Hadits Dhaif Dalam Kitab Para Ulama

Hadits Dhaif Dalam Kitab Para Ulama

فائدة:

قد يقول قائل: إذا كان المؤلف بتلك المنزلة العالية في المعرفة بصحيح الحديث ومطروحه، فما بالنا نرى كتابه هذا وغيره من كتبه قد شحنها بالأحاديث الواهية ؟

Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani mengatakan,

Catatan:

Boleh jadi ada orang yang bertanya, “Jika penulis suatu buku adalah seorang yang memiliki kedudukan yang tinggi dalam pengetahuan mengenai hadits yang shahih dan yang tidak lantas mengapa buku beliau yang ini atau yang lain penuh dengan berbagai hadits yang sangat lemah?”

والجواب: أن القاعدة عند علماء الحديث أن المحدث إذا ساق الحديث بسنده، فقد برئت عهدته منه، ولا مسؤولية عليه في روايته، ما دام أنه قد قرن معه الوسيلة التي تمكن العالم في معرفة ما إذا كان الحديث صحيحاً أو غير صحيح، ألا وهي الإسناد.

Jawabannya adalah sebagai berikut:

Telah menjadi kaedah diantara para ulama hadits bahwa seorang ulama pakar hadits jika beliau sudah membawakan suatu riwayat lengkap dengan sanadnya maka dia telah bebas dari tanggung jawab dan dia tidak bertanggung jawab atas riwayat yang dia bawakan karena dia telah menyediakan alat [baca: sanad] yang memungkinkan bagi pakar hadits untuk mengetahui apakah suatu hadits itu shahih ataukah tidak. Alat tersebut adalah sanad.

نعم، كان الأولى بهم أن يُتبعوا كل حديث ببيان درجته من الصحة أو الضعف، ولكن الواقع يشهد أن ذلك غير ممكن بالنسبة لكل واحد منهم، وفي جميع أحاديثه على كثرتها لأسباب كثيرة لا مجال لذكرها الآن،

Memang seharusnya beliau beliau menjelaskan kualitas hadits yang beliau bawakan shahih ataukah dhaif namun realita menunjukkan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan oleh masing masing mereka dalam semua haditsnya yang demikian banyak karena berbagai alasan yang tidak mungkin semuanya disampaikan dalam kesempatan ini.

ولكن أذكر منها أهمها وهي أن كثيراً من الأحاديث لا تظهر صحتها أو ضعفها إلا بجمع الطرق والأسانيد، فإن ذلك مما يساعد على معرفة علل الحديث، وما يصح من الأحاديث لغيره،

Akan tetapi akan kusebutkan alasan yang paling penting yaitu bahwa banyak hadits itu tidak diketahui statusnya shahih ataukah dhaif melainkan dengan mengumpulkan berbagai jalur dan sanadnya karena hal tersebut membantu mengetahui cacat tersembunyi yang ada pada suatu hadits dan bisa menyebabkan hadits yang tidak shahih menjadi shahih li ghairihi.

ولو أن المحدثين كلهم انصرفوا إلى التحقيق وتمييز الصحيح من الضعيف لما استطاعوا -والله أعلم- أن يحفظوا لنا هذه الثروة الضخمة من الأحاديث والأسانيد،

Andai semua pakar hadits obsesinya hanya menelitai keshahihahn suatu hadits tentu mereka tidak akan mampu menyajikan untuk kita hadits yang lengkap dengan sanadnya dalam jumlah yang demikian besar.

ولذلك انصبت همة جمهورهم على مجرد الرواية إلا فيما شاء الله، وانصرف سائرهم إلى النقد والتحقيق، مع الحفظ والرواية، وقليل ما هم ((ولكل وجهة هو موليها فاستبقوا الخيرات)) . أ.هـ

Oleh karena itu obsesi mayoritas pakar hadits adalah membawakan riwayat kecuali untuk sebagian kecilnya saja yang mereka teliti. Sedangkan segelintir mereka obsesinya adalah mengkaji dan meneliti keabsahan hadits disamping berhatian dengan masalah periwayatan hadits. Masing masing ulama punya pertimbangan sendiri sendiri dalam pilihan yang mereka ambil dan ini adalah kesempatan untuk berlomba dalam kebaikan” [Iqtidha' al Ilmi al 'Amal karya Khathib al Baghdadi tahqiq al Albani hal 5].

Sumber:
http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?p=114756#post114756