<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 May 2013 20:18:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Keutamaan Ngaji Live Via Internet</title>
		<link>http://ustadzaris.com/keutamaan-ngaji-internet</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/keutamaan-ngaji-internet#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 02:14:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan majelis ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=5672</guid>
		<description><![CDATA[ولا شك أن مجالسَ العلم مجالسُ تحفها الملائكة، وتغشاها الرحمة، وتتنزل عليها السكينة. ولهذا فإن فقهاء الإسلام من علماء العصر، يرون أن المجلس إنما هو ما تعارف عليه الناس في المجلس، فمجلس البيع هو ما يتبايع فيه المتبايعان، أو ما يحصل فيه في وسائل الاتصال الحديثة، ولا شك أن هذا المجلس الذي -بإذن الله- تحفُّه [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p class="arab">ولا شك أن مجالسَ العلم مجالسُ تحفها الملائكة، وتغشاها الرحمة، وتتنزل عليها السكينة. ولهذا فإن فقهاء الإسلام من علماء العصر، يرون أن المجلس إنما هو ما تعارف عليه الناس في المجلس، فمجلس البيع هو ما يتبايع فيه المتبايعان، أو ما يحصل فيه في وسائل الاتصال الحديثة، ولا شك أن هذا المجلس الذي -بإذن الله- تحفُّه الملائكة، وإن كان مع الإخوة معنا في هذا الاستديو، وكذلك فيمن خلف الشاشات، يستمعون ويترقبون، يأخذون أقلامهم، يُقيدون فوائد هذا الدرس، فإنهم -بإذن الله- سوف يكونون -بإذنه- ممن تحفهم الملائكة، فحيهلا جميعًا في هذا الصرح المبارك.</p>
<p>Tidaklah diragukan bahwa majelis ilmu adalah majelis yang dikerumuni oleh para malaikat, rahmat Allah melimpah ruah di sana dan ketenangan pun diturunkan di tempat tersebut. Para pakar fikih kontemporer berpandangan bahwa pengertian majelis adalah segala sesuatu yang dinilai sebagai majelis oleh masyarakat. Majelis jual beli adalah tempat terjadinya transaksi jual beli baik secara langsung atau pun melalui berbagai sarana komunikasi modern.</p>
<p>Tidaklah diragukan bahwa majelis kajian ini dengan izin Allah adalah majelis yang dikerumuni para malaikat baik yang hadir bersama kami di studio atau pun yang menyimak dan memperhatikan kajian di balik komputer sambil memegang pena dan mencatat pelajaran yang disampaikan maka mereka ini dengan izin Allah termasuk orang orang yang dikerumuni malaikat [Dr Abdullah al Sulmi]
<p dir="RTL">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/keutamaan-ngaji-internet/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Taklid</title>
		<link>http://ustadzaris.com/mengenal-taklid</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/mengenal-taklid#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 May 2013 15:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bimbingan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[mengekor]]></category>
		<category><![CDATA[taklid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=5654</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bahasa arab taklid bermakna meletakkan sesuatu yang melingkar di leher semisal kalung. Secara syariat, taklid bermakna mengikuti orang yang ucapannya bukanlah hujjah dalam agama. Oleh karena itu tidaklah tergolong taklid orang yang mengikuti Nabi, mengikuti ijma dan mengikuti pendapat shahabat pada saat pendapat shahabat ketika itu adalah hujjah dalam agama. Mengikuti hal hal di [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam bahasa arab <strong>taklid</strong> bermakna meletakkan sesuatu yang melingkar di leher semisal kalung.</p>
<p>Secara syariat, taklid bermakna mengikuti orang yang ucapannya bukanlah hujjah dalam agama.</p>
<p>Oleh karena itu tidaklah tergolong taklid orang yang mengikuti Nabi, mengikuti ijma dan mengikuti pendapat shahabat pada saat pendapat shahabat ketika itu adalah hujjah dalam agama.</p>
<p>Mengikuti hal hal di atas tidaklah disebut taklid karena yang diikuti adalah hujjah.  Namun boleh juga hal di atas disebut hujjah dalam makna majaz.</p>
<p>Taklid itu dibenarkan dalam dua kondisi.</p>
<p>Pertama, untuk orang awam yang tidak mampu mengetahui hukum agama secara langsung taklid hukumnya adalah WAJIB mengingat firman Allah QS an Nahl:43.</p>
<p>Orang awam tidaklah diperintahkan untuk bertanya kepada para ulama kecuali agar dia mengambilkan fatwa sang ulama. Jika bukan karena tujuan ini lantas apa manfaat bertanya kepada ulama jika fatwa dan penjelasannya tidak kita amalkan.</p>
<p>Dianjurkan bagi orang awam tersebut untuk taklid kepada orang yang paling berilmu dan paling wara yang bisa dia jumpai. Jika menurutnya orang yang ada sama ilmu dan wara’ nya maka dia bebas memilih untuk bertanya kepada siapa saja yang dia kehendaki.</p>
<p>Kedua, ada suatu permasalahan yang ditanyakan kepada ulama mujtahid yang harus segera dijawab dan tidak ada waktu yang cukup bagi sang ulama untuk mengkaji sendiri permasalahan tersebut maka boleh baginya dalam situasi ini untuk taklid dengan fatwa ulama lain.</p>
<p>Sebagian ulama mempersyaratkan bolehnya taklid hanya dalam masalah non akidah dengan alas an akidah itu harus pasti sedangkan taklid itu hanya menghasilkan prasangka kuat saja.</p>
<p>Namun yang benar, boleh taklid dalam masalah akidah mengingat firman Allah QS an Nahl:43 itu bersifat umum tanpa membeda bedakan masalah akidah ataukah non akidah. Bahkan konteks ayat di atas membahas kerasulan yang ini tentu saja termasuk bahasan akidah.</p>
<p>Alasan logika juga mengatakan bahwa orang awam itu tidak mungkin mengetahui kebenaran berdasarkan dalil secara langsung baik dalam masalah akidah ataupun non akidah. Jika dia tidak bisa mengetahui kebenaran secara langsung maka jalan satu satunya yang tersedia adalah taklid mengingat QS at Taghabun:16.</p>
<p>Dua Jenis Taklid</p>
<p>Taklid ada dua macam, total dan parsial.</p>
<p>Pertama, taklid total adalah mengikatkan diri secara total dengan mazhab tertentu dalam semua permasalahan agama.</p>
<p>Hukum taklid semacam ini diperselisihkan oleh para ulama.</p>
<p>Ada ulama yang mewajibkannya menimbang bahwa orang belakangan itu tidak mungkin bisa sampai tingkatan ijtihad.</p>
<p>Ada juga ulama yang mengharamkannya mengingat dalam hal terdapat tindakan mengikatkan diri secara mutlak untuk mengikuti manusia selain Nabi.</p>
<p>Abul Abbas al Harani mengatakan, “Pendapat yang mewajibkan itu berkonsekuensi mentaati manusia selain Nabi dalam semua perintah dan larangannya dan ini adalah tindakan yang menyelisihi ijma. Sedangkan membolehkannya mengandung banyak masalah” [al Fatawa al Kubro 4/625].</p>
<p>Beliau juga mengatakan, “Barang siapa yang mengikatkan diri pada suatu mazhab tertentu lalu dia menyelisihi mazhabnya  bukan karena taklid kepada ulama lain yang memberikan fatwa kepadanya, bukan pula karena menjumpai dalil yang mengharuskannya untuk menyelisihi pendapat lama yang dia ikuti bukan pula karena udzur syar’I yang menyebabkan bolehnya apa yang dia lakukan maka dia mengikuti hawa nafsunya, melakukan yang haram tanpa udzur syari dan ini adalah kemungkaran.</p>
<p>Namun jika dia mengetahui hal yang menyebabkan dia bisa memastikan bahwa satu pendapat itu lebih kuat dari pada pendapat yang lain boleh jadi dalil jika dia bisa mengetahui dan memahami dalil atau karena melihat bahwa satu ulama itu lebih berilmu dalam masalah tersebut dari pada ulama yang lain dan ulama tersebut namun lebih hati hati dan bertakwa kepada Allah dalam ucapannya oleh karena itu dia tinggalkan pendapatnya yang lama karena faktor semacam ini. Tindakan semacam ini hukumnya mubah bahkan wajib sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad”.</p>
<p>Kedua, taklid parsial adalah mengikuti suatu pendapat tertentu dalam suatu permasalahan. Hukum taklid semacam ini adalah boleh bagi orang yang tidak mampu untuk mengetahui kebenaran melalui jalan ijtihad baik tidak mampu karena memang tidak mampu atau sebenarnya mampu namun menimbulkan kesulitan yang besar.</p>
<p>Bolehkah Orang Yang Bertaklid Memberikan Fatwa?</p>
<p>Ahli dzikr adalah ahli ilmu sedangkan orang yang bertaklid bukanlah termasuk ahl ilmu yang diikuti karena dia hanyalah sekedar orang yang mengikuti orang lain.</p>
<p>Abu Umar Ibnu Abdil Barr al Maliki mengatakan, “Seluruh ulama bersepakakat bahwa orang yang bertaklid tidaklah terhitung ulama karena ilmu adalah mengenal kebenaran berdasarkan dalil”.</p>
<p>Ibnul Qoyyim mengatakan, “Benarlah apa yang dikatakan oleh Abu Umar karena ulama tidaklah berselisih bahwa ilmu adalah pengetahuan yang didapatkan dari dalil. Jika tanpa dalil maka itulah taklid”.</p>
<p>Setelah itu Ibnul Qoyyim menceritakan adanya tiga pendapat mengenai hukum memberikan fatwa dengan dasar taklid.</p>
<p>Pertama, tidak boleh berfatwa tanpa taklid karena taklid bukanlah ilmu sedangkan fatwa tanpa ilmu hukumnya haram. Inilah pendapat mayoritas Hanabilah dan jumhur Syafiiyyah.</p>
<p>Kedua, boleh untuk diri sendiri namun tidak boleh untuk orang lain.</p>
<p>Ketiga, boleh jika ada kebutuhan dan tidak ada ulama mujtahid di daerah tersebut. Inilah pendapat yang paling kuat dan inilah pendapat yang dipraktekkan oleh kaum muslimin [I’lam al Muwaqqiin 1/7]
<p>Kewajiban orang yang bertanya</p>
<p>Pertama, bertanya dengan tujuan mencari kebenaran dan mengamalkannya bukan mencari cari pendapat yang enak dan mudah, memojokkan orang yang ditanya atau maksud buruk selainnya.</p>
<p>Kedua, tidak bertanya kecuali kepada orang yang diyakini atau ada sangkaan kuat bahwa orang tersebut layak untuk memberikan fatwa. Dianjurkan untuk memilih orang yang paling dipercaya ilmu dan wara’nya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa hal ini hukumnya adalah wajib.</p>
<p>Ketiga, mengajukan pertanyaan secara utuh sesuai dengan realita yang terjadi.</p>
<p>Keempat, perhatian dengan seksama penjelasan yang disampaikan. Tidak pergi kecuali setelah paham dengan baik dan utuh.</p>
<p>Syaikh al Albani mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Apa dalil haramnya taklid? Apa hukum bermazhab?”</p>
<p>Jawaban beliau, “Aku tidak mengetahui adanya dalil yang itu mengharamkan taklid bahkan taklid adalah sebuah keharusan bagi orang yang tidak memiliki ilmu, QS an Nahl:42.</p>
<p>Dalam ayat ini Allah membagi kaum muslimin dalam masalah ilmu menjadi dua, ulama yang berkewajiban untuk menjawab pertanyaan orang yang bertanya dan orang yang tidak berilmu yang berkewajiban untuk bertanya kepada ulama.</p>
<p>Jika ada orang awam yang mendatangi seorang ulama dan bertanya kepadanya lalu sang ulama berberikan jawaban maka orang ini telah melaksanakan ayat di atas.</p>
<p>Mungkin yang ditanyakan bukanlah yang secara lugas disebutkan dalam teks pertanyaan yaitu haramnya fanatik mazhab yang bermakna mengamalkan agama berdasarkan salah satu mazhab yang diikuti oleh kaum muslimin lantas sama sekali tidak mau menoleh pendapat yang ada di mazhab yang lain dan perkataan ulama lain di luar mazhabnya. Praktek beragama dengan bermazhab semacam ini lah yang tidak diperbolehkan karena tindakan ini menyelisihi dalil al Quran dan sunnah.</p>
<p>Para ulama membagi manusia menjadi tiga bagian:</p>
<p>Ulama mujtahid</p>
<p>Muttabi’, yang mengikuti suatu pendapat berdasarkan ilmu.</p>
<p>Orang yang bertaklid, inilah kewajiban orang yang awam.</p>
<p>Jika demikian maka kita tidak bisa mengatakan secara mutlak bahwa taklid itu haram kecuali jika taklid itu dijadikan sebagai agama [bukan sekedar sarana belajar agama, pent]. Sedangkan semata mata taklid itu tidak boleh diharamkan” [Majmu Fatawa al Madinah al Munawwarah hal 50].</p>
<p>*Materi ini disampaikan di Kajian Ilmiah di Masjid Abu Bakar ash Sdiddiq, Pisangan, Bontang Kalimantan Timur pada hari Sabtu 27 April 2013</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/mengenal-taklid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tundukan Pandangan Terhadap Empat Hal</title>
		<link>http://ustadzaris.com/5199-tundukkan-pandangan</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/5199-tundukkan-pandangan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Apr 2013 16:16:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[GB]]></category>
		<category><![CDATA[ghadhul bashar]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan]]></category>
		<category><![CDATA[tundukkan pandangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=5199</guid>
		<description><![CDATA[قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا generic levitra مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ “Katakanlah kepada orang orang yang beriman agar mereka menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya” [QS an Nur:30] Ketika menjelaskan ayat ini Syaikh Ibnu Sa’di mengatakan, عن النظر إلى العورات وإلى النساء الأجنبيات، وإلى المردان، الذين يخاف بالنظر إليهم الفتنة، وإلى زينة الدنيا التي تفتن، وتوقع في [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p class="arab"><b><br />
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا
<div style="display: none"><a href='http://buy-levitra-on.com/'>generic levitra</a></div>
<p> مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ</b><b></b></p>
<p>“Katakanlah kepada orang orang yang beriman agar mereka menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya” [QS an Nur:30]
<p>Ketika menjelaskan ayat ini Syaikh Ibnu Sa’di mengatakan,</p>
<p class="arab"><b>عن النظر إلى العورات وإلى النساء الأجنبيات، وإلى المردان، الذين يخاف بالنظر إليهم الفتنة، وإلى زينة الدنيا التي تفتن، وتوقع في المحذور.</b><b></b></p>
<p>“Tundukkanlah pandangan terhadap empat hal:</p>
<p>Pertama, aurat orang lain [meski sesama jenis, pent].</p>
<p>Kedua, wanita ajnibiyah [wanita yang bukan isteri, bukan mahram, pent].</p>
<p>Ketiga, laki laki baby face yang melihatnya bisa dikhawatirkan menimbulkan godaan</p>
<p>Keempat, kemewahan hidup dunia yang menggoda dan menjerumuskan ke dalam hal terlarang”.</p>
<p>Jadi memandangi dan atau melototi kemewahan dunia semisal mobih mewah atau rumah mewah adalah diantara perbuatan yang terlarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/5199-tundukkan-pandangan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adab Makan di Rumah Teman</title>
		<link>http://ustadzaris.com/5044-makan-rumah-teman</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/5044-makan-rumah-teman#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Apr 2013 00:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[adab makan]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=5044</guid>
		<description><![CDATA[Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, ]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَانِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَامِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَالِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَالَاتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ أَوْ صَدِيقِكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا</p>
<p>Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya[1051] atau di rumah kawan-kawanmu. tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian” [QS an Nur:61].</p>
[1051] Maksudnya: rumah yang diserahkan kepadamu mengurusnya.</p>
<p>Terkait etika makan di rumah teman yang terdapat dalam ayat di atas, berikut ini penjelasan Ibnu Katsir:</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;"><b>وقوله: { أَوْ صَدِيقِكُمْ } أي: بيوت أصدقائكم وأصحابكم، فلا جناح عليكم في الأكل منها، إذا علمتم أن ذلك لا يَشُقُّ عليهم ولا يكرهون ذلك.</b></p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;"><b>وقال قتادة: إذا دخلت بيت صديقك فلا بأس أن تأكل بغير إذنه.</b><b></b></p>
<p>Yang dimaksudkan adalah rumah shahabat dan temanmu. Tidaklah mengapa kalian makan di rumah kawan atau teman [meski tanpa izinnya, pent] jika kalian yakin bahwa hal tersebut tidaklah menyusahkan dirinya dan tidak ada perasaan tidak suka dalam diri mereka dengan perbuatan tersebut.</p>
<p>Qotadah mengatakan, “Jika anda masuk ke dalam rumah teman dekatmu maka tidak mengapa jika anda memakan makananan yang ada di rumahnya tanpa meminta izin terlebih dahulu”.</p>
<p>Siapkah kita menerapkan aturan ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/5044-makan-rumah-teman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacaan Setelah al Fatihah Pada Rokaat Ketiga Shalat Maghrib</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bacaan-setelah-al-fatihah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/bacaan-setelah-al-fatihah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Mar 2013 16:33:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bimbingan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[alfatihah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=5009</guid>
		<description><![CDATA[259 &#8211; و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى سُلَيْمَانَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ نُسَيٍّ عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الصُّنَابِحِيِّ قَالَ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ فَصَلَّيْتُ وَرَاءَهُ الْمَغْرِبَ فَقَرَأَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَسُورَةٍ سُورَةٍ مِنْ قِصَارِ الْمُفَصَّلِ Dari Abu Abdillah as Shunabihi, beliau [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p class="arab">259 &#8211; و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى سُلَيْمَانَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ نُسَيٍّ عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الصُّنَابِحِيِّ قَالَ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ فَصَلَّيْتُ وَرَاءَهُ الْمَغْرِبَ فَقَرَأَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَسُورَةٍ سُورَةٍ مِنْ قِصَارِ الْمُفَصَّلِ</p>
<p>Dari Abu Abdillah as Shunabihi, beliau mengatakan, “Aku tiba di Madinah pada masa kekhalifahan Abu Bakar ash Shiddiq. Aku shalat maghrib bermakmum kepada Abu Bakar. Pada rakaat pertama dan kedua setelah membaca surat al fatihah beliau membaca satu surat dari qishar al mufashal (ad Dhuha sampai an Nas).</p>
<p class="arab">ثُمَّ قَامَ فِي الثَّالِثَةِ فَدَنَوْتُ مِنْهُ حَتَّى إِنَّ ثِيَابِي لَتَكَادُ أَنْ تَمَسَّ ثِيَابَهُ فَسَمِعْتُهُ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَبِهَذِهِ الْآيَةِ</p>
<p class="arab">{ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ }</p>
<p>Pada rakaat ketiga kudekati beliau hingga pakaianku hampir saja menyentuh pakaian Abu Bakar. Aku mendengar beliau membaca surat al Fatihah dan potongan ayat yang ada di QS Ali Imran:8 [HR Malik dalam al Muwatha 259, sanadnya dinilai shahih oleh Syaikh Abu Ishaq al Huwaini dalam Takhrij beliau untuk Tafsir Ibnu Katsir].</p>
<p class="arab">وقد كان الصدِّيق رضي الله عنه يقرأ بهذه الآية في الركعة الثالثة من صلاة المغرب بعد الفاتحة سرًا.</p>
<p> Ibnu Katsir as Syafii mengatakan, “Abu Bakar ash Shiddiq membaca ayat ini (QS ali Imran:8) pada rakaat ketiga dari shalat Maghrib setelah membaca surat al Fatihah dengan suara yang lirih” [Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surat al Fatihah:6]
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/bacaan-setelah-al-fatihah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Boleh Adzan di Telinga Bayi</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-adzan-di-telinga-bayi</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-adzan-di-telinga-bayi#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2013 00:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[adzan]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[iqomah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=4645</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:

Tentang adzan di telinga kanan bayi dan iqomah di telinga kiri bayi, apa hukumnya?
Jawaban Syaikh Ibnu Baz:

Hal tersebut dituntunkan menurut sejumlah ulama. Ada beberapa hadits mengenai hal ini namun ada pembicaraan mengenai kualitas sanadnya. Jika ada seorang mukmin yang melakukannya maka itu adalah suatu hal yang baik karena amalan ini termasuk amalan yang dianjurkan.
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">عن الأذان في أذن المولود اليمنى والإقامة في إذنه اليسرى؟</p>
<p><strong>Pertanyaan</strong>:</p>
<p>Tentang adzan di
<div style="display: none"><a href='http://viagranoprescriptionsx.com/'>geneirc viagra no prescription</a></div>
<p> telinga kanan bayi dan iqomah di telinga kiri bayi, apa hukumnya?</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">هذا مشروع عند جمع من أهل العلم، وقد ورد فيه بعض الأحاديث، وفي سندها مقال، فإذا فعله المؤمن حسن؛ لأنه من باب السنن ومن باب التطوعات،</p>
<p>Jawaban Syaikh Ibnu Baz:</p>
<p>Hal tersebut dituntunkan menurut sejumlah ulama. Ada beberapa hadits mengenai hal ini namun ada pembicaraan mengenai kualitas sanadnya. Jika ada seorang mukmin yang melakukannya maka itu adalah suatu hal yang baik karena amalan ini termasuk amalan yang dianjurkan.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">والحديث في سنده عاصم بن عبيد الله بن عاصم بن عمر بن الخطاب وفيه ضعف، وله شواهد،</p>
<p>Hadits tentang masalah ini dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim bin Umar bin Khattab dan beliau adalah perawi yang memiliki kelemahan namun terdapat sejumlah riwayat yang menguatkannya.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">وقد فعل النبي صلى الله عليه وسلم في تسمية إبراهيم، ولم يحفظ عنه أنه أذن لما ولد له إبراهيم، سماه إبراهيم ولم يحفظ عنه أنه أذن في أذنه اليمنى وأقام في اليسرى، وهكذا الأولاد الذين يؤتى بهم إليه من الأنصار ليحنكهم ويسميهم لم أقف على أنه أذن في أذن واحد منهم وأقام،</p>
<p>Ketika Nabi member nama untuk anaknya Ibrahim tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa beradzan di telinga kanan Ibrahim dan mengumandangkan iqomah di telinga kirinya. Demikian pula bayi bayi dari kalangan Anshor yang dibawa ke hadapan Nabi untuk ditahnik dan diberi nama, tidak kujumpai riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi mengumandangkan adzan dan iqomah pada telinga bayi tersebut.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">ولكن إذا فعل ذلك المؤمن للأحاديث التي أشرنا إليها فلا باس، لأنه يشد بعضها بعضاً، فالأمر في هذا واسع، إن فعله حسن لما جاء في الأحاديث التي يشد بعضها بعضاً، وإن تركه فلا بأس.</p>
<p>Akan tetapi jika ada yang melakukannya menimbang hadits yang telah kusebutkan
<div style="display: none"><a href='http://ccialisonlinee.com' title='cialis online'>cialis online</a></div>
<p> maka tidak mengapa karena riwayat riwayat yang anda sebagiannya menguatkan sebagian yang lain [sehingga berstatus hasan lighairihi, pent]. Ringkasnya ada kelonggaran dalam masalah ini. Jika ada yang mengamalkannya maka itu baik mengingat hadits hadits dalam masalah ini sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Tidak melakukannya juga tidak mengapa”.</p>
<p>Sumber:</p>
<p dir="RTL" style="text-align: left;"><b> </b><b><a href="http://binbaz.org.sa/mat/9646">http://binbaz.org.sa/mat/9646</a></b></p>
<p><b> </b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-adzan-di-telinga-bayi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Penghafal Alquran</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-penghafal-alquran</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-penghafal-alquran#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Feb 2013 06:40:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[darul quran]]></category>
		<category><![CDATA[penghafal alquran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=4532</guid>
		<description><![CDATA[Al Juwaini menjelaskan hal ini dengan mengatakan bahwa maksudnya kemutawatiran [jumlah yang banyak] bagi para penghafal al Quran tidak boleh terputus sehingga al Quran terjaga dari penggantian dan pengubahan. Sehingga jika di tengah tengah umat telah dijumpai penghafal al Quran dalam jumlah yang mutawatir maka hukum wajib ini telah gugur dari yang lain. Namun jika jumlah tersebut belum terpenuhi maka semua umat Islam dosa karenanya.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hukum Menghafal al Quran</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">اعلم أن حفظ القرآن فرض كفاية على الأمة، صرح به الجرجاني في الشافي والعبادي وغيرهما. قال الجويني: والمعنى فيه أن لا ينقطع عدد التواتر فيه فلا يتطرق إليه التبديل والتحريف، فإن قام بذلك قوم يبلغون هذا العدد سقط من الباقين، وإلا أثم الكل.</p>
<p>Al Hafizh Suyuthi mengatakan, “Ketahuilah bahwa adanya penghafal al Quran hukumnya adalah fardhu kifayah atas seluruh umat Islam sebagaimana penegasan al Jurjani dalam as Syafi, al ‘Ibadi dll.</p>
<p>Al Juwaini menjelaskan hal ini dengan mengatakan bahwa maksudnya kemutawatiran [jumlah yang banyak] bagi para penghafal al Quran tidak boleh terputus sehingga al Quran terjaga dari penggantian dan pengubahan. Sehingga jika di tengah tengah umat telah dijumpai penghafal al Quran dalam jumlah yang mutawatir maka hukum wajib ini telah gugur dari yang lain. Namun jika jumlah tersebut belum terpenuhi maka semua umat Islam dosa karenanya.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">وتعليمه أيضاً فرض كفاية، وهوأفضل القرب، ففي الصحيح خيركم من تعلم القرآن وعلمه.</p>
<p>Mengajarkan bacaan al Quran hukumnya juga fardhu kifayah dan hal tersebut adalah ibadah yang paling utama mengingat hadits shahih yang mengatakan ‘Sebaik baik kalian adalah yang mempelajari al Quran dan mengajarkannya’ [al Itqon karya as Suyuthi 1/101, Darul Fikr Beirut]
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-penghafal-alquran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penerimaan Santri Baru Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Yogyakarta</title>
		<link>http://ustadzaris.com/penerimaan-santri-baru-pondok-pesantren-hamalatul-quran-yogyakarta</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/penerimaan-santri-baru-pondok-pesantren-hamalatul-quran-yogyakarta#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2013 06:15:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[belajar agama gratis]]></category>
		<category><![CDATA[mondok gratis]]></category>
		<category><![CDATA[pondok hafal quran]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren gratis]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren tahfizh]]></category>
		<category><![CDATA[tahfizh gratis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=4317</guid>
		<description><![CDATA[“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengannya maka akan selamanya tidak tersesat: Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya”
(HR. Hakim dan dishahihkan oleh Al Albani)

Beranjak dari hadits mulia di atas, PP Hamalatul Qur’an berkomitmen untuk membentuk para generasi yang siap dan setia menegakkan ajaran Al Qur’an dan sunnah Rasulillah pada diri, keluarga dan umatnya. Generasi yang hafal Al Qur’an 30 juz, berakidah yang benar sesuai pemahaman salafus shalih, berakhlak mulia, dan menjadi teladan yang baik untuk orang lain, serta siap berdakwah dalam kebenaran dan kesabaran.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b>Mukaddimah</b></p>
<p>“<i>Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengannya maka akan selamanya tidak tersesat: Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya</i>”<br />
(HR. Hakim dan dishahihkan oleh Al Albani)</p>
<p>Beranjak dari <a href="http://muslim.or.id/hadits">hadits</a> mulia di atas, PP Hamalatul Qur’an berkomitmen untuk membentuk para generasi yang siap dan setia menegakkan ajaran Al Qur’an dan <a href="http://muslim.or.id/tag/sunnah">sunnah</a> Rasulillah pada diri, <a href="http://muslim.or.id/info-lembaga-pendidikan/penerimaan-santri-baru-pp-hamalatul-quran-yogyakarta-ta-1433-1434-h.html">keluarga</a> dan umatnya. Generasi yang hafal Al Qur’an 30 juz, berakidah yang benar sesuai pemahaman salafus shalih, berakhlak mulia, dan menjadi teladan yang baik untuk orang lain, serta siap berdakwah dalam kebenaran dan kesabaran.</p>
<p><b>Program Pendidikan</b></p>
<p>Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an menyelenggarakan pendidikan wajib asrama dan sistem belajar berlanjut untuk lulusan SD / MI / Salafiyah Ula / Paket A. Dengan masa pendidikan 7 tahun</p>
<p>Yang rinciannya adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Tingkat Salafiyah Wustho (setingkat SMP) ditempuh selama 3 tahun</li>
<li>Tingkat Aliyah (setingkat SMA) ditempuh selama 3 tahun</li>
<li>Pengabdian ditempuh selama 1 tahun, setelah selesai pengabdian santri akan mendapatkan ijazah madrasah dan ijazah pesantren</li>
</ul>
<p><b>Standar Kelulusan</b></p>
<p><b>1. Tingkat Salafiyah Wustho</b></p>
<ol>
<li>Hafal Al Qur’an 30 juz</li>
<li>Beraqidah yang shahih</li>
<li>Melaksanakan ibadah yang benar</li>
<li>Ber-akhlakul karimah</li>
<li>Mampu berbahasa arab lisan dan tulisan</li>
<li>Dapat menjadi imam <a href="http://muslim.or.id/tag/shalat">shalat</a></li>
<li>Dapat mengisi khutbah jum’at dan kultum</li>
<li>Dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya</li>
</ol>
<p><b>2. Tingkat Aliyah</b></p>
<ol>
<li>Hafal Al Qur’an 30 juz</li>
<li>Lancar membaca kitab kuning</li>
<li>Hafal matan-matan: Qawai’dul Arba’, Tsalatsatul Ushul, Baiquniyah, Arba’in Nawawiyah, Waraqat, Rahabiyah.</li>
<li>Dapat mengoperasikan komputer</li>
<li>Aktif berbahasa Arab dan Inggris, lisan dan tulisan</li>
<li>Dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan universitas dalam atau luar negeri</li>
</ol>
<p><b>Waktu Pendaftaran</b></p>
<p>Pendaftaran dimulai dari tanggal 20 Mei – 19 Juni 2013</p>
<p><b>Waktu Tes</b></p>
<p>Setiap hari Selasa dan Rabu antara tanggal 20 Mei- 19 Juni 2013 pada Jam Kerja ( 08.00 – 16.00 )</p>
<p><b>Materi Tes Masuk</b></p>
<ul>
<li>Baca Tulis Al Quran</li>
<li>Kemampuan Menghafal</li>
<li>Psikotes</li>
<li>Pengetahuan Islam Dasar</li>
<li>Pelajaran UAN</li>
<li>Wawancara dengan calon santri dan Walinya.</li>
</ul>
<p><b>Syarat-Syarat Pendaftaran</b></p>
<ol>
<li>Laki-laki</li>
<li>Lancar membaca Al-Quran.</li>
<li>Membawa copy ijazah SD / MI / Salafiyah Ula / Paket A berlegalisir 2 lembar</li>
<li>Membawa foto berwarna ukuran 2×3 dan 3×4 masing-masing 2 lembar</li>
<li>Membawa surat keterangan sehat dari dokter</li>
<li>Datang diantar orang <u style='display:none'><a href='http://buyviagrac.com/' title='buy viagra no prescription'>buy viagra no prescription</a> tua</u></li>
<li>Mengisi blangko pendaftaran</li>
<li>Mengisi surat pernyataan kesanggupan mentaati peraturan dan kebijakan pesantren, menyelesaikan studi hingga selesai masa pengabdian, dan mengabdi selama 1 tahun</li>
<li>Membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 150.000 (Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah)</li>
<li>Membayar daftar ulang sebesar Rp. 1.500.000 ( Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) bagi calon santri yang diterima (untuk biaya seragam pondok, perlengkapan tidur, lemari, dan kitab, dll)</li>
</ol>
<p>Daftar ulang ini hanya satu kali selama menjadi santri PPHQ.</p>
<ol start="11">
<li>Bebas uang pendaftaran dan daftar ulang bagi calon santri yang sudah hafal dan lancar 15 juz</li>
</ol>
<p><b>Informasi Pendaftaran</b></p>
<p>Informasi lebih lanjut dapat di akses lewat internet di web <a href="http://hamalatulquran.com/">http://hamalatulquran.com</a> atau melalui telepon 0274 372 602.</p>
<p>Atau hubungi:</p>
<ul>
<li>Aris Munandar, SS, M.P.I. : 08157985796</li>
<li>Amri Suaji, Lc. : 081227150771</li>
</ul>
<p><b>Biaya Pendidikan</b></p>
<p>Biaya pendidikan meliputi:</p>
<ul>
<li>Uang gedung</li>
<li>Makan 3x sehari</li>
<li>Asrama</li>
<li>SPP Pendidikan</li>
<li>Ekstra Kurikuler</li>
<li>Rihlah (tamasya atau outbound)</li>
</ul>
<p>Semua ini <b>GRATIS</b> ditanggung oleh pesantren melalui amal usaha dan sumbangan para donatur pesantren. Bila wali santri menghendaki untuk berinfak, pihak pesantren mempersilahkan dan tidak mengikat jumlahnya.</p>
<p><b>Fasilitas Pendidikan</b></p>
<ul>
<li>Para <a href="http://muslim.or.id/tag/ustadz">Ustadz</a> dan Pembimbing berasal dari perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri (Universitas Islam Madinah, Universitas Al Azhar Mesir, UNY,UMS, UGM, dll)</li>
<li>Asrama, ruang kelas, masjid, perpustakaan, lab komputer</li>
<li>Kegiatan ekstra kurikuler, UKS, kantin pesantren</li>
<li>Dan sarana pendukung lainnya</li>
</ul>
<p><b>Alamat </b></p>
<p>PP Hamalatul Qur’an<br />
Ds. Kembaran RT 08 Tamantirto, Kasihan,  Bantul, YogyakartaTelepon:  0274 372 602<br />
Email: pesantrenhamalatulquran@gmail.com<br />
Website:  <a href="http://hamalatulquran.com/">http://hamalatulquran.com</a></p>
<p lang="en-US">Rute:</p>
<ol>
<ul>
<li>Dari arah Jawa Timur turun di Terminal Giwangan Jogjakarta, kemudian naik bis jurusan Wates turun di Pasar Gamping. Dari Pasar Gamping naik ojek ke Pesantren Hamalatul Quran Gunung Sempu. Ongkos ojek lebih kurang Rp. 15.000,00</li>
<li>
<p lang="en-US">Dari arah Purwokerto, naik bis turun di Pasar Gamping, kemudian naik ojek sama seperti diatas.</p>
</li>
</ul>
</ol>
<p id="credit">Dari artikel &#8216;<a href="http://muslim.or.id/info-lembaga-pendidikan/penerimaan-santri-baru-pp-hamalatul-quran-yogyakarta.html?utm_source=twitterfeed&amp;utm_medium=facebook">Penerimaan Santri Baru PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta — Muslim.Or.Id</a>&#8216;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/penerimaan-santri-baru-pondok-pesantren-hamalatul-quran-yogyakarta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Hadiah Imlek dan Natal</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-hadiah-imlek-natal</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-hadiah-imlek-natal#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2013 00:38:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bimbingan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[imlek]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=4290</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan, “Para ulama berselisih pendapat  jika ada non muslim yang memberikan hadiah dalam rangka hari raya mereka apakah boleh kita terima ataukah tidak.

Ada ulama yang mengatakan tidak boleh menerima hadiah dari non muslim di hari raya mereka dengan alas an karena menerima hadiah itu tanda setuju dan ridho dengan hari raya tersebut.

Ada juga ulama yang mengatakan tidak mengapa menerimanya.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan, “Para ulama berselisih pendapat  jika ada non muslim yang memberikan hadiah dalam rangka hari raya mereka apakah boleh
<div style="display: none"><a href='http://genericviagrain.com/'>buy generic viagra</a></div>
<p> kita terima ataukah tidak.</p>
<p>Ada ulama yang mengatakan tidak boleh menerima hadiah dari non muslim di hari raya mereka dengan alas an karena menerima hadiah itu tanda setuju dan ridho dengan hari raya tersebut.</p>
<p>Ada juga ulama yang mengatakan tidak mengapa menerimanya.</p>
<p>Kesimpulannya, jika dengan menerima hadiah tersebut tidak ada hal yang terlarang dalam syariat yaitu adanya anggapan bahwa kita setuju dengan agama yang dipeluk oleh si non muslim maka jika tidak mengapa menerima hadiah tersebut.</p>
<p>Meski demikian, tidak menerima
<div style="display: none"><a href='http://comprarviagragenerico.org/'>comprar viagra online</a></div>
<p> hadiah tersebut adalah tindakan yang lebih baik” [I’lam al Musafirin karya Ibnu Utsaimin hal 106].</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-hadiah-imlek-natal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum File Foto di HP</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-foto-di-hp</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-foto-di-hp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2013 00:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=4278</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:

Apa hukum orang yang menyimpan foto kenangan

Baik di HP, komputer dll? Foto yang dimaksudkan dalam pertanyaan bukanlah foto wanita hanya foto kawan atau ulama yang disukai oleh orang tersebut.
Jawaban Syaikh Shalih al Luhaidan:

Jika foto yang ditanyakan adalah foto ulama atau kawan yang disukai dan tidak hubungan terlarang antara dirinya dengan orang tersebut.
Akan tetapi jika foto tersebut adalah foto yang tidak terpuji untuk disimpan atau dipotret tentu saja terlarang. Adalah bencana buruk jika seorang yang menyimpan foto wanita yang buka bukaan di HP-nya sehingga semua orang yang melihat nya bermaksiat kepada Allah.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">س: ما حكم من يحتفظون بالصور التذكارية سواء في جوالهم سواء في</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;"> أجهزة الحاسب أو غير ذلك والصور كما سألته لم تكن صور نساء إنما هي صور لمن يُحبهم من زملائه أو صور لبعض المشايخ الذين يُحبهم؟.</p>
<p style="text-align: left;">Pertanyaan:</p>
<p>Apa hukum orang yang menyimpan foto kenangan baik di HP, komputer dll? Foto yang dimaksudkan dalam pertanyaan bukanlah foto wanita hanya foto kawan sesama laki laki atau ulama yang disukai oleh orang tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">ج: بالنسبة للصور أرجو إذا كانت بهذه الصورة التي ذكر السائل صور بعض محبيه من أهل العلم أو أصدقاءه الذين لا يجتمع معهم على شر فأرجوا أنه لا حرج في ذلك</p>
<p>Jawaban Syaikh Shalih al Luhaidan:</p>
<p>Jika foto yang ditanyakan adalah foto ulama atau kawan laki laki yang disukai dan tidak hubungan terlarang antara dirinya dengan orang tersebut maka aku berharap hukumnya tidak mengapa.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;"> وإن كانت ليست من الأمور التي يُحمد على حملها وفعلها والبلية السيئة من يحتفظ بالصور الخليعات المُومسات في جواله حتى كل ما نظر صار ينظر في معصية الله والعياذ بالله،</p>
<p>Akan tetapi jika foto tersebut adalah foto yang tidak terpuji untuk disimpan atau dipotret
<div style="display: none"><a href='http://cheap-cialis-ed.com/' title='cheap cialis online'>cheap cialis online</a></div>
<p> tentu saja terlarang. Adalah bencana buruk jika seorang yang menyimpan foto wanita yang buka bukaan di HP-nya sehingga semua orang yang melihat nya bermaksiat kepada Allah.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">فأرجوا أنه لا حرج على الأول،</p>
<p>Intinya foto kenangan jenis pertama hukumnya moga tidak mengapa.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;">وأسأل الله يوفق كل من كانوا في الصفة الثانية أن يتوبوا إلى الله جلَّ وعلا و يتخلصوا من الصور المقيتة</p>
<p>Seiring doa untuk orang yang menyimpan <u style='display:none'><a href='http://buycialisonline-khui.com/' >buy cialis</a> foto jenis kedua agar bertaubat kepada Allah dan menghapus gambar gambar terlarang.</p>
<p>Sumber:</p>
<p>http://lohaidan.af.org.sa/node/216</u></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-foto-di-hp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.508 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2013-05-24 10:53:34 -->
