<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah &#187; bea cukai</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/tag/bea-cukai/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 00:00:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Hukum Importir Yang Menipu Bea Cukai</title>
		<link>http://ustadzaris.com/menipu-bea-cukai</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/menipu-bea-cukai#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 00:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bea cukai]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Abdul Muhsin al Ubaikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=3455</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan, “Bolehkan berupaya beban pajak atas barang impor dari luar negeri dengan cara menyembunyikan beberapa data sehingga tidak diketahui oleh pihak bea dan cukai lalu mendapatkan peuntungan karenanya? Apakah pendapatan yang didapatkan orang tersebut haram? Jika haram, bagaimana dengan nasib isteri dan anak-anaknya, apakah uang nafkah untuk mereka adalah harta haram? ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmenipu-bea-cukai&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">السؤال : هل يجوز لشخص ان يقوم بتخفيض الضريبة على البضاعة المتوردة من الخارج عن طريق اخفاء معلومات عن الجمارك والضريبة واخذ عمولة على ذلك ؟فهل هذه العمولة حلال ام حرام .واذا كان حرام فماهو حال زوجته واولاده وهل يشملون بان ماينفق عليهم من مال حرام وان ما نبت من حرام فالنار اولى به .علما ان زوجته تعمل ولكن راتبها لايكفي لكل شئ.استحلفك بالله الاجابه هذا الاثنين</p>
<p>Pertanyaan, “Bolehkan berupaya beban pajak atas barang impor dari luar negeri dengan cara menyembunyikan beberapa data sehingga tidak diketahui oleh pihak bea dan cukai lalu mendapatkan peuntungan karenanya? Apakah pendapatan yang didapatkan orang tersebut haram? Jika haram, bagaimana dengan nasib isteri dan anak-anaknya, apakah uang nafkah untuk mereka adalah harta haram? Padahal semua daging yang tumbuh dari yang haram maka nerakalah tempat yang paling tepat untuknya. Perlu diketahui bahwa isteri juga bekerja namun pendapatan isteri tidaklah mencukupi untuk memenuhi segala keperluan rumah tangga”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">الإجابة:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أما هذا العمل فهو حرام , وأما أخذ الزوجه والأولاد من مال هذا الرجل الذي يعمل هذا العمل فهو جائز فالإثم عليه فقط والله أعلم</p>
<p>Jawaban Syaikh Abdul Muhsin al Ubaikan, “Perbuatan di atas adalah perbuatan haram. Sedangkan uang nafkah yang didapatkan oleh isteri dan anak dari harta laki-laki yang pekerjaan semacam itu adalah uang yang boleh dan halal karena dosa dan status haram hanya berlaku untuk pelaku saja”.</p>
<p><strong>Sumber</strong>:</p>
<p>http://al-obeikan.com/show_fatwa/689.html</p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmenipu-bea-cukai&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/menipu-bea-cukai"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=3455&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah" title="Hukum Pajak dan Bea Cukai (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah)">Hukum Pajak dan Bea Cukai (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah)</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bidah-hasanah-dan-pajak-yang-tidak-masalah" title="Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah">Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-bea-cukai-untuk-barang-orang-kafir" title="Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?">Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak" title="Hukum Kerja di Kantor Pajak">Hukum Kerja di Kantor Pajak</a> (75)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mengenal-syaikh-abdul-muhsin-al-ubaikan-html" title="Mengenal Syaikh Abdul Muhsin al Ubaikan">Mengenal Syaikh Abdul Muhsin al Ubaikan</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menyikapi-pajak-dengan-bijak" title="Menyikapi Pajak dengan Bijak">Menyikapi Pajak dengan Bijak</a> (33)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/menipu-bea-cukai/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Pajak dan Bea Cukai (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah)</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 20:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bea cukai]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1266</guid>
		<description><![CDATA[“Bea cukai atas barang impor atau ekspor itu termasuk maks sedangkan maks adalah haram. Oleh karena itu, bekerja di bidang itu hukumnya haram meskipun pajak tersebut dibelanjakan oleh negara untuk mengadakan berbagai proyek semisal membangun berbagai fasilitas negara. Hal ini dikarenakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang bahkan memberi ancaman keras untuk perbuatan mengambil maks.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><strong>Pertanyaan</strong>,<br />
قرأت في كتاب ( الزواجر عن اقتراف الكبائر ) لابن حجر الهيتمي في حكم المكوس ، ونهي النبي صلى الله عليه وسلم عنها ، وأن أصحابها أشد الناس عذابا يوم القيامة ، وكثير من الدول يعتمد اقتصادها على تحصيل الرسوم الجمركية على الواردات والصادرات وهذه الرسوم بالتالي يقوم التجار بإضافتها إلى ثمن البضاعة المباعة بالتجزئة للجمهور ، وبهذه الأموال المحصلة تقوم الدولة بمشروعاتها المختلفة لبناء مرافق الدولة . فأرجو توضيح حكم هذه الرسوم وحكم الجمارك والعمل بها وهل يعتبر نفس حكم المكوس أم لا يعتبر نفس الحكم ؟.<br />
“Aku membaca buku <em>al Zawajir ‘an Iqtiraf al Kabair</em> karya Ibnu Hajar al Haitami tentang hukum <em>maks </em>(pajak) dan larangan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>melakukan hal tersebut. Di sana juga disebutkan bahwa pemungut <em>maks </em>adalah manusia yang paling keras siksaannya pada hari Kiamat nanti. Di sisi lain, banyak negara yang perekonomiannya mengandalkan bea cukai atas barang impor ataupun barang ekspor. Pada gilirannya bea cukai ini oleh produsen dibebankan kepada konsumen sehingga harga barang tersebut menjadi lebih mahal. Dari uang bea cukai ini negara mengadakan berbagai proyek untuk membangun berbagai fasilitas negara. Aku berharap akan adanya penjelasan tentang hukum pajak dan bea cukai serta bekerja di bidang itu. Apakah hukum pajak itu sama dengan hukum <em>maks </em>ataukah berbeda?”<span id="more-1266"></span><br />
فيما يلي نص فتوى اللجنة الدائمة للإفتاء<br />
تحصيل الرسوم الجمركية من الواردات والصادرات من المكوس ، والمكوس حرام ، والعمل بها حرام ، ولو كانت ممن يصرفها ولاة الأمور في المشروعات المختلفة كبناء مرافق الدولة لنهي النبي صلى الله عليه وسلم عن أخذ المكوس وتشديده فيه ،</p>
<p><strong>Jawaban dari Lajnah Daimah</strong>,</p>
<p>“<span style="text-decoration: underline;">Bea cukai atas barang impor atau ekspor</span> itu termasuk <em>maks </em>sedangkan <em>maks </em>adalah <strong>haram</strong>. Oleh karena itu, bekerja di bidang itu hukumnya <strong>haram </strong>meskipun pajak tersebut dibelanjakan oleh negara untuk mengadakan berbagai proyek semisal membangun berbagai fasilitas negara. Hal ini dikarenakan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>melarang bahkan memberi ancaman keras untuk perbuatan mengambil <em>maks.</em><br />
فقد ثبت في حديث عبد الله بن بريدة عن أبيه في رجم الغامدية التي ولدت من الزنا أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( والذي نفسي بيده لقد تابت توبة لو تابها صاحب مكس لغفر له ) الحديث رواه أحمد ومسلم وأبو داوود</p>
<p>Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya tentang dirajamnya wanita dari suku al Ghamidiyyah setelah melahirkan anak karena zina. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda tentang wanita tersebut, “<em>Demi zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh wanita ini telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya penarik maks (baca: pajak) bertaubat seperti itu niscaya Allah akan mengampuninya</em>” (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Daud).<br />
وروى أحمد وأبو داوود  والحاكم عن عقبة بن عامر عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : ( لا يدخل الجنة صاحب مكس ) وصححه الحاكم .</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan al Hakim dari ‘Uqbah bin ‘Amir, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda, “<em>Penarik pajak itu tidak akan masuk surga</em>”. Hadits ini dinilai sahih oleh al Hakim.<br />
وقد قال الذهبي في كتابه الكبائر : والمكاس داخل في عموم قوله تعالى : ( إنما السبيل على الذين يظلمون الناس ويبغون<br />
في الأرض بغير الحق أولئك لهم عذاب أليم ) الشورى/42 .</p>
<p>Dalam <em>al Kabair</em>, adz Dzahabi mengatakan, “Pemungut pajak itu termasuk dalam keumuman firman Allah yang artinya, “<em>Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih</em>” (QS asy Syura:42).<br />
والمكاس من أكبر أعوان الظلمة بل هو من الظلمة أنفسهم فإنه يأخذ ما لا يستحق ، واستدل على ذلك بحديث بريدة وحديث عقبة المتقدمين ثم قال : والمكاس فيه شبه من قاطع الطريق وهو من اللصوص ، وجابي المكس وكاتبه وشاهده وآخذه من جندي وشيخ وصاحب راية شركاء في الوزر آكلون للسحت والحرام . انتهى .</p>
<p>Pemungut pajak adalah termasuk pembantu bagi penguasa zalim yang paling penting. Bahkan pemungut pajak itu termasuk pelaku kezaliman karena mereka mengambil harta yang tidak berhak untuk diambil”.</p>
<p>Adz Dzahabi lantas berdalil dengan hadits dari Buraidah dan ‘Uqbah yang telah disebutkan di atas. Setelah itu adz Dzahabi mengatakan, “Pemungut pajak itu memiliki kesamaan dengan <strong>pembegal </strong>bahkan dia termasuk <strong>pencuri</strong>. Pemungut pajak, jurus tulisnya, saksi dan semua pemungutnya baik seorang tentara, kepala suku atau kepala daerah adalah orang-orang yang bersekutu dalam dosa. Semua mereka adalah orang-orang yang memakan harta yang haram”. Sekian kutipan dari <em>al Kabair.</em><br />
ولأن ذلك من أكل أموال الناس بالباطل وقد قال تعالى :( ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل ) البقرة/188 .</p>
<p>Dalam pajak terdapat perbuatan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar padahal Allah berfirman yang artinya, “<em>Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang tidak benar”</em> (QS al Baqarah:188).<br />
ولما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال في خطبته بمنى يوم العيد في حجة الوداع : ( إن دماءكم وأموالكم وأعراضكم حرام عليكم كحرمة يومكم هذا في بلدكم هذا في شهركم هذا ) .</p>
<p>Ketika memberikan khutbah di Mina pada tanggal 10 Dzulhijjah ketika haji wada’, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian itu tidak boleh diganggu sebagaimana kehormatan hari ini, di negeri ini dan bulan ini</em>”.<br />
فعلى المسلم أن يتقي الله ويدع طرق الكسب الحرام ويسلك طرق الكسب الحلال وهي كثيرة ولله الحمد ومن يستغن يغنه الله ،</p>
<p>Menjadi kewajiban setiap muslim untuk bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan cara-cara mendapatkan rezeki yang haram dan memilih cara-cara mendapatkan rezeki yang halal yang jumlahnya banyak, <em>Alhamdulillah</em>. Barang siapa yang merasa cukup dengan yang halal maka Allah akan memberi kecukupan untuknya.<br />
قال الله تعالى : (ومن يتق الله يجعل له مخرجا * ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه إن الله بالغ أمره قد جعل الله لكل شيء قدرا ) الطلاق/2-3</p>
<p>Allah berfirman yang artinya, “<em>Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu</em>” (QS ath Thalaq:2-3).<br />
وقال : ( ومن يتق الله يجعل له من أمره يسرا ) الطلاق/ 4</p>
<p>Allah juga berfirman yang artinya, “<em>Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya</em>” (QS ath Thalaq:4).<br />
وبالله التوفيق<br />
فتاوى اللجنة الدائمة للإفتاء 23 / 489 .</p>
<p>Demikian yang terdapat dalam <strong>Fatwa al Lajnah al Daimah lil Ifta’ jilid 23 halaman 489.</strong></p>
<p><strong>Sumber</strong>:</p>
<p>http://islamqa.com/ar/ref/42563/%20%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%85%D8%A7%D8%B1%D9%83</p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/hukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1266&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/menipu-bea-cukai" title="Hukum Importir Yang Menipu Bea Cukai">Hukum Importir Yang Menipu Bea Cukai</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bidah-hasanah-dan-pajak-yang-tidak-masalah" title="Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah">Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-bea-cukai-untuk-barang-orang-kafir" title="Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?">Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak" title="Hukum Kerja di Kantor Pajak">Hukum Kerja di Kantor Pajak</a> (75)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menyikapi-pajak-dengan-bijak" title="Menyikapi Pajak dengan Bijak">Menyikapi Pajak dengan Bijak</a> (33)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bidah-hasanah-dan-pajak-yang-tidak-masalah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/bidah-hasanah-dan-pajak-yang-tidak-masalah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 20:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bea cukai]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah khasanah]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1211</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya dalam ajaran Islam tidak terdapat istilah bid’ah khasanah (bid’ah yang baik) sebagaimana istilah yang dibuat oleh sebagian orang-orang belakangan. Istilah bid’ah khasanah itu bermasalah: (a) istilah tersebut tidak memiliki dasar berupa dalil dari al Qur’an dan sunah (b)istilah tersebut menyelisihi hadits-hadits berisi celaan terhadap bid’ah yang bersifat umum.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fbidah-hasanah-dan-pajak-yang-tidak-masalah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani mendapatkan pertanyaan sebagai berikut,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">ما حكم الإسلام في الضرائب؟</p>
<p>“Apa hukum pajak dalam ajaran Islam?”<span id="more-1211"></span></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">الجواب: الضرائب هي التي تسمى بلغة الشرع (المكوس)، والمكوس من المتفق بين علماء المسلمين أنها لا تجوز إلا في حالة واحدة، يتحدث عنها بحجة بينة الإمام الشاطبي رحمه الله في كتابه العظيم الاعتصام،</p>
<p>Jawaban al Albani sebagai berikut, “Pajak dalam istilah syariat disebut dengan istilah <em>mukus </em>(bentuk jamak dari <em>maks</em>). <em>Mukus </em>itu tidak boleh dengan <span style="text-decoration: underline;">kesepakatan ulama kaum muslimin</span> kecuali dalam satu kondisi. Kondisi tersebut dikupas secara bagus oleh Imam asy Syathibi dalam bukunya yang sangat berharga yaitu<em> al I’tisham</em>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">حيث يتكلم فيه بكلام علمي دقيق قلما نجده في كتاب آخر سواه، يفرق فيه بين البدعة التي أكد في بحثه في هذا الكتاب أن قول النبي صلى الله عليه وسلم: (كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار) أن هذا القول الكريم هو على إطلاقه وعمومه وشموله،</p>
<p>Dalam buku tersebut dengan pembahasan ilmiah yang cermat yang jarang-jarang bisa kita jumpai dalam buku yang lain. Dalam buku tersebut beliau membedakan antara bid’ah dengan selainnya. Dalam buku tersebut beliau menegaskan bahwa sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu dalam neraka” itu berlaku dan bersifat umum dan mutlak serta mencakup semua jenis bid’ah.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وأنه ليس في الإسلام ما يسميه بعض المتأخرين بالبدعة الحسنة؛ لأن هذه البدعة الحسنة أولاً: لا دليل عليها في الكتاب ولا في السنة، وثانياً: هي مخالفة لعموم الأحاديث التي تطلق ذم البدعة إطلاقاً شاملاً، فكلما تعرض النبي صلى الله عليه وسلم لذكرها فإنه يطلق الذم عليها، ولا يقيدها بقيد ما، كمثل الحديث السابق،</p>
<p>Sesungguhnya dalam ajaran Islam tidak terdapat istilah bid’ah khasanah (bid’ah yang baik) sebagaimana istilah yang dibuat oleh sebagian orang-orang belakangan. Istilah bid’ah khasanah itu bermasalah: (a) istilah tersebut tidak memiliki dasar berupa dalil dari al Qur’an dan sunah (b)istilah tersebut menyelisihi hadits-hadits berisi celaan terhadap bid’ah yang bersifat umum. Setiap kali Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>menyebut bid’ah, beliau pasti mencelanya secara umum dan tidak membatasinya dalam bentuk-bentuk tertentu semisal dalam hadits yang lain.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">ومثل الحديث الآخر الذي أخرجه الشيخان في صحيحيهما من حديث عائشة رضي الله تعالى عنها، قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم: (من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد)،</p>
<p>Contoh hadits yang lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda, “Siapa yang mengada-ada dalam agama ini padahal bukan bagian darinya maka amal mengada-ada tersebut pasti tertolak”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">أكد الإمام الشاطبي في كتابه المشار إليه آنفاً: أن هذه الأحاديث تحمل على عمومها وشمولها، فكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.</p>
<p>Dalam buku di atas Imam asy Syathibi menegaskan bahwa hadits-hadits di atas dipahami bersifat umum dan mencakup semua bentuk bid’ah. Sehingga semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">ولكنه من إحسانه في هذا البحث العظيم أن تعرض لما يسمى أو يعرف عند بعض العلماء بـ(المصالح المرسلة)،</p>
<p>Akan tetapi di antara kebaikan asy Syathibi dalam bahasan yang sangat bernilai ini adalah beliau menyinggung apa yang disebut atau dikenal oleh sebagian ulama dengan istilah maslahat mursalah.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وهذه المصالح المرسلة التي تلتبس على بعض المتأخرين من الذين ذهبوا إلى القول بأن في الدين بدعة حسنة، تختلط عليهم المصالح المرسلة بالبدعة الحسنة، وشتان ما بينهما،</p>
<p>Istilah maslahat mursalah inilah yang menjadi sebab kerancuan sebagian orang belakangan yang mengatakan adanya bid’ah khasanah dalam agama Islam. Akhirnya mereka tidak bisa membedakan antara maslahat mursalah dengan bid’ah. Padahal dua hal tersebut sangat berbeda.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">فالمصلحة المرسلة -التي يتبناها بعض العلماء ومنهم إمامنا الشاطبي رحمه الله- هي التي توجبها ظروف وضعية أو زمنية، تؤدي إلى تحقيق مصلحة شرعية. فهذه ليس لها علاقة بالبدعة التي يستحسنها بعض الناس؛</p>
<p>Maslahat mursalah yang dijadikan dalil oleh sebagian ulama – di antaranya adalah Imam asy Syathibi- adalah <strong>kebijakan yang diharuskan oleh kondisi dan waktu tertentu dan diharapkan kebijakan tersebut akan mewujudkan manfaat yang diakui oleh syariat</strong>. Maslahat mursalah sebagaimana pengertian ini tidak memiliki hubungan dengan bid’ah yang dinilai baik oleh sebagian orang.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">لأن البدعة التي يسمونها بالبدعة الحسنة إنما يقصدون بها زيادة التقرب إلى الله تبارك وتعالى، وهذه الزيادة لا مجال لها في دائرة الإسلام الواسعة، التي مما جاء فيها قول ربنا تبارك وتعالى: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً [المائدة:3]،</p>
<p>Bid’ah yang dibungkus oleh sebagian orang dengan nama bid’ah hasanah adalah amal mengada-ada yang dilakukan oleh pelakunya dengan tujuan agar semakin dekat kepada Allah. Ajaran Islam yang demikian luas ini tidak memberi tempat untuk tambahan dengan bentuk semacam itu karena Allah telah berfirman yang artinya, “<em>Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kulengkapkan untuk kalian nikmat-nikmatku serta aku telah rela Islam menjadi agama kalian</em>” (QS al Maidah:3).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">ولذلك لقد أجاد إمام دار الهجرة الإمام مالك رحمه الله حينما قال كلمته الذهبية المشهورة، قال: من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة؛ فقد زعم أن محمداً صلى الله عليه وسلم خان الرسالة -وحاشاه- اقرءوا قول الله تبارك وتعالى: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً [المائدة:3] .</p>
<p>Oleh karena itu, sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Imam Dar al Hijrah, Imam Malik yang telah mengatakan perkataan beliau yang terkenal. Perkataan beliau layak untuk ditulis dengan tinta emas. Beliau mengatakan, “Barang siapa membuat bid’ah dalam Islam dan dia menilainya sebagai suatu hal yang baik berarti telah menuduh Muhammad tidak amanah – dan itu adalah suatu hal yang tidak mungkin- dalam menyampaikan wahyu. Bacalah firman Allah yang artinya, “<em>Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kulengkapkan untuk kalian nikmat-nikmatku serta aku telah rela Islam menjadi agama kalian</em>” (QS al Maidah:3)”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">قال مالك : فما لم يكن يومئذ ديناً -أي: يتقرب به إلى الله- فلا يكون اليوم ديناً، ولا يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها.</p>
<p>Malik melanjutkan perkataannya dengan mengatakan, “Maka segala sesuatu yang pada zaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>tidak dianggap sebagai bagian dari agama-yang bisa mendekatkan diri kepada Allah – maka pada saat ini juga bukan bagian dari agama. Yang bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini hanyalah hal yang telah berhasil memperbaiki keadaan genarasi awalnya”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">إذا كان هذا هو شأن البدعة التي يسمونها بالبدعة الحسنة، وهو أنهم يريدون التقرب إلى الله تبارك وتعالى بها، زيادة على ما جاء به رسول الله صلى الله عليه وسلم</p>
<p>Jika demikian hakikat bid’ah yang disebut sebagian orang dengan istilah bid’ah khasanah. Pelaku ‘bid’ah hasanah’ ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang mereka kerjakan lebih dari sekedar ajaran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">القائل: (ما تركت شيئاً يقربكم إلى الله إلا وأمرتكم به، وما تركت شيئاً يباعدكم عن الله ويقربكم إلى النار إلا ونهيتكم عنه).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Tidaklah kutinggalkan sesuatu pun yang mendekatkan kalian kepada Allah melainkan telah kuperintahkan. Sebaliknya, tidaklah kubiarkan sesuatu pun yang bisa menjauhkan kalian dari Allah dan mendekatkan kalian kepada neraka melainkan telah kularang untuk dikerjakan”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">إذاً: لا مجال لاتخاذ محدثة سبيلاً للتقرب إلى الله تبارك وتعالى، ما دام أن الله قد أتم النعمة علينا بإكماله لدينه.</p>
<p>Jika demikian maka tidak ada ruang untuk menjadikan bid’ah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah selagi Allah memberikan nikmat yang lengkap untuk kita dengan disempurnakannya agama Allah.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">أما المصلحة المرسلة فشأنها يختلف كل الاختلاف عن البدعة الحسنة -المزعومة- فالمصلحة المرسلة يراد بها تحقيق مصلحة يقتضيها المكان أو الزمان ويقرها الإسلام.</p>
<p>Sedangkan maslahat mursalah itu jelas sangat beda dengan bid’ah yang dianggap hasanah. Maksud dari maslahat mursalah adalah mewujudkan manfaat yang menjadi tuntutan kondisi tempat dan waktu dan manfaat tersebut dibenarkan oleh ajaran Islam.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وفي هذا المجال يؤكد الإمام الشاطبي شرعية وضع ضرائب</p>
<p>Dalam kesempatan inilah Imam asy Syathibi membahas <span style="text-decoration: underline;">diperbolehkannya mengambil pajak.</span></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">تختلف عن الضرائب التي اتُخذت اليوم قوانين مضطربة في كثير إن لم نقل في كل البلاد الإسلامية، تقليداً للكفار الذين حرموا من منهج الله المتمثل في كتاب الله وسنة نبيه صلى الله عليه وعلى آله وسلم،</p>
<p>Pajak yang beliau maksudkan sangat berbeda dengan pajak yang ada di zaman ini. Di zaman ini pajak adalah sebuah aturan yang dipaksakan di berbagai negeri Islam jika tidak boleh kita katakan seluruh negeri Islam karena membebek orang kafir yang memang tidak mengerti aturan-aturan Allah yang tergambar pada al Qur’an dan sunah Nabi-Nya.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">فكان من الضرورة بالنسبة لهؤلاء المحرومين من هدي الكتاب والسنة أن يضعوا لهم مناهج خاصة، وقوانين يعالجون بها مشاكلهم، أما المسلمون فقد أغناهم الله تبارك وتعالى بما أنزل عليهم من الكتاب، وبما بين لهم رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم،</p>
<p>Sebuah keniscayaan bagi orang-orang yang tidak mengerti aturan al Qur’an dan sunah (baca:orang-orang kafir) untuk membuat aturan-aturan sendiri dan undang-undang yang diharapkan bisa menyelesaikan problematika mereka. Sedangkan kaum muslimin telah Allah cukupi dengan al Qur’an yang Allah turunkan untuk mereka dan penjelasan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>(baca:hadits).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">لذلك فلا يجوز للمسلمين أن يستبدلوا القوانين بالشريعة، فيحق فيهم قول الله تبارك وتعالى: أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ [البقرة:61]</p>
<p>Oleh karena itu, kaum muslimin tidak boleh mengganti syariat Allah dengan undang-undang buatan manusia. Jika hal dilakukan maka tepatlah firman Allah berikut ini untuk mereka. Allah berfirman yang artinya, “<em>Apakah hal yang baik akan kalian ganti dengan hal yang lebih rendah?</em>” (QS al Baqarah:61).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">فلا يجوز أبداً أن تتخذ الضرائب قوانين ثابتة، كأنها شريعة منزلة من السماء أبد الدهر، وإنما الضريبة التي يجوز أن تفرضها الدولة المسلمة هي في حدود ظروف معينة تحيط بتلك الدولة.</p>
<p>Tidak boleh sama sekali menjadikan pajak sebagai aturan baku aturan permanen seakan-akan aturan yang turun dari langit sehingga berlaku selama-lamanya. <strong>Pajak yang boleh diwajibkan oleh negara Islam adalah situasional dibatasi oleh kondisi tertentu yang sedang meliputi negara Islam tersebut.</strong></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">مثلاً -وأظن أن هذا المثال هو الذي جاء به الإمام الشاطبي :- إذا هوجمت بلدة من البلاد الإسلامية، ولم يكن هناك في خزينة الدولة من المال ما يقوم بواجب تهيئة الجيوش لدفع ذلك الهجوم من أعداء المسلمين، ففي مثل هذه الظروف تفرض الدولة ضرائب معينة وعلى أشخاص معينين، عندهم من القدرة أن يدفعوا ما فرض عليهم</p>
<p>Misalnya- kalau tidak salah contoh berikut ini dibawakan oleh Imam asy Syathibi- jika sebuah negeri Islam diserang musuh sedangkan dalam kas negara tidak terdapat dana yang cukup untuk menyiapkan pasukan yang bisa mencegah serangan yang dilancarkan oleh musuh kaum muslimin. Dalam sikon semacam ini negara boleh mewajibkan pajak dengan besaran tertentu atas person-person tertentu yang dinilai memiliki kemampuan untuk membayar pajak yang diwajibkan atas mereka.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">ولكن لا تصبح هذه الضريبة ضريبة لازمة، وشريعة مستقرة -كما ذكرنا آنفاً- فإذا زال السبب العارض وهو هجوم الكافر ودفع عن بلاد الإسلام؛ أُسقطت الضرائب عن المسلمين؛ لأن السبب الذي أوجب تلك الضريبة قد زال،</p>
<p>Akan tetapi aturan pajak itu tidak boleh dijadikan sebagai pajak yang bersifat permanen sehingga menjadi sebuah aturan yang baku. Jika sebab diwajibkannya pajak yaitu serangan orang-orang kafir  dan usaha untuk membela negeri Islam telah hilang maka kewajiban membayar pajak atas kaum muslimin menjadi hilang karena faktor pendorong diwajibkannya pajak telah hilang.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">والحكم -كما يقول الفقهاء- يدور مع العلة وجوداً وعدماً، فالعلة أو السبب الذي أوجب تلك الفريضة قد زال، فإذاً تزول بزوالها هذه الضريبة.</p>
<p>Sedangkan ada atau tidak adanya suatu hukum itu sebagaimana yang dikatakan oleh para pakar fiqih mengikuti sebab. Sedangkan sebab diwajibkannya pajak telah hilang sehingga secara otomatis kewajiban pajak ditiadakan.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وباختصار جواب ذاك السؤال: ليس هناك ضرائب تتخذ قوانين في الإسلام، وإنما يمكن للدولة المسلمة أن تفرض ضرائب معينة لظروف خاصة، فإذا زالت الظروف زالت الضريبة.</p>
<p><strong>Secara ringkas jawaban pertanyaan di atas adalah dalam ajaran Islam tidak ada pajak yang dijadikan sebagai aturan baku. Yang ada hanyalah negara Islam mewajibkan pajak dengan besaran tertentu karena kondisi tertentu. Jika kondisi tersebut telah hilang maka secara otomatis pajak ditiadakan</strong>”</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">جزء من محاضرة : أسئلة الإمارات )  للشيخ : ( محمد ناصر الدين الألباني</p>
<p>Transkrip di atas adalah cuplikan ceramah dengan judul As-ilah al Imarat yang disampaikan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albania.</p>
<p><strong>Sumber</strong>: http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&amp;audioid=109346-44k
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fbidah-hasanah-dan-pajak-yang-tidak-masalah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/bidah-hasanah-dan-pajak-yang-tidak-masalah"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1211&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/menipu-bea-cukai" title="Hukum Importir Yang Menipu Bea Cukai">Hukum Importir Yang Menipu Bea Cukai</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-mengisi-acara-maulid-nabi" title="Mengisi Pengajian Maulid Nabi">Mengisi Pengajian Maulid Nabi</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/biji-tasbih-bukan-bidah-2" title="Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (2)">Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (2)</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pandangan-ibnu-taimiyah-mengenai-biji-tasbih" title="Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (1)">Biji Tasbih Bukan Bid&#8217;ah (1)</a> (19)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sanggahan-untuk-amalan-dzikir-berjamaah" title="Sanggahan untuk Amalan Dzikir Berjama&#8217;ah">Sanggahan untuk Amalan Dzikir Berjama&#8217;ah</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah" title="Hukum Pajak dan Bea Cukai (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah)">Hukum Pajak dan Bea Cukai (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah)</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-bea-cukai-untuk-barang-orang-kafir" title="Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?">Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak" title="Hukum Kerja di Kantor Pajak">Hukum Kerja di Kantor Pajak</a> (75)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar" title="Memahami Bid&#8217;ah dengan Benar">Memahami Bid&#8217;ah dengan Benar</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bidah-ibnu-taimiyah" title="Ibnu Taimiyah Membuat Bidah?">Ibnu Taimiyah Membuat Bidah?</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/bidah-hasanah-dan-pajak-yang-tidak-masalah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/adakah-bea-cukai-untuk-barang-orang-kafir</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/adakah-bea-cukai-untuk-barang-orang-kafir#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 20:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bea cukai]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1208</guid>
		<description><![CDATA[Dalil hadist adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Bea cukai sepuluh persen itu hanyalah kewajiban Yahudi dan Nasrani dan tidak ada kewajiban membayar bea cukai sebesar sepuluh persen atas kaum muslimin” [akan tetapi hadits ini adalah hadits yang lemah. Dinilai lemah oleh al Albani dalam Dhaif Abi Daud no 3046].]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fadakah-bea-cukai-untuk-barang-orang-kafir&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Pertanyaan,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">هل يجوز أخذ الجمارك من غير المسلمين إذا قاموا بتصدير بضاعتهم إلى بلاد المسلمين ؟</p>
<p>“Apakah diperbolehkan mengambil bea cukai dari non muslim ketika mereka mengekspor barang dagangan mereka ke negeri kaum muslimin?”<span id="more-1208"></span></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">الحمد لله<br />
نعم ، لا حرج في أخذ الجمارك من غير المسلمين على البضاعة التي يأتون بها لبيعها للمسلمين .</p>
<p>Jawaban pertanyaan, “Boleh, tidaklah mengapa mengambil bea cukai dari non muslim atas barang dagangan yang mereka datangkan ke negeri kaum muslimin agar dibeli oleh kaum muslimin</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">فقد روى البيهقي (18543) عن أنس رصي الله عنه أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أمر أن يؤخذ من أهل الذمة نصف العشر ، وممن لا ذمة له : العشر .</p>
<p>Diriwayatkan oleh al Baihaqi no 18543 dari Anas, sesungguhnya Umar bin al Khattab memerintahkan untuk mengambil bea cukai atas barang yang didatangkan oleh kafir dzimmi sebesar <span style="text-decoration: underline;">lima persen</span>. Sedangkan barang yang didatangkan oleh kafir harbi ditariki bea cukai sebesar <span style="text-decoration: underline;">sepuluh persen</span>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وجاء في &#8221; الموسوعة الفقهية &#8221; (30 / 102 ، 103 ) :<br />
&#8220;يؤخذ العشر من تجارة غير المسلمين عند دخولهم بها إلى دار الإسلام ، وذلك في الجملة ، &#8230; .</p>
<p>Di <em>Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah</em> jilid 30 hal 102 dan 103 disebutkan, “Ada bea cukai sebesar sepuluh persen atas barang dagangan non muslim ketika dimasukkan ke negeri Islam. Hal ini secara umum <span style="text-decoration: underline;">disepakati oleh para ulama</span>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">استدل الفقهاء لمشروعية العشر على غير المسلم بالسنَّة ، والإجماع ، والمعقول ، أما السنَّة : فقوله : (إنما العشور على اليهود والنصارى ، وليس على المسلمين عشور) . [الحديث ضعيف ، ضعفه الألباني في ضعيف أبي داود (3046)]</p>
<p>Para pakar fiqh berdalil dengan hadits, ijma dan logika untuk mengatakan adanya bea cukai sebesar sepuluh persen atas barang dagangan non muslim.</p>
<p>Dalil hadist adalah sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “Bea cukai sepuluh persen itu hanyalah kewajiban Yahudi dan Nasrani dan tidak ada kewajiban membayar bea cukai sebesar sepuluh persen atas kaum muslimin” [akan tetapi hadits ini adalah hadits yang lemah. Dinilai lemah oleh al Albani dalam Dhaif Abi Daud no 3046].</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">فالحديث يدل على أنه لا يؤخذ من المسلم مال سوى الزكاة ، ويؤخذ من اليهود والنصارى عشر التجارات كما تؤخذ منهم الجزية .</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan bahwa kewajiban finansial seorang muslim <span style="text-decoration: underline;">hanyalah zakat</span>. Sedangkan barang dagangan Yahudi dan Nasrani ditariki bea cukai sebesar sepuluh persen, di samping ada kewajiban membayar jizyah.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وأما الإجماع : فقد بعث عمر بن الخطاب رضي الله عنه العُشَّار ليأخذوا العُشْر بمحضر من الصحابة رضوان الله عليهم ، ولم يخالفه في ذلك أحد ، فكان إجماعا سكوتيّاً .</p>
<p>Sedangkan dalil ijma adalah karena Umar bin al Khattab mengutus petugas penarik pajak untuk mengambil sepuluh persen dari total nilai barang dagangan non muslim dalam kondisi disaksikan oleh para sahabat dan tidak ada satupun sahabat yang tidak menyetujui tindakan Umar. Sehingga dibenarkannya hal ini adalah<span style="text-decoration: underline;"> ijma sukuti</span> (konsensus ulama karena tidak ada yang menyalahkan)</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وأما المعقول : فالتاجر الذي ينتقل بتجارته من بلد إلى آخر يحتاج إلى الأمان ، والحماية من اللصوص وقطاع الطرق ، والدولة الإسلامية تتكفل بتأمين ذلك عبر طرقها وممراتها التجارية ، فالعُشر الذي يؤخذ من التاجر هو في مقابل تلك الحماية ، والانتفاع بالمرافق العامة للدولة الإسلامية&#8221; انتهى</p>
<p>Sedangkan logika, seorang muslim mengatakan bahwa seorang pedagang itu memindahkan barang dagangannnya dari suatu tempat ke tempat yang lain. Untuk itu dibutuhkan keamanan yaitu jaminan keamanan dari gangguan pencuri dan perampok. Negeri Islam memberi jaminan tersebut untuk barang dagangan non muslim yang melewati jalan-jalan umum ataupun jalan-jalan khusus untuk angkutan barang di negeri kaum muslimin. Sehingga cukai sebesar sepuluh persen yang diambil dari pedagang non muslim adalah kompensasi dari jaminan keamanan tersebut dan kompensasi dari memanfaatkan sarana umum yang dimiliki oleh negeri Islam”. Sekian kutipan dari al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah.</p>
<p>Rujukan: http://islamqa.com/ar/ref/111886/%20%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%85%D8%A7%D8%B1%D9%83
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fadakah-bea-cukai-untuk-barang-orang-kafir&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/adakah-bea-cukai-untuk-barang-orang-kafir"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1208&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/menipu-bea-cukai" title="Hukum Importir Yang Menipu Bea Cukai">Hukum Importir Yang Menipu Bea Cukai</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah" title="Hukum Pajak dan Bea Cukai (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah)">Hukum Pajak dan Bea Cukai (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah)</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menyikapi-pajak-dengan-bijak" title="Menyikapi Pajak dengan Bijak">Menyikapi Pajak dengan Bijak</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bidah-hasanah-dan-pajak-yang-tidak-masalah" title="Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah">Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak" title="Hukum Kerja di Kantor Pajak">Hukum Kerja di Kantor Pajak</a> (75)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/toga-sarjana" title="Toga Sarjana">Toga Sarjana</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-lomba-maraton" title="Hukum Lomba Maraton">Hukum Lomba Maraton</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini" title="Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini">Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</a> (35)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps" title="Hukum Bermain Play Station (PS)">Hukum Bermain Play Station (PS)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi" title="Dasi Menurut Ibnu Utsaimin">Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</a> (13)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/adakah-bea-cukai-untuk-barang-orang-kafir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Kerja di Kantor Pajak</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 20:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bea cukai]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[gaji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kerja]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1187</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan, “Aku bekerja di kantor bea cukai. Aku pernah mendengar bahwa pekerjaan semacam ini itu tidak diperbolehkan oleh syariat. Mendengar hal tersebut aku lantas mengadakan pengkajian tentang permasalahan ini. Setelah sekian lama aku mengkaji, aku tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku berharap agar anda menjelaskan hukum permasalahan ini sejelas-jelasnya”.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-kerja-di-kantor-pajak&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Berikut ada fatwa menarik tentang hukum bekerja di kantor pajak yang sering dipertanyakan sebagian orang. Semoga bermanfaat.<span id="more-1187"></span></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">حكم العمل في الجمارك والضرائب<br />
أعمل في الجمارك ، وقد سمعت أن هذا العمل غير جائز شرعاً ، فشرعت في البحث في هذه المسألة وقد مرت مدة طويلة وأنا أبحث دون أن أصل إلى نتيجة شافية . أرجو منكم أن تفصلوا لي المسألة قدر المستطاع</p>
<p><strong>Hukum Bekerja di Bidang Bea Cukai dan Perpajakan</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan</strong>, “Aku bekerja di kantor bea cukai. Aku pernah mendengar bahwa pekerjaan semacam ini itu tidak diperbolehkan oleh syariat. Mendengar hal tersebut aku lantas mengadakan pengkajian tentang permasalahan ini. Setelah sekian lama aku mengkaji, aku tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku berharap agar anda menjelaskan hukum permasalahan ini sejelas-jelasnya”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">الحمد لله<br />
أولاً :<br />
العمل في الجمارك وتحصيل الرسوم على ما يجلبه الناس من بضائع أو أمتعة ، الأصل فيه أنه حرام .</p>
<p>Jawaban pertanyaan, “Alhamdulillah, pada dasarnya hukum bekerja di bidang bea cukai yang memungut pajak atas barang-barang yang didatangkan oleh masyarakat dan dimasukkan ke suatu daerah adalah <strong>haram</strong>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">لما فيه من الظلم والإعانة عليه ؛ إذ لا يجوز أخذ مال امرئ معصوم إلا بطيب نفس منه ، وقد دلت النصوص على تحريم المَكْس ، والتشديد فيه ، ومن ذلك قوله صلى الله عليه وسلم في المرأة الغامدية التي زنت فرجمت : ( لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ ) رواه مسلم (1695)</p>
<p>Alasan diharamkannya hal ini adalah karena pungutan bea cukai adalah <strong>kezaliman </strong>sehingga bekerja di bea cukai berarti <span style="text-decoration: underline;">membantu pihak yang hendak melakukan kezaliman</span>. Tidak boleh mengambil harta seorang yang hartanya terjaga (baca: muslim atau kafir dzimmi) kecuali dengan kerelaannya. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan haramnya <strong><em>maks </em>(baca: bea cukai)</strong> dan adanya ancaman keras tentang hal ini. Di antaranya adalah sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>tentang seorang perempuan dari suku Ghamidiyyah yang berzina lantas dihukum rajam. Beliau bersabda, “<em>Perempuan tersebut telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya pemungut bea cukai bertaubat seperti itu tentu dia akan diampuni</em>” (HR Muslim no 1695).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قال النووي رحمه الله : &#8220;فيه أن المَكْس من أقبح المعاصي والذنوب الموبقات ، وذلك لكثرة مطالبات الناس له وظلاماتهم عنده ، وتكرر ذلك منه ، وانتهاكه للناس وأخذ أموالهم بغير حقها ، وصرفها في غير وجهها &#8221; اهـ .</p>
<p>Ketika membahas hadits di atas, an Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa memungut bea cukai itu termasuk <strong>kemaksiatan yang paling buruk</strong> dan termasuk <strong>dosa yang membinasakan (baca: dosa besar)</strong>. Hal ini disebabkan banyaknya tuntutan manusia kepadanya (pada hari Kiamat) dan banyaknya tindakan kezaliman yang dilakukan oleh pemungut bea cukai mengingat pungutan ini dilakukan berulang kali. Dengan memungut bea cukai berarti melanggar hak orang lain dan mengambil harta orang lain tanpa alasan yang bisa dibenarkan serta membelanjakannya tidak pada sasaran yang tepat”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وروى أحمد (17333) وأبو داود (2937) عن عقبة بن عامر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ صَاحِبُ مَكْسٍ )<br />
قال شعيب الأناؤوط : حسن لغيره. وضعفه الألباني في ضعيف أبي داود</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ahmad no 17333 dan Abu Daud no 2937 dari Ubah bin Amir, Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda, “<em>Pemungut bea cukai itu tidak akan masuk surga</em>”. Hadits ini dinilai hasan li ghairihi oleh Syu’aib al Arnauth namun dinilai lemah oleh al Albani dalam Dhaif Abu Daud.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">والمَكْس هو الضريبة التي تفرض على الناس ، ويُسمى آخذها (ماكس) أو (مكَّاس) أو (عَشَّار) لأنه كان يأخذ عشر أموال الناس</p>
<p>Pengertian <strong><em>maks </em></strong>yang ada dalam hadits-hadits di atas adalah <strong>pajak yang diwajibkan atas masyarakat</strong>. Pemungut <em>maks </em>disebut dengan <em>maakis</em>, <em>makkaas </em>atau ‘<em>asysyar </em>(pemungut sepersepuluh), disebut demikian karena pemungut bea cukai – di masa silam – mengambil <span style="text-decoration: underline;">sepersepuluh </span>dari total harta orang yang dibebani bea cukai.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">. وقد ذكر العلماء للمكس عدة صور . منها : ما كان يفعله أهل الجاهلية ، وهي دراهم كانت تؤخذ من البائع في الأسواق .<br />
ومنها : دراهم كان يأخذها عامل الزكاة لنفسه ، بعد أن يأخذ الزكاة .<br />
ومنها : دراهم كانت تؤخذ من التجار إذا مروا ، وكانوا يقدرونها على الأحمال أو الرؤوس ونحو ذلك ، وهذا أقرب ما يكون شبهاً بالجمارك</p>
<p>Para ulama menyebutkan bahwa maks itu memiliki beberapa bentuk.</p>
<p>(1) <em>Maks </em>yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah yaitu uang pajak yang diambil dari para penjual di pasar</p>
<p>(2) Uang yang diambil oleh amal zakat dari muzakki untuk kepentingan pribadinya setelah dia mengambil zakat.</p>
<p>(3) Uang yang diambil dari para pedagang yang melewati suatu tempat tertentu. Uang yang diambil tersebut dibebankan kepada barang dagangan yang dibawa, perkepala orang yang lewat atau semisalnya.</p>
<p><em>Maks </em>dengan <span style="text-decoration: underline;">pengertian ketiga</span> tersebut sangat mirip dengan <span style="text-decoration: underline;">bea cukai</span>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وذكر هذه الصور الثلاثة في &#8220;عون المعبود&#8221; ، فقال : في القاموس : المكس النقص والظلم ، ودراهم كانت تؤخذ من بائعي السلع في الأسواق في الجاهلية . أو درهم كان يأخذه المُصَدِّق (عامل الزكاة) بعد فراغه من الصدقة</p>
<p>Ketiga bentuk <em>maks </em>ini disebutkan oleh penulis kitab<em> Aunul Ma’bud</em> (Syarh Sunan Abu Daud). Penulis Aunul Ma’bud mengatakan, “Dalam <em>al Qamus al Muhith</em> disebutkan bahwa makna asal dari <em>maks </em>adalah mengurangi atau menzalimi. <em>Maks </em>adalah uang yang diambil dari para pedagang di pasar pada masa jahiliyyah atau uang yang diambil oleh amil zakat (untuk dirinya) setelah dia selesai mengambil zakat.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وقال في &#8220;النهاية&#8221; : هو الضريبة التي يأخذها الماكس ، وهو العشار .<br />
وفي &#8220;شرح السنة&#8221; : أراد بصاحب المكس : الذي يأخذ من التجار إذا مروا مَكْسًا باسم العشر اهـ</p>
<p>Penulis kitab <em>an Nihayah</em> mengatakan bahwa <em>maks </em>adalah pajak yang diambil oleh <em>maakis </em>atau pemungut <em>maks</em>. Pemungut maks itu disebut juga <em>asysyar</em>. Sedangkan penulis kitab <em>Syarh as Sunah</em> mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pemungut <em>maks </em>adalah orang yang meminta uang dari para pedagang jika mereka lewat di suatu tempat dengan kedok ‘<em>usyur </em>(yaitu zakat)”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وقال الشوكاني في &#8220;نيل الأوطار” : صاحب المكس هو من يتولى الضرائب التي تؤخذ من الناس بغير حق “اهـ .</p>
<p>Dalam Nailul Author, asy Syaukani mengatakan, “Pemungut <em>maks </em>adalah orang yang mengambil pajak dari masyarakat tanpa adanya alasan yang bisa dibenarkan”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">والمَكْس محرم بالإجماع ، وقد نص بعض أهل العلم على أنه من كبائر الذنوب .</p>
<p>Memungut <em>maks </em>adalah <strong>haram </strong>dengan <span style="text-decoration: underline;">sepakat ulama</span>. Bahkan sebagian ulama menegaskan bahwa perbuatan memungut <em>maks </em>adalah<strong> dosa besar</strong>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قال في &#8220;مطالب أولي النهى&#8221; (2/619 )<br />
(يحرم تعشير أموال المسلمين -أي أخذ عشرها- والكُلَف -أي الضرائب- التي ضربها الملوك على الناس بغير طريق شرعي إجماعا . قال القاضي : لا يسوغ فيها اجتهاد ) اهـ .</p>
<p>Dalam <em>Mathalib Ulin Nuha</em> 2/619 disebutkan, “Diharamkan mengambil sepersepuluh dari total harta manusia. Demikian juga diharamkan memungut pajak. Pajak adalah pungutan penguasa dari rakyatnya tanpa cara yang dibenarkan oleh syariat. <span style="text-decoration: underline;">Diharamkannya hal ini adalah ijma ulama</span>. Al Qadhi mengatakan bahwa tidak ada ijtihad dalam masalah ini”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وقال ابن حجر المكي في &#8220;الزواجر عن اقتراف الكبائر&#8221; (1/180(<br />
الكبيرة الثلاثون بعد المائة : جباية المكوس , والدخول في شيء من توابعها كالكتابة عليها ، لا بقصد حفظ حقوق الناس إلى أن ترد إليهم إن تيسر. وهو داخل في قوله تعالى : ( إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ( الشورى/42 .</p>
<p>Ibnu Hajar al Maki dalam <em>al Zawajir ‘an Iqtiraf al Kabair</em> 1/180 mengatakan, “Dosa besar ke-130 adalah memungut maks dan berperan serta di dalamnya dengan menjadi juru tulis bukan dengan tujuan menjaga hak manusia sehingga bisa dikembalikan kepada pemilik harta ketika sudah memungkinkan. Dosa ini termasuk dalam firman Allah yang artinya, “<em>Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih</em>” (QS asy Syura:42).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">والمكاس بسائر أنواعه : من جابي المكس ، وكاتبه ، وشاهده ، ووازنه ، وكائله ، وغيرهم من أكبر أعوان الظلمة ، بل هم من الظلمة أنفسهم , فإنهم يأخذون ما لا يستحقونه ، ويدفعونه لمن لا يستحقه , ولهذا لا يدخل صاحب مكس الجنة ، لأن لحمه ينبت من حرام .</p>
<p>Para pemungut pajak dengan berbagai tugasnya baik pemungut pajak secara langsung, juru tulisnya, saksi, petugas yang bertugas menimbang ataupun menakar barang yang akan dibebani pajak dll adalah pembantu penting para penguasa yang zalim. Bahkan mereka adalah orang-orang yang zalim karena merekalah yang mengambil harta yang bukan hak mereka dan menyerahkannya kepada orang yang tidak berhak. Oleh karena itu, pemungut pajak itu tidak akan masuk surga karena dagingnya tumbuh dari <strong>harta yang haram</strong>.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وأيضا : فلأنهم تقلدوا بمظالم العباد , ومن أين للمكاس يوم القيامة أن يؤدي الناس ما أَخَذَ منهم ، إنما يأخذون من حسناته ، إن كان له حسنات , وهو داخل في قوله صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح : ( أتدرون من المفلس ؟ قالوا : يا رسول الله ، المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع . قال : إن المفلس من أمتي من يأتي يوم القيامة بصلاة وزكاة وصيام ، وقد شتم هذا ، وضرب هذا ، وأخذ مال هذا ، فيأخذ هذا من حسناته ، وهذا من حسناته ، فإن فنيت حسناته قبل أن يقضي ما عليه أخذ من سيئاتهم فطرح عليه ثم طرح في النار)</p>
<p>Sebab yang kedua adalah karena <strong>mereka bertugas untuk menzalimi manusia</strong>. Dari mana para pemungut zakat tersebut pada hari Kiamat bisa mengembalikan hak orang lain yang telah mereka ambil?? Orang-orang yang dikenai pajak itu akan mengambil kebaikannya jika pemungut pajak tersebut masih memiliki kebaikan. Pemungut pajak itu termasuk dalam hadits yang sahih. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bertanya kepada para sahabat, “<em>Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?</em>” Jawaban para sahabat, “<em>Menurut kami, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak punya dan tidak punya harta</em>”. Sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>, “<em>Umatku yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, zakat dan puasa. Namun dia telah mencaci maki A, memukul B dan mengambil harta C. A akan mengambil amal kebaikannya. Demikian pula B. Jika amal kebajikannya sudah habis sebelum kewajibannya selesai maka amal kejelekan orang-orang yang dizalimi akan diberikan kepadanya kemudian dia dicampakkan ke dalam neraka</em>”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وعن عقبة بن عامر رضي الله عنه أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( لا يدخل الجنة صاحب مكس )</p>
<p>Dari Ubah bin Amir, beliau mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda, “<em>Pemungut bea cukai itu tidak akan masuk surga</em>”.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قال البغوي : يريد بصاحب المكس الذي يأخذ من التجار إذا مروا عليه مكسا باسم العشر . أي الزكاة</p>
<p>Al Baghawi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pemungut <em>maks </em>adalah orang yang meminta uang dari para pedagang jika mereka lewat di suatu tempat dengan kedok ‘usyur (yaitu zakat).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قال الحافظ المنذري : أما الآن فإنهم يأخذون مكسا باسم العشر ، ومكسا آخر ليس له اسم ، بل شيء يأخذونه حراما وسحتا ، ويأكلونه في بطونهم نارا , حجتهم فيه داحضة عند ربهم ، وعليهم غضب ، ولهم عذاب شديد . اهـ</p>
<p>Al Hafiz al Mundziri mengatakan, “Sedangkan sekarang para pemungut pajak mereka memungut pajak dengan kedok zakat dan pajak yang lain tanpa kedok apapun. Itulah uang yang mereka ambil dengan jalan yang haram. Mereka masukkan ke dalam perut mereka api neraka. Alasan mereka di hadapan Allah adalah alasan yang rapuh. Untuk mereka murka Allah dan siksa yang berat”. Sekian kutipan dari Ibnu Hajar al Makki.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في &#8220;السياسة الشرعية&#8221;: ص 115 :<br />
&#8220;وأما من كان لا يقطع الطريق , ولكنه يأخذ خَفَارة ( أي : يأخذ مالاً مقابل الحماية ) أو ضريبة من أبناء السبيل على الرؤوس والدواب والأحمال ونحو ذلك , فهذا مَكَّاس , عليه عقوبة المكاسين . . . وليس هو من قُطَّاع الطريق , فإن الطريق لا ينقطع به , مع أنه أشد الناس عذابا يوم القيامة , حتى قال النبي صلى الله عليه وسلم في الغامدية : &#8221; لقد تابت توبة لو تابها صاحب مكس لغفر له&#8221; اهـ .</p>
<p>Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam <em>al Siyasah al Syar’iyyah </em>hal 115 mengatakan, “Sedangkan orang yang profesinya bukanlah merampok akan tetapi mereka meminta <em>khafarah </em>(uang kompensasi jaminan keamanan, sebagaimana yang dilakukan oleh para preman di tempat kita, pent) atau mengambil pajak atas kepala orang, hewan tunggangan atau barang muatan dari orang-orang yang lewat dan semisalnya maka profesi orang ini adalah <strong>pemungut pajak</strong>. Untuknya hukuman para pemungut pajak&#8230; Orang tersebut bukanlah perampok karena dia tidak menghadang di tengah jalan. <span style="text-decoration: underline;">Meski dia bukan perampok dia adalah orang yang paling berat siksaannya pada hari Kiamat nanti</span>. Sampai-sampai Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> mengatakan tentang perempuan dari suku Ghamidi, “<em>Perempuan tersebut telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya pemungut bea cukai bertaubat seperti itu tentu dia akan diampuni</em>”</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وقد سئلت اللجنة الدائمة للإفتاء عن العمل في البنوك الربوية أو العمل بمصلحة الجمارك أو العمل بمصلحة الضرائب ، وأن العمل في الجمارك يقوم على فحص البضائع المباحة والمحرمة كالخمور والتبغ ، وتحديد الرسوم الجمركية عليها</p>
<p>Lajnah Daimah ditanya tentang hukum bekerja di bank ribawi, di kantor bea cukai dan di kantor pajak. Orang yang bertugas di kantor bea cukai itu bertugas untuk mengecek barang yang hendak masuk ke dalam negeri baik barang yang mubah ataupun barang yang haram semisal <em>khamr </em>dan tembakau lalu menetapkan besaran bea cukai atas barang-barang tersebut.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فأجابت : إذا كان العمل بمصلحة الضرائب على الصفة التي ذكرت فهو محرم أيضا ؛ لما فيه من الظلم والاعتساف ، ولما فيه من إقرار المحرمات وجباية الضرائب عليها ) اهـ .<br />
&#8220;فتاوى اللجنة الدائمة&#8221; (15/64)</p>
<p>Jawaban Lajnah Daimah, “Bekerja di kantor pajak sebagaimana yang anda sampaikan juga <strong>haram </strong>karena dalam pekerjaan tersebut terdapat <strong>unsur kezaliman dan kesewenang-wenangan, membiarkan barang-barang yang haram dan mengambil pajak atasnya</strong>” (Fatawa Lajnah Daimah 15/64).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">ومن هذا يتبين أن أخذ هذه الرسوم والضرائب ، أو كتابتها والإعانة عليها ، محرم تحريما شديداً .</p>
<p>Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa bekerja sebagai pemungut pajak, pencatat pajak dan komponen pendukung yang lain adalah<strong> sangat diharamkan.</strong></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">ثانياً :<br />
نظراً لأن هذا الظلم واقع على المسلمين ، وامتناعك من العمل فيه لن يرفعه ، فالذي ينبغي في مثل هذه الحال – إذا لم نستطع إزالة المنكر بالكلية – أن نسعى إلى تقليله ما أمكن .</p>
<p>Menimbang bahwa kezaliman ini merupakan realita kaum muslimin dan andai anda tidak bekerja di sana kezaliman ini juga tidak hilang maka yang sepatutnya dalam kondisi semacam ini yaitu kondisi kita tidak bisa menghilangkan kemungkaran secara total adalah <span style="text-decoration: underline;">kita berupaya untuk meminimalisir kezaliman semaksimal mungkin.</span></p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فإذا كنت تعمل في هذا العمل بقصد رفع الظلم وتخفيفه عن المسلمين بقدر استطاعتك ، فأنت في ذلك محسن ، أما من دخل في هذا العمل بقصد الراتب ، أو الوظيفة , أو تطبيق القانون ، ونحو ذلك فإنه يكون من الظلمة ، ومن أصحاب المكس ، ولن يأخذ من أحد شيئاً ظلماً إلا أُخِذَ بقدره من حسناته يوم القيامة . نسأل الله السلامة والعافية .</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Jika anda bekerja di kantor pajak dengan tujuan menghilangkan kezaliman atas kaum muslimin atau menguranginya semaksimal yang bisa anda lakukan maka apa yang anda lakukan adalah baik</span>. Sedangkan orang yang kerja di tempat ini <span style="text-decoration: underline;">dengan pamrih gaji, dapat pekerjaan, menerapkan UU perpajakan atau tujuan semisal </span>maka orang tersebut termasuk orang yang melakukan tindakan kezaliman dan pemungut pajak. Siapa saja yang mengambil hak orang lain secara zalim maka amal kebajikannya akan diambil pada hari Kiamat sesuai dengan kadar kezaliman yang dia lakukan.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في &#8220;مجموع الفتاوى&#8221; (28/284) :<br />
&#8220;وَلا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَكُونَ عَوْنًا عَلَى ظُلْمٍ ; فَإِنَّ التَّعَاوُنَ نَوْعَانِ :<br />
الأَوَّلُ : تَعَاوُنٌ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى مِنْ الْجِهَادِ وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ وَاسْتِيفَاءِ الْحُقُوقِ وَإِعْطَاءِ الْمُسْتَحَقِّينَ ; فَهَذَا مِمَّا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ وَرَسُولُهُ . . . .</p>
<p>Dalam Majmu Fatwa 28/284, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Tidak boleh membantu tindakan kezaliman. Tolong menolong itu ada dua macam. <strong>Pertama</strong>, tolong menolong untuk melakukan kebajikan dan takwa semisal tolong menolong dalam jihad, menegakkan hukuman had, mengambil hak dan memberikannya kepada yang berhak mendapatkannya. Tolong menolong semacam ini diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَالثَّانِي : تَعَاوُنٌ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ، كَالإِعَانَةِ عَلَى دَمٍ مَعْصُومٍ ، أَوْ أَخْذِ مَالٍ مَعْصُومٍ ، أَوْ ضَرْبِ مَنْ لا يَسْتَحِقُّ الضَّرْبَ ، وَنَحْوَ ذَلِكَ ، فَهَذَا الَّذِي حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ . . .</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tolong menolong dalam dosa dan tindakan kezaliman semisal tolong menolong untuk membunuh orang, mengambil harta orang lain, memukul orang yang tidak berhak dipukul dan semisalnya. Ini adalah tolong menolong yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">ومَدَارَ الشَّرِيعَةِ عَلَى قَوْلِهِ تَعَالَى : ( فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ ) ; وَعَلَى قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : (إذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ) أَخْرَجَاهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ .</p>
<p>Landasan hukum syariat adalah firman Allah yang artinya, “<em>Bertakwalah kalian kepada Allah semaksimal kemampuan kalian</em>” (QS at Taghabun:16), dan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>, “<em>Jika kuperintahkan kalian untuk melakukan sesuatu maka laksanakanlah semaksimal kemampuan kalian</em>” (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَعَلَى أَنَّ الْوَاجِبَ تَحْصِيلُ الْمَصَالِحِ وَتَكْمِيلُهَا ; وَتَعْطِيلُ الْمَفَاسِدِ وَتَقْلِيلُهَا . فَإِذَا تَعَارَضَتْ كَانَ تَحْصِيلُ أَعْظَمِ الْمَصْلَحَتَيْنِ بِتَفْوِيتِ أَدْنَاهُمَا ، وَدَفْعُ أَعْظَمِ الْمَفْسَدَتَيْنِ مَعَ احْتِمَالِ أَدْنَاهَا : هُوَ الْمَشْرُوعُ .</p>
<p>Kewajiban kita semua adalah mewujudkan kebaikan secara utuh atau semaksimal mungkin dan menihilkan keburukan atau meminimalisirnya. Jika hanya ada dua pilihan yang keduanya sama-sama kebaikan atau sama-sama keburukan maka yang sesuai dengan syariat adalah <span style="text-decoration: underline;">memilih yang nilai kebaikannya lebih besar</span> meski dengan kehilangan kebaikan yang lebih rendah dan <span style="text-decoration: underline;">mencegah keburukan yang lebih besar </span>meski dengan melakukan kuburukan yang lebih rendah.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَالْمُعِينُ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ مَنْ أَعَانَ الظَّالِمَ عَلَى ظُلْمِهِ ، أَمَّا مَنْ أَعَانَ الْمَظْلُومَ عَلَى تَخْفِيفِ الظُّلْمِ عَنْهُ أَوْ عَلَى أَدَاءِ الْمَظْلِمَةِ : فَهُوَ وَكِيلُ الْمَظْلُومِ ; لا وَكِيلُ الظَّالِمِ ; بِمَنْزِلَةِ الَّذِي يُقْرِضُهُ ، أَوْ الَّذِي يَتَوَكَّلُ فِي حَمْلِ الْمَالِ لَهُ إلَى الظَّالِمِ .</p>
<p>Penolong perbuatan dosa dan kezaliman adalah orang yang menolong orang yang zalim untuk bisa menyukseskan kezaliman yang ingin dia lakukan. <span style="text-decoration: underline;">Sedangkan orang yang menolong orang yang terzalimi agar kadar kezalimannya berkurang atau agar apa yang menjadi haknya bisa kembali maka status orang tersebut adalah wakil dari orang yang teraniaya, bukan wakil orang yang menganiaya</span>. Orang tersebut berstatus seperti orang yang memberi hutangan kepada orang yang dizalimi atau mewakili orang yang dizalimi untuk menyerahkan hartanya kepada orang yang zalim.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">مِثَالُ ذَلِكَ : وَلِيُّ الْيَتِيمِ وَالْوَقْفِ إذَا طَلَبَ ظَالِمٌ مِنْهُ مَالا فَاجْتَهَدَ فِي دَفْعِ ذَلِكَ بِمَالِ أَقَلَّ مِنْهُ إلَيْهِ أَوْ إلَى غَيْرِهِ بَعْدَ الاجْتِهَادِ التَّامِّ فِي الدَّفْعِ ؛ فَهُوَ مُحْسِنٌ ، وَمَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ . . .</p>
<p>Contoh realnya adalah orang yang memegang harta anak yatim atau pengurus harta wakaf jika ada orang zalim yang meminta sebagian harta amanah tersebut dengan menyerahkan sedikit mungkin dari harta yang diminta setelah dengan penuh kesungguhan berupaya mencegah kezaliman tersebut. Orang semacam ini adalah orang yang melakukan kebaikan dan tidak ada jalan untuk menyudutkan orang yang melakukan kebaikan.</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">كَذَلِكَ لَوْ وُضِعَتْ مَظْلِمَةٌ عَلَى أَهْلِ قَرْيَةٍ أَوْ دَرْبٍ أَوْ سُوقٍ أَوْ مَدِينَةٍ فَتَوَسَّطَ رَجُلٌ مِنْهُمْ مُحْسِنٌ فِي الدَّفْعِ عَنْهُمْ بِغَايَةِ الإِمْكَانِ ، وَقَسَّطَهَا بَيْنَهُمْ عَلَى قَدْرِ طَاقَتِهِمْ مِنْ غَيْرِ مُحَابَاةٍ لِنَفْسِهِ ، وَلا لِغَيْرِهِ ، وَلا ارْتِشَاءٍ ، بَلْ تَوَكَّلَ لَهُمْ فِي الدَّفْعِ عَنْهُمْ وَالإِعْطَاءِ : كَانَ مُحْسِنًا ; لَكِنَّ الْغَالِبَ أَنَّ مَنْ يَدْخُلُ فِي ذَلِكَ يَكُونُ وَكِيلُ الظَّالِمِينَ مُحَابِيًا مُرْتَشِيًا مَخْفَرًا لِمَنْ يُرِيدُ (أي يدافع عنه (وَآخِذًا مِمَّنْ يُرِيدُ . وَهَذَا مِنْ أَكْبَرِ الظَّلَمَةِ الَّذِينَ يُحْشَرُونَ فِي تَوَابِيتَ مِنْ نَارٍ هُمْ وَأَعْوَانُهُمْ وَأَشْبَاهُهُمْ ثُمَّ يُقْذَفُونَ فِيى النَّارِ&#8221; اهـ .<br />
والله أعلم</p>
<p>Demikian pula jika kezaliman (baca:pajak) ditetapkan atas penduduk suatu kampung, suatu jalan, pajak atau suatu kota lantas ada orang baik-baik yang menjadi mediator dalam rangka mencegah kezaliman semaksimal mungkin lantas dia bagi kezaliman (baca:pajak) tersebut atas orang-orang yang dikenai pajak sesuai dengan kadar kemampuan ekonomi mereka tanpa mengistimewakan dirinya sendiri atau orang lain dan tanpa meminta suap. Dia hanya berperan sebagai mediator untuk mencegah kezaliman dan mendistribusikan ‘kewajiban’ yang dipaksakan. <span style="text-decoration: underline;">Orang semisal ini adalah orang yang berbuat baik.</span></p>
<p>Akan tetapi mayoritas orang yang masuk di kancah ini mereka menjadi <span style="text-decoration: underline;">wakil orang yang zalim (baca: penguasa yang zalim)</span>, pilih kasih pada pihak-pihak tertentu, meminta suap, membela orang yang dia sukai dan mengambil pajak dari orang yang dia sukai. Orang semacam ini termasuk pentolan orang-orang yang berbuat zalim. Mereka, para pembantu mereka dan orang-orang yang serupa dengan mereka akan dimasukkan ke dalam kotak dari api neraka lantas dicampakkan ke dalam neraka”.<br />
<strong>Referensi</strong>: <a title="Situs Al Islam As Sual wal Jawab" href="http://islamqa.com/ar/ref/39461">http://islamqa.com/ar/ref/39461</a><br />
<strong> Catatan:</strong></p>
<p>Yang menjadi pertanyaan, apakah seorang muslim yang sudah terlanjur bekerja di kantor pajak secara real mampu melakukan pembelaan dan meminimalisir beban kezaliman (baca:pajak) yang ditimpakan kepada kaum muslimin?
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fhukum-kerja-di-kantor-pajak&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1187&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/menipu-bea-cukai" title="Hukum Importir Yang Menipu Bea Cukai">Hukum Importir Yang Menipu Bea Cukai</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah" title="Hukum Pajak dan Bea Cukai (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah)">Hukum Pajak dan Bea Cukai (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah)</a> (27)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bidah-hasanah-dan-pajak-yang-tidak-masalah" title="Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah">Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-bea-cukai-untuk-barang-orang-kafir" title="Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?">Adakah Bea Cukai Untuk Barang Orang Kafir?</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-jihad-di-zaman-ini" title="Adakah Jihad di Zaman Ini?">Adakah Jihad di Zaman Ini?</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini" title="Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini">Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</a> (35)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps" title="Hukum Bermain Play Station (PS)">Hukum Bermain Play Station (PS)</a> (42)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-memakai-dasi" title="Dasi Menurut Ibnu Utsaimin">Dasi Menurut Ibnu Utsaimin</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/menyikapi-pajak-dengan-bijak" title="Menyikapi Pajak dengan Bijak">Menyikapi Pajak dengan Bijak</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/charge-hp-di-masjidil-haram" title="Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?">Bolehkah Charge (Ngecas) HP di Masjid?</a> (16)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>75</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.508 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-05-22 22:51:00 -->

