<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Seputar Akad</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/seputar-akad/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com/seputar-akad</link>
	<description>Blog Ustadz Aris Munandar</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 10:34:43 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/seputar-akad/comment-page-1#comment-2353</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 02:12:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=421#comment-2353</guid>
		<description>Untuk Abu
Wa&#039;alaikumussalam
Dalam akad nikah harus ada lafadz nikah atau yang semakna dengannya. Tidak cukup dengan isyarat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Abu<br />
Wa&#8217;alaikumussalam<br />
Dalam akad nikah harus ada lafadz nikah atau yang semakna dengannya. Tidak cukup dengan isyarat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Abu `Abdullaah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/seputar-akad/comment-page-1#comment-2348</link>
		<dc:creator>Abu `Abdullaah</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 03:58:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=421#comment-2348</guid>
		<description>Assalamu`alaikum ustadz,
 
Ana ingin bertanya perihal tradisi tukar cincin atau tunangan di masyarakat kita. Di dalam tradisi tersebut ada:
1. Persetujuan wali (sebelumnya telah dilakukan lamaran dari pihak laki-laki dan diterima).
2. Keridho-an kedua pasangan.
3.  Saksi-saksi dari kedua pihak keluarga.
4. Mahar (biasanya berupa cincin).
5. Saling pasang cincin tunangan.
 
Apakah telah terjadi proses nikah dengan tradisi seperti ini sekalipun tidak ada lafadz NIKAH dalam AKAD PERTUNANGAN tersebut?
 
Jazakallaahu khoiron.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu`alaikum ustadz,<br />
 <br />
Ana ingin bertanya perihal tradisi tukar cincin atau tunangan di masyarakat kita. Di dalam tradisi tersebut ada:<br />
1. Persetujuan wali (sebelumnya telah dilakukan lamaran dari pihak laki-laki dan diterima).<br />
2. Keridho-an kedua pasangan.<br />
3.  Saksi-saksi dari kedua pihak keluarga.<br />
4. Mahar (biasanya berupa cincin).<br />
5. Saling pasang cincin tunangan.<br />
 <br />
Apakah telah terjadi proses nikah dengan tradisi seperti ini sekalipun tidak ada lafadz NIKAH dalam AKAD PERTUNANGAN tersebut?<br />
 <br />
Jazakallaahu khoiron.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/seputar-akad/comment-page-1#comment-1213</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 06:38:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=421#comment-1213</guid>
		<description>Untuk Abang
Saya wajibkan anda untuk belajar tentang transaksi salam dan hal-hal yang terkait dengannya. Diantaranya anda bisa baca di sini, http://pengusahamuslim.com/fatwa-perdagangan/tanya-jawab/719-tanya-jawab-perbedaan-antara-jual-beli-salaam-dan-jual-beli-barang-yang-belum-dimiliki.html, http://pengusahamuslim.com/fatwa-perdagangan/hukum-hukum-perdagangan/599-jual-beli-salaam.html, http://pengusahamuslim.com/fatwa-perdagangan/hukum-hukum-perdagangan/600-akad-istishna.html.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Abang<br />
Saya wajibkan anda untuk belajar tentang transaksi salam dan hal-hal yang terkait dengannya. Diantaranya anda bisa baca di sini, <a href="http://pengusahamuslim.com/fatwa-perdagangan/tanya-jawab/719-tanya-jawab-perbedaan-antara-jual-beli-salaam-dan-jual-beli-barang-yang-belum-dimiliki.html" rel="nofollow">http://pengusahamuslim.com/fatwa-perdagangan/tanya-jawab/719-tanya-jawab-perbedaan-antara-jual-beli-salaam-dan-jual-beli-barang-yang-belum-dimiliki.html</a>, <a href="http://pengusahamuslim.com/fatwa-perdagangan/hukum-hukum-perdagangan/599-jual-beli-salaam.html" rel="nofollow">http://pengusahamuslim.com/fatwa-perdagangan/hukum-hukum-perdagangan/599-jual-beli-salaam.html</a>, <a href="http://pengusahamuslim.com/fatwa-perdagangan/hukum-hukum-perdagangan/600-akad-istishna.html" rel="nofollow">http://pengusahamuslim.com/fatwa-perdagangan/hukum-hukum-perdagangan/600-akad-istishna.html</a>.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: abang</title>
		<link>http://ustadzaris.com/seputar-akad/comment-page-1#comment-1211</link>
		<dc:creator>abang</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 05:45:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=421#comment-1211</guid>
		<description>jazakallahu khairan atas jawaban ustadz...

sebenarnya sudah pernah saya tanyakan ke ustadz fulan, dan berbeda jawabnya dgn antum krn kata beliau ini termasuk menjual barang yg tidak kita miliki. Beliau memberi solusi, hendaklah saya membeli barang dulu dari produsen, setelah itu terserah saya mau jual ke mana lg. Atau saya bisa jual barang produsen tanpa harus membeli dulu, tapi barang harus ada di tangan saya dgn kesepakatan.

Tapi sebenarnya rencana saya begini : saya konfirm ke produsen untuk bekerja sama dengannya untuk menjualkan barang dia di toko online saya dgn kesepakatan harga yg saya beli dari dia dan harga yg saya tawarkan di toko online, sehingga saya ada mendapat untung. Dan barang tetap ada di tempat produsen tanpa saya &#039;pegang&#039;, sehingga saya cukup menampilkan foto galeri di website. Sehingga bila ada order beli / pesan banyak, pembeli mengirimkan uang ke saya dan saya beli / pesankan ke produsen, lalu saya kirim barangnya ke pembeli. 
Mudah2an bukan termasuk menjual barang yg tidak saya miliki.. krn saya sudah ada kesepakatan dgn produsen sebelumnya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jazakallahu khairan atas jawaban ustadz&#8230;</p>
<p>sebenarnya sudah pernah saya tanyakan ke ustadz fulan, dan berbeda jawabnya dgn antum krn kata beliau ini termasuk menjual barang yg tidak kita miliki. Beliau memberi solusi, hendaklah saya membeli barang dulu dari produsen, setelah itu terserah saya mau jual ke mana lg. Atau saya bisa jual barang produsen tanpa harus membeli dulu, tapi barang harus ada di tangan saya dgn kesepakatan.</p>
<p>Tapi sebenarnya rencana saya begini : saya konfirm ke produsen untuk bekerja sama dengannya untuk menjualkan barang dia di toko online saya dgn kesepakatan harga yg saya beli dari dia dan harga yg saya tawarkan di toko online, sehingga saya ada mendapat untung. Dan barang tetap ada di tempat produsen tanpa saya &#8216;pegang&#8217;, sehingga saya cukup menampilkan foto galeri di website. Sehingga bila ada order beli / pesan banyak, pembeli mengirimkan uang ke saya dan saya beli / pesankan ke produsen, lalu saya kirim barangnya ke pembeli.<br />
Mudah2an bukan termasuk menjual barang yg tidak saya miliki.. krn saya sudah ada kesepakatan dgn produsen sebelumnya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/seputar-akad/comment-page-1#comment-1205</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 13:59:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=421#comment-1205</guid>
		<description>Untuk Abang
Wa&#039;alaikumussalam
1. Jika pemesan mengirim uang terlebih dahulu dan waktu pengiriman barang jelas maka inilah jual beli salam yang hukumnya diperbolehkan.
2. Jual beli online menggunakan sistem jual beli salam sehingga hukumnya boleh.
3. Untuk model transaksi, &quot;terserah kita mau jual berapa&quot; saya belum tahu hukumnya secara pasti namun jelas tidak termasuk dalam &quot;menjual barang yang tidak dimiliki&quot; yang terlarang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Abang<br />
Wa&#8217;alaikumussalam<br />
1. Jika pemesan mengirim uang terlebih dahulu dan waktu pengiriman barang jelas maka inilah jual beli salam yang hukumnya diperbolehkan.<br />
2. Jual beli online menggunakan sistem jual beli salam sehingga hukumnya boleh.<br />
3. Untuk model transaksi, &#8220;terserah kita mau jual berapa&#8221; saya belum tahu hukumnya secara pasti namun jelas tidak termasuk dalam &#8220;menjual barang yang tidak dimiliki&#8221; yang terlarang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
