Memakai Jam Tangan di Tangan Kanan atau Kiri?

Pertanyaan:
“Ada hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan untuk mendahulukan kanan dalam hal kebaikan, seperti masuk masjid, memakai sandal. Tetapi bagaimanakah jika yang kita pakai itu sesuatu yang tidak berpasangan seperti jam tangan?Manakah yang lebih utama, antara kanan dan kiri untuk jam tangan?”

Jawaban:
Ketika jam tangan muncul pertama kali dikenal, orang-orang memakainya di tangan sebelah kiri dengan maksud agar tidak ada sesuatu pun di tangan kanan yang akan mengganggu geraknya. Pada umumnya, gerakan tangan kanan lebih banyak daripada tangan kiri, sehingga orang-orang pun memakaianya di tangan kirinya supaya lebih leluasa untuk bergerak. Selain itu, karena tangan kanan sering digunakan untuk beraktivitas sehingga dikhawatirkan jam tangan bisa rusak jika dikenakan di tangan kanan, misalnya terbentur sesuatu. Sehingga orang-orang lebih suka mengenakan jam tangannya di tangan sebelah kiri.

Ada sebagian orang yang menyangka bahwa yang terbaik dan lebih utama mengenakan jam tangan di tangan sebelah kanan, mengingat terdapat dalil yang menunjukkan anjuran mengutamakan tangan kanan. Akan tetapi sangkaan ini tidaklah benar karena terdapat hadits yang menunjukkan bahwa Nabi memasang cincinnya di jari tangan kanan. Dan terkadang beliau memasang cincinnya di jari tangan kiri. Boleh jadi mengenakan cincin dengan jari tangan kiri itu lebih utama agar tangan kanan bisa dengan mudah melepas cincin jika diperlukan.

Kembali pada masalah jam tangan, kita bisa menyamakannya dengan cincin. Sehingga tidak ada kelebihan tangan kanan ataupun tangan kiri dalam mengenakan jam tangan. Ada kelonggaran dalam masalah ini. Kita boleh mengenakan jam tangan di tangan kanan, dan boleh juga di tangan kiri. (lihat Fatwa Syaikh Ibn Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin Cetakan Dar wathan Juz 7 hal 184)

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 16
  • Jazaakaalloohu khoyron ustadz Aris.

  • alhamdulillah

  • Intifadoh 9 years ago

    Bagaimana dengan hukum musik ?
    1. Apakah hadist dihalkannya judi, khamr dan alat-alat musik itu hadist shohih? Atau kata-katanya bukan alat2 musik tapi  “alat-alat yang melalaikan” ? Saya ingin mengetahui sanad hadist itu?
    2. Banyak ulama yang memfatwakan musik haram? Tapi, nabi muhammad saw pun pernah mendengarkan dan menyenandungkan syair / musik sebagaimana beberapa riwayat kalau tidak salah dalam acara perkawinan dan pada hari raya? Tapi kenapa Rasul bersabda dengan hadist di atas?   Dan kenapa juga bersabda dalam hadist …… perutnya dipenuhi dengan nanah para pembuat syair sedangkan rasul sendiri pernah menyenandungkan sya’ir Ibnu Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit (Ini juga perlu diteliti lagi). ?  Saya jadi bingung.
    A yang tidak membolehkan, tapi A sendiri pernah  melakukan ?
    Oleh karena itu, mohon ustadz jawabannya terhadap masalah ini.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Inti
    1. shahih, riwayat Bukhari, Abu Daud dll dengan redaksi ma’azif yang artinya alat-alat musik.
    2. syair itu beda dengan alat musik. Syair ada yang baik, ada yang jelek. Alat musik semuanya jelek kecuali rebana. Itu pun hanya saat ied atau walimah urs.

  • 1. Bagaimana etika menurut sunnah terhadap jenazah dari saat mulai di bawa dari keranda di masjid (setelah shalat jenazah)  sampai pemakaman ?   Bagaimana pengurusan jenazah menurut sunnah?
    2. Berapa kedalaman kuburan menurut sunnah? Kemana arah mayat ketika dikuburkan? Apakah perlu disiram dan memakai bunga ? Bagaimana tatanan menurut sunnah ?
    3. Bagaimana hukum jenazah memakai peti ?
    4. Bagaimanakah hukum mengadzani jenazah ketika akan dikuburkan?
    Syukron,

  • 1. Bagaimanakah hukum pengobatan jarak jauh? Ustadz bisa lihat di http://www.pengobatan.com dan http://www.indospiritual.com
    2. Bagaimana hukum mempelajari hipnotis (bukan dengan bantuan jin tapi ada teknik khusus), telepati, telekinetik dan lain-lain.
    3. Bagaimana dengan hukum ruwatan ? Karena ada yang mengatakan ruwatan itu syirik ? Ustadz bisa lihat di http://www.indospiritual.com

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Dianz
    1,2, tolong baca buku ahkam aljanaiz karya al albani yang sudah diterjemahkan oleh pustaka imam syafii bogor.
    3. hukumnya bid’ah kecuali jika ada keperluan
    4. hukumnya adalah bid’ah yang terlarang.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Fian
    1. pengobatan jarak jauh adalah pengobatan dengan jin, hukumnya haram.
    2. Jika dengan bantuan jin hukumnya haram. Jika tanpa jin, hukumnya juga haram karena hal tersebut adalah sarana menuju kezaliman.
    3. ruwatan adalah kemusyrikan karena meminta perlindungan (baca: isti’adzah) kepada selain Allah.

  • Assalammu’alaikum,
    1. Bagaimana hukum musik untuk stimulasi otak atau untuk terapi?
    Bisa ustadz lihat di http://www.mindsound.com contohnya itu.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Pandu
    Musik hukumnya haram dan berobat dengan yang haram hukumnya haram.

  • assalamu’alaikum
    sedikit menambahkan menurut saya jawaban ustadz untuk fian kurang lengkap.
    setelah saya buka  link pengobatan yang disampaikan oleh mas fian memang benar adalah haram sebagaimana dijawab ustadz aris.
    akan tetapi akar pertanyaan mas fian “ttg pengobatan jarak jauh” seyogyanya dikupas dengan teliti karena seorang dokter dari tempat yang jauh boleh jadi memberi terapi kepada pasiennya (misal lewat telephone) atau memberi perintah kepada pasien untuk membeli obat tertentu di apotik terdekat, hal serupa ini dikatakan pula pengobatan jarak jauh dan hal ini dihukumi dapat dihukumi mubah, atau sunah, bahkan bisa jadi wajib.
    ALLAHU A”LAM.
    wassalamu’alikum

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Rijal
    Wa’alaikumussalam
    Apa contoh kalimat dalam bahasa Indonesia yang menggunakan istilah ‘pengobatan jarak jauh’ dengan makna yang anda andai-andaikan?

  • abdulloh 9 years ago

    ustad ana pernah baca di buku fiqh sunnah wanita terbitan 3 pilar di bagian bab perhiasan.disana di jlaskan oleh hadis Ali Rodhiallohu’anhu bahwa memakai cincin (kalau tidak salah karena saya tidak bawa bukunya saat ini)tidak boleh di jari tengah dan jari sesudahnya.maksudnya jari yang mana saja ustad?Jazakallah

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Abdullah
    Jari tengah dan jari telunjuk. Hukum ini khusus untuk laki-laki. Sedangkan wanita boleh memakai cincin di semua jarinya.

  • Makasih atas infonya

  • Ridho Amrullah 8 years ago

    Memakai jam tangan sunnahnya di tangan kanan
    Syaikh Al-Bany ditanya:
    Kami melihat sebagian orang memakai jam tangan di tangan kanan, dan mereka berkata bahwa yang demikian itu sunnah, apa dalilnya? 

    Jawaban:
    Kami berpegang teguh dalam masalah ini dengan kaidah umum yang terdapat dalam hadits Aisyah di dalam Ash Shahih, ia berkata: 

    Rasulullah menyukai menggunakan (mendahulukan) kanan dalam segala sesuatu, yaitu ketika bersisir, bersuci, dan dalam setiap urusan.

    Dan kami tambahkan dalam hal ini, hadits lain yang diriwayatkan dalam Ash Shahih, bahwa beliau bersabda: 

    Sesungguhnya Yahudi tidak mencelup (menyemir) rambut-rambut mereka, karena itu berbedalah dengan mereka, dengan cara menyemir rambut kalian.

    Juga hadits-hadits yang lain yang di dalamnya terdapat perintah untuk berbeda dengan musyrikin. 

    Maka dari hadits-hadits tersebut dapat kami simpulkan bahwa disunnahkan bagi seorang muslim untuk bersemangat dalam membedakan diri dengan orang-orang kafir. 

    Dan sepatutnyalah untuk kita ingat bahwa membedakan diri dari orang kafir, mengandung arti bahwa kita dilarang mengikuti adat kebiasaan mereka. Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyerupai orang kafir, dan sudah selayaknya bagi kita wntuk selalu tampil beda dengan orang-orang kafir. 

    Di antara adat kebiasaan orang kafir adalah memakai jam tangan di tangan kiri, padahal kita mendapatkan pintu yang teramat luas di dalam syariat untuk menyelisihi adat ini. Walhasil mengenakan jam tangan di tangan kanan merupakan pelaksanaan kaidah umum, yaitu (mendahulukan) yang kanan, dan juga kaidah umum yang lain yaitu membedakan diri dengan orang-orang kafir. 

    Diambil dari Fatwa-Fatwa Syaikh Nashiruddin Al-Albany, Penerbit: Media Hidayah