Pengrusak Umat

Hukum Hormat Bendera
Yang Dimaksud Sunni dan Syi’ah
Kelompok yang Mengingkari Malaikat

Kerusakan yang terjadi di dunia ini hanya disebabkan ulah tiga jenis manusia sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin Mubarok.

Beliau mengatakan dalam syairnya,

Kuyakini dosa itu mematikan hati
Terus menerus melakukan dosa hanya menyebabkan kehinaan
Meninggalkan dosa adalah sebab hidupnya hati
Yang lebih baik bagimu adalah menjauhi dosa
Tidaklah pengrusak agama melainkan para raja
Demikian pula ulama’ jahat dan para ahli ibadah

Para raja (baca: pejabat) yang jahat itu menentang dan melawan syariat dengan dengan kedok kepentingan politik. Mereka lebih mengutamakan logika-logika politik dari pada hukum Alloh dan rasulNya.

Sedangkan ulama’ su’ (jahat) yaitu ulama yang telah keluar dari koridor syariat dengan bertopeng pendapat dan analog yang rusak karena pendapat dan analog tersebut berisikan penghalalan hal-hal yang diharamkan oleh Alloh dan rasulNya, mengharamkan yang dimubahkan, menganggap yang tidak Alloh anggap, tidak menganggap yang Alloh anggap, membatasi hal-hal yang tidak Alloh batasi dan membebaslepaskan hal-hal yang Alloh batasi serta perbuatan-perbuatan lain semisal di atas.

Ahli ibadah yang dimaksudkan adalah orang-orang sufi yang tidak faham hukum-hukum agama. Mereka menentang syariat dan iman dengan perasaan, intuisi, imajinasi dan kasyaf yang batil, berasal dari setan. Semuanya mengandung menetapkan aturan agama yang tidak Alloh izinkan, membatalkan agama yang Alloh tetapkan melalui lisan rasulNya. Mereka tukar iman dengan tipuan setan dan kepuasan diri pribadi.

Golongan pertama memiliki prinsip jika logika politik bertabrakan dengan syariat maka kami akan mendahulukan politik. Sedangkan golongan kedua berpedoman jika logika bertentangan dengan aturan wahyu maka kami akan mengedepankan logika kami. Di sisi lain golongan ketiga menegaskan jika kasyaf dan perasaan tidak sejalan dengan aturan syariat maka kami akan menomersatukan perasaan dan kasyaf (Syarh Aqidah Thohawiyyah, Ibnu Abil ‘Izz al Hanafi 1/235-236).
Terkait bahaya ulama yang jahat Ibnul Qoyyim mengatakan, “Ulama-ulama’ yang jahat itu duduk di depan pintu surga. Mereka ajak manusia ke surga dengan ucapan mereka namun mereka ajak manusia ke neraka dengan amal perbuatan mereka sendiri. Setipa kali mulutnya bicara kepada manusia, “Ayo masuk surga” tindak tanduknya mengatakan, “Jangan dengarkan omongannya”. Seandainya yang mereka dakwahkan adalah sebuah kebenaran tentu mereka adalah orang yang pertama kali menerima ajakan tersebut. Secara penampilan mereka adalah penunjuk jalan padahal sebenarnya mereka adalah para perampok” (al Fawaid hal 67).
Ulama su’ (ulama yang jahat) orang yang bermaksud dengan ilmu yang dimiliki untuk bisa bersenang-senang dengan nikmat dunia dan ilmu tersebut bisa jadi sarana mendapatkan kedudukan di mata orang-orang yang memiliki dunia.

Nabi bersabda, “Sungguh ada yang lebih aku takutkan bahayanya bagi kalian dari pada dajjal”. Ada yang bertanya, “Apa itu?” Nabi bersabda, “Pemimpin (dalam agama) yang menyesatkan” (HR Ahmad dari Abu Dzar dengan sanad yang jayyid).
Abu Darda’ mengatakan, “Seorang itu tidak bisa disebut ulama’ sampai mengamalkan ilmu yang dimilikinya” (Ibnu Hibban dalam Raudhotul ‘Uqala’).
Al Hasan al Bashri berkata, “Barang siapa yang berambah ilmu namun makin rakus dengan dunia maka ilmunya tersebut hanya menyebabkannya makin jauh dari Alloh” (Ibnu Hibban dalam Raudhotul ‘Uqala’)
Umar bin Khotob mengatakan, “Yang paling aku khawatirkan terhadap umat ini adalah adanya munafik yang berilmu”. Ada yang bertanya, “Bagaimana munafik bisa menjadi seorang yang berilmu?” Beliau mengatakan, “Itulah seorang yang lisannya adalah lisan orang yang berilmu namun hati dan amalnya adalah hati dan amal orang yang bodoh”.
Al Hasan al Bashri mengatakan, “Janganlah engkau menjadi orang yang mengumpulkan ilmu para ulama’, perkataan orang-orang yang bijak namun amalnya adalah amal orang yang tidak faham agama”.
Ada seorang yang bertanya kepada Ibrahim bin ‘Uyainah, “Siapakah orang yang paling menyesal?” Beliau berkata, “Untuk di dunia adalah orang yang berbuat baik kepada orang yang tidak tahu berterima kasih. Sedangkan pada saat kematian adalah seorang yang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya”.
Sufyan ats Tsauri berkata, “Ilmu itu mengajak untuk diamalkan. Jika ajakannya tidak direspon maka dia akan pergi”.
Abdullah bin Mubarok mengatakan, “Seorang itu dinilai sebagai orang yang berilmu selama masih mau menuntut ilmu. Jika dia sudah beranggapan bahwa dirinya berilmu maka sebenarnya dia adalah orang yang bodoh”.
Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Sungguh aku kasihan dengan tiga jenis manusia, seorang pembesar yang menjadi hina, orang kaya yang jatuh miskin dan seorang ulama’ yang menjadi bulan-bulanan dunia”.
Al Hasan al Bashri mengatakan, “Hukuman untuk ulama adalah dengan memiliki hati yang mati. Sedangkan hati akan menjadi mati dikarenakan mencari dunia dengan amal akherat”. Beliau lantas bersyair,
Aku heran dengan orang yang menukar hidayah dengan kesesatan.
Namun orang yang menukar agama dengan dunia, aku lebih heran.
Lebih heran lagi adalah orang yang menukar agamanya dengan dunia orang lain.
Yang satu ini lebih mengherankan lagi”.
Umar bin al Khotob berkata, “Jika kalian melihat seorang ulama yang cinta dunia maka waspadailah agama kalian. Setiap orang yang cinta itu akan tenggelam dalam yang dia cintai”.
Ada seorang ulama salaf yang berkirim surat kepada rekannya berisi untaian nasehat, “Engkau telah diberi ilmu, janganlah kau padamkan cahaya ilmumu dengan kegelapan dosa. Akhirnya engkau berada dalam kegelapan sedangkan orang-orang yang berilmu berjalan dengan cahaya ilmu mereka”.

Dari Usamah bin Zaid, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada seorang yang didatangkan pada hari kiamat lalu dicampakkan ke dalam neraka. Isi perutnya keluar lalu orang tersebut mengitarinya sebagaimana keledai mengelilingi alat penggiling gandum. Penduduk neraka lantas mengerumuninya lalu bertanya, “Ada apa dengan dirimu?” Dia berkata, “Dahulu aku mengajak berbuat baik namun aku sendiri tidak pernah melakukannya. Aku juga melarang kejelekan tetapi malah kulanggar sendiri” (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan betapa besar siksaan yang dirasakan oleh orang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya. Hal ini disebabkan dia melakukan maksiat dalam keadaan tahu.

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 7
  • Fahrul 8 years ago

    Assalamu`alaikum
    Ustadz Ari ana minta izin menyalin dan/atau menyebarluaskan supaya menjadi rujukan ana dalam menuntut ilmu.

  • Bukannya sufi lebih mencintai akhirat?
    Dan tidak semua sufi sesat. Syaikh Junaid Al baghdadi rohimahulloh menomor satukan Al Qur’an dan hadist, yang bertentangan dengan keduanya beliau tolak. Nasehat saya-Uushiinii nafsii wa iyyaakum- hati-hati mengklaim orang lain sesat, bagaimana jika yang kita sesatkan adalah kekasih Allah? WaAllahua’lam:)

  • Fahrul 8 years ago

    @LFH
    Saya tak tahu apa sufi yang anda anut,tapi untuk manhaj sufi yang tak sesuai  Al_Qur`an danSunnah menurut Pemahaman Salafush Shalih maka dia termasuk sesat. Bukankah sebagian tarekat  sufi sangat mengagumi ajaran2 yang melanggar agama buktinya sampai ada tokoh sufi yang mengaku telah mencapai tingkat kesempurnan tak perlu shalat la. Tolong perhatikan lagi!

  • ummu hanif 8 years ago

    assalamu’alaykum ustadz, jazakallah atas ilmunya. ana saat ini sedang butuh artikel khusus  tentang tidak bolehnya mempelajari ilmu filsafat. semoga ustadz dpt membantu

  • Tommi 8 years ago

    Mengklaim bahwa seseorg itu adalah kekasih Allah tidaklah bisa asal maen tunjuk. Dia haruslah berdasarkan dalil seperti kita telah tahu bahwa Nabi Ibrahim Alaihi Salam adalah kekasih Allah dari dalil2 Al qur’an.
     
    Saya malah ingin bertanya pd yg mendalami praktik sufi, seperti apa sih kriteria seseorg disebut wali Allah? Apa dia harus bisa terbang? berjalan di atas air? bisa mengurung jin dan kuntilanak didalam botol? atau spt ini —> sholat dzuhur di rumahnya tetapi ketika sholat ashar dia bisa dalam sekejab sholat di masjidil haram? Malah ada yg pernah bilang ke saya, org sufi itu klo udh sampai tingkat ma’rifatullah tidak dibebani lg dengan syari’at, dia bisa mengenal Allah karena Allah sudah menyatu dengan dirinya (hululiyah).

  • Assalamu`alaikum Ustadz Ari ana minta izin menyalin dan/atau menyebarluaskan supaya menjadi rujukan ana dalam menuntut ilmu.