<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Memahami Bid&#8217;ah dengan Benar</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:03:02 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar/comment-page-1#comment-6541</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 13:55:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1014#comment-6541</guid>
		<description>#ibnu
1. pertanyaan anda sudah dijawab oleh al Ustadz Sofyan Basweidan
2. ijma adalah hujjah. telah ada ijma -sebagaimana pengakuan mereka-dalam masalah penulisan shalawat setelah menulis nama Nabi. Jika demikian, selesailah masalah. namun adakah ijma dalam masalah yasinan?? jika tidak ada ijma maka kita wajib mengikuti pendapat yang bersesuaian dengan kaedah dan dalil? manakah pendpat yang lebih bersesuaian dengan dalil dalam masalah ini?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#ibnu<br />
1. pertanyaan anda sudah dijawab oleh al Ustadz Sofyan Basweidan<br />
2. ijma adalah hujjah. telah ada ijma -sebagaimana pengakuan mereka-dalam masalah penulisan shalawat setelah menulis nama Nabi. Jika demikian, selesailah masalah. namun adakah ijma dalam masalah yasinan?? jika tidak ada ijma maka kita wajib mengikuti pendapat yang bersesuaian dengan kaedah dan dalil? manakah pendpat yang lebih bersesuaian dengan dalil dalam masalah ini?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ibnu Saleh</title>
		<link>http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar/comment-page-1#comment-6511</link>
		<dc:creator>Ibnu Saleh</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 19:00:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1014#comment-6511</guid>
		<description>


Assalaamu&#039;alaykum wa rahmatullahi wabarakatuh.
 
Ustadz, ana benar2 bingung, kalangan pelaku bid&#039;ah berargumentasi dengan masalah penulisan lafazh shalawat setiap di belakang nama Rasulullah untuk melegalkan bid&#039;ah mereka.
 
Menurut mereka, dalam hal ini telah terjadi ijma&#039; tentang dibolehkannya terus2an menulis lafazh shalawat di setiap di belakang nama Rasululillah ketika ditulis. Lalu mereka mengqiyaskan hal ini kepada praktek2 bid&#039;ah yang lain. Intinya mereka berkata: Secara asal, yang masyru&#039; adalah mengucapkan shalawat -bukan ditulis- jika disebutkan nama Rasulullah tapi para ulama dari dulu sampai sekarang telah melakukan penulisan lafazh shalawat mengiringi nama Rasulullah ketika ditulis padahal ini ga ada contohnya, sekali lagi -menurut mereka jika mau mengikuti alur berpikir wahabi- yang masyru&#039; adalah diucapkan bukan ditulis jika ditulis maka bid&#039;ah sebab dalam hal ini telah melakukan cara baru dalam beribadah -dalam hal ini shalawat- yang tadinya seharusnya dilafazhkan tapi malah ditulis padahal ibadah itu -kata mereka: menurut wahabi- harus sesuai dalam hal waktu, tempat, Cara dan lain2.
 
Maka menurut mereka ini adalah bid&#039;ah -jika dari sudut pandang wahabi- tapi toh ulama salaf juga membolehkan bahkan menganjurkan, pendapat tentang dianjurkannya menulis lafazh shalawat di belakang nama Rasulullah tersebar luas di kalangan para ulama salaf dan tidak diketahui satu pun dari mereka yang menentang hal ini plus penerimaan umat terhadap hal ini maka ini teranggap sebagai ijma&#039;.
 
Nah, dari sini menurut mereka ada yang namanya bid&#039;ah hasanah dan berarti juga bid&#039;ah idhafiyah seperti yasinan, dll itu ga termasuk bid&#039;ah yang dhalalah karena secara asal, komponen2 yang ada dalam acara yasinan itu telah disyariatkan seperti pembacaan Al-Quran -dalam hal ini surat Yasin-, juga bacaan2 doa setelah pembacaan surat Yasin masuk ke dalam keumuman perintah berdoa, melazimkan hari kamis untuk membaca surah yasin dan melazimkan yasin -bukan surat lain- tanpa meyakini adanya fadhilah tertentu maka ini bukanlah bid&#039;ah karena kembali kepada dalil umum tentang perintah membaca Al-Quran dan berdoa.
 
Namun disisi lain ana mikir, telah masyhur riwayat dari para salaf -termasuk para sahabat- tentang penentangan mereka terhadap bid&#039;ah idhafiyah [lihat: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=9476].
 
Bagaimana tadz, solusi terhadap dalil2 yang -dimata ana- terlihat kontradiktif? Disatu sisi telah terjadi ijma&#039; terhadap perkara yang diklaim sebagai bid&#039;ah idhafiyah -dalam hal ini penulisan lafazh shalawat-, disisi lain telah datang atsar dari para sahabat Nabi tentang penentangan mereka terhadap bid&#039;ah idhafiyah, semisal Umar yang menentang doa secara berjama&#039;ah -karena termasuk bid&#039;ah idhafiyah- dan kasusnya juga mirip dengan penulisan lafazh shalawat ini maka konsekuensinya penulisan lafazh shalawat harus ditentang tapi realitanya para ulama ga satupun yang membid&#039;ahkannya. Bingung ana...
 
Mohon jawaban antum tadz, ana akan sangat menghargai keseriusan antum dalam menjawab syubhat ini. Mungkin ini adalah persoalan sederhana bagi antum, tapi tidak bagi ana, lha buktinya ana sampai bingung. Syubhat bagi seorang mukmin adalah beban maka menghilangkan syubhat –mungkin- termasuk dalam keumuman menghilangkan beban seorang mukmin. Semoga Allah menghilangkan beban para penyingkap syubhat di hari kiamat kelak -mudah2an antum termasuk didalamnya-...
 </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu&#8217;alaykum wa rahmatullahi wabarakatuh.<br />
 <br />
Ustadz, ana benar2 bingung, kalangan pelaku bid&#8217;ah berargumentasi dengan masalah penulisan lafazh shalawat setiap di belakang nama Rasulullah untuk melegalkan bid&#8217;ah mereka.<br />
 <br />
Menurut mereka, dalam hal ini telah terjadi ijma&#8217; tentang dibolehkannya terus2an menulis lafazh shalawat di setiap di belakang nama Rasululillah ketika ditulis. Lalu mereka mengqiyaskan hal ini kepada praktek2 bid&#8217;ah yang lain. Intinya mereka berkata: Secara asal, yang masyru&#8217; adalah mengucapkan shalawat -bukan ditulis- jika disebutkan nama Rasulullah tapi para ulama dari dulu sampai sekarang telah melakukan penulisan lafazh shalawat mengiringi nama Rasulullah ketika ditulis padahal ini ga ada contohnya, sekali lagi -menurut mereka jika mau mengikuti alur berpikir wahabi- yang masyru&#8217; adalah diucapkan bukan ditulis jika ditulis maka bid&#8217;ah sebab dalam hal ini telah melakukan cara baru dalam beribadah -dalam hal ini shalawat- yang tadinya seharusnya dilafazhkan tapi malah ditulis padahal ibadah itu -kata mereka: menurut wahabi- harus sesuai dalam hal waktu, tempat, Cara dan lain2.<br />
 <br />
Maka menurut mereka ini adalah bid&#8217;ah -jika dari sudut pandang wahabi- tapi toh ulama salaf juga membolehkan bahkan menganjurkan, pendapat tentang dianjurkannya menulis lafazh shalawat di belakang nama Rasulullah tersebar luas di kalangan para ulama salaf dan tidak diketahui satu pun dari mereka yang menentang hal ini plus penerimaan umat terhadap hal ini maka ini teranggap sebagai ijma&#8217;.<br />
 <br />
Nah, dari sini menurut mereka ada yang namanya bid&#8217;ah hasanah dan berarti juga bid&#8217;ah idhafiyah seperti yasinan, dll itu ga termasuk bid&#8217;ah yang dhalalah karena secara asal, komponen2 yang ada dalam acara yasinan itu telah disyariatkan seperti pembacaan Al-Quran -dalam hal ini surat Yasin-, juga bacaan2 doa setelah pembacaan surat Yasin masuk ke dalam keumuman perintah berdoa, melazimkan hari kamis untuk membaca surah yasin dan melazimkan yasin -bukan surat lain- tanpa meyakini adanya fadhilah tertentu maka ini bukanlah bid&#8217;ah karena kembali kepada dalil umum tentang perintah membaca Al-Quran dan berdoa.<br />
 <br />
Namun disisi lain ana mikir, telah masyhur riwayat dari para salaf -termasuk para sahabat- tentang penentangan mereka terhadap bid&#8217;ah idhafiyah [lihat: <a href="http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=9476" rel="nofollow">http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=9476</a>.<br />
 <br />
Bagaimana tadz, solusi terhadap dalil2 yang -dimata ana- terlihat kontradiktif? Disatu sisi telah terjadi ijma&#8217; terhadap perkara yang diklaim sebagai bid&#8217;ah idhafiyah -dalam hal ini penulisan lafazh shalawat-, disisi lain telah datang atsar dari para sahabat Nabi tentang penentangan mereka terhadap bid&#8217;ah idhafiyah, semisal Umar yang menentang doa secara berjama&#8217;ah -karena termasuk bid&#8217;ah idhafiyah- dan kasusnya juga mirip dengan penulisan lafazh shalawat ini maka konsekuensinya penulisan lafazh shalawat harus ditentang tapi realitanya para ulama ga satupun yang membid&#8217;ahkannya. Bingung ana&#8230;<br />
 <br />
Mohon jawaban antum tadz, ana akan sangat menghargai keseriusan antum dalam menjawab syubhat ini. Mungkin ini adalah persoalan sederhana bagi antum, tapi tidak bagi ana, lha buktinya ana sampai bingung. Syubhat bagi seorang mukmin adalah beban maka menghilangkan syubhat –mungkin- termasuk dalam keumuman menghilangkan beban seorang mukmin. Semoga Allah menghilangkan beban para penyingkap syubhat di hari kiamat kelak -mudah2an antum termasuk didalamnya-&#8230;<br />
 </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar/comment-page-1#comment-5550</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Nov 2010 02:42:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1014#comment-5550</guid>
		<description>#indra
Pada awalnya ada khilaf tentang titik dan harakat untuk al Qur&#039;an lalu terjadilah ijma tentang bolehnya hal tersebut.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#indra<br />
Pada awalnya ada khilaf tentang titik dan harakat untuk al Qur&#8217;an lalu terjadilah ijma tentang bolehnya hal tersebut.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar/comment-page-1#comment-5547</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Nov 2010 02:37:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1014#comment-5547</guid>
		<description>#abu
1. dikumpulkan dari berbagai dalil yang ada
2. utk ibadah mahdhah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#abu<br />
1. dikumpulkan dari berbagai dalil yang ada<br />
2. utk ibadah mahdhah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: abu aliyah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar/comment-page-1#comment-5539</link>
		<dc:creator>abu aliyah</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 23:39:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1014#comment-5539</guid>
		<description>assalaamu &#039;alaykum yaa ustadz,
saya pernah baca mengenai syarat ibadah harus memenuhi enam syarat yaitu sesuai dengan waktu, tempat,  tatacara (kaifiyah), sebab, jumlah, dan jenis.
Pertanyaan yang timbul di benak saya adalah:
Pertama: darimanakah asal usul syarat tsb, apakah memang berasal dari nash-nash yang dapat diterima atau dari ulama yang mu&#039;tabar  atau yang lain?
Kedua: Kalau iya, apakah keenam hal tsb berlaku untuk segala macam ibadah secara umum atau hanya untuk ibadah mahdhah?
Mohon penjelasannya ustadz. Syukron Wa Jazakallaahu Khoiron.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalaamu &#8216;alaykum yaa ustadz,<br />
saya pernah baca mengenai syarat ibadah harus memenuhi enam syarat yaitu sesuai dengan waktu, tempat,  tatacara (kaifiyah), sebab, jumlah, dan jenis.<br />
Pertanyaan yang timbul di benak saya adalah:<br />
Pertama: darimanakah asal usul syarat tsb, apakah memang berasal dari nash-nash yang dapat diterima atau dari ulama yang mu&#8217;tabar  atau yang lain?<br />
Kedua: Kalau iya, apakah keenam hal tsb berlaku untuk segala macam ibadah secara umum atau hanya untuk ibadah mahdhah?<br />
Mohon penjelasannya ustadz. Syukron Wa Jazakallaahu Khoiron.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: indraawidiya</title>
		<link>http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar/comment-page-1#comment-5525</link>
		<dc:creator>indraawidiya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 03:08:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1014#comment-5525</guid>
		<description>
ustadz tolong jelaskan perkataan abdullah bin mas&#039;uf &quot;Jangan beri Al-Qur’an titik maupun harakat.&quot; ....syukron...jazzakallah khair
 
 </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ustadz tolong jelaskan perkataan abdullah bin mas&#8217;uf &#8220;Jangan beri Al-Qur’an titik maupun harakat.&#8221; &#8230;.syukron&#8230;jazzakallah khair</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar/comment-page-1#comment-3780</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 06:19:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1014#comment-3780</guid>
		<description>untuk awam
1. acara maulid nabi tidak ada di zaman Nabi dan para shahabat.
2. betu, termasuk bid&#039;ah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>untuk awam<br />
1. acara maulid nabi tidak ada di zaman Nabi dan para shahabat.<br />
2. betu, termasuk bid&#8217;ah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: orangawam</title>
		<link>http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar/comment-page-1#comment-3770</link>
		<dc:creator>orangawam</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 23:00:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1014#comment-3770</guid>
		<description>Pak Ustadz kalau perayaan Maulid Nabi , bid&#039;ah atau tidak sebab perayaan Maulid Nabi sudah ada sejak dahulu ? lalu kalau yasinan dan tahlilan yang banyak dilakukan masyarakat saat ini termasuk bid&#039;ah atau bukan. mohon penjeleasannya. shukron.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Ustadz kalau perayaan Maulid Nabi , bid&#8217;ah atau tidak sebab perayaan Maulid Nabi sudah ada sejak dahulu ? lalu kalau yasinan dan tahlilan yang banyak dilakukan masyarakat saat ini termasuk bid&#8217;ah atau bukan. mohon penjeleasannya. shukron.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar/comment-page-1#comment-3152</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 13:54:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1014#comment-3152</guid>
		<description>Untuk Deny
Tidak boleh datang.
Yang nabi datangi adalah acara-acara yang dibenarkan oleh syariat
Nabi tidak pernah mendatangi perayaan Yahudi yang merupakan tetangga beliau di Madinah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Deny<br />
Tidak boleh datang.<br />
Yang nabi datangi adalah acara-acara yang dibenarkan oleh syariat<br />
Nabi tidak pernah mendatangi perayaan Yahudi yang merupakan tetangga beliau di Madinah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Denny</title>
		<link>http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar/comment-page-1#comment-3150</link>
		<dc:creator>Denny</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 05:07:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1014#comment-3150</guid>
		<description>Assalalkm ustad..
merayakn ultah itu kn hkumnya bid&#039;ah? tp bgmna klo tmn qt ultah trus qt di undang untk hdir di acara ultahnya, apa qt hrs ttp hdir atau tdk?
ttpi sya prnh bca tntg sfat2 mulia nabi muhammad, slh 1 nya beliau sllu hdir dlm stiap undangan ktika di undang dlm suatu acara..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalalkm ustad..<br />
merayakn ultah itu kn hkumnya bid&#8217;ah? tp bgmna klo tmn qt ultah trus qt di undang untk hdir di acara ultahnya, apa qt hrs ttp hdir atau tdk?<br />
ttpi sya prnh bca tntg sfat2 mulia nabi muhammad, slh 1 nya beliau sllu hdir dlm stiap undangan ktika di undang dlm suatu acara..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.529 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-07 17:43:46 -->

