Jangan Kafirkan Saudaramu

Berikut ini adalah transkip dan terjemah dari salah satu bagian dari ceramah Syeikh Abdul Aziz ar Rais. Materi ini beliau sampaikan pada tanggal 2 Jumadil Ula 1428 H di salah satu masjid di Uni Emirat Arab. Judul ceramah beliau adalah at Tahdzir min al Ghuluw fit Takfir (Peringatan dari Sikap Berlebih-lebihan dalam Memberikan Vonis Kafir. Pada menit 46:52-52:18 beliau membahas salah satu kaedah penting dalam vonis kafir yaitu kaedah ‘Tidak Boleh Memberikan Vonis Kafir pada Person-Person Tertentu dalam Masalah-Masalah yang Diperselisihkan, Membatalkan Keislaman Ataukah Tidak”. Lengkapnya adalah sebagai berikut.

الضابط الرابع اعلموا يا إخواني إنه لا يصح التكفير في المسائل المختلف فيها. قد يختلف العلماء في مسألة هل هي كفر أم لا؟ فإذا فعلها معين فإنه لا يكفر. لأن الخلاف نوع من الشبهة و التأويل يمنع تكفير المعين.

Kaedah yang keempat, ketahuilah wahai saudara-saudaraku seseungguhnya tidak boleh memberikan vonis kafir pada person-person tertentu dalam masalah yang masih diperselisihkan. Terkadang para ulama berbeda pendapat tentang suatu permasalahan apakah hal tersebut kekafiran ataukah bukan. Dalam hal seperti ini, individu tertentu yang melakukannya tidak bisa divonis sebagai orang yang kafir. Adanya perbedaan pendapat adalah salah satu bentuk syubhat dan takwil (kesamaran sehingga banyak orang yang sulit membedakan yang benar dan yang salah) yang menjadi faktor penghalang pemberian vonis kafir kepada individu tertentu.

ذكر هذه القاعدة و إشار إليها الحافظ ابن حجر في فتح الباري و النووي في شرح مسلم. و نص عليها بوضوح و كررها الشيخ العلامة محمد بن صالح العثيمين في شرح القواعد المثلي و في عدة اللقاءات في اللقاء المفتوح المسمي الباب المفتوح.

Kaedah ini diisyaratkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan Nawawi dalam syarah beliau untuk Shahih Muslim. Kaedah ini disebutkan dengan bahasa lugas bahkan disebutkan berulang kali oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam syarah atau penjelasan beliau untuk kitab al Qowaid al Mutsla dan dalam beberapa sesi pertemuan dalam acara Liqo’ al Bab al Maftuh.

ذكر هذه القاعدة الإمام محمد بن عبد الوهاب-رحمه الله تعالي- في المجلد الأول من الدرة السنية. قال: لا نكفر الا ما أجمع العلماء علي أنه كفر.
و أضرب لك ثلاث أمثلة تفهم بها هذا الأمر.

Kaedah ini juga disebutkan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab sebagaimana bisa dijumpai di jilid pertama dari ad Durroh as Saniyah. Beliau mengatakan,

Kami tidak mengkafirkan person tertentu kecuali orang yang melakukan suatu hal yang para ulama bersepakat bahwa hal tersebut adalah kekafiran”.

Akan aku sampaikan tiga contoh agar kaedah ini bisa dipahami dengan baik

المثال الأول: الحكم بغير ما أنزل الله.
لو قال القائل إن هذا الحاكم يحكم بغير ما أنزل الله فأريد أن نكفره بهذا الأمر. فيقال: إن علماء السلف الأوائل على أن الحكم بغير ما أنزل الله كفر أصغر, ليس كفر أكبر, معصية. ليس كفرا.

Contoh pertama adalah masalah memutuskan hukum dengan hukum yang berbeda dengan hukum Allah.
Jika ada orang yang mengatakan, “Ada seorang penguasa yang memutuskan hukum dengan hukum yang berbeda dengan hukum Allah. Aku ingin mengkafirkannya karena masalah ini”.
Kita katakan bahwa para ulama salaf yaitu para ulama terdahulu bersepakat bahwa memutuskan permasalahan dengan hukum yang berbeda dengan hukum Allah itu kekafiran kecil yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, bukan kekafiran besar. Sehingga hal tersebut statusnya adalah maksiat dan bukan kekafiran.

إن قال: إن من علماء المعاصرين من يجعله كفرا أكبر, فيقال: إن أئمة العصر الثلاث, الإمام عبد العزيز بن عبد الله بن باز و الإمام محمد ناصر الدين الألباني و الإمام محمد بن صالح بن العثيمين على أنه كفر أصغر, لا أكبر.

Jika orang tersebut beralasan, “Ada sebagian ulama kontemporer yang menilai permasalahan di atas sebagai kekafiran besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam” maka jawabannya adalah dengan kita katakana bahwa tiga imam ahli sunnah di zaman ini yaitu Imam Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Imam Muhammad Nashiruddin al Albani dan Imam Muhammad bin Shalih al Utsaimin bersepakat bahwa hal tersebut termasuk kekafiran kecil, bukan kekafiran besar.

فأقل ما يقال –تنازلا-إن في المسألة خلافا. و إذا ثبت الخلاف في المسألة و إلا حقيقة, لا خلاف لكن لنفرض أن في المسألة خلافا. فإذا ثبت في المسألة خلاف فالخلاف مانع من تكفير المعين. قلت لكم و الواقع إنه لا خلاف بين أئمة السلف أن الحكم بغير ما أنزل الله كفر أصغر لا كفر أكبر.

Sehingga minimal kita katakan -sebagai bentuk mengalah- bahwa ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Jika telah jelas adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini meski sebenarnya tidak ada perbedaan pendapat maka adanya perbedaan pendapat adalah salah satu faktor penghalang untuk memvonis person tertentu dengan kekafiran. Sekali lagi aku tegaskan bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan pendapat di antara para imam salaf bahwa memutuskan hukum dengan hukum yang menyelisihi hukum Allah itu kekafiran kecil, bukan kekafiran besar.

المثال الثاني:إعانة الكفار.
قد يحصل من دولة كافرة, تهجم علي دولة مسلمة. فقد يحصل من دولة مسلمة أخري تساعد هذه الكافرة على المسلمة. فمثل هذا كفعل حاطب بن أبي بلتعة-رضي الله عنه-. و النبي-صلي الله عليه و سلم-لا يكفره به.

Contoh kedua adalah membantu orang-orang kafir.
Boleh jadi ada negara kafir yang menyerang negara Islam lalu ada negara Islam lain yang membantu negara kafir ini untuk menyerang negara Islam. Perbuatan semacam ini semisal dengan perbuatan shahabat Hathib bin Abi Balta’ah sedangkan Nabi tidak mengakafirkan Hathib karena perbuatannya.

بل اعلموا-يا إخواني-أن الجاسوس و هو الذي ينقل أخبار المسلمين إلى كافرين باتفاق أئمة المذاهب الأربعة ليس كافرا مستدلين بحديث حاطب بن أبي بلتعة.

Bahkan ketahuilah –wahai saudara-saudaraku- bahwa mata-mata yaitu seorang muslim yang menceritakan kondisi kaum muslimin kepada orang-orang kafir itu tidak kafir dengan kesepakatan empat imam mazhab. Semua mereka beralasan dengan hadits tentang kisah Hathib bin Abi Balta’ah.

و نص على عدم تكفير الجاسوس الإمام ابن تيمية في الصارم المسلول و الإمام ابن القيم في زاد المعاد. فإذا الجاسوس و هو الذي يعين الكفار علي المسلمين ليس كافرا فدلك هذا على أن مجرد الإعانة ليس كفرا.

Imam Ibnu Taimiyyah dalam al Sharim al Maslul dan Imam Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’ad menegaskan bahwa seorang muslim yang menjadi mata-mata orang kafir itu tidak kafir. Jika mata-mata semisal ini yang membantu orang kafir untuk menyerang kaum muslimin saja tidak kafir maka realita ini menunjukkan bahwa semata-mata memberikan bantuan kepada negara kafir itu bukan termasuk kekafiran.

متى يكون كفرا؟ يكون كفرا إذا فعله على الوجه الكفري و هو أن يعين الكفار و يريد من إعانتهم ظهور دين الكفر على دين الإسلام. قال حاطب: ما فعلت رغبة عن الإسلام ولا رضا بالكفر.

Kapan menolong negara kafir itu terhitung kekafiran? Jawabannya perbuatan tersebut tergolong kekafiran ketika pertolongan yang diberikan adalah pertolongan yang statusnya  perbuatan kekafiran. Yaitu menolong negara kafir dengan memiliki niat ketika menolong negara kafir ini agar agama kekafiran menang terhadap agama Islam. Hathib mengatakan, “Aku tidak melakukan hal ini karena membenci Islam dan ridho dengan kekafiran”.

أما إذا فعله علي غير هذا الوجه فإنه يعتبر معصية لا كفرا.
فإن قال قائل: أنا أري أنه كفر و الحاكم الذي فعل هذا سأكفره. فيقال: أقل ما يقال إن في المسألة خلافا. فإذا ثبت أن في المسألة خلافا فالخلاف مانع من تكفير المعين كما تقدم ذكره.

Sedangkan menolong negara kafir tidak sebagaimana di atas maka menolong negara kafir dalam hal ini dinilai sebagai maksiat dan bukan kekafiran.
Jika ada orang yang mengatakan, “Aku berpendapat bahwa sekedar menolong negara kafir dalam hal ini adalah kekafiran sehingga penguasa yang melakukan hal tersebut akan saya kafirkan” maka jawabannya adalah dengan kita katakan bahwa ada perbedaan pendapat di antara para ulama dalam hal ini.

هذان مثالان. أما المثال الثالث سأذكر لكم لأنه أظن أن بعضكم قد يشتبه عليه المثال الثاني. قد يقول القائل: على قولك- و إن كان ليس قولي و إنما أنقل-على ما نقلت من أهل العلم إن الأعين لا يكفرون بالمسائل المتنازع فيها يلزم على هذا أن لا نكفر تارك الصلاة.

Itulah dua contoh yang dimaksudkan. Sedangkan contoh kasus yang ketiga itu akan saya sampaikan karena saya memiliki praduga bahwa sebagian kalian tidak bisa memahami dengan baik contoh yang kedua.
Boleh jadi ada yang bertanya, ‘Berdasarkan penjelasan anda tadi -meski sebenarnya itu bukan pendapatku karena aku hanya mengutip pendapat para ulama- atau dengan bahasa lain berdasarkan nukilan dari para ulama yang telah anda bawakan yaitu person tertentu itu tidak bisa dikafirkan dikarenakan masalah-masalah yang masih diperselisihkan oleh para ulama apakah masalah tersebut kekafiran ataukah bukan maka konsekunsinnya kita tidak boleh mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat’.

فيقال: قد أجاب على هذا الإشكال الشيخ العلامة محمد صالح العثيمين- رحمه الله تعالي- فقال: إن الدولة التى شاع بين العامة أن ترك الصلاة كفر كبلاد السعودية فمثل هذه يكفر لأن العام لا يعرف الا هذا القول فكأنما المسألة إجماع المستوطنين.

Jawabannya adalah dengan kita katakan bahwa permasalahan ini telah dijawab oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin. Beliau mengatakan bahwa untuk negara yang di tengah-tengah orang awamnya tersebar pendapat bahwa meninggalkan shalat adalah kekafiran semisal negara Saudi Arabia maka dalam kondisi ini orang yang tidak mengerjakan shalat divonis sebagai orang kafir. Alasannya karena orang-orang awan di negeri tersebut tidak tahu melainkan pendapat ini. Seakan-akan pendapat ini menjadi konsesus warga negara tersebut.

أما الدول الآخر التى شاع فيها خلاف في المسألة فالخلاف مانع من تكفير المعين.

Sedangkan di negara lain yang perselisihan pendapat tentang masalah ini tersebar luas di masyarakat negeri tersebut maka adanya perbedaan pendapat adalah salah satu penghalang vonis kafir untuk person tertentu.

COMMENTS

WORDPRESS: 24
  • Abu Fa'iq 9 years ago

    Terima kasih ata nasehatnya, Izin share…! Barokallahu fiikum

  • muslim 9 years ago

    assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ustadz,,terkadang manusia itu salah dalam berpikir bahkan ini bisa terjadi juga mengenai masalah krusial seperti aqidah dan tauhid,nah ketika salah dalam berpikir namun kita belum mengatakannya atau belum mengamalkannya dan langsung menyadari kalau itu salah,apakah orang itu sudah mendapatkan dosa besar ustadz?

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Muslim
    Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barokatuh
    Kalo sekedar lintasan hati dan belum menjadi keyakinan maka Alloh maafkan.

  • muslim 9 years ago

    saat ini sangat banyak ditemui banyak kaum muslimin yang banyak mengidolakan pemain sepakbola yang notabene banyak orang kafirnya,apakah hal itu mengeluarkan seseorang dari keislaman,ustadz?

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Muslim
    Jika ‘mengidolakan’ tersebut karena cinta dengan agamanya maka inilah yang membatalkan keislaman.
    Jika tidak sampai demikian maka ‘mengidolakan’ orang kafir adalah suatu hal yang hukumnya haram.
    tolong baca: http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/bahaya-menyerupai-orang-kafir.html

  • Budi S. Ari 9 years ago

    Assalaamu’alaykum, Ustadz Aris.

    Apakah org yg mempunyai keyakinan dlm hati bhw Semua agama adl sama,dan dia mlakukan hal tsbt bukan krn kejahilan ataupun paksaan.
    Scr hukum syar’i,apakah org yg meyakini hal tsbt langsung murtad tnp syarat Iqamatul hujjah yg dilakukan oleh para Ulama’ thdp org tsbt, Ustadz?
    Ana msh blm paham ttg hal ini. Mohon penjelasannya. Barokalloh fiykum.

    Jazakumulloh khoyron.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Budi
    Wa’alaikumussalam
    Menurut sebagian ulama semisal Ibnu Baz dan Lajnah Daimah di masa kepemimpinan Ibnu Baz orang yang mengaku Islam namun punya keyakinan semacam itu dinilai kafir dalam hukum dunia. Artinya kita sikapi sebagaimana orang kafir. Sedangkan statusnya di Akherat Allah lah yang lebih tahu apakah orang tersebut telah sampai kepadanya ilmu ataukah tidak.

  • Budi S. Ari 9 years ago

    Trima kasih atas jawaban2 dr Ustadz atas pertanyaan Saya slama ini.
    Smoga Alloh membrikan berkah-Nya kpd Antum.

  • hidup Islam 9 years ago

    sebenarnya apa aja sih ustadz penghalang2 dalam mentakfir orang?

  • manusia biasa 9 years ago

    ustadz,,apakah golongan mu’tazilah dan ahlu tafwidh masih dinyatakan Islam?

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Manusia
    Mereka adalah muslim yang terjerumus dalam bidah.

  • belajar agama 8 years ago

    1. Jika ada org yg semas hidupnya dia adalah kafir, namun ketika menjelang mati dia bertaubat dan mengucapkan syahadat lantas ada seorang muslim yang mengatakan saya tidak mau menghadiri pemakamannya karena dia kafir, namun org yang mengatakan kafir itu tidak tahu kalo sebelum matinya dia telah masuk islam, apakah org itu termasuk takfiry?
    2. Apakah seorang mualaf yang kebiasaannya senasa kafir melakukan kesyirikan, lantas karena dia baru mengenal islam shg dia kira syirik itu tidak membatalkan keislaman, apakah org ini masih dapat dikatakan muslim?

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Bel
    1. Dia tidak salah karena itulah sebatas pengetahuannya.
    2. Seorang yang mengaku tidak tahu karena memang dia baru masuk Islam, pengakuannya diterima.

  • Assalamu ‘alaykum wa rahmatullah.
    Ustad, Ana mohon izin untuk share artikel-artikel di web ini.
    Syukran.

  • ustadzaris 8 years ago

    Untuk Muhibb
    Wa’alaikumussalam Warahmatullah
    Silahkan.

  • cinta Allah 8 years ago

    ustadz,,apakah ada perbedaan pendapat ulama seputar mslh takfir? krn sy pernah mendapatkan fatwa dari syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin bahwa seseorang yang tidak paham bila perbuatan yg dilakukan olehnya itu merupakan kekafiran maka dia masih dianggap muslim atau dgn kata lain dimaafkan,,jika saya memilih pendapat yg ini bgmn ustadz, mengingat saya juga sgt takut bila saya menjadi seorang takfiri

  • ustadzaris 8 years ago

    untuk cinta
    takfiri adalah orang yang sembarangan dalam takfir. orang yang memberikan vonis kafir dan dia berjalan di atas kaedah ilmiah yang ditetapkan para ulama ahli sunnah bukanlah takfiri

  • JUNDULLAH 8 years ago

     

    FATWA: Hukum Meremehkan Syari’at Allah
    Dan Keengganan Untuk Menerapkannya
    Pertanyaan:
    Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Banyak di antara kaum muslimin yang meremeh-remehkan dalam hal berhukum kepada selain syari’at Allah, sebagian berkeyakinan bahwa sikap meremeh-remehkan tersebut tidak berpengaruh terhadap komitmen keislamannya. Sebagian yang lain malah menganggap boleh-boleh saja berhukum kepada selain syari’at Allah dan tidak peduli dengan implikasinya. Bagaimana pendapat yang haq dalam masalah ini?
     
    Jawaban:
    Masalah ini harus dirinci, yaitu barangsiapa yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah sementara dia mengetahui bahwa wajib baginya berhukum kepada apa yang diturunkan Allah dan dengan perbuatannya itu, dia telah melanggar syari’at akan tetapi dia menganggap boleh hal itu dan memandangnya tidak apa-apa melakukannya dan juga boleh saja hukumnya berhukum kepada selain syari’at Allah, maka orang seperti ini hukumnya adalah kafir dengan kekufuran Akbar menurut seluruh ulama, seperti berhukum kepada undang-undang buatan manusia, baik oleh kaum Nashrani, Yahudi ataupun orang-orang selain mereka yang mengklaim bahwasanya boleh berhukum dengannya, bahwa ia adalah lebih utama ketimbang hukum Allah, bahwa ia sejajar dengan hukum Allah atau mengklaim bahwa manusia diberi pilihan; bila menginginkan, dia boleh berhukum kepada al-Qur’an dan As-Sunnah dan bila dia menginginkan, boleh berhukum kepada undang-undang buatan manusia tersebut. Jadi, barangsiapa berkeyakinan demikian, maka dia telah berbuat kekufuran menurut ijma’ para ulama sebagaimana yang telah dikemukakan tadi.
    Adapun orang yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah karena dorongan hawa nafsu atau keuntungan sesaat sementara dia mengetahui bahwa dengan perbuatan itu telah berbuat maksiat kepada Allah dan RasulNya, bahwa dia telah melakukan kemungkaran yang besar dan yang wajib atasnya adalah berhukum kepada syari’at Allah; maka dia tidak berbuat kekufuran yang besar tersebut akan tetapi dia telah melakukan suatu kemungkaran dan maksiat yang besar serta kekufuran kecil sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Mujahid dan ulama selain keduanya. Dia telah melakukan kekufuran di bawah kekufuran (Kufr duna Kufr) dan kezhaliman di bawah kezhaliman dan kefasikan di bawah kefasikan, bukan kekufuran akbar. Inilah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
     
    Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam beberapa ayat berikut:
     
    “Artinya : Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah.” [Al-Ma’idah : 49]
     
    “Artinya : Barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-oang yang kafir.” [Al-Ma’idah : 44]
     
    “Artinya : Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.” [Al-Ma’idah : 45]
     
    “Artinya : Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” [Al-Ma’idah : 47]
     
     
    “Artinya : Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [An-Nisa :65]
     
    “Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi oang-orang yang yakin?” [Al-Ma’idah : 50]
     
    Jadi, hukum Allah lah yang merupakan hukum paling baik, yang wajib diikuti dan dengannya tercipta keshalihan umat dan kebahagiaannya di dunia dan akhirat serta keshalihan alam semesta ini akan tetapi kebanyakan makhluk lalai dari realitas ini.
    Kepada Allah lah tempat kita memohon pertolongan, tiada daya dan kekuatan kecuali kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.
    [Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’ah, Juz.V, h.355-356, dari fatwa Syaikh Ibn Baz]
     
    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]
    Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari tukang FITNAH, dan DAI DAI PENIPU YANG BERHATI SYAITAN!!!

  • ustadzaris 8 years ago

    untuk jund
    terima kasih atas kutipan fatwanya.
    apa yang masalah dengan fatwa yang anda kutip? Apa hubungan antara fatwa yang anda kutip dengan tulisan di atas?Siapa yang anda maksud dengan dai penipu yang berhati syaitan? Apakah anda telah melihat isi hatinya sehingga anda bisa memastikan bahwa hatinya adalah hati syaitan??

  • #Jundullah
    Biar tambah lengkap saya tambahkan fatwa lain dari Syaikh Bin Baz, mudah2an anda bisa bacanya :

    هل الشيخ محمد بن إبراهيم رحمه الله يرى تكفير الحكام على الإطلاق؟[1]

    يرى تكفير من استحل الحكم بغير ما أنزل الله فإنه يكون بذلك كافراً.
    هذه أقوال أهل العلم جميعاً: من استحل الحكم بغير ما أنزل الله كفر، أما من فعله لشبهة أو لأسباب أخرى لا يستحله، يكون كفراً دون كفر.

    [1] نشر في مجلة الفرقان، العدد 100، في ربيع الثاني 1419هـ

    http://binbaz.org.sa/mat/4179

  • hamba Allah 7 years ago

    ustadz,,ada yg ingin saya tanyakan
    jika ada seseorang yg meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke tempat2 maksiat seperti diskotik,dll lantas ibunya malah mengatakan “iya, silahkan nak”
    yg saya tanyakan apakah perbuatan ibu tersebut termasuk kekafiran? krn ibu itu membolehkan anaknya utk ke diskotik
    saya sangat membutuhkan jawabannya ustadz

  • hamba Allah 7 years ago

    ustadz, saya pernah mendengar ucapan canda dari seseorang yg sbnrnya ucapannya adalah “jazakallah khoir’ namun dia malah mengatakan “jajakilah” meski tidak ada khoirnya,,bgmn vonis thdp org ini ustadz? menurut saya org ini sama sekali tidak menyadari klo ucapannya itu bs berbahaya baginya

  • ustadzaris 7 years ago

    #hamba
    Kalo memang dia tidak menyadarinya maka moga tidak mengapa.