Minta Fatwa pada Hatimu

Minta Fatwa pada Hatimu

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr.wb
Hadits mengenai, seorang sahabat yg bertanya kepada Rasulullah saw.
tentang perbedaan antar kaum muslim yg sering terjadi dan mana yang
benar ? Rasulullah menjawab tanya hatimu, sungguh hatimu serba
mengetahuinya yg mna baik.
(kira2 begitu bunyinya ustads…)
saya ingin menanyakan, apakah hadits ini shahih ?
karena menurut saya hati orang berbeda-beda sehingga, tanggapan orang
mengenai sesuatu itu juga pasti berbeda..
saya mohon penerangan atas masalah ini ustadz…
terimakasih,
wassalam…

Jawaban:

Hadits yang anda maksudkan teks arabnya adalah sebagai berikut:

يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِى الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Wabishoh, “Wahai Wabishoh, bertanyalah kepada hatimu, bertanyalah kepada jiwamu- Nabi katakan sebanyak tiga kali-. Kebaikan adalah apa yang hati merasa tenteram melakukannya. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan” [HR Ahmad no 18035, dinilai al Albani berkualitas hasan li ghairihi].

Tentang makna hadits ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan, “Sabda Nabi ini hanya berlaku untuk orang yang hatinya jernih dan sehat. Itulah hati yang merasa bimbang dan cemas jika melakukan dosa dan merasa tidak nyaman ketika ada orang yang melihatnya melakukan perbuatan tersebut.

Sedangkan orang yang memang gemar bermaksiat dan tidak mau taat kepada Allah, mereka adalah orang-orang yang hatinya mati. Mereka adalah orang yang tidak peduli dengan apa saja yang mereka lakukan. Bahkan sering kali mereka merasa bangga dengan dosa dan perbuatan mungkar yang mereka lakukan.

Jadi hadits di atas tidaklah bersifat umum dan berlaku untuk semua orang namun hanya berlaku untuk orang yang hatinya sehat, jernih dan bersih. Hati yang kondisinya semisal ini jika berkeinginan untuk melakukan perbuatan yang bernilai dosa -meski orang tersebut belum tahu bahwa perbuatan tersebut itu dosa dalam syariat- merasa bimbang dan khawatir kalau ada orang yang memergokinya sedang melakukan perbuatan itu. Inilah tanda perbuatan dosa yang ada di hati orang yang baik keimanannya” [Syarah Arbain Nawawiyyah hal 294-295, terbitan Dar Tsaraya Riyadh cet ketiga 1425 H].

Artikel www.ustadzaris.com