الله مناومنك &gt;&gt;</p>
<p>Dalam Fathul Bari juz 2 hal 446, al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Kami mendapatkan riwayat dalam al Mahamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair, beliau menceritakan bahwa para shahabat Nabi jika saling berjumpa pada hari ied mereka saling mengatakan taqabbalallahu minna wa minka”.</p>
<p>وأنظر أيضا تمام المنة للشيخ الألباني رحمه الله( ص354 – 355).</p>
<p>Bacalah Tamam al Minnah karya al Albani pada hal 354-355.</p>
<p>وفيه من الفوائد :</p>
<p>Beberapa petikan pelajaran</p>
<p>1- قوله : كنت مع أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه .. حرص التابعين على التعلم من الصحابة والاقتداء فيما يقومون به من أعمال .</p>
<p><strong>Pertama, </strong>atsar dari Abu Umamah menunjukkan betapa besar antusias para tabiin untuk belajar dari para shahabat dan meneladani amal yang dilakukan oleh para shahabat.</p>
<p>2- وقوله وغيره من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ،وقول جبير بن نفير : كان أصحاب رسول الله ، يعني ثبت عن مجموع الصحابة، وليس عن أبي أمامة فقط ..</p>
<p><strong>Kedua, </strong>atsar dari Abu Umamah dan dari Jubair bin Nufair menunjukkan bahwa ucapan taqabbalallahu minna wa minka itu dilakukan oleh sejumlah sahabat, bukan hanya Abu Umamah al Bahili.</p>
<p>3- أن قول ذلك كان عند رجوعهم وانصرافهم من صلاة العيد .</p>
<p><strong>Ketiga, </strong>ucapan ini diucapkan sepulang para sahabat dari shalat ied.</p>
<p>4- وأن ذلك يكون منهم في يوم العيد كما جاء في رواية جبير بن نفير قال: كان أصحاب رسول الله إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض:تقبل الله مناومنك.</p>
<p><strong>Keempat, </strong>ucapan tersebut diucapkan oleh para shahabat pada hari ied sebagaimana dalam atsar dari Jubair bin Nufair.</p>
<p>Penjelasan Para Ulama tentang Ucapan Selamat Ied</p>
<p>وقد سئل شيخ الإسلام ابن تيميه قدس الله روحه : هل التهنئة في العيد وما يجري على ألسنة الناس : &lt; &lt; عيدك مبارك &gt;&gt; وما أشبهه ، هل له أصل في الشريعة ؟ أم لا؟ وإذا كان له أصل في الشريعة فما يقال ؟ أفتونا مأجورين .</p>
<p>Ibnu Taimiyyah pernah ditanya, “Apakah ucapan selamat hari raya yang biasa diucapkan oleh banyak orang semisal “Ied Mubarak” memiliki dasar dalam agama ataukah tidak? Jika memang memiliki dasar dalam ajaran agama lalu ucapan apa yang tepat? Berilah kami fatwa”.</p>
<p>الجواب: أما التهنئة يوم العيد يقول بعضهم لبعض إذا لقيه بعد صلاة العيد : تقبل الله منا ومنك. وأحاله الله عليك، ونحو ذلك، فهذا قد روي عن طائفة من الصحابة أنهم كانوا يفعلونه ، ورخص فيه الأئمة كأحمد وغيره .</p>
<p>Jawaban Ibnu Taimiyyah, “Ucapan taqabbalallahu minna wa minka atau ucapan ahalahullahu ‘alaika yang dijadikan sebagai ucapan selamat hari raya yang diucapkan ketika saling berjumpa sepulang shalat hari raya adalah ucapan yang diriwayatkan dari sejumlah shahabat bahwa mereka melakukannya. Karenanya banyak ulama semisal Imam Ahmad membolehkan hal tersebut.</p>
<p>لكن قال أحمد أنا لا أبتدئ أحدا ، فإن ابتدأني أحد أجبته ، وذلك لأن جواب التحية واجب ، وأما الإبتداء بالتهنئة فليس سنة مأمورا بها ، ولا هو أيضا مما نهي عنه ،</p>
<p>Akan tetapi Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului untuk mengucapkan selamat hari raya namun jika ada yang memberi ucapan selamat hari raya kepadaku maka pasti akan aku jawab”. Beliau mengatakan demikian karena menjawab penghormatan hukumnya wajib sedangkan memulai mengucapkan selamat hari raya bukanlah sunnah Nabi yang diperintahkan, bukan pula hal yang terlarang.</p>
<p>فمن فعله فله قدوة ، ومن تركه فله قدوة . والله أعلم.</p>
<p>Siapa yang memulai mengucapkan selamat hari raya dia memiliki teladan dari para ulama dan yang tidak mau memulai juga memiliki teladan dari kalangan ulama”.</p>
<p>مجموع الفتاوى لابن تيميه (ج24 / ص233) ،والفتاوى الكبرى له ( ج2 /ص371).</p>
<p>Perkataan Ibnu Taimiyyah ini ada di Majmu Fatawa jilid 24 hal 233 dan di Fatawa Kubro jilid 2 hal 371.</p>
<p>قال ابن ضويان الحنبلي رحمه الله في منار السبيل (ج1 / ص100 ) ولا بأس بقوله لغيره تقبل الله منا ومنك ، نص عليه أي في مذهب أحمد ، قال لا بأس به ، يرويه أهل الشام عن أبي أمامة ، وواثلة بن الأسقع</p>
<p>Ibnu Dhawayan al Hanbali dalam Manar al Sabil jilid 1 hal 100 mengatakan, “Tidaklah mengapa mengucapkan taqabbalallahu minna wa minka. Demikianlah yang ditegaskan dalam mazhab Ahmad. Imam Ahmad mengatakan, “Ucapan tersebut tidaklah mengapa diucapkan. Para penduduk Syam telah meriwayatkan atsar tersebut dari Abu Umamah dan dari Watsilah bin al Asqa’”.</p>
<p>وقال الشيخ صالح البليهي رحمه الله في كتابه السلسبيل في معرفة الدليل : (ج1 /209 ) بعد الكلام على صلاة العيدين.</p>
<p>Syaikh Shalih al Balihi dalam kitabnya al Salsabil fi Ma’rifati al Dalil jilid 1 hal 209 mengatakan setelah membahas shalat dua hari raya mengatakan,</p>
<p>تكملة : لا بأس بتهنئة الناس بعضهم بعضا بما هو مستفيض بينهم من الكلام الذي لا محذور فيه ،</p>
<p>“Boleh hukumnya mengucapkan ucapan selamat hari raya dengan ucapan yang beredar di masyarakat asalkan tidak ada unsur yang terlarang dalam ucapan tersebut”.</p>
<p>ثم ذكر حديث واثلة ، وأبي أمامة ، وقول الإمام أحمد ، ثم قال : ويدل لما تقدم – أي التهنئة – ما ورد أن الملائكة قالت لآدم لما حج بر حجك . ولما تاب الله على كعب بن مالك قام إليه طلحة فهنئه .</p>
<p>Setelah itu beliau menyebutkan hadits Watsilah dan Abu Umamah ditambah ucapan Imam Ahmad. Kemudian beliau mengatakan, “Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya ucapan selamat hari raya adalah riwayat yang berisi ucapan para malaikat kepada Adam setelah Adam berhaji, “Moga jadi haji mabrur”. Dalil yang lain adalah ucapan selamat yang diberikan oleh Thalhah kepada Kaab bin Malik ketika Allah menerima taubat Kaab.</p>
<p>وقال عليه الصلاة والسلام :ليهنئك العلم أبا المنذر في قصة مشهورة .أه</p>
<p>Demikian pula, ucapan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepada Ubay bin Kaab, “Moga ilmu itu menjadi suatu yang mudah bagimu” dalam sebuah kisah yang terkenal”.</p>
<p>ذكر الآثار الواردة في كراهية التهنئة يوم العيد :</p>
<p>Riwayat yang melarang ucapan selamat hari raya</p>
<p>لم يصح في ذلك شيء ولله الحمد والمنة .</p>
<p>Tidak ada satupun riwayat yang shahih terkait hal ini.</p>
<p>قال البيهقي رحمه الله في السنن الكبرى: (ج3 / 319 –320 ).<br />
وقد روي حديث مرفوع في كراهية ذلك ولا يصح .</p>
<p>Al Baihaqi dalam Sunan Kubro juz 3 hal 319-320 mengatakan, “Terdapat hadits marfu’ yang melarang ucapan selamat hari raya namun hadits tersebut bukanlah hadits yang shahih”.</p>
<p>ثم ساق بسنده إلى الصحابي عبادة بن الصامت  قال : سألت رسول الله  عن قول الناس في العيدين تقبل الله منا ومنكم .قال ذلك فعل أهل الكتابين وكرهه.</p>
<p>Setelah itu al Baihaqi membawakan hadits dari Ubadah bin Shamit, Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ucapan yang diucapkan oleh banyak orang ketika dua hari raya yaitu ucapan taqabbalallahu minna wa minkum. Nabi bersabda, “Itu adalah perbuatan Yahudi dan Nasrani”. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak menyukainya.</p>
<p>قال البيهقي: عبد الخالق بن زيد- أحد الرجال الذين رووا هذا الحديث – منكر الحديث .<br />
قاله البخاري .</p>
<p>Al Baihaqi mengatakan, “Salah seorang perawi hadits di atas yaitu al Khalid bin Zaid adalah munkarul hadits”.</p>
<p>قلت : وفيه نعيم بن حماد ، وإن كان إماما في السنة وشديدا على أهل البدع والأهواء فقد ضعف من أجل روايته للمناكير وتفرده بها.</p>
<p>Di samping itu di dalam sanadnya juga terdapat Nu’aim bin Hammad. Meski beliau adalah seorang imam dalam sunnah dan seorang yang keras dengan ahli bid’ah, beliau dinilai lemah dikarenakan beliau sering bersendirian dalam meriwayatkan riwayat-riwayat yang munkar.</p>
<p>وعلى هذا يكون هذا الحديث ضعيف لضعف كل من نعيم بن حماد وعبد الخالق بن زيد، ولمخالفته للآثار الأخرى وهي صحيحة في استحباب التهنئة ومشروعيتها في العيدين .</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas maka hadits di atas adalah hadits yang lemah dengan dua alasan. Pertama kelemahan perawi yang bernama Nu’aim bin Hammad dan al Khaliq bin Zaid. Kedua riwayat tersebut bertolak belakang dengan berbagai riwayat lain yang shahih yang menunjukkan dianjurkannya ucapan selamat pada dua hari raya.</p>
<p>الراجــــــــــــح :<br />
وعليه فهذا هو الراجح لثبوته عن السلف ،وخاصة الصحابة منهم في فعل التهنئة ،</p>
<p><strong>Kesimpulannya, </strong>yang benar ucapan selamat dengan <strong>taqabbalallahu minna wa minka</strong> adalah perbuatan yang disyariatkan karena telah dipraktekkan oleh salaf, terlebih lagi para shahabat.</p>
<p>وما ذهب إليه هؤلاء الأئمة الأعلام الذين ذكرت لك أقوالهم آنفا.</p>
<p>Inilah yang menjadi pendapat para ulama yang perkataan mereka telah dikutip di atas.</p>
<p>مسألة : هل تختص التهنئة بعيد الفطر دون عيد الأضحى أم هي عامة :</p>
<p>Apakah ucapan selamat hari raya hanya berlaku untuk iedul fitri saja ataukah untuk semua hari raya?</p>
<p>لم يثبت ولا حديث مرفوع إلى النبي أو أثر عن الصحابة والتابعين فيما نعلم فيه ذكر اختصاص التهنئة بعيدالفطر دون غيره ، بل ثبت خلاف ذلك.</p>
<p>Tidak ada hadits marfu’ sampai kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam atau atsar dari shahabat dan tabiin-sebatas pengetahuan kami-yang menyebutkan bahwa ucapan selamat hari raya itu hanya berlaku untuk iedul fitri saja. Bahkan terdapat riwayat yang sebaliknya.</p>
<p>قال البيهقي في سننه الكبرى(ج3 /ص319 ): أخبرنا أبو عبد الله الحافظ حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب حدثنا العباس بن محمد حدثنا أحمد بن إسحاق حدثنا عند السلام البزاز عن أدهم مولى عمر بن العزيز قال كنا نقول لعمر بن عبد العزيز ( في الـعيدين ) تقبل الله منا ومنك يا أمير المؤمنين فيرد علينا ولا ينكر ذلك علينا.</p>
<p>Riwayat tersebut terdapat dalam Sunan Kubro karya al Baihaqi pada juz 3 hal 319. Dari Adham, bekas budaknya Umar bin Abdul Aziz, “Kami mengatakan kepada Umar bin Abdul Azizi ketika Iedul Fitri dan Adha, taqabbalallu minna wa minka wahai pemimpin orang-orang yang beriman. Beliau menjawab ucapan kami dan tidak menyalahkan kami”.</p>
<p>فقول أدهم في العيدين ينصرف إلى ما عهد في الشرع وهو عيد الفطر والأضحى ، ولأنه لا يوجد عيدين سنويين في الإسلام إلا هذين اليومين</p>
<p>Dua ied dalam riwayat di atas tentu maknanya adalah ied yang dikenal dalam syariat yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha. Tambahan lagi tidak ada dalam Islam dua ied tahunan kecuali dua hari tersebut.</p>
<p>وأيضا فإن كل من ذكر التهنئة يذكرها في باب صلاة العيدين ، ولو كان المقصود عيد الفطر لقيدوه حتى لا يفهم من الإطلاق أنهم أرادوا العيدين المعروفين عند المسلمين،</p>
<p>Di samping itu bahasan tentang ucapan selamat berupa taqabbalallahu minna wa minka disebutkan  oleh para ulama dalam bab shalat dua hari raya. Andai yang diinginkan hanyalah iedul fitri tentu para ulama akan menegaskannya agar penjelasan mereka tidak dipahami dengan dua hari raya yang dikenal oleh kaum muslimin.</p>
<p>ثم نقول : ما وجه التفرقة بين عيد الفطر؛ وعيد الأضحى؛ وكل منهما جاء بعد عبادة فعلها المسلم تقربا إلى الله ؟ فلما يخص هذا بالتحية والدعاء دون هذا ؟ مع عدم ثبوت شيء عن النبي  في ذلك</p>
<p>Demikian pula, dengan alasan apa kita bedakan iedul fitri dengan iedul adha padahal masing-masing dari keduanya adalah hari raya yang datangnya setelah sebuah ibadah yang dikerjakan oleh seorang muslim dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah? Mengapa ucapan taqabbalallahu minna wa minka hanya dikhususkan untuk Iedul Fitri tanpa Iedul Adha? Selain itu, bacaan ini tidaklah berasal dari Nabi namun dari para shahabat.</p>
<p>Sumber: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=14987 dengan peringkasan.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fucapan-selamat-hari-raya&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1867&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/saling-berkunjung-ketika-lebaran" title="Saling Berkunjung Ketika Lebaran">Saling Berkunjung Ketika Lebaran</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah" title="Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?">Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah" title="Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah">Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji" title="Menjaga Kemabruran Haji">Menjaga Kemabruran Haji</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hari-arofah-ikut-siapa" title="Hari Arofah, Ikut Siapa?">Hari Arofah, Ikut Siapa?</a> (28)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/khotbah-hari-raya" title="Khutbah Ied Dimulai Dengan Takbir">Khutbah Ied Dimulai Dengan Takbir</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jika-pemerintah-menetapkan-hari-raya-dengan-hisab" title="Jika Pemerintah Menetapkan Hari Raya Dengan Hisab">Jika Pemerintah Menetapkan Hari Raya Dengan Hisab</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain" title="Antara Dua Arbain">Antara Dua Arbain</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/syawal-bulan-peningkatan" title="Syawal Bulan Peningkatan?">Syawal Bulan Peningkatan?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat" title="Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?">Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?</a> (26)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjaga Kemabruran Haji</title>
		<link>http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 20:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji mabrur]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1121</guid>
		<description><![CDATA[Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’.
Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmenjaga-kemabruran-haji&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ &#8211; رضى الله عنه &#8211; قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « مَن<br />
حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ ، رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ »</p>
<p style="text-align: center;">“<em>Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya</em>” (HR Bukhari 1819)</p>
<p><span id="more-1121"></span><br />
Dari Ibnu Umar, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ</p>
<p>“<em>Orang yang berperang di jalan Alloh, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Alloh. Alloh memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu jika mereka meminta kepada Alloh pasti akan Alloh beri</em>” (HR Ibnu Majah no 2893, Al Bushairi mengatakan, ‘Sanadnya hasan’ dan dinilai sebagai hadits hasan oleh al Albani dalam Silsilah Shahihah ketika menjelaskan hadits no 1820).</p>
<p>أَمَّا خُرُوجُكَ مِنْ بَيْتِكَ تَؤُمُّ الْبَيْتَ فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ وَطْأَةٍ تَطَأُهَا رَاحِلَتُكَ يَكْتُبُ اللَّهُ لَكَ بِهَا حَسَنَةً , وَيَمْحُو عَنْكَ بِهَا سَيِّئَةً , وَأَمَّا وُقُوفُكَ بِعَرَفَةَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِهِمُ الْمَلائِكَةَ , فَيَقُولُ:هَؤُلاءِ عِبَادِي جَاءُونِي شُعْثًا غُبْرًا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ يَرْجُونَ رَحْمَتِي , وَيَخَافُونَ عَذَابِي , وَلَمْ يَرَوْنِي , فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟فَلَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ رَمْلِ عَالِجٍ , أَوْ مِثْلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا , أَوْ مِثْلُ قَطْرِ السَّمَاءِ ذُنُوبًا غَسَلَ اللَّهُ عَنْكَ , وَأَمَّا رَمْيُكَ الْجِمَارَ فَإِنَّهُ مَذْخُورٌ لَكَ , وَأَمَّا حَلْقُكَ رَأْسَكَ , فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ شَعْرَةٍ تَسْقُطُ حَسَنَةٌ , فَإِذَا طُفْتَ بِالْبَيْتِ خَرَجْتَ مِنْ ذُنُوبِكَ كَيَوْمِ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ.</p>
<p>“<em>Adapun keluarmu dari rumah untuk berhaji ke Ka’bah maka setiap langkah hewan tungganganmu akan Alloh catat sebagai satu kebaikan dan menghapus satu kesalahan. Sedangkan wukuf di Arafah maka pada saat itu Alloh turun ke langit dunia lalu Alloh bangga-banggakan orang-orang yang berwukuf di hadapan para malaikat.<br />
Alloh Ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), ‘Mereka adalah hamba-hambaKu yang datang dalam keadaan kusut berdebu dari segala penjuru dunia. Mereka mengharap kasih sayangKu, merasa takut dengan siksaKu padahal mereka belum pernah melihatKu. Bagaimana andai mereka pernah melihatKu?!<br />
Andai engkau memiliki dosa sebanyak butir pasir di sebuah gundukan pasir atau sebanyak hari di dunia atau semisal tetes air hujan maka seluruhnya akan Alloh bersihkan.<br />
Lempar jumrohmu merupakan simpanan pahala. Ketika engkau menggundul kepalamu maka setiap helai rambut yang jatuh bernilai satu kebaikan. Jika engkau thawaf, mengelilingi Ka’bah maka engkau terbebas dari dosa-dosamu sebagaimana ketika kau terlahir dari rahim ibumu</em>” (HR Tabrani dalam Mu’jam Kabir no 13390, dinilai hasan li ghairihi oleh al Albani dalam Shahih al Jami’ no 1360 dan Shahih Targhib wa Tarhib no 1112).</p>
<p>Demikianlah di antara keutamaan orang yang meraih <strong>predikat haji mabrur</strong>, suatu yang pasti diinginkan oleh setiap orang mengerjakan ibadah haji. Namun apakah yang dimaksud dengan haji mabrur?</p>
<p>Dalam Tahrir Alfazh at Tanbih hal 152 karya an Nawawi disebutkan, “Menurut penjelasan Syamr dan lainnya <strong>mabrur adalah yang tidak tercampuri maksiat</strong>. Mabrur diambil dari kata-kata <em>birr </em>yang maknanya adalah ketaatan. Sedangkan al Azhari berpendapat bahwa makna mabrur adalah <strong>amal yang diterima (<em>mutaqobbal</em>)</strong>, diambil dari kata-kata <em>birr </em>yang bermakna semua bentuk kebaikan…. Semua amal shalih bisa disebut <em>birr</em>”.<br />
Dalam Syarh Muslim 5/16, an Nawawi berkata, “Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal mabrur adalah <strong>yang tidak ternodai oleh dosa</strong>, diambil dari kata-kata <em>birr </em>yang bermakna ketaatan.<br />
Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah <span style="text-decoration: underline;">adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat</span>.</p>
<p>Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’.<br />
Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat.<br />
Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya”.</p>
<p>Pendapat yang dipilih oleh an Nawawi di atas dikomentari oleh Ali al Qori, “Inilah pendapat yang paling mendekati kebenaran dan paling selaras dengan kaedah-kaedah fiqh. Namun meski demikian pendapat ini mengandung ketidakjelasan karena tidak ada satupun yang berani memastikan bahwa dirinya terbebas dari dosa” (al Dzakhirah al Katsirah hal 27, terbitan Maktab Islami dan Dar al ‘Ammar).</p>
<p>Al Qurthubi mengatakan, “Para pakar fiqh menegaskan bahwa yang dimaksud haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori dengan kemaksiatan pada saat melaksanakan rangkaian manasiknya. Sedangkan al Fara’ berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi hobi bermaksiat. Dua pendapat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Arabi. Menurut hemat kami, haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji” (Tafsir al Qurthubi 2/408).</p>
<p>قال الحسن: الحج المبرور هو أن يرجع زاهدا في الدنيا راغبا في الاخرة.</p>
<p>Al Hasan al Bashri berkata, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akherat” (al Dzakhirah al Katsirah hal 28 dan Tafsir al Qurthubi 4/142 dan 2/408).</p>
<p>عن جابر رضي الله عنه قال : سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم ما بر الحج ؟ قال : إطعام الطعام و طيب الكلام</p>
<p>Dari Jabir, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah ditanya tentang haji yang mabrur, jawaban beliau, “Suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutar kata yang baik” (HR Hakim no 1778, Hakim berkata, “Ini adalah hadits yang sanadnya shahih” dan dinilai hasan oleh al Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib no 1094).</p>
<p style="text-align: center;"><em>Semoga Alloh jadikan para jamaah haji kita sebagai orang-orang yang berhasil menggapai predikat haji mabrur. Untuk itu dibutuhkan kesabaran ekstra saat melaksanakan rangkaian manasik dan kesungguhan untuk memperbaiki diri sepulang pergi haji. </em></p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmenjaga-kemabruran-haji&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1121&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah" title="Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?">Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah" title="Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah">Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain" title="Antara Dua Arbain">Antara Dua Arbain</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hari-arofah-ikut-siapa" title="Hari Arofah, Ikut Siapa?">Hari Arofah, Ikut Siapa?</a> (28)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hadyu-umroh-sunnah-yang-hilang" title="Hadyu Umroh, Sunnah Yang Hilang">Hadyu Umroh, Sunnah Yang Hilang</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/khotbah-hari-raya" title="Khutbah Ied Dimulai Dengan Takbir">Khutbah Ied Dimulai Dengan Takbir</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/haji-wajib-boleh-tanpa-mahram" title="Haji Wajib Boleh Tanpa Mahram">Haji Wajib Boleh Tanpa Mahram</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-hotel-di-mina" title="Hukum Hotel di Mina">Hukum Hotel di Mina</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jika-pemerintah-menetapkan-hari-raya-dengan-hisab" title="Jika Pemerintah Menetapkan Hari Raya Dengan Hisab">Jika Pemerintah Menetapkan Hari Raya Dengan Hisab</a> (4)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdzikir di Hari Tasyriq</title>
		<link>http://ustadzaris.com/berdzikir-di-hari-tasyriq</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/berdzikir-di-hari-tasyriq#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 20:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[dzulhijah]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[tasyriq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=842</guid>
		<description><![CDATA[Hari Tasyriq adalah tiga hari setelah hari nahr (hari penyembelihan yaitu tanggal 10 Dzulhijjah). Disebut tasyriq karena pada hari tersebut banyak orang yang mendedeng dan menjemur daging hewan kurban (Syarah Nawawi untuk Shahih Muslim 3/131). وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ “Dan berdzikirlah dengan menyebut nama Allah pada hari-hari yang berbilang” (QS al Baqarah:203). عن ابن [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fberdzikir-di-hari-tasyriq&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><em>Hari Tasyriq</em> adalah tiga hari setelah hari nahr (hari penyembelihan yaitu tanggal 10 Dzulhijjah). Disebut tasyriq karena pada hari tersebut banyak orang yang mendedeng dan menjemur daging hewan kurban (Syarah Nawawi untuk Shahih Muslim 3/131).<span id="more-842"></span></p>
<p style="text-align: center;">وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ</p>
<p>“Dan berdzikirlah dengan menyebut nama Allah pada hari-hari yang berbilang” (QS al Baqarah:203).</p>
<p style="text-align: center;">عن ابن عباس في قوله:&#8221; واذكروا الله في أيام معدودات&#8221;، قال: أيام التشريق.</p>
<p>Tentang ayat di atas, Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah <em>hari-hari tasyriq </em>(Diriwayatkan oleh al Thabari dalam tafsirnya no 3886. Riwayat ini statusnya hasan, lihat al Tafsir al Mukhtashar al Shahih hal 45).</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ».</p>
<p>Dari Nubaisyah al Hudzali, Rasulullah bersabda, “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum” (HR Muslim no 2733).</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِى الشَّعْثَاءِ قَالَ أَتَيْنَا ابْنَ عُمَرَ فِى الْيَوْمِ الأَوْسَطِ مِنْ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ &#8211; قَالَ &#8211; فَأُتِىَ بِطَعَامٍ فَدَنَا الْقَوْمُ وَتَنَحَّى ابْنٌ لَهُ قَالَ فَقَالَ لَهُ ادْنُ فَاطْعَمْ. قَالَ فَقَالَ إِنِّى صَائِمٌ. قَالَ فَقَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّهَا أَيَّامُ طُعْمٍ وَذِكْرٍ ».</p>
<p>Dari Abu Sya’sa’, “Aku mendatangi Ibnu Umar pada hari kedua dari hari-hari tasyriq. Setelah makanan disajikan maka orang-orang pun mendekat. Hanya salah seorang putra Ibnu Umar yang menjauh maka Ibnu Umar berkata kepadanya, ‘Mendekatlah dan makanlah’. Dia menjawab, ‘Aku sedang berpuasa’. Ibnu Umar berkata, ‘Tidakkah kau tahu bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya hari-hari tasyriq adalah hari makan dan hari berdzikir” (HR Ahmad no 4970 dan dinilai hasan oleh Syeikh Syuaib al Arnauth).</p>
<p>Ibnu Rajab berkata, “Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ini merupakan isyarat bahwa makan dan minum di hari-hari ied adalah sarana  untuk mengingat dan mentaati Allah. Bentuk syukur terhadap nikmat adalah memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan. Dalam Al Qur’an Allah memerintahkan untuk memakan makanan yang baik dan menyukurinya dengan melakukan berbagai ketaatan. Siapa yang memanfaatkan nikmat Allah untuk berbuat maksiat maka dia telah ingkar dengan nikmat Allah dan mengganti nikmat dengan kekafiran. Sehingga nikmat yang ada pada orang tersebut layak untuk diambil” (Lathaif al Ma’arif hal 507).</p>
<p>Ibnu Rajab mengatakan, “Mengingat Allah yang diperintahkan pada hari-hari tasyriq itu ada beberapa macam.</p>
<p>1. Mengingat nama Allah setelah selesai shalat lima waktu dengan bertakbir. Dzikir ini disyariatkan pada hari-hari tasyriq menurut mayoritas ulama. Hal ini diriwayatkan dari Umar, Ali dan Ibnu Abbas. Ada juga hadits marfu (yaitu hadits Nabi) namun ada kelemahan pada sanadnya.</p>
<p>2. Mengingat Allah dengan membaca bismillah dan bertakbir saat menyembelih kurban. Karena waktu penyembelihan hadyu dan kurban adalah sampai akhir hari tasyriq menurut sejumlah ulama. Itulah pendapat Syafii dan salah satu pendapat Imam Ahmad. Dalam masalah ini terdapat hadits Nabi,</p>
<p style="text-align: center;">وَكُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ</p>
<p>“Semua hari tasyriq adalah waktu menyembelih kurban” (HR Ahmad no 17206 dari Jubair bin Muth’im) akan tetapi dalam sanadnya terdapat pembicaraan. Sedangkan mayoritas shahabat berpendapat bahwa waktu menyembelih itu cuma dua hari pertama dari hari tasyriq ditambah tanggal 10 Dzulhijjah. Inilah pendapat Ahmad yang terkenal, pendapat Malik, Abu Hanifah dan mayoritas ulama.</p>
<p>3. Menyebut nama Allah ketika makan dan minum. Ketika makan dan minum disyariatkan untuk menyebut nama Allah pada awal makan dan memuji Allah di akhir makan. Nabi bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا</p>
<p>“Sesungguhnya Allah ridha terhadap hambaNya yang    makan lalu memuji Allah dan yang minum lalu memuji Allah” (HR Muslim no 2734 dari Anas). Diriwayatkan bahwa barang siapa menyebut nama Allah pada awal makan dan memuji Allah setelah selesai makan maka dia telah membayar makanan tersebut dan nanti tidak akan ditanya tentang kewajiban untuk mensyukuri makanan tersebut.</p>
<p>4. Mengingat Allah dengan bertakbir saat melempar jumroh di hari-hari tasyriq. Amal ini hanya berlaku untuk jamaah haji.</p>
<p>5. Mengingat Allah setiap saat. Memperbanyak dzikir pada hari-hari tasyriq adalah amal yang dianjurkan. Pernah Umar bertakbir di Mina dari kemahnya lalu didengar oleh banyak orang. Akhirnya mereka ikut bertakbir sehingga Mina menjadi goncang karena suara takbir.</p>
<p>Allah berfirman yang artinya,</p>
<p style="text-align: center;">فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201)</p>
<p>“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: &#8220;Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia&#8221;, dan Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. dan di antara mereka ada orang yang bendoa: &#8220;Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka&#8221; (QS al Baqarah:200-201).</p>
<p>Banyak ulama salaf  yang menganjurkan untuk memperbanyak doa <em>‘rabbana atina fid dunya…</em>’ pada hari-hari tasyriq. Ikrimah mengatakan, “Dianjurkan pada hari tasyriq untuk berdoa rabbana atina…”. Atha’ mengatakan, “Dianjurkan bagi jamaah haji yang hendak pulang kampung di hari-hari tasyriq untuk berdoa, ‘rabbana atina…’, diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid dalam tafsirnya.</p>
<p>Doa ini termasuk doa paling lengkap memuat kebaikan. Nabipun sering berdoa dengannya. Diriwayatkan bahwa Nabi memperbanyak doa tersebut (HR Bukhari dan Muslim dari Anas). Jika Nabi berdoa pasti doa ini disebutkan karena doa ini mencakup kebaikan dunia dan kebaikan akherat.</p>
<p>Al Hasan al Bashri berkata, “Yang dimaksud dengan hasanah di dunia adalah ilmu dan ibadah. Sedangkan hasanah di Akherat adalah surga”.</p>
<p>Sufyan mengatakan, “Hasanah di dunia adalah ilmu dan rizki yang halal. Sedangkan hasanah di akherat adalah surga”.</p>
<p>Doa adalah termasuk jenis dzikir yang terbaik.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ziyad al Jashash dari Abu Kinanah al Qurasyi, dia mendengar khutbah yang disampaikan oleh Abu Musa al Asy’ari pada saat Idul Adha, “Setelah tanggal 10 Dzulhijjah terdapat tiga hari yang Allah sebut dengan hari-hari yang berbilang. Doa tidaklah ditolak pada hari-hari tersebut. Oleh karena itu sampaikanlah permohonan-permohonan kalian kepada Allah”.</p>
<p>Adanya perintah untuk berdzikir setelah selesainya ibadah menyembelih kurban itu mengandung rahasia. Yaitu semua ibadah itu ada waktu akhirnya. Sedangkan mengingat Allah itu tidak ada akhirnya. Bahkan seorang mukmin itu akan terus berdzikir di dunia dan di akherat”</p>
<p>[Lathoif al Ma’arif 504-505 cetakan al Maktab al Islami].
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fberdzikir-di-hari-tasyriq&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/berdzikir-di-hari-tasyriq"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=842&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah" title="Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?">Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah" title="Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah">Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain" title="Antara Dua Arbain">Antara Dua Arbain</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/biji-tasbih-bukan-bidah-2" title="Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (2)">Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (2)</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pandangan-ibnu-taimiyah-mengenai-biji-tasbih" title="Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (1)">Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (1)</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sanggahan-untuk-amalan-dzikir-berjamaah" title="Sanggahan untuk Amalan Dzikir Berjama&#8217;ah">Sanggahan untuk Amalan Dzikir Berjama&#8217;ah</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji" title="Menjaga Kemabruran Haji">Menjaga Kemabruran Haji</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adab-menyembelih-hewan-qurban" title="Adab Menyembelih Hewan Qurban">Adab Menyembelih Hewan Qurban</a> (21)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hari-arofah-ikut-siapa" title="Hari Arofah, Ikut Siapa?">Hari Arofah, Ikut Siapa?</a> (28)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/berdzikir-di-hari-tasyriq/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adab Menyembelih Hewan Qurban</title>
		<link>http://ustadzaris.com/adab-menyembelih-hewan-qurban</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/adab-menyembelih-hewan-qurban#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 20:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[menyembelih]]></category>
		<category><![CDATA[qurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=871</guid>
		<description><![CDATA[Dari Ibnu Sirin (seorang tabiin) beliau mengatakan, “Dianjurkan untuk menghadapkan hewan sembelihan ke arah kiblat” (Riwayat Abdur Razaq no 8587 dengan sanad yang shahih).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fadab-menyembelih-hewan-qurban&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><strong>Pertama</strong>: dianjurkan untuk menajamkan pisau yang akan digunakan untuk menyembelih.</p>
<p>عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ ».</p>
<p>Dari Syadad bin Aus, beliau berkata, “Ada dua hal yang kuhafal dari sabda Rasulullah yaitu Sesungguhnya Allah itu mewajibkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Demikian pula, jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya kalian tajamkan pisau dan kalian buat hewan sembelihan tersebut merasa senang” (HR Muslim no 5167).</p>
<p><strong>Kedua</strong>: penyembelih dianjurkan untuk menghadap kiblat dan menghadapakan hewan sembelihan ke arah kiblat.</p>
<p>عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَأَنَّهُ كَانَ إِذَا أَهْدَى هَدْيًا مِنْ الْمَدِينَةِ قَلَّدَهُ وَأَشْعَرَهُ بِذِي الْحُلَيْفَةِ يُقَلِّدُهُ قَبْلَ أَنْ يُشْعِرَهُ وَذَلِكَ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ وَهُوَ مُوَجَّهٌ لِلْقِبْلَةِ يُقَلِّدُهُ بِنَعْلَيْنِ وَيُشْعِرُهُ مِنْ الشِّقِّ الْأَيْسَرِ ثُمَّ يُسَاقُ مَعَهُ حَتَّى يُوقَفَ بِهِ مَعَ النَّاسِ بِعَرَفَةَ ثُمَّ يَدْفَعُ بِهِ مَعَهُمْ إِذَا دَفَعُوا فَإِذَا قَدِمَ مِنًى غَدَاةَ النَّحْرِ نَحَرَهُ قَبْلَ أَنْ يَحْلِقَ أَوْ يُقَصِّرَ وَكَانَ هُوَ يَنْحَرُ هَدْيَهُ بِيَدِهِ يَصُفُّهُنَّ قِيَامًا وَيُوَجِّهُهُنَّ إِلَى الْقِبْلَةِ ثُمَّ يَأْكُلُ وَيُطْعِمُ</p>
<p>Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, adalah Ibnu Umar jika membawa hadyu dari Madinah maka beliau tandai bahwa hewan tersebut adalah hewan hadyu dengan menggantungkan sesuatu padanya dan melukai punuknya di daerah Dzul Hulaifah. Beliau gantungi sesuatu sebelum beliau lukai. Dua hal ini dilakukan di satu tempat. Sambil menghadap kiblat beliau gantungi hewan tersebut dengan dua buah sandal dan beliau lukai dari sisi kiri. Hewan ini beliau bawa sampai beliau ajak wukuf di Arafah bersama banyak orang kemudian beliau bertolak meninggalkan Arafah dengan membawa hewan tersebut ketika banyak orang bertolak. Ketika beliau tiba di Mina pada pagi hari tanggal 10 Dzulhijjah beliau sembelih hewan tersebut sebelum beliau memotong atau menggundul rambut kepala. Beliau sendiri yang menyembelih hadyu beliau. Beliau jajarkan onta-onta hadyu tersebut dalam posisi berdiri dan<strong> beliau arahkan ke arah kiblat </strong>kemudian beliau memakan sebagian dagingnya dan beliau berikan kepada yang lain (HR Malik dalam al Muwatha’ no 1405).</p>
<p>عن نافع أن ابن عمر كان يكره أن يأكل ذبيحة ذبحه لغير القبلة.</p>
<p>Dari Nafi’, sesungguhnya Ibnu Umar tidak suka memakan daging hewan yang disembelih dengan tidak menghadap kiblat (Riwayat Abdur Razaq no 8585 dengan sanad yang shahih).</p>
<p>عن ابن سيرين قال : كان يستحب أن توجه الذبيحة إلى القبلة.</p>
<p>Dari Ibnu Sirin (seorang tabiin) beliau mengatakan, “Dianjurkan untuk menghadapkan hewan sembelihan ke arah kiblat” (Riwayat Abdur Razaq no 8587 dengan sanad yang shahih).</p>
<p>Riwayat-riwayat di atas dan yang lainnya menunjukkan adanya anjuran untuk menghadapkan hewan yang hendak disembelih kea rah kiblat. Namun jika hal ini tidak dilakukan daging hewan sembelihan tersebut tetap <strong>halal </strong>dimakan.</p>
<p>An Nawawi menyebutkan adanya anjuran untuk membaringkan sapi dan kambing pada lambung kirinya. Dengan demikian proses penyembelihan akan lebih mudah.</p>
<p>Bahkan dalam al Mufhim 5/362, al Qurthubi mengatakan bahwa membaringkan hewan yang hendak disembelih pada lambung kirinya adalah suatu yang telah dipraktekkan kaum muslimin semenjak dahulu kala.</p>
<p>Bahkan Ibnu Taimiyyah mengklaim tata cara seperti ini sebagai salah satu sunnah Nabi.<br />
Beliau berkata, “Hewan sembelihan baik hewan kurban ataupun yang lainnya hendaknya dibaringkan pada <strong>lambung kiri </strong>dan <strong>penyembelih meletakkan kaki kanannya di leher hewan tersebut </strong>sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih dari Rasulullah. Setelah itu hendaknya penyembelih mengucapkan <em>bismilah </em>dan <em>bertakbir</em>. Lengkapnya yang dibaca adalah sebagai berikut “<em>Bismillahi allahu akbar. Allahumma minka wa laka. Allahumma taqabbal minni kama taqabbalta min Ibrahim khalilika</em>”.</p>
<p>Barang siapa yang membaringkan hewan tersebut pada lambung kanannya dan meletakkan kaki kirinya di leher hewan tersebut akhirnya orang tersebut harus bersusah payah menyilangkan tangannya agar bisa menyembelih hewan tersebut maka dia adalah seorang yang bodoh terhadap sunnah Nabi, menyiksa diri sendiri dan hewan yang akan disembelih. Akan tetapi daging hewan tersebut tetap <strong>halal </strong>untuk dimakan. Jika hewan tersebut dibaringkan pada lambung kirinya maka lebih nyaman bagi hewan yang hendak disembelih dan lebih memperlancar proses keluarnya nyawa serta lebih mudah dalam proses penyembelihan. Bahkan itulah sunnah yang dipraktekkan oleh Rasulullah dan seluruh kaum muslimin bahkan praktek semua orang.<br />
Demikian pula dianjurkan agar hewan yang hendak disembelih tersebut dihadapkan ke arah kiblat” (Majmu Fatawa 26/309-310).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Dimakruhkan memotong leher hewan yang disembelih</p>
<p>عن نافع أن بن عمر كان لا يأكل الشاة إذا نخعت</p>
<p>ari Nafi, sesungguhnya Ibnu Umar tidak mau memakan daging kambing yang disembelih hingga lehernya terputus (Riwayat Abdur Razaq no 8591dengan sanad yang shahih).</p>
<p>عن بن طاووس عن أبيه قال لو أن رجلا ذبح جديا فقطع رأسه لم يكن بأكله بأس</p>
<p>Dari Ibnu Thawus dari Thawus, beliau berkata, “Andai ada orang yang menyembelih hewan hingga lehernya putus maka daging hewan tersebut tetap boleh dimakan” (Riwayat Abdur Razaq no 8601 dengan sanad yang shahih).</p>
<p>عن معمر قال سئل الزهري عن رجل ذبح بسيفه فقطع الرأس قال بئس ما فعل فقال الرجل فيأكلها قال نعم</p>
<p>Dari Ma’mar, Az Zuhri –seorang tabiin- ditanya tentang seorang yang menyembelih dengan menggunakan pedang sehingga leher hewan yang disembelih putus. Jawaban beliau, “Sungguh jelek apa yang dia lakukan”. “Apakah dagingnya boleh dia makan?”, lanjut penanya. “Boleh”, jawab az Zuhri (Riwayat Abdur Razaq no 8600 dengan sanad yang shahih).</p>
<p>Tentang hal ini, ada juga ulama yang memberi rincian. <strong>Jika dilakukan dengan sengaja maka dagingnya jangan dimakan. Akan tetapi jika tanpa sengaja maka boleh</strong>. Di antara yang berpendapat demikian adalah Atha, seorang ulama dari generasi tabiin.</p>
<p>عن عطاء قال إن ذبح ذابح فأبان الرأس فكل ما لم يتعمد ذلك</p>
<p>Dari Atha’, beliau berkata, “Jika ada orang yang menyembelih hewan hingga kepala terpisah dari badannya maka silahkan kalian makan asalkan orang tersebut tidak sengaja” (Riwayat Abdur Razaq no 8599 dengan sanad yang shahih).</p>
<p>Imam Ahmad pernah ditanya tentang masalah ini. Beliau membenci perbuatan ini jika dilakukan dengan sengaja sebagaimana dalam Sualat Abdullah bin Ahmad hal 260 no 980 dan 981.<br />
Demikian pula Imam Syafii membenci hal ini (al Hawi 15/87-91).</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 673px; width: 1px; height: 1px;">http://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2009/11/kambing.jpg</div>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fadab-menyembelih-hewan-qurban&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/adab-menyembelih-hewan-qurban"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=871&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/menjawab-ucapan-ash-shalaatu-khoirum-minannaum" title="Menjawab Ucapan &#8220;Ash Shalaatu Khoirum Minannaum&#8221;">Menjawab Ucapan &#8220;Ash Shalaatu Khoirum Minannaum&#8221;</a> (3)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah" title="Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?">Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah" title="Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah">Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain" title="Antara Dua Arbain">Antara Dua Arbain</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-makan-dengan-sendok" title="Hukum Makan dengan Sendok">Hukum Makan dengan Sendok</a> (24)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji" title="Menjaga Kemabruran Haji">Menjaga Kemabruran Haji</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/berdzikir-di-hari-tasyriq" title="Berdzikir di Hari Tasyriq">Berdzikir di Hari Tasyriq</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hari-arofah-ikut-siapa" title="Hari Arofah, Ikut Siapa?">Hari Arofah, Ikut Siapa?</a> (28)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/meninjau-hukum-transfer-hewan-qurban" title="Meninjau Hukum Transfer Hewan Qurban">Meninjau Hukum Transfer Hewan Qurban</a> (23)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/adab-menyembelih-hewan-qurban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Arofah, Ikut Siapa?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hari-arofah-ikut-siapa</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hari-arofah-ikut-siapa#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 20:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[hilal]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[puasa arofah]]></category>
		<category><![CDATA[tuntunan arafah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=933</guid>
		<description><![CDATA[Ketika bulan Dzulhijjah tiba, di antara pertanyaan yang sering dilontarkan oleh banyak pihak adalah puasa Arofah itu puasa di hari para jamaah haji berwukuf di Arofah ataukah tanggal 9 Dzulhijjah di masing-masing negara.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhari-arofah-ikut-siapa&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Ketika bulan Dzulhijjah tiba, di antara pertanyaan yang sering dilontarkan oleh banyak pihak adalah puasa Arofah itu puasa di hari para jamaah haji berwukuf di Arofah ataukah tanggal 9 Dzulhijjah di masing-masing negara.<span id="more-933"></span></p>
<p>Jawaban untuk permasalahan tersebut bisa kita jumpai dalam fatwa Syeikh Ibnu Utsaimin berikut ini. Fatwa ini kami dapatkan di <em>Majmu Fatawa wa Rosail Fadhilah al Syeikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin </em>jilid 20 halaman 47-48, cetakan Dar al Tsuraya Riyadh, cetakan kedua tahun 1426 H.</p>
<p>Syeikh Ibnu Utsaimin mendapat pertanyaan sebagai berikut, “<strong>Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arofah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci)?</strong>”</p>
<p>Jawaban beliau:</p>
<p>“Permasalahan ini adalah derivat dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, <span style="text-decoration: underline;">hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah.</span></p>
<p>Misalnya di Mekkah terlihat hilal sehingga hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sedangkan di negara lain, hilal Dzulhijjah telah terlihat sehari sebelum ru’yah Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah adalah tanggal 10 Dzulhijjah di negara tersebut. Tidak boleh bagi penduduk Negara tersebut untuk berpuasa Arofah pada hari ini karena hari ini adalah hari Iedul Adha di negara mereka.</p>
<p>Demikian pula, jika kemunculan hilal Dzulhijjah di negara itu selang satu hari setelah ru’yah di Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah itu baru tanggal 8 Dzulhijjah di negara tersebut. Penduduk negara tersebut berpuasa Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut mereka meski hari tersebut bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah.<br />
Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini karena Nabishallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “<em>Jika kalian melihat hilal Ramadhan hendaklah kalian berpuasa dan jika kalian melihat hilal Syawal hendaknya kalian berhari raya</em>” (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Orang-orang yang di daerah mereka hilal tidak terlihat maka mereka tidak termasuk orang yang melihatnya.</p>
<p>Sebagaimana manusia bersepakat bahwa <span style="text-decoration: underline;">terbitnya fajar serta tenggelamnya matahari itu mengikuti daerahnya masing-masing, demikian pula penetapan bulan itu sebagaimana penetapan waktu harian (yaitu mengikuti daerahnya masing-masing)</span>”.
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhari-arofah-ikut-siapa&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/hari-arofah-ikut-siapa"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=933&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah" title="Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah">Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jika-pemerintah-menetapkan-hari-raya-dengan-hisab" title="Jika Pemerintah Menetapkan Hari Raya Dengan Hisab">Jika Pemerintah Menetapkan Hari Raya Dengan Hisab</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah" title="Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?">Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji" title="Menjaga Kemabruran Haji">Menjaga Kemabruran Haji</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/khotbah-hari-raya" title="Khutbah Ied Dimulai Dengan Takbir">Khutbah Ied Dimulai Dengan Takbir</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain" title="Antara Dua Arbain">Antara Dua Arbain</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/berdzikir-di-hari-tasyriq" title="Berdzikir di Hari Tasyriq">Berdzikir di Hari Tasyriq</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adab-menyembelih-hewan-qurban" title="Adab Menyembelih Hewan Qurban">Adab Menyembelih Hewan Qurban</a> (21)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hari-raya-yang-sunah-dan-yang-bid%e2%80%99ah" title="Hari Raya yang Sunah dan yang Bid’ah">Hari Raya yang Sunah dan yang Bid’ah</a> (12)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hari-arofah-ikut-siapa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meninjau Hukum Transfer Hewan Qurban</title>
		<link>http://ustadzaris.com/meninjau-hukum-transfer-hewan-qurban</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/meninjau-hukum-transfer-hewan-qurban#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 11:35:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[korban]]></category>
		<category><![CDATA[luar daerah]]></category>
		<category><![CDATA[transfer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=869</guid>
		<description><![CDATA[Syeikh Abul Hasan Al Ma'ribi menjelaskan,
“Mengenai memindah hewan korban ke luar daerah maka hukumnya tergantung kondisi orang-orang miskin di daerah tempat tinggal shohibul qurban dan kondisi orang-orang miskin di daerah tujuan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmeninjau-hukum-transfer-hewan-qurban&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><strong>Syeikh Abul Hasan Al Ma&#8217;ribi menjelaskan,</strong><br />
“Mengenai memindah hewan korban ke luar daerah maka hukumnya tergantung<span style="text-decoration: underline;"> kondisi orang-orang miskin di daerah tempat tinggal shohibul qurban dan kondisi orang-orang miskin di daerah tujuan</span>.<br />
Jika di daerah tempat tinggal shohibul qurban terdapat banyak orang-orang miskin dan mereka mengharapkan agar mendapatkan daging korban maka yang lebih utama adalah tidak membawa hewan korban ke luar daerah.<br />
Dalam al Mughni al Muhtaj 6/135, asy Syarbini mengutip perkataan al Asnawi “Para ulama membolehkan mentransfer sedekah nadzar ke luar daerah sedangkan korban itu bagian dari sedekah” lalu berkomentar, “Perkataan beliau tersebut tertolak karena daging hewan korban itu diharap-harap orang-orang miskin daerah setempat, di samping itu korban tersebut pelaksanaannya terikat dengan waktu sehingga lebih tepat jika dianalogkan dengan zakat.</p>
<p>Hewan qurban itu berbeda dengan nadzar dan kaffaroh yang tidak sensitif bagi perasaan orang-orang miskin. Oleh karena itu orang-orang miskin tidak menaruh banyak harapan pada nadzar dan kaffarah”.<br />
Sedangkan jika daerah asal itu berlimpah orang kaya dan sedikit orang-orang miskin yang mengharapkan daging hewan korban padahal di daerah tujuan terdapat banyak orang miskin yang hati mereka itu perlu dihibur pada hari ini maka <span style="text-decoration: underline;">yang lebih baik</span> adalah mentransfer hewan korban ke luar daerah<strong> dengan status bersedekah hewan</strong>, bukan s<span style="text-decoration: underline;">ebagai hewan korban</span> dari orang yang memberikan hewan tersebut.<br />
Meskipun seandainya hewan tersebut ditransfer ke luar daerah dengan niat sebagai hewan korban juga dibolehkan. Hal ini berlaku untuk orang yang memiliki kelapangan rezeki sehingga orang tersebut juga<span style="text-decoration: underline;"> tetap bisa menyembelih hewan korban di daerah tempat tinggalnya</span> dengan hewan yang berbeda dengan hewan yang dia transferkan.<br />
Andai ada orang yang ingin mengirimkan hewan korbannya dan korban keluarganya keluar daerah dengan niat sebagai hewan korban maka hukum masalah ini adalah turunan dari hukum shohibul qurban <span style="text-decoration: underline;">memakan sebagian daging hewan korban, wajib ataukah tidak</span>.</p>
<p>Jika hal tersebut hukum <span style="text-decoration: underline;">wajib </span>maka tidak boleh memindah hewan korban ke luar daerah, dalam kondisi semacam ini.<br />
Sedangkan jika ukum shohibul qurban memakan sebagian daging korbannya adalah <span style="text-decoration: underline;">dianjurkan</span> maka mengirim hewan korban keluar daerah adalah perbuatan yang <span style="text-decoration: underline;">kurang afdhol</span> karena menyelisihi perbuatan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.<br />
Beliau berkorban untuk anggota keluarga padahal ada sebagian kaum muslimin (di luar Madinah) yang dalam kondisi sangat membutuhkan meski demikian <span style="text-decoration: underline;">beliau tidak pernah mengirimkan hewan korban ke luar daerah</span>.</p>
<p>Alasan lain yang menunjukkan bahwa perbuatan tadi itu<em> kurang afdhol </em>adalah menimbang bahwa hewan korban adalah syiar Idul Adha karenanya tidak selayaknya bagi orang yang berkecukupan untuk meninggalkannya atau memilih bersedekah dengan uang ataupun barang pada hari itu.<br />
Menyembelih hewan korban pada saat itu adalah amal yang diperintahkan karena perbuatan ini adalah jalan menuju takwa.</p>
<p style="text-align: center;">لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ</p>
<p>“<em>Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya</em>” (QS al Hajj:37)”.</p>
<p>[<em>Tanwir al ‘Ainain bi Ahkam al Adhohi wa al ‘Iedain</em> karya Syeikh Abul Hasan al Ma’ribi, terbitan Maktabah al Furqon cetakan pertama 1421, hal 490]
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmeninjau-hukum-transfer-hewan-qurban&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/meninjau-hukum-transfer-hewan-qurban"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=869&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/sekedar-renungan-tentang-awal-dzuhijjah" title="Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?">Bedakah Penentuan Idul Adha dengan Idul Fitri dan Ramadhan?</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/fatwa-mui-tentang-awal-dzulhijjah" title="Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah">Fatwa MUI tentang Awal Dzulhijjah</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/antara-dua-arbain" title="Antara Dua Arbain">Antara Dua Arbain</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya" title="Ucapan Selamat Hari Raya">Ucapan Selamat Hari Raya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menjaga-kemabruran-haji" title="Menjaga Kemabruran Haji">Menjaga Kemabruran Haji</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/berdzikir-di-hari-tasyriq" title="Berdzikir di Hari Tasyriq">Berdzikir di Hari Tasyriq</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adab-menyembelih-hewan-qurban" title="Adab Menyembelih Hewan Qurban">Adab Menyembelih Hewan Qurban</a> (21)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hari-arofah-ikut-siapa" title="Hari Arofah, Ikut Siapa?">Hari Arofah, Ikut Siapa?</a> (28)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/meninjau-hukum-transfer-hewan-qurban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.803 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-05 12:02:28 -->

