Tanya:
“Bagaimana cara menyamarkan/menghilangkan noda hitam di kening/di jidat karena sewaktu sujud dalam shalat terlalu menghujam sehingga ada bekas warna hitam?”
0281764xxxx
Jawab:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).
Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang dimaksudkan dengan ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan.
Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik.
Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyuan.
Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).
عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟
Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut.
Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.
Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).
عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.
Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).
عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.
Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).
عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.
Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah?
Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).
Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).
Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”.
Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya.
Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”.
Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,
يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ كَانَ هَذَا مِنْهُمْ هَدْيُهُمْ هَكَذَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لاَ يَرْجِعُونَ فِيهِ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ لاَ يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ
“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Cirri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth).
Oleh karena itu, ketika kita sujud hendaknya proporsonal jangan terlalu berlebih-lebihan sehingga hampir seperti orang yang telungkup. Tindakan inilah yang sering menjadi sebab timbulnya bekas hitam di dahi.
Popularity: 57% [?]

jazakallahu khairan atas sarannya.
sama sekali tidak menyeru kepada persatuan umat, banyak hal yg lebih urgent dari hanya membuka aib saudara sendiri. Wajar jika umat dalam keadaan tercerei berai jika orang yg berilmu tidak bijaksana dalam menyampaikan. Apakah anda dapat melihat dengan Pandangan ALLAH yg mampu menembus hati manusia sehingga dapat melihat niat dari suatu perbuatan ? biarkanlah Allah menjadi Hakim bukan manusia. Dan saya rasapun banyak orang yg mempunya tanda hitam di kening tidak ingin mempunya tanda tersebut dengan kata lain tidak dibuat atas keinginnannya.
Alangkah baiknya jika masalah cabang tidak merusak persatuan umat yg sedang tercerai..tidak menambah berai dan tidak menyinggun orang2 yg mempunyai niat tulus beribadat tanpa ingin mempunyai tanda di kening tetapi mendapatkan tanda tsb
Wallau’alam
hamba yg tidak mempunyai tanda dikening
Untuk Hollow
Jika demikian pengadilan, kejaksaan dan kepolisian harus di tutup. ‘Biarkanlah Allah menjadi hakim, bukan manusia’.
Untuk akhi Hollow & yg lainnya,
Mungkin cara pandang kita terhadap tulisan ini yg perlu kita rubah. Jazakallohu khorin katsiro ya ustadz akan nasehatnya ttg hal ini, khususnya buat ana pribadi.
Memang yg namanya nasehat belum tentu semuanya menyenangkan, karena nasehat itu seperti obat. Ketika diminum, kadang ia akan mempunyai reaksi awal yg belum tentu mengenakkan bagi diri kita, apalagi jika penyakit kita itu diobati dengan obat yg benar/sesuai dgn kondisi kita saat itu. Akan tetapi kita berharap dengan ini semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kesembuhan bagi kita (khususnya pada hati kita).
Satu hal yg menurut ana perlu untuk direnungkan, yaitu :
Ketika kita merasa tersinggung dengan tulisan ini, maka ada hal yg (mungkin) perlu kita pertanyakan di dalam diri kita.
“Apakah kita dalam melakukan ibadah (sholat) selama ini sudah benar-benar ikhlas karena Alloh Azza wa jalla ??? Atau kah kita hanya ikhlas beribadah di awal2 kita mengenal sunnah Rasululloh shallallahu alaihi wasallam lalu dalam perjalanannya (sampai saat ini) keikhlasan di dalam diri kita sudah mulai luntur atau sudah tercampuri dengan Riya’ meskipun sedikit ???”
Hati-hatilah dengan penyakit Riya’, karena ia bagaikan semut hitam yang berjalan diatas batu hitam pada malam hari dan tidak ada cahaya sedikitpun ketika itu (gelap gulita).
Ana pribadi menganggap tulisan ini adalah untuk diri kita pribadi sebagai koreksi akan keikhlasan kita dalam beribadah kepada Alloh Azza wa jalla, dan BUKAN UNTUK kita dalam MENILAI ORANG LAIN. Tolong dibedakan ya akhi…
Ada 2 hal yg ana tangkap dari tulisan ini, yaitu :
1. “Orang yang memiliki tanda hitam di dahi belum tentu dia adalah orang yg sholeh.”
2. “Dan orang yg sholeh, mungkin saja dia memiliki tanda hitam di dahinya.”
Oleh karena itu, mestinya tidak ada polemik di dalam masalah ini, krn bukankah tidak ada dalil yang mengatakan akan sunnahnya memiliki tanda hitam di dahi ??? Dan apakah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan bahwa tanda hitam di dahi adalah ciri khas orang-orang yg sholeh ???? Jawablah dengan hatimu ya akhi..
Bersyukurlah engkau ya akhi… ketika engkau mulai tersinggung dengan masalah ini, boleh jadi ini adalah pertanda awal kebaikan bagi dirimu. Merenunglah… merenunglah…. kenapa engkau tersinggung ya akhi… bukankah ini adalah nasehat untuk diri kita pribadi dan BUKAN untuk menilai orang lain ???? Lalu kenapa harus tersinggung ya akhi….?????
Semoga kita dapat terhindar dari penyakit Riya’ yg dapat membinasakan seseorang kelak di hari akhir…
Allohu A’lam
@abu zaid
akur dah kita ^_^
tips nya gini : yg merasa berjidat hitam, itu biasanya sel kulit yg udah mengering ato mati. Setiap minggu usahakan di gosok saat mandi / basah, InsyaAllah daki / kotorannya mengelupas, hingga jidat jd bersih lg.
Subhanallah, artikel yang menarik dan semoga ada hikmah yg dpt kita ambil.
Saya ingin bertanya: Bagaimana dng ‘kapal’ yg ada di ujung ibu jari, di punggung kaki, atau juga di mata kaki? Apakah harus dihilangkan atau paling tidak disamarkan jika ada saudara kita yg memiliki ‘kapal-kapal’ tersebut.
Untuk Agus
Nabi bersabda, “Sesungguhnya Alloh itu maha indah dan menyukai keindahan”.
Jika menghilangkan ‘kapal’ tersebut bagian dari berhias maka hal ini termasuk amal yang dianjurkan.
untuk ustadzaris dan abu zaid,
Terimakasih atas penjelasannya
untuk abang,
terimakasih atas sarannya :)
Klo saya baca, maaf karena keterbatasan ilmu bahasa mungkin jadi salah, tulisan tersebut menilai bahwa yang punya tanda hitam di dahi adalah tanda orang yang niatnya tidak suci. Saya berkhusnudzon bahwa saudara2ku yang mempunyai tanda hitam didahi tidaklah sengaja menggosokannya supaya terlihat alim. kita disunnahkan untuk memperpanjang sujud, dan bagaimana cara bersujud-pun masing2 dari kita insyaalloh sudah tahu mana yang sesuai sunnah.
Wallohu a’lam bish-showab.
Assalaamu’alaykum Ustadz Aris..
Artikel ini apa diadaptasi dari bukunya Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi yg judulnya:”Muntaqa Fadhailish Shalaah wa Adaabiha” ?
Barokalloh fiykum..
Untuk Abdul Hakim
Wa’alaikumussalam
Bukan, bahkan baru tahu sekarang kalo beliau punya buku dengan judul seperti itu.
Assalaamu’alaykum.. Ustadz. Barokallohu fiykum..
Kalau boleh tahu, sumber dari tulisan ustadz di atas merujuk dibuku apa saja ya?
Syukron.. Ustadz Aris..
Untuk Abdulhakim
Wa’alaikumussalam
Buku-buku rujukannya adalah yang tercantum dalam tulisan di atas.
untuk ikhwan yang berjidat hitam jaga selalu ke’ihsan’an antum.. hati2 dg bisikan2 syetan dan nafsu tentang jidat antum, hanya Allah yang layak DiPuji..
apakah Rosullullah Sas. juga berjidat hitam ustadz?
Untuk Tina
Jawabannya sudah ada pada artikel di atas. Tolong dibaca lagi dengan cermat.
alahamdulillah ana menmabil manfaat dari artikelnya… jazakallah khoir
hal ini menjadi koreksi bwt kita agar lbh manjaga keikhlasan dlm sholat.. nmun yg perlu dketahui bahwa tanda di dahi mmang sering nampak akibat tekanan bagian bahu dn kepala yg dlm hal ini tulang di dahi bersentuhan lansung dgn tempat sujud, lebih2 bersentuhan langsung dgn lantai tanpa alas..
tidak mnutup kemungkinan ada sbagian saudara kita yang berlebihan dlm hal ini. mereka amat menekan bagian kepala saat sujud dgn harapan tanda hitam di dahi akn nampak.. tentu ada pula saudara kita yg lain yg mmiliki tanda di dahi tsb nmun benar2 tidak manghendaki demikian.. namun apakah kita akan mengatakan bahwa golongan yg kedua ini tidak ikhlas dalam sholatnya??? sungguh tidak ada yg bisa memastikan..
sebagai masukan sebaiknya judulnya diganti dgn redaksi lain karena “hitam di dahi tanda niat tak suci” lebih mengarah kpada vonis yg tidak bisa kita pastikan nilai kebenarannya.
benertuh judulnya terlalu extreme! isinya sih bagus dan tidak mesti dipermasalahkan! sebaiknya diganti menjadi Tanda Hitam Di Dahi bukanlah Sunah!
Judulnya terlalu saklek sekali..
Ana yakin tidak ada orang shalih yang mengharapkan tanda hitam di dahi kecuali orang yang ingin menunjukkan bahwa dirinya shalih. coba deh liat syaikh utsaimin rahimahullah..
Ass’kum. Samada ada tanda hitam @ tidak, bukan persoalan yang besar. Tidak dinafikan bahawa mereka yang bertanda hitam di dahi adalah orang yang kuat mengerjakan solat. Itu adalah petunjuk allah di atas muak bumi ini, dan diakhirat kelak yang tidak bertanda hitam, tanda hitam itu juga akan muncul. Banyak komen yang dibaca seolah2 mempersendakan orang yang mempunyai tanda hitam didahi kerana amat sukar untuk mendapatkan tanda hitam tersebut. Tidak semudah yang dijangka selain mereka yang selalu bersolat dan khusyuk. Mungkin orang lain juga akan cemburu melihat keadaan ini, kuat beribadat, bukan sekadar 5 waktu sahaja sembahyang. Kalau diikutkan semua termasuk yang wajib & sunat, terdapat lebih kurang 50 rakaat sehari untuk ditunaikan solat. Jangan nak salahkan pada carpet @ permaidani tapi insaflah. Jika orang lain ada tanda tu, ianya bukan diminta @ dibuat2, wajah mereka kelihatan berseri dan bercahaya….sama2 menjaga solat seharian….
jidat hitam sangat mudah dibuat, terlebih yang sholatnya di karpet. hanya melihat fisik, na’am itu sudah salah kaprah namanya. sebenarnya artikel di atas sudah sangat jelas namun kebanyakan kita hanya lintas lalu dalam membaca. sesungguhnya menekan itu tidak akan membawa ke arah kehitaman ketika tidak ada niatan untuk menghitamkan. kebanyakan dari kita sholat, kemudian ketika sujud kita buyar karena harapan akan “bukti” keikhlasan kita.
wallahu a’lam bish shawab.
bismillah,
jazaakallohukhoirn katsiron ustadz.
artikel ini bagus, cukup membuat kita introspeksi dan memperbaiki niat….
dalil yg disampaikn cukup mewakili pertanyaan2 dan kegundahan hati kami..
namun akan menimbulkan pertentangan bagi sebagian orang…
ditunggu artikel ya semacam ini..
Saya meragukan niat dan tujuan web ustadzaris ini… jangan jangan memang benar2 ingin memecah belah umat, sadarlah wahai saudaraku yang ngaku ngaku mengikuti pemahamam salafusholeh, bukan begini akhlak yang di ajarkan Rasulullah saw. niat manusia.. ikhlas atau tidak hanya Allah yang tau, kenapa antum ber su’uzon begitu bahkan berani menyebarkan artikel beginian di internet… terlalu cepat memfonis niat orang tidak suci. astaghfirullah al adzhim.
Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah di dalam kitabnya Kitaabul Ikhlaash menyebutkan beberapa hal yang dianggap sebagai perbuatan ikhlash akan tetapi tidaklah demikian. Sebagian yang beliau sebutkan adalah
1. Terkadang keikhlasan bercampur dengan keinginan jiwa, seperti orang yang mengajar karena ingin merasakan nikmat dengan keindahan kata-kata, atau orang yang berperang agar pandai di dalam berperang. Ini bukan kesempurnaan ikhlash kepada Allah.
2. Terkadang seseorang membenci riya’, akan tetapi ketika dia ingat akan amal perbuatannya, ia memujinya dan sama sekali tidak melawan sikap tersebut dengan kebencian. Bahkan ia merasa senang dan merasakan bahwa itu adalah salah satu kesenangan untuknya sebagai balasan atas kepayahannya di dalam beribadah. Ini adalah salah satu macam dari macam-macam syirik khafi (syirik yang tidak tampak).
3. Terkadang seseorang melakukan riya’ bukan dengan menampakkan ibadahnya (secara langsung), bukan pula dengan ucapannya, akan tetapi dengan tanda-tanda, seperti menampakkan kelesuan, muka pucat, suara yang dilemahkan, bekas air mata, dan banyak mengantuk sebagai akibat dari banyaknya shalat malam.
4. Terkadang seorang hamba selalu melakukan ibadah dengan bersembunyi karena tidak ingin dilihat oleh orang lain. Akan tetapi muncul dalam hatinya keinginan agar orang lain memulai salam untuknya, menebarkan senyum dan penghormatan kepadanya, membantu segala kebutuhannya, bertoleransi kepadanya di dalam tingkah laku, dan memberinya tempat di dalam majelis. Jika ada seorang saja yang lalai akan hal itu, maka jiwanya akan merasa berat, seakan-akan ibadah yang dia lakukan secara tersembunyi menuntut penghormatan untuknya.
5. Terkadang seseorang merasa berat untuk melakukan Tahajjut setiap malam, tetapi ketika datang kepadanya seorang tamu, maka dia akan merasakan ringan dan mudah untuk melakukannya.
Catatan: Ini berbeda dengan sekelompok orang yang rajin melakukan ibadah karena adanya pengaruh keimanan di dalam berjamaah, dan pengaruh berjamaah yang dapat mengusir rasa malas, lemah dan hawa nafsu.
Lima point di atas Beliau kutip dari kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin dengan sedikit perubahan.
Beliau juga mengatakan, “Ingatlah selalu sebuah perkataan yang sangat indah:
مَنْ شَاهَدَ فِي إِخْلاَصِهِ اْلإِخْلاَصَ فَقَدِ احْتَاجَ إِخْلاَصُهُ إِلَى اْلإِخْلاَصَ
“Barangsiapa yang menyaksikan keikhlasannya di dalam keikhlasan amalnya, maka keikhlasannya tersebut sungguh membutuhkan keikhlasan.”
Sumber: Ikhlash Syarat Diterimanya Ibadah, Cet. pertama (judul asli: Kitaabul Ikhlaash), Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah, Pustaka Ibnu Katsir, hal. 219 – 220.
Assalamu’alaikum…
Ustadz Aris… ana lihat intinya dari artikel ini adalah dahi hitam bukan berarti orang soleh.
Karena itu kita bersama harus menghindari polemik selain inti di atas. Jangan sampai silang pendapat hanya karena dahi hitam ini seharusnya dihilangkan atau bentuk pendapat lainnya.
Cara mengangkap point dr tulisan di atas yang rasanya malah jadi perdebatan. Saya setuju dengan pendapat abu zaid, bahwasanya tanda di dahi itu mempunyai 2 arti. 1) “Orang yang memiliki tanda hitam di dahi belum tentu dia adalah orang yg sholeh.” dan 2) “Dan orang yg sholeh, mungkin saja dia memiliki tanda hitam di dahinya.” Jadi, karena ada yang menilai karena judulnya ekstrim, menjadi kurang jeli menangkap pointnya.
izin copy paste di perpustakaan pribadiku doktermuslim.wordpress.com
Untuk Abu Ibrahim
Silahkan
terimakasih atas infonya. ustad di lingkungan saya bila ada orang memiliki tanda hitam di keningnya mendapatkan persepsi dari masyarakat sekitar ,orang tersebut Rajin sholat dan beribadah. ( kebodohan publik ).
isinya bagus cukup memberi pencerahan…. tapi judulnya gak nyambung, terlalu menyimpulkan, padahal niat orang khan gak bisa kita simpulkan..
assalamualikum… wah…saya gemetaran saat baca judulnya…lha dahi saya ada item-itemnya, bekas jerawat…apa iya niat saya tidak suci??? syukron…
Assalamu’alaikum
“Semua bagian tubuh anak Adam akan dimakan oleh api neraka kecuali tanda bekas sujud” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Saya dapat dari artikel lain,maksudnya apa,ya?apakah berbeda dengan yang uztad maksud.Terimakasih
Untuk Irham
Terjemah hadits yang anda bawakan itu kurang tepat. Yang benar, “kecuali anggota badan yang dipergunakan untuk sujud”.
bismillah,,
sangat ana sayangkan seorang ustadz mengupload artikel seperti ini,,terlalu berlebihan dan kurang bijak kalau menghukumi tanda hitam di dahi sebagai ahli bidah dan tanda niat tidak suci. bahkan para ulama kibar tidak ada yang berani menyinggung hal seperti ini karena sumber2 yang ada belum cukup untuk dijadikan sebagai hujjah yang kuat. wallahua’lam. wal ‘ilmu ‘indallah
serem amat, mending dihapus aja tuh tanda di jidat.. fitnahnya dahsyat…. berbahaya
dapat referensi dari mana ustad?minta izin copy di blog saya…
terimakasih dapat tambahan pengetahuan, ngga sengaja nemu web ini, jd kubaca aja. aq muslim awam bukan ustadzah.Menurutku ngga menandakan ke aliman atau tidak alim nya seseorang bila ada tanda hitam didahi, itu hanya reaksi alami kulit yang kering akibat tergesek benda kasar terlalu lama.
yang tahu semua yang ada dihati hanya diri kita sendiri dan Allah. kalau orang lain tau ya hanya dari perilaku dan sikapnya keseharian bukan dari dahi item. Menurutku sebaiknya biar keliatan wajah bersih dan cerah, hitam2 dimuka sebaiknya dihilangkan, dengan rajin bersihkan wajah, kalo keluar pagi dan siang pake sunblock (tabir surya), kalo ada flek2 hitam pake retnoid acid atau diapotek bisa melanox pas malemnya. kalo yang hitam2 didahi karna kasar rutin pake pelembab diarea itu, dan digosok waktu bersihkan muka. jadi wajah kita yang muslim2 keliatan selalu cerah dan cakep2. biar image kita sebagai orang muslim tambah naik. kan orang non muslim bisa ngeliat kita wah orang muslim bersih dan cakep2. Allah kan juga menyukai keindahan, baik keindahan fisik dan hati.
setelah me-posting artikel ini di blog ana, ad pertanyaan sebagai berikut:
Saya mempunyai pengalaman mempunyai teman2 yang mempunyai jidat yang hitam2, celana mereka pun sangat cingkrang dan mereka bangga dengan jnggot2 mereka, terus mereka selalu berkoar-koar dalam masalah orang2 yang pergi ziarah, marhabanan dan merayakan maulid nabi. Namun, yang membuat saya heran itu mereka selalu mengoleskan semacam minyak ke jidat mereka sampai hitam, bahkan terkadang terlihat seperti jidatnya itu iritasi. Nah, bagaimana dengan teman2 saya itu? Masuk golongan manakah mereka? Aq sekarang gak deket lagi sama mereka, karena sifatnya seperti sok suci gitu, bahkan waktu itu temen aq itu hampir ribut sama anak2 yang suka mabok di sekolah karena ketika mereka mabok itu teman2 saya tiba2 langsung meneriaki orang2 mabuk itu dengan perkataan LAKNATULLAH, KAFIR, NAJIS, dsb. Semenjak itu saya gak dket2 tmen aq lagi, aq ngerasa wlwpun org mbuk itu salah, tapi gak seharusnya mereka begitu, benar gak ustadz? Sorry, ane awam sama masalah begini. Jadi menurut ustadz apakah tindakan mereka benar? Atau memang pikiran saya yang masih awam tentang islam yang belum dapat menjangkau pemikiran mereka? Terima kasih…
Mohon jawabannya ustad, biar ana postingkan ke blog ana lagi
jazakumullohu khoiron
Untuk Abu Ibrahim
Mengoleskan minyak di jidat agar hitam adalah suatu hal yang terlarang
Mengkafirkan orang mabok secara sembrono itu tidak boleh dan tidak memberi manfaat bagi dakwah.
Tidak semua bentuk ziarah kubur itu terlarang, ada yang terlarang dan ada yang boleh.
Mengingkari bid’ah adalah suatu hal yang benar namun bisa menjadi terlarang jika dengan cara-cara yang tidak benar.
ustad untuk jawaban ini “Mengoleskan minyak di jidat agar hitam adalah suatu hal yang terlarang” apa ada larangan khusus ustad?
Untuk Abu
Lihat perkataan para shahabat dalam tulisan di atas.
assalamualaikum,
saya pembaca dari seberang dan terjumpa blog ini
trima kasih pada ustaz memberi pandangan mengikut hadis n contoh teladan dari para shabt r.hum
untuk pengetahuan ustaz saya mempunyai bekas hitam di dahi
alhamdulillah saya menjaga solat 5 waktu tetapi sebagai org umum kekadang leka dan lalai,saya bukanlah org alim lg soleh, dan saya tidak mintak dan inginkan dahi yang hitam,orang ramai sering menganggap say org alim dan sebagainya,tp saya istighfar sahaje.Namun apa yang pasti tanda hitam di dahi ini menghalang saya membuat perkara yang tidak baik.mungkin hanya pada khalayak umum,tetapi saya sedaya upaya menjaga niat atas amalan saya.
Saya kerap mengusahakan untuk menghilangkan tanda hitam ini dengan menggunakan pembersih muka dan toner tapi x berjaya. Tapi saya sentiasa berdoa pada Allah sekiranya tanda ini baik untuk saya maka kekalkanlah dan sekiranya menimbulkan kemudharatan dan fitnah hilangkanlah,saya benar2 bingung selepas membaca artikel ini. Untuk ustaz dan teman tolong doakan saya untuk kekal dalm iman dan amal.
jazakallah
Ass…udah lama cari artikel tentang “jidat hitam”..
baru ketemu sekarang..alhamdulillah…
so,jidat saya mulai nampak tanda2 hitam sejak saya mulai “mengenal” sholat yg “sebenarnya”, baik itu sholat wajib/sunnah..(InsyaAllah Istiqomah)
jujur aja, kadang ada beban,risih n kurang PD aja dg “tanda” tersebut…sehingga Biasany saya oleskan cream pemutih buat menyamarkannya tanda tersebut..
krn saya juga sadar, kalaw saya masih perlu banyak “belajar”,
disisi positivenya, alhamdullih dg tanda tersebut malah membuat saya menjadi lbh bisa menggendalika/menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan yg merugikan org lain..( Bukan sok alim )
Intinya kita kembalikan kepada niat kita masing2.. karena hanya Allah yg tau sejauh mana keikhlsan/khusyuk an kita dalam beribadah (sholat)….
Masalah ada tanda/tidak…tdk perlu diperdebatkan lebih jauh…semoga kita menjadi orang2 yang bisa menginstropeksi diri kita masing2…
Wassalam…