Tetap Wajib Shalat Jumat

Tetap Wajib Shalat Jumat

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ .

Abu Ubaid mengatakan, Saya menghadiri shalat Ied di masa Utsman bin Affan yang saat itu bertepatan dengan hari Jumat. Beliau shalat hari raya sebelum menyampaikan khutbah baru kemudian berkhutbah. Dalam khutbahnya beliau mengatakan, “Wahai manusia sesungguhnya pada hari terdapat dua hari raya. Penduduk awali [perkampungan sebelah timur kota Madinah] yang ingin menunggu shalat Jumat dipersilahkan. Namun siapa yang ingin pulang maka aku izinkan untuk pulang” [HR Bukhari no 5272].
Perkataan Utsman ini dalil yang menunjukkan bahwa manakala hari raya itu bertepatan dengan hari Jumat maka ada kelonggaran bagi orang yang kesulitan akses ke masjid untuk shalat jumat untuk tidak mengerjakan shalat Jumat dengan tetap mengerjakan shalat Zhuhur. Sedangkan orang yang akses ke masjid itu mudah baginya wajib untuk tetap shalat Jumat. Inilah pendapat Imam Syafii dan Malik dalam salah satu pendapatnya.

فقد بان في هذه الرواية ورواية الثوري لهذا الحديث أن رسول الله صلى الله عليه و سلم جمع ذلك اليوم بالناس وفي ذلك دليل على أن فرض الجمعة والظهر لازم وأنها غير ساقطة وأن الرخصة إنما أريد بها من لم تجب عليه الجمعة ممن شهد العيد من أهل البوادي والله أعلم وهذا تأويل تعضده الأصول وتقوم عليه الدلائل ومن خالفه فلا دليل معه ولا حجة له

Ibnu Abdil Barr al Maliki mengatakan, “Sungguh telah jelas dalam riwayat yang ada bahwa Rasulullah tetap shalat Jumat bersama banyak orang saat hari Jumat bertepatan dengan hari raya. Hal ini adalah dalil bahwa kewajiban shalat Jumat atau shalat Zhuhur tetap ada pada hari itu, tidak gugur. Sedangkan keringanan untuk tidak shalat Jumat itu berlaku untuk orang orang badui [yang posisi tempat tinggalnya jauh dari kota Madinah] yang ikut melaksanakan shalat Ied. Mereka ini pada dasarnya tidak berkewajiban untuk mengerjakan shalat Jumat. Penjelasan semacam inilah yang ditopang oleh berbagai kaedah syariat dan didukung oleh banyak dalil. Sedangkan penjelasan selainnya itu tidak memiliki dalil tidak pula hujjah” [at Tamhid 10/274-Syamilah-].

ومن تمسك بقول عثمان، فلانه رأي أن مثل ذلك ليس هو بالرأي وإنما هو توفيق وليس هو بخارج عن الاصول كل الخروج.
وأما إسقاط فرض الظهر والجمعة التي هي بدله لمكان صلاة العيد فخارج عن الاصول جدا، إلا أن يثبت في ذلك شرع يجب المصير إليه.

Ibnu Rusyd al Maliki mengatakan, “Ulama yang berpegang dengan perkataan Utsman itu menilai bahwa pernyataan Utsman semacam ini itu tidak murni berasal dari beliau namun berdasarkan petunjuk Nabi dan pendapat ini tidaklah menyimpang dari kaedah kaedah syariat. Sedangkan menggugurkan kewajiban shalat Zhuhur dan Jumat padahal shalat Jumat itu pengganti Zhuhur gara gara mengerjakan shalat hari raya maka pendapat ini sangat jauh menyimpang dari kaedah syariat kecuali jika memang ada dalil tegas dari syariat yang menyatakan demikian maka kita wajib mengacu dalil” [Bidayatul Mujtahid 1/175].
Wal hasil pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah pendapat Imam Syafii yang menggugurkan kewajiban shalat Jumat bagi orang yang karena jarak tempat tinggalnya dengan masjid shalat Jumat itu kesulitan untuk menghadiri shalat Jumat mengingat perkataan Ustman yang merupakan shalat satu khulafaur rasyidin yang Nabi perintahkan kita untuk mengikutinya tanpa ada satu pun shahabat yang menyalahkannya. Sehingga orang yang akses ke masjid itu mudah wajib untuk tetap shalat Jumat meski sudah mengerjakan shalat hari raya.
Pendapat Utsman yang beliau fatwakan di hadapan para shahabat itu lebih layak untuk diikuti dibandingkan pendapat pribadi selainnya. Orang yang akses ke masjid itu mudah baginya tidaklah kerepotan untuk harus pergi ke masjid dan hal itu tidaklah mengganggu suasana hari raya bagi mereka.

COMMENTS

WORDPRESS: 1
  • bahtiar 6 years ago

    ustadz bagaimana dengan pembenaran ibnu abbas terhadap tindakan ibnu zubair yg tdk menyelenggarakan sholat jum’at dan sholat dhuhur scr brjama’ah dan menyebut beliau sbg ashobus sunnah. Begitu juga dg pernyataan ibnu zubair bahwa Umar bin khattab juga melakukan hal tersebut?