Hukum Hormat Bendera Merah Putih

السؤال : ما حكم الوقوف لتحية العلم ؟

Pertanyaan, “Apa hukum berdiri untuk hormat bendera?”

الجواب : لا حرج, ولا علاقة له بالدين ولا يعارض الإسلام في الشيء وليس هذا تعبدا, أنت لا تقف للعلم عبادة له, إنما هذا رمز يجب على الناس احترامه, وهذا من أمور الدنيا وليس مرادا لذاته. إنما يمثل شيئا يعني هذه القطعة من القماش لا تعظم لذاتها

Jawaban Syaikh Usamah al Qushi [salah seorang ulama ahli sunnah di kota Kairo Mesir], “Tidak masalah. Hormat bendera itu tidak berkaitan dengan agama dan sedikit pun tidak bertentangan dengan Islam. Hormat bendera bukanlah perkara ibadah. Anda tidaklah berdiri dalam hormat bendera karena beribadah kepada bendera. Bendera hanyalah simbol yang wajib dihormati oleh warna negara. Hormat bendera adalah bagian dari perkara dunia. Hormat bendera itu bukanlah hormat kepada selembar kain. Kain di sini hanyalah mewakili sesuatu. Artinya selembar kain bendera itu tidaklah dihormati karena kainnya.

وكانت الراية موجودة على عهد رسولنا صلى الله عليه وسلم و كان لها احترام

Bendera itu sudah ada di masa Rasulullah dan juga dihormati.

نعم لم يكن احترام بنفس الصورة التي نحن نفعلها اليوم لأن الدنيا, مظاهر الحياة الدنيوية تختلف من عصر إلى عصر ومن مكان إلى مكان. التعظيم والاحترام كان له طريقة مختلفة

Memang, bendera tidaklah dihormati dengan cara penghormatan yang kita lakukan saat ini karena perkara dunia itu berbeda antara satu zaman dengan zaman berikutnya, antara satu tempat dengan tempat yang lain. Jadi cara menghormati sesuatu itu wajar saja jika berbeda.

فكانت الراية فقط في حالة الحرب وكانت ترفع كرمز للعزة ورمز للإباء والصمود يعني طال ما هذه الراية مرفوعة فمعنى أن الجيش صامد وثابت, سقوط الراية كان يعني انهيار الحالة الروح المعنوية يعني لو استطعنا أن نسقط راية العدو أو نسقط أو نقتل شخص الذي يحمل الراية هذا يبث روح الهزيمة في جوش الآخر ونفس شيء في جيشنا فكانت الراية يحرص الجيش على أن تبقى هذه الراية مرفوعة و خفاقة طوال المعركة والعدو يحرص على قتل حامل الراية كما يحرص على قتل قائد الجيش يعني هذا مراد هدف

Di masa silam bendera hanya dikibarkan saat perang saja. Ketika itu bendera dikibarkan sebagai simbol kemuliaan, kemuliaan dan ketidaktundukan terhadap musuh. Artinya selama bendera berkibar tinggi berarti pasukan masih eksis dan gagah. Jatuhnya bendera berarti hancurnya spirit pasukan. Sehingga jika kita mampu menjatuhkan bendera musuh, menjatuhkan atau membunuh orang yang memegang bendera musuh maka spirit kekalahan akan menyebar di tengah-tengah pasukan musuh. Hal yang sama juga akan dialami oleh pasukan kaum muslimin. Oleh karena itu pihak musuh berupaya agar bendera tetap berkibar tinggi selama peperangan berlangsung. Musuh sangat antusias untuk membunuh orang yang membawa bendera sebagaimana berantusias untuk membunuh panglima perang. Dengan kata lain, bendera adalah salah satu target dan sasaran musuh.

وبالتالي احترام الراية ورفعها وكونها تخفق هذا أمر له أصول حتى في زمان النبي الكريم صلى الله عليه وسلم. فتحية العلم ليست محرمة.

Jadi hormat bendera, mengerek dan mengibarkannya adalah perkara yang memiliki landasan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kesimpulannya, hormat bendera bukanlah hal yang haram.

يقول السائل : ما حكم الوقوف لتحية العلم حيث إن بعض الشيوخ الجزائريين امتنعوا من هذا الأمر فكانت مشكلة في الجزائر ؟

Pertanyaan, “Apa hukum berdiri untuk hormat bendera karena sebagian ulama di Al Jazair menolak untuk menghormati bendera dan ini menyebabkan mereka mendapatkan masalah?

الجواب : كلنا قلنا نحرم تحية العلم في مرحلة من المراحل في حياتنا الدينية, نظرا لقصر فهمنا وقلة علمنا.

Jawaban Syaikh Usamah al Qushi, “Semua kita pernah mengharamkan hormat bendera pada salah satu fase kehidupan beragama kita mengingat kedangkalan pemahaman dan terbatasnya ilmu kita.

فقلنا نقول إنما الوقوف خشوعا يكون لله وحده لا شريك له وهذا صحيح, الوقوف خشوعا تدينا عبادة, هذا لا يكون لله إلا لله رب العالمين

Kami katakan bahwa berdiri dengan penuh penghinaan diri hanya boleh untuk Allah semata, tanpa selainnya. Ini adalah keyakinan yang benar. Berdiri dengan penuh penghinaan diri, dalam rangka beribadah dan menghambakan diri hanya boleh untuk Allah rabb semesta alam.

لا يصح أن نقف خاشعين تعبدا ولا حتى لرسولنا صلى الله عليه وسلم ولا لمشايخنا ولا لآبائنا تعبدا

Kita tidak diperbolehkan untuk berdiri dengan penuh penghinaan diri dan dalam rangka menghambakan diri bahkan untuk Rasulullah, apalagi sekedar guru ataupun orang tua. Ingat yang tidak boleh adalah berdiri dalam rangka menghambakan diri.

أما احتراما لا، فهذا أمر من أمر الدنيا لا دخل له بالدين لا من قريب ولا من بعيد ولا يعتبر عبادة ولا يعتبر تدينا وبالتالي مثل هذا هو من العادات وليس من العبادات وعليه لا شيء فيه إن شاء الله

Sedangkan berdiri menghormat itu lain. Berdiri menghormat itu termasuk urusan dunia dan sama sekali tidak terkait dengan agama, tidak dinilai sebagai ibadah dan agama. Sehingga perkara semacam ini termasuk perkara non ibadah [yang pada dasarnya diperbolehkan, pent], bukan termasuk perkara ibadah mahdhah. Berdasarkan hal itu maka berdiri hormat bendera insya Allah tidaklah mengapa”.

Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=BoVCX2iRJ2Q

NB:
Terima kasih yang tulus kami ucapkan kepada saudara kami, Yahya Ainain salah seorang pembaca www.ustadzaris.com yang sukarela mentranskrip fatwa Syaikh Usamah al Qushi untuk kami terjemahkan dan kami terbitan di web ini. Jazahullahu ahsanal jaza’.

COMMENTS

WORDPRESS: 31
  • Assalamu’alaykum Ustadz,
    Ana punya usul, bagaimana dibahas dulu ttg perbedaan pendapat para ulama ttg hukum berdiri utk menghormati orang lain?
    Jazakallohu khoyron.

  • Jazakallah khairan atas sharing infonya.
    Semoga menjadi pencerahan bagi kita semua.
     

  • hendra irawan 7 years ago

    apakah ada ikhtilaf d klngan ulama tntng hal ini?
    tlg jlskn jka mmng ada ikhtilaf.

  • abdullaah 7 years ago

    berhati-hati lebih utama daripada bermudah-mudahan

  • ustadzaris 7 years ago

    #abdullah
    Berhati-hati tanpa pijakan dalil dan kaedah yang mapan itu namanya ghuluw

  • Dr.Djp 7 years ago

    Misalkan..
    saya punya kakek, sudah wafat..
    dahulunya, beliau gigih menafkahi anak2nya dengan berjualan menggunakan sepedanya hingga akhir hayat… Sepeda tua miliknya lah yg menemani keseharian kakek saya dlm hidupnya..
    lantas, apa masuk akal, kalo sepeninggal kakek saya, kami sekeluarga melakukan penghormatan (misalnya menundukkan kepala di depan sepeda milik kakek ) di waktu2 tertentu dengan aturan2 tertentu misalnya jgn menyentuh sepeda dlm bbrp lwaktu, dll, dalam rangka ‘SIMBOL’ penghormatan dan penghargaan atas perjuangan kakek dulu menafkahi keluarga kami..
    itu hanya simbol loh ustadz, bukan penghambaan terhadap Sepeda (barang peninggalan kakek).. Yaaaa, maksudnya cuman sekedar mengingat jasa2 kakek..
    bagi orang yg sudah memiliki kecemburuan terhadap penyimpangan Tauhid meski sebesar biji sawi, MAKA TIDAK AKAN MELAKUKAN HAL DEMIKIAN…
    —————————————
    maka cukuplah perkataan Umar Ibn Khatab berikut :
    Demi Allah! Bahwasanya aku akan menciummu. Dan sesungguhnya aku tahu bahwasanya engkau hanyalah sebuah bagu; tidak mampu mencelakakan maupun memberi manfaat. Kalau saja bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu, aku tidak akan menciummu” [HR Bukhari no 1610]
    Penciuman Hajar Aswad bukanlah bermaksud menghambakan diri terhadap batu tersebut, melainkan krn Umar Ibn Khatab melihat Rasulullah pernah melakukannya. Kalo saja tidak pernah dicontohkan ?
     
    padahal itu batu yg ‘istimewa’.. bagaimana dengan ‘Selembar kain bendera’ yg di zaman ini kebanyakan orang sudah ghuluw erhadap benda itu, ada yg menciumnya, ada yg melarangnya hingga jatuh ke tanah, ada yg melarangnya jgn sampai terpasang terbaik, krn dianggap menodai kehormatan perjuangan bangsa, meskipun itu sekedar SIMOL-SIMBOL..
    nah, apakah DIKENAL, PENYIMBOLAN-PENYIMBOLAN TAK MASUK AKAL DAN TAK BERDALIL di DALAM ISLAM ?  BUKANKAH PENYIMBOLAN2 ‘TAK MASUK AKAL’ seperti itu membutuhkan dalil meskipun BUKAN PERKARA IBADAH ? misalnya Isbal adalah simbol KESOMBONGAN, dll

  • ustadzaris 7 years ago

    #Djp
    Jika ada orang yang menuliskan nama kakek anda di selembar kertas lalu menginjak-injaknya bolehkah anda marah-marah? Jika anda marah terus orang yang menginjak-injak mengatakan, “Kenapa anda harus marah-marah? Saya tidak menghina kakek anda. Saya hanya nginjak-injak sebuah kertas. Kenapa anda ghuluw dengan kertas?! Orang yang punya kecemburuan terhadap penyimpangan tauhid meski sebiji sawi tidak akan ghuluw dengan kertas semacam ini”. Kira-kira jawaban apa yang anda berikan untuk orang tersebut.
    Jika ada orang yang meludahi foto kakek anda apakah anda akan marah-marah? apakah anda akan ghuluw dengan kertas foto?

  • Analogi yang bagus untuk menyanggah Dr.Djp,
    Yang jadi pertanyaan, apakah bentuk penghargaan terhadap sesuatu harus dengan melakukan penghormatan secara khusus dan pada waktu2 yang ditentukan secara khusus (dan rutin) pula?

  • Tadz,

    Sepertinya komentar Antum tidak sesuai dengan komentar Dr. Djp.
    Dr. Djp sedang mempermasalahkan “bentuk penghormatan” sedangkan Antum “bentuk penghinaan”. Mohon klarifikasinya. Barokallohu fik

  • dr.djp 7 years ago

    baik ustadz aris, saya belum bisa menjawabnya . Meskipun menurut ‘perasaan saya’ ada rasa marah kalo diperlakukan demikian..
    Namun, apakah benar kita boleh marah krn hal demikian ?
     
    baarakallahufiyk
     

  • Lalu apakah hormat bendera yg dilakukan dgn ritual upacara setiap senin pagi sebelum memulai aktifitas di sekolah berdasarkan fatwa di atas juga diperbolehkan?

    di sana ada pengibaran bendera yg dibawa beriringan sedemikian rapihnya, menyanyikan lagu kebangsaan (yg berarti mesti ada grup paduan suaranya), mengheningkan cipta (sambil diiringi nyayian juga), pembacaan teks pancasila/UUD dll.

    Bukankah ini juga menyerupai ibadah?

    Dan apakah di zaman Rasulullah ada upacara bendera rutin seperti ini? ataukah sekedar mempertahankan bendera pasukan ketika perang?
    masak iya, mempertahankan bendera pasukan ketika perang disamakan dgn upacara bendera dgn segala urutannya yg dilakukan scr rutin?
    Kok kelihatannya beda jauh ya…

  • abu hafshoh 7 years ago

    Setelah saya baca, kesimpulan yang dapat saya terima adalah seperti ini:
    1. Berdiri ketika ada orang lain datang adalah haram ketika sebagai bentuk penghambaan, tetapi untuk menghormati maka tidak mengapa.
    2. yang membedakan itu disebut penghambaan/penghormatan adalah dari sisi niat.
    Pertanyannya:
    1. Nabi Melarang sahabat berdiri ketika beliau datang, apakah Nabi mengetahui bahwa yang diiniatkann sahabat adlh  untuk penghambaan? Dari mana nabi tau kalo itu untuk penghambaan??
    2. menghormati manusia dengan cara meletakkan tangan di dahi (seperti di militer) hukumnya ???

  • ustadz..
    apakah kita jg boleh menghormat bendera padahal itu simbol negara kafir yg tidak menggunakan hukum-hukum Allah.
    apakah itu nantinya tidak menjurus ke tauhid qta?
    apalagi kl hormatnya dg nyanyi bahkan mgkin dg musik dan musik jg dalam islampun dilarang dan hormat bendera yg diakukan sekarangpun campur baur antara laki-laki dan perempuan?
    terima kasih.

  • Assalamu`alaikum
    Apakah perkara mengangkat tangan dan diletakkan di dahi sebagaimana penghormatan ala TNI dan Polri itu termasuk diperbolehkan dalam menghormati bendera sebagaimana upacara bendera setiap hari Senin di sekolah yang menyuruh murid menghormati bendera dg mengangkat tangan dan dilekatkan di dahi/kening? Mohon penjelasan ustadz segera.

  • ustadzaris 7 years ago

    #arief
    Yang jadi pokok masalah [mahalla an niza’] adalah anggapan ‘ghuluw’ terhadap yang dianggap simbol

  • Fatwa Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang Mengharamkan Hormat Bendera, Upacara Bendera dan Menyanyikan Lagu Kebangsaan

    فتوى رقم ( 2123 ) :
    س: هل يجوز الوقوف تعظيما لأي سلام وطني أو علم وطني؟
    ج: لا يجوز للمسلم القيام إعظاما لأي علم وطني أو سلام وطني، بل هو من البدع المنكرة التي لم تكن في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولا في عهد خلفائه الراشدين رضي الله عنهم، وهي منافية لكمال التوحيد الواجب وإخلاص التعظيم لله وحده، وذريعة إلى الشرك، وفيها مشابهة للكفار وتقليد لهم في عاداتهم القبيحة ومجاراة لهم في غلوهم في رؤسائهم ومراسيمهم، وقد نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن مشابهتهم أو التشبه بهم.
    وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم .
    اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
    عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
    عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

    Fatwa no. 2123:

    Pertanyaan: Bolehkah berdiri dalam rangka menghormati lagu kebangsaan atau bendera negara?

    Jawab: Tidak boleh bagi seorang muslim berdiri dalam rangka penghormatan kepada bendera negara mana saja ataupun lagu kebangsaan, karena hal itu termasuk bid’ah yang mungkar yang tidak ada di zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, tidak pula di zaman Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin radhiyallahu’anhum. Hal itu juga menafikan kesempurnaan tauhid yang wajib dan mengurangi murninya pengagungan terhadap Allah Ta’ala yang satu saja, serta dapat mengantarkan kepada syirik, menyerupai orang-orang kafir, taklid kepada mereka dalam tradisi yang buruk dan sejalan dengan mereka dalam sikap berlebihan terhadap para pemimpin dan simbol-simbol kepemimpinan, padahal Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah melarang kita menyerupai orang-orang kafir dengan sengaja ataupun tanpa sengaja meniatkan untuk menyerupai mereka.”
    Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik, dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada Nabi kita, juga keluarga dan sahabat beliau.

    (fatwa diatas gmn ustadz menurut anda)

  • ustadzaris 7 years ago

    #dinul
    Fatwa di atas ketika kita bandingkan dengan fatwa-fatwa ulama ahlu sunnah yang lain menunjukkan bahwa ada perbedaan pendapat di antara para ulama ahli sunnah dalam masalah ini.
    Lapangkanlah hati anda untuk menerima kenyataan bahwa para ulama tidak bersepakat dalam masalah ini.
    Baca juga di sini:
    http://ustadzaris.com/hukum-hormat-bendera-menurut-ulama-saudi-arabia

  • ustadzaris 7 years ago

    #all
    Perlu diketahui bahwa tulisan di atas HANYA membahas hukum hormat bendera secara umum, tidak membahas hukum upacara bendera yang memiliki banyak unsur selain unsur hormat bendera. Perhatikan

  • Benar ustadz, bahwa “tulisan di atas HANYA membahas hukum hormat bendera secara umum, tidak membahas hukum upacara bendera yang memiliki banyak unsur selain unsur hormat bendera”,
    Namun justru permasalahan yang banyak menjadi pertanyaan adalah bagaimana hukumnya dan sikap kita ketika dihadapkan pada kegiatan upacara bendera tersebut yang sebenarnya inti dari upacara tersebut (pada umunya) adalah untuk menghormati bendera?

    Syukron

  • Agusral Siregar 7 years ago

    carilah yang lebih selamat. dan jangan terlalu bermudah-mudah.

  • ustadzaris 7 years ago

    #agus
    Jika ulama berselisih pendapat dan kita bingung karena tidak bisa memilih pendapat yang lebih kuat maka jangan selamat -menurut Ibnu Utsaimin di al Ushul min Ilmu Ushul dll- adalah memilih pendapat yang paling mudah.

  • msaleh 7 years ago

    Syukron atas pencerahannya…
     

  • Ummu Asiyah 7 years ago

    1. Sepertinya yang Ustadz Aris maksud adalah “jalan selamat”, bukan “jangan selamat”. Benarkah demikian, Ustadz?

    ustadzaris
    Posted Juni 21, 2011 at 9:08 PM

    #agus
    Jika ulama berselisih pendapat dan kita bingung karena tidak bisa memilih pendapat yang lebih kuat maka jangan selamat -menurut Ibnu Utsaimin di al Ushul min Ilmu Ushul dll- adalah memilih pendapat yang paling mudah.

    2. Ustadz, berarti, khilaf tentang “hukum hormat bendera” adalah khilaf yang mu’tabar (teranggap)?

    ustadzaris
    Posted Juni 21, 2011 at 7:46 AM
    #dinul
    Fatwa di atas ketika kita bandingkan dengan fatwa-fatwa ulama ahlu sunnah yang lain menunjukkan bahwa ada perbedaan pendapat di antara para ulama ahli sunnah dalam masalah ini.
    Lapangkanlah hati anda untuk menerima kenyataan bahwa para ulama tidak bersepakat dalam masalah ini.

    Jazakallohu khayran.

  • Jazakallahu khairan katsiran ustadz ana sungguh berterimakasih atas artikel ini. Makasih ustadz :-)

  • Tholib 6 years ago

    Adakah fatwa ulama Ahlus Sunnah lain selain fatwa Syaikh Usamah al Qushi sebagaimana dia atas ustadz,.? Isyarat perkataan antum ; “Fatwa di atas ketika kita bandingkan dengan fatwa-fatwa ulama ahlu sunnah yang lain menunjukkan bahwa ada perbedaan pendapat di antara para ulama ahli sunnah dalam masalah ini.”

  • #thalib
    ada, bisa anda searching di web ini.

  • Ustad kalau hukumnya mengikuti upacara bendera bagaimana?apakah ada khilafnya,kami bekerja selaku PNS.terkadang ada upacara hari besar seperti 17 agustus,hari keuangan??Jazakallah

  • #diqra
    ada perselisihan ulama mengenai hukum masalah hormat bendera.
    pendapat yang paling kuat, boleh.

  • Pak Ustadz,

    Yg ditanyakan diqra itu hukum mengikuti upacara nya, yg notabene disitu ada ikhtilath, mendengarkan nyanyian, mengheningkan cipta dll. Tapi antum malah jawab hukum hormat bendera. Sbgmn yg kita ketahui, kegiatan hormat bendera itu dilakukan didlm upacara tersebut. Adapun diluar upacara rasanya sangat jarang sekali. Tolong antum jawab. Ini berkaitan dgn akhirat tadz.

  • #imam
    Kalo bisa menghindari insya allah itu yang lebih baik.

  • Ustad, biasanya kalau upacara di sekolah awalannya membaca basmalah dan juga ada pembacaan doanya apakah ini mengarah pada ibadah