<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah &#187; fatawa</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/tag/fatawa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 00:00:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Adakah Jihad di Zaman Ini?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/adakah-jihad-di-zaman-ini</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/adakah-jihad-di-zaman-ini#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Dec 2010 00:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=2281</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Sholeh Al 'Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kami tegaskan bahwa di zaman sekarang ini mustahil jihad (baca: jihad ofensif) di jalan Allah dengan pedang atau semisalnya bisa ditegakkan karena dua alasan.
Alasan pertama adalah lemahnya kaum muslimin secara materi maupun non materi karena kaum muslimin belum mewujudkan secara nyata faktor-faktor datangnya kemenangan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fadakah-jihad-di-zaman-ini&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>الأصل الثالث: أن نقول: إنه في عصرنا الحاضر يتعذر القيام بالجهاد في سبيل الله بالسيف ونحوه،</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholeh Al &#8216;Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kami tegaskan bahwa di zaman sekarang ini <strong>mustahil </strong>jihad (baca: <em>jihad ofensif</em>) di jalan Allah dengan pedang atau semisalnya bisa ditegakkan karena <strong>dua alasan</strong>.</p>
<p>لضعف المسلمين ماديًّا ومعنويًّا وعدم إتيانهم بأسباب النصر الحقيقية،</p>
<p><strong>Alasan pertama</strong> adalah lemahnya kaum muslimin secara materi maupun non materi karena kaum muslimin belum mewujudkan secara nyata faktor-faktor datangnya kemenangan.</p>
<p>ولأجل دخولهم في المواثيق والعهود الدولية،</p>
<p><strong>Alasan kedua</strong>, karena terikatnya negari-negeri kaum muslimin dengan berbagai perjanjian dan hubungan antar negara (semisal hubungan bilateral ataupun multi lateral, pent) dengan negara-negara kafir.</p>
<p>فلم يبق إلا الجهاد بالدعوة إلى الله على بصيرة،</p>
<p>Sehingga tidak ada jihad di zaman ini kecuali dalam bentuk berdakwah mengajak manusia ke jalan Allah dengan landasan ilmu agama yang mapan.</p>
<p>فإذا تفرغ لها قوم وعملوا فيه جاز إعطاؤهم من نصيب المجاهدين.</p>
<p>Oleh karena itu jika ada sekelompok orang yang menghabiskan waktunya untuk berdakwah yang dilandasi ilmu agama yang mapan maka diperbolehkan jatah zakat yang seharusnya diberikan kepada orang-orang yang berjihad diberikan kepada mereka”.</p>
<p><strong>Sumber</strong>: Majmu Fatawa wa Rasail Muhammad bin Shalih al Utsaimin jilid 18 hal 388 terbitan Dar Tsaraya Riyadh, cetakan kedua tahun 1426 H.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fadakah-jihad-di-zaman-ini&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/adakah-jihad-di-zaman-ini"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=2281&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/jihad-yaman" title="Jihad Syar&#8217;i di Dammaj">Jihad Syar&#8217;i di Dammaj</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini" title="Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini">Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</a> (35)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps" title="Hukum Bermain Play Station (PS)">Hukum Bermain Play Station (PS)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi" title="Dasi Menurut Ibnu Utsaimin">Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak" title="Hukum Kerja di Kantor Pajak">Hukum Kerja di Kantor Pajak</a> (74)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram" title="Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?">Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?</a> (14)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jual-beli-via-internet" title="Jual Beli via Internet">Jual Beli via Internet</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir" title="Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir">Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir</a> (8)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/merekalah-ahli-waris-khawarij" title="Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;">Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;</a> (18)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/siapakah-yang-disebut-ahli-bidah" title="Siapakah yang Disebut Ahli Bid&#8217;ah?">Siapakah yang Disebut Ahli Bid&#8217;ah?</a> (16)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/adakah-jihad-di-zaman-ini/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 20:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum televisi]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islam]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1262</guid>
		<description><![CDATA[Pendengaran adalah nikmat Allah. Penglihatan juga merupakan nikmat. Dua bibir dan lidah juga nikmat. Akan tetapi, banyak dari berbagai nikmat yang menjadi sumber bencana bagi orang yang mendapatkan nikmat tersebut karena mereka tidak mempergunakan nikmat dalam perkara yang Allah inginkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-menonton-televisi-di-zaman-ini&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><a title="Biografi Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani" href="http://ahlussunnah.info/artikel-ke-70-biografi-syaikh-muhammad-nashiruddin-al-albani-rahimahullah">Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani</a> <em>rahimahullah </em>mendapat pertanyaan sebagai berikut, “<em>Apa hukum menonton televisi di masa kini?</em>”.<span id="more-1262"></span></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">الجواب: التلفزيون اليوم لا شك أنه حرام، لأن التلفزيون مثل الراديو والمسجل، هذه كغيرها من النعم التي أحاط الله بها عباده</p>
<p><strong>Jawaban beliau</strong>, “Tidaklah diragukan bahwa hukum menonton televisi pada masa kini adalah <strong>haram</strong>. Televisi itu seperti radio dan tape recorder. Benda-benda ini dan yang lainnya adalah di antara limpahan nikmat Allah kepada para hamba-Nya.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">كما قال: {وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها}</p>
<p>Sebagaimana firman Allah yang artinya, “<em>Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak bisa menghitungnya</em>”</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فالسمع نعمة والبصر نعمة والشفتان نعمة واللسان، ولكن كثيرا من هذه النعم تصبح نقما على أصحابها لأنهم لم يستعملوها فيما أحب الله أن يستعملوها؛</p>
<p><span style="color: #ff0000;">Pendengaran</span> adalah nikmat Allah. <span style="color: #ff00ff;">Penglihatan</span> juga merupakan nikmat.<span style="color: #800080;"> Dua bibir</span> dan <span style="color: #0000ff;">lidah</span> juga nikmat. Akan tetapi, banyak dari berbagai nikmat yang menjadi sumber bencana bagi orang yang mendapatkan nikmat tersebut karena mereka tidak mempergunakan nikmat dalam perkara yang Allah inginkan.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فالراديو والتلفزيون والمسجل أعتبرها من النعم ولكن متى تكون من النعم؟ حينما توجه الوجهة النافعة للأمة،</p>
<p><span style="color: #ff00ff;">Radio</span>, <span style="color: #ff0000;">televisi</span> dan <span style="color: #0000ff;"><em>tape recorder</em></span> adalah nikmat ketika dipergunakan untuk perkara yang mendatangkan nikmat bagi umat.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">التلفزيون اليوم بالمئة تسعة وتسعون فسق، خلاعة، فجور، أغاني محرمة، إلى آخره،</p>
<p>Isi televisi pada masa kini <strong>99 persen</strong> adalah kefasikan, pornografi atau porno aksi, kemaksiatan, nyanyian yang haram dan seterusnya.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">بالمئة واحد يعرض أشياء قد يستفيد منه بعض الناس</p>
<p>Sedangkan <strong>hanya 1%</strong> saja dari tontonannya yang bisa diambil manfaatnya oleh sebagian orang.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فالعبرة بالغالب،</p>
<p>Sedangkan kaedah mengatakan bahwa nilai sesuatu itu berdasarkan unsur dominan dalam sesuatu tersebut.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فحينما توجد دولة مسلمة حقا وتضع مناهج علمية مفيدة للأمة حينئذ لا أقول : التلفزيون جائز، بل أقول واجب.</p>
<p>Ketika ada negara Islam yang sesunggunnya lalu negara membuat <strong>program acara TV yang ilmiah dan bermanfaat bagi umat</strong> maka –pada saat itu- kami tidak hanya mengatakan bahwa hukum menonton TV adalah <span style="text-decoration: underline;">boleh </span>bahkan akan kami katakan bahwa menonton TV hukumnya <span style="text-decoration: underline;">wajib</span>.</p>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<p>http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=342586</p>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
Jika demikian hukum menonton TV –menurut <a title="Biografi Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani" href="http://ahlussunnah.info/artikel-ke-70-biografi-syaikh-muhammad-nashiruddin-al-albani-rahimahullah">Syaikh al Albani</a>- di zaman beliau padahal beliau tinggal di Yordania, lalu bagaimana dengan hukum menonton TV saat ini di negeri kita??!!<br />
Fatwa di atas mengisyaratkan bahwa <a title="Biografi Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani" href="http://ahlussunnah.info/artikel-ke-70-biografi-syaikh-muhammad-nashiruddin-al-albani-rahimahullah">Syaikh al Albani</a> tidak mengharamkan gambar bergerak yang tentu ada di layar TV.
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-menonton-televisi-di-zaman-ini&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1262&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps" title="Hukum Bermain Play Station (PS)">Hukum Bermain Play Station (PS)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi" title="Dasi Menurut Ibnu Utsaimin">Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram" title="Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?">Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?</a> (14)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jual-beli-via-internet" title="Jual Beli via Internet">Jual Beli via Internet</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir" title="Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir">Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir</a> (8)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/merekalah-ahli-waris-khawarij" title="Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;">Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;</a> (18)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kuliah-ikhtilat-penuh-dilema" title="Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema">Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema</a> (25)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/potongan-pakaian-muslimah-yang-tidak-syar%e2%80%99i" title="Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?">Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?</a> (21)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pacaran-terselubung-via-chatting-dan-hp" title="Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP">Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP</a> (121)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-membuat-robot" title="Hukum Membuat Robot">Hukum Membuat Robot</a> (5)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Bermain Play Station (PS)</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 20:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Play station]]></category>
		<category><![CDATA[PS]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islam]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1260</guid>
		<description><![CDATA[Alat-alat di atas baik TV, video ataupun yang lainnya pada asalnya adalah alat-alat yang netral, bisa digunakan untuk hal-hal yang baik ataupun hal-hal yang buruk, untuk taat ataupun untuk maksiat. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-bermain-play-station-ps&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><strong>Hukum Menjual TV, Video dan PS</strong><br />
لدي محل أجهزة كهربائية ، فهل يجوز أن أبيع أجهزة التلفاز والفيديو وأجهزة ( البلايستيشن ) والاسطوانات الخاصة به ، مع العلم أنني لا أعرف لأي غرض ستستخدم هذه الأجهزة ؟<br />
Pertanyaan, “<em>Aku memiliki toko yang menjual alat-alat elektronik. Apakah aku boleh menjual TV, video dan PS (Playstation) serta CD khusus untuk PS? Aku tidak mengetahui untuk tujuan apakah alat-alat ini dipergunakan</em> oleh pembeli”.<span id="more-1260"></span><br />
الحمد لله<br />
هذه الأجهزة من التلفاز والفيديو وغيرها &#8211; مما يستعمل في الخير والشر ، والطاعة والمعصية، لكن يغلب اليوم استعمالها في الشر، من رؤية النساء العاريات ، وسماع اللهو واللغو والباطل من الموسيقى وغيرها- . والواجب في مثل هذا أن يعمل الإنسان بما يغلب على ظنه .</p>
<p><strong>Jawaban</strong>, “Alat-alat di atas baik TV, video ataupun yang lainnya pada asalnya adalah <strong>alat-alat yang netral</strong>, bisa digunakan untuk hal-hal yang baik ataupun hal-hal yang buruk, untuk taat ataupun untuk maksiat. Akan tetapi pada hari ini alat-alat tersebut <span style="text-decoration: underline;">lebih dominan</span> dipergunakan <span style="text-decoration: underline;">untuk keburukan</span> baik berupa menonton perempuan telanjang, mendengarkan hal yang terlarang semisal musik atau pun yang lainnya. Dalam kondisi semisal ini kita wajib beramal sebagaimana yang menjadi prasangka kuat kita.<br />
فلا يجوز بيعها إلا لمن عُلم أو غلب على الظن أنه يستعملها في المباح.</p>
<p>Oleh karena itu, tidak diperbolehkan menjual alat-alat tersebut kecuali kepada orang yang kita memiliki prasangka kuat bahwa orang tersebut akan menggunakannya dalam hal yang mubah.<br />
أما من عُلم أو غلب على الظن أنه يستعملها في الحرام ، فلا يجوز بيعها عليه ؛ لقول الله تعالى : ( وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ) المائدة /2 .</p>
<p>Sedangkan orang yang diyakini atau ada prasangka kuat bahwa dia akan menggunakan benda-benda tersebut dalam hal yang haram maka tidak boleh menjual benda tadi kepadanya mengingat firman Allah yang artinya, “<em>Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran</em>” (QS al Maidah:2).<br />
جاء في فتاوى اللجنة الدائمة : &#8221; كل ما يستعمل على وجه محرم ، أو يغلب على الظن ذلك ، فإنه يحرم تصنيعه واستيراده وبيعه وترويجه بين المسلمين&#8221; اهـ  فتاوى اللجنة الدائمة  (13/109(</p>
<p>Dalam Fatawa al Lajnah al Daimah 13/109 disebutkan, “Segala benda yang dipergunakan untuk hal yang haram atau ada prasangka kuat untuk hal yang haram maka <strong>haram </strong>hukumnya memproduksi barang tersebut. Demikian pula mengimpornya, menjualnya dan memasarkannya di antara kaum muslimin”.<br />
وسئلت اللجنة الدائمة للإفتاء ، ما نصه : أنا أعمل مهندس إلكترونيات ، ومن عملي إصلاح الراديو والتليفون والفيديو ومثل هذه الأجهزة ، فأرجو إفتائي عن الاستمرار في هذه الأعمال ، مع العلم أن ترك هذا العمل يفقدني كثيرا من الخبرة ومن مهنتي التي تعلمتها طوال حياتي ، وقد يقع علي ضرر خلال تركها</p>
<p>Al Lajnah al Daimah lil Ifta mendapatkan pertanyaan dengan teks sebagai berikut, “Aku adalah sarjana elektro. Aku bekerja menservis radio, TV, video dan alat-alat semisal. Aku berharap mendapatkan fatwa tentang terus menerus bekerja seperti ini. Perlu diketahui jika aku meninggalkan pekerjaanku ini aku akan kehilangan banyak dari kemampuanku dan berarti aku kehilangan profesi yang telah kupelajari sepanjang hidupku. Aku akan mendapatkan banyak masalah jika meninggalkan pekerjaan tersebut”.<br />
فأجابت : &#8221; دلت الأدلة الشرعية من الكتاب والسنة أنه يجب على المسلم أن يحرص على طيب كسبه، فينبغي لك أن تبحث عن عمل يكون الكسب فيه طيبا. وأما الكسب من العمل الذي ذكرته فهذا ليس بطيب؛ لأن هذه الآلات تستعمل غالبا في أمور محرمة&#8221; اهـ . فتاوى اللجنة الدائمة (14/420(</p>
<p>Jawaban al Lajnah, “Terdapat banyak dalil dari al Qur’an dan sunah yang menunjukkan bahwa seorang muslim berkewajiban untuk mencari pekerjaan yang halal. Sehingga sepatutnya anda mencari pekerjaan lain yang halal. Sedangkan pekerjaan sebagaimana yang anda ceritakan bukanlah pekerjaan yang halal karena <span style="text-decoration: underline;">alat-alat tersebut pada umumnya dipergunakan untuk hal-hal yang haram</span>” (Fatawa al Lajnah al Daimah 14/420).<br />
وأما (البلايستيشن ) وأقراصه ، فله الحكم السابق نفسه ، فيجوز بيعه على من غلب على الظن أن يستعمله استعمالاً مباحاً ، ويحرم بيعه على من غلب على الظن أنه يستعمله استعمالاً محرماً .</p>
<p>Sedangkan PS (Play station) dan CD-nya hukumnya sama dengan hukum masalah di atas. Sehingga boleh dijual kepada orang yang kita memiliki prasangka kuat bahwa orang tersebut akan menggunakannya dalam hal yang mubah. Haram hukumnya menjual benda tersebut kepada orang yang kemungkinan besar akan menggunakannya dalam hal yang haram.<br />
وكثير من الناس الآن يستعمله استعمالاً محرماً ، فبدلاً من أن يكون الترفيه شيئاً عارضاً يفعله الإنسان إذا احتاج إليه ، صار الترفيه هو الأصل عند كثير من الناس ، فينفق فيه كثيراً من عمره وماله وجهده ما بين اللعب بنحو هذه الألعاب ، والذهاب إلى النوادي وحمامات السباحة ، والسفر والجلوس مع الأصحاب ، والذهاب إلى المنتزهات &#8230;إلخ .</p>
<p>Banyak orang menggunakan PS dengan penggunaan yang haram. Seharusnya hiburan itu seperlunya, dilakukan jika memang dibutuhkan. <span style="text-decoration: underline;">Namun ternyata menurut banyak orang isi pokok hidup adalah hiburan</span>. Banyak orang menghabiskan banyak waktu, harta dan tenaganya di depan PS atau semisalnya. Jika tidak, mereka pergi ke tempat-tempat nongkrong, kolam renang, jalan-jalan dan duduk santai dengan kawan, pergi ke tempat-tempat wisata dan semisalnya.<br />
وكثير ممن يستعمل البلايستيشن أو نحوه من الألعاب يضيع بسببه الصلوات ، وينشغل به عن كثير من مصالح دينه ودنياه ، مما يجعلنا نجزم بتحريمه على أمثال هؤلاء .</p>
<p>Banyak orang yang main PS atau alat permainan semisalnya karena sebab PS melalaikan kewajiban shalat lima waktu dan tidak melakukan hal-hal bermanfaat secara agama ataupun dunia. Dengan alasan-alasan tersebut kami berani menegaskan haramnya bermain PS bagi orang-orang semisal di atas.<br />
وأما من يقدر الأمور حق قدرها ، ويلعب بهذه الألعاب قليلاً من الوقت للترويح عن النفس ، ولا يضيع بسببها شيئاً من الواجبات ولا مصالح دينية أو دنيوية ، ومع خلو هذه الألعاب من المنكرات كالموسيقى وصور النساء العاريات ونحو ذلك فلا حرج في ذلك إن شاء الله تعالى .</p>
<p>Adapun orang yang bisa bersikap proporsional, hanya sejenak saja bermain PS dengan tujuan mencari hiburan, PS tidak menyebabkan melalaikan kewajiban dan melakukan hal-hal bermanfaat secara agama ataupun dunia ditambah PS tersebut bebas dari berbagai kemungkaran semisal musik, gambar wanita telanjang maka bermain PS untuk orang yang memenuhi kriteria di atas itu <span style="text-decoration: underline;">tidak masalah</span>, <em>insya Allah</em>.<br />
والأجدر بالمسلم أن يحرص على كسب المال الحلال الذي لا شبهة فيه ، وليتذكر قول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( كل جسد نبت من سحت فالنار أولى به ) . رواه الطبراني وصححه الألباني في صحيح الجامع (4519) .</p>
<p>Yang terbaik bagi seorang muslim adalah berusaha untuk mencari pekerjaan halal yang tidak ada subhat di dalamnya. Hendaknya kita selalu ingat dengan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “<em>Semua bagian badan yang tumbuh dari harta yang haram maka api neraka itulah yang lebih baik untuknya</em>” (HR Thabrani dan dinilai sahih oleh al Albani dalam Shahih al Jami’ no 4519).</p>
<p><strong>Sumber</strong>:</p>
<p>http://islamqa.com/ar/ref/39744/%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85</p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-bermain-play-station-ps&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1260&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini" title="Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini">Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</a> (35)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi" title="Dasi Menurut Ibnu Utsaimin">Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram" title="Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?">Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?</a> (14)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jual-beli-via-internet" title="Jual Beli via Internet">Jual Beli via Internet</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir" title="Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir">Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir</a> (8)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/merekalah-ahli-waris-khawarij" title="Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;">Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;</a> (18)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kuliah-ikhtilat-penuh-dilema" title="Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema">Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema</a> (25)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/potongan-pakaian-muslimah-yang-tidak-syar%e2%80%99i" title="Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?">Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?</a> (21)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pacaran-terselubung-via-chatting-dan-hp" title="Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP">Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP</a> (121)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/toga-sarjana" title="Toga Sarjana">Toga Sarjana</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 17:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[dasi]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum dasi]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1233</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya kami tidak berani menegaskan bolehnya memakai dasi bagi laki-laki namun mengingat sebagaimana kami lihat sendiri bahwa mayoritas manusia (baca: muslimin) sekarang memakai dasi terutama sebagian pegawai di sebagian instansi sehingga kami berkesimpulan semoga tidaklah berdosa laki-laki yang memakai dasi. Sedangkan perempuan tetap tidak boleh”.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-memakai-dasi&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Pertanyaan</span>,</strong><br />
ما حكم لبس الكرفتة للنساء مع العلم بأنها مصنوعة من أقمشة خاصة بالنساء ؟<br />
“Apa hukum memakai dasi bagi perempuan mengingat bahwa dasi tersebut terbuat dari kain khusus untuk perempuan?”<span id="more-1233"></span><br />
الجواب :<br />
الحمد لله<br />
لا أرى لبس النساء للكرفتة لأننا في شك من جواز لبسها للرجال فكيف بالنساء ؟<br />
<span style="color: #0000ff;"><strong>Jawaban</strong></span>, “Kami<span style="text-decoration: underline;"> tidak membolehkan</span> dasi bagi <strong>perempuan</strong>. Karena kami meragukan bolehnya memakai dasi bagi laki-laki maka bagaimana lagi dengan perempuan.<br />
أما الرجال ففي نفسي من جواز لبسها شيء لكن رأيت أكثر الناس الآن يلبسونها ولا سيما بعض الموظفين في جهة من الجهات ، فأرجو أن لا يكون في لباسها حرج بالنسبة للرجال أما المرأة فلا .<br />
Sebenarnya kami tidak berani menegaskan bolehnya memakai dasi bagi laki-laki namun mengingat sebagaimana kami lihat sendiri bahwa mayoritas manusia (baca: muslimin) sekarang memakai dasi terutama sebagian pegawai di sebagian instansi sehingga kami berkesimpulan <span style="text-decoration: underline;">semoga tidaklah berdosa laki-laki yang memakai dasi</span>. Sedangkan perempuan tetap tidak boleh”.</p>
<p>من فتاوى الشيخ ابن عثيمين من مجلة الدعوة<br />
Demikian fatwa Syeikh Ibnu Utsaimin dalam majalah ad Dakwah.</p>
<p>Rujukan:</p>
<p>http://islamqa.com/ar/ref/9300/%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85</p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-memakai-dasi&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1233&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini" title="Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini">Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</a> (35)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps" title="Hukum Bermain Play Station (PS)">Hukum Bermain Play Station (PS)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram" title="Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?">Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?</a> (14)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jual-beli-via-internet" title="Jual Beli via Internet">Jual Beli via Internet</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir" title="Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir">Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir</a> (8)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/merekalah-ahli-waris-khawarij" title="Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;">Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;</a> (18)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kuliah-ikhtilat-penuh-dilema" title="Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema">Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema</a> (25)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/potongan-pakaian-muslimah-yang-tidak-syar%e2%80%99i" title="Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?">Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?</a> (21)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pacaran-terselubung-via-chatting-dan-hp" title="Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP">Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP</a> (121)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mungkinkah-salafi-berdasi-berjas-dan-memakai-pantalon" title="Mungkinkah Salafi Berdasi, Berjas dan Memakai Pantalon?">Mungkinkah Salafi Berdasi, Berjas dan Memakai Pantalon?</a> (40)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Kerja di Kantor Pajak</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 20:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bea cukai]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[gaji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kerja]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1187</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan, “Aku bekerja di kantor bea cukai. Aku pernah mendengar bahwa pekerjaan semacam ini itu tidak diperbolehkan oleh syariat. Mendengar hal tersebut aku lantas mengadakan pengkajian tentang permasalahan ini. Setelah sekian lama aku mengkaji, aku tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku berharap agar anda menjelaskan hukum permasalahan ini sejelas-jelasnya”.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-kerja-di-kantor-pajak&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Berikut ada fatwa menarik tentang hukum bekerja di kantor pajak yang sering dipertanyakan sebagian orang. Semoga bermanfaat.<span id="more-1187"></span></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">حكم العمل في الجمارك والضرائب<br />
أعمل في الجمارك ، وقد سمعت أن هذا العمل غير جائز شرعاً ، فشرعت في البحث في هذه المسألة وقد مرت مدة طويلة وأنا أبحث دون أن أصل إلى نتيجة شافية . أرجو منكم أن تفصلوا لي المسألة قدر المستطاع</p>
<p><strong>Hukum Bekerja di Bidang Bea Cukai dan Perpajakan</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan</strong>, “Aku bekerja di kantor bea cukai. Aku pernah mendengar bahwa pekerjaan semacam ini itu tidak diperbolehkan oleh syariat. Mendengar hal tersebut aku lantas mengadakan pengkajian tentang permasalahan ini. Setelah sekian lama aku mengkaji, aku tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku berharap agar anda menjelaskan hukum permasalahan ini sejelas-jelasnya”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">الحمد لله<br />
أولاً :<br />
العمل في الجمارك وتحصيل الرسوم على ما يجلبه الناس من بضائع أو أمتعة ، الأصل فيه أنه حرام .</p>
<p>Jawaban pertanyaan, “Alhamdulillah, pada dasarnya hukum bekerja di bidang bea cukai yang memungut pajak atas barang-barang yang didatangkan oleh masyarakat dan dimasukkan ke suatu daerah adalah <strong>haram</strong>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">لما فيه من الظلم والإعانة عليه ؛ إذ لا يجوز أخذ مال امرئ معصوم إلا بطيب نفس منه ، وقد دلت النصوص على تحريم المَكْس ، والتشديد فيه ، ومن ذلك قوله صلى الله عليه وسلم في المرأة الغامدية التي زنت فرجمت : ( لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ ) رواه مسلم (1695)</p>
<p>Alasan diharamkannya hal ini adalah karena pungutan bea cukai adalah <strong>kezaliman </strong>sehingga bekerja di bea cukai berarti <span style="text-decoration: underline;">membantu pihak yang hendak melakukan kezaliman</span>. Tidak boleh mengambil harta seorang yang hartanya terjaga (baca: muslim atau kafir dzimmi) kecuali dengan kerelaannya. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan haramnya <strong><em>maks </em>(baca: bea cukai)</strong> dan adanya ancaman keras tentang hal ini. Di antaranya adalah sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>tentang seorang perempuan dari suku Ghamidiyyah yang berzina lantas dihukum rajam. Beliau bersabda, “<em>Perempuan tersebut telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya pemungut bea cukai bertaubat seperti itu tentu dia akan diampuni</em>” (HR Muslim no 1695).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قال النووي رحمه الله : &#8220;فيه أن المَكْس من أقبح المعاصي والذنوب الموبقات ، وذلك لكثرة مطالبات الناس له وظلاماتهم عنده ، وتكرر ذلك منه ، وانتهاكه للناس وأخذ أموالهم بغير حقها ، وصرفها في غير وجهها &#8221; اهـ .</p>
<p>Ketika membahas hadits di atas, an Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa memungut bea cukai itu termasuk <strong>kemaksiatan yang paling buruk</strong> dan termasuk <strong>dosa yang membinasakan (baca: dosa besar)</strong>. Hal ini disebabkan banyaknya tuntutan manusia kepadanya (pada hari Kiamat) dan banyaknya tindakan kezaliman yang dilakukan oleh pemungut bea cukai mengingat pungutan ini dilakukan berulang kali. Dengan memungut bea cukai berarti melanggar hak orang lain dan mengambil harta orang lain tanpa alasan yang bisa dibenarkan serta membelanjakannya tidak pada sasaran yang tepat”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وروى أحمد (17333) وأبو داود (2937) عن عقبة بن عامر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ صَاحِبُ مَكْسٍ )<br />
قال شعيب الأناؤوط : حسن لغيره. وضعفه الألباني في ضعيف أبي داود</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ahmad no 17333 dan Abu Daud no 2937 dari Ubah bin Amir, Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda, “<em>Pemungut bea cukai itu tidak akan masuk surga</em>”. Hadits ini dinilai hasan li ghairihi oleh Syu’aib al Arnauth namun dinilai lemah oleh al Albani dalam Dhaif Abu Daud.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">والمَكْس هو الضريبة التي تفرض على الناس ، ويُسمى آخذها (ماكس) أو (مكَّاس) أو (عَشَّار) لأنه كان يأخذ عشر أموال الناس</p>
<p>Pengertian <strong><em>maks </em></strong>yang ada dalam hadits-hadits di atas adalah <strong>pajak yang diwajibkan atas masyarakat</strong>. Pemungut <em>maks </em>disebut dengan <em>maakis</em>, <em>makkaas </em>atau ‘<em>asysyar </em>(pemungut sepersepuluh), disebut demikian karena pemungut bea cukai – di masa silam – mengambil <span style="text-decoration: underline;">sepersepuluh </span>dari total harta orang yang dibebani bea cukai.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">. وقد ذكر العلماء للمكس عدة صور . منها : ما كان يفعله أهل الجاهلية ، وهي دراهم كانت تؤخذ من البائع في الأسواق .<br />
ومنها : دراهم كان يأخذها عامل الزكاة لنفسه ، بعد أن يأخذ الزكاة .<br />
ومنها : دراهم كانت تؤخذ من التجار إذا مروا ، وكانوا يقدرونها على الأحمال أو الرؤوس ونحو ذلك ، وهذا أقرب ما يكون شبهاً بالجمارك</p>
<p>Para ulama menyebutkan bahwa maks itu memiliki beberapa bentuk.</p>
<p>(1) <em>Maks </em>yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah yaitu uang pajak yang diambil dari para penjual di pasar</p>
<p>(2) Uang yang diambil oleh amal zakat dari muzakki untuk kepentingan pribadinya setelah dia mengambil zakat.</p>
<p>(3) Uang yang diambil dari para pedagang yang melewati suatu tempat tertentu. Uang yang diambil tersebut dibebankan kepada barang dagangan yang dibawa, perkepala orang yang lewat atau semisalnya.</p>
<p><em>Maks </em>dengan <span style="text-decoration: underline;">pengertian ketiga</span> tersebut sangat mirip dengan <span style="text-decoration: underline;">bea cukai</span>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وذكر هذه الصور الثلاثة في &#8220;عون المعبود&#8221; ، فقال : في القاموس : المكس النقص والظلم ، ودراهم كانت تؤخذ من بائعي السلع في الأسواق في الجاهلية . أو درهم كان يأخذه المُصَدِّق (عامل الزكاة) بعد فراغه من الصدقة</p>
<p>Ketiga bentuk <em>maks </em>ini disebutkan oleh penulis kitab<em> Aunul Ma’bud</em> (Syarh Sunan Abu Daud). Penulis Aunul Ma’bud mengatakan, “Dalam <em>al Qamus al Muhith</em> disebutkan bahwa makna asal dari <em>maks </em>adalah mengurangi atau menzalimi. <em>Maks </em>adalah uang yang diambil dari para pedagang di pasar pada masa jahiliyyah atau uang yang diambil oleh amil zakat (untuk dirinya) setelah dia selesai mengambil zakat.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وقال في &#8220;النهاية&#8221; : هو الضريبة التي يأخذها الماكس ، وهو العشار .<br />
وفي &#8220;شرح السنة&#8221; : أراد بصاحب المكس : الذي يأخذ من التجار إذا مروا مَكْسًا باسم العشر اهـ</p>
<p>Penulis kitab <em>an Nihayah</em> mengatakan bahwa <em>maks </em>adalah pajak yang diambil oleh <em>maakis </em>atau pemungut <em>maks</em>. Pemungut maks itu disebut juga <em>asysyar</em>. Sedangkan penulis kitab <em>Syarh as Sunah</em> mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pemungut <em>maks </em>adalah orang yang meminta uang dari para pedagang jika mereka lewat di suatu tempat dengan kedok ‘<em>usyur </em>(yaitu zakat)”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وقال الشوكاني في &#8220;نيل الأوطار” : صاحب المكس هو من يتولى الضرائب التي تؤخذ من الناس بغير حق “اهـ .</p>
<p>Dalam Nailul Author, asy Syaukani mengatakan, “Pemungut <em>maks </em>adalah orang yang mengambil pajak dari masyarakat tanpa adanya alasan yang bisa dibenarkan”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">والمَكْس محرم بالإجماع ، وقد نص بعض أهل العلم على أنه من كبائر الذنوب .</p>
<p>Memungut <em>maks </em>adalah <strong>haram </strong>dengan <span style="text-decoration: underline;">sepakat ulama</span>. Bahkan sebagian ulama menegaskan bahwa perbuatan memungut <em>maks </em>adalah<strong> dosa besar</strong>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قال في &#8220;مطالب أولي النهى&#8221; (2/619 )<br />
(يحرم تعشير أموال المسلمين -أي أخذ عشرها- والكُلَف -أي الضرائب- التي ضربها الملوك على الناس بغير طريق شرعي إجماعا . قال القاضي : لا يسوغ فيها اجتهاد ) اهـ .</p>
<p>Dalam <em>Mathalib Ulin Nuha</em> 2/619 disebutkan, “Diharamkan mengambil sepersepuluh dari total harta manusia. Demikian juga diharamkan memungut pajak. Pajak adalah pungutan penguasa dari rakyatnya tanpa cara yang dibenarkan oleh syariat. <span style="text-decoration: underline;">Diharamkannya hal ini adalah ijma ulama</span>. Al Qadhi mengatakan bahwa tidak ada ijtihad dalam masalah ini”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وقال ابن حجر المكي في &#8220;الزواجر عن اقتراف الكبائر&#8221; (1/180(<br />
الكبيرة الثلاثون بعد المائة : جباية المكوس , والدخول في شيء من توابعها كالكتابة عليها ، لا بقصد حفظ حقوق الناس إلى أن ترد إليهم إن تيسر. وهو داخل في قوله تعالى : ( إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ( الشورى/42 .</p>
<p>Ibnu Hajar al Maki dalam <em>al Zawajir ‘an Iqtiraf al Kabair</em> 1/180 mengatakan, “Dosa besar ke-130 adalah memungut maks dan berperan serta di dalamnya dengan menjadi juru tulis bukan dengan tujuan menjaga hak manusia sehingga bisa dikembalikan kepada pemilik harta ketika sudah memungkinkan. Dosa ini termasuk dalam firman Allah yang artinya, “<em>Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih</em>” (QS asy Syura:42).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">والمكاس بسائر أنواعه : من جابي المكس ، وكاتبه ، وشاهده ، ووازنه ، وكائله ، وغيرهم من أكبر أعوان الظلمة ، بل هم من الظلمة أنفسهم , فإنهم يأخذون ما لا يستحقونه ، ويدفعونه لمن لا يستحقه , ولهذا لا يدخل صاحب مكس الجنة ، لأن لحمه ينبت من حرام .</p>
<p>Para pemungut pajak dengan berbagai tugasnya baik pemungut pajak secara langsung, juru tulisnya, saksi, petugas yang bertugas menimbang ataupun menakar barang yang akan dibebani pajak dll adalah pembantu penting para penguasa yang zalim. Bahkan mereka adalah orang-orang yang zalim karena merekalah yang mengambil harta yang bukan hak mereka dan menyerahkannya kepada orang yang tidak berhak. Oleh karena itu, pemungut pajak itu tidak akan masuk surga karena dagingnya tumbuh dari <strong>harta yang haram</strong>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وأيضا : فلأنهم تقلدوا بمظالم العباد , ومن أين للمكاس يوم القيامة أن يؤدي الناس ما أَخَذَ منهم ، إنما يأخذون من حسناته ، إن كان له حسنات , وهو داخل في قوله صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح : ( أتدرون من المفلس ؟ قالوا : يا رسول الله ، المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع . قال : إن المفلس من أمتي من يأتي يوم القيامة بصلاة وزكاة وصيام ، وقد شتم هذا ، وضرب هذا ، وأخذ مال هذا ، فيأخذ هذا من حسناته ، وهذا من حسناته ، فإن فنيت حسناته قبل أن يقضي ما عليه أخذ من سيئاتهم فطرح عليه ثم طرح في النار)</p>
<p>Sebab yang kedua adalah karena <strong>mereka bertugas untuk menzalimi manusia</strong>. Dari mana para pemungut zakat tersebut pada hari Kiamat bisa mengembalikan hak orang lain yang telah mereka ambil?? Orang-orang yang dikenai pajak itu akan mengambil kebaikannya jika pemungut pajak tersebut masih memiliki kebaikan. Pemungut pajak itu termasuk dalam hadits yang sahih. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bertanya kepada para sahabat, “<em>Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?</em>” Jawaban para sahabat, “<em>Menurut kami, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak punya dan tidak punya harta</em>”. Sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>, “<em>Umatku yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, zakat dan puasa. Namun dia telah mencaci maki A, memukul B dan mengambil harta C. A akan mengambil amal kebaikannya. Demikian pula B. Jika amal kebajikannya sudah habis sebelum kewajibannya selesai maka amal kejelekan orang-orang yang dizalimi akan diberikan kepadanya kemudian dia dicampakkan ke dalam neraka</em>”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وعن عقبة بن عامر رضي الله عنه أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( لا يدخل الجنة صاحب مكس )</p>
<p>Dari Ubah bin Amir, beliau mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda, “<em>Pemungut bea cukai itu tidak akan masuk surga</em>”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قال البغوي : يريد بصاحب المكس الذي يأخذ من التجار إذا مروا عليه مكسا باسم العشر . أي الزكاة</p>
<p>Al Baghawi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pemungut <em>maks </em>adalah orang yang meminta uang dari para pedagang jika mereka lewat di suatu tempat dengan kedok ‘usyur (yaitu zakat).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قال الحافظ المنذري : أما الآن فإنهم يأخذون مكسا باسم العشر ، ومكسا آخر ليس له اسم ، بل شيء يأخذونه حراما وسحتا ، ويأكلونه في بطونهم نارا , حجتهم فيه داحضة عند ربهم ، وعليهم غضب ، ولهم عذاب شديد . اهـ</p>
<p>Al Hafiz al Mundziri mengatakan, “Sedangkan sekarang para pemungut pajak mereka memungut pajak dengan kedok zakat dan pajak yang lain tanpa kedok apapun. Itulah uang yang mereka ambil dengan jalan yang haram. Mereka masukkan ke dalam perut mereka api neraka. Alasan mereka di hadapan Allah adalah alasan yang rapuh. Untuk mereka murka Allah dan siksa yang berat”. Sekian kutipan dari Ibnu Hajar al Makki.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في &#8220;السياسة الشرعية&#8221;: ص 115 :<br />
&#8220;وأما من كان لا يقطع الطريق , ولكنه يأخذ خَفَارة ( أي : يأخذ مالاً مقابل الحماية ) أو ضريبة من أبناء السبيل على الرؤوس والدواب والأحمال ونحو ذلك , فهذا مَكَّاس , عليه عقوبة المكاسين . . . وليس هو من قُطَّاع الطريق , فإن الطريق لا ينقطع به , مع أنه أشد الناس عذابا يوم القيامة , حتى قال النبي صلى الله عليه وسلم في الغامدية : &#8221; لقد تابت توبة لو تابها صاحب مكس لغفر له&#8221; اهـ .</p>
<p>Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam <em>al Siyasah al Syar’iyyah </em>hal 115 mengatakan, “Sedangkan orang yang profesinya bukanlah merampok akan tetapi mereka meminta <em>khafarah </em>(uang kompensasi jaminan keamanan, sebagaimana yang dilakukan oleh para preman di tempat kita, pent) atau mengambil pajak atas kepala orang, hewan tunggangan atau barang muatan dari orang-orang yang lewat dan semisalnya maka profesi orang ini adalah <strong>pemungut pajak</strong>. Untuknya hukuman para pemungut pajak&#8230; Orang tersebut bukanlah perampok karena dia tidak menghadang di tengah jalan. <span style="text-decoration: underline;">Meski dia bukan perampok dia adalah orang yang paling berat siksaannya pada hari Kiamat nanti</span>. Sampai-sampai Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> mengatakan tentang perempuan dari suku Ghamidi, “<em>Perempuan tersebut telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya pemungut bea cukai bertaubat seperti itu tentu dia akan diampuni</em>”</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وقد سئلت اللجنة الدائمة للإفتاء عن العمل في البنوك الربوية أو العمل بمصلحة الجمارك أو العمل بمصلحة الضرائب ، وأن العمل في الجمارك يقوم على فحص البضائع المباحة والمحرمة كالخمور والتبغ ، وتحديد الرسوم الجمركية عليها</p>
<p>Lajnah Daimah ditanya tentang hukum bekerja di bank ribawi, di kantor bea cukai dan di kantor pajak. Orang yang bertugas di kantor bea cukai itu bertugas untuk mengecek barang yang hendak masuk ke dalam negeri baik barang yang mubah ataupun barang yang haram semisal <em>khamr </em>dan tembakau lalu menetapkan besaran bea cukai atas barang-barang tersebut.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فأجابت : إذا كان العمل بمصلحة الضرائب على الصفة التي ذكرت فهو محرم أيضا ؛ لما فيه من الظلم والاعتساف ، ولما فيه من إقرار المحرمات وجباية الضرائب عليها ) اهـ .<br />
&#8220;فتاوى اللجنة الدائمة&#8221; (15/64)</p>
<p>Jawaban Lajnah Daimah, “Bekerja di kantor pajak sebagaimana yang anda sampaikan juga <strong>haram </strong>karena dalam pekerjaan tersebut terdapat <strong>unsur kezaliman dan kesewenang-wenangan, membiarkan barang-barang yang haram dan mengambil pajak atasnya</strong>” (Fatawa Lajnah Daimah 15/64).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">ومن هذا يتبين أن أخذ هذه الرسوم والضرائب ، أو كتابتها والإعانة عليها ، محرم تحريما شديداً .</p>
<p>Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa bekerja sebagai pemungut pajak, pencatat pajak dan komponen pendukung yang lain adalah<strong> sangat diharamkan.</strong></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">ثانياً :<br />
نظراً لأن هذا الظلم واقع على المسلمين ، وامتناعك من العمل فيه لن يرفعه ، فالذي ينبغي في مثل هذه الحال – إذا لم نستطع إزالة المنكر بالكلية – أن نسعى إلى تقليله ما أمكن .</p>
<p>Menimbang bahwa kezaliman ini merupakan realita kaum muslimin dan andai anda tidak bekerja di sana kezaliman ini juga tidak hilang maka yang sepatutnya dalam kondisi semacam ini yaitu kondisi kita tidak bisa menghilangkan kemungkaran secara total adalah <span style="text-decoration: underline;">kita berupaya untuk meminimalisir kezaliman semaksimal mungkin.</span></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فإذا كنت تعمل في هذا العمل بقصد رفع الظلم وتخفيفه عن المسلمين بقدر استطاعتك ، فأنت في ذلك محسن ، أما من دخل في هذا العمل بقصد الراتب ، أو الوظيفة , أو تطبيق القانون ، ونحو ذلك فإنه يكون من الظلمة ، ومن أصحاب المكس ، ولن يأخذ من أحد شيئاً ظلماً إلا أُخِذَ بقدره من حسناته يوم القيامة . نسأل الله السلامة والعافية .</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Jika anda bekerja di kantor pajak dengan tujuan menghilangkan kezaliman atas kaum muslimin atau menguranginya semaksimal yang bisa anda lakukan maka apa yang anda lakukan adalah baik</span>. Sedangkan orang yang kerja di tempat ini <span style="text-decoration: underline;">dengan pamrih gaji, dapat pekerjaan, menerapkan UU perpajakan atau tujuan semisal </span>maka orang tersebut termasuk orang yang melakukan tindakan kezaliman dan pemungut pajak. Siapa saja yang mengambil hak orang lain secara zalim maka amal kebajikannya akan diambil pada hari Kiamat sesuai dengan kadar kezaliman yang dia lakukan.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في &#8220;مجموع الفتاوى&#8221; (28/284) :<br />
&#8220;وَلا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَكُونَ عَوْنًا عَلَى ظُلْمٍ ; فَإِنَّ التَّعَاوُنَ نَوْعَانِ :<br />
الأَوَّلُ : تَعَاوُنٌ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى مِنْ الْجِهَادِ وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ وَاسْتِيفَاءِ الْحُقُوقِ وَإِعْطَاءِ الْمُسْتَحَقِّينَ ; فَهَذَا مِمَّا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ وَرَسُولُهُ . . . .</p>
<p>Dalam Majmu Fatwa 28/284, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Tidak boleh membantu tindakan kezaliman. Tolong menolong itu ada dua macam. <strong>Pertama</strong>, tolong menolong untuk melakukan kebajikan dan takwa semisal tolong menolong dalam jihad, menegakkan hukuman had, mengambil hak dan memberikannya kepada yang berhak mendapatkannya. Tolong menolong semacam ini diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَالثَّانِي : تَعَاوُنٌ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ، كَالإِعَانَةِ عَلَى دَمٍ مَعْصُومٍ ، أَوْ أَخْذِ مَالٍ مَعْصُومٍ ، أَوْ ضَرْبِ مَنْ لا يَسْتَحِقُّ الضَّرْبَ ، وَنَحْوَ ذَلِكَ ، فَهَذَا الَّذِي حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ . . .</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tolong menolong dalam dosa dan tindakan kezaliman semisal tolong menolong untuk membunuh orang, mengambil harta orang lain, memukul orang yang tidak berhak dipukul dan semisalnya. Ini adalah tolong menolong yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">ومَدَارَ الشَّرِيعَةِ عَلَى قَوْلِهِ تَعَالَى : ( فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ ) ; وَعَلَى قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : (إذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ) أَخْرَجَاهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ .</p>
<p>Landasan hukum syariat adalah firman Allah yang artinya, “<em>Bertakwalah kalian kepada Allah semaksimal kemampuan kalian</em>” (QS at Taghabun:16), dan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>, “<em>Jika kuperintahkan kalian untuk melakukan sesuatu maka laksanakanlah semaksimal kemampuan kalian</em>” (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَعَلَى أَنَّ الْوَاجِبَ تَحْصِيلُ الْمَصَالِحِ وَتَكْمِيلُهَا ; وَتَعْطِيلُ الْمَفَاسِدِ وَتَقْلِيلُهَا . فَإِذَا تَعَارَضَتْ كَانَ تَحْصِيلُ أَعْظَمِ الْمَصْلَحَتَيْنِ بِتَفْوِيتِ أَدْنَاهُمَا ، وَدَفْعُ أَعْظَمِ الْمَفْسَدَتَيْنِ مَعَ احْتِمَالِ أَدْنَاهَا : هُوَ الْمَشْرُوعُ .</p>
<p>Kewajiban kita semua adalah mewujudkan kebaikan secara utuh atau semaksimal mungkin dan menihilkan keburukan atau meminimalisirnya. Jika hanya ada dua pilihan yang keduanya sama-sama kebaikan atau sama-sama keburukan maka yang sesuai dengan syariat adalah <span style="text-decoration: underline;">memilih yang nilai kebaikannya lebih besar</span> meski dengan kehilangan kebaikan yang lebih rendah dan <span style="text-decoration: underline;">mencegah keburukan yang lebih besar </span>meski dengan melakukan kuburukan yang lebih rendah.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَالْمُعِينُ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ مَنْ أَعَانَ الظَّالِمَ عَلَى ظُلْمِهِ ، أَمَّا مَنْ أَعَانَ الْمَظْلُومَ عَلَى تَخْفِيفِ الظُّلْمِ عَنْهُ أَوْ عَلَى أَدَاءِ الْمَظْلِمَةِ : فَهُوَ وَكِيلُ الْمَظْلُومِ ; لا وَكِيلُ الظَّالِمِ ; بِمَنْزِلَةِ الَّذِي يُقْرِضُهُ ، أَوْ الَّذِي يَتَوَكَّلُ فِي حَمْلِ الْمَالِ لَهُ إلَى الظَّالِمِ .</p>
<p>Penolong perbuatan dosa dan kezaliman adalah orang yang menolong orang yang zalim untuk bisa menyukseskan kezaliman yang ingin dia lakukan. <span style="text-decoration: underline;">Sedangkan orang yang menolong orang yang terzalimi agar kadar kezalimannya berkurang atau agar apa yang menjadi haknya bisa kembali maka status orang tersebut adalah wakil dari orang yang teraniaya, bukan wakil orang yang menganiaya</span>. Orang tersebut berstatus seperti orang yang memberi hutangan kepada orang yang dizalimi atau mewakili orang yang dizalimi untuk menyerahkan hartanya kepada orang yang zalim.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">مِثَالُ ذَلِكَ : وَلِيُّ الْيَتِيمِ وَالْوَقْفِ إذَا طَلَبَ ظَالِمٌ مِنْهُ مَالا فَاجْتَهَدَ فِي دَفْعِ ذَلِكَ بِمَالِ أَقَلَّ مِنْهُ إلَيْهِ أَوْ إلَى غَيْرِهِ بَعْدَ الاجْتِهَادِ التَّامِّ فِي الدَّفْعِ ؛ فَهُوَ مُحْسِنٌ ، وَمَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ . . .</p>
<p>Contoh realnya adalah orang yang memegang harta anak yatim atau pengurus harta wakaf jika ada orang zalim yang meminta sebagian harta amanah tersebut dengan menyerahkan sedikit mungkin dari harta yang diminta setelah dengan penuh kesungguhan berupaya mencegah kezaliman tersebut. Orang semacam ini adalah orang yang melakukan kebaikan dan tidak ada jalan untuk menyudutkan orang yang melakukan kebaikan.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">كَذَلِكَ لَوْ وُضِعَتْ مَظْلِمَةٌ عَلَى أَهْلِ قَرْيَةٍ أَوْ دَرْبٍ أَوْ سُوقٍ أَوْ مَدِينَةٍ فَتَوَسَّطَ رَجُلٌ مِنْهُمْ مُحْسِنٌ فِي الدَّفْعِ عَنْهُمْ بِغَايَةِ الإِمْكَانِ ، وَقَسَّطَهَا بَيْنَهُمْ عَلَى قَدْرِ طَاقَتِهِمْ مِنْ غَيْرِ مُحَابَاةٍ لِنَفْسِهِ ، وَلا لِغَيْرِهِ ، وَلا ارْتِشَاءٍ ، بَلْ تَوَكَّلَ لَهُمْ فِي الدَّفْعِ عَنْهُمْ وَالإِعْطَاءِ : كَانَ مُحْسِنًا ; لَكِنَّ الْغَالِبَ أَنَّ مَنْ يَدْخُلُ فِي ذَلِكَ يَكُونُ وَكِيلُ الظَّالِمِينَ مُحَابِيًا مُرْتَشِيًا مَخْفَرًا لِمَنْ يُرِيدُ (أي يدافع عنه (وَآخِذًا مِمَّنْ يُرِيدُ . وَهَذَا مِنْ أَكْبَرِ الظَّلَمَةِ الَّذِينَ يُحْشَرُونَ فِي تَوَابِيتَ مِنْ نَارٍ هُمْ وَأَعْوَانُهُمْ وَأَشْبَاهُهُمْ ثُمَّ يُقْذَفُونَ فِيى النَّارِ&#8221; اهـ .<br />
والله أعلم</p>
<p>Demikian pula jika kezaliman (baca:pajak) ditetapkan atas penduduk suatu kampung, suatu jalan, pajak atau suatu kota lantas ada orang baik-baik yang menjadi mediator dalam rangka mencegah kezaliman semaksimal mungkin lantas dia bagi kezaliman (baca:pajak) tersebut atas orang-orang yang dikenai pajak sesuai dengan kadar kemampuan ekonomi mereka tanpa mengistimewakan dirinya sendiri atau orang lain dan tanpa meminta suap. Dia hanya berperan sebagai mediator untuk mencegah kezaliman dan mendistribusikan ‘kewajiban’ yang dipaksakan. <span style="text-decoration: underline;">Orang semisal ini adalah orang yang berbuat baik.</span></p>
<p>Akan tetapi mayoritas orang yang masuk di kancah ini mereka menjadi <span style="text-decoration: underline;">wakil orang yang zalim (baca: penguasa yang zalim)</span>, pilih kasih pada pihak-pihak tertentu, meminta suap, membela orang yang dia sukai dan mengambil pajak dari orang yang dia sukai. Orang semacam ini termasuk pentolan orang-orang yang berbuat zalim. Mereka, para pembantu mereka dan orang-orang yang serupa dengan mereka akan dimasukkan ke dalam kotak dari api neraka lantas dicampakkan ke dalam neraka”.<br />
<strong>Referensi</strong>: <a title="Situs Al Islam As Sual wal Jawab" href="http://islamqa.com/ar/ref/39461">http://islamqa.com/ar/ref/39461</a><br />
<strong> Catatan:</strong></p>
<p>Yang menjadi pertanyaan, apakah seorang muslim yang sudah terlanjur bekerja di kantor pajak secara real mampu melakukan pembelaan dan meminimalisir beban kezaliman (baca:pajak) yang ditimpakan kepada kaum muslimin?
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-kerja-di-kantor-pajak&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1187&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/menipu-bea-cukai" title="Hukum Importir Yang Menipu Bea Cukai">Hukum Importir Yang Menipu Bea Cukai</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah" title="Hukum Pajak dan Bea Cukai (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah)">Hukum Pajak dan Bea Cukai (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah)</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bidah-hasanah-dan-pajak-yang-tidak-masalah" title="Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah">Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-bea-cukai-untuk-barang-orang-kafir" title="Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?">Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-jihad-di-zaman-ini" title="Adakah Jihad di Zaman Ini?">Adakah Jihad di Zaman Ini?</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini" title="Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini">Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</a> (35)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps" title="Hukum Bermain Play Station (PS)">Hukum Bermain Play Station (PS)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi" title="Dasi Menurut Ibnu Utsaimin">Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menyikapi-pajak-dengan-bijak" title="Menyikapi Pajak dengan Bijak">Menyikapi Pajak dengan Bijak</a> (32)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram" title="Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?">Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?</a> (14)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>74</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 20:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[charge hp]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1144</guid>
		<description><![CDATA[Akan tetapi jika seorang muslim perlu melakukan hal tersebut maka semoga hal tersebut tidak menyebabkannya mendapat dosa – insya Allah- dengan syarat penanggung jawab Masjidil Haram (atau takmir masjid, pent) tidak melarang hal tersebut. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fcharge-hp-di-masjidil-haram&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Tanya, “Saya pernah melihat ada seorang perempuan yang nge-<em>charge </em>hpdengan listrik Masjidil Haram. Apakah hal ini diperbolehkan?”</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">الحمد لله<br />
الأحوط للمسلم أن لا يفعل ذلك ، وأن يسلك سبيل الورع، وقد قال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لا يَرِيبُكَ ) رواه الترمذي (2518) وصححه الألباني في صحيح الترمذي</p>
<p>Jawaban, “<em>Alhamdulillah</em>. Yang lebih hati-hati bagi seorang muslim adalah tidak melakukan hal tersebut dan memilik sikap wara’ atau hati-hati dalam masalah ini. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Tinggalkan yang meragukan, ambil yang tidak meragukan</em>” (HR Tirmidzi no 2518 dan dinilai sahih oleh Al Albania dalam Sahih Tirmidzi).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وعليه أنه يقوم بشحن جواله في منزله قبل ذهابه إلى الحرم حتى يستغني بذلك عن استعمال كهرباء الحرم</p>
<p>Wajib atas seorang muslim untuk charge hp di rumah sebelum pergi ke Masjidil Haram sehingga dia tidak perlu memakai listrik Masjidil Haram.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">لكن إذا احتاج المسلم إلى ذلك فإنه يُرجى أن لا يكون عليه في ذلك حرج إن شاء الله تعالى إذا كان المسؤولون عن الحرم لا يمنعون ذلك ، وليقتصر على ما يحتاج إليه فقط ولا يزيد ، حتى لا يمنع أحداً من إخوانه المسلمين من شحن جوالاتهم ، وقد يكونون محتاجين إلى ذلك مثل حاجته أو أشد .<br />
والله تعالى أعلم .</p>
<p>الإسلام سؤال وجواب</p>
<p>Akan tetapi jika seorang muslim perlu melakukan hal tersebut maka semoga hal tersebut tidak menyebabkannya mendapat dosa –<em> insya Allah</em>- dengan syarat penanggung jawab Masjidil Haram (atau takmir masjid, pent) tidak melarang hal tersebut. Hendaknya men-charge seperlunya saja, tidak lebih dari itu sehingga tidak menghalangi orang lain yang juga ingin men-charge hp-nya padahal boleh jadi orang tersebut memiliki kebutuhan  yang sama atau bahkan lebih membutuhkan”.</p>
<p>Referensi: <a href="http://islamqa.com/ar/cat/98&amp;pp=100" target="_blank">http://islamqa.com/ar/cat/98&amp;pp=100</a></p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Meskipun fatwa di atas terkait dengan masjidil haram namun fatwa di atas berlaku untuk semua masjid karena yang jadi pokok permasalahan adalah uang untuk membiayai masjid itu uang wakaf sehingga bolehkah uang semacam itu dimanfaatkan untuk membiayai kebutuhan pribadi jamaah masjid semacam charge hp. Jawabannya adalah sebagaimana di atas.
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fcharge-hp-di-masjidil-haram&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1144&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini" title="Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini">Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</a> (35)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps" title="Hukum Bermain Play Station (PS)">Hukum Bermain Play Station (PS)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi" title="Dasi Menurut Ibnu Utsaimin">Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jual-beli-via-internet" title="Jual Beli via Internet">Jual Beli via Internet</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir" title="Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir">Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir</a> (8)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/merekalah-ahli-waris-khawarij" title="Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;">Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;</a> (18)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kuliah-ikhtilat-penuh-dilema" title="Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema">Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema</a> (25)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/potongan-pakaian-muslimah-yang-tidak-syar%e2%80%99i" title="Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?">Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?</a> (21)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pacaran-terselubung-via-chatting-dan-hp" title="Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP">Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP</a> (121)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/toga-sarjana" title="Toga Sarjana">Toga Sarjana</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jual Beli via Internet</title>
		<link>http://ustadzaris.com/jual-beli-via-internet</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/jual-beli-via-internet#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 20:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1060</guid>
		<description><![CDATA[Ijab dan qobul disyaratkan harus berturut-turut dan tolak ukur berturut-turut adalah kembali pada urf (kebiasaan masyarakat setempat). Menurut mayoritas ulama (selain Syafi'iyyah), qobul tidak diharus sesegera mungkin demi mencegah adanya pihak yang dirugikan dan supaya ada kesempatan untuk berpikir.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fjual-beli-via-internet&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Umumnya transaksi dilakukan dengan hadirnya dua orang yang mengadakan transaksi dan adanya kerelaan kedua belah pihak yang dibuktikan dengan <em>ijab </em>dari penjual dan <em>qobul </em>dari pembeli. Seiring perkembangan teknologi, terdapat beberapa alat yang bisa digunakan dari jarak jauh. Ada yang dengan suara melalui telepon atau dengan mengirimkan salinan surat perjanjian via faks atau dengan tulisan via internet. Apakah transaksi sah meski dua orang yang bertransaksi tidak berada dalam satu tempat? Apakah komunikasi yang dilakukan melalui piranti di atas sudah dinilai cukup?<span id="more-1060"></span></p>
<p><strong>Analog dengan Kasus di Masa Silam</strong></p>
<p>Transaksi via tulisan (baca: faks atau internet) bisa dianalogkan dengan transaksi dengan tulisan yang ditujukan kepada orang yang tidak berada di majelis transaksi. Kasus semacam ini dibolehkan oleh mayoritas ulama karena adanya saling rela, meski kerelaan pihak kedua tidak langsung terwujud. Hal ini tidaklah masalah asalkan ada <em>qobul </em>(penyataan menerima dari pihak kedua) pada saat surat sampai kepada pihak kedua. Inilah pendapat mayoritas ulama. Tapi ada sebagian ulama Syafi&#8217;iyyah yang tidak membolehkannya.</p>
<p>Sedangkan transaksi via suara (baca:telepon) bisa dianalogkan dengan transaksi dengan cara saling berteriak dari jarak yang berjauhan. An Nawawi dalam al Majmu’ 9/181 mengatakan, “<em>Andai ada dua orang yang saling berteriak dari kejauhan maka jual beli sah tanpa ada perselisihan</em>”.</p>
<p>Para ulama mempersyaratkan adanya kesatuan majelis untuk selain transaksi hibah, wasiat dan mewakilkan.</p>
<p><em>Ijab </em>dan <em>qobul </em>disyaratkan harus berturut-turut dan tolak ukur berturut-turut adalah kembali pada <em>urf </em>(kebiasaan masyarakat setempat). Menurut mayoritas ulama (selain Syafi&#8217;iyyah), <em>qobul </em>tidak diharus sesegera mungkin demi mencegah adanya pihak yang dirugikan dan supaya ada kesempatan untuk berpikir.</p>
<p>Jika <em>ijab </em>itu via surat maka disyaratkan adanya qobul dari pihak kedua pada saat surat sampai ke tangannya.</p>
<p>Demikian pula disyaratkan adanya kesesuaian antara <em>ijab </em>dan <em>qobul </em>serta tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa salah satu pihak yang bertransaksi membatalkan transaksi.</p>
<p>Menurut mayoritas ulama pihak yang mengeluarkan ijab (pihak pertama) boleh meralat ijabnya.</p>
<p><strong>Pendapat Ulama Kontemporer</strong></p>
<p>Banyak ulama kontemporer yang berpendapat bahwa transaksi dengan piranti-piranti modern adalah sah dengan <span style="text-decoration: underline;">syarat ada kejelasan dalam transaksi tersebut</span>. Di antara mereka adalah Syeikh Muhammad Bakhit al Muthi’i, Mushthofa az Zarqa’, Wahbah Zuhaili dan Abdullah bin Mani’. Alasan beliau-beliau adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Berdasar pendapat banyak ulama di masa silam yang menyatakan sahnya transaksi via surat menyurat dan jika ijab (penyataan pihak pertama) adalah sah setelah sampainya surat ke tangan pihak kedua. Demikian pula mengingat sahnya transaksi dengan cara berteriak.</p>
<p>2. Yang dimaksud dengan disyaratkannya ‘<em>kesatuan majelis transaksi</em>’ adalah adanya suatu waktu yang pada saat itu dua orang yang mengadakan transaksi sibuk dengan masalah transaksi. Bukanlah yang dimaksudkan adalah adanya dua orang yang bertransaksi dalam satu tempat.</p>
<p>Berdasarkan penjelasan tersebut maka majelis akad dalam pembicaraan via telepon adalah waktu komunikasi yang digunakan untuk membicarakan transaksi.</p>
<p>Jika transaksi dengan tulisan maka majelis transaksi adalah sampainya surat atau tulisan dari pihak pertama kepada pihak kedua. Jika qobul tertunda dengan pengertian ketika surat sampai belum ada qobul dari pihak kedua maka transaksi tidak sah.</p>
<p>Syeikh Muhammad Bakhit al Muthi’i ditanya tentang hukum mengadakan transaksi dengan telegram. Jawaban beliau, telegram itu seperti hukum surat menyurat. Cuma telegram itu lebih cepat. Akan tetapi mungkin saja terjadi kekeliruan. Oleh karena itu, ada keharusan untuk klarifikasi dengan sarana-sarana yang ada pada saat ini semisal telepon atau yang lainnya.<br />
Semisal dengan telegram adalah faks.</p>
<p>Untuk sarana-sarana yang lain maka boleh jadi sama dengan telepon dan telegram dalam kecepatan dan kejelasan komunikasi atau lebih baik lagi. Jika sama maka hukumnya juga sama. Jika lebih baik maka tentu lebih layak untuk dibolehkan.</p>
<p>Majma’ Fiqhi Islami di Muktamarnya yang keenam di Jeddah juga menetapkan bolehnya mengadakan transaksi dengan alat-alat komunikasi modern. Transaksi ini dinilai sebagaimana transaksi dua orang yang berada dalam satu tempat asalkan syarat-syaratnya terpenuhi. Akan tetapi tidak diperbolehkan untuk menggunakan sarana-sarana ini itu transaksi <em>sharf</em>/penukaran mata uang karena dalam <em>sharf </em>disyaratkan serah terima secara langsung.</p>
<p>Demikian pula transaksi salam karena dalam transaksi salam modal harus segera diserahkan begitu setelah transaksi dilaksanakan.</p>
<p>Namun menurut Wahbah Zuhaili, jika terdapat serah terima mata uang dalam transaksi <em>sharf</em> dan modal dalam transaksi salam bisa diserahkan denga menggunakan sarana-sarana komunikasi modern tersebut maka transaksi sah dan hal ini adalah suatu hal yang memungkinkan untuk beberapa model transaksi yang baru.</p>
<p>Syarat yang ditetapkam Majma Fiqhi adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Adanya kejelasan tentang siapa pihak-pihak yang mengadakan transaksi supaya tidak ada salah sangka, kerancuan dan pemalsuan dari salah satu pihak atau dari pihak ketiga.</p>
<p>2. Bisa dipastikan bahwa alat-alat yang digunakan memang sedang dipakai oleh orang dimaksudkan. Sehingga semua perkataan dan pernyataan memang berasal dari orang yang diinginkan.</p>
<p>3. Pihak yang mengeluarkan <em>ijab </em>(pihak pertama, penjual atau semisalnya) tidak membatalkan transaksi sebelum sampainya qobul dari pihak kedua. Ketentuan ini berlaku untuk alat-alat yang menuntut adanya jeda untuk sampainya <em>qobul</em>.</p>
<p>4. Transaksi dengan alat-alat ini tidak menyebabkan tertundanya penyerahan salah satu dari dua mata uang yang ditukarkan karena dalam transaksi <em>sharf</em>/tukar menukar mata uang ada persyaratan bahwa dua mata uang yang dipertukarkan itu telah sama-sama diserahkan sebelum majelis transaksi bubar. Demikian juga tidak menyebabkan tertundanya penyerahan modal dalam transaksi salam karena dalam transaksi salam disyaratkan bahwa modal harus segera diserahkan.</p>
<p>5.	Tidak sah akad nikah dengan alat-alat tersebut (hp, internet dll) karena adanya saksi adalah syarat sah akad nikah.
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fjual-beli-via-internet&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/jual-beli-via-internet"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1060&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir" title="Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir">Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir</a> (8)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kuliah-ikhtilat-penuh-dilema" title="Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema">Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema</a> (25)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini" title="Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini">Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</a> (35)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps" title="Hukum Bermain Play Station (PS)">Hukum Bermain Play Station (PS)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi" title="Dasi Menurut Ibnu Utsaimin">Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram" title="Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?">Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?</a> (14)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/merekalah-ahli-waris-khawarij" title="Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;">Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;</a> (18)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/potongan-pakaian-muslimah-yang-tidak-syar%e2%80%99i" title="Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?">Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?</a> (21)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pacaran-terselubung-via-chatting-dan-hp" title="Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP">Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP</a> (121)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menyambung-rambut" title="Hukum Menyambung Rambut">Hukum Menyambung Rambut</a> (16)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/jual-beli-via-internet/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir</title>
		<link>http://ustadzaris.com/tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 20:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islam]]></category>
		<category><![CDATA[tasyabbuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1054</guid>
		<description><![CDATA[“Tolok ukur atau pengertian menyerupai orang kafir adalah melakukan suatu perbuatan yang hanya dilakukan oleh orang kafir bukan karena motivasi kemanusiaan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Ftolak-ukur-menyerupai-orang-kafir&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Syeikh Dr Sulaiman bin Salimillah ar Ruhaili setelah menyampaikan materi kajian mendapatkan pertanyaan sebagai berikut,</p>
<p style="text-align: center;">ما هو الضابط في التشبه بالكفار ؟</p>
<p>“Apa tolok ukur supaya suatu perbuatan dinilai menyerupai orang kafir?”.<span id="more-1054"></span></p>
<p>فأجاب: الضابط للتشبه بالكفار- أن يفعل الإنسان فعلًا لا يفعله إلا الكفار لا بمقتضى الإنسانية- انتبهوا لهذه الضوابط -لا يفعله إلا الكفار- فيُخرج ما يفعله الكفار وغيرهم ،</p>
<p>Jawaban beliau, “Tolok ukur atau pengertian menyerupai orang kafir adalah melakukan suatu perbuatan yang hanya dilakukan oleh orang kafir <span style="text-decoration: underline;">bukan karena motivasi kemanusiaan</span>.</p>
<p style="text-align: center;">فإذا كان هذا الفعل يفعله الكفار وغيرهم ؛ فإنه لا يكون تشبهًا ،</p>
<p>Oleh karena itu perbuatan yang dilakukan oleh orang kafir dan non kafir maka melakukan perbuatan tersebut <span style="text-decoration: underline;">tidaklah dinilai </span>sebagai perbuatan menyerupai orang kafir.</p>
<p style="text-align: center;">ومن ذلك &#8211; فيما يظهر لي أنا والله أعلم &#8211; لبس السروايل أو ما يسمى في هذه الأيام بالبناطيل للرجال &#8211; إذا لم يكن البنطال ضيقًا ولا شفافًا &#8211; فإن لبسه ليس تشبهًا ، لأن هذا لا يختص به الكفار ، بل يلبسه الكفار وغير الكفار من القديم ، وكان يسمى قديما عند العرب بالسراويل.</p>
<p>Termasuk perbuatan yang tidak hanya dilakukan oleh orang kafir – dalam pandangan saya- adalah memakai celana panjang atau yang di zaman ini disebut dengan <em>pantalon </em>bagi kaum laki-laki asalkan bukan pantalon yang ketat dan <em>ngepress</em>. Memakai pantalon itu bukan termasuk perbuatan menyerupai orang kafir karena pakaian jenis ini bukanlah ciri khas orang kafir. Bahkan sejak masa silam pakaian jenis ini dipakai oleh orang kafir dan bukan orang kafir. Di masa silam orang-orang Arab menyebut pakaian jenis ini dengan sebutan <em>sarawil.</em></p>
<p style="text-align: center;">وأقول :مالا يفعله إلا الكفار بغير مقتضى الإنسانية فإذا كان يفعلونه بمقتضى الإنسانية فإنه لا بأس أن نأخذه عنهم ، مثلًا : السيارات ، السيارات اختُرعت عند الكفار ، ويركبون السيارات بمقتضى حاجة الإنسان إلى ركوبها ، فنأخذ عنهم السيارات ، ونركب السيارات ، هذا بمقتضى الإنسانية ، هذا ليس من باب التشبه ،</p>
<p>Dalam definisi di atas disebutkan bahwa menyerupai orang kafir adalah melakukan perbuatan yang hanya dilakukan oleh orang kafir, bukan karena motivasi kemanusiaan. Artinya jika orang kafir melakukan suatu perbuatan karena motivasi kemanusiaan maka <span style="text-decoration: underline;">tidak mengapa</span> jika kita tiru. Contohnya adalah naik mobil. Mobil itu ditemukan oleh orang-orang kafir dan mereka menaikinya karena motivasi ‘<em>kebutuhan manusia untuk menaikinya</em>’. Oleh karena itu, kita boleh mengimpor mobil buatan orang kafir lalu kita naiki. Hal ini dilakukan karena motivasi kemanusiaan dan tidak termasuk ke dalam permasalahan menyerupai orang kafir.</p>
<p style="text-align: center;">لكن إذا كان الفعل لا يفعله إلا الكفار ، ويفعلونه بغير مقتضى الإنسانية ، مثل بعض الألبسة الخاصة بهم ، يمثِّل العلماء بطاقية اليهود مثلا ،</p>
<p>Sedangkan perbuatan yang hanya dilakukan oleh orang kafir bukan karena motivasi kemanusiaan semisal pakaian khas orang kafir yang dicontohkan oleh para ulama dengan topi orang-orang Yahudi. Memakai topi jenis ini adalah perbuatan menyerupai orang kafir.</p>
<p style="text-align: center;">أو في الألبسة &#8211; أنا فيما يظهر لي والله أعلم &#8211; أن ما يسمى بالكرفتة من هذا الباب ، من الألبسة الخاصة بالكفار التي يفعلها الكفار ،</p>
<p>Dalam pandangan saya pribadi termasuk dalam kategori menyerupai orang kafir adalah memakai dasi. Dasi itu termasuk pakaian khas orang kafir. Memakai dasi hanya dilakukan oleh orang-orang kafir.</p>
<p style="text-align: center;">بل قرأت في بعض الكتب التي تؤرخ لهم أن هذه الكرفتة إنما هي مكان الصليب ، حيث كانوا يضعون في رقابهم صليبًا كبيرًا من خشب أو نحوه ، فلما تمدنوا وثقل عليهم ذلك وضعوا ما يسمى بالفوونكا أو نحوها التي تكون لها وردة طويلة ثم حبل من أسفل ، ثم طوروه إلى ما سموه بالكرفتة ، ويشترطون أن يكون لها عُقَد جانبية وحبل في الوسط يقوم هذا مقام الصليب عندهم،</p>
<p>Pernah kubaca dalam sebuah literatur yang membahas sejarah orang kafir sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa dasi itu pengganti salib. Dulu orang Nasranu meletakkan salib dari kayu atau semisalnya dalam ukuran besar di leher mereka. Ketika mereka semakin modern dan merasa berat jika harus kemana-mana membawa salib maka mereka memakai dasi. Yaitu sebuah bentuk bunga yang berukuran panjang kemudian ada tali yang terjulur dari atas ke bawah. Dasi model ini lalu mereka kembangkan menjadi bentuk dasi saat ini. Syarat dasi menurut mereka adalah harus memiliki tonjolan di sisi kanan dan kiri dan ada kain panjang terjulur yang berada di tengah-tengah tonjolan tersebut. Ini adalah pengganti salib menurut orang Nasrani.</p>
<p style="text-align: center;">فأنا &#8211; يظهر لي والله أعلم &#8211; أنه لا يجوز للمسلمين أن يلبسوها . أ.هـ</p>
<p>Maka secara pribadi aku berpandangan bahwa kaum muslimin tidak boleh memakai dasi”.</p>
<p style="text-align: center;">من شرح الأصول الثلاثة في درسه في المسجد النبوي في موسم حج 1429-1430 هـ .</p>
<p style="text-align: center;">للاستماع إلى الفتوى عند الدقيقة 48 بعد تحميل هذا الجزء من شرح ثلاثة الأصول</p>
<p><strong>Sumber</strong>: <a href="http://www.archive.org/download/shar...-3-osoul_16.rm[/URL">http://www.archive.org/download/shar&#8230;-3-osoul_16.rm[/URL</a></p>
<p>Keterangan di atas beliau sampaikan ketika mengajar dan menjelaskan kitab <em>al Ushul al Tsaltsah</em> di Masjid Nabawi pada saat musim haji 1429 H/1430 H. Rekaman keterangan di atas bisa didengarkan setelah menit 48 dari rekaman kajian al Ushul al Tsalatsah yang bisa didown load di alamat link di atas.</p>
<p>Sedangkan transkipnya bisa dibaca di link berikut ini:<a href="http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=180191"> http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=180191</a></p>
<p><strong>Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari penjelasan di atas:</strong></p>
<p>1. Pengertian yang bagus tentang menyerupai orang kafir.</p>
<p>2. Menurut Syeikh Sulaiman ar Ruhaili memakai pantalon yang tidak ketat itu tidaklah dinilai sebagai perbuatan menyerupai orang kafir karena pantalon tidak tergolong pakaian khas orang kafir.</p>
<p>3. Dalam pandangan orang-orang arab pantalon itu sama dengan <em>sarawil </em>atau celana panjang. Sehingga sangat tidak tepat orang yang membedakan <em>pantalon </em>dan <em>sarawil </em>dengan mengatakan bahwa <em>sarawil </em>itu celana longgar yang menggunakan kolor atau semisalnya. Sedangkan celana panjang selain itu termasuk dalam kategori <em>pantalon</em>. Orang yang memiliki pandangan semacam ini harus memiliki dalil berupa keterangan pakar bahasa arab atau penjelasan berdasarkan ‘urf orang Arab.</p>
<p>4. Syeikh Sulaiman berpandangan bahwa memakai dasi adalah suatu hal yang terlarang mengingat sejarah asal muasal dasi. Artinya jika asal muasal dasi adalah tidak sebagaimana yang beliau katakan maka memakai dasi itu tidak dinilai menyerupai orang kafir. Sejarah dasi sebagaimana yang beliau sampaikan itu perlu ditelaah dan dikaji ulang. Sehingga yang tepat dalam masalah ini adalah boleh memakai dasi sebagaimana fatwa Lajnah Daimah yang pernah kami sajikan di blog ini. Silakan lihat <a href="http://ustadzaris.com/mungkinkah-salafi-berdasi-berjas-dan-memakai-pantalon">di sini</a>.
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Ftolak-ukur-menyerupai-orang-kafir&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1054&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/jual-beli-via-internet" title="Jual Beli via Internet">Jual Beli via Internet</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kuliah-ikhtilat-penuh-dilema" title="Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema">Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema</a> (25)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/toga-sarjana" title="Toga Sarjana">Toga Sarjana</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini" title="Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini">Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</a> (35)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps" title="Hukum Bermain Play Station (PS)">Hukum Bermain Play Station (PS)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi" title="Dasi Menurut Ibnu Utsaimin">Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram" title="Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?">Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?</a> (14)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/merekalah-ahli-waris-khawarij" title="Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;">Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;</a> (18)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/potongan-pakaian-muslimah-yang-tidak-syar%e2%80%99i" title="Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?">Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?</a> (21)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pacaran-terselubung-via-chatting-dan-hp" title="Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP">Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP</a> (121)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merekalah Ahli Waris Khawarij &#8230;</title>
		<link>http://ustadzaris.com/merekalah-ahli-waris-khawarij</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/merekalah-ahli-waris-khawarij#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 20:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1019</guid>
		<description><![CDATA[“Mereka yang mengafirkan itu adalah ahli waris Khawarij yang memberontak kepada Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu ‘anhu-. Orang yang kafir adalah orang yang dinilai kafir oleh Allah dan Rasul-Nya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmerekalah-ahli-waris-khawarij&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Berikut ini adalah perkataan Syeikh Muhammad bin Sholih Al &#8216;Utsaimin -rahimahullah- dan termasuk fatwa-fatwa beliau yang terakhir karena dikeluarkan beberapa waktu sebelum beliau meninggal dunia.<br />
Fatwa ini adalah jawaban atas pertanyaan seorang penuntut ilmu di Aljazair tentang “<em>sekelompok orang yang mengafirkan penguasa tanpa memperhatikan kaedah dan syarat dalam vonis kafir</em>”.<span id="more-1019"></span></p>
<p><strong>Jawaban beliau adalah sebagai berikut:</strong></p>
<p style="text-align: center;">هؤلاء الذين يكفرون هؤلاء ورثة الخوارج الذين خرجوا على علي بن إبي طالب- رضي الله عنه – و الكافر من كفره الله ورسوله.<br />
وللتكفير شروط منها العلم و منها الإرادة أن نعلم بأن هذا الحاكم خالف الحق و هو يعلمه و أراد المخالفة, ولم يكن متأولا مثل أن يسجد لصنم وهو يدري أن السجود للصنم شرك و سجد غير متأول.<br />
المهم هذا له شروط ولا يجوز التسرع في التكفير كما لا يجوز التسرع في قولك هذا حلال و هذا حرام.</p>
<p>“Mereka yang mengafirkan itu adalah <span style="text-decoration: underline;">ahli waris Khawarij yang memberontak kepada Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu ‘anhu-</span>. Orang yang kafir adalah orang yang dinilai kafir oleh Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Vonis kafir itu memiliki beberapa syarat di antaranya adalah <strong>tahu dan keinginan (baca:tidak dipaksa).</strong></p>
<p>Artinya kita tahu bahwa penguasa tersebut menyelisihi kebenaran dalam keadaan dia telah mengetahui kebenaran namun dia punya keinginan untuk menyelisihinya.</p>
<p>Syarat yang lain adalah <strong>tidak memiliki takwil (baca: dalih pembenar).</strong></p>
<p>Contohnya adalah bersujud kepada berhala dalam keadaan tahu bahwa bersujud kepada berhala itu kemusyrikan dan dia bersujud tanpa takwil.</p>
<p>Yang jelas, vonis kafir itu memiliki beberapa syarat. Karenanya <span style="text-decoration: underline;">tidak boleh tergesa-gesa dalam memberikan vonis kafir</span> sebagaimana tidak boleh tergesa-gesa mengatakan ini halal atau itu haram.
</p>
<p style="text-align: center;">سؤال: وأيضا يسمعون أشرطة سلمان بن فهد العودة و سفر الحوالي. هل ننصحهم بعدم سماع ذلك؟<br />
الشيخ: بارك الله فيك. الخير الذي في أشرطتهم موجود في غيرها. أشرطتهم عليها مؤاخذات. بعض أشرطتهم. ما هي كلها ولا أقدر أميز لك- أنا- بين هذا و هذا.<br />
سؤال: إذن تنصحنا بعدم سماع أشرطتهم؟<br />
الشيخ: لا. أنصحك بأن تسمع أشرطة الشيخ ابن باز, أشرطة الشيخ الألباني أشرطة العلماء المعروفين بالاعتدال و عدم الثورة الفكرية.</p>
<p><strong>Tanya</strong>:“<em>Mereka juga mendengarkan kaset-kaset Salman bin Fahd al ‘Audah dan Safar al Hawali. Apakah kami nasihati mereka untuk tidak mendengarkan kaset-kaset tersebut?</em>”</p>
<p><strong>Jawaban Syeikh Muhammad bin Sholih Al &#8216;Utsaimin, </strong></p>
<p>“Moga Allah memberkahimu. Kebaikan yang ada dalam kaset mereka itu ada dalam kaset ulama yang lain.</p>
<p>Kaset-kaset mereka itu ‘<em>bermasalah</em>’. Yang kumaksudkan sebagian kaset mereka bermasalah, bukan semua kaset mereka. Namun aku tidak mampu membedakan antara yang bermasalah dan yang tidak bermasalah.</p>
<p><strong>Tanya</strong>: “<em>Jika demikian, anda nasihatkan kami untuk tidak mendengarkan kaset mereka?</em>”</p>
<p><strong>Jawaban Syeikh Muhammad bin Sholih Al &#8216;Utsaimin, </strong></p>
<p>“Jangan dengarkan kaset mereka. Aku nasihatkan anda untuk mendengarkan kaset Syeikh Ibnu Baz, Syeikh Al Albani dan kaset para ulama yang terkenal moderat dan tidak memiliki pemikiran revolusioner”.</p>
<p><strong>Tanya</strong>: “Ya syeikh, meski ada khilaf dalam masalah ini. Misalnya mereka mengkafirkan penguasa dan mereka mengatakan bahwa ada jihad di Aljazair misalnya. Mereka mendengarkan kaset-kaset Salman dan Safar al Hawali. Apakah ini <em>khilaf far’i </em>(perbedaan dalam masalah non akidah)? Apakah ini adalah perbedaan pendapat dalam masalah usul (baca:akidah) ya syeikh?”.</p>
<p><strong>Jawaban Syeikh Muhammad bin Sholih Al &#8216;Utsaimin, </strong></p>
<p>“Ini bukan <em>khilaf far’i</em>. Ini adalah perbedaan akidah karena di antara prinsip akidah ahli sunah adalah<span style="text-decoration: underline;"> tidak mengkafirkan seseorang karena melakukan dosa</span>”.</p>
<p><strong>Tanya</strong>: “Ya syeikh, mereka tidak mengkafirkan pelaku dosa besar kecuali penguasa. Mereka membawakan ayat yang artinya, “<em>Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka adalah orang-orang yang kafir</em>”. Mereka hanya mengkafirkan penguasa saja”.</p>
<p><strong>Jawaban Syeikh Muhammad bin Sholih Al &#8216;Utsaimin, </strong></p>
<p>“Tentang ayat ini terdapat riwayat dari Ibnu Abbas yang menunjukkan bahwa yang dimaksudkan adalah kekafiran yang tidak mengeluarkan dari agama, sebagaimana makna kafir dalam sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “<em>Mencaci seorang muslim adalah kefasikan sedangkan memeranginya adalah sebuah kekafiran</em>” (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).</p>
<p>Menurut penjelasan sebagian ahli tafsir ayat di atas turun tentang ahli kitab dan konteks ayat-ayat sebelumnya menunjukkan hal tersebut
</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (٤٤)</p>
<p>Yang artinya, “<em>Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, &#8211; <strong>diantara kalian wahai ahli kitab</strong>- maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir</em>” (QS al Maidah:44).</p>
<p>Sampai disini fatwa Syeikh Ibnu Utsaimin.</p>
<p>[Fatwa Syeikh Ibnu Utsaimin ini kami jumpai di dalam buku <em>al Tahrir li Mas-alati al Takfir fi Qadhiyah al Hukumi bi Ghairi maa Anzalallah</em>, yang disusun oleh Syeikh Ali al Halabi hal 10-17 terbitan al Dar al Atsariyyah, Yordania cetakan pertama tahun 1430 H atau 2009 M.<br />
Juga kami jumpai di buku <em>Al As-ilah al Qathariyyah</em> yang disusun oleh Syeikh Ali al Halabi halaman 41-46 terbitan al Dar l Atsariyyah, Yordania cetakan pertama tahun 1430 H atau 2009 M].</p>
<p><strong>Beberapa pelajaran dari fatwa di atas:</strong></p>
<p>1.	Orang yang memberontak kepada penguasa muslim yang ada di zaman sekarang adalah <em>ahli waris Khawarij masa silam</em>. Jadi untuk dinilai Khawarij tidak dipersyaratkan keadaan negara atau penguasa harus sebagaimana keadaan negara dan penguasa di masa Bani Abbasiyyah, Umawiyyah apalagi Khulafaur Rasyidin, tidak sebagaimana anggapan sebagian orang saat ini.</p>
<p>2.	Keadilan ulama ahli sunah yang patut diteladani. Meskipun secara umum Ibnu Utsaimin menasihatkan untuk tidak menyimak ceramah dari orang-orang yang ‘bermasalah’ namun beliau menegaskan bahwa tidak semua rekaman ceramah orang tersebut bermasalah karena ceramah orang tersebut yang bermasalah hanya sebagiannya saja, bukan seluruhnya. Hal ini berbeda dengan sikap sebagian orang yang ketika dia telah memberi nilai ‘negatif’ pada seseorang maka dia akan menilai semua karya orang tersebut baik buku, tulisan atau ceramah sebagai hal yang bermasalah. Lebih parah lagi jika dia mendapati ada orang yang membaca buku karya orang tadi – tanpa mau melihat buku apa yang dibaca- secara serta merta dia akan menilai bahwa pembaca tersebut juga orang yang bermasalah.</p>
<p>3. Diantara kriteria yang kita cari ketika kita hendak mencari seorang guru ngaji adalah a) i&#8217;tidal atau pertengahan. Artinya orang tersebut bukanlah orang yang terserang penyakit ghuluw (berlebih-lebihan) dan semua bentuk bid&#8217;ah adalah wujud nyata dari sikap ghuluw 2. tidak memiliki tsauroh fikriyyah atau pemikiran revolusioner. Artinya orang tersebut tidak memiliki pemahaman melegalkan, mendukung, menyetujui atau tidak menyalahkan orang-orang yang ingin melakukan revolusi (baca:pemberontakan) terhadap seorang penguasa muslim yang sah. Sebenarnya kriteria kedua ini sudah termasuk dalam kriteria yang pertama namun disebutkan secara tersendiri -wallahu a&#8217;lam-mengingat bahaya seorang guru ngaji yang tidak memenuhi kriteria kedua ini.
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmerekalah-ahli-waris-khawarij&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/merekalah-ahli-waris-khawarij"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1019&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini" title="Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini">Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</a> (35)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps" title="Hukum Bermain Play Station (PS)">Hukum Bermain Play Station (PS)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi" title="Dasi Menurut Ibnu Utsaimin">Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram" title="Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?">Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?</a> (14)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/jual-beli-via-internet" title="Jual Beli via Internet">Jual Beli via Internet</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir" title="Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir">Tolok Ukur Menyerupai Orang Kafir</a> (8)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kuliah-ikhtilat-penuh-dilema" title="Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema">Kuliah Ikhtilath Penuh Dilema</a> (25)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/potongan-pakaian-muslimah-yang-tidak-syar%e2%80%99i" title="Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?">Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?</a> (21)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pacaran-terselubung-via-chatting-dan-hp" title="Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP">Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP</a> (121)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/khawarij-baru" title="Khawarij Gaya Baru">Khawarij Gaya Baru</a> (4)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/merekalah-ahli-waris-khawarij/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapakah yang Disebut Ahli Bid&#8217;ah?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/siapakah-yang-disebut-ahli-bidah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/siapakah-yang-disebut-ahli-bidah#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 20:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahli bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1017</guid>
		<description><![CDATA[Syeikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin- rahimahullah- mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Di tengah-tengah banyak orang gencar pembicaraan tentang bid’ah. Misalnya seorang yang terjerumus melakukan bid’ah maka banyak orang mengatakan bahwa orang tersebut adalah mubtadi’ atau ahli bid’ah. Alangkah baiknya jika anda menjelaskan kapan seorang itu menjadi ahli bid’ah. Artinya seandainya ada orang yang melakukan perbuatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsiapakah-yang-disebut-ahli-bidah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Syeikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin- <em>rahimahullah</em>- mendapatkan pertanyaan sebagai berikut,</p>
<p>“Di tengah-tengah banyak orang gencar pembicaraan tentang bid’ah. Misalnya seorang yang terjerumus melakukan bid’ah maka banyak orang mengatakan bahwa orang tersebut adalah <em>mubtadi</em>’ atau <em>ahli bid’ah</em>. Alangkah baiknya jika anda menjelaskan kapan seorang itu menjadi ahli bid’ah.<span id="more-1017"></span><br />
Artinya seandainya ada orang yang melakukan perbuatan bid’ah menurut penilaian sebagian ulama sedangkan sebagian ulama ahli sunah yang lain tidak menilai perbuatan tersebut sebagai bid’ah. Dengan bahasa lain, status orang tersebut diperselisihkan (apakah melakukan bid’ah ataukah tidak) oleh dua kelompok ulama.<br />
Apa yang menjadi tolak ukur dalam kasus semacam ini?”</p>
<p><strong>Jawaban beliau:</strong></p>
<p style="text-align: center;">لا شك أن البدعة تتفاوت:<br />
فأما البدعة الاعتقادية فإنه يقال لصاحبها مبتدع كبدعة المرجئة الذين يرجئون الأعمال من الإيمان أو يغلبون جانب الرجاء فيبيحون المعاصي و الإكثار منها. فإن كان كذلك فإنه يقال : هذا من المرجئة المبتدعة.<br />
و كذلك بدعة الوعيدية من الخوارج و المعتزلة. فمنهم يغلبون جانب الوعيد و يرجحون دخول النار و يخلدون فيها أهل المعاصي و كبائر الذنوب و لو كانوا من أهل التوحيد.<br />
و كذلك بدعة الرافضة الذين يكفرون الصحابة و من والاهم و يشركون بالله حيث يدعون عليا و أئمتهم من دون الله و نحو ذلك. فهذا يقال له مبتدع.</p>
<p>“Tidaklah diragukan bahwa bid’ah itu bertingkat-tingkat. <span style="text-decoration: underline;">Bid’ah dalam masalah akidah itulah bid’ah yang menyebabkan pelakunya divonis sebagai ahli bid’ah</span>. Contohnya adalah <em>bid’ah murjiah</em>. Merekalah orang-orang yang tidak memasukkan amal anggota badan sebagai bagian dari iman. Atau mereka itu disebut murjiah karena terlalu menekankan sisi harapan kepada Allah sehingga secara tidak langsung mereka membolehkan orang untuk bermaksiat atau memperbanyak maksiat. Orang yang terpengaruh dengan faham murjiah, itulah orang yang mendapat vonis, ‘<em>Ini adalah bagian dari murjiah, bagian dari para ahli bid’ah</em>’.</p>
<p>Demikian pula, bid’ah <em>wa’idiyyah</em>. Itulah Khawarij dan Mu’tazilah. Mereka lebih mengedepankan ancaman Allah secara umum dan ancaman masuk neraka secara khusus. Mereka berkeyakinan bahwa tukang maksiat dan pelaku dosa besar itu kekal di dalam neraka meski mereka adalah orang yang bertauhid.</p>
<p>Demikian pula Syiah Rafidhah. Merekalah orang-orang yang mengkafirkan para sahabat dan semua orang yang loyal dengan para sahabat. Mereka adalah orang-orang yang menyekutukan Allah dengan berdoa kepada Ali dan para imam Syiah dan perbuatan yang serupa.</p>
<p>Orang semacam inilah yang disebut dengan <strong>ahli bid’ah</strong>.
</p>
<p style="text-align: center;">وأما البدع العملية فإنه لا يقال لصاحبها مبتدع علي الإطلاق. ولكن يقال: فيه بدعة كالذين يحيون ليلة المعراج أو المولد أو ليلة النصف من شعبان أو يصلون صلاة الرغائب و ما أشبهها من البدع العملية.</p>
<p>Sedangkan bid’ah dalam masalah ibadah, <span style="text-decoration: underline;">pelakunya sama sekali tidak bisa disebut sebagai ahli bid’ah</span>. Akan tetapi pelakunya kita katakan bahwa <span style="text-decoration: underline;">pada dirinya ada kebid’ahan</span>. Semisal orang-orang yang memperingati malam Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, beribadah pada malam Nishfu Sya’ban, melakukan shalat Raghaib dan bid’ah-bid’ah yang lain dalam masalah ibadah.<br />
فهناك فرق بين البدع الاعتقادية فيقال لصاحبها مبتدع و البدع العملية و يقال لصاحبها فيه بدعة ولا يصدق عليه أنه مبتدع بدعة كلية. هذا هو المتبادر. والله أعلم.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Jadi ada perbedaan antara bid’ah dalam masalah akidah- itulah bid’ah yang pelakunya disebut sebagai ahli bid’ah- dengan bid’ah dalam masalah ibadah.</span> Pelaku bid’ah dalam masalah ibadah mendapat sebutan ‘<em>ada bid’ah pada dirinya</em>’. Pelaku bid’ah semacam ini tidak tepat jika disebut sebagai ahli bid’ah.</p>
<p>Demikian jawaban instan yang bisa diberikan. <em>Wallahu a’lam</em>”.</p>
<p>[Fatwa ini kami jumpai dalam buku yang berjudul <em>‘Ijabah al Sa-il ‘an Ahammi al Masa-il Ajwibah al ‘Allamah al Jibrin ‘ala As-ilah al Imarat</em>, hal 13-14, terbitan Maktabah al Ashalah wa al Turats, Emirat Arab tahun 2008 M. Fatwa ini disampaikan oleh Ibnu Jibrin pada tahun 1414 H sedangkan kata pengantar Ibnu Jibrin untuk buku tersebut ditulis pada tanggal 11 Syawal 1427 H].
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsiapakah-yang-disebut-ahli-bidah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/siapakah-yang-disebut-ahli-bidah"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1017&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/dosa-bidah-dibanding-maksiat" title="Dosa Bid&#8217;ah Dibanding Maksiat">Dosa Bid&#8217;ah Dibanding Maksiat</a> (29)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/biji-tasbih-tanda-orang-shalih" title="Biji Tasbih Tanda Orang Shalih?">Biji Tasbih Tanda Orang Shalih?</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-nikah-dengan-akhwat-tarbiyah" title="Hukum Nikah Dengan Akhwat Tarbiyah">Hukum Nikah Dengan Akhwat Tarbiyah</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kapan-angkat-tangan-dalam-doa-bidah" title="Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?">Kapan Angkat Tangan Dalam Doa Bid&#8217;ah?</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/perayaan-21-april" title="Perayaan 21 April">Perayaan 21 April</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-mengisi-acara-maulid-nabi" title="Mengisi Pengajian Maulid Nabi">Mengisi Pengajian Maulid Nabi</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkan-mengisi-pengajian-di-masjid-ahli-bidah" title="Mengisi Pengajian di Masjid Ahli Bid&#8217;ah">Mengisi Pengajian di Masjid Ahli Bid&#8217;ah</a> (3)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-jihad-di-zaman-ini" title="Adakah Jihad di Zaman Ini?">Adakah Jihad di Zaman Ini?</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/biji-tasbih-bukan-bidah-2" title="Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (2)">Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (2)</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pandangan-ibnu-taimiyah-mengenai-biji-tasbih" title="Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (1)">Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (1)</a> (19)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/siapakah-yang-disebut-ahli-bidah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.841 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-07 16:01:20 -->

