Pakai Kopiah di Kampus

Beberapa tahun yang lewat saya mengetahui ada seorang yang kuliah di sebuah fakultas MIPA. Menariknya orang tersebut setiap kali berangkat kuliah dia berpakaian gamis ala Pakistan yang panjangnya sampai lutut plus kopiah putih di kepalanya. Kata seorang yang satu fakultas dengan orang tersebut, pakaian tersebut dia pakai selama kuliah baik di ruang kuliah ataupun di laboratorium saat sedang praktikum. Padahal tidak ada satupun orang yang berpakaian sebagaimana pakaiannya yaitu bergamis selutut dan memakai kopiah berwarna putih. Dia tidak ingin malu untuk berpakaian yang menunjukkan identitas keislamannya.

Pada awalnya saya cukup kagum dengan orang tersebut karena kesiapan mentalnya yang luar biasa dalam menampakkan pakaian identitas keislaman. Wong, orang Nasrani saja tidak malu pakai kalung salib kenapa seorang muslim malu memakai pakaian yang menunjukkan identitas keislamannya.

Pikiran dan pandangan tersebut akhirnya berubah setelah membaca perkataan Ibnul Jauzi berikut ini:

وقد كان في الصوفية من يجعل على رأسه خرقة مكان العمامة وهذا أيضا شهرة لأنه على خلاف لباس أهل البلد

“Diantara orang-orang sufi ada yang meletakkan potong-potongan kain di atas kepalanya sebagai pengganti sorban (yang sudah familiar di daerahnya, pent). Ini adalah pakaian syuhroh karena menyelisihi model berpakaian yang sudah familiar di daerahnya.

وكل ما فيه شهرة فهو مكروه

Semua yang menyebabkan orang yang mengenakannya menjadi bahan pembicaraan banyak orang hukumnya makruh”.

أخبرنا يحيى بن ثابت بن بندار نا أبي الحسين بن علي نا أحمد بن منصور البوسري ثنا محمد بن مخلد ثني محمد بن يوسف قال : قال عباس بن عبد العظيم العنبري قال بشر بن الحارث : إن ابن المبارك دخل المسجد يوم جمعة وعليه قلنسوة فنظر الناس ليس عليهم قلانس فأخذها فوضعها في كمه

Setelah itu Ibnul Jauzi membawakan riwayat dengan sanadnya dari Bisyr bin al Harits, “Sesungguhnya Abdullah bin Mubarak pada hari Jumat masuk ke dalam sebuah masjid untuk melaksanakan shalat Jumat dalam keadaan memakai peci. Ternyata di masjid tidak ada satu pun orang yang memakai peci. Akhirnya beliau lepas peci yang beliau kenakan dan beliau sembunyikan di lengan baju beliau” [Talbis Iblis karya Ibnul Jauzi hal 237, terbitan Darul Aqidah Mesir, cetakan pertama 1420 H].

Ada beberapa pelajaran berharga di balik keteladanan Ibnul Mubarak di atas:

Pertama: Ada ‘syuhroh’ dalam masalah tutup kepala. Oleh karena itu tidak selayak seorang muslim memakai peci putih jika seisi masjid memakai songkok hitam, memakai sorban ala Yaman (sorban khas Laskar Jihad di masa silam) padahal model pakaian semacam itu tidaklah lazim di lingkungannya, memakai syimagh ala Saudi yang berwarna putih bercampur merah jika model pakaian semacam itu belum wajar di sekelilingnya atau memakai peci ketika pergi ke kampus padahal seisi kampus tidak ada yang berpenampilan semacam ini.

Kedua: Ruang lingkup syuhrah itu tidak harus daerah yang luas. Seorang yang berpeci padahal seisi ruangan tidak ada yang berpeci terhitung telah memakai pakaian syuhrah. Seorang yang kemana-mana berjubah padahal jubah itu masih dianggap asing dan aneh di daerahnya adalah seorang yang memakai pakaian syuhrah. Sehingga tidaklah benar seorang memberikan penilaian secara general bahwa jubah bukanlah pakaian syuhrah di Indonesia. Yang tepat adalah merinci masalah ini. Boleh jadi jubah bukanlah pakaian syuhrah di sebuah kawasan pesantren dan menjadi pakaian syuhrah ketika dipakai di pasar atau di masjid kampung dan seterusnya.

Ketiga, pakaian syuhroh menurut Ibnul Jauzi hukumnya makruh, tidak haram sebagaimana pendapat sebagian ulama yang lain. adakah ulama yang menegaskan bahwa pakaian syuhroh itu dosa besar? Sejauh ini, saya belum mengetahuinya. Jika diantara ada yang memiliki ilmu tentang hal ini janganlah bakhil untuk memberikannya kepada kami.

keempat, Ibnul Jauzi tidak mempersyaratkan ‘niat untuk mencari ketenaran’ agar seorang itu dinilai melakukan larangan yaitu memakai pakaian syuhroh. Syarat yang beliau tetapkan adalah kondisi pakaian itu sendiri. jika kondisi pakaian itu sendiri menyebabkan ‘syuhroh’ alias buah bibir maka disitulah ada hukum makruh.

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 35
  • abuhamzah 8 years ago

    assalaamu’alaykum
    afwan, dgn kaidah yg ustadz pakai tersebut, apakah si ikhwan tersebut serta merta kita hukumi terjatuh dalam libas asysyuhroh yg merupakan dosa besar?? (lihat pula komentar ana pada sarung “balapan” ala salafi)
    kenapa tidak kita dorong saja kepada mayoritas ikhwah untuk tetap percaya diri menggunakan pakaian2 yg menunjukkan keislamannya agar nantinya pakaian seperti gamis/jubah menjadi hal yg umum kembali di masyarakat indonesia. bukankah dahulu para pejuang muslimin negri ini banyak pula yg berpenampilan demikian?? kalau bukan kita kaum muslimin yg memulainya utk menjadikan pakaian2 tersebut menjadi umum di negri indonesia yg mayoritasnya muslim ini, lantas siapa lagi Ustadz?
     
    hal lainnya, kita sepakati bahwa Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam senang menggunakan gamis (meskipun menggunakan gamis tidaklah menjadikannya sampai pada derajat sunnah). Akan tetapi, apabila ada seseorang yg dikarenakan hanya sekedar ingin mencontoh penampilan Nabi nya shollalloohu ‘alaihi wasallamdikarenakan kecintaannya, apakah ia berdosa besar dikarenakan pakaian tersebut tidak umum di masyarakatnya??? bukankah sebagian shohabat rodiALLOOHU ‘anhum saking semangatnya mencontoh Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam, bahkan sampai ada yg kalau berjalan di suatu jalan itu maka ia menyusuri bagian jalan yg dulunya pernah dilewati oleh Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam??? bukankah ketika kita membaca riwayat doa naik kendaraan, maka ‘Ali bin Abi Tholib rodhiALLOOHU ‘anhu mengakhirinya dgn tersenyum yg menjadikan orang lain bertanya-2 keheranan. Lantas ‘Ali rodhiALLOOHU ‘anhu mengatakan bahwa demikianlah yg ia lihat dari Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam. Padahal, tersenyumnya Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam kita ketahui bersama tidaklah sampai masuk derajat sunnah. Hal lainnya, ucapan sebagian ulama salaf, yg secara makna mengatakan: “sungguh, jika saja ada riwayat tentang bagaimana Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam menggaruk bagian tubuhnya yg gatal, maka sungguh aku akan menggaruk bagian tubuhku yg gatal dgn cara demikian. Lihatlah semangatnya mereka wahai ustadz hafizhokALLOOH.
    WALLOOHU A”LAM.
    wassalaamu’alaykum
     

  • ustadzaris 8 years ago

    Wa’alaikumussalam
    1. Tolong baca komentar saya di “sarung balapan”.
    2. Adakah model pakaian yang berstatus menunjukkan “keislaman”? Yang sesuai dengan sunnah dalam hal pakaian itu model ataukah kriteria pakaian? Tolong baca dulu di sini: http://ustadzaris.com/haruskah-memakai-jubah
    3. Pendapat Ibnu Umar dalam masalah ittiba’ nabi itu diselisihi oleh mayoritas shahabat, bahkan ayahnya sendiri yaitu Umar menyelisihi pendapat anaknya. Yang benar adalah pendapat mayoritas shahabat sebagaimana penjelasan Ibnu Taimiyyah di Iqtidha jilid kedua, tahqiq Dr Nashir al Aql. Saya sarankan anda untuk
    membaca penjelasan Ibnu Taimiyyah di atas baru kita lanjutkan diskusi kita. Moga Allah memberkahi hidup anda.
    4. Tentang libas syuhroh baca juga di sini:
    http://ustadzaris.com/tidak-isbal-pun-bisa-terlarang

  • alhamdulillah, ketemu lagi satu kisah Ibnu Mubarok yang sedang saya cari. Ternyata memang diri ini yang sangat kurang rajin membaca…
    Jazakallohu khaira

  • abuhamzah 8 years ago

    assalaamu’alaykum.

    afwan, ana lanjut lagi ustadz,supaya tidak ada syak lagi.
    mudah2an tidak terjatuh dalam jidal yg tidak berfaedah.

    dari sedikit searching (karena ana gak punya referensi buku), mohon dicek hadits berikut :
    Berdasarkan hadits Ibnu Umar, Rasulullah shalallohu ‘alahi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengenakan pakaian (libas) syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (Abu Daud II/172).

    dari lafadz hadits tsb ada ancaman dari Allah berupa kehinaan dan ancaman api neraka. Nah, sesuai kaidah dari definisi dosa besar adalah apabila dosa tsb mendapatakan ancaman dari Allah atau RosulNya shollalloohu ‘alaihi wasallam. Dgn hadits ini maka dg definisi tadi, perbuatan libas asysyuhroh masuk dalam dosa besar, meskipun Ibnul Jauzi rohimahullooh hanya menyebutnya makruh.

    selanjtunya, dari komentar ustadz pada artikel sarung balapan berikut ini, ada hal yg ana tanyakan :

    pertama

    ustadz menulis : “5. Kita saat ini sedang membahas perbuatan alias fiil, bukan pelaku perbuatan atau fail. Untuk membahas fail banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Saya yakin, anda sudah (tahu – ed) perbedaan dua hal ini.”

    komentar ana:
    benar sekali ustadz hafizhokALLOOH. tetap harus kita bedakan antara fi’il dan fa’il nya. seseorang yg berbuat perbuatan kekufuran maka yg kita hukumi adalah perbuatannya adalah perbuatan kekufuran, akan tetapi pelakunya belum tentu dihukumi kufur sebab banyak persyaratan dulu sebelum ia dihukumi kufur. akan tetapi, perbuatan orang tersebut tetap wajib kita ingkari dan bila kita mampu maka kita wajib menasehatinya. bukankah demikian ustadz?

    Kalau jawabannya iya, maka dg prinsip yg ustadz pegang, seharusnya bila ada masyaikh yg berceramah di masjid umum di Indonesia (istiqlal misalnya) dgn berpakaian jubah plus surban plus jubah luar plus ikat kepala khasnya saudi, maka perbuatan masyaikh tsb telah terjatuh dalam larangan libas asysyuhroh. bukankah demikian?? dan mestinya, ustadz dekati masyaikh tsb dan dinasehati kurang lebih : “mohon maaf syaikh, mayoritas jamaah di masjid ini merasa asing dgn penampilan Anda. Dan Anda wahai Syaikh telah memakai pakaian asysyuhroh. oleh karena itu, apakah Anda wahai Syaikh bisa bertukar pakaian dulu?” sebab, ustadz hanya berpegangan pada “asalkan tampil beda, maka itu libas asysyuhroh” dgn tanpa melihat niatan pelakunya.

    kedua

    di artikel masalah pakai kopiah di kampus, ada beberapa hal pula yg ana perlu tanyakan :

    tulisan ustadz :
    Pertama: Ada ‘syuhroh’ dalam masalah tutup kepala. Oleh karena itu tidak selayak seorang muslim memakai peci putih jika seisi masjid memakai songkok hitam, memakai sorban ala Yaman (sorban khas Laskar Jihad di masa silam) padahal model pakaian semacam itu tidaklah lazim di lingkungannya, memakai syimagh ala Saudi yang berwarna putih bercampur merah jika model pakaian semacam itu belum wajar di sekelilingnya atau memakai peci ketika pergi ke kampus padahal seisi kampus tidak ada yang berpenampilan semacam ini.

    Kedua: Ruang lingkup syuhrah itu tidak harus daerah yang luas. Seorang yang berpeci padahal seisi ruangan tidak ada yang berpeci terhitung telah memakai pakaian syuhrah. Seorang yang kemana-mana berjubah padahal jubah itu masih dianggap asing dan aneh di daerahnya adalah seorang yang memakai pakaian syuhrah. Sehingga tidaklah benar seorang memberikan penilaian secara general bahwa jubah bukanlah pakaian syuhrah di Indonesia. Yang tepat adalah merinci masalah ini. Boleh jadi jubah bukanlah pakaian syuhrah di sebuah kawasan pesantren dan menjadi pakaian syuhrah ketika dipakai di pasar atau di masjid kampung dan seterusnya.

    komentar ana:
    1. kenapa ustadz mencontohkan “sorban khas Laskar Jihad di masa silam” ? apakah tidak cukup dgn tulisan ustadz “sorban ala yaman”? apakah dikarenakan ada masalah dgn mereka sehingga “dianggap” perlu utk memberi contoh demikian? tidakkah kita perlu tetap berlaku adil meskipun thd orang yg telah menyakiti kita sekalipun?

    2. dari poin di atas yg mana ustadz sampai menyatakan tidak selayaknya seorang muslim memakai pesi putih di kala seisi masjid memakai peci hitam ataupun seseorang dilarang memakai peci di saat orang di ruangannya tidak memakai peci maka ia telah jatuh dalam libas asysyuhroh. bahkan ustadz pun menganggap berbeda warna peci saja sudah jatuh dalam asysyuhroh. apakah memang tepat demikian Ustadz?

    baiklah, misalkan kita terima pendapat Ustadz utk sementara. Sekarang misalkan ana yg seorang pekerja kantor. Saat sholat subuh di rumah, ana biasanya pakai gamis atau jubah plus kopiah putih karena mayoritas jamaah masjid yg ada menggunakan gamis/jubah plus kopiah putih. Lalu, saat sholat zhuhur di kantor, ana sholat di masjid kantor yg mayoritasnya memakai kemeja dan pantalon. Lalu, sholat ‘Ashr nya dikarenakan ana ada kunjungan luar kantor di dalam kota, pas kebetulan ana sholat di masjid yg mayoritasnya memakai baju koko putih dan sarung plus songkok hitam. Lalu ana pulang kerja, di jalan ana mampir sholat maghrib di masjid yg mayoritasnya memakai baju gamis plus sirwal plus kopiah putih. sholat isya’ nya ana di masjid dekat rumah tanpa pulang dulu karena terjebak macet dan memakai pakaian seperti sholat shubuh.

    sesuai dgn prinsip yg ustadz tulis di atas, maka, bila ana tidak ingin terjatuh ke dalam larangan libas asysyuhroh, maka seharusnya ana dari rumah kalau mau ke kantor harus membawa : sarung, pantalon, songkok hitam, kopiah putih, baju koko, gamis/jubah. dan di setiap waktu sholat ana harus menyesuaikan kondisi jamaah masjid yg ada. Waduh…..betapa sulitnya agama Islam ini jadinya Ustadz….??? Bukankah Islam ini diturunkan utk mempermudah dan bukan mempersulit???

    demikian yg bisa ana tuliskan.
    mohon maaf bila ada salah kata yg kurang berkenan.
    semoga Allah memperbaiki kita bersama.
    ALLOOHU A’LAM.

    wassalaamu’alaykum

  • abu ibrohim 8 years ago

    ustadz,ditempat saya, imam dan beberapa orang suka memakai jubah atau gamis pakistan.sementara sebagian besarnya tidak.  jika saya memakainya apakah bisa disebut syuhroh?
    jazaakallahu khoiron

  • ustadzaris 8 years ago

    @Abu
    1. Baca perkataan Imam Ahmad yang saya cantumkan di komentar pada tulisan sarung balapan.
    2. Diantara faktor yang harus dipertimbangkan dalam masalah pakaian syuhroh sehingga kita bedakan fiil dengan fail adalah boleh jadi orang yang memakai syuhroh itu berpendapata bahwa pakaian syuhroh itu makruh dan makruh itu masih boleh dilakukan.
    3. Tambahan kalimat tersebut sekedar untuk deskripsi karena saya beranggapan bahwa banyak orang belum paham jika sekedar saya katakan sorban ala Yaman, tanpa ada maksud yang lain sebagaimana prasangka anda.
    4. Ada syuhroh dalam masalah warna sebagaimana penjelasan Ibnu Atsir yang dikutip oleh asy Syaukani dalam Nailul Author
    قال ابن الأثير : الشهرة ظهور الشيء ، والمراد أن ثوبه يشتهر بين الناس لمخالفة لونه لألوان ثيابهم فيرفع الناس إليه أبصارهم ويختال عليهم والتكبر .
    Syaukani mengutip perkataan Ibnu al Atsir bahwa makna syuhrah adalah menonjol karena lain dari pada yang lain. artinya pakaian orang tersebut beda dengan yang lain karena warna pakaiannya beda dengan warna pakaian orang-orang di sekelilingnya. Karena orang-orang sekelilingnya melototi orang tersebut. orang tersebut sombong dengan orang-orang di sekitarnya karena dia merasa bangga dan sombong. Lihat di kolom komentar pada artikel sarung balapan.
    5. Pengandaian yang anda bawakan terlalu mengada-ada. Meski demikian, saya katakan bahwa jika orang tersebut menyakini bahwa pakaian syuhroh itu hukumnya makruh sebagaimana pendapat Ibnul Jauzi dan lainnya maka makruh itu berubah menjadi mubah jika ada hajat atau kebutuhan.
    6. Sebagai tambahan penjelasan tentang pakaian syuhroh saya katakan bahwa pakaian syuhroh adalah pakaian yang menyebabkan pemakainya dinilai aneh dan nyleneh oleh orang-orang di sekelilingnya sehingga menjadi bahan pembicaraan dan menjadi sasaran tatapan mata orang-orang sekelilingnya. oleh karena itu, jika masyarakat kita menilai bahwa jika ada orang arab yang sedang bertamu di negeri kita memakai pakaian arab itu bukanlah suatu yang aneh maka pakaian tersebut bukanlah pakaian syuhroh baginya. Lain halnya, jika ada orang indonesia memakai pakaian saudi dilingkungan yang menilai bahwa hal itu aneh maka orang tersebut telah terjerumus dalam larangan memakai pakaian syuhroh. Wallahu a’lam.

  • abu hamzah 8 years ago

    na’am. jazaakALLOOHU khoiron.
    pada jawban ustadz yg nomor 2, ustadz mengatakan bahwa bisa jadi orang yg memakai syuhroh tsb menganggap bahwa hal ini adalah makkruh, dan makruh adalah dibolehkan.
     
    pertanyaan ana: apabila makruh memang dibolehkan, lantas mengapa dalam tulisan-2 yg ada yg ana tangkap malah ustadz melarang untuk memakai syuhroh???
    ana sudah lihat dalam kitab al kaba-ir imam adzdzahabi rohimahullooh, memang tidak ada dimasukkan perkara libas asysyuhroh dalam perkara dosa besar. namun di kitab tersebut dijelaskan bahwa definisi dosa besar salah satunya adalah apabila dosa tsb ada ancaman dari Allah dan Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam maka ia termasuk dosa besar. dan dari kaidah dasar definisi inilah bisa ana simpulkan bahwa libas asysyhroh termasuk dosa besar karena ada ancaman dibakar api neraka (meskipun ana belum tau apakah ada ‘ulama lain yg memasukkannya dlm dosa besar). oleh karena itulah di komentar ana sebelumnya ana minta tolong kepada ustadz utk menanyakan hal ini kpd ‘ulama karena tentunya akses ustadz ke ‘ulama tentunya lebih baik drpd ana.
    ana pernah ikut kajian kitab azzawajir karya ibnu hajar al haitami rohimahullooh satu kali. penjelasan dari ustadz yg membawakan waktu itu, dijelaskan bahwa dlm kitab ini dijelaskan lebih banyak al kaba-ir nya ketimbang dalam kitab adzdzahabi rohimahullooh yg sekitar 70an lebih. kalau ustadz punya kitab tersebut, bisakah dicek di sana apakah perkara libas asysyuhroh masuk dalam dosa besar?
    jazaakAlloohu khoiron atas semua penjelasannya. semoga bermanfaat bagi kita bersama dan yg membaca artikel ini. ana mohon maaf apabila ada kesalahan.
    Alloohu A’lam.
    wassalaamu’alaykum.

  • ustadzaris 8 years ago

    @Abu
    saya jumpai ada dua pendapat ulama tentang hukum memakai pakaian syuhroh
    1. makruh sebagaimana pendapat Ibnul Jauzi al Hanbali di Talbis Iblis
    2. haram sebagaimana pendapat Ibnu Ruslan sebagaimana yang dikutip oleh asy Syaukani dalam Nailul Author dan nampaknya asy Syaukani menyetujuinya.
    Jika ada orang yang memilih pendapat yang mengatakan makruh maka:
    1.makruh itu masih boleh dilakukan meski kita sarankan untuk meninggalkannya karena itulah yang lebih baik. orang yang melakukan makruh itu boleh ditegur namun tentu tegurannya beda dengan teguran untuk orang yang melakukan hal yang haram.
    2. makruh itu berubah menjadi mubah jika kita memang memiliki kebutuhan untuk melakukan hal yang makruh tersebut. ketika kebutuhan tersebut hilang maka hal tadi kembali menjadi makruh.

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Abu Ibrahim
    Jika pakaian tersebut dinilai nyleneh maka termasuk pakaian syuhroh yang terlarang. Jika tidak dinilai nyleneh maka tidak mengapa.

  • fahrul 8 years ago

    Assalamu ‘alaikum
    Bagaimana hukum memakai kemeja dan celana panjang bahan hitam tak isbal(bukan jeans) saat teman-teman di kampus menggunakan kaos-kaos bergambar dan celana panjang jeans?

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Fahrul
    Wa’alaikumussalam
    Insya Allah, tidak mengapa.

  • Orang biasa 8 years ago

    Assalamu’alaikum pak ustadz,
     
    Saya senang memakai baju koko hatta kalau pergi ke mall. Tujuan saya memakainya untuk syiar Islam @ membedakan antara muslim dan non muslim. Memang saya perhatikan di mall hanya saya saja yang pake baju koko :-)
     
    Pertanyaannya : Apakah yang saya lakukan termasuk syuhroh ?

  • Muhammad Aliya Imaduddin 8 years ago

    Assalamu Aleykum. Ustadz,
    1.jikalau tidak memakai kopiah tidak apa2 karena maru’ah hilang?
    2.bgaimana dengan akhwat kerna hijabnya?
    3.syukran.

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Orang
    Wa’alaikumussalam
    Saya sarankan agar pakai baju hem biasa.
    Islam telah mengajarkan cara membedakn antara muslim dengan non muslim untuk laki-laki dengan berjenggot dan tidak isbal.

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Imad
    Wa’alaikumussalam
    Tolak ukur suatu hal itu termasuk muru’ah atau melanggar murua’ah adalah urf alias tradisi umumnya masyarakat selama tidak melanggar syariat.

  • taufiq 8 years ago

    Ustadz saya hendak bertanya bagaimana dengan mahasiswa yang membawa sarung dan dipakai untuk merangkap celana panjang ketika shalat di mushala kampus. Perlu diketahui bahwa keadaan di mushala kampus tersebut tidak ada orang yang melakukan demikian kecuali orang tersebut. Apakah perbuatan tersebut bisa dinilai memakai pakaian syuhroh?

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Taufiq
    Jika celananya sudah menutup aurat dan dengar perbuatan tersebut orang tadi jadi nampak nyleneh maka termasuk pakaian syuhroh.

  • riansyah 8 years ago

    assalamu’alaikum. artikel dan komentar yang cukup membingungkan bagi orang seperti saya. memang setiap tempat ada haknya masing-masing. orang Jawa bilang, desa mawa cara, negara mawa tata. saya adalah orang yang kalo ke kampus pake celana ngatung, kadang pake gamis, tapi ketika saya makai gamis, yang terjadi adalah saya malu memakainya. Akhirnya hanya mencukupkan diri dengan baju koko. Nah, saya mau tanya, kalau saya merasakan malu saat memakai gamis ke kampus, bagaimana pandangan Islam dalam hal ini? Bukankah malah saya jadi malu make pakaian ‘Sunnah’?
    Kemudian, setiap amal itu kan tergantung niatnya yach? nah, kalau ada orang memakai gamis ke kampus, makai peci, sholat juga begitu, di masyarakat juga begitu, dan tidak ada niat di hatinya untuk membedakan diri dengan masyarakat muslim lainnya dalam rangka sombong, hanya semata-mata ingin menjaga penampilan Sunnahnya, apakah dikatakan dia melakukan syuhrah?
    Apakah hukum yang Antum bawakan ini bersifat mutlak atau tidak? Apakah semua pelakunya dipukul rata?
    Kemudian, mungkin inilah alasan Antum, sebatas pengetahuan saya, saya jarang melihat antum memakai gamis atau jubah. Antum, setahu ana, seringnya pakai celana biasa, atasan koko, dan peci. Pas khutbah Jum’at ana lihat antum pake sarung. Bukankah seorang ustadz hendaknya memberikan teladan bagi muridnya, termasuk dalam hal berpakaian.
    Mohon maaf  jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan. iranya komentar saya ini dijawab. Terima kasih, jazakumullahu khayran katsiiraa
     

  • ustadzaris 8 years ago

    @Riansyah
    Dari mana anda katakan bahwa pakaian gamis adalah pakaian sunnah? Apakah yang sunnah dalam masalah pakaian? Tolong baca di sini: http://ustadzaris.com/haruskah-memakai-jubah
    Bukankah isbal terlarang meski orang tidak berniat untuk sombong?Bukankan orang yang buka-buka aurat itu terlarang meski katanya dia tidak bermaksud untuk bermaksiat?

  • Ummu Haidar 8 years ago

    Assalamu’alaikum. Ustadz, ana mw tanya. di desa asal Ana, hampir tdak ada yang memakai pakaian serba gelap dan bercadar. mayoritas Mereka berpakaian sebagaimana muslimah pada umumnya(pakaian potongan, jilbab menutup dada,red), nah, apakah jika ada orang yang memakai pakaian serba gelap dan memakai cadar datang ke desa ana, maka pakaian org tsb dianggap syuhroh? karena memang jika ada yg datang dgn penampilan seperti itu,orang2 akan ramai membicarakan/meggunjing. JIka demikian, lalu baiknya bagaimana ya Ustadz? apakah org yang bercadar tsb harus mengubah penampilannya(berpakaian sbgmn umumnya, red) setiap akan datang ke desa ana tsb? Ats jwaban ustadz, ana ucapkan jazakumullahukhoir.

  • infonya sangat bermanfaat.makasi

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Ummu
    Jika anda menyakini cadar itu wajib maka tetaplah memakai cadar. pakailah warna gelap tapi warna gelap itu tidak harus hitam.

  • abu abdillah 8 years ago

    Di masjid kami banyak orang yang sholat hanya memakai kaos oblong dan sarung yang menjulur sampai menyentuh lantai, sedangkan saya memakai baju koko dan sarung setengah betis (saya merasa beda dari mereka), di kampung  celana saya selalu diatas mata kaki sedangkan mayoritas di kampung saya celananya sampai menyentuh tanah (saya juga beda dari merekadan dianggap nyleneh) apakah pakaian saya termasuk sughroh karena sarung  dan celana saya yang diatas mata kaki (baca: congklang).
    Apakah saya juga memakai kaos oblong  ketika sholat dan sarungnya diturunkan sampai lantai (agar tidak nyleneh) ?.  Bukankan ada perintah untuk memakai pakaian yang bagus ketika memasuki masjid?
    Terimakasih atas jawabannya

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Abu
    1. bercelana conklong hukumnya wajib. tidak ada larangan syuhroh jika karena melakukan kewajiban.
    2. jika anda shalat dengan memakai baju koko tidak dianggap nyleneh kan? Jika tidak dinilai nyleneh maka tidak mengapa jika anda memakai baju koko bahkan itu dianjurkan karena termasuk pakaian zinah yang Allah perintahkan untuk dipakai ketika sedang shalat.

  • ustadz kalau melayat orang meninggal di daerah  (sulawesi utara)  saya semuanya memakai pakaian putih, akan berbeda sekali kalau kita memakai warna lain…berbeda dengan di jawa yang terkadang ada yang memakai pakaian hitam dan ada juga yang tidak, haruskah saya mengikutinya????bolehkah perempuan memakai pakaian putih????

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Ummu
    Diantara yang terlarang adalah mengkhususkan warna tertentu sebagai warna pakaian takziyah.

  • ustadz, kalau pengantin boleh tidak pakai pakaian yang lain dari tamu???

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Ummu
    Insya Allah, boleh.

  • Bagaimana jika teman2 kampus sudah biasa melihat hal tersebut, dan tidak menjadikan mereka memandang tajam/bahan pembicaraan?ataukah sekedar beda itu dinamakan syuhroh? dan bagaimana jika seseorang mengenakan pakaian yang menjadikan orang memandang tajam tetapi hal itu adalah perkara yang wajib/ sunnah (misalnya : memakai celana diatas mata kaki, jenggot, akhwat memakai cadar) ? Apakah itu termasuk Syuhroh? Tolong ustadz memberi definisi dan batasan2 Syuhroh secara rinci agar tidak membingungkan.

  • ustadzaris 8 years ago

    untuk ummun
    jika tidak menyebabkan menjadi bahan pembicaraan maka tidak termasuk syuhroh.
    jika itu diwajibkan syariat semisal jenggot maka ‘pandangan sinis’ dalam hal ini tidak perlu dipedulikan.

  • abdulloh 8 years ago

    ustadz, bagaimana jk kita shalat di tmpt yg mayoritas jama’ahny memakai jubah sdgkan kita memakai celana panjang biasa, shg kita beda dg yg lain, apakah ini trmsk syuhroh?

  • ustadzaris 8 years ago

    untuk Abdullah
    Iya, jika menyebabkan banyak tatapan aneh tertuju kepada kita.

  • Ibnu MZ 8 years ago

    Ustadz,beberapa waktu yang lalu, saya menahan keinginan untuk ikut acara dauroh (umum!) 7 hari di Masjid baiturrohman Semarang karena hampir seluruhnya mereka mengenakan jubah dan kopiah bulat atau yang semodelnya. Masalahnya, saya belum terbiasa pakai jubah dan menurut komentar banyak orang (termasuk keluarga), penampilan saya tidak cocok pakai kopiah bulat atau yg semodelnya. Berbagai model sudah saya coba, dan tetap dianggap “nggak pas” (padahal orang lain bisa “keren” pakai kopiah bulat model apa pun!) Selama ini saya dan atas penilaian banyak orang lebih cocok dengan peci hitam khas indonesia (peci nasional).
    Apakah peci hitam (peci nasional) itu “bermasalah” sehingga sangat jarang bahkan seringkali tidak ada yang pakai peci hitam dalam ta’lim/dauroh?
    Apakah termasuk syuhroh bila saya memakai peci hitam/nasional dalam ta’lim/dauroh sementara yang lainnya tidak ada yang seperti saya?
    Bagaimana pula jika saya tidak mengenakan penutup kepala di tengah-tengah jamaah yang memakai penutup kepala (kopiah bulat dan semodelnya)?
    Mohon nasihat ustadz, karena hal tersebut sering merisaukan dan membuat saya ragu, padahal saya sangat ingin ikut ngaji bersama mereka.

  • ustadzaris 8 years ago

    #ibnu
    Peci hitam itu sama sekali tidak masalah.
    Bukan syohroh, jika penampilan anda di tempat tersebut tidak menyebabkan adanya tatapan aneh yang hanya akan membuat anda tidak nyaman.

  • maaf ustadz, setau saya waktu saya masih kecil wanita memakai celana itu melanggar muru’ah jadi kakak2 saya jika ketahuan mereka memakai celana di tempeleng sama bapak. tapi sekarang wanita memakai celana itu hal yg biasa. apakah muru’ah ini akan terus tergerus zaman jika iya berarti apakah kita akan berpatokan padanya???
    berpeci putih, memakai gamis selutut, plus celana jingkrang dulu adalah hal yang aneh bagi saya. tapi sekarang tdk lagi karena sudah banyak yg memakainya, berarti ada yg memulainya entah itu satu atau dua org yg syuhrah.
    pakai gamis selutut itu lebih aman dan nyaman apalagi pas sujud…