Hukum Baca al Qur’an di Awal Acara

Perlu diketahui bahwa dauroh syar’iyyah kesepuluh yang diadakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Tholib Surabaya pada tanggal 21-27 Syawal 1430 H atau 10-16 Oktober 2009 M dibuka dengan pembacaan ayat al Qur’an oleh salah seorang mahasiswa STAI Ali bin Abi Thalib. Hal ini menimbulkan tanda tanya pada sebagian peserta dauroh.

Tanda tanya ini dijawab langsung oleh Syaikh Ali al Halabi pada sesi pertama pelajaran beliau. Tepatnya jawaban beliau ada pada menit 10:36-11:24 pada judul Manhaj Salaf 1 dalam rekaman MP3 untuk pelajaran yang disampaikan oleh Syaikh Ali al Halabi yang diterbitkan oleh Tasjilat adz Dzakhirah. Syaikh Ali bin Hasan al Halabi mengatakan,

ولكن قراءة القرآن في أول المجلس ما الدليل عليه؟

“Akan tetapi apa dalil bagi pembacaan al Qur’an di awal majelis atau forum?

أقول روي الإمام الخطيب البغدادي في كتاب الفقيه و المتفقه أن الصحابة كانوا إذا جلسوا افتتحوا مجلسهم بقراءة آيات من القرآن.
هذا في الفقيه و المتفقه و غيره بالسند الصحيح.

Kukatakan bahwa Imam al Khatib al Baghdad dalam kitab al Faqih wal Mutafaqqih meriwayatkan bahwa para sahabat jika duduk-duduk mereka membuka majelis mereka dengan pembacaan beberapa ayat dari al Qur’an. Riwayat ini ada di al Faqih wal Mutafaqqih dan buku yang lain dengan sanad yang sahih.

و أنتم ترون أننا لا نجعل ذلك ديدانا و لا على صفة الاستمرار، فإن فعل أحيانا لا بأس به بل هو إحياء لسنة من سنن أصحاب رسول الله صلى الله عليه و على آله و صحبه أجمعين

Kalian sendiri melihat bahwa kami tidak menjadikan hal ini menu setiap saat dan tidak kami lakukan secara terus menerus. Kadang-kadang membuka majelis atau forum dengan pembacaan al Qur’an hukumnya adalah tidak mengapa (baca: mubah) bahkan hal ini berarti menghidupkan salah satu sunah para sahabat”.
Demikian penjelasan Syaikh Ali al Halabi.

Berikut ini kutipan dari kitab al Faqih wal Mutafaqqih karya al Khatib al Baghdad. Beliau mengatakan,

وأستحب أن يقرأ بعضهم سورة أو آيات من القرآن ، قبل تدريس الفقه أو بعده ،

“Dianjurkan salah satu hadirin membaca satu surat atau beberapa ayat dari al Qur’an sebelum pelajaran fiqh dimulai ataupun sesudahnya”.

فقد : أنا علي بن محمد بن عبد الله المعدل ، أنا عثمان بن أحمد الدقاق ، نا الحسن بن سلام السواق ، نا عفان ، نا شعبة ، عن علي بن الحكم ، عن أبي نضرة ، قال : « كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا اجتمعوا تذاكروا العلم ، وقرءوا سورة »

Setelah itu al Khatib al Baghdad membawakan riwayat dari Abu Badhran, beliau mengatakan, “Adalah para sahabat Rasulullah jika berkumpul untuk membicarakan ilmu agama mereka membaca satu surat dari al Qur’an”.Lihat al Faqih wal Mutafaqqih juz 3 hal 58, no riwayat 944 Maktabah Syamilah.

Catatan:
Vonis bid’ah secara general untuk membaca ayat al Qur’an sebelum dimulainya suatu acara adalah tindakan yang tidak tepat.

Tentang hukum acara ini:
Al Khatib al Baghdadi menilainya sebagai acara yang dianjurkan. Pernyataan beliau dalam hal ini bersifat mutlak sehingga secara lahiriah menunjukkan bahwa hal ini dianjurkan meski dijadikan kebiasaan karena al Khatib tidak memberi syarat ‘kadang-kadang”. Alasan beliau adalah karena ini merupakan sunah para sahabat.
Sedangkan penjelasan dari Syaikh Ali al Halabi menunjukkan bahwa acara ini hukumnya mubah jika hanya terkadang dilakukan.
Dimungkinkan beliau mensyaratkan ‘kadang-kadang’ karena hal ini tidak dijumpai dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 11
  • Ummu Khaulah 9 years ago

    Ustadz, bagaimana hukum MTQ?

  • Ridho Amrullah 9 years ago

    Assalammu’alaikum,
    1. Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu berkata: “Aku pernah tinggal di Makkah selama beberapa waktu dalam keadaan tertimpa berbagai penyakit. Dan aku tidak menemukan tabib maupun obat. Aku pun mengobati diriku sendiri dengan Al-Fatihah yang dibaca berulang-ulang pada segelas air Zam-zam kemudian meminumnya, hingga aku melihat dalam pengobatan itu ada pengaruh yang mengagumkan. Lalu aku menceritakan hal itu kepada orang yang mengeluh sakit. Mereka pun melakukan pengobatan dengan Al-Fatihah, ternyata kebanyakan mereka sembuh dengan cepat.”
    Subhanallah! Demikian penjelasan dan persaksian Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu terhadap ruqyah serta pengalaman pribadinya berobat dengan membaca Al-Fatihah. (Ad-Da`u wad Dawa` hal. 8, Ath-Thibbun Nabawi hal. 139)
    Apakah hal tersebut diperbolehkan termasuk pembacaan alfatihah kepada air minum biasa?
    2. Apakah hadist meniupkan ke seluruh badan almu’wadziat dan al-ikhlas sebelum tidur dan untuk mengobati itu hadistnya shohih?
    Mohon ustadz jawabannya.,Jazakallah :-)

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Ummu
    Yang bermasalah dalam MTQ adalah lomba qiroahnya.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Ridho
    Wa’alaikumussalam
    1. Qiyas yang anda lakukan tidak pada tempatnya. Apa kesamaan illah antara air zamzam dengan air yang dibacakan alfatihah padanya?
    2. Shahih.
    NB:
    Pertanyaan yang tidak sejalan dengan materi artikel tolong dikirimkan lewat kolom ‘tanya ustadz’ yang ada di pojok kanan blog ini.

  • Ummu Khaulah 9 years ago

    Maksud lomba qira’ahnya bermasalah bagaimana, Ustadz? Mohon penjelasannya. Jazakallah khair.

  • ada apa denganlomba qiroah ustadz ?  kenapa bermasalah ?

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Abang dan Ummu
    Para ulama salaf melarang membaca al Qur’an dengan mengikuti not-not lagu tertentu semisal bayati 1, bayati 2 dst.

  • Ustadz, kalau ga salah saya juga pernah baca di Madarikun Naazhar karya Syaikh Abdul Malik Al Jazairi, di situ disebutkan bahwa Salman Al Farisi pernah mengawali sebuah ceramah dengan Surat Yusuf..

  • ustadzaris 8 years ago

    #abu
    Alangkah lebih baik lagi jika anda kutip tulisan tentang hal tersebut secara utuh biar bisa diambil manfaatnya.

  • Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Ustadz, saya mantan Qori cilik, waktu kecil mulai kelas 4 atau 5 SD sampai umur 13-an tahun saya pernah menang juara 2 tingkat propinsi Kalimantan Timur. Kemudian sewaktu saya mondok di Gontor ternyata saya dipanggil pulang ke Kalimantan untuk mengikuti seleksinya lagi buat masuk ke Tingkat Nasional, namun saya lebih memilih thalabul ‘ilm di Pondok waktu itu.

    Yang pingin saya sharing disini mengenai kekurangan yang ada pada MTQ adalah selain qiroah tsb, pergaulannya juga kurang baik, tad, kami (baca: IPQOH / Ikatan Persatuan Qori Qori’ah) sering duduk-duduk khalwat, kalau makan sering berlebih-lebihan dan bunyi (kurang sopan), bahkan ada peserta HTQ (untuk yang penghapal Qur’an) yang sering saya lihat tidak sesuai antara yang sering dia ulang-ulang di mulutnya (Al-Qur’an) dengan perbuatannya. Tapi saya berdoa semoga sekarang maupun yang saya lihat dulu itu hanyalah di lingkup MTQ yang pernah saya rasakan di pengalaman saya waktu kecil saja, semoga saja banyak yang tidak begitu. Amin.

    Namun hikmah kebaikan yang saya dapatkan karena dulu saya pernah Qori juara waktu kecil, walau sejak aqil baligh saya tidak pernah lagi mengaji dengan qiroah, saat saya sudah dewasa kalau saya diminta orang/takmir masjid untuk jadi imam (baik itu sewaktu saya di Semarang, Surabaya, Jakarta, maupun di kampung halaman saya sendiri), orang biasanya selalu sangat menyenanginya, sering sekali datang memuji (bahkan ada jama’ah sampai yang menangis-nangis/berkaca-kaca matanya) bilang kalau dia teringat waktu haji dulu shalat dengan Imam di Masjidil Haram Makkah. Tapi kalau dipuji begitu saya jadi malu bahkan takut, nanti saya jadi riya’ / niatnya malah jadi ga ikhlas belajar ngaji karena Allah semata, saya cuma bisa senyum dikulum waktu itu (malu, tad).

    Padahal kalau saya jadi Imam saya tidak pernah mau melagukan bacaan saya, ya lurus-lurus saja (tidak dengan not not tertentu apalagi aturan yang harus diikuti kalau MTQ dulu, malah sampai lupa saya nama-nama lagunya apa sudah saking lamanya tidak pernah melagukannya, walau urutan-urutannya lagunya saya masih ingat), yang penting (sewaktu jadi imam bacaan saya) sesuai makhraj dan tajwidnya yang benar, itu saja, selain juga memang kalau saya menghapal ayat biasanya saya Insya Allah pastikan untuk paling tidak memahami kandungan maknanya dan baca tafsirnya bila tidak hapal tafsirnya per ayat, jadi saya berusaha semaksimal mungkin untuk menghayati benar setiap bacaan al-Qur’an saya (baik sedang sendiri maupun ketika menjadi imam).

    Sekian sharing saya buat saudara-saudara sesama jama’ah ta’limnya ustadz, yaitu ummu dan abang. Mohon maaf bila ada khilaf. Walau saya belum pernah bertemu dengan (bahkan melihat) Ustadz, namun hati saya bahagia telah menemukan pengajian online ustadz ini, saya mendoakan Ustadz, juga saya berdoa mudah-mudahan Allah beri saya dan keluarga rizqi supaya kami bisa ke Jogja, suatu saat nanti, trus silaturahim ke Ustadz… Amin. Mohon juga doanya dari Ustadz supaya mendoakan kami agar selalu dijagakan Allah untuk terus istiqomah hidup di dalam kecintaan kami menghapal/mempraktekkan Al-Qur’an.

    Assalamu ‘alaikum wr. wb. 

  • Rizal Fadli 5 years ago

    Subhanallaah saya seneng banget mendengarnya akhi abdullaah. Saya cinta abdullaah karena ALlah. terus hayati quran ya berusaha. memang banyak orang zaman skarag lbh mentingkan lagu, sampai2 ada lagu yg gak enak banget didengarnya dan menjadikan bacaan quran yg seharusnya menyentuh hati malah jadi Ngeselin krn dibaca dgn teori lagu yg gak enak banget. seharusnya baca quran dgn suara indah itu disesuaikan dgn ayat2nya. kalau ttg neraka bener2 dihayati dan merdu seakan2 bener2 dalam