<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Mempertanyakan &#8220;Ngaji dengan Sururi&#8221;</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi</link>
	<description>Blog Ustadz Aris Munandar</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 10:34:43 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: fathimah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi/comment-page-1#comment-3280</link>
		<dc:creator>fathimah</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 23:13:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1005#comment-3280</guid>
		<description>Untuk Abu Zuhry.
Dengan demikian, tentunya Syaikh Muqbil dan Syikh Robi&#039; juga pernah melakukan kesalahan, karena mereka manusia. Sayyid Quthb, Salman alAudah, Safar al-Hawaly, (antum menyebutkan dll, siapa? tolong ilmiah sedikit), juga manusia, antum pun manusia. Mungkin saja mereka semua, ana, antum, pernah melakukan kesalahan. Jadi, sebagaimana perkataan Syaikh Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy, &quot;Jangan sampai perbedaanku dengan kalian dalam satu masalah, membuat kalian tidak menerima kebenaran lain yang datang dariku.&quot;
Akhi Abu Zuhry, sekalian nasihat untuk antum. Bahwa, jika kita mencari sebuah komunitas atau kelompok pengajian yang tidak ada salahnya sama sekali, maka, Demi Alloh, tidak pernah akan kita temui. Ada seorang ukhtun yang mengatakan bahwa beliau tidak mau mengambil ilmu di tempat lain karena takut syubhat. Maka jawabannya sederhana, kita tanyakan: &quot;Apakah di kelompok anti sama sekali tidak ada syubhat (kesalahan)?&quot; Jika dijawab, &quot;Tidak.&quot; Maka berarti telah mengikrarkan diri sebagai jama&#039;ah yang tidak ada salahnya. Jika dijawab, &quot;Ya.&quot; Maka telah membantah diri sendiri.
Bukankah ini logika terbolak-balik? Demikian, semoga kita dilindungi dari sikap merasa benar sendiri dan tidak mau menerima kebenaran dari orang lain karena yang menyampaikan bukan dari kelompok kita. Ada suatu cerita lagi. Saya pernah menyampaikan pernyataan kepada seorang akhun yang isinya: Bagaimana jika ust. Aris Munandar membaca kitab tafsir Karimirrahman persis di kitab, apakah antum mau menerimanya?&quot; Jawabannya ternyata &quot;tidak&quot;, hanya karena ust. Aris Munandar bukan dari kelompoknya dan tertuduh Surury. Allohu akbar...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Abu Zuhry.<br />
Dengan demikian, tentunya Syaikh Muqbil dan Syikh Robi&#8217; juga pernah melakukan kesalahan, karena mereka manusia. Sayyid Quthb, Salman alAudah, Safar al-Hawaly, (antum menyebutkan dll, siapa? tolong ilmiah sedikit), juga manusia, antum pun manusia. Mungkin saja mereka semua, ana, antum, pernah melakukan kesalahan. Jadi, sebagaimana perkataan Syaikh Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy, &#8220;Jangan sampai perbedaanku dengan kalian dalam satu masalah, membuat kalian tidak menerima kebenaran lain yang datang dariku.&#8221;<br />
Akhi Abu Zuhry, sekalian nasihat untuk antum. Bahwa, jika kita mencari sebuah komunitas atau kelompok pengajian yang tidak ada salahnya sama sekali, maka, Demi Alloh, tidak pernah akan kita temui. Ada seorang ukhtun yang mengatakan bahwa beliau tidak mau mengambil ilmu di tempat lain karena takut syubhat. Maka jawabannya sederhana, kita tanyakan: &#8220;Apakah di kelompok anti sama sekali tidak ada syubhat (kesalahan)?&#8221; Jika dijawab, &#8220;Tidak.&#8221; Maka berarti telah mengikrarkan diri sebagai jama&#8217;ah yang tidak ada salahnya. Jika dijawab, &#8220;Ya.&#8221; Maka telah membantah diri sendiri.<br />
Bukankah ini logika terbolak-balik? Demikian, semoga kita dilindungi dari sikap merasa benar sendiri dan tidak mau menerima kebenaran dari orang lain karena yang menyampaikan bukan dari kelompok kita. Ada suatu cerita lagi. Saya pernah menyampaikan pernyataan kepada seorang akhun yang isinya: Bagaimana jika ust. Aris Munandar membaca kitab tafsir Karimirrahman persis di kitab, apakah antum mau menerimanya?&#8221; Jawabannya ternyata &#8220;tidak&#8221;, hanya karena ust. Aris Munandar bukan dari kelompoknya dan tertuduh Surury. Allohu akbar&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi/comment-page-1#comment-2196</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 14:44:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1005#comment-2196</guid>
		<description>Untuk Abu
Maaf, silahkan tanyakan masalah tsb pada orang yang kompenten namun &#039;ala kulli hal tolong ingat baik-baik kaedah yang disampaikan Ibnu Utsaimin sebagaimana yang ada dalam link yang tadi telah saya berikan. Sudahkah dibaca?
Penilaian untuk Sayyid Qutb, juga bisa anda pada link yang telah saya berikan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Abu<br />
Maaf, silahkan tanyakan masalah tsb pada orang yang kompenten namun &#8216;ala kulli hal tolong ingat baik-baik kaedah yang disampaikan Ibnu Utsaimin sebagaimana yang ada dalam link yang tadi telah saya berikan. Sudahkah dibaca?<br />
Penilaian untuk Sayyid Qutb, juga bisa anda pada link yang telah saya berikan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: abu Zuhriy</title>
		<link>http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi/comment-page-1#comment-2192</link>
		<dc:creator>abu Zuhriy</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 10:01:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1005#comment-2192</guid>
		<description>untuk perkataan ustadz,
&quot;Harus kita bedakan antara orang yang disepakati oleh para ulama ahli sunnah sebagai tokoh bid’ah dengan orang yang diperselisihkan apakah tokoh bid’ah ataukah tidak.&quot;
 
na&#039;am dan memang tidak ana katakan &#039;ulama sepakat bahwa dia ahlul bid&#039;ah. dan memang telah ada pernyataan dari syaikh al-fauzan orang ini bukanlah ahlul bid&#039;ah, TAPI asy-syaikh pun tidak menggolongkannya sebagai &#039;ALIM. yang ada, dia dikategorikan sebagai seorang yang jahil. sehingga menghalanginya untuk divonis ahlul bid&#039;ah.
 
sekarang, terlepas apapun statusnya, imma ahlul bid&#039;ah, &#039;ulama atau jahil.
sesuai dengan perkataan antum:
 
&quot;yang menjadi parameter penilaian menurut seorang muslim adalah al Qur’an dan sunnah sebagaimana yang dipahami dan diamalkan oleh para shahabat, bukan perkataan A ataupun B.&quot;
maka pertanyaan ana, bagaimana dengan point ketiga ustadz, apakah pemahaman dan pemikiran  salman al-audah, sayyid quthb, aidh al-qorniy, safar al-hawali dll. SESUAI DENGAN pemahaman dengan salafush shålih?
 
jazaakallåhu khåyrån ustadz atas jawabannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>untuk perkataan ustadz,<br />
&#8220;Harus kita bedakan antara orang yang disepakati oleh para ulama ahli sunnah sebagai tokoh bid’ah dengan orang yang diperselisihkan apakah tokoh bid’ah ataukah tidak.&#8221;<br />
 <br />
na&#8217;am dan memang tidak ana katakan &#8216;ulama sepakat bahwa dia ahlul bid&#8217;ah. dan memang telah ada pernyataan dari syaikh al-fauzan orang ini bukanlah ahlul bid&#8217;ah, TAPI asy-syaikh pun tidak menggolongkannya sebagai &#8216;ALIM. yang ada, dia dikategorikan sebagai seorang yang jahil. sehingga menghalanginya untuk divonis ahlul bid&#8217;ah.<br />
 <br />
sekarang, terlepas apapun statusnya, imma ahlul bid&#8217;ah, &#8216;ulama atau jahil.<br />
sesuai dengan perkataan antum:<br />
 <br />
&#8220;yang menjadi parameter penilaian menurut seorang muslim adalah al Qur’an dan sunnah sebagaimana yang dipahami dan diamalkan oleh para shahabat, bukan perkataan A ataupun B.&#8221;<br />
maka pertanyaan ana, bagaimana dengan point ketiga ustadz, apakah pemahaman dan pemikiran  salman al-audah, sayyid quthb, aidh al-qorniy, safar al-hawali dll. SESUAI DENGAN pemahaman dengan salafush shålih?<br />
 <br />
jazaakallåhu khåyrån ustadz atas jawabannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi/comment-page-1#comment-2187</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 07:24:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1005#comment-2187</guid>
		<description>Untuk Abu Zuhri
&#039;ala kulli hal, yang menjadi parameter penilaian menurut seorang muslim adalah al Qur&#039;an dan sunnah sebagaimana yang dipahami dan diamalkan oleh para shahabat, bukan perkataan A ataupun B.
Harus kita bedakan antara orang yang disepakati oleh para ulama ahli sunnah sebagai tokoh bid&#039;ah dengan orang yang diperselisihkan apakah tokoh bid&#039;ah ataukah tidak.
Sungguh indah nasehat Ibnu Utsaimin terkait sikap yang tepat terhadap Sayid Qutub.
Nasehat tersebut bisa anda baca di sini:
http://abiubaidah.com/mewaspadai-kitab-kitab-bermasalah.html/ pada penjelasan tentang buku Fi Zhilal al Qur&#039;an.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Abu Zuhri<br />
&#8216;ala kulli hal, yang menjadi parameter penilaian menurut seorang muslim adalah al Qur&#8217;an dan sunnah sebagaimana yang dipahami dan diamalkan oleh para shahabat, bukan perkataan A ataupun B.<br />
Harus kita bedakan antara orang yang disepakati oleh para ulama ahli sunnah sebagai tokoh bid&#8217;ah dengan orang yang diperselisihkan apakah tokoh bid&#8217;ah ataukah tidak.<br />
Sungguh indah nasehat Ibnu Utsaimin terkait sikap yang tepat terhadap Sayid Qutub.<br />
Nasehat tersebut bisa anda baca di sini:<br />
<a href="http://abiubaidah.com/mewaspadai-kitab-kitab-bermasalah.html/" rel="nofollow">http://abiubaidah.com/mewaspadai-kitab-kitab-bermasalah.html/</a> pada penjelasan tentang buku Fi Zhilal al Qur&#8217;an.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: abu Zuhriy</title>
		<link>http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi/comment-page-1#comment-2184</link>
		<dc:creator>abu Zuhriy</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 05:13:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1005#comment-2184</guid>
		<description>ya ustadz, baaråkallåhu fiyk

harap antum cek lagi situs yang dipajang ummu &#039;aa-isyah diatas dengan teliti, malah yang mereka sebut &#039;bantahan&#039; itu membenarkan tuduhan yang jatuh pada mereka.
berikut point-point yang ana dapatkan dari website diatas:

1. dari judulnya saja telah nyata pembelaan mereka yang sangat nyata dengan tokoh-tokoh ahlul bid&#039;ah, bahkan menggolongkan tokoh ahlul bid&#039;ah ini sebagai &#039;ulama?!

Dan tidak ada dari salafiyun yang membela Ahlul Bid’ah.

Tanggapan :

Permasalahan pertama, kriteria ahli bid’ah versi “salafy” yang begitu rancu. Sebab hal ini dibangun di atas penerapan kaidah bid’ah yang rancu pula. Akibatnya, penyematan gelar ahli bid’ah terkesan serampangan, dan tertuju pada orang-orang yang tidak semestinya. Kedua, kalau tokh anggapan mereka kaum “salafy” itu benar bahwa tokoh-tokoh yang mereka cap sebagai ahli bid’ah, maka sebenarnya WI bukan membela ahlul bid’ah (menurut anggapan salafy), Ma’adzalLoh..!! tetapi WI cuma membela orang-orang yang terdzolimi dari kalangan para duat dan ulama yang menjadi bulan-bulanan celaan antum seperti Sayyid Qutb, Hasan Al-Banna, Syaikh Safar al-Hawali, Syaikh Salman, Syaikh ‘Aidh al-Qarni, hafidzahumulloh al-ahya wa rahimal amwat minhum, yang sebelumnya telah dibela dengan tegas oleh ulama kibar seperti Syaikh Bin Baz, Ibnu Utsaimin, Al-Albani, Syaikh Abdul Muhsin, Syaikh al-Jibrin, Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahumullLoh wa hafidzollohul ‘ahya

2. mereka tidak mengelak dengan manhaj muwazanah, padahal istilah ini telah digunakan &#039;ulama salafiyyin untuk membedakan manhaj salaf dan manhaj surruriy. bahkan melakukan mereka membenarkannya dengan mengangkat perkataan &#039;ulama-&#039;ulama salafiyyin seakan-akan membenarkan manhaj sesat ini

(lihat dua point diatas pada bagian pertama dari tiga bagian artikel &#039;Silsilah pembelaan para du’at dan ulama&#039;; url:http://alinshof.co.cc/?p=33)

3. lihalah juga bagaimana dibagian ketiga, yang mereka menggunakan fatwa-fatwa &#039;ulama yang seakan-akan fatwa &#039;ulama tersebut membenarkan pemahaman dan pemikiran salman al-audah, sayyid quthb, aidh al-qorniy, safar al-hawali dll.

(bagian ketiga dari tiga bagian artikel &#039;Silsilah pembelaan para du’at dan ulama&#039;; url:http://alinshof.co.cc/?p=74)
wallåhul muwaffiq</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ya ustadz, baaråkallåhu fiyk</p>
<p>harap antum cek lagi situs yang dipajang ummu &#8216;aa-isyah diatas dengan teliti, malah yang mereka sebut &#8216;bantahan&#8217; itu membenarkan tuduhan yang jatuh pada mereka.<br />
berikut point-point yang ana dapatkan dari website diatas:</p>
<p>1. dari judulnya saja telah nyata pembelaan mereka yang sangat nyata dengan tokoh-tokoh ahlul bid&#8217;ah, bahkan menggolongkan tokoh ahlul bid&#8217;ah ini sebagai &#8216;ulama?!</p>
<p>Dan tidak ada dari salafiyun yang membela Ahlul Bid’ah.</p>
<p>Tanggapan :</p>
<p>Permasalahan pertama, kriteria ahli bid’ah versi “salafy” yang begitu rancu. Sebab hal ini dibangun di atas penerapan kaidah bid’ah yang rancu pula. Akibatnya, penyematan gelar ahli bid’ah terkesan serampangan, dan tertuju pada orang-orang yang tidak semestinya. Kedua, kalau tokh anggapan mereka kaum “salafy” itu benar bahwa tokoh-tokoh yang mereka cap sebagai ahli bid’ah, maka sebenarnya WI bukan membela ahlul bid’ah (menurut anggapan salafy), Ma’adzalLoh..!! tetapi WI cuma membela orang-orang yang terdzolimi dari kalangan para duat dan ulama yang menjadi bulan-bulanan celaan antum seperti Sayyid Qutb, Hasan Al-Banna, Syaikh Safar al-Hawali, Syaikh Salman, Syaikh ‘Aidh al-Qarni, hafidzahumulloh al-ahya wa rahimal amwat minhum, yang sebelumnya telah dibela dengan tegas oleh ulama kibar seperti Syaikh Bin Baz, Ibnu Utsaimin, Al-Albani, Syaikh Abdul Muhsin, Syaikh al-Jibrin, Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahumullLoh wa hafidzollohul ‘ahya</p>
<p>2. mereka tidak mengelak dengan manhaj muwazanah, padahal istilah ini telah digunakan &#8216;ulama salafiyyin untuk membedakan manhaj salaf dan manhaj surruriy. bahkan melakukan mereka membenarkannya dengan mengangkat perkataan &#8216;ulama-&#8217;ulama salafiyyin seakan-akan membenarkan manhaj sesat ini</p>
<p>(lihat dua point diatas pada bagian pertama dari tiga bagian artikel &#8216;Silsilah pembelaan para du’at dan ulama&#8217;; url:http://alinshof.co.cc/?p=33)</p>
<p>3. lihalah juga bagaimana dibagian ketiga, yang mereka menggunakan fatwa-fatwa &#8216;ulama yang seakan-akan fatwa &#8216;ulama tersebut membenarkan pemahaman dan pemikiran salman al-audah, sayyid quthb, aidh al-qorniy, safar al-hawali dll.</p>
<p>(bagian ketiga dari tiga bagian artikel &#8216;Silsilah pembelaan para du’at dan ulama&#8217;; url:http://alinshof.co.cc/?p=74)<br />
wallåhul muwaffiq</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
