Berikut ini adalah bukti adanya ijma ulama tentang haramnya nyanyian plus alat musik sehingga tidaklah teranggap adanya orang-orang yang menyelisihi para ulama semenjak masa para shahabat.
فممن نقل الإجماع على تحريم الغناء:
1- أبو بكر الآجري (ت360هـ) : نقل إجماع العلماء على تحريم سماع آلات الملاهي
Di antara ulama yang menegaskan adanya ijma ulama tentang haramnya nyanyian adalah sebagai berikut:
Pertama, Abu Bakar al Ajurri yang wafat tahun 360 H. beliau mengatakan adanya ijma ulama akan haramnya mendengarkan alat musik.
2 – حكى أبو الطيب الطبري الشافعي (ت450هـ) : الإجماع على تحريم آلات اللهو وقال: إن استباحتها فسق
Kedua, Abu Thayyib al Thabari asy Syafii yang wafat pada tahun 450 H. Beliau menukil adanya ijma mengenai haramnya alat musik. Beliau juga mengatakan bahwa memainkan atau mendengarkan alat musik adalah kefasikan.
3 – ابن قدامة المقدسي ( ت: 540هـ) : وأما آلة اللهو كالطنبور والمزمار والشبابة فلا قطع فيه … ولنا أنه آلة للمعصية بالإجماع
Ketiga, Ibnu Qudamah al Maqdisi yang wafat pada tahun 540 H. Beliau mengatakan, “Tidak ada hukuman potong tangan untuk orang yang mencuri gendang, seruling dan gitar. Alasan kami adalah mengingat bahwa benda-benda merupakan alat untuk bermaksiat dengan sepakat ulama”.
4 – الحافظ أبو عمرو ابن الصلاح (ت : 643هـ) : وقال ابن الصلاح في “فتاويه”: وأما إباحة هذا السماع وتحليله فليعلم أن الدف والشبابة والغناء إذا اجتمعت فاستماع ذلك حرام عند أئمة المذاهب وغيرهم من علماء المسلمين. ولم يثبت عن أحد ممن يعتد بقوله في الإجماع والاختلاف أنه أباح هذا السماع
Keempat, Al Hafizh Abu Amr Ibnu Shalah yang wafat pada tahun 643 H. Dalam buku kumpulan fatwanya, beliau mengatakan, “Mengenai adanya anggapan bahwa nyanyian untuk mubah dan halal maka ketahuilah bahwa rebana, gitar dan nyanyian jika bercampur menjadi satu maka hukum mendengarkannya adalah haram menurut para imam mazhab dan seluruh ulama umat Islam selain mereka. Tidaklah benar ada ulama yang memiliki pendapat yang diakui yang membolehkan nyanyian semisal ini”.
5 – أبو العباس القرطبي ـ من المالكية ـ ( ت : 656هـ) : وأما ما أبدعه الصوفية اليوم من الإدمان على سماع المغاني بالآلات المطربة فمن قبيل ما لا يختلف في تحريمه
Kelima, Abul Abbas al Qurthubi yang bermazhab Maliki dan wafat pada tahun 656 H. Beliau mengatakan, “Adapun bid’ah yang dibuat-buat oleh orang-orang sufi saat ini yaitu hobi mendengarkan nyanyian yang dipadu dengan alat musik adalah termasuk perbuatan yang tidak diperselisihkan oleh para ulama sebagai perbuatan yang hukumnya haram”.
6 – شيخ الإسلام ابن تيمية (ت 728هـ ) : ولم يذكر أحد من أتباع الأئمة في آلات اللهو نزاعاً
Keenam, Ibnu Taimiyyah yang wafat pada tahun 728H. Beliau mengatakan, “Tidak ada satu pun ulama mazhab empat yang menyebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang hukum alat musik”.
وقال أيضا : ( مذهب الأئمة الأربعة أن آلات اللهو كلها حرام )
Beliau juga mengatakan, “Pendapat imam mazhab yang empat adalah haramnya semua bentuk alat musik”.
وقال أيضا في المنهاج : قوله – يعني الرافضي- ( وإباحة الغناء ) فيقال له: هذا من الكذب على الأئمة الأربعة فإنهم متفقون على تحريم المعازف التي هي آلات اللهو كالعود ونحوه
Dalam kitab al Minhaj as Sunah beliau mengatakan mengenai anggapan orang-orang Syiah bahwa imam mazhab yang empat menghalalkan nyanyian, “Ini adalah kebohongan atas nama imam mazhab yang empat. Mereka semua sepakat haramnya alat musik semisal kecapi”.
وقال أيضا في المنهاج : والمقصود هنا أن آلات اللهو محرمة عند الأئمة الأربعة ولم يحك عنهم نزاع في ذلك
Di kitab yang sama beliau mengatakan, “Intinya, alat musik itu hukumnya haram menurut empat imam mazhab. Tidak ada yang menyebutkan adanya perbedaan di antara empat imam mazhab”.
7 – تاج الدين السبكي ـ من الشافعية ـ ( ت756هـ) : ومن قال من العلماء بإباحة السماع فذاك حيث لا يجتمع فيه دف وشبابة ولا رجال ونساء ولا من يحرم النظر إليه
Ketujuh, Tajuddin as Subaki salah seorang ulama bermazhab Syafii yang meninggal pada tahun 756 H mengatakan, “Ulama yang membolehkan nyanyian maksudnya adalah nyanyian yang tidak diiringi dengan rebana atau gitar, campur baur laki-laki dan perempuan serta orang-orang yang haram dipandangi”.
8 – قال ابن رجب ـ من الحنابلة ـ (ت 795هـ) : وأما استماع آلات الملاهي المطربة المتلقاة من وضع الأعاجم فمحرم مجمع على تحريمه ولا يعلم عن أحد منهم الرخصة في شيء من ذلك، ومن نقل الرخصة فيه عن إمام يعتد به فقد كذب وافترى
Kedelapan, ‘Ibnu Rajab salah seorang ulama bermazhab Hanbali yang wafat pada tahun 795 H. Beliau mengatakan, “Hukum mendengarkan alat musik yang pada asalnya berasal dari orang kafir adalah haram dengan sepakat ulama. Tidak diketahui adanya seorang ulama yang membolehkannya. Siapa yang mengatakan bahwa ada ulama besar yang diakui keilmuannya yang membolehkan alat musik adalah seorang yang berdusta dan membuat fitnah”.
وقال أيضا عن سماع الملاهي : ( سماع آلات اللهو لا يعرف عن أحد ممن سلف الرخصة فيها إنما يعرف ذلك عن بعض المتأخرين من الظاهرية والصوفية ممن لا يعتد به .)
Beliau juga mengatakan tentang mendengarkan musik, “Tentang mendengarkan alat musik tidaklah diketahui adanya satu ulama salaf yang membolehkannya. Pendapat yang membolehkan mendengarkan alat musik hanyalah pendapat sebagian ulama belakangan yaitu zhahiri dan sufi yang merupaka orang-orang yang pendapatnya tidak diakui”.
9 – ابن حجر الهيتمي قال (ت : 974هـ) : الأوتار والمعازف ” كالطنبور والعود والصنج أي ذي الأوتار والرباب والجنك والكمنجة والسنطير والدريبج وغير ذلك من الآلات المشهورة عند أهل اللهو والسفاهة والفسوق وهذه كلها محرمة بلا خلاف ومن حكى فيها خلافاً فقد غلط أو غلب عليه هواه حتى أصمه وأعماه ومنعه هداه وزل به عن سنن تقواه .)
Kesembilan, Ibnu Hajar al Haitami yang wafat pada tahun 974 H mengatakan, “Alat musik dengan petik dan alat musik yang lain semisal rebab, kecapi dan simbal, demikian pula alat musik yang memiliki sinar yang dipetik, rebab, alat musik junki, biola, siter dan berbagai alat musik lain yang sudah dikenal di kalangan orang-orang fasik, bodoh dan hobi dengan musik. Ini semua adalah barang haram tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ulama di dalamnya. Siapa yang mengatakan adanya perselisihan maka orang tersebut boleh jadi salah paham atau kalah dengan hawa nafsunya sehingga pada akhirnya buta dan tuli dari kebenaran dan tergelincir dari jalan takwa”.
10ـ قال ابن عبد البر رحمه الله : ( من المكاسب المجمع على تحريمها الربا ومهور البغايا والسحت والرشا وأخذا الأجرة على النياحة والغناء وعلى الكهانة وادعاء الغيب وأخبار السماء وعلى الزمر واللعب الباطل كله ..)
Kesepuluh, Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Diantara profesi yang disepakati keharamannya adalah riba, upah melacur, uang suap, upah yang didapatkan karena menjadi tukang meratap, menyanyi plus musik, menjadi dukun, mengaku-aku mengetahui masa depan dan berita-berita langit serta upah karena meniup seruling dan semua permainan yang sia-sia”.
11ـ قال الغُماري : ( حتى إبليس داخلٌ في إجماع العقلاء على تحريمه ) ..
Kesebelas, al Ghumari mengatakan, “Sampai-sampai Iblis pun terhitung di antara makhluk yang memiliki akal sehat yang bersepakat untuk mengharamkan alat musik”.
تنبيه : يقول ابن رجب في رسالته في ” السماع “ : (( وقد روي عن بعض السلف من الصحابة وغيرهم ما يوهم عند البعض إباحة الغناء، والمراد بذلك هو الحداء والأشعار )).
Dalam bukunya, as Sama’ Ibnu Rajab mengatakan, “Terdapat riwayat dari sebagian salaf semisal sahabat yang bisa dipahami bahwa mereka membolehkan nyanyian. Nyanyian yang mereka bolehkan adalah syair penggembala atau syair secara umum (baca:nyanyian sederhana tanpa musik)”.
Sumber: http://islamancient.com/articles,item,626.html?PHPSESSID=8b04a37a78bcd730d4024624955d56a5
Artikel www.ustadzaris.com
Popularity: 4% [?]


Yang menjadi masalah adalah sebagian “penuntut ilmu” yang merupakan mantan penggemar musik di masa lalunya. Lalu mereka coba-coba mencari ‘keringanan’ dengan mencari fatwa-fatwa yang membolehkan musik dan nyanyian. Lalu setelah mendapatkannya mereka berteriak : “Dalam masalah ini masih terjadi khilaf dikalangan ulama !?”
Sungguh melawan hawa nafsu dari dalam diri, lebih berat dibanding melawan godaan dari luar. Wallahul Musta’an.
Assalamu’alaykum warahmatullahi wa barakatuh
Lantas bagaimana hukumnya dengan Nasyid yang tidak menggunakan alat musik pak ustadz ?
Sebelumnya terimakasih atas jawabannya.
Baraakallahu fiikum.
Assalamu’alaykum warahmatullah.
Barakallahu fiyk ya ustadz.
Ana mw minta nasehat.
Ana dah nda tahan lagi dengan sikap teman sekamar ana di asrama. Ana dah berkali2 minta untuk mematikan bass speaker aktif miliknya tiap kali dia muter musik tapi masih saja dia tetap melakukannya.
Kali ini dibawah tempat tidurnya lagi ada teman ana yang sedang tilawah, tapi dengan asyiknya dia melantunkan musik dangdut lengkap dengan bassnya.
Sebelumnya ana dah pernah ngasih artikel yang ditulis syaikh utsaimin rahimahullah tentang hukum mendengarkan musik dan mengikuti sinetron. Semua teman sekamar ana, ana kasih termasuk yang nashrani. Alhamdulillah hari2 berikutnya kamar ana tidak ada yang muter musik lagi. Bahkan teman ana yang nashrani segera menyimpan speaker aktifnya yg tiap harinya aktif dinyalakan.
Akan tetapi beberapa minggu setelah itu, teman ana yg sekarang senang sekali mendengarkan dangdut membeli speaker aktif yang sampai sekarang sangat rajin digunakannya.
Ya ustadz ana dah nda tahan lagi dgn sikapnya. Emosi ana cepat naik tiap kali dia memulai memutar musik.
Mohon nasehatnya ustadz. Bagaimana seharusnya ana bersikap.
kalo saja ulama’ di atas hidup zaman skrg, niscaya mereka akan di sebut ‘wahabi’
ustad, bukankah ada beberapa ulama salaf yg menghalalkan musik seperti ibnu hazm, dan diikuti oleh ulama2 sekarang, seperti juga beberapa ulama saudi juga ada yg menghalalkan musik, seperti Sheikh Adel Al-Kalbani (mantan imam masjidil haram kalo tidak salah) ? bagaimana penjelasan seperti ini ? berarti tidak ada ijma ulama donggg ? makasih atas penjelasannya
ustadz, kalau mainan anak yang digantung trus diputer mengeluarkan musik atau mobil yang mengeluarkan musik juga dilarang?
adakah solusi mainan anak apa yang cocok untuk bayi?
jazaakallahu khoiron
Pak Aris, saya mndapati hal lain di suatu website:
ORANG-ORANG YANG MENGATAKAN BOLEHNYA MENYANYI
coba di-klik:
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/YangMembolehkan.html
“..Al Mawardi menceritakan dari Mu’awiyah dan ‘Amr bin ‘Ash bahwa keduanya pernah mendengar gitar di rumah Abdullah bin Ja’far…”
Benarkah di Nailul Authar ada hal yg dmikian ?
syukron.
Bismillah…
Ustadz, kalau mnyanyi buat anak2 kecil, smisal:
“.. Bangun tidur ku terus mandi… tdk lupa mngosok gigi.. dst”
“.. Balon-ku ada lima..dst”
bagaimana hukum-y ? apakah haram ?
Telah dihalalkan zina, khamr dan musik ? Dan ada lagi akan terjadi longsor dan perubahan muka dan alat2 musik. Bagaimana derajat hadist itu. Mengapa ada hadist yang membolehkan musik ketika hari i’d dan walimah urs ?
untuk jun
Tolong baca di sini:
http://basweidan.wordpress.com/2009/07/17/nasyid-islami-mengapa-harus-diwaspadai/
untuk abu
Saya sarankan anda untuk cari tempat kost yang lain.
untuk ridho
1.hadits shahih
2. Itu pengecualian, boleh membunyikan alat musik khusus rebana ketika ied dan walimah urs.
untuk jhon
Boleh asalkan tanpa alat musik.
untuk abu
carilah mainan yang tidak mengandung alat musik.
untuk abu anas
Ibnu Hazm itu bukan ulama dari masa salaf. Pendapat Ibnu Hazm itu muncul setelah adanya ijma ulama salaf sehingga tidak teranggap. demikian pula, pendapat Adel al Kalbani.
untuk handoko
Bisa dicarikan teks arabnya.
Mengingat adanya ijma dalam hal ini maka mungkin itu adalah riwayat yang sanadnya lemah.
@Handoko : Kalaupun riwayat itu shahih, perkataan Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam adalah hujjah dan tidak boleh dibantah dengan selain beliau. Allohu a’lam.
Bismillah..
Ustadz Aris, ini e-book Naylul Author:
http://feqh.al-islam.com/BookHier.asp?DocID=92&MaksamID=1&Mode=0&start=0
Maaf, mgkin yg dimaksud Akh. Handoko, ada di kitab ini.
@ Arief:
Maaf, Pak Arief..
lebih baik anda melihat dan membaca kitab Naylul Authar trlebih dahulu, sebelum mnyanggah akh. Handoko.
bisa jadi apa yg dikemukakan akh.Handoko juga ada dalil lain yg bs jadi Bapak Arief belum mngetahuinya..
matur nuwun. barokallohu fiykum..
Assalamu’alaykum wr.wb. Ustadz, bolehkah menggunakan nada yang menyerupai nyanyian guna untuk menghapalkan kosakata bhs arab atau asma’ul husna?syukron
untuk aisya
Asal tidak menyerupai irama dangdut atau yang lain maka dibolehkan.
untuk semuanya
Yang penting, tolong tuliskan kutipan dari Nailul Author yang dimaksudkan dengan bahasa Arab sehingga mudah untuk saya cek.
#semuanya
Kutipan tersebut benar adanya. Penulis Nailul Authar, Imam Asy Syaukani, nampaknya salah seorang ulama yang tidak sepakat tentang adanya ijma dalam hal ini. Namun sikap beliau terhadap musik adalah:
والحاصل أن الغناء إذا لم يكن من الحرام فهو من المشتبهات والمؤمنون وقافون عن الشبهات
“Kesimpulannya, musik itu andai tidak haram, setidaknya syubhat. Dan orang mukmin itu menjauhkan diri dari syubhat” (Sailul Jarrar, 4/379)
Diskusi mengenai kutipan di Nailul Authar tersebut ada di sini:
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?p=122538#post122538
Mengenai apakah sangkalan dari Asy Syaukani ini dapat menggugurkan ijma’, mungkin ustadz Aris yang bisa menjawab..
Untuk Aswad
Jika riwayat yang ada dari salaf itu shahih maka klaim ijma salaf dalam hal ini kurang tepat. sehingga kondisinya adalah antara pendapat yang rojih dan marjuh.
Cetakan Nailul Author yang paling bagus adalah tahqiq Muhammad Shubhi Hasan Halaq. Di internet adalah bentuk pdf-nya.Mungkin di sana ada keterangan tentang status masing-masing riwayat yang disebutkan oleh asy Syaukani. Antum bisa bantu ngecekkan?Jazakumullahu khoiron.
Bismillah..
Ustadz Aris Munandar, jenengan bs klik:
http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=2537&idto=2538&bk_no=47&ID=1076
Uhibbukum fillah.
Barokallohu fiykum..
Ustad saya copy ke blog saya boleh ya ? Orang lain pun pernah yang minta izin ke ustadz Aris dan diperbolehkan oleh ustadz
utk ridho
silahkan.
ustadz, kalo saa kelas 3 di smp negeri yang disitu ada pelajaran musiknya gimana ya? Masalahnya nanggung, dan pengennya nyari sekolah yang gak ada pelajaran musik, hamalatul qur’an pake musik ndak?? katanya ustadz ngajar di sana
maksud saya kalo insya Allah lulus
utk pasa
Upayakan semaksimal mungkin untuk lulus lalu carilah sekolah yang tidak ada pelajarn musik di dalamnya.
Maaf, hamalatul qur’an hanya menerima siswa baru lulusan SD.
Assalamu`alaikum
Ustadz,walaupun ana sudah tahu haramnya musik. Tetapi setiap mendengar nyanyian dan musik ana ikut terlarut karena kebiasaan yang belum bisa hilang. Ana mau tanya bagaimana solusinya?
utk fahrul
Jauhi tempat yang ada padanya musik sehingga anda tidak mendengarnya
Ustadz saya menemukan bahwa musik halal dengan beberapa kategori, saya dapat dari syariahonline.com .
Dr. Yusuf al-Qardhawi berkata bahwa Islam membolehkan nyanyian dan musik selama tidak mengandung kata keji dan kotor atau menggiring pendengarnya berbuat dosa, serta selama tidak melenakan dan melalaikan dari kewajiban.
Bolehnya mendengar nyanyian dan musik diperkuat oleh sejumlah dalil. Di antaranya ketika Aisyah ra mengantar pengantin perempuan menuju pengantin laki-laki dari kalangan Ansar, Nabi saw bersabda, “Wahai Aisyah, mereka tidak menyertakan hiburan? Orang Anshar senang kepada hiburan?” (HR al-Bukhari)
Dalam riwayat Ibn Abbas, Rasulullah saw bertanya, “Apakah kalian juga menyertakan orang yang akan menyanyi?” “Tidak,” jawab Aisyah. Lantas Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang Anshar memiliki sifat romantis…” (HR Ibn Majah).
Dalil lainnya adalah teguran Nabi saw atas Abu Bakar ra yang mengusir kedua gadis yang tengah bernyanyi dan memukul rebana di hadapan beliau di mana beliau berkata, “Biarkan mereka wahai Abu Bakar. Saat ini adalah hari raya.” (Muttafaq alayh).
Adapun hadits-hadits yang melarang nyanyian secara mutlak penuh dengan cacat. Ibn Hazam berkata, “Semua riwayat tentang hukumnya nyanyian adalah batil dan palsu.”
Hanya saja terkait dengan masalah nyanyian dan musik ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan:
1. Tema nyanyian tidak berlawanan dengan ajaran Islam.
2. Cara menyanyikannya harus sesuai dengan syariat (tidak membangkitkan nafsu dan syahwat).
3. Tidak berlebihan dan melenakan.
4. Tidak diiringin dengan hal-hal yang diharamkan.
5. Penonton tidak ikhtilath dan tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan syariat.
Bagaimana ustadz ? :-)
#ridho
Andai isi tulisan yang anda kutip adalah benar-padahal tidak benar-tolong bawakan contoh real musik di tempat kita yang memenuhi 5 kriteria di atas.
Yang dianggap musik Islami saja melanggar syarat-syarat di atas.
Syarat 1 dilanggar, buktinya isi syair yang dibawakan adalah shalawat bid’ah yang makna kandungannya tidak sejalan dengan ajaran Nabi.
Syarat 2 dilanggar, buktinya ada grup nasyid perempuan yang boleh ditonton para laki-laki.
Syarat 3 dilanggar, buktinya menggemar musik Islami itu lebih hafal puluhan syair lagu dari pada juz amma.
Penontonnya juga ikhtilat, laki-laki dan perempuan berbaur jadi satu tidak karuan.
Walhasil, jangan hidup di alam mimpi.