Perluas Cakrawala Anda Tentang Isbal (4): Isbal Tanpa Niat Sombong

Melanjutkan pembahasan terdahulu tentang isbal.

والثانية : إسبال بلا خيلاء . فهذه لها جهتان:

Kedua, isbal tanpa niat menyombongkan diri. Isbal jenis ini ada dua macam.

الأولى : إسبال لحاجة مرض ونحوها . قال البُهُوتي رحمه الله في : ((إرشاد أولي النُّهَى)) (1/76) : ” فإن كان لحاجة أو عِلَّة ككونه حَمْش – بفتح الحاء المهملة وسكون الميم ، وبالشين المعجمة – أي : دقيق الساقين. قال ابن قندس : فَنَصّ أنه لا بأس به . قال في ((الفروع)) : والمراد ولم يرد التدليس على النساء ، ويتوجّه هذا في قصيرة اتخذت رجلين من خشب فلم تُعْرَف ” ا.هـ .

Macam pertama, isbal karena kebutuhan sakit atau semisalnya. Dalam al Irsyad Ulin Nuha 1/76, al Bahuti mengatakan, “Jika karena kebutuhan atau penyakit semisal ukuran betis yang tidak normal maka Ibnu Qundus mengatakan bahwa Imam Ahmad mengatakan bahwa hukumnya adalah tidak mengapa. Dalam al Furu’ disebutkan hukum boleh tersebut jika tidak menyebabkan calon istri tertipu karenanya. Contoh isbal yang menyebabkan orang tertipu adalah seorang laki-laki cebol yang memakai kaki palsu dari kayu dan kayu tersebut tidak terlihat”.

وقال الحافظ في : ((الفتح)) (10/269) : ” ويُسْتثنى من إسبال الإزار مطلقاً : ما أسبله لضرورة كمن يكون بكعبيه جرح مثلاً يؤذيه الذباب مثلاً إن لم يَسْتر بإزاره حيث لا يَجِد غيره . نَبَّه على ذلك شيخنا في : (( شرح الترمذي )). واستدل على ذلك بإذنه صلى الله عليه وسلم لعبد الرحمن بن عوف في لبس القميص الحرير من أجل الحِكَّة . والجامع بينهما جواز تعاطي ما نـهى عنه من أجل الضرورة ، كما يجوز كشف العورة للتداوي” . ا.هـ

Dalam Fathul Bari 10/269, al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Ada yang terkecualikan dari hukum isbal yang mutlak terlarang yaitu isbal karena kondisi darurat semisal ada luka pada mata kaki yang sering dihinggapi oleh lalat hingga mata kaki tidak ditutupi. Dalam kondisi ini diperbolehkan isbal asalkan tidak ada solusi lain kecuali dengan isbal. Demikianlah yang disampaikan oleh guru kami dalam syarah beliau untuk Tirmidzi. Dalil hal ini adalah izin yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikan kepada Abdurrahman bin Auf ketika ia ingin menggunakan gamis sutra dikarenakan terkena penyakit gatal. Titik kesamaan antara bolehnya memakai sutra karena kulit yang gatal dengan boleh isbal karena darurat adalah sama-sama menunjukkan bolehnya melakukan hal yang terlarang dalam kondisi darurat. Contoh yang lain adalah dibolehkannya buka aurat dalam rangka pengobatan .

ومما يدل على صحة هذا الاستثناء ما أخرجه ابن أبي شيبة عن ابن مسعود رضي الله عنه : ( أنه كان يُسْبل إزاره ) فقيل له في ذلك ، فقال :
( إني حَمْش الساقين ) . قال الحافظ في : ((الفتح)) : (10/276) :
” أخرجه ابن أبي شيبة عن ابن مسعود بسند جيد ” . ا.هـ

Di antara dalil yang menunjukkan benarnya pengecualian ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas’ud bahwasanya pakaian beliau isbal. Ketika ada yang menegur, beliau beralasan, “Betis kakiku itu tidak normal”. Dalam Fathul Bari 10/276 al Hafizh mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas’ud dengan sanad yang jayyid”.

ولعل فعل ابن مسعود كان بإذن من الرسول صلى الله عليه وسلم ،

Dimungkinkan dasar dari perbuatan Ibnu Mas’ud ini adalah izin langsung dari Nabi.

يقول ابن عبد البر رحمه الله في : ((التمهيد)) (20/228) : ” فإن قيل : إن ابن مسعود كان يسبل إزاره لما ذكره ابن أبي شيبة عن وكيع عن منصور عن أبي وائل عن ابن مسعود : ( أنه كان يسبل إزاره ) فقيل له ؟ فقال : ( إني رجل حَمْش الساقين) قيل ذلك لَعَلَّهُ أُذِن له كما أُذِن لعرفجة أن يتخذ أنفاً من ذهب فَيَتجمَّل به “.ا.هـ

Dalam at Tamhid 20/228, Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Jika ada yang meragukan terlarangnya isbal dengan mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud itu isbal sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Waki’ dari Manshur dari Abi Wail dari Ibnu Mas’ud bahwasanya beliau itu isbal. Ketika ada yang menegur beliau beralasan, “Aku adalah seorang yang memiliki betis yang tidak normal”. Jawaban untuk sanggahan tersebut adalah dengan kita katakan bahwa boleh jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan Ibnu Mas’ud untuk isbal karena menimbang kondisi beliau sebagaimana Arfajah untuk memasang hidung palsu yang terbuat dari emas sehingga beliau berhias dengan emas (yang pada asalnya terlarang bagi laki-laki, pent).

والثانية : إسبال لغير حاجة مرض ونحوها – قال في : ((الإقناع)) (1/139) : ” ويكره أن يكون ثوب الرجل تحت كعبه بلا حاجة”.

Macam kedua adalah isbal tanpa adanya kebutuhan dikarenakan sakit atau yang semisal. Dalam al Iqna’ 1/139 disebutkan, “Makruh hukumnya jika ujung kain seorang laki-laki berada di bawah mata kaki tanpa ada kebutuhan”.

وجزم به الموفق رحمه الله في : ((المغني)) (2/298) حيث قال : “ويكره إسبال القميص والإزار والسراويل ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بَرفْع الإزار . فإن فعل ذلك على وجه الخيلاء حَرُم ” .ا.هـ ،

Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Qudamah sebagaimana dalam al Mughni 2/298, “Makruh hukumnya gamis, sarung dan celana panjang yang isbal karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meninggikan ujung sarung. Jika itu dilakukan karena sombong maka hukumnya berubah menjadi haram”.

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في: ((شرح العمدة)) (ص361-362) : “وهو اختيار القاضي وغيره . وقال في رواية حنبل : جر الإزار وإرسال الرداء في الصلاة إذا لم يرد الخيلاء لا بأس به . وقال : ما أسفل من الكعبين في النار ، والسراويل بمنـزلة الرداء لا يجر شيئاً من ثيابه .

Dalam Syarh Umdatul Fiqh hal 361-362, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Itulah pendapat yang dipilih al Qadhi Abu Ya’la dan yang lain. Menurut penuturan Hanbal Imam Ahmad pernah mengatakan, “Menyeret ujung sarung dan jubah yang isbal dalam shalat jika tanpa maksud menyombongkan diri hukumnya tidak mengapa (baca: mubah)”. Di sisi lain Imam Ahmad juga pernah mengatakan, “Ujung kain yang ada di bawah mata kaki itu di neraka. Celana panjang itu seperti jubah. Tidak boleh sama sekali menyeret kain”.

ومن أصحابنا من قال : لا يحرم إذا لم يقصد به الخيلاء لكن يكره . وربما يستدل بمفهوم كلام أحمد في رواية ابن الحكم في جر القميص والإزار والرداء سواء إذا جَرَّه لموضع الحُسْن ليتزين به : فهو الخيلاء، وأما إن كان من قبحٍ في الساقين كما صنع ابن مسعود ، أو علة ، أو شيء لم يتعمده الرجل : فليس عليه من جَرّ ثوبه خيلاء ، فنفى عنه الجر خيلاء فقط ” .ا.هـ

Di antara Hanabilah (ulama bermazhab Hanbali) ada yang berpendapat bahwa isbal tanpa maksud menyombongkan diri hukumnya tidak haram namun makruh. Boleh jadi mereka beralasan dengan apa yang bisa dipahami dari perkataan Imam Ahmad sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnul Hakam tentang hukum menyeret ujung jubah atau sarung jika itu dilakukan untuk berhias mengingat betisnya normal maka Imam Ahmad mengatakan bahwa itulah kesombongan. Akan tetapi jika isbal dilakukan dikarenakan ukuran betis yang tidak normal sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Mas’ud atau karena penyakit atau faktor lain yang bernilai tidak murni sengaja maka itu tidak termasuk menyeret kain karena kesombongan. Di sini Imam Ahmad hanya mengatakan bahwa perbuatan semacam tu bukanlah kesombongan”.

والقول بعدم التحريم هو معتمد المذاهب الأربعة والكراهة مشهورة عن الفقهاء ،

Tidak haramnya isbal jika tanpa niat menyombongkan diri adalah pendapat resmi dari empat mazhab. Setelah itu pendapat yang terkenal di antara para pakar fikih adalah makruhnya isbal tanpa niat menyombongkan diri.

قال السهارنفوري رحمه الله في : ((بذل المجهود)) (16/411) :
” قال العلماء : المستحب في الإزار والثوب إلى نصف الساقين ، والجائز بلا كراهة ما تحته إلى الكعبين ، فما نـزل عن الكعبين فهو ممنوع . فإن كان للخيلاء فهو ممنوع منع تحريم وإلا فمنع تنـزيه ” .ا.هـ

Dalam Badzlul Majhud 16/411, as Saharanfuri mengatakan, “Para ulama (artinya terkenal di antara kalangan para ulama, pent) bahwa yang dianjurkan adalah ujung sarung atau ujung kain itu hanya sampai pertengahan betis. Mubah tanpa makruh jika ujung kain berada di bawah pertengahan betis sampai mata kaki. Sedangkan jika berada di bawah mata kaki maka hukumnya adalah terlarang. Jika karena kesombongan maka hukumnya haram. Jika tidak maka hukumnya adalah makruh”.

وبه جزم جماعة ، ومنهم : النووي رحمه الله في : ((المنهاج)) (14/88) حيث قال : ” فما نـزل عن الكعبين فهو ممنوع ، ، فإن كان للخيلاء فهو ممنوع منع تحريم وإلا فمنع تنـزيه ” .

Hukum makruh adalah hukum yang ditegaskan oleh sejumlah ulama, diantaranya adalah an Nawawi. Dalam al Minhaj 14/88 Nawawi mengatakan, “Ujung kain yang berada di bawah mata kaki itu terlarang. Jika karena sombong maka hukumnya adalah haram. Jika tidak maka hukumnya adalah makruh”.

والحافظ في : ((الفتح)) (10/275) حيث قال : ” فلا يَحْرم الجر والإسبال إذا سَلِم من الخيلاء ” .

Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 10/275 mengatakan, “Menyeret kain dan isbal itu tidak haram jika pelakunya terbebas dari niat menyombongkan diri”.

والشوكاني رحمه الله في : ((نيل الأوطار)) (1/640) حيث قال : “وظاهر قوله (خيلاء) يدل بمفهومه أن جَرّ الثوب لغير الخيلاء لا يكون داخلاً في هذا الوعيد ” ثم قال : “وبهذا يَحْصل الجمع بين الأحاديث وعدم إهدار قيد الخيلاء المُصرَّح به في الصحيحين ” وقال : ” وحمل المطلق على المقيد واجب ” .ا.هـ

Dalam Nailul Author 1/640, Syaukani mengatakan, “Sabda Nabi, ‘karena sombong’ menunjukkan bahwa menyeret kain tanpa maksud menyombongkan diri itu tidak termasuk dalam ancaman”. Beliau juga mengatakan, “Dengan pendapat ini maka kita bisa memadukan berbagai hadits yang ada dan tidak menghilang-hilangkan syarat yang Nabi tegaskan dalam Sahih al Bukhari dan Muslim yaitu karena sombong”. Beliau juga mengatakan, “Menafsirkan dalam yang mutlak dengan dalil yang bersyarat hukumnya adalah wajib”.

فالإسبال مذموم لكن ذم تحريمٍ إذا كان لخيلاء ، وذم كراهةٍ إذا كان لغير خيلاء : عند القائلين بالكراهة كالنووي وغيره ، وهو ظاهر كلام ابن عبد البر رحمه الله

Jadi isbal itu tercela namun celaannya itu bermakna haram jika karena sombong dan bermakna makruh jika tanpa niat menyombongkan diri. Demikian menurut para ulama yang mengatakan adanya hukum makruh bagi isbal semisal an Nawawi. Pendapat ini merupakan kesimpulan yang paling mendekati dari perkataan Ibnu Abdil Barr.

في : ((التمهيد)) (3/244) حيث قال فيه : “وهذا الحديث – يعني حديث ابن عمر : (( لا ينظر الله عز وجل يوم القيامة إلى من جَرَّ ثوبه خيلاء)) – يدل على أن من جَرّ إزاره من غير خيلاء ، ولا بَطَر : أنه لا يَلْحقه الوعيد المذكور، غير أن جَرّ الإزار والقميص وسائر الثياب مذموم على كل حال . وأما المستكبر الذي يجر ثوبه فهو الذي ورد فيه ذلك الوعيد الشديد “.ا.هـ

Dalam at Tamhid 3/244, Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Hadits ini- yaitu hadits Ibnu Umar yang isinya pada hari Kiamat Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kainnya karena sombong- menunjukkan bahwa orang yang menyeret kainnya tanp maksud menyombongkan diri maka dia tidak terancam dengan ancaman yang ada dalam hadits di atas. Meskipun menyeret ujung sarung, gamis dan semua bentuk pakaian itu tercela apapun maksud hatinya. Sedangkan orang yang menyeret kainnya dengan niat menyombongkan diri itulah yang terancam dengan ancaman keras yang ada dalam hadits tersebut”.

ودليل الكراهة ما قرره شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في : ((شرح العمدة)) (ص364-365) بقوله : “وَمَن كره الإسبال مطلقاً : احتج بعموم النهي في ذلك ، والأمر بالتشمير ،

Dalil ulama yang mematuhkannya adalah apa yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Syarh Umdatul Fiqh hal 364-365. Beliau mengatakan, “Ulama yang mengatakan adanya hukum makruh bagi isbal beralasan dengan larangan isbal yang bersifat umum dan adanya perintah untuk meninggikan ujung kain.

فعن أبي جري جابر بن سليم الهجيمي قال : ( رأيت رجلاً يصدر الناس عن رأيه لا يقول شيئاً إلا صَدَروا عنه ، فقلت : من هذا ؟ قالوا : رسول الله صلى الله عليه وسلم قلت : عليك السلام يا رسول الله مرتين . قال : لا تقل : عليك السلام ، عليك السلام تحية الميت !

Dari Abu Jaryi Jabir bin Salim al Hujaimi beliau mengatakan, “Aku melihat ada seorang yang menyampaikan pendapatnya kepada banyak dan semua mereka mendengarkan apa yang dia sampaikan dengan penuh seksama”. Aku lantas bertanya kepada salah seorang yang ada di tempat tersebut, “Siapakah dia?”. Orang yang kutanyai mengatakan, “Dia adalah utusan Allah”. Aku lantas berkata, “Alaikassalam ya rasulullah” sebanyak dua kali. Beliau bersabda, “Jangan ucapkan alaikassalam karena itu adalah ucapan salam kepada mayit (ketika melewati kuburan)”.

قلت : أنت رسول الله ؟ قال : أنا رسول الله ، الذي إذا أصابك ضُرّ فدعوته كشفه عنك ، وإن أصابك عام سنة فدعوته انبتها لك ، وإذا كنت بأرض قفر أو فلاة فَضَلَّت راحلتك فدعوته ردَّها عليك

Aku berkata, “Engkau utusan Allah?” Beliau bersabda, “Aku memang utusan Allah. Dialah zat yang jika engkau tertimpa kesusahan lalu engkau berdoa kepadanya maka dia akan menghilangkan kesusahanmu. Jika anda mengalami kekeringan lalu anda berdoa kepadanya maka dia akan menghilangkan kekeringan yang melanda. Jika anda berada di tengah padang pasir lalu ontamu hilang kemudian anda berdoa
kepadanya maka dia akan mengembalikan ontamu kepadamu”.

. قال : قلت : اعهد إليّ . قال : لا تَسُبَّنَّ أحداً . قال : فما سببتُ بعده حراً ولا عبداً ولا بعيراً ولا شاة .

Aku berkata, “Berilah aku pesan!”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah engkau mencaci apapun”. Sejak saat itu aku tidak pernah mencaci orang baik merdeka ataupun budak ataupun onta dan kambing.

قال : ولا تحقرن من المعروف ، ولو أن تُكَلِّم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك إن ذلك من المعروف، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار فإنها من المخيلة وإن الله لا يحب المخيلة

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah meremehkan kebaikan meski hanya sekedar berwajah ceria karena itu termasuk kebaikan. Tinggikan ujung sarungmu sampai pertengahan betis. Jika tidak mau maka minimal adalah sedikit di atas mata kaki. Jangan isbal karena isbal itu menyebabkan kesombongan sedangkan Allah tidak menyukai kesombongan”.

. وإن امرؤ شتمك وعَيَّرك بما يعلم فيك فلا تُعيِّره بما تعلم فيه فإنما وبال ذلك عليك ) رواه الخمسة إلا ابن ماجه ، وقال الترمذي: حسن صحيح

Jika ada orang yang mencelamu dengan kekurangan yang memang ada pada dirimu maka janganlah engkau membalas dengan mencela dengan kekurangan yang kau ketahui memang ada pada dirinya karena itu adalah mala petaka atasmu” (HR lima kitab hadits kecuali Ibnu Majah. Tirmidzi mengatakan, “Hasan Sahih”).

وعن عبد الله بن عمر قال : ( مررت على رسول الله صلى الله عليه وسلم وفي إزاري استرخاء ، فقال : يا عبد الله ارفع إزارك فرفعته . ثم قال : زد فزدت ، فما زلت أتحراها بعد . فقال له بعض القوم : إلى أين ؟ قال : إلى أنصاف الساقين ) رواه مسلم ،

Dari Abdullah bin Umar, beliau bercerita, “Aku berjalan melintas di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan ujung sarungku terjuntai di bawah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Hei Abdullah, tinggikan ujung sarungmu” lalu kutinggikan. Beliau bersabda, “Tinggikan lagi” lalu kutinggikan lagi. Sejak saat itu ujung kainku selalu kutepatkan pada posisi tersebut. Ada yang bertanya, “Sampai mana?”. Ibnu Umar berkata, “Pada pertengahan betis” (HR Muslim).

وعن ابن الحنظلية قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
(( نعم الرجل خريم الأسدي لولا طول جمته وإسبال إزاره إلى أنصاف ساقيه )) رواه أحمد وأبو داود ؛

Dari Ibnu al Hanzhalah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Kharim al Asady andai rambutnya tidak gondrong dan ujung sarung hanya sampai pertengahan betis” (HR Ahmad dan Abu Daud).

ولأن الإسبال مَظِنّة الخيلاء فكُرِه كما كُرِه مظان سائر المحرمات ” انتهى .

Sedangkan alasan logika adalah isbal merupakan sumber munculnya kesombongan dan semua yang menjadi sumber terjadinya hal yang haram hukumnya adalah makruh”.

إلا أن القول بالتحريم هو المتَّجَه ، وظاهر حديث أبي هريرة : (( ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار )) أخرجه البخاري وغيره : ونحوه يَدُلّ على ذلك، إذ لا تقييد فيه بالخيلاء .

Namun pendapat yang tepat adalah pendapat yang mengharamkan isbal secara mutlak. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kain yang ada di bawah mata kaki itu letaknya di neraka” (HR Bukhari). Hadits ini dan semisalnya menunjukkan bahwa isbal tanpa sombong sekalipun hukumnya adalah haram karena dalam hadits tersebut tidak persyaratan sombong.

قال الحافظ في :((الفتح))(10/275 ): “وأما الإسبال لغير الخيلاء فظاهر الأحاديث تحريمه ”

Dalam Fathul Bari 10/275, Ibnu Hajar mengatakan, “Makna tekstual dari hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwa hokum isbal tanpa niat menyombongkan diri adalah haram”.

ثم قال : ” ويَتَّجه المنع أيضاً في الإسبال من جهة أخرى وهي كونه مظنة الخيلاء .

Beliau juga mengatakan, “Alasan lain untuk terlarangnya isbal adalah karena isbal itu dimungkinkan secara kuat sebagai sebab munculnya kesombongan”.

قال ابن العربي : ( لا يجوز للرجل أن يجاوز بثوبه كعبه ، ويقول : لا أجُرُّه خيلاء ؛ لأن النهي قد تناوله لفظاً، ولا يجوز لمن تناوله اللفظ حكماً أن يقول لا أمتثله لأن تلك العلة ليست فيّ ، فإنها دعوى غير مُسلَّمة ، بل إطالته ذيله دَالَّة على تكبُّره ) ا.هـ ، ملخصاً

Ibnul Arabi mengatakan, “Tidak boleh ada seorang laki-laki yang menjulurkan ujung kainnya sehingga berada di bawah mata kaki lalu mengatakan bahwa aku tidaklah menyeretnya karena sombong. Alasannya redaksi hadits mencakup semua bentuk isbal. Ketika redaksi suatu dalil mencakup suatu perbuatan lalu ada yang mengatakan bahwa aku tidak termasuk orang yang harus mentaati dalil tersebut karena makna larangan tidak terdapat pada diriku. Ini adalah klaim yang tidak bisa diterima. Bahkan termasuk bentuk kesombongan adalah perbuatannya memanjangkan kainnya”

. وحاصله أن الإسبال يستلزم جَرّ الثوب ، وجَرّ الثوب يستلزم الخيلاء ولو لم يقصد اللابس الخيلاء. ويُؤَيِّده ما أخرجه أحمد بن منيع من وجه آخر عن ابن عمر في أثناء حديث رفعه : (( وإياك وجَرّ الإزار ، فإن جَر الإزار من المخيلة )) ” انتهى المراد من كلام الحافظ رحمه الله.

Simpulan dalam masalah ini, isbal adalah sarana yang menyebabkan orang itu menyeret kainnya sedangkan menyeret kain itu menyebabkan kesombongan meski pada awalnya pelaku tidak bermaksud untuk menyombongkan diri. Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’ dengan sanad yang berbeda dari Ibnu Umar di tengah-tengah sebuah hadits yang marfu’. Dalam hadits tersebut Nabi mengatakan, ‘Hindarilah menyeret kain karena menyeret kain itu menyebabkan kesombongan”. Demikianlah perkataan Ibnu Hajar.

– Bersambung insya Allah –

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 4
  • Blognya sudah mulai seru nih…
    Ayo ustadz, mbok isi blognya seperti isi materi di berbagai kajian fiqh antum…
    Kalau banyak analisisnya di blog , kan seru juga…^^

  • Jika isbal karena penyakit “…Dalam Fathul Bari 10/269, al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Ada yang terkecualikan dari hukum isbal yang mutlak terlarang yaitu isbal karena kondisi darurat semisal ada luka pada mata kaki yang sering dihinggapi oleh lalat hingga mata kaki tidak ditutupi…” terus terang ana bisa memahami, ustadz.

    Tapi kalau
    ومما يدل على صحة هذا الاستثناء ما أخرجه ابن أبي شيبة عن ابن مسعود رضي الله عنه : ( أنه كان يُسْبل إزاره ) فقيل له في ذلك ، فقال :
    ( إني حَمْش الساقين ) . قال الحافظ في : ((الفتح)) : (10/276) :
    ” أخرجه ابن أبي شيبة عن ابن مسعود بسند جيد ” . ا.هـ
    Di antara dalil yang menunjukkan benarnya pengecualian ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas’ud bahwasanya pakaian beliau isbal. Ketika ada yang menegur, beliau beralasan, “Betis kakiku itu tidak normal”. Dalam Fathul Bari 10/276 al Hafizh mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas’ud dengan sanad yang jayyid”.
    ولعل فعل ابن مسعود كان بإذن من الرسول صلى الله عليه وسلم ،
    Dimungkinkan dasar dari perbuatan Ibnu Mas’ud ini adalah izin langsung dari Nabi…”

    Sementara ana pernah membaca di artikel abul jauzaa’ (http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/beberapa-faedah-hadits-amru-bin-syariid.html), kurang lebih seperti ini


    حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَيْسَرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ عَمْرَو بْنَ الشَّرِيدِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَ رَجُلًا مِنْ ثَقِيفٍ حَتَّى هَرْوَلَ فِي أَثَرِهِ حَتَّى أَخَذَ ثَوْبَهُ فَقَالَ ارْفَعْ إِزَارَكَ قَالَ فَكَشَفَ الرَّجُلُ عَنْ رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَحْنَفُ وَتَصْطَكُّ رُكْبَتَايَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ خَلْقِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَسَنٌ قَالَ وَلَمْ يُرَ ذَلِكَ الرَّجُلُ إِلَّا وَإِزَارُهُ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ حَتَّى مَاتَ
    Telah menceritakan kepada kami Rauh : Telah menceritakan kepada kami Zakariyyaa bin Ishaaq : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Maisarah : Bahwasannya ia pernah mendengar ‘Amr bin Syariid menceritakan dari ayahnya : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengikuti seorang laki-laki dari Tsaqiif dengan berlari-lari kecil hingga beliau memegang pakaian yang dikenakan orang tersebut. Lalu beliau bersabda : “Angkatlah kain sarungmu !”. Perawi berkata : Maka laki-laki tersebut menyingkap kedua lututnya seraya berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kakiku bengkok dan saling beradu kedua lututku tersebut (yaitu : cacat – Abul-Jauzaa’)”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Setiap ciptaan Allah ‘azza wa jalla itu baik”. Perawi berkata : Maka orang tersebut tidak pernah terlihat sejak itu melainkan kain sarungnya hanya sampai pertengahan betisnya hingga ia meninggal dunia” [Al-Musnad, 4/390]…”

    Di sini shahabat tersebut mendapat perintah langsung dari Rasululloh (dan orang yang mengetahui adalah hujjah bagi orang yang tidak tahu), sementara Ibnu Mas’ud barulah ‘dugaan’ (Dhon) bahwa perbuatannya tersebut diketahui dan diizinkan Rasululloh, padahal illatnya sama (cacat pada betis).

    Kemudian arti penggalan hadits berikut …

    قال : ولا تحقرن من المعروف ، ولو أن تُكَلِّم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك إن ذلك من المعروف، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار فإنها من المخيلة وإن الله لا يحب المخيلة
    Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah meremehkan kebaikan meski hanya sekedar berwajah ceria karena itu termasuk kebaikan. Tinggikan ujung sarungmu sampai pertengahan betis. Jika tidak mau maka minimal adalah sedikit di atas mata kaki. Jangan isbal karena isbal itu menyebabkan kesombongan sedangkan Allah tidak menyukai kesombongan”.

    Setahu ana (kebetulan punya terjemahan Riyadlush Sholihin, yang diterjemahkan oleh Ust. Agus Hasan Bashori) lafadz “من” itu diartikan “merupakan bagian“, bukan “menyebabkan”. Jadi “isbal itu merupakan salah satu bentuk/bagian kesombongan (illatnya di sini), walaupun pelakunya tidak berniat sombong.

    ‘Afwan ustadz, setahu ana jika telah ada dalil nash, maka gugurlah semua pendapat/ijtihad, sebagaimana ucapan Imam Malik bin Anas rohimahullah, “Setiap orang bisa diambil/dibuang ucapannya kecuali shohib hadzal qubr (rosululloh shollallohu ‘alayhi wa ‘alaa aalihi wa sallam).” Juga ucapan imam2 lain yang semakna.

    Ana setuju2 saja kalo ustadz menerangkan semua pendapat 2 yg ada. Tetapi alangkah baiknya bila di akhir pembahasan disampaikan mana pendapat yang musti kita ikuti, terlebih dalam masalah ini nash yang ada saya kira cukup sharih.

    Ana tidak bermaksud menafikan pendapat2 para imam (yang ilmunya sangat jauh sekali di atas ana), karena mungkin saja ada udzur2 yg menyebabkan mereka membolehkan isbal bila tanpa disertai kesombongan walaupun tidak ada alasan mendesak. Hanya saja Rosululloh lebih kami cintai daripada siapapun.

    Wallohu a’lam

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Saad
    1. min dalam hadits tersebut bisa dimaknai dengan min sababiyyah yang diterjemahkan dengan ‘menyebabkan’. Itulah makna yang diberikan oleh Ibnu Hajar al Asaqalani. Tolong baca tulisan masalah isbal di atas secara utuh dan seksama.
    2. Tolong baca “perluaslah cakrawala” no pertama. Tolong jangan membuat kesimpulan sebelum membaca seri tulisan tersebut secara utuh dari 1-5.

  • Subhanalloh, jazakallohu khoyr ustadz, atas tegurannya…
    ‘Afwan, ana memang terlalu terburu2.