Partai Politik Menurut Salafi

Seorang yang dengan penuh kesungguhan mengumpulkan dan mengkaji perkataan para ulama besar salafi mengenai membentuk partai politik akan mengetahui bahwa mereka tidaklah melarang pembentukan partai politik secara mutlak. Akan tetapi fatwa yang diberikan oleh para ulama salafi mengenai masalah ini berbeda-beda tergantung negeri dan perbedaan kondisi penduduknya. Uraian lebih detailnya adalah sebagai berikut:

Pertama, para ulama salafi membolehkan kaum muslimin yang tinggal di negara kafir untuk membentuk partai politik dalam kerangka tolong menolong dalam kebaikan dan takwa sebagaimana fatwa Lajnah Daimah yang membolehkan pembentukan partai politik ketika Lajnah Daimah memberikan jawaban untuk pertanyaan yang terdapat dalam fatwa Lajnah Daimah no 5651 23/407-408 yang ditandatangani oleh Syaikh Abdullah bin Qaud, Syaikh Abdullah bin Ghadayan, Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Fatwa beliau-beliau itu terkait teks pertanyaan berikut ini:

“سؤال : هل يجوز إقامة أحزاب إسلامية في دولة علمانية وتكون الأحزاب رسمية ضمن القانون، ولكن غايتها غير ذلك، وعملها الدعوي سري؟

Pertanyaan, “Apakah diperbolehkan membentuk partai Islam di sebuah negara yang murni sekuler dan partai tersebut legal sebagaimana UU kepartaian yang ada? Akan tetapi tujuan dibentuknya partai tidaklah semata-mata partai. Tujuan dakwah dari partai ini disembunyikan”.

الجواب : يشرع للمسلمين المبتلين بالإقامة في دولة كافرة أن يتجمعوا ويترابطوا ويتعاونوا فيما بينهم سواء كان ذلك باسم أحزاب إسلامية أو جمعيات إسلامية؛ لما في ذلك من التعاون على البر والتقوى”.

Jawaban Lajnah Daimah, “Dibenarkan bagi kaum muslimin yang tinggal di negara kafir untuk berkumpul, menjalin hubungan dan tolong-menolong di antara sesama mereka baik dengan nama partai politik Islam ataupun ormas Islam. Dikarenakan hal tersebut adalah bagian dari tolong menolong dalam kebaikan dan takwa”.

Sekali lagi kami tegaskan bahwa hendaknya keberadaan partai tersebut adalah bagian dari tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.

Kedua, para ulama besar salafi membolehkan sebagian kaum muslimin yang tinggal di sebagian negeri Islam yang di sana ahlus sunnah wal jamaah ditindas dan diinjak-injak oleh ahli bid’ah setelah bermusyawarah bersama para ulama untuk saling tolong menolong di antara sesama, menata barisan dan menyatukan pandangan dan tidaklah mengapa jika mereka mengangkat ketua atau pimpinan ahlu sunnah di negara tersebut. Sebagaimana penjelasan Syaikh Utsman al Kamis terkait penderitaan ahli sunnah di Iraq sebagai contoh. Beliau mengatakan,

“ولذلك وبحسب ما تعلَّمنا من مشايخنا وعلمائنا الذين وجَّهونا إلى وجوب ردِّ الأمر إلى أهله؛ اقتداء بقول الله -تبارك وتعالى-: {وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ} , لذلك كله قمنا بأخذ الأسئلة والتوجه بها إلى العلماء من أمثال سماحة المفتي: عبد العزيز بن عبد الله آل الشيخ، وسماحة الشيخ: صالح بن فوزان الفوزان، وسماحة الشيخ: عبد الله المطلق، وسماحة الشيخ: محمد بن حسن آل الشيخ، وفضيلة الشيخ: عبد العزيز السدحان ، والذين تطابقت إجاباتهم على:

“Oleh karena itu menurut apa yang kami pelajari dari para ulama kita yang mereka sendiri yang mengarahkan kita untuk mengembalikan urusan besar kepada orang yang capable untuk menanganinya dalam rangka mengikuti firman Allah yang artinya, “Andai mereka mengembalikan permasalahan tersebut kepada rasul atau ulul amri (baca: ulama) di antara mereka tentu orang-orang yang hendak membuat kesimpulan dari permasalahan tersebut pasti akan mengetahui kesimpulan yang benar tentangnya” [QS an Nisa:83].

Oleh karena itu kami telah menuliskan berbagai pertanyaan lalu mengajukannya kepada para ulama semisal Syaikh Mufti KSA Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan, Syaikh Abdullah al Muthlaq, Syaikh Muhammad bin Hasan alu Syaikh dan Syaikh Abdul Aziz as Sadhan. Mereka semua bersepakat untuk memberikan jawaban sebagai berikut:

“وجوب التعاون بين جميع المنتسبين لأهل السنة.
وعلى الدفاع عن النفس والعرض والمال إذا تمَّ التعرض لهم.
وعلى كفِّ اليد ما لم تكن هناك راية، وما لم تُعد العدة.
وعلى لزوم الدعوة إلى الله ونشر العقيدة الصحيحة بين الناس.
وعلى عدم إثارة أي طرف عليهم.
وعلى أن ينظِّموا صفوفهم وأن تتحد كلمتهم.
وعلى أن يكونوا حذرين ممنْ حولهم.
ولا مانع أن يجعلوا لهم أميرا”.

Wajibnya tolong menolong di antara semua orang yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari ahli sunnah.
Wajibnya mana kala nyawa, kehormatan dan harta diganggu.
Tidak berperang selama belum ada komandan yang legal secara syariat dan perlengkapan senjata belum disiapkan dengan baik.
Wajibnya terus giat mendakwahkan agama Allah dan menebarkan akidah yang benar di tengah-tengah masyarakat.
Wajib tidak melakukan tindakan yang memancing kebrutalan pihak tertentu terhadap ahlu sunnah.
Wajibnya menata barisan dan menyamakan presepsi.
Wajib mewaspadai orang-orang di sekeliling mereka.
Tidaklah mengapa mengangkat seseorang sebagai ketua ahli sunnah”.

Sekali lagi kami tegaskan bahwa ini semua dilakukan dalam kerangka musyawarah bersama para ulama.

Ketiga, memang benar bahwa salafi melarang pembentukan partai politik dan keagamaan di negeri kaum muslimin yang dipimpin oleh seorang penguasa muslim. Salafi melarang hal tersebut karena beberapa alasan. Di antara alasan pokoknya adalah sebagai berikut:

Pertama, terpecahnya kaum muslimin menjadi berbagai aliran keagamaan atau pun berbagai partai politik adalah fenomena yang memilukan sekaligus perilaku yang terlarang karena bertabrakan dengan berbagai ayat al Qur’an dan berbagai hadits Nabi di antaranya:

{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا} ,

Yang artinya, “Berpegang teguhlah kalian semua dengan agama Allah dan janganlah kalian berpecah belah” [QS ali Imran:103]

وقوله سبحانه : {إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ} الآية

Yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka terbagi menjadi beberapa kelompok sama sekali engkau bukanlah bagian dari mereka” [QS al An’am:159].

وقوله سبحانه قال الله تعالى: {إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أمة وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ]} ,

Yang artinya, “Sesungguhnya umat ini adalah umat yang satu. Aku adalah sesembahan kalian maka sembahlah aku” [QS al Anbiya:92]

وفي الآية الأخرى : {وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُون} ,

Dalam ayat yang lain, “Dan aku adalah Rabb kalian maka bertakwalah kalian kepadaku” [QS al Mukminun:52].

وقال تعالى: {وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ}.

Yang artinya, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah sampai kepada mereka berbagai bukti yang nyata. Untuk mereka siksaan yang besar” [QS Ali Imran:105].

Kedua, membentuk berbagai partai politik yang memiliki tujuan pokok menjadi oposisi pemerintah adalah tindakan yang berlawanan dengan prinsip taat kepada penguasa muslim selama dalam bingkai ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Di samping itu, juga bertolak belakang dengan berbagai dalil yang mengharamkan tindakan membangkang kepada penguasa dan taat kepada Allah, rasul-Nya dan penguasa, bukan selainnya.

Ketiga, konsekuensi dari masuk ke dalam dunia politik praktis dan membentuk berbagai partai politik adalah membicarakan berbagai permasalahan yang menjadi kewenangan penguasa dengan tujuan menyalahkan kebijakan penguasa lalu menyebarluaskan kesalahan penguasa tersebut. Tentu saja, sikap ini sangat jauh dari sikap menginginkan kebaikan untuk penguasa. Sehingga tindakan ini bertolak belakang dengan berbagai dalil syariat.

Oleh karena itu para ulama dakwah salafiyyah menolak pembentukan partai politik. Barang siapa yang memiliki ‘catatan’ terhadap kebijakan pemerintah maka hendaklah dia menyampaikan nasihat dengan baik. Jika nasihat diterima, maka itulah yang diharapkan. Jika tidak, yang penting dia telah melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya. Mengumbar sikap pemerintah yang tidak menerima kritikan adalah tindakan membuka lebar-lebar pintu keburukan.

Referensi:
http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?p=125296#post125296

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 19
  • Fahrul 7 years ago

    Assalamu`alaikum
    Ustadz,artinya bila kita ikut serta dalam partai politik Islam dalam rangka amar ma`ruf nahi mungkar boleh dong sebagaimana yang dilakukan Partai -partai Islam,mereka ikut dalam pemerintahan untuk beramar ma`ruf nahi mungkar,terus selama ini kita para ahlussunnah selalu menentang manhaj Ikhwanul Muslimin apa bedanya dengan mereka dong?

  • ustadzaris 7 years ago

    #fahrul
    Bacalah tulisan di atas dengan baik dan seksama.
    Kajilah dengan baik apa yang menyebabkan IM tidak termasuk firqoh najiyyah berdasarkan keterangan para ulama.

  • Budi Kurniawan 7 years ago

    Tanya Ustadz:
    1. bagaimana kalau memilih partai atau presiden yg paling dekat dgn Islam? karena kalau kita gak memilih dikhawatrikan yg menang partai atau capres yg dholim ( konteksnya di Indonesia)

    Jazakallah

  • ustadzaris 7 years ago
  • ustad mau tanya tentang fenomena kejadian di mesir

    ini seperti kejadian di mesir, setelah revolusi mesir, jamaah salafy mesir sekarang ramai-ramai pada membentuk partai politik, saya kadang2 bingung, memang selama ini pelajaran yg saya dapat dari majelis taklim salafy, kebanyakannya mengharamkan demokrasi dan demonstrasi, tapi apa yg terjadi sekarang di mesir, jamaah salafy pada ikut demo untuk menggulingkan husni mubarak, dan setelah itu akan membentuk partai politik, dan juga bekerjasama dengan ikhwanul muslimin, yg selama ini jamaah IM ini, sering dikritik oleh jamaah salafy,

    bisa dijelaskan ustad, mengenai fenomena politik salafy mesir ? sepertinya ada perubahan ijtihad, sehingga kadang2 sama dengan ijtihad IM dan juga ijtihad PKS di indonesia yaitu untuk lebih toleransi kalo sudah masuk dunia politik ?

  • Afwan ust.
    Dari tulisan di atas. Sy punya gambaran bahwa Salafiyyah tidak melarang sekelompok orang untuk melakukan musyawarah, amar maruf nahi munkar, dakwah, pendidikan, dan sosial dan mengangkat pemimpin mereka. Dengan tujuan hal tersebut tidak memburukkan, menjelekkan, atau semisalnya terhadap kebijakan pemerintah atau pemerintah itu sendiri. Bisa itu berupa Ormas, Partai, Yayasan, ataupun lainnya. Dengan catatan semua hal itu utk menyamakan persepsi dan tentu saja tidak fanatik dan taklid. Benar gak ustadz?

  • ustadzaris 7 years ago

    #mail
    Tulisan di atas hanya membahas masalah partai.
    Ormas dan yayasan insya Allah kita bahas di lain kesempatan.

  • ustadzaris 7 years ago

    #anas
    Demonstrasi yang mereka lakukan adalah sikap yang keliru. Moga Allah mengampuni mereka.
    Baca di sini:
    http://basweidan.wordpress.com/2011/03/12/syubhat-syubhat-seputar-demonstrasi/
    Tentang IM baca di sini:
    http://ustadzaris.com/mengapa-im-tidak-termasuk-firqotun-najiyah

  • Saya tunggu ustdaz bahasan tentang Ormas atau Yayasan. Soalnya yang saya tahu maslah ormas dikalangan salafiyin masih menjadi hal yang “tabu” karena khawatir bisa terjebak hizbiyah dan ta’ashub. Padahal ada ormas atau enggak kedua hal itu bisa saja terjadi. jadi buka ormas atau yayasan ukurannya kalo menurut saya.

  • abu daffa 7 years ago

    ustadz,
    Apakah ulil amri itu adalah presiden (utk indonesia) ?,
    jika ya, bukankah ulil amri/presiden kita saat ini/yg terdahulu berasal dari partai yang tentunya pernah mengkritisi kebijakan2/kesalahan ulil amri/presiden sebelumnya yg memungkinkan sikap tsb masuk ke dalam pembangkangan thd perintah Alloh pada annissa 59 ?
    jika tidak, siapakah ulil amri di Indonesia ?
     

  • ustadzaris 7 years ago

    #abu
    1. Betul
    2. Kesalahan yang dia lakukan tidak mesti menyebabkan kita mengikuti jejaknya dalam kesalahan yang sama.

  • Assalamu’alaikum,

    ustadz -semoga Allah menjaga ustadz sekeluarga-

    kami ingin bertanya ttg partai yg ada dimesir yg kata nya berbasis salafy yakni “Partai An-Nur, Partai Ashalah dan Partai Fadhilah”

    mohon jawaban nya,

    jazakallahu khairan 

  • #prima
    Saya tidak tahu

  • syarif 7 years ago

    Ust. ana mau tanya bolehkah kita memilih partai pks? ana baca tujuan mereka mendirikan partai katanya ingin dakwah di parlemen dan mengurangi kemungkaran didalamnya?
    syukron atas jawabannya ust.
     

  • #syarif
    Partai dakwah atauk mendakwahkan partai?

  • syarif 7 years ago

    afwan ust….yang anapernah baca katanya tujuan pks masuk parlemen katanya untuk meminimalkan kemunkaran….minimal produk undang-undang yang dihasilkan tidak bertentangan dengan dengan syariah…..bagaimana ustd? yang ana tau di mesir juga partai salafi kerjasama dengan ikhwani….jazakumullah khair…

  • maaf ustadz, apa betul ulil amri itu presiden?
    bukan kholifah?

  • #deasy
    setiap kepala negara yang muslim itulah ulil amri kaum muslimin di negara tersebut.

  • FATWA ULAMA AHLUSSUNNAH (SALAFIYYIN)

    By UST FIRANDA ANDIRJA HAFIZHOHULLAH

    *sumber: http://www.firanda.com/index.php/artikel/lain-lain/668-memilih-siapa-di-pemilu-2014-lampiran-fatwa-terbaru-asy-syaikh-dr-sa-ad-asy-syitsri-tentang-bolehnya-mencoblos-di-pemilu-2014-indonesia

    MEMILIH SIAPA di PEMILU 2014?(Lampiran Fatwa Terbaru Asy-Syaikh DR Sa’ad Asy-Syitsri tentang bolehnya mencoblos di Pemilu 2014 Indonesia)
    Kategori: Lain-lain
    Diterbitkan pada 08 April 2014 Klik: 56956
    Email Print

    Dari diskusi dengan beberapa kawan mahasiswa pasca sarjana di Madinah, dan beristikhoroh kepada Allah, berikut ini saya sampaikan beberapa buah pemikiran seputar pemilu, yang saya harapkan bisa menjadi pertimbangan dalam menyikapi pileg yang sudah di depan mata :

    PEMILU 2014 (Pilih Siapa?)

    Berdasarkan fatwa para ulama besar yang memiliki pandangan yang tajam, fikih yang tinggi, serta ketakwaan kepada Allah (seperti Syaikh Bin Baz, Syaikh Al-‘Utsaimin, dan Syaikh Al-Albani rahimahumullah) demikian juga fatwa Ulama Besar Madinah Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizohullah, dan juga beberapa ulama lainnya yang sempat kami minta nasehat dari mereka, maka kami mengikuti nasehat para ulama tersebut untuk menganjurkan kaum muslimin untuk ikut mencoblos dalam pemilu
    -sebagai pengamalan dari kaidah fikih (ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ) “Menempuh mudhorot yang teringan”,
    terlebih lagi mengingat kondisi tanah air yang cukup mengkhawatirkan.

    Setelah itu kami bermusyawarah dan mengambil keputusan untuk menganjurkan kaum muslimin melakukan hal berikut :

    Pertama : Jika mengenal caleg yang terbaik dan cenderung kepada sunnah dan membela kepentingan islam maka pilihlah caleg tersebut.

    Kedua: Berilah peringatan terhadap caleg nashrani, syiah maupun liberal walaupun dari partai islam.

    Ketiga: Jika tidak kenal caleg, maka pilihlah Partai PKS,
    Walaupun Kami tetap menyatakan haramnya demokrasi,
    karena bagaimanapun PKS –dengan segala kekurangannya- masih merupakan partai yang secara umum masih diharapkan bisa memberi kontribusi kepada Islam dan Kaum Muslimin.
    namun tetaplah berhati-hati terhadap caleg syiah dan non muslim walaupun dari PKS.

    SERUAN kami kepada PKS agar terus membenahi diri, dan mencari keridhoan Allah, dan tidak mencalonkan non muslim, syiah maupun liberal.
    Sesungguh kemenangan bukanlah pada jumlah yang banyak akan tetapi pada meraih keridoan Allah dengan menjalankan syari’atNya dan menjauhi sebisa mungkin larangan-Nya.

    Akhirnya kami mengharapkan kaum muslimin menyatukan suara mereka demi Islam, dan terus berdoa dengan tulus dan membenahi ibadah masing-masing, karena penolong hanyalah Allah semata.
    Semoga menjadi kemaslahatan bagi kaum muslimin.
    Allahul musta’an

    Berikut ini kami sampaikan juga fatwa As-Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri yang merupakan jawaban atas pertanyaan salah seorang saudara kami kemarin sore (7 April 2014), semoga menjadi bahan renungan. Wallahul Musta’aan
    PERTANYAAN:
    هل يجوز المشاركة في الانتخابات في بلادنا أندونيسيا؟
    علما أن الساحة السياسية تحتوي على فرق وأفكار كثيرة..ولكن يخشى أن خطر تقدم الشيعة كبير جدا. وكذلك العلمانيون.
    فهل يجوز التصويت للجماعة/للشخص الأقرب للسنة؟
    ولكن يجب التنبيه أنه حتى إذا فازت هذه الجماعة (أو إذا أدخل هذا الشخص البرلمان) فسيكون من الصعب عليهم تطبيق الشريعة إلا أن ينقص بعض المضرات أو المفاسد و بل يفتن الكثير في دينهم و دنياهم…فماهي نصيحتكم؟؟ وجزاكم الله خيرا..

    Kepada Syaikh yang mulia semoga Allah menjaga Anda..
    Apakah boleh berpartisipasi didalam pemilu di negeri kami Indonesia?
    Perlu diketahui bahwasannya kancah politik terbagi kedalam banyak kelompok dan pemikiran..akan tetapi ditakutkan bahwasannya bahaya akan kemajuan (tersebarnya) syiah sangat besar..demikian juga dengan kaum sekuler.
    Maka apakah boleh memberikan suara kepada kelompok Jama’ah atau orang yang paling dekat kepada sunah?
    Akan tetapi yang perlu diketahui juga bahwasannya apabila Jama’ah tersebut menang (ataupun orang tersebut masuk kedalam parlemen) maka akan sulit bagi mereka menerapkan syari’ah kecuali hanya mengurangi sebagian dari keburukan-keburukan dan kerusakan-kerusakan dan bahkan kebanyakan dari mereka terfitnah atas agama mereka dan dunianya..
    Maka bagaiman nasihat dari Anda?? Semoga Allah membalas segala kebaikan Anda..

    JAWABAN:

    العمل السياسي على نوعين:
    النوع الأول من يدخل من أجل أن يرشح للبرلمان أو لغيره, مثل هذا لا يصح لطلبة العلم, ليس من شأنهم مثل هذا و ذلك لأن المهمة التي يؤدونها لتعليم الخلقة وإعادتهم إلى الله جل وعلى أعظم من مهمة الإنشغال بمثل هذه الأمور. و لأن هذه الأمور تجلب أصحابها إلى أفعال و أخلاق لا تتناسب مع شأن طالب العلم, المهاترات الكلامية.
    وطالب العلم بمثابة المربي و الأب للجميع و لأن هذا النظام الديمقراطي فيه مخالفات شرعية كثيرة في أساسه و بنيته تجلب خطى أهل العلم بهذا قد يتنافى مع المقصود الشرعي.
    أما بالنسبة للتصويت, فنقول هذا من ارتكاب أهون الضررين لدفع أعلاهما, فلا ندخل في المهاترات مع هؤلاء المتسابقين إلى هذه المقاعد نضيع المهمة التي قدمنا من أجلها, حينئذ لابأس من المشاركة في التصويت بشرط أن يغلب على ظن الإنسان أن من اختاره الأصلح الذي يعين الخلق إلى الله جل و علا

    هذا و الله أعلم

    Kegiatan politik tersebut dibagi menjadi dua jenis:
    Jenis pertama, siapa yang masuk (dalam perpolitikan) dengan maksud untuk mencalonkan diri kedalam parlemen atau selainnya, semisal ini tidaklah dibenarkan bagi penuntut ilmu karena hal ini bukanlah bagian dari urusannya.
    Hal itu dikarenakan pentingnya menunaikan pengajaran kepada manusia dan kembalinya mereka kepada Allah Jalla wa ála lebih agung daripada pentingnya menyibukkan diri terhadap perkara tersebut (politik).
    Dan juga dikarenakan perkara (politik) tersebut menjerumuskan pelakunya kedalam perbuatan-perbuatan dan akhlak-akhlak yang tidak sesuai dengan jati diri penuntut ilmu yang mengacaukan ucapan-ucapannya.
    Dan penuntut ilmu adalah sebagai pendidik dan pengayom dari semuanya.
    Dan sesungguhnya sistem demokrasi ini didalamnya terdapat banyak hal-hal yang menyelisihi syariat baik pada pondasinya maupun bangunannya yang menyelisihi jalannya ulama sehingga terkadang tidak sesuai dengan maksud syariat.
    Adapun (jenis kedua) memberikan suara, maka kita katakan bagian dari mengambil yang paling ringan mudhorotnya untuk menolak yang paling besar mudhorotnya. Maka janganlah kita masuk kedalam kerusakan-kerusakan bersama mereka yang berlomba-lomba kepada kursi (parlemen) tersebut, sebagaimana telah kita jelaskan sebelumnya.
    Adapun berpartisiapsi didalam memberikan suara maka tidaklah mengapa dengan syarat kuatnya prasangka seseorang yang dipilihnya adalah paling memberikan maslahat yang dapat menolong manusia (untuk kembali) kepada Allah Jalla wa ála..
    Wallahu a’lam..

    *sumber: http://www.firanda.com/index.php/artikel/lain-lain/668-memilih-siapa-di-pemilu-2014-lampiran-fatwa-terbaru-asy-syaikh-dr-sa-ad-asy-syitsri-tentang-bolehnya-mencoblos-di-pemilu-2014-indonesiaa