Sarung “Balapan” Ala Salafi

Beberapa tahun yang lewat saya pribadi pernah mendengar ada seorang yang mengatakan bahwa ahli sunnah di negeri kita memiliki ciri khas dalam berpakaian. Tidaklah dijumpai seorang yang shalat dengan memakai celana panjang dan sarung lalu sarungnya ‘balapan’ kecuali dia adalah seorang ahli sunah alias salafy. Demikian kurang lebih yang disampaikan. Setelah itu saya jumpai Syaikh Bakr Abu Zaid memiliki perkataan yang sejenis dengan perkataan orang tersebut.

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah mengatakan,

ومن زبدها هنا قصد اللابس التسنن بإرخاء السراويل و جعل الثوب أقصر منها بقليل فهذا تسنن لا أصل له في الشرع ولا أثارة من العلم تدل عليه

“Di antara penyimpangan yang dilakukan oleh para pemuda shahwah islamiyyah (kebangkitan Islam) dalam masalah pakaian adalah adanya orang yang berpakaian yang dengan sengaja membuat pakaiannya ‘balapan’ (yang satu lebih panjang dari pada yang lain) yaitu dengan memakai celana panjang dan jubah, lalu ujung jubah dibuat sedikit lebih tinggi dari pada ujung celana panjang. Pembiasaan semacam ini tidak ada dalilnya dalam syariat dan tidak ada keterangan ulama yang membenarkannya” (Hadd al Tsaub wa al Uzrah hal 26, cetakan Maktabah al Sunah Kairo cetakan pertama tahun 1421 H).

Semisal dengan apa yang beliau sampaikan adalah kebiasaan sebagian orang di negeri kita yang memakai celana panjang dan sarung, lalu dengan sengaja menjadikan ujung sarung berada sedikit lebih tinggi dari pada celana panjang.
Oleh karena itu, jika ada orang yang sengaja bahkan membiasakan diri membuat sarungnya sedikit ‘balapan’ dengan celana panjangnya karena anggapan bahwa itu adalah ciri seorang ahli sunnah sejati atau ciri khas muslim yang taat maka dia telah melakukan beberapa kekeliruan:
Pertama: Membuat amalan yang mengada-ada. Ingatlah, bahwa di antara bid’ah yang dibuat oleh sebagian orang sufi adalah menjadikan pakaian dari shuf atau wol kasar sebagai ciri khas orang yang zuhud sehingga pada akhirnya mereka merasa bahwa memakai shuf adalah suatu amalan yang berpahala. Tidak jauh dengan hal ini kasus sarung ‘balapan’ dan menjadikannya sebagai ciri khas orang yang shalih.

Kedua: Gaya berpakaian tersebut termasuk libas syuhrah alias pakaian tampil beda dengan umumnya jamaah masjid yang bersarung. Pakaian tampil beda dalam kasus semacam ini adalah suatu hal yang terlarang.

Ketiga: Gaya berpakaian semacam di atas adalah cara berpakaian yang tidak indah dan rapi padahal Allah mencintai keindahan dalam berpenampilan dan berpakaian selama tidak melanggar batasan syariat.

Solusi untuk permasalahan di atas adalah sangat mudah. Cukup dengan menjulurkan ujung sarung sedikit di bawah ujung celana panjang yang telah dikenakan. Dengan demikian kita telah melakukan salah satu hal yang Allah cintai padahal semua hal yang Allah cintai adalah ibadah yang bernilai pahala sebagaimana pengertian ibadah yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyyah.

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 36
  • alhamdulillah, terjawab sudah sedikit kegundahan di hati. Semoga banyak yang mau mengambil faidah dari artikel di atas

  • hisyam 8 years ago

    assalamu’alaykum ustadz..
    afwan mau nanya, bagaimana dgn kajian tanya jawab berikut ini..kalau tidak salah ustadz Abdul Hakim menyebutkan bahwa Islam tidak mengatur warna dan model pakaian. yang penting pakaian tsb tidak ketat, tipis dan sukhroh.
    http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Tanya%20Jawab/069_Apakah%20islam%20mengatur%20warna%20paka.mp3?l=12
    mohon penjelasannya

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Hisyam
    Wa’alaikumussalam
    1. Sarung ‘balapan’ termasuk suhroh yang terlarang
    2. Pernyataan di atas kurang lengkap karena Islam melarang isbal bagi laki-laki dan perempuan, warna merah bagi laki-laki, sutra bagi laki-laki dll.

  • Kalau larangan isbal bagi perempuan itu yang bagaimana ustadz ?

    Kemudian di antara saudara2 kita ada yang menyandarkan perbuatan mereka dalam memakai sarung “balapan” itu dengan fatwa syaikh Bin Baz dan Syaikh Utsaimin, yang tujuannya menutupi bagian celana yang menggambarkan bentuk kaki minimal sampai lutut (seperti pakaian adat Melayu/Malaysia).

    Syukron …

  • Abu Halimah 8 years ago

    Bismillah, ustadz bagaimana dengan orang yang telah berpakaian jubah lalu ditambah sarung lalu ditambah lagi dengan memakai celana panjang. Apakah hal ini baik dalam adab berpakaian?

  • Abu Ilyas 8 years ago

    hmm.. gitu ya tadz. Memang sepertinya dakwah kita ini kadang-kadang tersandung juga karena ulah sebagian ikhwan atau akhwat kita yang kurang ilmu. Kadang-kadang sebagian dari kita antusias ketika mengikuti kajian tentang aqidah atau manhaj – dan itu sangat bagus-, namun ternyata kita kurang membekali diri dengan akhlak yang mulia, sehingga acap kali ada saja ulah kita yang membuat hati orang lain merasa kurang nyaman, merasa aneh melihat kita, atau membuat dakwah kita dicap buruk. Semoga Allah memberi kita kebaikan akhlak, sehingga dakwah yang haq ini bisa tersampaikan kepada masyarakat secara haq pula.

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Abu
    Boleh asalkan tidak balapan.

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Saad
    1. Isbal untuk wanita adalah jika ujung kainnya lebih dari satu hasta terhitung dari mata kaki.
    2. Berpakaian rangkap itu tidak mengapa asal tidak ‘balapan’, lebih parah lagi jika balapan itu dianggap sebagai ciri khas ahli sunnah.

  • wong ndeso 8 years ago

    Assalamu’alaikum,
    Ustadz saya pernah dengar dari seorang ustadz yang pernah belajar di yaman, bahwa para masyaikh yang di yaman itu menggunakan pakaian jubah, juga sarung, kemudian dirangkap menggunakan baju jas,
    Apakah jika ada ikhwan yang meniru di indonesia menggunakan pakaian seperti itu, karena ustadznya memang lulusan yaman, apakah itu termasuk pakaian syuhrah?
    Terus kalau saya perhatikan, banyak juga yang menggunakan “pakaian balapan”  tersebut dari kalangan komunitas ikhwan,ikhwan yang mentahdzir orang lain sebagai sururi,  dan ini sebagian besar dari mereka ustadz, mereka tinggal di pemukiman khusus mereka, apakah pakaian balapan tersebut masih tetap menjadi pakaian syuhroh, ataukah menjadi pakaian syuhroh itu jika mereka keluar dari lingkungan mereka, lalu shalat di masjid umum, karena tiap shalat, mereka memakai pakaian balapan tersebut,
    Jazakallahu khairan…

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Wong
    Wa’alaikumussalam
    1. Ya, termasuk pakaian syuhroh jika berpakaian semacam itu dinilai aneh di tempat tersebut.
    2. Jika dilingkungan khusus mereka maka tidak termasuk libas syuhroh namun tetap termasuk dalam poin pertama dan ketiga dalam tulisan di atas.

  • muawiyyah 8 years ago

    bismillah.. tanya tad: yg masih brtanya2 dibenak saya… mngapa kitaka shlat harus pake sarung ato jubah? karna saya prnah mendegar seorang akhi berkata: kalau seorang sholat pake celana sholatnya tidak sah, karna bentuk auratny masih kelihatan… sy jg pernh blang pd seorang ikhwan yg solatny pake celana, lalu ikhwan tu brtnya balik: mana dalilny jg ulma siapa yg bilang.. nah smpai skrng ana blm mmbrikan jwaban tu… mohon di kasih penjelasanya agar ana bisa memberi jawaban pada ikhwn tu.. jazakallohu atas jawabanya…

  • abu neezar 8 years ago

    ustad,
    alangkah baiknya antum bila mengkaji sesuatu di keluarkan dulu dalil2 sbg hujjah antum (jangan mudah berpendapat atau mengikuti pendapat tertentu tanpa tahu siapa yg antum ambil pendapatnya). Hujjah terletak pada riwayat bukan pada pendapat……
    Telitilah riwayat yg akan dijadikan rujukan (shohih, dhoif, maudlu) setelah mengetahuinya …. mari dikaji….

    ” Berpakaian hukum awalnya/aslanya adalah halal kecuali ada dalil yang melarangnya (tdk boleh membuka aurat dll)”

  • Abu Usamah 8 years ago

    bismillah, assalamu’alaikum ustadz jika celana panjangnya digulung lalu memakai sarung. sehingga tidak balapan boleh stadz ?
    sekian trims

  • abuhamzah 8 years ago

    assalaamu’alaykum
    mohon maaf ustadz, kalau yg ana tangkap dari mayoritas ikhwan yg berpenampilan “balapan” seperti itu adalah dikarenakan mereka ingin menutupi bagian belakang (maaf:pantat) agar saat ruku’ dan sujud tidak membentuk aurot sebagaimana jika celana yg digunakan tidak longgar.
    adapun kenapa kok jadinya “balapan”? ana yakin hal ini tidaklah disengaja ataupun diyakini bahwa hal yg demikian sebagai suatu ciri khas salafy/ahlussunnah,  maka tidak.
    sebagaimana contohnya ana sendiri yg kerja di kantor menggunakan celana panjang sedikit di atas mata kaki.
    Nah, saat sholat, ana memakai kain sarung untuk menutupi bagian balakang tubuh agar tidak membentuk aurot. Apabila kain sarung ana turunkan sedikit, maka ana akan terjatuh pada isbal. dan bila kain sarungnya dipaskan betul dg celananya, hal ini memang agak merepotkan karena ngepaskannya lumayan ribet. dan insya Allah, tidak ada niatan maupun keyakinan dalam diri ana bahwa hal ini utk berpenampilan beda atau sebagai cirinya ahlussunnah.
    sehingga, apabila orang yg berpenampilan demikian dinilai sebagai amalan yg mengada-ada (bid’ah) ataupun terjatuh pada pakaian ketenaran (libas asysyuhroh) sebagaimana yg ana tangkap dari artike yg ustadz tulis, maka apakah hal ini tepat??
    contohnya:
    1. istri ana menggunakan kerudung lebar plus cadar, sementara masyarakat di Indonesia masing sangat “asing” dgn cadar. maka, apakah ini termasuk pakaian ketenaran (libas asysyuhroh) ?
    2. kalau di rumah ana pakai sirwal lebar di atas mata kaki, sementara masyarakat sekitar kita di Indonesia masih “asing” dg hal ini. maka, apakah sirwal yg ana pakai merupakan liba asysyuhroh?
    3. ana kebetulan berjenggot lumayan panjang, sementara masyarakat di sekitar kita di Indonesia masing “asing” (bahkan cukup “antipati”) dgn jenggot panjang. Maka, apakah jenggot ana termasuk syuhroh (berpenampilan beda utk ketenaran)?
    4. kalau kriteria libas asysyuhroh hanya dibatasi “sekedar” tampil beda dari masyarakat sekitar, maka kita ambil contoh lain. Apabila ada seorang muslim tinggal di (maaf) pedalaman papua misalnya, yg di sana pakaian masyarakatnya yg umum adalah koteka atau celana pendek di atas paha, maka apakah kita ikuti penampilan mereka sekedar supaya tidak tampil beda?
    dan berbagai contoh lainnya.
    terakhir, ada nasehat yg bagus yg pernah diberikan seorang ustadz kpd para santrinya di suatu pondok. kurang lebih isinya adalah menasehati agar para ikhwan yg sarungnya masih “balapan” dg celananya agar sebisa mungkin diperbaiki karena kurang pantas dilihat oleh masyarakat umum (tanpa menghukumi bahwa hal tsb jatuh ke dalam libas asysyuhroh ataupun bid’ah). dan juga yg masih suka pakai sarung dg label merek nya dipertontonkan di bagian belakang bawah agar supaya diubah cara pakainya supaya tidak mudah muncul ujub dg pakaian (dikarenakan pakai sarung merek ternama dan mahal) dan tidak membuat ikhwan lain yg kurang mampu utk merasa rendah diri. Kurang lebih demikian nasihat dari ustadz tersebut. dan menurut ana, nasihat ini yg lebih baik.
    demikian dari ana.
    mohon maaf apabila ada kesalahan kata. semoga Allah memperbaiki kita bersama.
    Alloohu A’lam.
    wassalaamu’alaykum.
     

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Abu
    1. Adanya anggapan bahwa itu pakaian khas salafy adalah sebuah realita yang saya dengar sendiri dengan kedua telinga saya.
    2. Beda antara hal yang wajib semisal memelihara jenggot dan tidak isbal- yang hal-hal ini tidaklah dinilai sebagai syuhrah meski ‘nyleneh’ di masyarakat- dengan kasus pakaian ‘balapan’ yang tidak ada dalil untuk memerintahkannya sama sekali.
    3. Untuk disebut pakaian syuhrah- sebatas pengetahuan saya-tidak disyaratkan oleh para ulama harus diiringi niat pelakunya agar nampak beda dengan yang lain.

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Abu
    Anda belum kenal Syaikh Bakr Abu Zaid?
    Benarnya apa yang dikatakan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid telah saya sampaikan pada tulisan di atas.
    Saya sangat senang dan setuju dengan ajakan anda untuk mengkaji segala sesuatu dengan baik. Dari tulisan saya di atas, bagian manakah yang perlu dikaji ulang?

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Abu
    Wa’alaikumussalam
    Jika dibawa untuk shalat maka makruh karena ketika shalat makruh hukumnya menggulung pakaian, celana panjang, lengan baju dll

  • abuhamzah 8 years ago

    assalaamu’alaykum.
    melanjutkan jawaban dari ustadz. sampai dengan penjelasan yg ustadz jelaskan, ana masih menangkap dari penjelasan ustadz bahwa seseorang yg berpakaian tampil beda di masyarakat (di luar perkara yg wajib seperti jenggot, cadar, dsb) maka sudah masuk kategori libas asysyuhroh dengan tanpa melihat niat si pelakunya. Apakah demikian Ustadz? Mohon dikoreksi bila ana salah.
    pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan hadits innamal’amalu bin niyat (amalan itu tergantung niatnya)?
    lantas, sekarang pertanyaannya di balik. misalkan ada seseorang menggunakan pakaian sebagaimana umumnya masyarakat. akan tetapi ia meniatkan diri agar dilihat oleh orang lain misalkan dikarenakan merek ternama/mahal atau semisalnya. apakah ini termasuk libas asysyuhroh? bila jawabannya iya, maka tentunya dalam hal ini perkara niat masuk ke dalam definisi tsb.
    selanjutnya,apabila ia meniatkan sekedar hanya utk mencari pakaian yg kualitasnya bagus (karena biasanya merek ternama/mahal itu kualitasnya juga bagus), apakah ia terjatuh dalam libas asysyuhroh?
    lalu, yg ana nukil dari sebagian milis muslim, imam asy syaukani rohimahullooh mendefinisikan bahwa:
    libas Syuhrah itu ialah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah, yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya (Asy-Syaukani dalam Nailul Authar II/94). mohon koreksi bila keliru.
    sehingga, kalau ustadz hanya menilai seseorang terjatuh dalam perkara libas asysyuhroh hanya sekedar melihat sekedar tampil beda belaka, maka apakah hal ini tepat? sebab, yg ana khawatirkan adalah dalil ini dijadikan sebagian orang utk tidak bersemangat di dalam berpenampilan indah saat beribadah (misalnya sholat menggunakan celana pantalon yg kurang longgar dgn alasan hal ini sudah umum di masyarakat, dan bila ditutup sarung atau gamis khawatir terjatuh dlm asysyuhroh).
    mohon maaf bila ada salah kata.
    semoga Allah memperbaiki kita bersama.
    wassalaamu’alaykum.

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Abu
    1. Tidak semua hal itu terlarang jika memiliki niat yang jelek contoh isbal itu haram bagi laki-laki meski orang tersebut tidak memiliki niat yang jelek.
    2. Yang saya jumpai:
    قال ابن الأثير : الشهرة ظهور الشيء ، والمراد أن ثوبه يشتهر بين الناس لمخالفة لونه لألوان ثيابهم فيرفع الناس إليه أبصارهم ويختال عليهم والتكبر .
    Syaukani mengutip perkataan Ibnu al Atsir bahwa makna syuhrah adalah menonjol karena lain dari pada yang lain. artinya pakaian orang tersebut beda dengan yang lain karena warna pakaiannya beda dengan warna pakaian orang-orang di sekelilingnya. Karena orang-orang sekelilingnya melototi orang tersebut. orang tersebut sombong dengan orang-orang di sekitarnya karena dia merasa bangga dan sombong.
    والحديث يدل على تحريم لبس ثوب الشهرة وليس هذا الحديث مختصا بنفيس الثياب ، بل قد يحصل ذلك لمن يلبس ثوبا يخالف ملبوس الناس من الفقراء ، ليراه الناس فيتعجبوا من لبسه ويعتقدوه ، قاله ابن رسلان .
    Kemudian asy Syaukani mengatakan, “Hadits di atas -yaitu hadits larangan pakaian syuhrah- menunjukkan haramnya memakai pakaian syuhrah. larangan yang ada dalam hadits ini mengenai pakaian syuhrah itu tidak hanya berlaku pada orang yang pakaian jauh lebih mahal di atas rata-rata orang di sekelilingnya. larangan pakaian syuhrah juga terjadi pada orang yang memakai pakaian yang terlalu jelek dibanding orang-orang miskin di sekitarnya. akhirnya banyak orang terkagum-kagum dengan orang yang memakainya dan menyakini kelebihan orang tersebut serta menyakininya sebagai orang yang memiliki keistimewaan. demikian penjelasan Ibnu Ruslan”. (Keterangan ini berlaku jika orang yang memakai tidak memiliki niat untuk tampil beda alias nyleneh dalam berpakaian, pent)
    وإذا كان اللبس لقصد الاشتهار في الناس فلا فرق بين رفيع الثياب ووضيعها والموافق لملبوس الناس والمخالف لأن التحريم يدور مع الاشتهار ، والمعتبر القصد وإن لم يطابق الواقع .
    “Jika pemakai memiliki niat untuk tampil beda dengan orang-orang disekelilingnya maka dia telah melanggar larangan baik pakaian yang dikenakan itu mahal ataupun murah, baik model pakaian yang dia gunakan itu sesuai dengan model orang-orang disekitarnya atau tidak sesuai karena yang jadi tolak ukur adalah ketenaran sehingga yang menjadi patokan adalah niat (mencari ketenaran) meski pada realitanya pakaian yang dia pakai bukanlah pakaian yang menyebabkan ketenaran” (Nailul Author juz 2 hal 470, terbitan Darul Hadits Kairo).
    Bedakanlah dua hal yang dibahas oleh asy Syaukani dalam kutipan di atas.
    3. Tentang shalat dengan menggunakan celana panjang alias pantalon tolong baca di link berikut:
    http://kangaswad.wordpress.com/2010/05/09/hukum-lelaki-shalat-memakai-celana-panjang-2/

  • abuhamzah 8 years ago

    na’am. baarokALLOOHU fiyk.
    berarti, sampai sejauh ini, ustadz masih berpegangan dengan pendapat bahwa seseorang yg berpakaian tampil beda dgn keumuman masyarakat berarti ia terjatuh dlm larangan libas asysyuhroh.
     
    kalau ana menukil kembali terjemahan dari jawaban Syaikh Bakr Abu Zaid rohimahullooh di atas :
    “Di antara penyimpangan yang dilakukan oleh para pemuda shahwah islamiyyah (kebangkitan Islam) dalam masalah pakaian adalah adanya orang yang berpakaian yang dengan sengaja membuat pakaiannya ‘balapan’ (yang satu lebih panjang dari pada yang lain) yaitu dengan memakai celana panjang dan jubah, lalu ujung jubah dibuat sedikit lebih tinggi dari pada ujung celana panjang. Pembiasaan semacam ini tidak ada dalilnya dalam syariat dan tidak ada keterangan ulama yang membenarkannya” (Hadd al Tsaub wa al Uzrah hal 26, cetakan Maktabah al Sunah Kairo cetakan pertama tahun 1421 H).”
     
    lihat pd bagian yg ana tebalkan. dari perkataan tersebut, ada 2 poin yg bisa ana tangkap, yakni :
    1. syaikh rohimahullooh menyatakan bagi sesiapa yg dengan sengaja membuat pakaiannya “balapan”. mahfum dari perkataan “dengan sengaja” adalah berarti adanya unsur niat di dalam perbuatannya.
    sehingga, bila ada seseorang yg sarungnya balapan tanpa ada niatan menyengajakan diri utk tampil beda, tetapi lebih hanya sekedar ingin menutupi bagian aurot belakangnya sebagaimana pernyataan ana di awal komentar, maka seharusnya ia tidaklah terjatuh dlm larangan libas asysyuhroh. sedangkan menurut pendapat ustadz, sesiapapun yg sarungnya balapan maka ia berarti tampil beda sehingga masuk larangan libas asysyuhroh.mohon koreksi bila keliru.
    2. pada kata Pembiasaan semacam ini tidak ada dalilnya dalam syariat, maka mafhumnya adalah bahwa larangan ini berlaku bagi sesiapapun yg membiasakan hal semacam ini, sedangkan yg namanya seseorang melakukan pembiasaan, maka tentunya ada unsur niatan dalam hatinya utk membiasakan sesuatu. maka dalam hal ini tentunya tidak serta merta kita hukumi seseorang yg tampil beda dlm berpakaian maka ia lantas dihukumi sbg orang yg terjatuh dlm libas asysyuhroh dgn tanpa melihat motivasi/niatan orang tsb.
    hal yg menjadi isykal lainnya adalah :
     
    dahulu, pantalon bukanlah pakaian umat islam. namun saat ini pantalon sdh umum di masyarakat kaum muslimin sehingga orang yg berpantalon maka tidak masuk dlm libas asysyuhroh. pertanyaannya, bagaimana hukumnya dgn orang-2 islam yg pertama kali memakai pantalon di masa yg mana pantalon blm umum di kaum muslimin, apakah ia terjatuh dlm libas asysyuhroh?
     
    hal lainnya, apabila ustadz hanya berpegangan bahwa seseorang yg sekedar tampil beda maka ia terjatuh dlm libas asysyihroh, maka bagaimana dgn para asatidz atau bahkan para masyaikh hafizhohumullooh yg datang ke indonesia lalu berceramah di masjid umum (istiqal misalnya) yg menggunakan jubah plus surban plus jubah luar plus ikat kepala yg jelas-2 “tampil beda” dgn kaum muslimin di indonesia, apakah ia terjatuh dlm libas asysyuhroh? karena, bila melihat penpatat ustadz, maka kita bisa mengatakan kpd mereka bahwa mereka terjatuh dlm libas asysyuhroh, dan kita berlindung dari hal yg demikian.
     
    akhir kata, ana sekedar ingin diskusi dgn ustadz karena ustadz hanya menghukumi seseorang terjatuh dalam libas asysyuhroh hanya dikarenakan tampil beda saja dgn tanpa melihat niatan si pelaku. bahkan di artikel ustadz menulis bahwa orang yg sekedar sarungnya “balapan” maka ia terjatuh dlm larangan asysyuhroh, yg artinya kita hukumi orang tersebut jatuh dalam dosa besar (karena ada ancaman dari sabda Rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam). Maka dgn kaidah ustadz ini, akan ada berapa banyak kaum muslimin yg akan kita hukumi jatuh dlm dosa besar???
    mohon koreksinya bila keliru.,mohon maaf bila ada salah kata.
    wassalaamu’alaykum

  • ustadzaris 8 years ago

    @Abu
    1. Siapakah yang mendahului anda dalam pendapat bahwa pakaian syuhroh itu dosa besar? Jangan bosan untuk berbagi ilmu kepada saya. Moga Allah menyayangi anda.
    2.Yang dimaksud untuk Syaikh Bakr adalah sengaja ‘balapan’ dan semua orang yang dalam kondisi sadar (tidak tidur dll) lalu memakai celana ‘balapan’ adalah orang yang sengaja balapan. Sedangkan yang menjadi topik bahasan kita apakah ‘niat/sengaja untuk tampil beda’ adalah syarat agar seorang itu terjerumus dalam libas syuhroh yang terlarang? Anda menetapkan hal tersebut, sedangkan saya belum bisa menerimanya.
    3. Orang yang sering melakukan sesuatu maka dia adalah orang yang membiasakannya. Untuk disebut ‘membiasakan diri melakukan suatu hal’ tidaklah disyaratkan ‘memiliki niat untuk membiasakan diri’. Perempuan yang setiap hari buka aurat adalah perempuan yang membiasakan diri untuk buka aurat meski dia tidak memiliki niat untuk membiasakan diri membuka aurat.
    4.Ketika pantalon bukanlah pakaian khas kaum muslimin maka orang yang memakai berarti menyerupai orang kafir yang hukumnya haram dan berdosa. sedangkan saat ini setelah pantalon bukan lagi pakaian khas orang kafir maka orang yang memakai tidaklah berdosa. Tolong baca link berikut:http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/05/batasan-tasyabbuh-yang-diharamkan.html
    http://ustadzaris.com/parameter-menyerupai-orang-kafir
    5. Kita saat ini sedang membahas perbuatan alias fiil, bukan pelaku perbuatan atau fail. Untuk membahas fail banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Saya yakin, anda sudah perbedaan dua hal ini.

  • abuhamzah 8 years ago

    na’am. jazaakAlloohu khoiron atas penjelasannya dan do’a nya. semoga Allah memperbaiki kita bersama.
    hadits tentang larangan menggunakan libas asy syuhroh di sana ada lafadz ancaman. Sesuai kaidah makna dosa besar yg ana pahami dari beberapa ta’lim yg ana ikuti, sesuatu dosa dikatakan dosa besar salah satu cirinya adalah apabila ada ancaman dari Allah dan Rosul-Nya shollalloohu ‘alaihi wasallam. afwan, ana sekaligus minta tolong agar ustadz mencarikan lafadz haditsnya karena ana pernah baca hadits tersebut hanya saja lupa dulu nemunya di mana.
    terakhir, tampaknya memang ana belum bisa mantap mengikuti apa yg menjadi prinsip ustadz. Ustadz tetap berpegangan bahwa libas asysyuhroh adalah sekedar seseorang yg berpenampilan beda dgn tanpa melihat niatan si pelaku (sebagaimana juga pada artikel ustadz ttg peci/kopiah). sementara ana masih lebih mantap utk merinci hal tersebut yakni dgn melihat pada niatan si pelaku.
    thoyyib. khiron, insya’ ALLOOH.
    ahsannya lagi, apabila pas ada kesempatan masyaikh ke indonesia lagi, hendaknya hal ini ditanyakan langsung biar mantap. atau, apabila ustadz bisa kontak langsung ke masyaihk maka hal ini ahsan.sebab, ada kemungkinan pemahaman ana yg salah dlm memahami dalil atau juga pemahaman ustadz yg salah. wa ALLOOHU A’lam.
     
    baarokAlloohu fiyk.
    wassalaamu’alaykum

  • ustadzaris 8 years ago

    @Abu
    Anda memiliki dua kewajiban:
    1. mencari pendapat ulama yang mendahului anda dalam masalah dosa besar-nya pakaian syuhroh. Masalah agama sudah selesai di tangan para pendahulu kita.
    2. mencari pendapat ulama yang mensyaratkan bahwa pakaian syuhroh terlarang jika pemakainya memiliki niat ‘nyleneh’ atau tampil beda dengan yang lain agar anda tidak memiliki pendapat dalam masalah agama tanpa ada pendahulu bagi anda. Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya, “Janganlah berkata-kata dalam masalah agama tanpa ada ulama pendahulu bagimu”

  • abuhamzah 8 years ago

    untuk kewajiban ana di poin 2 ini walhamdulillah, sudah ana dapatkan.
    kebetulan ana punya buku Ensiklopedi Larangan karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhohullooh (judul asli: al manaahiy asy syar’iyyah fii shohiihissunnah an nabawiyyah).
    ana nukilkan pada bab 568.larangan pakaian syuhroh beliau membawakan hadits ttg larangan libas syuhroh yakni hadits ibnu ‘umar rodhiAlloohu ‘anhuma dgn sanad shohih dari semua jalurnya sebagaimana yg ana tulis pada komentar sebelumnya.
     
    nah, pada penjelasan kandungan bab, beliau berkata kurang lebih:
    1. harom hukumnya memakai pakaian syuhroh, yaitu seseorang memakai pakaian yg bertentangan dgn apa yg dipakai masyarakat setempat untuk menarik perhatian dan membuat mereka kagum terhadap pakaian yg ia pakai, baik pakaian mewah maupun pakaian jelek.
    2. pengharoman ini bukan semata-mata hanya berkaitan dgn pakaian tersebut, tetapi si pemakai bermaksud agar menjadi terkenal. Jadi, hukum ini berkaitan dgn maksud dan niat. Alloohu A’lam.
     
    dari penjelasan syaikh hafizhohullooh, kita peroleh 2 poin:
    a). beliau berpendapat bahwa libas syuhroh adalah harom
    b). beliau berpendapat bahwa libas syuhroh berkaitan dgn maksud dan niat si pemakai.
    walhamdulillah.
     
     

  • ustadzaris 8 years ago

    @Abu
    Jazakumullahu khoiron atas infonya.

  • Abu abdillah 8 years ago

    Ustadz, bagaimana cara taubat dari memakai sarung balapan ini??
    Dulu waktu ana baru awal-awal ngaji, lagi semangat2nya, pas pulang kampung, ana memakai pakaian seperti itu,
    Dan memang benar kata ustadz, sarung balapan itu bukan tanpa sengaja, tapi memang dipakainya sengaja balapan, jadi mirip pakaian orang2 FPI juga,
    Dan sarung balapan ini banyak dipakai oleh ikhwan2 salafi yang mentahdzir saudaranya sesama salafy, di bandung sangat banyak ustadz,….
    Jadi kalau mereka shalat, langsung ganti memakai sarung seperti itu,…
    Ke pertanyaan ana, bagaimana cara taubatnya…. sekarang ana sudah nggak pakai seperti itu lagi..

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Abu
    Cukup bertaubat dan memperbaiki diri dengan berhias dengan akhlak mulia.

  • abunajwa 8 years ago

    ijin untuk nyimak diskusinya…sangat menarik menambah pengetahuan sy.  kenapa kok tidak berlanjut ya?

  • assalamualaikum,
    celaan terhadap sarung balapan tersebut sebagai berlebihan sampai kepada bidah, berdasarkan perkataan orang, apakah cukup mewakili? padahal banyak sekali kemungkinan sebab orang melakukannya. setau saya, sarung dibawah lutut itu selain menutup bentuk badan dengan lebih baik, juga untuk memudahkan bagi pengendara motor. bisa kita bayangkan ribetnya naik GL atau RX mengenakan sarung panjang saja..

  • ustadzaris 8 years ago

    #arif
    Untuk naik RX seorang laki-laki bisa pakai celana panjang plus sarung namun tidak perlu harus dibuat balapan.

  • mukhlis_ajaa 8 years ago

    bismillah, saya ingin klarifikasi apa hukumnya sholat pake sarung? apakah lbh utama? dari pada pake clana?
    coz ada yg pernah liat kalo ustadz sholat cm pke clana? tolong tanggapannya

  • mukhlis_ajaa 8 years ago

    alhamdulillah saya telah membca, trma kasih atas jawabany. tp lebih utama yg mana ustadz? coz keliatanny memakai ghamis atau sarung adalah sunnah, dan ini tentu lbh utama. trmakash

  • Abu Dzar 8 years ago

    bismillah…
    afwan ustadz apakah boleh melipat sirwal bagian pinggang agar ketika memakai jubah sirwal bagian bawah tdk kelihatan, krna sirwalnya pamjang namun tdk isbal… jazakumullah khoir

  • ustadzaris 8 years ago

    #abu
    Insya Allah, boleh