<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah &#187; ahlus sunnah</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/tag/ahlus-sunnah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 00:00:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Bukankah Kita Bisa Bersaudara, Meski Kita Beda Pendapat</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bukankah-kita-bisa-bersaudara-meski-kita-beda-pendapat</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/bukankah-kita-bisa-bersaudara-meski-kita-beda-pendapat#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 20:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1058</guid>
		<description><![CDATA[“Aku tidak akan berkomentar keras terhadap orang yang memiliki suatu pendapat yang menyelisihi pendapat kami asalkan memiliki alasan yang bisa dipertanggungjawabkan”.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fbukankah-kita-bisa-bersaudara-meski-kita-beda-pendapat&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p style="text-align: center;">Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah- mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">«لا أُعَنَّفُ مَنْ قال شيئاً له وَجْهٌ وإنْ خَالفْنَاهُ»</p>
<p style="text-align: center;">“<em>Aku tidak akan berkomentar keras terhadap orang yang memiliki suatu pendapat yang menyelisihi pendapat kami asalkan memiliki alasan yang bisa dipertanggungjawabkan</em>”.<span id="more-1058"></span></p>
<p>Perkataan Imam Ahmad bin Hanbal di atas merupakan <span style="text-decoration: underline;">kaedah penting dalam menyikapi perbedaan pendapat dalam ranah ijtihad tentunya</span>. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan benarnya perkataan beliau di atas dan perkataan beliau di atas juga diterapkan oleh para ulama yang memiliki sikap yang adil.</p>
<p>Perkataan di atas merupakan kata putus dalam menyikapi perbedaan pendapat. Komitmen dengannya akan membebaskan kaum muslimin dari pertikaian yang berkepanjangan dan berujung dengan permusuhan dan berbuahkan kebencian.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Sungguh bahagia orang yang komitmen dengannya. Betapa bahagianya kaum muslimin andai mau menerapkannya.</em></p>
<p>Untuk memahami urgensi perkataan Imam Ahmad di atas, perhatikanlah lima poin penting berikut ini.</p>
<p>1.	Hampir-hampir tidak ada masalah ilmiah yang tidak mengandung perbedaan pendapat di antara para ulama.</p>
<p>2.	Kadar perbedaan di antara para ulama itu bertingkat-tingkat. Ada perbedaan pendapat (<em>khilaf</em>) yang bobotnya lemah dan ada yang bobotnya kuat.</p>
<p>3.	Perbedaan pendapat yang bobotnya kuat adalah perbedaan pendapat dalam masalah <em>ijtihadiah </em>(masalah yang tidak ada dalil tegas yang shahih dalam masalah tersebut). Itulah perbedaan yang setiap pendapat memiliki <em>argument </em>yang bisa diterima dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Yang menentukan secara pasti manakah perbedaan pendapat yang berbobot kuat ataukah tidak adalah para ulama mujtahid.</p>
<p>4.	Pendapat yang benar itu hanya satu. Namun kita semua wajib memahami bahwa semua ulama mujtahid itu hanya berbicara dengan dasar ilmu, bukan hawa nafsu serta hanya mengikuti ilmu. Namun ilmu orang itu tentu berbeda-beda sehingga ada ulama yang memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh yang lain. Boleh jadi karena mengetahui dalil yang tidak diketahui oleh yang lain atau memiliki pemahaman yang tidak dipahami oleh yang lain.</p>
<p>5.	Jika ada orang yang memiliki pendapat yang beda dengan pendapat kita dalam masalah-masalah ijtihadiah maka beda pendapat dalam hal semisal ini hukumnya boleh sehingga kita tidak boleh bersikap kasar kepadanya apalagi menilainya sebagai orang yang sesat.</p>
<p>Dengan menelaah lima poin di atas, kita akan semakin paham urgensi dari kaedah yang diletakkan oleh Imam Ahmad di atas.</p>
<p>Terdapat perkataan indah dan rincian menarik yang disampaikan oleh salah seorang ulama kaum muslimin yang selayaknya direnungkan oleh kaum muslimin karena perkataan tersebut merupakan penjelasan rinci untuk kandungan perkataan Imam Ahmad di atas. Itulah perkataan Izzuddin bin Abdis Salam dalam buku beliau, <em>Syajarah al Ma’arif wa al Ahwal</em> (hal 381).</p>
<p>Berikut ini adalah ringkasan perkataan beliau,</p>
<p>1.	Menyalahkan atau mengingkari suatu pendapat itu bisa jadi dalam perkara yang disepakati kewajibannya atau keharamannya.</p>
<p>2.	Orang yang meninggalkan perkara yang diperselisihkan wajibnya atau melakukan suatu hal yang diperselisihkan keharamannya tidaklah lepas dari dua kemungkinan.</p>
<p>Pertama, orang tersebut melakukan hal tadi karena motiv taklid dengan ulama, maka orang ini tidak boleh disalahkan kecuali jika dia taklid dengan ulama dalam permasalahan yang jelas-jelas bertolak belakang dengan dalil yang shahih dan tegas maknanya.</p>
<p>Kedua, orang tersebut memang orang yang tidak tahu, maka orang ini pun tidak boleh disalahkan meskipun tidak mengapa seandainya kita bimbing orang tersebut untuk melakukan hal yang lebih tepat.  Mengapa orang tersebut tidak boleh disalahkan? Jawabannya, karena dia tidak melakukan suatu yang haram. Orang yang bodoh tidak diharuskan untuk taklid dengan ulama yang berpendapat haram atau berpendapat wajib.</p>
<p>3.	Diperbolehkan untuk membimbing orang awam agar memilih pendapat yang lebih hati-hati. Demikian pula diperbolehkan untuk berdiskusi dengan ulama agar beliau memilih dalil yang lebih kuat.</p>
<p>4.	Berdasar uraian di atas maka tidak boleh mengingkari melainkan seorang yang tahu secara pasti bahwa perbuatan yang dia ingkari adalah perkara yang disepakati haramnya dan perbuatan yang dia perintahkan adalah perbuatan yang disepakati wajibnya. Namun yang dimaksud tidak boleh mengingkari adalah mengingkari masalah tersebut sebagaimana mengingkari suatu yang hukumnya haram. <span style="text-decoration: underline;">Sehingga pengingkaran dalam bentuk bimbingan agar melakukan yang lebih baik atau memerintah dengan maksud menasehati dan mengarahkan adalah suatu yang dibolehkan.</span></p>
<p>Penjelasan Izzuddin di atas adalah penjelasan yang berdasarkan berbagai dalil syariat dan tujuan syariat yang agung. Camkan penjelasan di atas dan jangan tertipu dengan metode orang-orang yang bersikap keras dan ekstrim. Cara beragama yang benar adalah pertengahan antara berlebih-lebihan dan sikap menyepelekan. Dalam Islam tidak ada fanatik terhadap manusia melainkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>dan para shahabat. Terjadi banyak penyimpangan dalam beragama ketika pembelaan dan permusuhan bukan karena nabi.</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Tulisan ini adalah hasil terjemahan dari tulisan Syaikh Abdus Salam Barjas</p>
<p>http://almenhaj.net/makal.php?linkid=2721</p>
<p><a href="http://www.burjes.com/burjes_article002.php">http://www.burjes.com/burjes_article002.php</a></p>
<p>Jazakumullahu khoiron untuk Mas Yoad atas masukannya.
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fbukankah-kita-bisa-bersaudara-meski-kita-beda-pendapat&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/bukankah-kita-bisa-bersaudara-meski-kita-beda-pendapat"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1058&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi" title="Mempertanyakan &#8220;Ngaji dengan Sururi&#8221;">Mempertanyakan &#8220;Ngaji dengan Sururi&#8221;</a> (28)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/yang-dimaksud-sunni-dan-syiah" title="Yang Dimaksud Sunni dan Syi&#8217;ah">Yang Dimaksud Sunni dan Syi&#8217;ah</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mukmin-satu-dan-lainnya-bagai-dua-tapak-tangan" title="Mukmin Satu dan Lainnya Bagai Dua Tapak Tangan">Mukmin Satu dan Lainnya Bagai Dua Tapak Tangan</a> (17)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/akhlaq-seorang-ahlus-sunnah-terhadap-musuhnya" title="Akhlaq Seorang Ahlus Sunnah Terhadap Musuhnya">Akhlaq Seorang Ahlus Sunnah Terhadap Musuhnya</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hadiah-untuk-pejabat" title="Hadiah untuk Pejabat">Hadiah untuk Pejabat</a> (62)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/aurat-di-depan-sesama-wanita" title="Aurat di Depan Sesama Wanita">Aurat di Depan Sesama Wanita</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kerjasama-dengan-jamaah-tabligh-dll" title="Bekerjasama dengan Jama&#8217;ah Tabligh">Bekerjasama dengan Jama&#8217;ah Tabligh</a> (24)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-ghibah-yang-halal" title="Adakah Ghibah yang Halal?">Adakah Ghibah yang Halal?</a> (26)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/bukankah-kita-bisa-bersaudara-meski-kita-beda-pendapat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mempertanyakan &#8220;Ngaji dengan Sururi&#8221;</title>
		<link>http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 20:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah sururi]]></category>
		<category><![CDATA[sururi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1005</guid>
		<description><![CDATA[Mereka juga ‘membicarakan’ para ulama yang telah dikenal semisal Ali al Halabi dan lainnya dan menuduh mereka telah melakukan pencurian ilmiah dst.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmempertanyakan-ngaji-dengan-sururi&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Berikut ini adalah fatwa Syeikh Al Albani -<em>rahimahullah</em>- yang kami jumpai dalam buku <em>Al As-ilah al Syamiyyah </em>yang disusun oleh Syeikh Ali Al Halabi -<em>hafizhohullah</em>- halaman 38-41, terbitan al Dar al Atsariyyah, Yordania cetakan pertama tahun 1430 H atau 2009 M.<span id="more-1005"></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Tanya</strong>:</p>
<p>“Kami adalah sejumlah penuntut ilmu. Kami berkenalan dengan beberapa pemuda yang baik. Mereka memberikan kepada kami pengajian tentang akidah, fikih dan hal-hal yang kami butuhkan. Demikian berlangsung selama beberapa waktu lamanya hingga akhirnya sampailah sebuah isu bahwa sebagian mereka menyebut kami ‘<strong>sururi</strong>’ padahal kami tidak tahu siapa itu sururi dan apa makna dari sururi.</p>
<p>Akhirnya, kami merasa ragu-ragu dan kami merasa bahwa kami telah masuk ke dalam sebuah sistem. Demikian itu dikarenakan orang yang mengajari kami tersebut setelah pengajian selesai pergi dengan sangat sembunyi-sembunyi kemudian datang menemui kami dengan membawa berbagai perintah yang baru.</p>
<p>Sebenarnya kami merasa bosan dengan instruksi-instruksi tersebut yang bisa dipastikan menggunakan kalimat ‘<em>Lakukanlah demikian</em>’, ‘<em>Jangan berbuat demikian</em>’ dst.</p>
<p>Akhirnya keluhan kami sampai kepada mereka namun tentu kami tidak diperbolehkan untuk menentang ataupun mendiskusikan sebuah instruksi.</p>
<p>Kami mendengar bahwa mereka memakai baiat dan mereka itu mendakwahkan pemikiran <em>sururi</em>. Kami juga dikejutkan oleh kenyataan bahwa semua berita tentang kami baik masalah besar ataupun masalah kecil ternyata ada pada mereka.</p>
<p>Mereka juga ‘<em>membicarakan</em>’ para ulama yang telah dikenal semisal Ali al Halabi dan lainnya dan menuduh mereka telah melakukan pencurian ilmiah dst.</p>
<p>Kami ingin tahu tentang mereka, siapakah mereka? Bagaimanakah jalan mereka dalam beragama?</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Jawaban Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani:</strong></p>
<p>“Sururi adalah <span style="text-decoration: underline;">pengikut Muhammad bin Surur</span>. Mereka adalah orang-orang yang terikat dengan sistem. Berdasarkan interaksiku dengan mereka, aku menilai mereka sebagai <em>shufiyyah ‘ashriyyah</em> (sufi masa kini).</p>
<p>Orang-orang sufi masa silam di hadapan guru-guru tarekat bagaikan budak. Oleh karena itu, guru tarekat menyebut orang-orang yang belajar tarekat dengan sebutan <strong>murid </strong>(yang artinya orang yang menginginkan ridha gurunya, pent).</p>
<p>Oleh sebab itu, orang-orang yang belajar tarekat tidak boleh melakukan aktivitas apapun tanpa seizin guru tarekatnya.<br />
Di kota Damaskus terdapat pimpinan tarekat <em>Naqsyabandiyyah </em>bernama Syeikh Ahmad Kaftaru. Orang ini mendidik jamaah pengajiannya agar memiliki ketundukan sempurna dan membabi buta kepada sang guru. Anggota jamaah pengajiannya tidak boleh mengadakan perjalanan jauh sampai mendapatkan izin dari syeikh tersebut. Bahkan tidak boleh mengadakan bisnis apapun ataupun menikah kecuali dengan izin syeikh tersebut. <em>Maka syeikh adalah segalanya untuk melakukan segalanya.</em></p>
<p>Adapun metode sembunyi-sembunyi yang anda sebutkan dalam pertanyaan anda maka dakwah dengan metode sembunyi-sembunyi itu tidak ada dalam Islam terlebih lagi di masa saat ini. Sekarang ini orang kafir menyampaikan kekafirannya dengan terang-terangan, lalu apa yang menghalangi kita untuk berdakwah dengan terang-terangan?!</p>
<p>ونصيحتي لهؤلاء أن لا يحضروا جلساتهم<br />
وإن آنستم منهم رشدا و استفدتم منهم علما فصاحبوهم ولكن لا تتحزبوا معهم ولا تفتنوا بهم<br />
وعليكم أن تحضروا الدروس عند من ترون فيهم اتباعا للكتاب والسنة فهو خير لكم – إن شاء الله –</p>
<p>Aku nasihatkan kepada para penuntut ilmu agar tidak mengikuti pengajian mereka (orang-orang sururi).</p>
<p>Namun jika kalian yakin dengan adanya kebenaran dari mereka dan kalian mendapatkan faidah berupa ilmu dari pengajian mereka maka kalian boleh berkawan dengan mereka <span style="text-decoration: underline;">namun jangan mau terikat hizbiyyah bersama mereka</span> dan <span style="text-decoration: underline;">jangan terfitnah (baca:terkecoh) dengan mereka (sehingga akhirnya mengikuti kesesatan mereka, pent)</span>.</p>
<p>Kalian berkewajiban untuk menghadiri pengajian yang diberikan oleh orang-orang yang kalian nilai mengikuti al Qur’an dan sunnah. Itulah yang lebih baik bagi kalian, insya Allah.<br />
Sampai di sini fatwa Syeikh Al Albani.</p>
<p>***</p>
<p>Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari fatwa di atas:</p>
<p><em><strong>Pertama:</strong></em></p>
<p><strong> </strong>Karena demikian mengikat gerak gerik anggota pengajiannya sengatlah tepat jika berbagai gerakan dakwah (baca: harokah) yang ada di medan dakwah saat ini disebut sebagai <em>shufiyyah ‘ashriyyah</em>.</p>
<p>Dalam dalam sufi, murid yang baik adalah murid yang memiliki ketaatan kepada guru sebagaimana ketaatan jenazah di hadapan orang-orang yang memandikannya. Sedangkan orang-orang yang terikat dengan berbagai berbagai gerakan dakwah saat ini akan dinilai sebagai anggota yang loyal ketika memiliki ketaatan yang membabi buta kepada amir, imam jamaah, qiyadah, naqib dan murabbi. Sehingga untuk menikah dengan perempuan yang sudah terikat dengan pengajian semacam ini langkah awalnya adalah meminta izin dan restu murabbi dulu baru datang ke orang tua si perempuan. <em>Sungguh ini adalah suatu ajaran aneh yang tidak pernah dikenal oleh syariat.</em></p>
<p><em><strong>Kedua:</strong></em></p>
<p>Syeikh Al Albani membolehkan <span style="text-decoration: underline;">dengan bersyarat</span> untuk bersahabat dan mengambil manfaat keilmuan dari orang sururi.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Bagaimana lagi jika guru ngaji tersebut cuma dituduh sururi <strong>padahal nyatanya bukan</strong>? Layakkah jika pengajiannya secara mutlak dilarang untuk diikuti? </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Berpikirlah yang jernih, wahai saudaraku. Lihatlah perbedaan antara fatwa orang yang berilmu dan fatwa orang yang merasa dirinya berilmu sungguh akan kita jumpai keutamaan ilmu.&#8221;</em></p>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmempertanyakan-ngaji-dengan-sururi&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1005&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/tokoh-sururi-mufti-saudi" title="Tokoh &#8216;Sururi&#8217; Menurut Mufti Saudi">Tokoh &#8216;Sururi&#8217; Menurut Mufti Saudi</a> (9)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkan-mengisi-pengajian-di-masjid-ahli-bidah" title="Mengisi Pengajian di Masjid Ahli Bid&#8217;ah">Mengisi Pengajian di Masjid Ahli Bid&#8217;ah</a> (3)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bukankah-kita-bisa-bersaudara-meski-kita-beda-pendapat" title="Bukankah Kita Bisa Bersaudara, Meski Kita Beda Pendapat">Bukankah Kita Bisa Bersaudara, Meski Kita Beda Pendapat</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/yang-dimaksud-sunni-dan-syiah" title="Yang Dimaksud Sunni dan Syi&#8217;ah">Yang Dimaksud Sunni dan Syi&#8217;ah</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/akhlaq-seorang-ahlus-sunnah-terhadap-musuhnya" title="Akhlaq Seorang Ahlus Sunnah Terhadap Musuhnya">Akhlaq Seorang Ahlus Sunnah Terhadap Musuhnya</a> (7)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Dimaksud Sunni dan Syi&#8217;ah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/yang-dimaksud-sunni-dan-syiah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/yang-dimaksud-sunni-dan-syiah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 20:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah wal jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[sunni]]></category>
		<category><![CDATA[syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=832</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: selama ini saya sudah tahu tentang Islam syiah dan suffi tetapi belum pernah tahu tentang islam sunni! Bagaimanakah ajarannya apakah sama dengan ajaran ahlus sunnah atau menyimpang?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fyang-dimaksud-sunni-dan-syiah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><strong>Tanya</strong>: selama ini saya sudah tahu tentang Islam syiah dan suffi tetapi belum pernah tahu tentang islam sunni! Bagaimanakah ajarannya apakah sama dengan ajaran ahlus sunnah atau menyimpang? 0274 xxxxx<span id="more-832"></span></p>
<p><strong>Jawab</strong>:</p>
<p><em>Sunni </em>adalah istilah lain untuk <em>ahlus sunnah</em>, tidak ada perbedaan di antara dua istilah ini. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa istilah ahlus sunnah mengandung dua makna, makna luas dan makna sempit.</p>
<p>Tentang <strong>makna luas</strong> dari ahlus sunnah penulis buku al Wajiz fi ‘Aqidah al Salaf al Shalih Ahlis Sunnah wal Jamaah pada halaman 34 mengatakan, “Sedangkan makna yang lebih luas untuk istilah ahlus sunnah wal jamaah adalah mencakup semua orang yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim selain Rafidhah (baca:syiah). Terkadang pula istilah ahlis sunnah digunakan untuk sebagian ahli bid’ah karena mereka bersesuaian dengan ahli sunnah yang murni dalam beberapa permasalahan akidah dan berlawanan dengan akidah aliran-aliran sesat. Akan tetapi penggunaan istilah ahli sunnah dengan pengertian ini lebih jarang dipergunakan oleh para ulama ahli sunnah karena hanya terbatas pada beberapa permasalahan akidah dan berlawanan dengan beberapa aliran sesat tertentu. Misalnya adalah penggunaan istilah ahli sunnah sebagai lawan dari rafidhah (baca:syiah) terkait masalah khilafah dan sikap terhadap para shahabat Nabi dan perkara akidah lainnya”.</p>
<p>Sedangkan <strong>pengertian sempit</strong> untuk istilah ahli sunnah adalah ahli sunnah ialah <em>orang-orang yang berpegang teguh dengan ajaran Nabi dan para shahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dan meniti jalan mereka baik dalam permasalahan akidah, perkataan dan perbuatan. Mereka adalah orang-orang yang komitmen untuk mengikuti Nabi dan menjauhi bid’ah. Mengikuti jalan mereka dalam beragama adalah hidayah sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan.</em></p>
<p>Definisi ini disimpulkan dari sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang golongan yang selamat dari kesesatan di dunia dan selamat dari neraka di akherat.</p>
<p>قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى</p>
<p>Para shahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai rasulullah?”. Beliau bersabda, “Orang yang mengikuti ajaranku dan shahabatku dalam beragama” (HR Tirmidzi no 2641 dari Abdullah bin ‘Amr, dinilai hasan oleh al Albani).</p>
<p>Abdullah bin Abdul Hamid mengatakan, “Inilah makna sempit untuk istilah ahli sunnah wal jamaah. Dengan pengertian ini maka semua golongan ahli bid’ah tidak termasuk ahli sunnah” (al Wajiz fi ‘Aqidah al Salaf al Shalih Ahlis Sunnah wal Jamaah hal 33, terbitan Dar ar Royah).</p>
<p>Perlu diketahui bahwasanya sangat tidak layak menyandingkan Islam dengan syiah karena ada perbedaan yang sangat menjolok antara ajaran Islam dan ajaran Syiah. Di antara keyakinan Syiah adalah menyakini bahwa al Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin seluruhnya adalah palsu, mengkafirkan para shahabat, menuduh ibunda kita Aisyah sebagai seorang pelacur dan lain-lain. Dengan keyakinan-keyakinan semacam jadilah syiah seakan-akan agama tersendiri di luar Islam</p>
<p>[Konsultasi dari Majalah Swara Qur'an]
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fyang-dimaksud-sunni-dan-syiah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/yang-dimaksud-sunni-dan-syiah"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=832&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/bukankah-kita-bisa-bersaudara-meski-kita-beda-pendapat" title="Bukankah Kita Bisa Bersaudara, Meski Kita Beda Pendapat">Bukankah Kita Bisa Bersaudara, Meski Kita Beda Pendapat</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi" title="Mempertanyakan &#8220;Ngaji dengan Sururi&#8221;">Mempertanyakan &#8220;Ngaji dengan Sururi&#8221;</a> (28)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/akhlaq-seorang-ahlus-sunnah-terhadap-musuhnya" title="Akhlaq Seorang Ahlus Sunnah Terhadap Musuhnya">Akhlaq Seorang Ahlus Sunnah Terhadap Musuhnya</a> (7)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/yang-dimaksud-sunni-dan-syiah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhlaq Seorang Ahlus Sunnah Terhadap Musuhnya</title>
		<link>http://ustadzaris.com/akhlaq-seorang-ahlus-sunnah-terhadap-musuhnya</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/akhlaq-seorang-ahlus-sunnah-terhadap-musuhnya#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 20:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlul bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=748</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah praktek nyata yang menunjukkan bagaimana akhlak seorang ahli sunnah terhadap musuhnya. Inilah contoh akhlak Ibnu Taimiyyah sebagaimana diceritakan sendiri oleh muridnya yang demikian berbakti, Ibnul Qoyyim. وما رأيت أحدا قط أجمع لهذه الخصال من شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه وكان بعض أصحابه الأكابر يقول : وددت أني لأصحابي مثله لأعدائه [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fakhlaq-seorang-ahlus-sunnah-terhadap-musuhnya&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Berikut ini adalah praktek nyata yang menunjukkan bagaimana akhlak seorang ahli sunnah terhadap musuhnya. Inilah contoh akhlak Ibnu Taimiyyah sebagaimana diceritakan sendiri oleh muridnya yang demikian berbakti, Ibnul Qoyyim.<span id="more-748"></span></p>
<p>وما رأيت أحدا قط أجمع لهذه الخصال من شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه وكان بعض أصحابه الأكابر يقول : وددت أني لأصحابي مثله لأعدائه وخصومه</p>
<p>Ibnul Qoyyim mengatakan, “Aku tidak mengetahui seorang yang memiliki sifat-sifat ini selain Ibnu Taimiyyah. Moga Allah menyucikan arwahnya.&#8221;</p>
<p>Salah seorang murid senior beliau pernah mengatakan, “Aku berharap bisa bersikap dengan para shahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh-musuhnya”.</p>
<p>وما رأيته يدعو على أحد منهم قط وكان يدعو لهم</p>
<p>Aku tidak pernah mengetahui Ibnu Taimiyyah mendoakan kejelekan untuk seorang pun dari musuh-musuhnya. Sebaliknya beliau sering mendoakan kebaikan untuk mereka.</p>
<p>وجئت يوما مبشرا له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له فنهرني وتنكر لي واسترجع ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال : إني لكم مكانه ولا يكون لكم أمر تحتاجون فيه إلى مساعدة إلا وساعدتكم فيه ونحو هذا من الكلام فسروا به ودعوا له وعظموا هذه الحال منه فرحمه الله ورضى عنه</p>
<p>Suatu hari aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku dan mengucapkan istirja’ (<em>inna lillahi wa inna ilahi raji’un</em>).</p>
<p>Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut. Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati . Bahkan beliau mengatakan, “<em>Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan pasti aku akan membantu kalian” dan ucapan semisal itu.</em>&#8221;</p>
<p>Akhirnya mereka pun bergembira, mendoakan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut. Moga Allah menyayangi dan meridhoi Ibnu Taimiyyah”.</p>
<p>Perkataan Ibnul Qoyyim di atas saya jumpai dalam Madarij as Salikin 2/328-329, tahqiq Imad ‘Amir, terbitan Darul Hadits Kairo, cetakan pertama 1316H.</p>
<p><em>Allahu Akbar</em>, demikian agung akhlak seorang sunni salafi.<br />
Marilah kita merenung seberapa jauh kita bisa meneladani akhlak beliau.</p>
<p><em>Ya Allah, maafkanlah segala kekurangan kami.</em>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fakhlaq-seorang-ahlus-sunnah-terhadap-musuhnya&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<div name="googleone_share_1" style="position:relative;z-index:5;float: right; margin-left: 10px;"><g:plusone size="tall" count="1" href="http://ustadzaris.com/akhlaq-seorang-ahlus-sunnah-terhadap-musuhnya"></g:plusone></div><img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=748&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/anjing-untuk-penghina-nabi" title="Anjing Untuk Penghina Nabi">Anjing Untuk Penghina Nabi</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/lelaki-penggoda" title="Lelaki Penggoda">Lelaki Penggoda</a> (17)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bukankah-kita-bisa-bersaudara-meski-kita-beda-pendapat" title="Bukankah Kita Bisa Bersaudara, Meski Kita Beda Pendapat">Bukankah Kita Bisa Bersaudara, Meski Kita Beda Pendapat</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi" title="Mempertanyakan &#8220;Ngaji dengan Sururi&#8221;">Mempertanyakan &#8220;Ngaji dengan Sururi&#8221;</a> (28)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/yang-dimaksud-sunni-dan-syiah" title="Yang Dimaksud Sunni dan Syi&#8217;ah">Yang Dimaksud Sunni dan Syi&#8217;ah</a> (12)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pacaran-terselubung-via-chatting-dan-hp" title="Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP">Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP</a> (124)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/sarjana-komputer-yang-jadi-ulama-hadits" title="Sarjana Komputer yang Jadi Ulama Hadits">Sarjana Komputer yang Jadi Ulama Hadits</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/orang-teknik-mesin-yang-jadi-ulama" title="Orang Teknik Mesin yang Jadi Ulama">Orang Teknik Mesin yang Jadi Ulama</a> (8)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ulama-pun-bisa-bercanda" title="Ulama pun Bisa Bercanda">Ulama pun Bisa Bercanda</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/katakan-saja-saya-tidak-tahu" title="Katakan Saja &#8220;Saya Tidak Tahu&#8221;">Katakan Saja &#8220;Saya Tidak Tahu&#8221;</a> (3)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/akhlaq-seorang-ahlus-sunnah-terhadap-musuhnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.444 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-05-22 22:46:27 -->

