<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Sikap Berlebihan dalam Beragama</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/sikap-berlebihan-dalam-beragama/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com/sikap-berlebihan-dalam-beragama</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:03:02 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sikap-berlebihan-dalam-beragama/comment-page-1#comment-5034</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Oct 2010 06:24:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=806#comment-5034</guid>
		<description>#abu
Saya sedang dalam proses telaah ulang  tentang hukum sutrah. Saat ini, ada kecenderungan untuk memilih pendapat yang menganjurkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#abu<br />
Saya sedang dalam proses telaah ulang  tentang hukum sutrah. Saat ini, ada kecenderungan untuk memilih pendapat yang menganjurkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Abu Zahroh</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sikap-berlebihan-dalam-beragama/comment-page-1#comment-5031</link>
		<dc:creator>Abu Zahroh</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Oct 2010 05:32:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=806#comment-5031</guid>
		<description>Ustadz Aris Munandar,
membaca komentar antum di artikel ini yang diposting pada &lt;abbr title=&quot;2009-12-25T12:36:03+00:00&quot;&gt;Desember 25, 2009 at 12:36 PM,&lt;/abbr&gt; yang saya copy paste lagi sebagai berikut:
“Insya Allah pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan wajibnya sutroh dalam shalat. Yang ada dalam tulisan di atas adalah pendapat Syeikh Shalih al Fauzan dalam masalah ini.
Khusus untuk permasalahan sutroh shalat, pendapat beliau perlu kita telaah ulang.”
Yang nampak bagi saya terhadap penjelasan di atas adalah antum condong kepada pendapat yang mengatakan wajibnya sutroh dalam sholat. 
&lt;strong&gt;Akan tetapi&lt;/strong&gt; ketika membaca komentar-komentar antum di &lt;a href=&quot;http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/apa-hukum-sutrah-dalam-shalat.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/apa-hukum-sutrah-dalam-shalat.html&lt;/a&gt;, yang nampak bagi saya adalah antum condong kepada pendapat &lt;strong&gt;tidak&lt;/strong&gt; wajibnya sutroh dalam sholat.
Di lihat dari urutan waktu atas komentar-komentar di kedua blog tersebut,  apakah hal ini berarti Ustadz Aris Munandar telah berpindah pendapat dari wajibnya sutroh dalam sholat menjadi sesuatu yang &lt;strong&gt;dianjurkan&lt;/strong&gt; ?
Mohon koreksi kalau saya salah memahami.
 </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ustadz Aris Munandar,<br />
membaca komentar antum di artikel ini yang diposting pada <abbr title="2009-12-25T12:36:03+00:00">Desember 25, 2009 at 12:36 PM,</abbr> yang saya copy paste lagi sebagai berikut:<br />
“Insya Allah pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan wajibnya sutroh dalam shalat. Yang ada dalam tulisan di atas adalah pendapat Syeikh Shalih al Fauzan dalam masalah ini.<br />
Khusus untuk permasalahan sutroh shalat, pendapat beliau perlu kita telaah ulang.”<br />
Yang nampak bagi saya terhadap penjelasan di atas adalah antum condong kepada pendapat yang mengatakan wajibnya sutroh dalam sholat.<br />
<strong>Akan tetapi</strong> ketika membaca komentar-komentar antum di <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/apa-hukum-sutrah-dalam-shalat.html" rel="nofollow">http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/apa-hukum-sutrah-dalam-shalat.html</a>, yang nampak bagi saya adalah antum condong kepada pendapat <strong>tidak</strong> wajibnya sutroh dalam sholat.<br />
Di lihat dari urutan waktu atas komentar-komentar di kedua blog tersebut,  apakah hal ini berarti Ustadz Aris Munandar telah berpindah pendapat dari wajibnya sutroh dalam sholat menjadi sesuatu yang <strong>dianjurkan</strong> ?<br />
Mohon koreksi kalau saya salah memahami.<br />
 </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sikap-berlebihan-dalam-beragama/comment-page-1#comment-4310</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 05:53:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=806#comment-4310</guid>
		<description>utk abdur
Coba langsung anda tanyakan kepada ustadz yang pakar tajwid tentang cara dan pengucapan yang benar untuk lafaz jalalah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>utk abdur<br />
Coba langsung anda tanyakan kepada ustadz yang pakar tajwid tentang cara dan pengucapan yang benar untuk lafaz jalalah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: abdurrohman</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sikap-berlebihan-dalam-beragama/comment-page-1#comment-4300</link>
		<dc:creator>abdurrohman</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 00:53:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=806#comment-4300</guid>
		<description>ustad afwan ana pernah mendengarkan..tapi tidak tahu apakah ini benar  atau tidak..tentang ini ketika kita sedang sholat kan hrs baca tajwid  yang benar..
jadi kalau membaca kata Allah harus nya dibaca = Alwloh bukan Awloh (spt kebanyakan orang2)
mohon tanggapannya karena ana masih rancu &amp; takbirotul ihron  hukumnya kan rukun apakah ini termasuk memberat2kan??dan bagaimana sikap  yang benar/cara baca yang benar?
Jazakallah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ustad afwan ana pernah mendengarkan..tapi tidak tahu apakah ini benar  atau tidak..tentang ini ketika kita sedang sholat kan hrs baca tajwid  yang benar..<br />
jadi kalau membaca kata Allah harus nya dibaca = Alwloh bukan Awloh (spt kebanyakan orang2)<br />
mohon tanggapannya karena ana masih rancu &amp; takbirotul ihron  hukumnya kan rukun apakah ini termasuk memberat2kan??dan bagaimana sikap  yang benar/cara baca yang benar?<br />
Jazakallah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sikap-berlebihan-dalam-beragama/comment-page-1#comment-4279</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 15:50:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=806#comment-4279</guid>
		<description>utk muslim
Nampaknya tidak merusak makna sehingga tetap sah shalat bersamanya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>utk muslim<br />
Nampaknya tidak merusak makna sehingga tetap sah shalat bersamanya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: muslim</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sikap-berlebihan-dalam-beragama/comment-page-1#comment-4269</link>
		<dc:creator>muslim</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 02:42:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=806#comment-4269</guid>
		<description>ustadz, apakah seroang imam sholat kemudian membaca al-fatihah namun terjadi kesalahan pada membaca mad wajib yakni lebih pendek dari 2 ayunan, apakah sah sholat makmum? misal Alhamdulillaahirobbil&#039;aalamiin dibaca Alhamdulillahirobbil&#039;aalamiin jd huruf la nya tidak panjang</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ustadz, apakah seroang imam sholat kemudian membaca al-fatihah namun terjadi kesalahan pada membaca mad wajib yakni lebih pendek dari 2 ayunan, apakah sah sholat makmum? misal Alhamdulillaahirobbil&#8217;aalamiin dibaca Alhamdulillahirobbil&#8217;aalamiin jd huruf la nya tidak panjang</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sikap-berlebihan-dalam-beragama/comment-page-1#comment-4183</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 14:55:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=806#comment-4183</guid>
		<description>untuk atho
wajib dalam shalat belum tentu menjadi syarat atau rukun shalat.
Kita hormati yang mengambil pendapat yang menganjurkan karena itu adalah pendapat mayoritas ulama.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>untuk atho<br />
wajib dalam shalat belum tentu menjadi syarat atau rukun shalat.<br />
Kita hormati yang mengambil pendapat yang menganjurkan karena itu adalah pendapat mayoritas ulama.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: P Anto</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sikap-berlebihan-dalam-beragama/comment-page-1#comment-4177</link>
		<dc:creator>P Anto</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 02:21:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=806#comment-4177</guid>
		<description>
&quot;Insya Allah pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan wajibnya sutroh dalam shalat. Yang ada dalam tulisan di atas adalah pendapat Syeikh Shalih al Fauzan dalam masalah ini.&quot;

Saya pernah mendengar komentar dari seseorang pada saat dibacakan kajian tentang sutroh, demikian, &quot;..itu adalah pendapat yang muncul belakangan (ttg wajibnya sutroh), karena kalau memang itu wajib, tentunya Rasulullah atau para ulama jaman dahulu telah memasukkannya ke dalam syarat atau rukun sholat..., dan itu adalah pendapat kelompok yang terlalu keras dalam menerapkan syariat.., yang kalau diterapkan akan memberatkan umat...&quot;
 Mohon bantuan ustadz untuk membantah komentar tersebut, karena saya merasa kurang berilmu dan orang yang berkomentar tersebut pandai berargumentasi, sehingga jama&#039;ah yang hadir lebih mendengarkan pendapatnya.
Syukron.

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Insya Allah pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan wajibnya sutroh dalam shalat. Yang ada dalam tulisan di atas adalah pendapat Syeikh Shalih al Fauzan dalam masalah ini.&#8221;</p>
<p>Saya pernah mendengar komentar dari seseorang pada saat dibacakan kajian tentang sutroh, demikian, &#8220;..itu adalah pendapat yang muncul belakangan (ttg wajibnya sutroh), karena kalau memang itu wajib, tentunya Rasulullah atau para ulama jaman dahulu telah memasukkannya ke dalam syarat atau rukun sholat&#8230;, dan itu adalah pendapat kelompok yang terlalu keras dalam menerapkan syariat.., yang kalau diterapkan akan memberatkan umat&#8230;&#8221;<br />
 Mohon bantuan ustadz untuk membantah komentar tersebut, karena saya merasa kurang berilmu dan orang yang berkomentar tersebut pandai berargumentasi, sehingga jama&#8217;ah yang hadir lebih mendengarkan pendapatnya.<br />
Syukron.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sikap-berlebihan-dalam-beragama/comment-page-1#comment-3362</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 14:01:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=806#comment-3362</guid>
		<description>Untuk Hamba
Boleh.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Hamba<br />
Boleh.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: hamba Allah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sikap-berlebihan-dalam-beragama/comment-page-1#comment-3347</link>
		<dc:creator>hamba Allah</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 23:30:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=806#comment-3347</guid>
		<description>ustadz,,apabila sebelum dzuhur salah satu hidung kita mampet shg air tidak bisa terhisap ketika berwudhu utk sholat dzuhur namun stlh sholat dzuhur hidung kita sudah tidak mampet lagi,,nah apakah boleh wudhu sblm sholat dzuhur tersebut digunakan utk sholat ashar krn stlh sholat dzuhur hidungnya tidak mampet lagi?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ustadz,,apabila sebelum dzuhur salah satu hidung kita mampet shg air tidak bisa terhisap ketika berwudhu utk sholat dzuhur namun stlh sholat dzuhur hidung kita sudah tidak mampet lagi,,nah apakah boleh wudhu sblm sholat dzuhur tersebut digunakan utk sholat ashar krn stlh sholat dzuhur hidungnya tidak mampet lagi?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.529 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-07 18:09:12 -->

