Kelompok yang Mengingkari Malaikat

Kelompok yang Mengingkari Malaikat

Orang-orang yang tidak beriman (kufur) terhadap malaikat dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok:

Pertama:

Para ahli filsafat berpendapat bahwasanya, malaikat itu tidak ada. Menurut mereka, malaikat adalah imajinasi akal yang dimiliki oleh manusia yang berjiwa bersih. Imajinasi ini lalu membisikkan berbagi hal. Sehingga dapat kita katakan, bahwa menurut mereka malaikat itu tidak ada wujudnya. Keyakinan seperti ini merupakan pengingkaran terhadap al Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tidak diragukan lagi bahwa hal ini termasuk bentuk kekafiran. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, “Ada sekelompok orang-orang menyimpang dan mengingkari keberadaan para malikat. Mereka berkeyakinan bahwa malaikat merupakan dorongan untuk melakukan kebaikan yang tersembunyi dalam diri makhluk. Keyakinan seperti ini berarti mendustakan al Qur’an, hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kesepakatan umat Islam. (QS Fathir ayat 1, Al anfal 50, al An’am 93, saba’ 23 dan ar Ra’du 23-24). Dari Abu Hurairah ra, Nabi Saw bersabda, “ Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya Aku mencintai Fulan. Maka hendaklah engkau mencintainya.” Jibril pun mencintai orang tersebut. Jibril kemudian berseru kepada penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencitai Fulan. Maka hendaklah engkau mencintainya.” Para malaikat penduduk langit pun kemudian mencintai orang tersebut. Setelah itu rasa cinta terhadap orang tesebut ditimbulkan pada diri orang-orang shalih yang ada di muka bumi ” (HR Bukhari). Nabi saw juga bersabda, “Pada hari Jum’at, maka pada setiap pintu masjid terdapat para malaikat yang mencatat orang-orang yang datang menghadiri shalat Jum’at satu persatu. Jika imam shalat Jum’at sudah duduk di atas mimbar, maka mereka melipat lembar-lembaran yang berisi daftar orang-orang yang menghadiri shalat Jum’at. Para malikat memasuki masjid untuk mendengarkan peringatan HR Bukhari dari Abu Hurairah”. Dalil-dalil di atas secara tegas menunjukkan bahwasa para malaikat memiliki bentuk, bukan dorongan yang bersifat abstrak sebagaimana pendapat orang-orang yang menyimpang. Mngingat dalil-dalil di atas, umat Islam bersepakat untuk mngimani para malaikat.” (Syarah Ushul al Iman hal 28-29)

2. Ada juga sekelompok ahli filsafat yang berpendapat bahwa malaikat sebenarnya tidak ada. Yang dianggap sebagai malaikat adalah bintang-bintang bergerak yang berada di antara langit dan bumi. Bintang-bintang ini meliputi bumi dari berbagai penjuru. Sebagaimana pendapat pertama di atas pendapat kedua ini jelas merupakan bentuk kekafiran.

3. Sedangkan pendapat orang kafir Makkah jahiliyah adalah mengakui adanya para Malaikat, akan tetapi mereka berkeyakinan bahwa malaikat merupakan anak perempuan Allah. Jadi mereka mengakui adanya malaikat akan tetapi dengan persepsi yang keliru.

4. Demikian juga kaum Yahudi mengakui keberadaan para malaikat dalam kitab-kitab mereka yang sudah tenodai oleh tangan-tangan manusia. Namun orang-orang Yahudi memberi karakter untuk malaikat dengan karakter yang tidak selayaknya. Mereka berkeyakinan bahwa para malaikat itu makan dan minum. Demikian pula mereka sangat membenci dan memusuhi malikat Jibril. Suatu hari orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi saw tentang malaikat yang menjadi pelindung Nabi, Nabi bersabda, “Jibril”. Orang-orang Yahudi lantas mengatakan Jibril adalah malaikat yang menjadi musuh kami. Seandainya malaikat yang menjadi pelindungmu adalah Mikail, maka kami akan beriman kepadamu” (Tafsir Ibnu Katsir QS al Baqarah).

5. Berkebalikan dengan orang Yahudi adalah orang Nashrani. Orang-orang Nashrani mengimani adanya malaikat, akan tetapi mereka beranggapan bahwa malaikat itu memiliki sifat-sifat ketuhanan. Hal ini bisa kita ketahui dari aqidah orang-orang Nashrani berkaitan dengan malikat Jibril. Mereka jadikan Jibril sebagai Rob selain Allah swt. Oleh karena itu orang-orang Nashrani mengatakan dengan Nama Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus.

6. Beberapa kelompok orang-orang Paganis (penyembah berhala) berkeyakinan bahwa para malaikat memiliki kemampuan untuk mencipta, dan masing-masing malaikat menurut mereka berdiri sendiri berkaitan dengan mengatur hal-hal yang menjadi kekuasannya masing-masing. Malaikat-malaikat ini mereka sebut dengan dewa-dewa, oleh karena itu mereka memiliki banyak dewa.

Menghina Malaikat

Mencaci dan menghina malaikat berarti kafir terhadap para malaikat Allah. Sedangkan kafir terhadap malikat termasuk kekafiran besar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Kekafiran seperti ini termasuk kekafiran dalam bentuk pengingkaran terhadap sesuatu yang harus diyakini. Oleh karena itu orang yang malakukannya bertaubat dan diajari aqidah yang benar
Sesudah kita mengimani adanya malaikat dan karakter-karakter yang mereka miliki, maka kita berkewajiban untuk mencintai para malaikat dan tidak menyakiti mereka baik dengan ucapan maupun dengan tindakan. Setelah itu kita berusaha semaksimal mungkin untuk merealisasikannya dalam perilaku lahir, diantaranya adalah dengan bersemangat untuk menghadiri tempat-tempat yang dihadiri oleh malaikat dan disukai oleh malaikat seperti masjid, majelis taklim dan forum-forum pengajian. Disamping itu kita juga berusaha meninggalkan segala sesuatu yang tidak disukai malaikat seperti bau yang tidak sedap. Seyogyanya kita juga mempunyai rasa malu terhadap para malikat. Jangan sampai mereka melihat kita dalam kondisi bermaksiat terhadap Allah swt.
Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin mengatakan bahwa iman kepada para malaikat itu membuahkan berbagai manfaat. Diantara manfaat-manfaat tersebut adalah:

  • Mengetahui keagungan dan kekuasaan Allah. Hal ini dikerenakan kehebatan makhluk tentu menunjukkan kehebatan Penciptanya.
  • Bersyukur kepada Allah swt karena Allah sangat memperhatikan manusia. Allah tugasi para malaikat untuk menjaga manusia, mencatat amal perbuatan manusia dan kepentingan-kepentingan manusia lainnya.
  • Rasa cinta kepada para malikat karena kesungguhan mereka dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala ( Syarah Ushul al Iman hal 27-28)

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 0