Salafi Harus Anti Sayid Qutb?

Parameter Menyerupai Orang Kafir
Mungkinkah Salafi Berdasi, Berjas dan Memakai Pantalon?
Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP

Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Samahahatusy Syaikh, apa prinsip-prinsip akidah yang dianut oleh penulis kitab Fi Zhilal Al Qur’an? Apakah buku tersebut bisa dijadikan rujukan untuk menafsirkan Al Qur’an?

Jawaban beliau adalah sebagai berikut:

“Aku tidak memiliki hasrat untuk membaca buku tersebut. Aku yakin kitab-kitab tafsir yang terkenal semisal Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Syeikh Abdurrahman bin Sa’di, Tafsir Abu Bakar Jabir Al Jazairi dan Tafsir Al Qurthubi memuat penjelasan yang jauh lebih baik dibandingkan Fi Zhilal Al Qur’an.

Namun perlu diketahui bahwa dalam Tafsir Al Qurthubi terdapat beberapa hadits yang lemah karena memang tidak memiliki kemampuan yang baik dalam masalah hadits. Sehingga dalam tafsirnya, beliau membawakan hadits yang shahih, hasan dan dhaif. Yang jelas buku-buku tafsir yang ada sudah mencukupi sehingga kita tidak membutuhkan Fi Zhilal Al Qur’an.

Tafsir Fi Zhilal Al Qur’an sebenarnya bukanlah buku tafsir. Oleh karena itu, penulisnya menamai bukunya dengan judul Fi Zhilal Al Qur’an yang artinya dalam bayang-bayang Al Qur’an. Dengan kata lain, buku tersebut tidak menyelami kedalaman Al Qur’an. Oleh sebab itu, kita jumpai gaya bahasa penulisnya adalah gaya bahasa yang bersifat umum. Penulis menyampaikan isi ayat al Qur’an hanya secara global. Penulis sangat jarang sekali membahas makna mendalam yang terdapat dalam kata demi kata dalam Al Qur’an.
Di samping itu, dalam buku tersebut terdapat berbagai hal yang sangat berbahaya yang telah diingatkan oleh para ulama semisal Abdullah Ad Duwaisy dan Al Albani.

Sejak lama aku mengetahui kritikan Al Albani terhadap penafsiran Sayid Qutb untuk surat Al Ikhlas ayat pertama. Kemudian kulihat sendiri penafsirannya untuk ayat tersebut. Ternyata penafsirannya adalah penafsiran yang sangat mengerikan. Tidak mungkin ada orang yang menyetujuinya kecuali orang yang menganut faham wahdah wujud (di alam semesta ini hanya ada satu yang wujud atau ada yaitu Allah).

Demikian pula penafsiran Sayyid Qutb untuk sifat Allah istiwa atau berada di atas ‘Arsy. Dia menafsirkan istiwa’ dengan hegomoni dan menguasai. Ini adalah penafsiran yang serupa dengan penafsiran Mu’tazilah dan Asy’ariyyah dan orang-orang yang sejalan dengan mereka. Mereka semua menafsirkan istawa‘ dengan istaula yang bermakna menguasai.

Singkat kata, buku tersebut belum pernah kubaca secara tuntas.
Meski demikian, aku tegaskan bahwa penulis buku tersebut telah meninggal dunia. Jika dia salah karena berijtihad niscaya Allah akan mengampuninya. Orang yang berijtihad dari umat ini jika benar akan mendapat dua pahala. Jika salah dalam berijtihad akan mendapat satu pahala.

Akan tetapi, jika dia salah karena tidak sungguh-sungguh dalam mencari kebenaran maka Allah lah yang mengurusi perkaranya.

Sedangkan untuk kita, sama sekali tidak boleh bagi kita untuk menjadikan prinsip beragama yang dianut seseorang atau buku tafsirnya sebagai pengikat hubungan di antara kita atau menjadikannya sebagai tolak ukur orang yang dicintai atau dibenci sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang pada zaman ini.

Banyak orang yang memiliki prinsip jika ada orang yang menyanjung Sayid Qutb maka dia adalah kekasih (baca:kawan) kita. Jika orang tersebut tidak menyanjung Sayid Qutb maka dia adalah musuh (baca:lawan) kita.

Ini adalah prinsip yang keliru. Kita berharap agar Allah mengampuni Sayid Qutb karena dia adalah bagian dari kaum muslimin yang bisa benar dan bisa salah.

Kita tidak boleh membicarakan pendapatnya yang benar ataupun yang salah untuk dijadikan sebab permusuhan di antara kita.

Buku-buku tafsir yang lain seribu kali lebih baik dari pada tafsir Sayid Qutb. Buku Fi Zhilal Al Qur’an sebenarnya juga bukan buku tafsir sebagaimana yang telah kusampaikan. Penulis hanya berputar di sekeliling makna ayat yang sesungguhnya dengan menggunakan kalimat-kalimat global. Di dalamnya juga terdapat berbagai kekeliruan yang sebagian di antaranya telah kusampaikan. Boleh jadi dalam buku tersebut terdapat kesalahan yang lebih banyak lagi. Karena memang aku belum menelusuri kesalahan-kesalahannya satu persatu.

Hendaknya kaum muslimin berkata tentang dirinya, “Dia sebagaimana manusia yang lain, bisa salah dan bisa benar. Kita berharap agar dia mendapatkan ampunan terkait kesalahan yang dia miliki. Dia telah meninggal dunia. Kita juga tidak memiliki kewenangan sedikit pun tentang nasibnya di akherat”.

Tentang buku tafsirnya, kunasehatkan kepada orang yang ingin mengetahui tafsir Al Qur’an dengan benar agar membaca buku-buku tafsir yang lain yang lebih baik dari pada buku tersebut”.

***
Jawaban Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ini, beliau sampaikan dalam sesi tanya jawab setelah memberikan pengajian di hadapan para mahasiswa Universitas Al Imam Muhammad bin Saud pada malam Rabu tanggal 23 Dzulhijjah 1417 H di aula asrama mahasiswa Universitas Ibni Saud.
Lihat buku Washaya wa Taujihat li Thullab Al Ilmi hal 309-311 terbitan Dar Ibn Al Haitsam Mesir, cetakan pertama tahun 2005.

Kalimat yang ditebalkan di atas adalah dari kami.

Subhanallah, inilah sikap yang bijak terkait dengan Sayid Qutb. Sebagian orang demikian kagum dengan beliau sehingga menjadikan sikap seseorang terhadap Sayid Qutb sebagai tolak ukur orang yang menjadi kawan atau lawannya.

Di sisi lain, ada juga yang demikian benci dengan Sayid Qutb sehingga sikap seseorang terhadap beliau dia jadikan sebagai barometer kawan ataukah lawan.
Orang yang tidak membenci Sayid Qutb, terlebih lagi membelanya adalah ahli bid’ah atau dinilai keluar dari ahli sunnah apapun alasan orang tersebut sehingga tidak membenci dan memusuhi Sayid Qutb.

Padahal boleh jadi orang tersebut bersikap demikian karena dia tidak mengetahui kesalahan-kesalahan beliau. Bahkan sebatas pengetahuannya, Sayid Qutb adalah seorang pembela dan pejuang Islam.

Atau boleh jadi, dia bersikap demikian karena menurutnya apa yang dikatakan oleh sebagian orang sebagai kesalahan Sayid Qutb sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan karena masih bisa dipahami dengan makna dan pemahaman yang baik dan benar.

Karena pada dasarnya kita berkewajiban untuk berbaik sangka dengan seorang muslim dan menafsirkan perkataan seorang muslim dengan penafsiran yang benar selama memungkinkan.

Dua sikap di atas bukanlah sikap yang benar. Yang benar adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Syeikh Ibnu Utsaimin yaitu kita tidak menjadikan sikap seseorang terhadap tokoh tertentu sebagai tolak ukur wala’ wal bara’ atau cinta dan benci atau sebagai parameter ahli sunnah atau ahli bid’ah.

Yang jadi tolak ukur penilaian adalah sikap seseorang terhadap dalil Al Qur’an dan sunnah serta hal-hal yang baku dan permanent dari akidah Ahli Sunnah. Hal-hal baku itulah perkara-perkara yang disepakati oleh para ulama ahli sunah dari zaman ke zaman. Sikap terhadap tokoh tertentu atau pendapat tokoh bukanlah tolak ukur kawan atau lawan, ahli sunnah ataukah bukan.

COMMENTS

WORDPRESS: 29
  • assalamu’alaikum
    ustadz,apa dimaksud dengan ahli bid’ah?seperti apakah kriteria ahli bid’ah?
    boleh saya mengcopy atau mendownload artikel yg ada di situs ini??
    jazakallahu khoir

  • Jazakallah khoiron atas artikelnya ustad! Mudah2an antum tdk ditahzir gara2 artikel ini

  • Abu Muhammad Herman 9 years ago

    جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

  • Inilah sikap wasath, objektif dan adil dalam menilai seseorang, tapi sayang tidak semua yang mengaku bermanhaj salaf menerapkan sikap ini.

  • alhamdulillah cukup mencerakhan ust.. jazakalloh khoir

  • ustadzaris 9 years ago

    Wa’alaikumus salam ya Jaya.
    Hukum asal seorang muslim itu as salamah fil aqidah wal manhaj (baik akidah dan cara beragamanya).
    seorang dinilai keluar dari ahli sunnah jika melakukan satu dari dua hal.
    pertama, menyelisihi ahli sunnah dalam ashl kulli (prinsip beragama yang memuat banyak derivat). misal mengingkari semua sifat khabariyyah (sifat Allah yang hanya diketahui dengan dalil).
    kedua, menyelisihi ahli sunnah dalam masalah cabang (tidak memuat banyak derivat) namun masalah tersebut masyhur di kalangan ulama ahli sunnah sebagai perkara yang membedakan antara ahli sunnah dengan bukan ahli sunnah.
    misal, membolehkan untuk memberontak terhadap penguasa muslim yang zalim.
    demikian keterangan Syeikh Abdul Aziz ar Raisy dalam ceramah beliau yang berjudul ‘Tamassuk bil Kitab was Sunnah’. sebuah ceramah yang sangat bagus yang sangat penting didengarkan oleh para penuntut ilmu.
    Silahkan dikopi dan disebarkan dengan mencantumkan sumber.

  • annas manar 9 years ago

    assalaamu’alaikum

    ustadz minta izin untuk copy artikelnya. jazakumullah

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Annas Manar, Wa’alaikumus salam.
    Silahkan. Moga manfaat dan mendapat pemahaman yang benar, bukan malah salah faham.

  • Ana pernah baca maqolah syaikh kholid ar rodady yg brjudul al-ashl fin näs al jahälah lä al ‘adälah,bgm ust?

  • ustadzaris 9 years ago

    Ada dua hal yang kita bedakan.
    1. hukum asal manusia adalah bodoh dan zalim. dalilnya QS al Ahzab:72
    2. hukum asal muslim assalamah fil aqidah wal manhaj/bersih akidah dan jalan beragama yang dianutnya (perkataan Syeikh Ibrahim ar Ruhaili dalam salah satu fatwanya). atau dengan kata lain, hukum asal seorang muslim adalah kita berbaik sangka kepadanya (penjelasan Syeikh Sholih al Fauzan dalam Ta’liq beliau untuk Aqidah Thahawiyyah).
    Tolong bedakan dua hal ini sehingga kita bisa bijak dalam bersikap. Barokallahu fiikum.

  • hmmm….alhamdulillah

  • Ibnu Sapana 9 years ago

    Alhamdulillah,
    Artikel ini sangat mencerahkan. Mudah-mudahan kita semua bisa bersikap wasatan seperti ini.
    Barakallahu fiikum ya ustadz, keluarga ustadz dan kita semua.

    Ibnu Sapana

  • mujahid 9 years ago

    ummat bisa pecah kalau gini

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Mujahid
    Masak sekedar membawakan fatwa ulama ahli sunnah membuat ‘ummat bisa pecah’?
    Pecah karena fatwa atau karena ada ghuluw dalam bersikap?

  • Budi S. Ari 9 years ago

    Uhibbukum fillah…
    Ustadz .. Msh soal parameter.Contoh lain dari kesalahan yg brsifat parsial(tdk memuat bnyak derivat)selain yg tlah disebutkan diatas,apa ya Ustadz?ana jg blm paham masalah ini.
    Syukran.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Budi
    Misal tidak mengimani hadits tentang mahdi karena suatu syubhat karena karena memiliki kaedah bahwa hadits ahad tidak boleh untuk masalah akidah.

  • abuzaid muhammad 9 years ago

    Inilah sikap wasath, objektif, inshof dan adil dalam menilai seseorang, tapi sayang belum semua yang mengaku bermanhaj salaf menerapkan sikap ini. semoga Allah berikan taufiq kepada kita semua

  • Ummu Haidar 8 years ago

    Bismillaah. Assalamu’alaikum. Ustadz, ana mw tanya, terkait alwala dan albara. Ana pernah memposting suatu artikel di milist,sumber artikel ada dua, yang satu dari blog Ustadz Salaf, yang satu dari blog Ustadz bukan salaf (Ustadz Harokiy,red), tapi keduanya saling mendukung. Kemudian ana diingatkan olh tmn ana utk tidak bermudah2an dlm alwala dan albara,dan katanya pula ahsan tdk menagmbil ilmu dr Ustadz yg blm jelas manhajnya. Maksudnya apa ya Ustadz?Ana sendiri tdk faham,konsep alwala dan albara dlm kasus ana ini. Bukankah mengambil sumber dari seorang ustadz darimanapun berasal, jk itu tdk menyelisihi Qur’an dan As Sunnah itu diperbolehkan ya Ustadz? mohon penjelasan Uztadz. Atas jwaban Ustadz ana ucapkan jazakumullahukhoiir..

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Ummu Haidar
    Menjadikan tulisan tokoh yang ‘bermasalah’ sebagai bahan referensi itu boleh selama kita yakin bahwa ucapan si tokoh tersebut benar berdasarkan timbangan al Qur’an dan sunnah.
    Namun jika menimbulkan pro kontra karena adanya orang-orang yang belum mengetahui duduk permasalahan ini dengan baik maka sebaiknya nama tokoh bermasalah tersebut jangan disebutkan sebagai bentuk hikmah dalam dakwah.

  • Salafy Garut 8 years ago

    Lalu, bagaimana dengan prinsip muwazanah itu ustadz?

  • assalamu alaikum, subhanallah, inilah sikap yang baik…..

    syukran ustadz, ternyata begini ya sikapnya al-utsaimin terhadap sayyid qutb. Ternyata jauh lebih indah ketimbang sebagian orang yang mengaku mengikuti manhaj yang beliau tetapi.
     

  • #ayub
    Betul sekali mas, sangat disayangkan.

  • Assalaamu’alaykum warahmatullah ustadz aris yang saya cintai karena Allah Ta’ala.

    ada beberapa yang ana kurang sependapat dengan artikel ustadz di atas, khususnya bagian yang ini ” kita tidak menjadikan sikap seseorang terhadap tokoh tertentu sebagai tolak ukur wala’ wal bara’ atau cinta dan benci atau sebagai parameter ahli sunnah atau ahli bid’ah”

    dan 

    “Sikap terhadap tokoh tertentu atau pendapat tokoh bukanlah tolak ukur kawan atau lawan, ahli sunnah ataukah bukan”

    karena Imam Al Barbahary berkata :
    “Jika kamu lihat seseorang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Usaid bin Hudlair radliyallahu ‘anhum maka ketahuilah bahwa ia pengikut sunnah –Insya Allah– dan jika kamu lihat seseorang mencintai Ayyub, Ibnu ‘Aun, Yunus bin ‘Ubaid, ‘Abdullah bin Idris Al Audi, Asy Sya’bi, Malik bin Mighwal, Yazid bin Zurai, Mu’adz bin Mu’adz, Wahb bin Jarir, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Malik bin Anas, Al Auza’i, dan Zaidah bin Qudamah maka ketahuilah bahwa ia pengikut sunnah begitu pula jika ada seseorang mencintai Ahmad bin Hanbal, Al Hajjaj bin Al Minhal, Ahmad bin Nashr serta menyebut kebaikan mereka dan berpendapat dengan pendapat mereka maka ketahuilah ia adalah seorang Sunni.” (Syarhus Sunnah 119-121) 

    dan

     imam al-lalika’i berkata di dalam kitabnya syarh ushul i’tiqad ahlu sunnah wal jama’ah : Dari Ja’far bin Muhammad ia berkata, saya mendengar Qutaibah berkata :
    “Apabila kamu melihat seseorang mencintai Ahli Hadits seperti Yahya bin Sa’id dan Abdurrahman bin Mahdi dan Ahmad bin Hanbal serta Ishaq bin Rahawaih –ia menyebut beberapa orang lagi– maka ketahuilah bahwa ia berada di atas Sunnah dan siapa yang menyelisihi mereka maka ketahuilah bahwa ia seorang mubtadi’ (ahli bid’ah).” (Al Lalikai 1/67 nomor 59) 
    bagaimana ustadz?

    jazakallahu khairan. mudah-mudahan Allah selalu menjaga antum untuk selalu tegar di atas sunnah. barakallahu fiekum. 

  • #iib
    Nukilan yang anda sampaikan hanya berlaku untuk ‘imam’ dalam sunnah.
    apakah sayid qutb itu tergolong imam dalam bid’ah?
    Banyak ulama semisal Ibnu Utsaimin, Maufti Saudi sekarang Syaikh Abdul Aziz tidak menilai penyimpangan Sayiq Qutb sudah sampai level menjadikannya sebagai imam dalam bid’ah.

  • jazakallahu khairan atas penjelasannya yang singkat namun jelas dan sesuai yg saya tanyakan. berarti jika ada seseorang baik masa lampau ataupun masa kini yang para ulama sunnah sepakat tentang kebid’ahannya dan memang ia adalah imamnya ahlul bid’ah, cinta dan benci kepadanya bisa dijadikan tolok ukur ahlu sunnahnya seseorang?

  • #iib
    Ya, demikian.
    Namun zhahir perkataan Syaikh Abdul Muhsin al Abbad di Rifqon menunjukkan bahwa beliau melarang imtihan annas bil asykhos secara mutlak di zaman ini mengingat keadaan manusia saat ini.

  • Fatwa-Fatwa Para Ulama Tentang Sayyid Quthb
    Jumat, 15 Oktober 2004 09:33:37 WIB
    FATWA-FATWA PARA ULAMA TENTANG SAYYID QUTHB

    Oleh
    Andy Abu Thalib Al-Atsary

    Penulis buku “Al-Ikhwan Al-Muslimun : Anugrah Allah Yang Terzalimi berkata di halam 50 paragraf 4.

    “Dr. Rabi’ bin Hadi –wafaqahullah- berkata tentang Sayyid Quthb, “Menurut kami, diamnya Sayyid Quthb terhadap bid’ah dan kesesatan karena dua hal. Pertama, ia banyak terlibat di sebagian besar bid’ah itu. Kedua, ia tidak peduli dengan masalah itu asalkan dia sendiri tidak terjerumus di dalamnya”. Itulah perkataan yang dibuat-buat yang sebagiannya telah dibantah masyayikh mereka sendiri”.

    Jawaban.
    Saya berkata : Perkataan penulis diatas adalah dusta. Saya tidak menemukan satupun perkataan masyayikh Ahlus Sunnah yang membantah perkataan Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah. Sebaliknya yang saya temukan adalah pujian dari para ulama kepada Syaikh Rabi’ atas apa yang telah dilakukannya –yakni mengungkap kebatilan pemikiran Sayyid Quthb- dalam buku-buku beliau.

    Berikut saya kutipkan fatwa-fatwa para ulama tentang Sayyid Quthub [1], yang membuktikan bahwa tidak ada satupun ulama Ahlus Sunnah yang membantah Syaikh Rabi, bahkan mereka semua –semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan mereka semua- membenarkan apa yang telah ditulis oleh Syaikh Rabi’ dan mereka semuanya turut membuka kedok Sayyid Quthb.

    Berkata Al-Muhadits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam ta’liq beliau atas khatimah dari kitab Syaikh Rabi hafzhahullah yang berjudul Al-Awashim Mimma fii Kutubi Sayyid Quthb minal Qawashim[2].

    Segala hal yang telah disampaikannya (Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali) tentang Sayyid Quthb benar dan tepat. Dan diantaranya menunjukkan pada semua pembaca tentang pengetahuan ke Islaman, bahwasanya Sayyid Quthb tidak mengetahui tentang Islam baik secara Ushul (dasar) maupun Furu’ (cabang). Maka saya berterima kasih kepada Al-Akh (Syaikh Rabi bin Hadi) atas ditegakkannya kewajiban untuk menjelaskan dan menyingkap akan kejahilan dan penyimpangan (Sayyid Quthub) dari Islam

    Berkata Fadhilatusy Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam sebuah rekaman di Jeddah tertanggal 23/31421H : Pertanyaan : “Sesungguhnya kami sedikit banyak mengetahui tentang Sayyid Quthb, akan tetapi ada satu hal yang kami belum dengar tentangnya. Kami mendengar dari salah seorang thalabul ilmi yang mengatakan : Bahwasanya Sayyid Quthb berbicara tentang wihdatul wujud? Kami mengharap kesediaan Syaikh untuk menjawabnya, terima kasih”.

    Berkata Syaikh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, “Saya sedikit menelaah kitab-kitab Sayyid Quthb dan saya tidak mengetahui tentang orang ini (Sayyid Quthb). Akan tetapi beberapa ulama telah menulis tentang koreksian atas tulisan-tulisan (Sayyid Quthb) dalam Fii Zhilalil Qur’an, dan beberapa tulisan lain tentang hal itu, seperti yang ditulis oleh Syaikh Abdullah Ad-Duwais rahimahullah dan tulisan saudara kami, Syaikh Rabi’ Al-Madkhali, tentang tafsir Sayyid Quthb dan lain-lainnya. Maka barangsiapa yang menghendaki merujunya silahkan”.

    Ditanyakan kepada Syaikh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, “Bagaimana menurut pandangan Anda tentang orang yang menganjurkan para pemuda Sunni untuk membaca buku-buku Sayyid Quthb, diantaranya Fii Zhilalil Qur’an, Ma’alim ala Thariq, dan Limadza A’dzamuni, tanpa menerangkan kesalahan-kesalahan dan kesesatan-kesesatan yang ada di dalamnya?”

    Berkata Syaikh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, “Saya berkata –semoga Allah memberikan barokah kepadamu- bahwasanya nasehat itu bagi Allah dan RasulNya, dan bagi saudaranya muslim. Bahwasanya saya sangat berharap kepada seluruh orang untuk membaca kitab-kitab mutaqadimin dalam masalah tafsir, dan selainnya, karena itu lebih membawa barokah, lebih bermanfaat, dan lebih dari kitab-kitab muta’akahirin. Dan bahwasanya tafsir Sayyid Quthb –semoga Allah merahmatinya- didalamnya terdapat kesalahan –dan saya mengharap Allah akan mengampuninya- : Misalnya tafsirnya tentang Istiwa, tafsir surat (Qul huwallahu ahad), dan juga pensifatannya terhadap para Nabi yang seharusnya pensifatan tersebut tidak dilakukannya” [3]

    Berkata Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ketika ditanyakan tentang pengkafiran orang yang meninggalkan shalat oleh Imam Ahmad dan pengkafiran masyarakat oleh Sayyid Quthb, mengapa keduanya tidak diperlakukan sama ? (Ahlus Sunnah memperlakukan beda antara Imam Ahmad dan Sayyid Quthb?).

    Syaikh Al-Fauzan menjawab, “Imam Ahmad adalah seorang alim, masyhur, mengetahui dalil-dalil dan jalan untuk beristidlal (berdalil), sedangkan Sayyid Quthb adalah jahil, tidak ada padanya ilmu dan pengetahuan, dan dia tidak memiliki dalil dalam perkataannya. Melakukan perbandingan antara Imam Ahmad dan Sayyid Quthb adalah kezhaliman. Bahwasanya pada Imam Ahmad banyak sekali dalil dari Kitab dan Sunnah tentang pengkafiran bagi orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, dan pada Sayyid Quthb tidak ada dalil satupun yang mendasari pengkafiran terhadap masyarakat muslimin secara menyeluruh, bahkan yang ada ada adalah sebaliknya”.

    Ketika Syaikh Al-Fauzan hafizhahullah ditanyakan apakah Sayyid Quthb termasuk dalam golongan mujtahid? Maka beliau menjawab, “Bahwasanya dia (Sayyid Quthb) adalah jahil dan diberi udzur karena kejahilannya. Lalu juga bahwasanya masalah akidah bukanlah majal (bidang)nya ijtihad, tetapi (akidah) adalah majalnya taufiqiyah (berdalil dengan nash)”.

    Berkata Fadhilatush Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr hafizhahullah ketika ditanyakan perihal membaca buku-buku tulisan Sayyid Quthb, beliau menjawab, “Bahwasanya Sayyid Quthb bukan termasuk ulama yang dapat diikuti perkataannya dalam masalah-masalah ilmiyah …” [4]

    Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr ketika ditanya tentang kitab Fii Zhilalil Qur’an, “Kitab Zhilalil Qur’an atau Fii Zhilalil Qur’an yang ditulis oleh Syaikh Sayyid Quthb –semoga Allah merahmatinya- adalah sebuah tafsir baru yang didasarkan atas ra’yu (akal semata), bukan berdasar atas naql (dalil syar’i), dan tidak juga berdasar atas Atsar. Dan sebagaimana telah diketahui bahwa orang-orang rasionalis (ashabu ra’yi), yang mana mereka itu berkata-kata dengan berdasar akal saja akan menghasilkan kesalahan-kesalahan dan keburukan …” [5]

    Berkata Syaikh Hammad Al-Anshary –rahimahullah- ketika ditanya tentang perkataan Sayyid Quthb yang ada di kitabnya Mu’arakah Al-Ra’samaliyah Al-Islamiyah. Syaikh berkata, “Apabila orang ini (Sayyid Quthb) masih hidup maka hendaknya ia bertaubat, maka apabila tidak, dapat dihukumi mati sebagai orang murtad. (Karena) ia telah meninggal maka dijelaskan (pada umat) bahwa perkataannya itu bathil dan kita tidak mengkafirkannya karena kita belum menegakkan hujjah atasnya” [6]

    Berkata Fadhilatu Al-Imam Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya tentang perkataan Sayyid Quthb –semoga Allah mengampuninya- dalam Fii Zhlialil Qur’an ketika Sayyid Quthb menafsirkan ayat (Ar-Rahmanu ala arsy istawa).

    Beliau (Sayyid Quthb) mengatakan, “Dalam hal istiwa di atas Arsy maka hendaknya kita mengatakan : Bahwasanya istiwa’ itu artinya penguasaan (Allah) atas makhluknya” [7]

    Berkata Syaikh Bin Baz rahimahullah, “Semua perkataan di atas adalah perkataan yang fasid. Maksud dari pemaknaan ‘penguasaan’ di sini (pada hakikatnya) mengingkari istiwa’ yang maknanya sudah jelas : Tinggi di atas Arsy. Apa yang dikatakannya (Sayyid Quthb) adalah bathil dan ini menunjukkan bahwa dia miskin dalam (ilmu) tasfir” [8]

    Dan masih banyak lagi fatwa yang sebenarnya bisa saya turunkan di sini, akan tetapi mengingat keterbatasan tempat, saya cukupkan pada fatwa para ulama mu’tabar.

    Hal ini semua membuktikan bahwa apa yang didakwakan oleh penulis bahwa Syaikh Rabi Al-Madkhali hafizhahullah telah dibantah oleh para masyayikh tidak terbukti. Maka wajib bagi penulis untuk mendatangkan bukti yang lebih rajih dan qawwi untuk membantah ini semua.

    Bahkan ada pada saya fatwa-fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhamamd Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Abdullah Al-Ghadyan, Syaikh Muhsin Al-Abbad, Syaikh Hammad Al-Anshari, Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Ubiad Al-Jabiri, Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhali, Syaikh Muhamamd bin Jamil Zainu dan masih banyak lagi fatwa para ulama Ahlus Sunnah yang memberikan bantahan dan juga Jahr wa Ta’dil pada buku-buku Sayyid Quthb.

    [Disalin dari buku Menyingkap Syubhat Dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin Catatan Dan Bantahan Atas Buku Al-Ikhwan Al-Muslimun : Anugerah Allah Yang Terzalimi, Penulis Andy Abu Thalib Al-Atsary, Penerbit Darul Qalam]
    _________
    Foote Note
    [1]. Seluruh fatwa berikut dinukil dari kumpulan fatwa : Bara’atul Ulama Al-Ummah Fii Tazkiyati Ahli Bid’ah wal Madzmummah, disusun oleh Asham bin Abdullah Al-Sanany, Maktabah Al-Furqon Riyadh 2001
    [2]. Fatwa ini berdasar atas tulisan tangan yang ditulis oleh Syaikh Al-Albani di akhir hayat beliau. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajatnya, memuliakannya dan membalas kebiakannya.
    [3]. Majalah Al-Da’wah no. 1591/9 Muharram 1418H dan juga dalam rekaman tertanggal 23/2/1421H
    [4]. Rekaman tertanggal 9/6/1421H
    [5]. Rekaman tertanggal 7/11/1414H
    [6]. Dimuat di Al-Qawashim oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali (hlm, 24) atas rekaman tertanggal 3/1/1415H
    [7]. Lihat Fii Zhilalil Qur’an IV/2328, VI/3408
    [8]. Rekaman tahun 1413H

    http://almanhaj.or.id/content/1099/slash/0/fatwa-fatwa-para-ulama-tentang-sayyid-quthb/