Kesyirikan dalam Sumpah Pramuka “Tri Satya”

Kesyirikan dalam Sumpah Pramuka “Tri Satya”

“Tri Satya, demi kehormatanku aku berjanji…”

Demikianlah kata-kata yang sering kita dengar dari Pramuka. Dalam kalimat di atas terdapat ucapan sumpah dengan selain Allah yaitu bersumpah dengan ‘kehormatan’.

Apakah ini dibolehkan? Berikut ini jawabannya,

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ قَالَ سَمِعَ ابْنُ عُمَرَ رَجُلاً يَحْلِفُ لاَ وَالْكَعْبَةِ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ ».

Dari Sa’ad bin Ubadah, suatu ketika Ibnu Umar mendengar seorang yang bersumpah dengan mengatakan ‘Tidak, demi Ka’bah’ maka Ibnu Umar berkata kepada orang tersebut, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan” (HR Abu Daud no 3251, dinilai shahih oleh al Albani).

Bersumpah dengan Allah adalah bentuk mengagungkan Allah. Oleh karenanya, bersumpah dengan selain Allah dinilai sebagai bentuk tindakan lancang kepada Allah dan melecehkan kesempurnaan dan keagungan Allah. Karena seorang insan jika ingin menegakan bahwa dirinya benar dalam perkataannya atau berupaya membersihkan diri dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya maka dia akan bersumpah dengan sesuatu yang paling agung dalam hatinya. Adakah di alam semesta ini suatu yang lebih agung dibandingkan dengan Allah. Oleh karena itu, bersumpah dengan selain Allah tergolong kesyirikan.

Hukum bersumpah dengan selain Allah adalah haram menurut mayoritas ulama.
Ibnu Taimiyyah berkata, “Bersumpah dengan makhluk hukumnya haram menurut mayoritas ulama. Inilah pendapat Abu Hanifah dan merupakan salah pendapat dari dua pendapat yang ada dalam mazhab Syafii dan Ahmad. Bahkan ada yang menyatakan bahwa para shahabat telah bersepakat dalam hal ini.
Ada juga yang berpendapat bahwa sumpah dengan selain Allah itu makruh. Namun pendapat pertama jelas pendapat yang lebih benar sampai-sampai tiga shahabat nabi yaitu Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar berkata, ‘Sungguh jika aku bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan aku berbohong itu lebih aku sukai dibandingkan jika aku bersumpah dengan selain Allah dalam kondisi benar” (Majmu Fatawa 1/204).

Dalam kesempatan yang lain, beliau berkata, “Menurut pendapat yang benar dan itu merupakan pendapat mayoritas ulama baik dari generasi salaf maupun khalaf adalah tidak boleh bersumpah dengan makhluk baik nabi atau bukan nabi, malaikat, seorang raja ataupun seorang ulama. Terlarangnya hal ini adalah larangan haram menurut mayoritas ulama sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan yang lainnya. Hal tersebut merupakan salah satu dari dua pendapat dalam mazhab Ahmad” (Majmu Fatawa 27/349).

Tentang rahasia di balik larangan ini, Syaukani mengatakan, “Para ulama mengatakan bahwa rahasia di balik larangan bersumpah dengan selain Allah adalah karena bersumpah dengan sesuatu itu menunjukkan pengagungan dengan suatu yang disebutkan. Padahal keagungan yang hakiki adalah hanya milik Allah. Oleh karena itu tidak boleh bersumpah kecuali dengan Allah, zat dan sifatNya. Ini merupakan kesepakatan semua ahli fikih” (Nailul Author 10/160).

Jadi bersumpah dengan selain Allah adalah syirik besar yang mengeluarkan dari Islam jika diiringi keyakinan bahwa makhluk yang disebutkan dalam sumpah tersebut sederajat dengan Allah dalam pengagungan dan dalam keagungan. Jika tidak ada unsur ini maka hukumnya adalah syirik kecil.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما أَنَّهُ أَدْرَكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ فِى رَكْبٍ وَهْوَ يَحْلِفُ بِأَبِيهِ ، فَنَادَاهُمْ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَلاَ إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ ، وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ »

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya beliau menjumpai Umar bin al Khattab bersama suatu rombongan. Saat itu Umar bersumpah dengan menyebut nama bapaknya. Nabipun lantas memanggil rombongan tersebut lalu bersabda, “Ingatlah sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan menyebut nama bapak-bapak kalian. Siapa yang hendak bersumpah maka hendaknya bersumpah dengan Allah atau jika tidak diam saja” (HR Bukhari no 5757).

عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ حَلَفَ بِالأَمَانَةِ فَلَيْسَ مِنَّا ».

Dari Ibnu Buraidah dari Buraidah, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang bersumpah dengan amanah maka dia bukanlah umatku” (HR Abu Daud no 3253, dinilai shahih oleh al Albani).

Oleh karena itu tidak diperkenankan untuk bersumpah dengan Ka’bah, amanah, kehormatan, pertolongan, barokah fulan, kehidupan fulan, kedudukan nabi, kedudukan wali, bapak, ibu dan tidak pula dengan kepala anak. Ini semua hukumnya haram. Barang siapa yang terjerumus ke dalamnya maka kaffarah/tebusannya adalah dengan mengucapkan laa ilaha illallah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ حَلَفَ فَقَالَ فِى حَلِفِهِ وَاللاَّتِ وَالْعُزَّى . فَلْيَقُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ . فَلْيَتَصَدَّقْ »

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang bersumpah lalu berkata dalam sumpahnya ‘demi Latta dan Uzza’ maka hendaknya mengucapkan laa ilaha illallah. Barang siapa yang berkata kepada kawannya ‘mari kita bertaruh’ maka hendaknya dia bersedekah” (HR Bukhari no 4579) [Muharramat Istahana biha anNas hal 21, maktabah al Khudairi].

Di sisi lain, dalam al Qur’an Allah sering bersumpah dengan menyebut makhlukNya semisal mengatakan, ‘Demi matahari dan terangnya’ atau ‘Demi malam jika telah gelap’ atau kalimat yang semisal.

Ada dua jawaban untuk mendudukkan masalah ini dengan benar. Pertama, ini adalah perbuatan Allah dan Allah tidak boleh ditanya tentang yang Dia lakukan. Dia berhak untuk bersumpah dengan makhluk apa saja yang Dia kehendaki. Dialah yang akan menanyai makhlukNya bukan malah ditanya. Dialah yang menghukumi bukan yang dihukumi.
Kedua, Allah bersumpah dengan makhluk-makhluk ini menunjukkan keagungan dan kesempurnaan kuasa dan hikmah Allah. Jadi jika Allah bersumpah dengan ini semua, maka ini menunjukkan pengagungan terhadap makhluk-makhluk tersebut. Sehingga secara tidak langsung menunjukkan sanjungan terhadap Allah. Sedangkan kita tidak diperkenankan untuk bersumpah dengan selain Allah karena kita dilarang untuk melakukan hal tersebut (al Qoul al Mufid 2/325-326).

COMMENTS

WORDPRESS: 90
  • Mztoeroe 9 years ago

    Maaf ya ust. Yg sering di ucap adalah dasa darma bukan tri satya. Ustad salah besar ketika mengkoreksi tri satya dan mengabaikan dasa dharma. Coba ustad lihat dulu dan baca baik2. Dasa darma ada di dalamnya. Tri satya & dasa darma adalah 1. Karna dasa darma menjabarkan isi tri satya. Seperti halnya uud’45&pancasila.

  • Untoro 9 years ago

    Jadi orang Islam mbok ya yg positif thinking gitu, dikit2 musyrik, kafir lah bid’ah-lah dll yg sejenis, klo kita mau maju umat itu seharusnya bersatu dan tdk saling mencemooh, ingat kebenaran mutlak hanya pada ALLAH SWT, jd sebagai manusia yg mengaku Islam tolonglah jangan sekali2 menghakimi saudara kita yg muslim, apa ada jaminan njenengan mengatakan begitu trus ntar masuk surga Allah SWT, khan ndak tho, yg memasukkaan surga itu krn ridlo Allah SWT semata bukan krn ibadah panjengan yg sok plg benar!!! sekali lg kebenran mutlak hanya pada sisi Allah SWT semata, panjengan sudah melakukan kedzaliman terhadap anggota pramuka yg muslim di seluruh Indonesia, istighfarlah mudah2an Allah SWT mengampuni dan para anggota Pramuka di Indonesia jg !!!

  • Tentang bersumpah atas nama selain Allah bisa dilihat disini:
    http://www.almanhaj.or.id/content/757/slash/0
    Saya nukilkan, tidak semuanya, bisa langsung dibaca link di atas,
    Pertanyaan:
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya :
    Apa hukum bersumpah atas nama selain Allah Subhanahu wa Ta’ala ? Padahal telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

    “Artinya : Sungguh, demi ayahnya ! telah beruntunglah dia, jika dia benar (sungguh-sungguh)” [Muslim dalam kitab Al-Iman 9-11]

    Jawaban:
    Bersumpah atas nama selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti mengatakan “Demi hidupmu”, “Demi hidupku”, “Demi Tuan Pimpinan”, atau “Demi Rakyat”, semua itu diharamkan bahkan termasuk syirik sebab jenis pengagungan seperti ini hanya boleh dilakukan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Barangsiapa yang mengagungkan selain Allah dengan suatu pengagungan yang tidak layak diberikan selain kepada Allah, maka dia telah menjadi musyrik. Akan tetapi manakala si orang yang bersumpah ini tidak meyakini keagungan sesuatu yang dijadikan sumpahnya tersebut sebagaimana keagungan Allah, maka dia tidak melakukan syirik besar tetapi syirik kecil. Jadi, barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Allah, maka dia telah berbuat kesyirikan kecil.
    Dalam hal ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Artinya : Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla melarang kalian bersumpah atas nama nenek moyang kalian ; barangsiapa yang ingin bersumpah, maka bersumpahlah atas nama Allah atau lebih baik diam” [Al-Bukhari secara ringkas dalam kitab Manaqib Al-Anshar 3836, Muslim di dalam kitab Al-Iman III : 1646]

    Beliau juga bersabda:

    “Artinya : Barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Allah maka dia telah berbuat kekufuran atau kesyirikan” [Abu Daud dalam kitab Al-Iman 3251. At-Tirmidzi dalam kitab An-Nudzur 1535]

    Oleh karena itu, janganlah bersumpah atas nama selain Allah, siapa dan apapun sesuatu yang dijadikan sumpah tersebut sekalipun dia adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jibril atau para Rasul lainnya, malaikat atau manusia. Demikian juga mereka yang dibawah kedudukan para Rasul. Jadi, janganlah bersumpah atas nama sesuatupun selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Sedangkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Sungguh, demi ayahnya ! telah beruntunglah dia, jika dia benar (sungguh-sungguh)”

    Kata ‘Demi Ayahnya’ tersebut masih diperselisihkan oleh para Hafizh (Ulama yang banyak menghafal hadits). Di antara mereka ada yang mengingkari lafazh semacam itu dan menyatakan, “ Tidak shahih berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Berdasarkan statement ini, maka tema yang dipertanyakan tersebut tidak jadi masalah lagi sebab suatu Mu’aridh (lafazh yang bertentangan maknanya dengan lafazh yang lebih masyhur, pent) harus efektif (sehingga dapat berlaku), sebab bila tidak demikian, maka dia tidak dapat diberlakukan dan tidak ditoleh alias tidak dapat dijadikan acuan.
    selengkapnya baca disini

  • ameer HW 9 years ago

    So…Terjadi..terjadilah…! Mawas diri hanya ada pada orang berakal. Kami sesungguhnya menyadari sehingga Hizbul Wathan memberanikan diri demi Allah , untuk menlindungi umatnya dari syirik walau masih dalam kurungan PP No.238/1961 tetap berani muncul kembali dengan keberaniannya. ” Asyhadu Allaailaa ha illallaah…dst, Mengingat harga perkataan saya maka saya berjanji….”( Janji pandu HW).

  • Assalamualaikum ustadz, maaf OOT. Kalau kt berprofesi sbg guru, mau tdk mau kt hrs mengikuti upacara bendera scr rutin, maka bgmn hukum mengikuti upacara tsb? Sy sdh tahu kalau hormat bendera adl bid’ah, tp yg ingin sy tanyakan disini adl bgmn jika sy hormat bendera tp tdk bermaksud utk mengagung-agungkannya, apakah ini masih dihukumi sbg bid’ah? Kalau iya, sebaiknya sikap sy hrs bgmn ustad? Jazaakallah

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Khusnul
    Wa’alaikumussalam
    Niat baik itu tidak bisa mengubah amal yang bermasalah menjadi amal yang benar.
    Jangan rajin-rajin ikut upacara bendera.

  • Khoirul Hidayat 8 years ago

    saya kira teman2 hendaklah objektif dalam menanggapi artikel Ustadz Aris….
    lihatlah apa yang dikritik dari beliau…
    tolok ukur kebenaran bukanlah banyaknya orang yang mengikuti…
    akan tetapi tolok ukur kebenaran yaitu Al-Qur’an wa Sunnah…
    semoga ALLAH melimpahkan taufiq kepada Qta semua…

  • Assalamu’alaikum,
    Setuju dengan saudara Khoirul Hidayat.
    Hendaknya segala sesuatu kembalikan kepada Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah yg shahih (seperti contohnya Al-Bukhari dan Muslim) dan Pemahaman para Shahabat Rasul yang mendapat pengajaran langsung dari RAsulullah dan tentunya lebih menguasai Al-Qur’an, Hadits dan Bahasa Arab,
    Jangan lah diliat kepada Ra’yu atau pemikiran kita sendiri.
    Kebenaran hanya Milik Allah Azza wa jalla yang di-firmankannya dalam Al-Qur’an melalui Lisan UtusanNYA dan dijelaskan oleh Utusannya (yakni Hadits Rasulullah).

  • didunia ini ada tiga macam kebenaran
    1.kebenaran sejati yaitu kebenaran dari langit dimana hitam adalah hitam putih adalah putih
    2.kebenaran umum yaitu kebenaran  karena umumnya perbuatan  manusia
    3.kebenaran pribadi……
    tiap kebenaran mempunyai resiko sendiri2 tergantung pribadi masing2  lebih siap terhadap resiko yang mana

  • ustadzaris 8 years ago

    #sapar
    Haramnya bersumpah dengan selain Allah adalah sebuah kebenaran yang sejati.

  • Setelah mengetahui hukumnya, lalu bagaimana?? apa tindakan kita?
    menurut saya, salah satu kekurangan fatwa para ustadz masa kini adalah ia hanya memberitahu hukumnya tanpa memberitahu solusinya..
    setuju dengan akhi Khusnul..banyak kaum muslimin yang berprofesi jadi guru dan mereka “terjebak” dengan praktik2 macam ini..mereka paham hukumnya, tapi lalu tindakan apa yang harus mereka lakukan?
    apa dengan keluar dari profesi menjadi guru? tidak semudah itu..mereka punya tanggungan keluarga. Mangkir dari upacara bendera? tidak bijak. Solusi-solusi yang selama ini kita perbincangkan hanyalah solusi jangka pendek. Artinya, si A mugkin bisa lolos tapi si B, C, dan D belum tentu bisa..
    sama seperti pramuka. Banyak dari kaum muslimin yang menjadi anggota pramuka. Lalu, kami harus bagaimana? kami diberitahu hukumnya begini dan begitu, tapi kami tak diberitahu solusinya,,apa yang harus kami lakukan?
    Yang harus kita pikirkan adalah solusi jangka panjang, ustadz..solusi jangka panjang itu adalah sistem. Kita harus mengubah sistem negara ini –bahkan dunia ini– hingga sesuai dengan ajaran Islam..dengan begitu barulah kaum muslimin bisa mejalankan agama ini dengan tenang..
    saya hanya memberi saran..jika ustadz memberi fatwa, berilah juga solusinya..
    :)

  • ustadzaris 8 years ago

    #solusi
    Solusinya adalah meninggalkan hal yang dilarang.
    Solusi dari dosa zina, judi dll adalah dengan meninggalkan zina, judi dst

  • Rizal Maulana 8 years ago

    coba cek lagi pramuka tu asalnya dari mana?,.
    upacara = ritual, bner gag?
    kalo kita ngrayain tahun baru masehi trus niup2 terompet tu gmana?pdhal thun bru masehi= tahun baru kaum pagan?
    niup trompet=yahudi??dlu adzan mau pake trompet tp gag boleh ama nabi Muhammad..
    trus knapa d stiap kota hmpir psti ada tugu?,.tugu=obelisk=monas?,.gunanya apa?
    coba cek lagi obelisk itu apa?
    skrng ini bnyak kbudayaan,bngunan,gaya hidup yg brasal dri kaum pagan..tapi kita gag menyadarinya..
    skrng bkan perang 3G lagi = Gold,Glory,Gospel
    tapi 3F = Fun,Fashion,Food..

  • Teddy Septiansa 8 years ago

    Saya anggota pramuka dulu ktk SMA, baru nyadar kalau Tri Satya memakai sumpah selain kepada Allah,
     
    Mau menambahkan saja “Demi” bisa diapakai menunjukkan maksud SUMPAH atau TUJUAN
     
    saya kasih contoh Demi yang bermaksud SUMPAH
    1.  demi Allah, saya setuju dengan pendapat saudara.
    2.  demi Orangtua saya, saya berjanji …. (yang dilarang)
    3. demi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, saya bersumpah tidak bohong (yang dilarang)
     
    nah beda kalau “demi” jika bermaksud “TUJUAN”
    misalnya
    1. Saya menuntut ilmu Islam demi Allah
    2. Saya menyelesaikan kuliah saya demi menyenangkan hati orang tua.
    3. Saya menjauhi Bid’ah demi menjalankan kecintaan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaih Wasallam
     
    nah kalau menurut saya DEMI yang digunakan untuk kalimat SUMPAH/JANJI yang bertujuan MEYAKINKAN lawan bicara itu yang dilarang
     
    sementara DEMI yang digunkan untuk menyatakan TUJUAN, itu bukan termasuk SUMPAH karna maknanya sama dengan KARENA, UNTUK, dll
    Jadi TRI SATYA memang SUMPAH… so, gak boleh
     
    kalau salah mohon dikoreksi…
     

  • wong NU 8 years ago

    bagaimana dengan hadits: ‘an Jaabiri-ibni abdillahi al-anshoriyyiy radiyallahu an humaa qaala: qultu yaa rasulallah, bi abiy wa ummiy ahbirniy an awwali syaiin halaqahu-llahu qablal-asy-yaa, qaala (shallallohu… alaihi wa sallam): yaa Jaabiru inna-llaha halaqa qablal asy-yaai nuura nabiyyika Muhammadin shallallahu alaihi wa sallama min nuurihi… dalam hadits ini sahabat Jabir ibnu Abdillah al-Anshory dalam bertanya hal yang penting kepada Rasulullah SAW didahului dengan sumpah: bi abiy wa ummiy (demi bapak dan ibuku)…hadits ini sanadnya dari Abdur-razaq…

  • el hakim 8 years ago

    Bismillah, gampangnya, pas ada sumpah2 ga jelas, mending diem, ato kalo di depan cuman angop2 ajah, lebih safety… Wallahu a’lam
     
     

  • assalamu alaikum. tadz sy anggota pramuka sekolah sy jd kan pasti disuruh hafalin, n amalkan tri satya, terus jg pasti diucapin. jd sy harus gmana klo disuruh gitu? biar gak dosa n gak nyakitin prasaan kaka” sy

  • Syukran Ust. untuk artikelnya, untuk teman yang koment kontra, lihat dengan kaca mata Al Qur’an & sunnah bukan pakai logika. jangan nafsu dikedepankan, dalil yang sohih yang kita lihat. jadilah orang cerdas dengan memahami Al Qur’an & sunnah, bukan sebagai orang bodoh pengekor hawa nafsu

  • Mau tanya,
    1) Nabi pernah berkata (sumpah?)
    “Demi ruh-ku yang berada digemgamanNya…”
    maksudnya?
    2) Apakah Allah bersumpah dalam ayat
    “Demi masa..” dll
     

  • Raden Mas Ajiyo 7 years ago

    MAKNA DARI ARTI DEMI ITU BERMACAM-MACAM ( LIHAT KAMUS )

    DEMI BISA BERMAKNA UNTUK./KEPENTINGAN CONTOH:  ia menghentikan kebiasaan merokok, DEMI kesehatannya.
    DEMI kesehatanku aku berjanji tidak akan merokok.
    DEMI kehormatanku aku berjanji
     DEMI BISA BERMAKNA TATKALA /KETIKA CONTOH :ia berteriak kegirangan DEMI membaca namanya tercantum di papanDEMI BISA BERMAKNA.
    DEMI BISA BERMAKNA ATAS NAMA CONTOH DEMI Allah,DEMI Kakbah
    DEMI BISA BERMAKNA SEBAGAI/SEPERTI CONTOH : suaranya merdu DEMI buluh perindu

  • #Iyan
    Seharusnya, “Demi zat yang ruh-Ku ada di tangan-Nya”
    Allah boleh bersumpah dengan menyebut makhluk namun makhluk hanya boleh bersumpah dengan nama Allah.

  • kembalikan semuanya pada Al Quran dan Sunahnya karena cuma itu lah petunjuk hidup umat !! tidak ada yang bisa membandingkan kebenaran dari Al Quran dan Sunah yang diturunkan atas wahyu dari ALLAH SWT kepada nabi kita Nabi AGung Muhammad SAW , dan untuk petunjuk umatNYA

  • melihat komen – komen disini terlihat jelas bagaimana kondisi ilmu dan kesehatan pikiran kebanyakan kaum muslimin saat ini- ya seperti itu-, semoga dengan dalil yang shahih setidaknya bisa membantu mereka memperbaiki hati dan pikiran mereka sehingga tercabutlah syubhat sebagai penghalang rahmatNya.

  • coba antum buka di website ini.. http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/apa-pramuka-ada-hubungannya-dengan-rencana-zionis.htm
     
    pramuka memang ada hubungannya dengan konspirasi Illuminati,,
     
    Lord Boden Powell juga sesungguhnya adalah Illuminist

  • yan yusuf 7 years ago

    ass wr wb.. pak ustad, menurut hemat sy solusinya bukan meninggalkan pramuka tetapi menyarankan kepada Mendiknas agar sumpahnya diganti dengan “demi Allah… insya Allah Mendiknas setuju.

  •  

    Untoro

    Posted Januari 28, 2010 at 9:09 PM

    Jadi orang Islam mbok ya yg positif thinking gitu, dikit2 musyrik, kafir lah bid’ah-lah dll yg sejenis, klo kita mau maju umat itu seharusnya bersatu dan tdk saling mencemooh, ingat kebenaran mutlak hanya pada ALLAH SWT, jd sebagai manusia yg mengaku Islam tolonglah jangan sekali2 menghakimi saudara kita yg muslim, apa ada jaminan njenengan mengatakan begitu trus ntar masuk surga Allah SWT, khan ndak tho, yg memasukkaan surga itu krn ridlo Allah SWT semata bukan krn ibadah panjengan yg sok plg benar!!! sekali lg kebenran mutlak hanya pada sisi Allah SWT semata, panjengan sudah melakukan kedzaliman terhadap anggota pramuka yg muslim di seluruh Indonesia, istighfarlah mudah2an Allah SWT mengampuni dan para anggota Pramuka di Indonesia jg !!!

    Ternyata yang seperti ini masih ada dan banyak pula. Hai saudaraku, kebenaran tetap kebenaran dan kebenaran tidak dicocok-cocokkan dengan ajaran golongan. Kalau yang dilakukan memang salah, memang kesyirikan, lalu apa daya? Orang yang ngetri mesti menjelaskan. Mengapakah Anda mesti berkata “..dikit-dikit syirik…dikit-dikit bid’ah…” dan lagi kata-kata seperti ini sudah seperti lagu lawas “klo kita mau maju umat itu seharusnya bersatu dan tdk saling mencemooh,” sering sekali dikatakan sama penentang dakwah tauhid. Anda jangan ikut-ikutan. Kalau ada kesyirikan yang didiamkan saja, ya umat Islam takkan bersatu. Sebab kebenaran takkan pernah bersatu dengan kebatilan. Tolong ganti cara berpikir Anda, ya Saudaraku? Semoga Allah menjaga Anda. 

    Ada lagi: “Jadi orang Islam mbok ya yg positif thinking gitu“. Apa Anda tahu Ustadz Aris ber-negative thinking? Apa karena Ustadz mengingatkan umat agar menjauhi kesyirikan, maka Anda mengira ustadz ber-negative thinking? Kalau benar begitu, o tidak bisa, Saudaraku. Bagaimana thinking Anda seandainya kesyirikan merajalela sementara Anda muslim (muwahidun) dan mengerti? Apa nggak khawatir? Ya perasaan seperti itulah yang ada di antara kita semua. Tapi orang-orang Yahudi dan Nasrani membuat makar dan Allah pasti membalas makar mereka sebaik-sebaiknya. Semoga Allah melancarkan rezekimu, Saudaraku. 
    Terus lagi: “ingat kebenaran mutlak hanya pada ALLAH SWT,” lha iya makanya ustadz Aris menuliskannya karena kebenaran mutlak hanyalah milik Allah dan Allah sudah suruh manusia untuk mentauhidkan Allah. Nah kalau ada kesyirikan merajalela dan Anda ngerti, bisa menjelaskan, Anda ngapain? Mengingatkan, bukan? Inilah dakwah tauhid, Saudaraku… Semoga Allah merahmati kamu. 

    Terakhir: “bukan krn ibadah panjengan yg sok plg benar!!!“. Kita sekarang bebas lho untuk berakhlak mulia, nggak dikekang siapa-siapa kecuali diri sendiri. Allah ah mengajarkan kita tuk berakhlak mulia. Nah, sekarang Anda tidak tunjukkan mana ibadah Ustadz Aris yang sok benar. Justru terlihat di sini kata-kata Anda yang (maaf saja) sok benar. Dakwah tauhid kok dicela? Silakan tunjukkan kebaikan tulisan Anda yang mencerminkan akhlak Anda.  Semoga Allah memasukkan Anda, ustadz, sekalian pembaca, dan saya ke dalam surgaNya. Amin.
    Buat ustadz: terima kasih banyak, Ustadz.  Semoga Allah merahmati ustadz. 

     

  • sejak dari SD saya sudah tergabung dalam pramuka, sampai hari ini pun, saya masih ingin mengikuti pramuka. (PT). saya pun baru sadar jika yang saya ucapkan dahulu sangat salah.
    dan saya sepakat dengan ustadz nanti dibicarakan kepda teman2 pramuka lainnya semoga, kehormantan diganti dengan Tuhan Minimal.

  •  jika Kebenaran datangnya dari Allah dan Rasul-Nya sebagaimana yang dipahami generasi dahulu yang sholih maka jangan dibantah dengan perilaku kebanyakan orang. moga kata singkat ini bermanfaat.

  • Sebenarnya yang menuduh negative thinking juga sedang bernegative thinking terhadap yang dituduhkan…
    Sebaiknya dalam menanggapi sesuatu yang kita tidak cocok di hati harus dengan keramahan bukan dengan kemarahan. Sebab bila dengan kemarahan maka tidak akan focus… Tolong dibedakan antara fiil dengan fail.

  • saran saya sebaiknya Tri satyanya di revisi saja. Demi Kehormatanku itu dihilangkan saja. langsung saja berjanji…”Aku berjanji…….

  • Ajang m ramdan 5 years ago

    Assalamu’alaikum ust.
    Tolong di perjelas solusinya.
    Saya tau jika itu salah ya harus di tinggalkan.
    Tapi kalo dari prakteknya tidak semudah yg dibicarakan pak ustad untuk meninggalkannya.
    Jadi saya mohon untuk pencerahannya, mungkin niat baik pak ustad bisa saya sampaikan kepada yg lain atas perihal ini.
    Dan tolong yg sejelas-jelasnya tidak setengah-setengah.

    Terimakasih

  • Marjuki 5 years ago

    Ustadz nanya dong, apa bedanya janji dengan sumpah dan apa hukumnya orang yang berjanji dan atau bersumpah pada dirinya sendiri?

  • Abinya Hana 5 years ago

    Lengkapnya tri satya dalam pramuka adalah bukan sumpah tapi janji. coba baca dan pahami kalimatnya

    Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
    1. Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjalankan pancasila.
    2. Menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat
    3. Menepati Dasa Dharna

    Demi Kehormatanku maksudnya adala bukan sumpah tetapi menunjukan betapa pentingya sebuah kehormatan sama halanya dengan ” demi masa ” dalam surat Al-asri yang menunjukan pentingya sebuah waktu … jadi tolonglah berhati-hatilah dalam berfatwa (menysyirikan atau mengkafirka sesuatu) .. yang ber hak untuk ber fatwa itu adalah ulama yang ber kompeten dan di akui ke ulamaanya. bahaya sekali jikalau setiap orang boleh berfatwa . yang dampaknya akan terjadi kekacauan dan perpecahan.

    Untuk ustadzaris. coba baca yang lengkap point pertama dari tri satya. kemudian pahami maksudnya

  • #abinya hana
    “demi masa” adalah kalimat sumpah n Allah boleh bersumpah dengan menyebut makhluknya.

  • #marjuki
    Janji yang menggunakan kalimat sumpah tergolong sumpah.
    janji tanpa kalimat sumpah terhitung sekedar janji.

  • hendra 4 years ago

    assalamu”alaikum ustad aris, kebetulan saya seorang guru pns yang ditunjuk oleh kepsek untuk menjadi pembina pramuka disalah satu SMA N. PertanyaaNa adalah apakah dengan bersedianya saya ditunjuk jadi pembina pramuka tsb berarti otomatis saya juga terkena dosa syiriknya, padahal saya sendiri sdh berusaha menjaga diri untuk tidak mengucapkan sumpah syirik tsb dan juga tidak pernah menyuruh siswa2 saya untuk mengucapkan sumpah syirik tsb. Akan tetapi siswa2 pramukanya sendirilah yang mengucapkan sumpah syirik tsb karena mereka membaca/berpedoman pada buku saku SKU pramuka yang dicetuskan/diterbitkan oleh pramuka dari pusat (buku panduan organisasi kepramukaan). Dalam kondisi tersebut saya tidak punya wewenang/kekuatan untuk mencegah ucapan sumpah syirik mereka, sedangkan saya bukan pejabat yang punya wewenang untuk mengubah peraturan/trisatya organisasi kepramukaan yang mengandung kalimat sumpah syirik tsb ? mohon jawabannya ustad, syukron

  • Assalamu’alaikum wr.wb pak ustad. Saya mau nanya. Sebelumnya, sayamengucapkan berjuta2 terima kasih kepada pak ustad yang sudah mau berkorban untuk membuat artikel ini. Dengan adanya artikel ini, sebanyak 1300 gudep sekolah dan 20 juta anggota pramuka sadar, bahwa apa yang dilakukan selama ini, ternyata sangat salah besar. Di kurikulum 2013 sekarang ini, ekskul Pramuka wajib diikuti oleh semua siswa SD-SMA, bahkan rencananya akan dijadikan mata pelajaran wajib. Setelah saya membaca artikel ini, saya sangat kaget karena selama ini sumpah pramuka tri satya yang selama ini diucapkan tersebut ternyata sangat dilarang dalam islam. Tolong pak ustad, bagaimana solusinya terhadap masalah ini? Bagaimana caranya untuk menyampaikannya kepada teman2. Terima kasih banyak pak ustad. Wassalmu’alaiakum wr.wb.

  • # Hendra
    Moga Allah memaafkan.

  • Azaliapp 2 years ago

    Assalamu’alaikum.. Ustad, bagaimana kaitannya kegiatan pramuka dengan kehaormatan muslimah?