Jangan Setengah Setengah

Jangan Setengah Setengah

قال ابن تيمية رحمه الله : “وقد قيل : إنما يفسد الناس نصف متكلم ونصف فقيه ونصف نحوي ونصف طبيب هذا يفسد الأديان وهذا يفسد البلدان وهذا يفسد اللسان وهذا يفسد الأبدان لا سيما إذا خاض هذا في مسألة لم يسبقه إليها عالم ولا معه فيها نقل عن أحد ولا هي من مسائل النزاع بين العلماء فيختار أحد القولين بل هجم فيها على ما يخالف دين الإسلام”اهـ

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Ada ungkapan yang mengatakan ‘Yang merusak masyarakat adalah orang yang setengah ahli dalam ilmu kalam, setengah pakar ilmu fikih, setengah pakar ilmu nahwu dan setengah dokter. Setengah ahli dalam ilmu kalam itu hanya merusak agama. Setengah pakar dalam ilmu fikih itu merusak tatanan masyarakat. Setengah pakar dalam ilmu nahwu itu merusak bahasa arab. Setengah dokter itu merusak jasmani. Lebih-lebih lagi jika orang tersebut mengeluarkan suatu pendapat dalam agama yang belum pernah ada satu pun ulama yang mendahuluinya dalam pendapat tersebut karena itu tidak ada satu pun ulama yang dia kutip pendapatnya dan masalah tersebut tidak tergolong masalah yang diperselisihkan oleh para ulama semenjak masa silam dan dia sekedar memilih salah satu dari dua pendapat yang ada. Akan tetapi orang tersebut mengeluarkan suatu pendapat yang nyata-nyata menyelisihi ajaran agama Islam” [ar Radd ‘al Bakri 2/731].

قال أبو حيان التوحيدي رحمه الله: “وكان القاضي أبو حامد يقول: من كان نصف طبيبٍ فإنّه يقتل العليل، ومن كان نصف فقيهٍ فإنّه يحلّل المحرّم، ومن كان نصف نحويٍّ فإنّه يلحن أبداً، ومن كان نصف لغويٍّ فإنه يصحّف أبداً؛ هذا قوله وليس الكمال مأمولاً للخلق، لكنّ الحكم للغالب الأكثر، والشائع الأفشى”اهـ

Abu Hayyan at Tauhidi bercerita bahwa al Qadhi Abu Hamid mengatakan, “Orang setengah dokter itulah yang membunuh pasien. Setengah pakar ilmu fikihlah yang berani menghalalkan yang haram. Setengah pakar dalam ilmu nahwu itu selalu salah harokat ketika membaca teks arab. Setengah pakar dalam ilmu bahasa arab itu selalu keliru berbahasa”. Demikianlah pernyataan Qadhi Abu Hamid. Kesempurnaan adalah hal yang tidak bisa diharapkan dari makhluk akan tetapi penilaian itu berdasarkan kondisi yang dominan, yang paling banyak” [al Bashair wa Dzakhair 1/455]

Sumber:

http://uqu.edu.sa/page/ar/175714

COMMENTS

WORDPRESS: 2
  • PULSA MURAH 5 years ago

    subhanalloh..mohon izin turut nyimak ustadz

  • kita memang harus punya niat yang benar,terimakasih artikelnya