Saat ada yang mengajukan kepada Syaikh Hasan al Bana mengenai hukum tawassul beliau memberikan jawaban sebagai berikut,
يا أخي، إني لست بعالم، ولكني رجل مدرس مدني أحفظ بعض الآيات، وبعض الأحاديث النبوية الشريفة وبعض الأحكام الدينية من المطالعة في الكتب، وأتطوع بتدريسها للناس. فإذا خرجت بي عن هذا النطاق فقد أحرجتني، ومن قال لا أدري فقد أفتى، فإذا أعجبك ما أقول، ورأيت فيه خيرا، فاسمع مشكورا، وإذا أردت التوسع في المعرفة، فسل غير من العلماء والفضلاء المختصين، فهم يستطيعون إفتاءك فيما تريد، وأما أنا فهذا مبلغ علمي، ولا يكلف الله نفسا إلا وسعها
“Wahai saudaraku, aku bukanlah ulama. Aku hanyalah seorang guru umum yang hafal beberapa ayat al Qur’an, beberapa hadits serta beberapa hukum agama melalui telaah terhadap beberapa buku. Dengan senang hati dan suka rela kuajarkan hal-hal tersebut kepada banyak orang.
Jika kau paksa aku untuk keluar dari koridor di atas maka engkau telah menyusahkanku.
Siapa yang mengatakan ‘saya tidak tahu’ sungguh dia juga telah berfatwa.
Jika engkau menyukai ceramah yang kusampaikan dan kulihat ada kebaikan padanya maka aku berterima kasih atas kesediaan anda untuk mendengarkan ceramahku.
Jika engkau mendapatkan pengetahuan agama yang luas maka bertanyalah kepada selainku yaitu para ulama dan orang yang memang spesialis dalam bidang ilmu. Merekalah orang yang bisa memberikan fatwa kepadamu mengenai masalah apa saja yang kau inginkan. Sedangkan diriku, maka sampai di sinilah kapasitas keilmuanku dan Allah tidaklah membebani seseorang lebih dari kemampuannya” [Mudzakirat ad Dakwah wad Daiyyah hal 85. Bisa juga dibaca di tautan berikut:
http://www.qaradawi.net/library/58/3021.html
http://www.qaradawi.net/library/58/3018.html]
Popularity: 4% [?]




ana belum paham maksud ustadz menukil ucapan Hasan al Bana ini?!
mohon penjelasannya, barakallahu fiik wa jazakallahu khair
#alkandaliy
Ustadz Hasan al Bana sendiri mengakui dan menyadari bahwa beliau bukanlah ulama syariah maka menempatkan dan memposisikan beliau seakan ulama besar dan min aimatul huda -yang dilakukan oleh sebagian orang- adalah tergolong tindakan yang kelewat batas.
‘afwan ustadz,ucapan hasan al banna apa bukan karena beliau merendahkan diri dengan mengaku bukanlah ‘ulama?
#abdurrahman
kesimpulan tersebut keluar dari makna zhahir yang ini boleh dilakukan jika ada indikator pendukung. Saya tidak melihat adanya indikator pendukung dalam hal ini.
‘abdurrahman
Apa yang dikatakan ustadz aris bahwa kesimpulan tersebut keluar dari makna zhahir yang ini boleh dilakukan jika ada indikator pendukung. Ana setuju dengan pernyataan beliau apalagi pertanyaan tentang doa disertai tawasul merupakan perkara penting,tak semestinya beliau bersikap merendahkan hati tapi wajib memberi ilmunya sesuai kemampuan dia miliki.
“Merendahkan diri?” saya rasa tidak tepat jika perkataan beliau rahimahullah ditempatkan sebagai bentuk dari merendahkan diri, silahkan dipahami dengan baik kata demi kata, perhatikan kalimat yang ada di akhir tulisan “Jika engkau mendapatkan pengetahuan agama yang luas maka bertanyalah kepada selainku yaitu para ulama dan orang yang memang spesialis dalam bidang ilmu. Merekalah orang yang bisa memberikan fatwa kepadamu mengenai masalah apa saja yang kau inginkan.”
adalah ibnu umar biasa menjawab tidak tahu, imam malikpun di riwayatkan sering menjawab tidak tahu.. rupanya ustadz aris tahu segalanya sehingga tidakpernah menjawab tidak tahu ketika di tanya, saya pernah hadir di majelis DR Daud Rasyid dan ditanya sesuatu yg umum namun beliau menjawab tidak tahu dan menjelaskan bahwa ada beberapa hal yg membuat beliau ragu untuk menjawab (tidak yakin 100%) inilah sikap ulama ulama yg takut pada ALLAH SWT, beratnya memberi fatwa, beratnya mengatakan sesuatu halal atau haram…
#abu
Sebuah tuduhan dusta:
rupanya ustadz aris tahu segalanya sehingga tidakpernah menjawab tidak tahu ketika di tanya
@ abu anas
demi Allah apa yg anda katakan salah besar,,,dtglah ke kajian beliau dan lihatlah siapa sebenarnya beliau
komen saudara abu anas:
rupanya ustadz aris tahu segalanya sehingga tidakpernah menjawab tidak tahu ketika di tanya
saya:
ini adalah sebuah tuduhan bohong, saya pernah bertanya beberapa hal kepada ustadz Aris, dan tidak semua perkara beliau jawab karena kehati-hatian, ada kalanya beliau menyarankan utk bertanya kepada ustadz lain yang lebih paham dalam perkara tersebut.
komen saudara abu anas:
saya pernah hadir di majelis DR Daud Rasyid dan ditanya sesuatu yg umum namun beliau menjawab tidak tahu dan menjelaskan bahwa ada beberapa hal yg membuat beliau ragu untuk menjawab (tidak yakin 100%)
saya:
apabila beliau (DR Daud Rasyid) tidak menjawab karena sikap hati2 karena belum memiliki pengetahuan thd dalil dari Quran dan Sunnah tentang perkara tersebut maka inilah sikap yang benar. Akan tetapi apabila seseorang menahan lisannya utk menjawab padahal dia mengetahui dalil (yaitu jelas2 keterangannya dalam Qur’an dan Sunnah) maka ini bisa berbahaya.
Tentang perkara tawasul, maka sebenarnya ini adalah perkara dasar yang selayaknya diketahui oleh setiap muslim… karena ini menyangkut tauhid, dan diantara kesyirikan ummat terdahulu (dan sekarang) diakibatkan oleh salah pemahaman dalam perkara tawasul ini, dan dalil2 tentang perkara ini sangat banyak dalam Qur’an dan Sunnah dan telah banyak dijelaskan oleh para ulama dan asatidz dalam tulisan dan ceramah2 mereka. Dan dalam perkara ini pula (sebagai contoh) apabila kita telah mengetahui kebenarannya berdasar dalil maka kita tidak menahan diri untuk tidak menjawab.
wallohua’lam
Semoga Allah senantiasa melimpahkan petunjuk kepada kita semua
@Abu Anas.
Saya beberapa kali bertanya pada Ust. Aris dan beliau menjawab “Saya tidak tahu.”
Assaalmu`alaikum
Usatdz Aris ana rasa sang Syaikh itu kan cuma tak ingin meributkan ttg ikhtilaf buktinya:
Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah berkata dalam Ushul ‘Isyrin yang ke 15:
والدعاء إذا قرن بالتوسل إلى الله تعالى بأحد من خلقه خلاف فرعي في كيفية الدعاء وليس من مسائل العقيدة .
“Berdoa apabila diiringi tawassul kepada Allah Ta’ala dengan salah satu makhlukNya, merupakan perselisihan cabang dalam masalah tata cara berdoa, bukan masalah aqidah.” (Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 307. Al Maktabah At Taufiqiyah)
Ustadz, perhatikanlah betapa awamnya kami dan betapa jujurnya Hasan Al Banna. Ciri-ciri keawaman itu adalah mudah terpesona karena banyaknya pengikut, kurangnya pengetahuan tentang seorang tokoh sehingga sebagian saudara kita mengangan-angankan Hasan Al Banna sebagai ‘nabi’ (padahal beliau adalah seperti yang beliau katakan dan ini tidaklah mengurangi kebaikan beliau dan menutupi kesalahan beliau), dan hal ini menimbulkan fanatik kelompok.
Ini juga sekalian menjadi peringatan bagi sebagian kita yang sekali lagi awam ini untuk tidak fanatik kelompok sehingga membutakan kita terhadap kesalahan yang terjadi pada kelompok kita. Bukankah kita hanya dibolehkan fanatik kepada kebenaran (qalallah wa qalarrasul ala fahmissalaf) dimanapun kebenaran itu berada. Lagi-lagi kembali kepada pelajaran dasar,’rajin-rajinlah belajar’ agar mengenal kebenaran.
@rando:
Benar apa yang anda katakan bahwa kita haram bagi kita untuk fanatik pada sebuah kelompok kecauli kepada Allah dan Rasul-Nya. Cuma menjadi persoalan sang syaikh Hasan Albanah ini sudah mengeluarkan fatwa bahwa:
والدعاء إذا قرن بالتوسل إلى الله تعالى بأحد من خلقه خلاف فرعي في كيفية الدعاء وليس من مسائل العقيدة .
“Berdoa apabila diiringi tawassul kepada Allah Ta’ala dengan salah satu makhlukNya, merupakan perselisihan cabang dalam masalah tata cara berdoa, bukan masalah aqidah.” (Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 307. Al Maktabah At Taufiqiyah)
Fahrul says: bila sang syaikh tak tahu menahu soal tawassul mengapa dia mesti mengeluarkan fatwa ini,dan bila dia merahasiakan ilmunya wah sama saja dia tak melaksanakan amanah dari Allah untuk mengajarkan ilmu yang dia miliki.
saya pernah ikut bersama jama’ah yg sangat mengagumi hassan al banna selama kurang lebih 7 kali ganti mentor (‘murobi versi orang PKS) dan ana termasuk yg rajin liqo, da alhamdulilah ana telah meninggalkan jama’ah tersebut, yg ana alami selama pergantian 7 mentor dalam liqo tidak pernah disampaikan materi bahwa tawasul adalah masalah aqidah yg mendasar, sangat jauh berbeda ketika ana baru ngaji satu kita saja yaitu ustulu stalasah alhamdulilah ana langsung faham ternyata tawasul adalah perkara pokok yg sangat mendasar dan wajib untuk diketahui seorang muslim….
ana sarankan, para pengagum berat ust Hasan al banna tetap semangat cari ilmu, syukur2 mau menimba ilmu dengan mendengarkan kajian kitab2 ulama sunnah terutama kitab2 aqidah, sehingga bisa menasihati temen2nya yg masih ditarbiyah agar mengenal aqidah dengan baik…sehingga paham dengan tawasul