<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Blog Ustadz Aris Munandar</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 04:01:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Ritual Tahlilan Menurut Kitab NU (1)</title>
		<link>http://ustadzaris.com/ritual-tahlilan-menurut-kitab-nu-1</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/ritual-tahlilan-menurut-kitab-nu-1#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 16:48:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[tahlilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1857</guid>
		<description><![CDATA[Tahlilan yang dimaksudkan di sini bukanlah tahlilan menurut tinjauan Bahasa Arab. Dalam Bahasa Arab, makna tahlilan adalah mengucapkan laa ilaaha illallaah. Yang dimaksud dengan ritual tahlilan di sini adalah peringatan kematian yang dilakukan pada hari ke-3, 7, 40, 100 atau 1000 Berikut ini kutipan dari kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin, suatu buku yang terkenal dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fritual-tahlilan-menurut-kitab-nu-1&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Tahlilan yang dimaksudkan di sini bukanlah tahlilan menurut tinjauan Bahasa Arab. Dalam Bahasa Arab, makna tahlilan adalah mengucapkan <em>laa  ilaaha illallaah</em>. Yang dimaksud dengan ritual tahlilan di sini adalah  peringatan kematian yang dilakukan pada hari ke-3, 7, 40, 100 atau 1000</p>
<p>Berikut ini kutipan dari kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin, suatu  buku yang terkenal dalam kalangan NU untuk belajar fikih syafi&#8217;i pada  level menengah atau lanjutan.</p>
<p>ويكره لاهل الميت الجلوس للتعزية، وصنع طعام يجمعون الناس عليه،</p>
<p>“Makruh hukumnya keluarga dari yang meninggal dunia duduk untuk  menerima orang yang hendak menyampaikan belasungkawa. Demikian pula  makruh hukumnya keluarga mayit membuat makanan lalu manusia berkumpul  untuk menikmatinya.</p>
<p>لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة،</p>
<p>Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jarir bin  Abdillah al Bajali-seorang sahabat Nabi-, “Kami menilai berkumpulnya  banyak orang di rumah keluarga mayit, demikian pula aktivitas keluarga  mayit membuatkan makanan setelah jenazah dimakamkan adalah bagian dari  niyahah atau meratapi jenazah”.</p>
<p>ويستحب لجيران أهل الميت &#8211; ولو أجانب &#8211; ومعارفهم &#8211; وإن لم يكونوا جيرانا  &#8211; وأقاربه الاباعد &#8211; وإن كانوا بغير بلد الميت &#8211; أن يصنعوا لاهله طعاما  يكفيهم يوما وليلة، وأن يلحوا عليهم في الاكل.</p>
<p>Dianjurkan bagi para tetangga-meski bukan mahram dengan jenazah,  kawan dari keluarga mayit-meski bukan berstatus sebagai tetangga-dan  kerabat jauh dari mayit-meski mereka berdomisili di lain daerah-untuk  membuatkan makanan yang mencukupi bagi keluarga mayit selama sehari  semalam semenjak meninggalnya mayit. Hendaknya keluarga mayit agak  dipaksa untuk mau menikmati makanan yang telah dibuatkan untuk mereka.</p>
<p>ويحرم صنعه للنائحة، لانه إعانة على معصية.</p>
<p>Haram hukumnya menyediakan makanan untuk wanita yang meratapi mayit karena tindakan ini merupakan dukungan terhadap kemaksiatan</p>
<p>وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام وجواب منهم لذلك.</p>
<p>Aku- yaitu penulis kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin- telah membaca  sebuah pertanyaan yang diajukan kepada para mufti di Mekkah mengenai  makanan yang dibuat oleh keluarga mayit dan jawaban mereka untuk  pertanyaan tersebut.</p>
<p>(وصورتهما).</p>
<p>Berikut ini teks pertanyaan dan jawabannya.</p>
<p>ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في  العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار  الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن  غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة،  ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة.</p>
<p>Pertanyaan, “Apa yang dikatakan oleh para mufti yang mulia di tanah  haram &#8211;<em>moga ilmu mereka manfaat untuk banyak orang sepanjang  zaman</em>&#8211; tentang tradisi yang ada di suatu daerah. Tradisi ini hanya  dilakukan oleh beberapa orang di daerah tersebut. Tradisi tersebut  adalah jika ada seorang yang meninggal dunia lantas datanglah  kawan-kawan mayit dan tetangganya untuk menyampaikan belasungkawa maka  para kawan mayit dan tetangga ini menunggu-nunggu adanya makanan yang  disuguhkan. Karena sangat malu maka keluarga mayit sangat memaksakan  diri untuk menyiapkan beragam jenis makanan lalu menyuguhkannya kepada  para tamu meski dalam kondisi yang sangat kerepotan.</p>
<p>فهل لو أراد رئيس الحكام &#8211; بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على  الاهالي &#8211; بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية،  المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل  جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟ أفيدوا بالجواب بما هو منقول  ومسطور.</p>
<p>Seandainya penguasa di daerah tersebut &#8211;<em>karena belas kasihan dengan  rakyat dan sayang dengan keluarga mayit</em>&#8211; melarang keras perbuatan di atas  agar rakyatnya kembali berpegang teguh dengan sunah sebaik-baik makhluk  yang pernah bersabda, “Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far”.  Apakah  penguasa tersebut akan mendapatkan pahala karena melarang kebiasaan di  atas? Berilah kami jawaban secara tertulis”.</p>
<p>(الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده.<br />
اللهم أسألك الهداية للصواب.</p>
<p><strong>Jawaban</strong>, “Segala puji hanyalah milik Allah. Semoga Allah  senantiasa menyanjung junjungan kita, Muhammad, keluarga, sahabat dan  semua orang yang meniti jalan mereka. Aku meminta petunjuk untuk  memberikan jawaban yang benar kepada Allah.</p>
<p>نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع  المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به  الاسلام والمسلمين.</p>
<p>Betul, acara kumpul-kumpul di rumah duka dan kegiatan membuat makanan  yang dilakukan oleh banyak orang adalah salah satu bentuk <strong>bid’ah  munkarah</strong>. Sehingga penguasa yang melarang kebiasaan tersebut akan  mendapatkan pahala karenanya. Semoga Allah meneguhkan kaidah-kaidah  agama dan menguatkan Islam dan muslimin dengan sebab beliau.</p>
<p>قال العلامة أحمد بن حجر في (تحفة المحتاج لشرح المنهاج): ويسن لجيران أهله &#8211; أي الميت &#8211; تهيئة طعام يشبعهم يومهم وليلتهم،</p>
<p>al-&#8217;Allamah Ahmad bin Hajar dalam Tuhfah al Muhtaj li Syarh al Minhaj  mengatakan, “Dianjurkan bagi para tetangga keluarga mayit untuk  menyiapkan makanan yang cukup untuk mengenyangkan keluarga mayit selama  sehari dan semalam</p>
<p>للخبر الصحيح اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم.</p>
<p>Dalilnya adalah sebuah hadits yang sahih, “Buatkan makanan untuk  keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka duka yang menyibukkan  mereka &#8211;<em>dari menyiapkan makanan</em>&#8211;”</p>
<p>ويلح عليهم في الاكل ندبا، لانهم قد يتركونه حياء، أو لفرط جزع.</p>
<p>Dianjurkan hukumnya keluarga mayit untuk agak dipaksa agar mau  menikmati makanan yang telah disiapkan untuk mereka karena boleh jadi  mereka tidak mau makan karena malu atau sangat sedih.</p>
<p>ويحرم تهيئه للنائحات لانه إعانة على معصية،</p>
<p>Haram hukumnya menyediakan makanan untuk wanita yang meratapi mayit karena tindakan ini merupakan dukungan terhadap kemaksiatan</p>
<p>وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة &#8211; كإجابتهم لذلك،</p>
<p>Kebiasaan sebagian orang berupa keluarga mayit membuat makanan lalu  mengundang para tetangga untuk menikmatinya adalah <em><strong>bid’ah makruhah</strong></em>.  Demikian pula mendatangi undangan tersebut termasuk bid’ah makruhah.</p>
<p>لما صح عن جرير رضي الله عنه: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة.</p>
<p>Dalilnya adalah sebuah riwayat yang sahih dari Jarir, “Kami menilai  berkumpulnya banyak orang di rumah keluarga mayit, demikian pula  aktivitas keluarga mayit membuatkan makanan setelah jenazah dimakamkan  adalah bagian dari <em>niyahah </em>atau meratapi jenazah”.</p>
<p>ووجه عده من النياحة ما فيه من شدة الاهتمام بأمر الحزن.</p>
<p>Alasan logika yang menunjukkan bahwa hal tersebut termasuk niyahah  adalah karena perbuatan tersebut menunjukkan perhatian ekstra terhadap  hal yang menyedihkan</p>
<p>ومن ثم كره اجتماع أهل الميت ليقصدوا بالعزاء، بل ينبغي أن ينصرفوا في حوائجهم، فمن صادفهم عزاهم.اه.</p>
<p>Oeh karena itu, makruh hukumnya keluarga mayit berkumpul supaya  orang-orang datang menyampaikan bela sungkawa. Sepatutnya keluarga mayit  sibuk dengan keperluan mereka masing-masing lantas siapa saja yang  kebetulan bertemu dengan mereka menyampaikan bela sungkawa.” Sekian  penjelasan dari penulis Tuhfah al Muhtaj.</p>
<p>وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج: ومن البدع المنكرة والمكروه  فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان  من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك.اه.</p>
<p>Dalam Hasyiyah al Jamal untuk kitab Syarh al Manhaj disebutkan,  “Termasuk <strong>bid’ah munkarah dan makruhah</strong> adalah perbuatan banyak orang  yang mengungkapkan rasa sedih lalu mengumpulkan banyak orang <strong>pada hari ke-40  kematian mayit</strong>. Bahkan semua itu hukumnya <strong>haram</strong> jika acara tersebut  dibiayai menggunakan harta anak yatim atau mayit meninggal dunia dalam  keadaan meninggalkan hutang atau menimbulkan keburukan dan semisalnya.”  Sekian dari Hasyiyah al Jamal.</p>
<p>وقد قال رسول الله (صلى الله عليه و سلم ) لبلال بن الحرث رضي الله عنه:  يا بلال من أحيا سنة من سنتي قد أميتت من بعدي، كان له من الاجر مثل من  عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئا.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepada Bilal  bin al Harts, “Wahai Bilal, siapa saja yang menghidupkan salah satu  sunahku yang telah mati sepeninggalku maka baginya pahala semisal dengan  pahala semua orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikitpun  pahala mereka.</p>
<p>ومن ابتدع بدعة ضلالة لا يرضاها الله ورسوله، كان عليه مثل من عمل بها، لا ينقص من أوزارهم شيئا.</p>
<p>Sebaliknya siapa saja yang membuat bid’ah yang sesat yang tidak  diridhai oleh Allah dan rasul-Nya maka dia akan menanggung dosa semisal  dosa semua orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka  sedikitpun”.</p>
<p>وقال (صلى الله عليه و سلم ): إن هذا الخير خزائن، لتلك الخزائن مفاتيح،  فطوبى لعبد جعله الله مفتاحا للخير، مغلاقا للشر.وويل لعبد جعله الله  مفتاحا للشر، مغلاقا للخير.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Kebaikan  itu bagaikan simpanan. Simpanan tersebut memiliki kunci. Sungguh  beruntung seorang hamba yang dijadikan oleh Allah sebagai kunci pembuka  kebaikan dan penutup kejelekan. Celakalah seorang hamba yang dijadikan  oleh Allah sebagai kunci pembuka kejelekan dan kunci penutup kebaikan”.</p>
<p>ولا شك أن منع الناس من هذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته  للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر، فإن الناس  يتكلفون تكلفا كثيرا، يؤدي إلى أن يكون ذلك الصنع محرما. والله سبحانه  وتعالى أعلم.</p>
<p>Tidaklah diragukan bahwa melarang masyarakat dari <strong>bid’ah munkarah</strong> di  atas berarti menghidupkan sunah dan <strong>mematikan bid’ah</strong>, membuka berbagai  pintu kebaikan dan menutup berbagai pintu keburukan. Banyak orang yang  terlalu memaksakan diri untuk melakukan acara di atas sehingga  menyebabkan perbuatan tersebut statusnya adalah perbuatan yang haram”.</p>
<p>كتبه المرتجي من ربه الغفران: أحمد بن زيني دحلان &#8211; مفتي الشافعية بمكة المحمية &#8211; غفر الله له، ولوالديه، ومشايخه، والمسلمين.</p>
<p>Demikianlah fatwa tertulis yang ditulis oleh Ahmad bin Zaini Dahan,  mufti Syafi&#8217;i di Mekkah. Moga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya,  para gurunya dan seluruh kaum muslimin.</p>
<p>(الحمد لله) من ممد الكون أستمد التوفيق والعون.</p>
<p>Segala puji hanyalah milik Allah. Kepada zat yang memberi nikmat  untuk seluruh makhluk aku-mufti Hanafi-memohon taufik dan  pertolongan-Nya.</p>
<p>نعم، يثاب والي الامر &#8211; ضاعف الله له الاجر، وأيده بتأييده &#8211; على منعهم عن تلك الامور التي هي من البدع المستقبحة عند الجمهور.</p>
<p>Betul, penguasa tersebut- moga Allah berikan kepadanya pahala yang  berlipat ganda dan moga Allah selalu menolongnya- akan mendapatkan  pahala dengan melarang masyarakat melakukan acara tersebut yang  berstatus sebagai bid’ah yang jelek menurut <em><strong>mayoritas ulama</strong></em>.</p>
<p>قال في (رد المحتار تحت قول الدر المختار) ما نصه: قال في الفتح: ويستحب  لجيران أهل الميت، والاقرباء الاباعد، تهيئة طعام لهم يشبعهم يومهم  وليلتهم، لقوله (صلى الله عليه و سلم ): اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم  ما يشغلهم.حسنه الترمذي، وصححه الحاكم.</p>
<p>Penulis kitab Radd al Muhtar yang merupakan penjelasan untuk kitab al  Durr al Mukhtar mengatakan sebagai berikut, “Dalam kitab al Fath  disebutkan, dianjurkan bagi para tetangga keluarga mayit dan kerabat  jauh mayit untuk menyiapkan makanan yang cukup untuk mengenyangkan  mereka selama sehari dan semalam mengingat sabda Nabi, “Buatkan makanan  untuk keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka duka yang  menyibukkan mereka-dari menyiapkan makanan-”. Hadits ini dinilai hasan  oleh Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al Hakim.</p>
<p>ولانه بر ومعروف،</p>
<p>Menyediakan makanan untuk keluarga mayit adalah kebaikan.</p>
<p>ويلح عليهم في الاكل، لان الحزن يمنعهم من ذلك، فيضعفون حينئذ.</p>
<p>Hendaknya keluarga mayit agak dipaksa untuk menikmati makanan yang  disediakan untuk mereka karena kesedihan menghalangi mereka untuk  berselera makan sehingga mereka malas untuk makan”.</p>
<p>وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة.</p>
<p>Penulis Radd al Muhtar juga mengatakan, “Makruh hukumnya bagi  keluarga mayit untuk menyajikan makanan karena menyajikan makanan itu  disyaratkan ketika kondisi berbahagia. <strong>Sehingga perbuatan keluarga mayit  menyajikan makanan adalah bid’ah</strong>.</p>
<p>روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة.اه.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih  dari Jari bin Abdillah mengatakan, “Kami menilai berkumpulnya banyak  orang di rumah keluarga mayit, demikian pula aktivitas keluarga mayit  membuatkan makanan adalah bagian dari niyahah atau meratapi jenazah”.  Sekian penjelasan penulis kitab Radd al Muhtar-kitab fikih mazhab  Hanafi-.</p>
<p>وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم إلخ.</p>
<p>Dalam kitab al Bazzaz disebutkan, “<strong>Makruh hukumnya membuat makanan  pada hari pertama, ketiga dan ketujuh setelah kematian</strong>. Demikian pula,  makruh hukumnya membawa makanan ke kuburan di berbagai kesempatan dst”.</p>
<p>وتمامه فيه، فمن شاء فليراجع. والله سبحانه وتعالى أعلم.</p>
<p>Penjelasan detailnya ada di kitab tersebut. Siapa saja yang ingin  penjelasan lengkap silahkan membaca sendiri buku tersebut. Wallahu  a’lam.</p>
<p>كتبه خادم الشريعة والمنهاج: عبد الرحمن بن عبد الله سراج، الحنفي، مفتي مكة المكرمة &#8211; كان الله لهما حامدا مصليا مسلما.</p>
<p>Demikianlah fatwa tertulis yang disampaikan oleh pelayan syariat dan  minhaj Islam, Abdurrahman bin Abdillah Siraj al Hanafi, mufti Mekkah  seraya memuji Allah, dan mengucapkan salawat dan salam untuk rasul-Nya.</p>
<p>وقد أجاب بنظير هذين الجوابين مفتي السادة المالكية، ومفتي السادة الحنابلة.</p>
<p>Fatwa yang sama juga disampaikan oleh mufti Maliki dan mufti Hanbali”.</p>
<p>Sumber: Hasyiyah I’anah al Thalibin karya Sayid Bakri bin Dimyati al Mishri juz 2 hal 145-146 terbitan al Haramain Singapura.</p>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
Bandingkan penjelasan di atas dengan praktek saudara-saudara kita,  jamaah NU yang hanya mengenal NU secara kultural bukan secara ajaran  sebagaimana yang tercatat dalam kitab-kitab NU standar.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa Zaini Dahlan adalah ulama syafi&#8217;iyyah di  zamannya yang sangat benci dan sangat memusuhi apa yang didakwahkan oleh  Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam masalah tauhid. Meski demikian  beliau keras dengan masalah tahlilan. Beliau menilai acara tahlilan  sebagai bid’ah munkarah alias bid’ah yang harus diberantas atau  diingkari. Beliau tidak menilai ritual tahlilan sebagai ajaran Wahabi  yang sangat beliau musuhi. Sehingga anggapan bahwa anti tahlilan  hanyalah pemahaman Wahabi adalah anggapan yang sangat dipaksakan dan  terlalu mengada-ada.</p>
<p>Zaini Dahan ternyata tidak menolerir acara tahlilan dengan alasan  sikap arif terhadap budaya lokal. Bahkan beliau menegaskan bahwa  memberantasnya adalah amalan yang berpahala. Bandingkan dengan sikap  banyak orang NU yang menolak kebenaran dengan alasan sikap arif dengan  budaya lokal, meneladani dakwah Sunan Kalijaga padahal model dakwah  Sunan Kalijaga sendiri ditentang oleh mayoritas wali songo, Sunan Bonang  yang merupakan guru ngaji Sunan Kalijaga, Sunan Giri dll.</p>
<p>Berdasarkan penjelasan mufti Hanafi di atas acara tahlilan adalah bid’ah yang harus diberantas menurut mayoritas ulama.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fritual-tahlilan-menurut-kitab-nu-1&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1857&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Sudah membaca yang ini?</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-asal-poligami" title="Hukum Asal Poligami">Hukum Asal Poligami</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/siapa-yang-tidak-meyakini-kafirnya-orang-yang-kafir-maka-dia-kafir" title="Siapa yang Tidak Meyakini Kafirnya orang yang kafir maka dia Kafir">Siapa yang Tidak Meyakini Kafirnya orang yang kafir maka dia Kafir</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/dalil-pendukung-keadaan-hadats-tidak-boleh-menyentuh-mushaf-al-quran" title="Dalil Pendukung: Keadaan Hadats Tidak Boleh Menyentuh Mushaf al Qur&#8217;an">Dalil Pendukung: Keadaan Hadats Tidak Boleh Menyentuh Mushaf al Qur&#8217;an</a> (20)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-berdagang-di-halaman-masjid-kampus-ugm" title="Hukum Berdagang di Halaman Masjid Kampus UGM">Hukum Berdagang di Halaman Masjid Kampus UGM</a> (31)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2" title="Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)">Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)</a> (40)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/nikahilah-wanita-karena-agamanya" title="Nikahilah Wanita karena Agamanya">Nikahilah Wanita karena Agamanya</a> (33)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/apakah-menyentuh-wanita-terlarang-dan-membatalkan-wudhu" title="Apakah Menyentuh Wanita Terlarang dan Membatalkan Wudhu?">Apakah Menyentuh Wanita Terlarang dan Membatalkan Wudhu?</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/beranggapan-sial-dengan-angka-13" title="Beranggapan Sial dengan Angka 13">Beranggapan Sial dengan Angka 13</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/perluaslah-cakrawala-anda-tentang-isbal-2" title="Perluaslah Cakrawala Anda Tentang Isbal (2)">Perluaslah Cakrawala Anda Tentang Isbal (2)</a> (11)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran" title="Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?">Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?</a> (4)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/ritual-tahlilan-menurut-kitab-nu-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sanggahan untuk Amalan Dzikir Berjama&#8217;ah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/sanggahan-untuk-amalan-dzikir-berjamaah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/sanggahan-untuk-amalan-dzikir-berjamaah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 17:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir berjama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir jama'i]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1845</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah tulisan yang ditulis oleh sebagian orang untuk membela ritual dzikir berjamaah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahkan telah ada di masa sahabat dan Khalifah Umar bin Khatab dan Ibnu Mas’ud telah mengingkarinya. Setelah membawakan kutipan dari tulisan tersebut kami memberikan tanggapan dengan didahului kata-kata ‘komentar’. Selamat menyimak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsanggahan-untuk-amalan-dzikir-berjamaah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Berikut ini adalah tulisan yang ditulis oleh sebagian orang untuk membela ritual dzikir berjamaah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bahkan telah ada di masa sahabat dan Khalifah Umar bin Khatab dan Ibnu Mas’ud telah mengingkarinya.<br />
Setelah membawakan kutipan dari tulisan tersebut kami memberikan tanggapan dengan didahului kata-kata ‘<strong>komentar</strong>’. Selamat menyimak.</p>
<p><em>Hukum Zikir Secara Berjama’ah</em></p>
<p><em>A. Ayat-Ayat Al-Qur’an Yang Mengisyaratkan Tentang Disyari’atkannya Zikir Berjama’ah</em></p>
<p>Apabila kita meneliti ayat-ayat al-Qur’an yang ada hubungannya dengan masalah zikir, nescaya kita akan menemukan ayat-ayat yang mengisyaratkan tentang disyari’atkannya zikir secara berjama’ah, baik bagi kaum lelaki mahupun kaum perempuan, dalil-dalilnya antara lain dapat dibaca dalam tiga firman Allah S.W.T. berikut ini:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا</p>
<p>a. Firman Allah S.W.T:</p>
<p>Ertinya: “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian semua kepada Allah dengan zikir yang banyak.” (Q.S. al-Ahzab: 41)</p>
<p>Ayat-ayat yang senada dengan ini dapat dibaca dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 152 dan ayat 200.</p>
<p>الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ</p>
<p>b. Firman Allah S.W.T.:</p>
<p>Ertinya: “Orang-orang yang berzikir kepada Allah…” (Q.S. Ali ‘Imran: 191)</p>
<p>c. Dan firman Allah S.W.T:</p>
<p>وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ</p>
<p>Ertinya: “Dan (mereka) lelaki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah…” (Q.S. al-Ahzab: 35)<br />
Pada firman-firman Allah subhanahu wa ta&#8217;ala di atas, yakni Q.S. al-Ahzab ayat 41: Udzkurullah, Q.S. Ali ‘Imran 191: Yadzkurullah dan Q.S. al-Ahzab ayat 35: Adz-Dzaakiriinallaah dan Adz-Dzaakiraat, diteliti dari sisi tatabahasa Arab semuanya itu menggunakan <strong>dhamir jama’/plural </strong>(antum, hum dan hunna) <strong>bukan dhamir mifrad/singular</strong> (anta, huwa, dan hiya). Hal ini jelas mengisyaratkan bolehnya dan dianjurkannya zikir secara berjema’ah.</p>
<p><strong>Komentar:</strong></p>
<p>Digunakannya kata ganti jamak atau plural tidaklah menunjukkan anjuran melakukan hal tersebut secara bersama-sama. Banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut, di antaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p>فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ</p>
<p>Yang artinya, “<em>Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar</em>” (QS al Baqarah:187).</p>
<p>Dalam ayat di atas Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mencampuri isteri-isteri mereka di malam hari bulan Ramadhan. Dalam ayat di atas Allah menggunakan kata ganti jamak atau plural. Berdasarkan logika penulis tulisan di atas bisa disimpulkan bahwa kaum muslimin di anjurkan pada malam hari <strong>untuk kumpul di suatu tempat lalu berjima’ atau melakukan hubungan biologis dengan rame-rame</strong>.</p>
<p><em>Benarkah logika semacam ini?</em> Tentu, ini adalah logika yang sangat tidak berdasar. Sehingga penggunaan kata ganti jamak atau plural sama sekali tidak menunjukkan dianjurkannya melakukan suatu hal secara bersama-sama. <strong>Yang benar</strong>, perintah yang menggunakan kata ganti plural hanya menunjukkan adanya perintah untuk melakukan suatu perbuatan dan sama sekali tidak membahas cara melaksanakan perintah tersebut.</p>
<p>وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ</p>
<p>Yang artinya, “<em>Dan mereka menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka</em>” (QS al Baqarah:3).</p>
<p>Dalam ayat di atas Allah memuji orang-orang yang berinfak dalam jalan-jalan kebaikan. Ayat di atas menggunakan kata ganti jamak atau plural. Lantas apakah ayat di atas adalah dalil yang menunjukkan bahwa orang-orang yang hendak berinfak hendaknya kumpul di satu tempat lalu bareng-bareng menyerahkan infak. Bahkan kita dianjurkan untuk berinfak atau bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.</p>
<p><em>B. Hadith-Hadith Nabi S.A.W. Yang Menjelaskan Tentang Disyari’atkannya Zikir Berjama’ah.</em></p>
<p>Berkenaan dengan hadith-hadith Nabi s.a.w yang menjelaskan dengan tegas tentang disyari’atkannya zikir berjama’ah, sebenarnya banyak sekali. Namun kami akan mencukupkan dengan sepuluh buah hadith sahaja sebagai berikut:</p>
<p><strong>Komentar</strong>:</p>
<p>Hadits-hadits yang dibawakan penulis adalah hadits yang menunjukkan disyariatkannya <em>al ijtima’ fi al dzikri</em> (berada di suatu tempat yang sama untuk melakukan kegiatan dzikir secara sendiri-sendiri) dan sama sekali tidaklah menunjukkan dianjurkannya <em>al Dzikri al Jama’i</em> (dzikir-dzikir rame-rame dikomando satu orang dengan suara yang dikoorkan).</p>
<p>Ada beberapa orang yang duduk di masjid yang sama lalu masing-masing dari mereka berzikir mengingat Allah atau membaca al Qur’an sendiri-sendiri. Itulah yang disebut dengan <em>al ijtima’ fi al dzikri </em>alias berada atau duduk di majelis dzikir. Majelis dzikir adalah berzikir di majelis alias tempat duduk yang sama, bukan berzikir rame-rame dengan dikomando satu orang lantas bacaan-bacaan dzikir dilantunkan bersama-sama sebagaimana acara panduan suara dalam rangka menyanyikan lagu tertentu.</p>
<p>Perhatikan dan bedakan dua hal di atas sehingga anda tidak tertipu oleh orang-orang yang tidak merasa cukup dengan ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>dalam berzikir.</p>
<p>1). Hadith riwayat Imam al-Thabrani dari Sahl bin al-Hanhaliyyah r.a. ia berkata, Rasulullah s.a.w bersabda:<br />
“Tidaklah duduk suatu kaum pada suatu majlis, di mana mereka berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla di tempat itu. Lalu (setelah selesai) mereka berdiri, melainkan dikatakan (oleh malaikat) kepada mereka: Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan keburukan-keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan.” (Hadith Riwayat Imam al-Thabrani dari Sahl bin al-Hanzhaliyah r.a.) {1}<br />
Dari hadith di atas dapat difahami, bahawa dosa-dosa dan perbuatan buruk orang-orang yang berzikir di majlis zikir, diampuni oleh Allah dan diganti dengan berbagai kebaikan. Maksudnya, nafs (jiwa) merka akan menjadi bersih dari fikiran-fikiran yang kotor dan amaliah mereka yang negatif akan berubah menjadi amaliah yang positif. Ringkasnya, mereka akan memperoleh pencerahan jiwanya setiap kali selesai berzikir di majlis zikir.<br />
2). Hadith riwayat Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan Imam Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri r.a. kedua sahabat itu telah menyaksikan Rasulullah s.a.w. bersabda:<br />
“Tidaklah duduk suatu kaum berzikir (menyebut) nama Allah ‘Azza wa Jalla melainkan dinaungilah mereka oleh para malaikat, dipenuhi mereka oleh rahmat Allah dan diberikan ketenangan kepada mereka, juga Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.” (Hadith Riwayat Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan Imam Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri r.a.) {2}<br />
Dalam hadith yang tidak diragukan lagi kesahihannya ini, jelas sekali bahawa zikir secara berjama’ah (beramai-ramai) sangat baik dan sangat banyak faedahnya, yakni mereka dinaungi oleh para malaikat, dipenuhi rahmat Allah, diberikan kesenangan batin dan nama-nama mereka disebut-sebut oleh Allah di hadapan para malaikat-Nya.<br />
3). Hadith Riwayat Imam Ahmad dan Imam Ibn Hibban dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:<br />
“Allah ‘Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat: “Semua golongan akan tahu siapakah golongan yang paling mulia.” Rasulullah s.a.w ditanya, “Siapakah golongan yang paling mulia itu, ya Rasulullah?” Beliau pun menjawab: “Golongan majlis-majlis zikir.” (Hadith Riwayat Imam Ahmad dan Imam Ibn Hibban) {3}<br />
Hadith Qudsi ini menyatakan dengan tegas, bahawa majlis zikir adalah majlis yang palaing mulia dan di hari kiamat kelak, manusia akan menyaksikan kemulian orang-orang yang suka berzikir di majlis zikir.<br />
4). Pujian dan do’a Rasulullah s.a.w. terhadap sahabatnya yang bernama ‘Abdullah bin Rawahah r.a. kerana ia mencintai majlis zikir. Rasulullah s.a.w. bersabda:<br />
“Semoga Allah menyayangi Ibn Rawahah, kerana ia mencintai majlis zikir yang mana para malaikat saling bermegah-megahan dengan majlis itu.” (Hadith Riwayat Imam Ahmad dengan sanad hadith yang hasan, dari Anas bin Malik r.a.) {4}<br />
Hadith ini menegaskan, bahawa orang yang mencintai majlis zikir, dengan rajin menghadirinya, ia akan disayangi oleh Allah S.W.T. yang bersifat al-Rahman dan al-Rahim.<br />
5). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr r.a. ia berkata, aku pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w.:<br />
“Ya Rasulullah, apakah ganjaran (balasan) dari majlis zikir?” Beliau pun menjawab, “Ganjaran (balasan) majlis zikir adalah syurga.” (Hadith Riwayat Imam Ahmad dengan sanad hadith yang hasan). {5}<br />
Dari hadith ini, kita dapat memahami, bahawa berzikir di majlis zikir itu sangat besar balasannya yakni pelakunya akan dimasukkan ke dalam syurga yang penuh dengan kenikmatan nan abadi.<br />
6). Dari Abu Darda’ r.a. ia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda:<br />
“Sungguh Allah akan membangkitkan suatu kaum pada hari kiamat, yang wajahnya bercahaya, di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari permata. Orang-orang lain pun berasa iri terhadap mereka, padahal mereka bukanlah para nabu dan bukan pula syuhada. Perawi hadith berkata: Mendengar itu, bangkitlah seorang Badwi dengan berteleksn di atas kedua lututnya, lalu ia berkata, “Terangkanlah kepada kami tentang mereka agar kami dapat mengetahuinya.” Rasulullah s.a.w. pun bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai di jalan Allah, mereka terdiri dari bermacam-macam suku dan bangsa, mereka berkumpul dalam rangka berzikir kepada Allah, dengan menyebut-nyebut nama-Nya.” (Hadith Riwayat Imam al-Thabrani dengan sanad hadith yang hasan). {6}<br />
Hadith ini dengan tegas menyatakan, bahawa zikir secara berjama’ah di majlis zikir itu dapat membina Ukhuwwah Islamiyyah di antara suku dan bagsa di dunia. Sedangkan di akhirat kelak, mereka akan dibangkitkan dan berdiri di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari permata intan manikam, sehingga orang lain tidak mahu datang ke majlis zikir ketika di dunianya, berasa iri atas kurnia yang Allah berikan kepada mereka yang rajin berzikir di majlis zikir.<br />
7). Dari Mu’awiyah r.a.: Bahawasanya Rasulullah s.a.w pernah keluar rumah menuju sebuah halaqah (lingkaran) dari para sahabatnya di dalam Masjid. Kemudian beliau pun bertanya:<br />
Apakah gerangan kamu berkumpul di sini? Jawab mereka: “Kami duduk berzikir kepada Allah Azzawajalla yang telah memberi petunjuk dengan Agama Islam, dan telah bermurah hati atas kami dengan hidayatnya. Ujar baginda: “Demi Allah, benarkah itu yang menyebabkan kamu berkumpul itu? Jawab mereka: “Demi Allah, kami tidak berkumpul di sini melainkan atas tujuan itu semata-mata.” Ujar baginda pula: “Sebenarnya aku tidak meminta kamu bersumpah kerana aku masih meragukan kebenaran kamu, tetapi Jibril a.s. telah mendatangiku dan memberitahuku, bahawasanya Allah Ta’ala memuji-muji kamu di hadapan para Malaikat.” (Hadith Riwayat Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan Imam Nasa’i) {7}<br />
Hadith ini dengan tegas menyebutkan, betapa Allah membangga-banggakan di hadapan para malaikat-Nya, terhadap orang-orang yang berzikir di majlis zikir.<br />
8). Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda:<br />
“Allah mempunyai malaikat yang berterbangan di seluruh pelusuk bumi untuk mencari dan menulis amal baik manusia. Apabila mereka menjumpai sekumpulan manusia berzikir kepada Allah lalu mereka menyeru sesama mereka: “Marilah ke sini, kita telah menemui apa yang kita cari.” Lantas mereka datang berduyun-duyun sambil menghamparkan sayap menaungi orang-orang yang sedang berzikir itu.<br />
Selepas itu lalu Allah bertanya kepada para malaikat, “Apakah yang sedang dilakukan hamba-hambaKu itu ketika kamu meninggalkan mereka?” Malaikat menjawab, “Mereka di dalam keadaan memuji, mengagungkan dan bertasbih kepadaMu wahai Allah.” Allah bertanya lagi, “Adakah mereka itu pernah melihatKu?” Jawab malaikat, “Tidak pernah!” Allah terus bertanya, “Bagaimana sekiranya mereka melihatKu?” Jawab malaikat, “Jika mereka melihatMu, nescaya akan bersangatanlah mereka mengagungkan, bertasbih dan bertahmid kepadaMu ya Allah.”<br />
Allah bertanya lagi, “Mereka memohon perlindunganKu daripada apa?” Malaikat menjawab, “Daripada neraka.” Allah bertanya, “Adakah mereka pernah melihat neraka?” Jawab malaikat, “Tidak pernah!” Allah bertanya, “Bagaimana sekiranya mereka dapat melihat neraka?” Malaikat menjawab, “Mereka akan lari sejauh-jauhnya dari neraka kerana ketakutan.” Allah bertanya, “Apakah permintaan mereka?” Malaikat menjawab, “Mereka meminta daripadaMu syurga.” Allah bertanya, “Adakah mereka pernah melihat syurga?” Jawab malaikat, “Tidak pernah.” Allah bertanya, “Bagaimana sekiranya mereka dapat melihat syurga?” Malaikat menjawab, “Mereka sangat haloba untuk memperolehinya,” Lalu Allah berkata, “Sesungguhnya aku bersaksi, bahawa aku telah mengampunkan mereka.”<br />
Para malaikat bertanya pula, “Wahai Allah! Seseorang telah datang ke dalam kumpulan ini dan dia tidak bercita-cita untuk menjadi sebahagian daripada mereka.” Allah menjawab, “Mereka ini adalah segolongan manusia yang tidak menyakiti orang yang menyertai mereka.” (Hadith Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dengan lafazh hadith Imam Bukhari). {8}<br />
Hadith sahih ini menjelaskan dengan terang benderang, bahawasanya majlis zikir itu adalah suatu majlis yang dicari-cari dan dihadiri oleh malaikat. Mereka memenuhi majlis zikir itu dengan sayap-sayap mereka sehingga barisan mereka sampai ke langit dunia. Dan Allah pun menyatakan di hadapan para malaikat, bahawa Dia telah mengampuni dosa-dosa setiap orang yang hadir di majlis zikir itu.<br />
9). Hadith dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. telah bersabda:<br />
“Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepda-Ku. Dan Aku bersamanya apabila ia berzikir (mengingat) Aku. Kalau ia berzikir kepada-Ku secara tersembunyi (dalam hatinya saja), Aku pun ingat pula kepadanya seperti itu, kalau ia berzikir (mengingat) Aku dalam majlis, maka Aku pun ingat pula kepadanya dalam majlis yang lebih baik dari itu (iaitu majlis malaikat).” (Hadith Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. {9}<br />
Dalam hadith sahih ini terdapat beberapa pelajaran penting, antara lain yang pertama, tentang hubungan Allah dengan hamba-Nya sesuai dengan persangkaan hamba kepada Allah. Maksudnya adalah agar seorang hamba senantiasa berbaik sangka (husnuzhzhan) kepada Allah dan hendaknya jangan sampai berputus asa dari rahmat-Nya. Yang kedua, apabila seorang hamba berzikir kepada Allah, maka Allah pun akan selalu menyertainya. Dan yang ketiga, apabila seorang hamba berzikir kepada Allah dalam hatinya, maka Allah pun akan mengingat dia seperti itu. Namun apabila seorang hamba bertzikir kepada Allah di suatu majlis, maka Allah akan mengingat dia di majlis malaikat, yakni dengan membangga-banggakannya di hadapan mereka. Kenapa demikian? Kerana hal ini didasari oleh ketaatan manusia. Pebuatan ibadah manusia lebih baik daripada ibadah malaikat, kerana manusia beribadah dengan pandangan yang ghaib, sedangkan malaikat beribadah kepada Allah dengan pandangan musyahadah, yakni menyaksikan secara langsung hal-hal yang berhubungan dengan perkara ghaib, sehingga apabila mereka melihat syurga dan neraka, hal itu tidak ada pengaruhnya terhadap keimanan mereka. Oleh kerana itulah, bagi orang-orang yang taat beribadah dan selalu zikrullah, Allah pun selalu memuji dan membangakannya di hadapan para malaikat.<br />
10). Tersebut dalam sebuah hadith:<br />
“Dari ‘Abd al-Rahman bin Sahl bin Hanif, ia berkata: Pada suatu saat, ketika Rasulullah s.a.w berada di salah satu rumahnya, turunlah ayat kepada beliau, yang ertinya: “Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keredhaan-Nya.” (Surah al-Kahfi: 28), Maka setelah menerima wahyu itu, Rasulullah s.a.w. keluar untuk mencari orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat tersebut. Kemudian beliau menjumpai sekelompok orang yang sedang sibuk berzikir. Di anatara mereka ada yang rambutnya tidak teratur dan kulitnya kering, dan ada yang hanya memakai sehelai kain. Ketika Rasulullah s.a.w. melihat mereka, beliau pun duduk bersama mereka dan bersabda, yang ertinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah menciptakan di antara umatku orang-orang yang mernyebabkan aku diperintahkan duduk bersama mereka.” (hadith Riwayat Imam al-Thabrani, Imam Ibn Jarir dan Imam Ibn Mardawaih) {10}<br />
Dalam riwayat hadith yang lain dikatakan:<br />
“Dari Tsabit ia berkata: “Ketika sahabat Salman (al-Farisi) bederta kawan-kawannya sedang sibuk berzikir, lewatlah Rasulullah s.a.w. di hadapan mereka. Maka mereka terdiam sebentar. Lalu beliau bertanya: “Apa yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab: “Kami sedang berzikir.” Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sungguh aku melihat rahmat Allah turun di atas kalian, maka hatiku tertarik untuk bergabung bersama kalian membaca zikir.” Lantas beliau bersabda yang ertinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan dari umatku orang-orang yang aku diperintahkan duduk bersama mereka.” (Hadith Riwayat Imam Ahmad). {11}<br />
Dari dua hadith ini, kita dapat mengetahui dengan jelas, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bukan hanya sekadar menganjurkan zikir berjama’ah, akan tetapi beliau pun juga berzikir dengan para sahabat yang berada di majlis zikir. Dengan kata lain, dalam hal zikir berjama’ah itu beliau buykanlah hanya sekadar teoritis berupa anjuran-anjuran saja, akan tetapi juga secara praktis.<br />
Demikianlah kami kemukakan tidak kurang sepuluh hadith Nabi s.a.w yang menjelaskan tentang disyari’atkannya zikir secara berjama’ah, baik berdasarkan Sunnah Qauliyah dan Sunnah Fi’liyahnya, mahu pun berdasarkan Sunnah Taqririyahnya.</p>
<p><strong>Komentar:</strong></p>
<p>Hadits-hadits di atas hanya menunjukkan dianjurkannya duduk atau berada di majelis dzikir. Majelis dalam bahasa Arab artinya adalah tempat duduk. Sehingga majelis dzikir artinya adalah berzikir di sebuah tempat yang sama. Kalimat majelis dzikir sama sekali tidaklah menunjukkan adanya dzikir jama’i, cuma sekedar menunjukkan al ijtima’ fi al dzikri.</p>
<p><em>C. Fatwa-Fatwa Ulama Tentang Disyari’atkannya Zikir Berjama’ah</em></p>
<p>Disyari’atkannya zikir berjama’ah itu selain terdapat dalam isyarat al-Qur’an dan dalil-dalil tegas dalam hadith-hadith Nabi s.a.w., seperti yang telah kami kemukakan di atas tadi, sebagai pelengkap kami pun menganggap perlu untuk mengemukakan fatwa-fatwa ulama kenamaan tentang disyari’atkannya zikir berjama’ah, baik ulama dari Timur Tengah mahu pun dari Indonesia sendiri, sebagai berikut:</p>
<p><strong>Komentar:</strong><br />
Semua fatwa yang dibawakan di sini hanyalah berkaitan dengan anjuran berada di majelis al dzikri, bukan anjuran untuk mengadakan al dzikri al jama’i. Bedakanlah dua hal ini, karena membedakan dua hal ini sangat penting agar bisa bisa memahami dalil-dalil yang ada dalam masalah ini dengan baik dan tepat.</p>
<p>a. Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H), seorang ulama kenamaan dari Syria, berkata:<br />
“Ketahuilah, sebagaimana zikir itu sunat hukumnya, begitu juga sunat hukumnya duduk dalam majlis orang-orang berzikir, kerana begitu banyak dalil-dalil yang menyatakan hal itu.” {12}<br />
b. Imam Sayid Sabiq (w. 1422 H), seorang ulama kenamaan dari Mesir, berkata:<br />
“Disunatkan duduk dalam majlis zikir.” {13}<br />
Sebelum berfatwa demikian, ia telah membuat judul dengan:<br />
(Sunat berkumpul di majlis zikir)<br />
c. Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy (w. 1975 M) juga berkata:<br />
“Sangatlah disukai kita mengadakan halqah-halqah (tempat-tempat) yang ditentukan untuk berzikir dan membiasakan berzikir di tempat-tempat itu, mengingat hadith-hadith Nabi s.a.w. yang tersebut di bawah ini:<br />
Bersabda Rasulullah s.a.w.:<br />
“Tiada berkumpul sesuatui kaum di dalam sesuatu rumah Allah (masjid) untuk menyebut nama Allah dengan maksud hendak memperoleh keredhaan-Nya, melainkan Allah memberikan ampunan kepada mereka itu dan menggantikan keburukan-keburukan mereka dengan berbagai-bagai kebaikan.” (Hadith Riwayat Ahmad, al-Targhieb, 3:63).<br />
Bersabda Rasulullah s.a.w. pula:<br />
“Tiadalah duduk sesuatu kaum menyebut Allah, melainkan dinaungilah mereka oleh malaikat dan diselubungi mereka dengan rahmat Allah dan diturunkan ketenangan kepadanya. Juga Allah menyebut-nyebut mereka itu di hadapan orang-orang yang di sisi-Nya.” (hadith Riwayat Muslim, Riyadlus Solihin: 469).<br />
Demikinlah fatwa para ulama sekitar disyari’atkannya zikir berjama’ah.<br />
Catatan<br />
{1}. Zakiyuddin al-Mundziri, al-Targhib wa al-Tarhib, (Beirut: Dar al-Fikr, 1408 H/1989 M) Editir: Musthafa Muhammad ‘Imarah, jilid II, hlm. 398.<br />
{2}. Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Sahih Muslim, (Bandung: Dahlan t.th), Jilid 2, hlm. 474, Abu ‘Isa al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, (Beirut: Dar al-Fikr, Cet. II, 1403 H/1983 M), Editor Abd al-Wahhab Abd al-Lathif, Jilid 2, hlm. 128, dan Abu ‘Abdillah Ibn Majah al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, )Beirut: Dar al-Fikr, Cet. II, tth), Jilid 2, hlm. 418. Dan lihat: Ahmad Dimyathi Badruzzaman, Amaliah Zikir Taubah M. Arifin Ilham Ditinjau Dari Syari’at islam, (Depok: Cipta Salam, Cet. 1, 1426 H/2002 M), hlm. 7.<br />
{3}. Syarafuddin al-Dimyathi, al-Matjar al-Rabih fi Tsawah al-‘Amal al-Shalih, (Beirut: Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, Cet. III, 1414 H/1994 M), Editor: Muhammad Husam Baidhun, hlm. 285.<br />
{4}. Zakiyuddin al-Mundziri, Op. Cit., Jilid 2, hlm. 403.<br />
{5}. Syarafuddin al-Dimyathi, Op. Cit., hlm. 287.<br />
{6}. Zakiyuddin al-Mundziri, Op. Cit., Jilid 2, hlm. 406.<br />
{7}. Zakiyuddin al-Mundziri, Ibid, hlm. 403.<br />
{8}. Abu ‘Abdillah al-Bukhari, Op. Cit., Jilid 4, hlm. 114, dan Abu al-Husain Muslim nin al-Hajjaj al-Naisaburi, Op. Cit., Jilid 2, hlm. 471.<br />
{9}. Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, al-Lu’ lu’ wa al-Marjan fi ma Ittiafaqa ‘alaih al-Syaikhan, (Kairo: Dar al-Hadits, 1407 H/1986 M), Juz. 3, hlm. 223. Lihat Bukhari, Op. Cit., Jilid 4, hlm. 278, dan Muslim, Op. Cit., Jilid 2, hlm. 470.<br />
{10}. Jalaluddin al-Suyuthi, al-Darr al-Mautsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur, (Beirut: Muhammad Amin Damaj, t.th), Jilid 4, hlm. 219, dan lihat Ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, Cet. 1, 1409 H/1989 M), Jilid 8, Juz 15, hlm. 155.<br />
{11}. Jalaluddin al-Suyuthi, Ibid., hlm. 219.<br />
{12}. Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, al-Adzkar, (Bandung: Syirkah al-Ma’arif, t.th), hlm. 8. Lihat pula Ibn ‘Allan al-Shiddiqi, al-Futuhat al-Rabbaniyyah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1398 H/1978 M), Juz. 1, hlm. 89-90.<br />
{13}. Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, (Beirut: Dar al-Fikr, Cet. II, 1400 H/980 M), jilid I, hlm. 492.<br />
{14}. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Dzikir dan Doa. (Jakarta: Bulan Bintang, Cet. VI, 1982), hlm. 57.<br />
{15}. Ibid.</p>
<p>Dipetik dari buku “<em>Zikir Berjamaah Sunnah Atau Bid’ah</em>” karangan Drs. Ahmad Dimyathi Badruzzaman.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fsanggahan-untuk-amalan-dzikir-berjamaah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1845&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/bidah-hasanah-dan-pajak-yang-tidak-masalah" title="Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah">Bid&#8217;ah Hasanah dan Pajak yang Tidak Masalah</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/memahami-bidah-dengan-benar" title="Memahami Bid&#8217;ah dengan Benar">Memahami Bid&#8217;ah dengan Benar</a> (21)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/kapan-seseorang-disebut-ahli-bidah" title="Kapan Seseorang Disebut Ahli Bid&#8217;ah?">Kapan Seseorang Disebut Ahli Bid&#8217;ah?</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/siapakah-yang-disebut-ahli-bidah" title="Siapakah yang Disebut Ahli Bid&#8217;ah?">Siapakah yang Disebut Ahli Bid&#8217;ah?</a> (14)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/berdzikir-di-hari-tasyriq" title="Berdzikir di Hari Tasyriq">Berdzikir di Hari Tasyriq</a> (10)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/shalat-di-belakang-orang-musyrik" title="Shalat di Belakang Orang Musyrik">Shalat di Belakang Orang Musyrik</a> (22)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/dosa-bidah-dibanding-maksiat" title="Dosa Bid&#8217;ah Dibanding Maksiat">Dosa Bid&#8217;ah Dibanding Maksiat</a> (17)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/surat-al-fatihah-untuk-dzikir-pagi-petang" title="Surat al Fatihah untuk Dzikir Pagi Petang">Surat al Fatihah untuk Dzikir Pagi Petang</a> (6)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2" title="Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)">Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)</a> (40)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/baiat-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah" title="Bai&#8217;at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (1)">Bai&#8217;at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (1)</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/sanggahan-untuk-amalan-dzikir-berjamaah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?</title>
		<link>http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 05:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1839</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang berpandangan bahwa di antara ciri khas seorang ahli sunah adalah alergi dengan shalat tarawih 23 rakaat secara mutlak. Ini adalah anggapan yang tidak benar. Memang benar, kita tentu sangat tidak setuju jika shalat tarawih 23 rakaat dilakukan dengan ngebut. Perlu diketahui bahwa sebagian ulama ahli sunah menilai bahwa riwayat shalat tarawih di masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Falergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Sebagian orang berpandangan bahwa di antara ciri khas seorang ahli sunah adalah alergi dengan shalat tarawih 23 rakaat secara mutlak. Ini adalah anggapan yang tidak benar. Memang benar, kita tentu sangat tidak setuju jika shalat tarawih 23 rakaat dilakukan dengan ngebut.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa sebagian ulama ahli sunah menilai bahwa riwayat shalat tarawih di masa Umar itu 23 rakaat adalah <strong>riwayat yang valid</strong>. Di antara mereka adalah imam ahli sunah di zaman ini yaitu <strong>Syaikh Abdul Aziz bin Baz</strong>. Sehingga berdasarkan hal tersebut, maka shalat tarawih 23 rakaat adalah sunah sahabat dan sunah khulafaur rasyidin.</p>
<p>Andaipun riwayat ini lemah, bukan berarti shalat tarawih lebih dari 11 rakaat itu terlarang karena shalat tarawih adalah bagian dari shalat malam sedangkan shalat malam itu tidak memiliki batas maksimal sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim.</p>
<p>Oleh karena di antara anggapan yang kurang tepat adalah kesimpulan sebagian orang bahwa jika riwayat Umar tentang Shalat Tarawih 23 rakaat adalah riwayat yang lemah maka berarti maksimal shalat Tarawih adalah 11 atau 13 rakaat.</p>
<p>Berikut ini adalah penjelasan Syaikh Ibnu Baz tentang masalah ini:</p>
<p>ومن الأمور التي قد يخفى حكمها على بعض الناس:<br />
ظن بعضهم أن التراويح لا يجوز نقصها عن عشرين ركعة،</p>
<p>“Di antara hal yang hukumnya tidak diketahui oleh sebagian orang adalah anggapan sebagian orang bahwa shalat tarawih itu tidak boleh kurang dari 20 rakaat.</p>
<p>وظن بعضهم أنه لا يجوز أن يزاد فيها على إحدى عشرة ركعة أو ثلاث عشرة ركعة، وهذا كله ظن في غير محله بل هو خطأ مخالف للأدلة.</p>
<p>Demikian pula anggapan sebagian orang bahwa shalat tarawih itu tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Kedua anggapan ini adalah anggapan yang tidak pada tempatnya bahkan keduanya adalah anggapan yang menyelisihi banyak dalil.</p>
<p>وقد دلت الأحاديث الصحيحة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم على أن صلاة الليل موسع فيها ، فليس فيها حد محدود لا تجوز مخالفته،</p>
<p>Terdapat banyak hadits yang sahih dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang menunjukkan bahwa bilangan rakaat shalat malam itu longgar, tidak ada batasan baku yang tidak boleh dilanggar.</p>
<p>بل ثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه كان يصلي من الليل إحدى عشرة ركعة، وربما صلى ثلاث عشرة ركعة، وربما صلى أقل من ذلك في رمضان وفي غيره.</p>
<p>Bahkan terdapat riwayat yang sahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa beliau shalat malam sebanyak 11 rakaat dan terkadang 13 rakaat. Terkadang pula beliau shalat malam kurang dari 11 rakaat ketika Ramadhan atau pun di luar Ramadhan.</p>
<p>ولما سئل صلى الله عليه وسلم عن صلاة الليل قال: مثنى مثنى ، فإذا خشي أحدكم الصبح صلى ركعة واحدة توتر له ما قد صلى . متفق على صحته .</p>
<p>Ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ditanya tentang shalat malam, beliau mengatakan, “<em>Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam. Jika kalian khawatir waktu subuh tiba maka hendaknya dia shalat sebanyak satu rakaat sebagai witir untuk shalat malam yang telah dia kerjakan</em>” (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>ولم يحدد ركعات معينة لا في رمضان ولا في غيره،</p>
<p>Jadi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak menentukan jumlah rakaat tertentu untuk shalat malam di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.</p>
<p>ولهذا صلى الصحابة رضي الله عنهم في عهد عمر رضي الله عنه في بعض الأحيان ثلاثا وعشرين ركعة، وفي بعضها إحدى عشرة ركعة،</p>
<p>Oleh karena itu para sahabat di masa Umar terkadang shalat tarawih sebanyak 23 rakaat dan terkadang sebanyak 11 rakaat.</p>
<p>كل ذلك ثبت عن عمر رضي الله عنه وعن الصحابة في عهده.</p>
<p>Kedua riwayat tersebut adalah riwayat yang sahih dari Umar dan para sahabat di masa Umar.</p>
<p>وكان بعض السلف يصلي في رمضان ستا وثلاثين ركعة ويوتر بثلاث،</p>
<p>Sebagian salaf ketika bulan Ramadhan shalat tarawih sebanyak 36 rakaat terus ditambah witir 3 rakaat.</p>
<p>وبعضهم يصلي إحدى وأربعين،</p>
<p>Sebagian salaf yang lain shalat tarawih sebanyak 41 rakaat.</p>
<p>ذكر ذلك عنهم شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله وغيره من أهل العلم،</p>
<p>Kedua riwayat di atas disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan para ulama selainnya.</p>
<p>كما ذكر رحمة الله عليه أن الأمر في ذلك واسع، وذكر أيضا أن الأفضل لمن أطال القراءة والركوع والسجود أن يقلل العدد، ومن خفف القراءة والركوع والسجود زاد في العدد، هذا معنى كلامه رحمه الله.</p>
<p>Ibnu Taimiyyah juga menyebutkan bahwa permasalahan bilangan shalat malam adalah <strong>permasalahan yang ada kelonggaran di dalamnya</strong>. Ibnu Taimiyyah juga menyebutkan bahwa yang paling <em>afdhol </em>bagi orang yang mampu untuk berdiri, ruku dan sujud dalam waktu yang lama adalah mempersedikit jumlah rakaat yang dia lakukan. Sedangkan orang yang berdiri, ruku dan sujudnya tidak lama hendaknya memperbanyak jumlah rakaat yang dikerjakan. Inilah inti dari perkataan Ibnu Taimiyyah dalam masalah ini.</p>
<p>ومن تأمل سنته صلى الله عليه وسلم علم أن الأفضل في هذا كله هو صلاة إحدى عشرة ركعة، أو ثلاث عشرة ركعة، في رمضان وغيره؛</p>
<p>Siapa saja yang merenungkan dengan baik sunah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentu dia akan berkesimpulan bahwa bilangan rakaat shalat malam yang terbaik adalah 11 rakaat atau 13 rakaat baik di bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan.</p>
<p>لكون ذلك هو الموافق لفعل النبي صلى الله عليه وسلم في غالب أحواله، ولأنه أرفق بالمصلين وأقرب إلى الخشوع والطمأنينة ، ومن زاد فلا حرج ولا كراهية كما سبق.</p>
<p>Ada dua alasan untuk kesimpulan di atas:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, itulah yang sesuai dengan perbuatan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam mayoritas shalat malam yang beliau kerjakan</p>
<p><strong>Kedua</strong>, itulah yang lebih mudah bagi banyak orang sehingga orang-orang yang melakukannya bisa lebih khusyu’ dan tenang ketika mengerjakan shalat. Sedangkan orang yang ingin lebih dari 11 atau 13 rakaat maka hukumnya adalah mubah dan tidak makruh sebagai penjelasan di atas”.</p>
<p><strong>Sumber</strong>: Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawi’ah jilid 15 hal 18-19, terbitan Dar Ashda’ al Mujtama’ cetakan ketiga 1428 H.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Falergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1839&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi" title="Memahami Silaturahmi">Memahami Silaturahmi</a> (2)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran" title="Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?">Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman" title="Hukum Sungkeman">Hukum Sungkeman</a> (17)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil" title="Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil">Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil</a> (14)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/seputar-puasa-daud" title="Seputar Puasa Daud">Seputar Puasa Daud</a> (20)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/apakah-panitia-zakat-sama-dengan-amil" title="Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?">Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?</a> (12)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Donasi Radio Bahana As-Sunnah Salatiga, Jawa Tengah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/donasi-radio-bahana-as-sunnah-salatiga-jawa-tengah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/donasi-radio-bahana-as-sunnah-salatiga-jawa-tengah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 02:01:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[donasi dakwah radio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1833</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, kini telah mengudara di kota Salatiga Radio Bahana As Sunnah 98.7 FM (BASS FM). Berdirinya radio tentunya atas karunia dari Allah Ta&#8217;ala setelah itu upaya keras dari ikhwah di Salatiga, Ust. Ahmad Zainuddin selaku koordinatornya. Radio Bahana As Sunnah yang sekarang sudah On Air sedang berupaya agar sajian acaranya juga dapat dinikmati melalui streaming [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fdonasi-radio-bahana-as-sunnah-salatiga-jawa-tengah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><img title="Radio Bahana Assunnah" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/08/BahanaAssunnah.jpg" alt="Radio Bahana Assunnah" width="300" height="172" align="left" /></p>
<p>Alhamdulillah, kini telah mengudara di kota Salatiga <strong>Radio Bahana As Sunnah 98.7 FM (BASS FM)</strong>. Berdirinya radio tentunya atas karunia dari Allah <em>Ta&#8217;ala </em>setelah itu upaya keras dari ikhwah di Salatiga, Ust. Ahmad Zainuddin selaku koordinatornya.</p>
<p>Radio Bahana As Sunnah yang sekarang sudah On Air sedang berupaya  agar sajian acaranya juga dapat dinikmati melalui streaming internet.  Alhamdulillah, Radio Bahana As Sunnah mendapat respon yang baik dari  warga Salatiga dan sekitarnya terhadap sajian-sajian acara nan Islami  sesuai pemahaman <em>salafus shalih</em>. Radio Bahana As Sunnah sementara ini masih banyak merelai dari radio-radio Sunnah lainya namun <em>Insya Allah</em> bulan November kita akan launcing program-program yang sarat ilmu.</p>
<p>Bagi kaum muslimin yang ingin menyisihkan sebagian hartanya di jalan  Allah, dengan membantu pengembangan Radio Bahana As Sunnah, dapat  disalurkan melalui :</p>
<blockquote><p><strong>Bank BCA Salatiga No.Rek: 0130230644  a/n Ahmad Zainuddin</strong></p></blockquote>
<p><strong>Informasi lebih lanjut:</strong></p>
<blockquote><p>Ustadz Ahmad Zainuddin, Telp.085641119490 / 08122922962</p>
<p><strong>Website: </strong><a title="Suarasunnah.com" href="http://suarasunnah.com" target="_self">http://suarasunnah.com</a><strong><br />
</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p></blockquote>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fdonasi-radio-bahana-as-sunnah-salatiga-jawa-tengah&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1833&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Sudah membaca yang ini?</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/bacaan-al-quran-untuk-ringtone-dan-nada-tunggu" title="Bacaan Al Qur&#8217;an untuk Ringtone dan Nada Tunggu">Bacaan Al Qur&#8217;an untuk Ringtone dan Nada Tunggu</a> (5)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mengenal-jenis-jenis-ciuman" title="Fikih Ciuman &#8230;">Fikih Ciuman &#8230;</a> (15)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pahami-dua-macam-sujud" title="Pahami Dua Macam Sujud">Pahami Dua Macam Sujud</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/10-akhlak-pebisnis-muslim" title="10 Akhlak Pebisnis Muslim">10 Akhlak Pebisnis Muslim</a> (13)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/pakaian-tenar-syuhroh-makruh-atau-haram" title="Pakaian Tenar (Syuhroh) Makruh atau Haram?">Pakaian Tenar (Syuhroh) Makruh atau Haram?</a> (0)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/siapakah-yang-disebut-ahli-bidah" title="Siapakah yang Disebut Ahli Bid&#8217;ah?">Siapakah yang Disebut Ahli Bid&#8217;ah?</a> (14)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/ruqyah-sebagai-jalan-berdakwah" title="Ingin Jadi Tukang Ruqyah Sebagai Jalan Berdakwah">Ingin Jadi Tukang Ruqyah Sebagai Jalan Berdakwah</a> (7)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-masbuq-jadi-imam-untuk-masbuq" title="Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?">Bolehkah Masbuq Jadi Imam untuk Masbuq?</a> (8)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/bersentuhan-kulit-antara-suami-istri-apakah-membatalkan-wudhu" title="Bersentuhan Kulit Antara Suami Istri, Apakah Membatalkan Wudhu?">Bersentuhan Kulit Antara Suami Istri, Apakah Membatalkan Wudhu?</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/potongan-pakaian-muslimah-yang-tidak-syar%e2%80%99i" title="Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?">Potongan, Pakaian Muslimah yang tidak Syar’i?</a> (17)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/donasi-radio-bahana-as-sunnah-salatiga-jawa-tengah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Silaturahmi</title>
		<link>http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 17:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[hukum silaturrahmi]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1806</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Apakah silaturahmi hanya boleh dilakukan dalam lingkungan keluarga sendiri, tidak boleh pada lingkungan orang lain? 081548843xxx Jawaban: Silaturahmi diambil dari kata-kata shilah dan rahim. Shilah berarti menyambung sedangkan rahim atau rahm adalah kekerabatan atau sebab-sebabnya (Mu’jam Wasith 1/335). Terdapat perselisihan di antara ulama tentang batasan kerabat yang wajib disambung dan haram untuk diputus. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmemahami-silaturahmi&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p><strong>Tanya:</strong><br />
Apakah silaturahmi hanya boleh dilakukan dalam lingkungan keluarga sendiri, tidak boleh pada lingkungan orang lain? 081548843xxx</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Silaturahmi diambil dari kata-kata <em>shilah </em>dan <em>rahim</em>. <em>Shilah </em>berarti menyambung sedangkan <em>rahim </em>atau <em>rahm </em>adalah kekerabatan atau sebab-sebabnya (Mu’jam Wasith 1/335).</p>
<p>Terdapat perselisihan di antara ulama tentang batasan kerabat yang wajib disambung dan haram untuk diputus. Ada tiga pendapat dalam hal ini.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, kerabat yang masih berstatus mahram. Artinya seandainya salah satunya laki-laki dan yang lain perempuan maka tidak boleh menikah. Menurut pendapat ini maka anak paman dan anak bibi tidak termasuk kerabat yang tetap wajib disambung. Ulama yang berpendapat semisal ini beralasan terlarangnya menikahi seorang perempuan dengan bibinya sekaligus. Hal ini tidaklah diharamkan melainkan karena dikhawatirkan putusnya hubungan kekerabatan. Sehingga jika bukan mahram maka tidak ada hubungan kekarabatan yang dikhawatirkan putus.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, kerabat yang masih berstatus ahli waris. Yang berpendapat semisal ini berdalil dengan hadits,</p>
<p>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ قَالَ « أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ ».</p>
<p>Dari Abu Hurairah, ada seorang yang bertanya, “Ya, rasulullah siapakah orang yang paling berhak kuperlakukan dengan baik?” Nabi bersabda, “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian kerabat yang dekat dan yang dekat” (HR Muslim no 6665).</p>
<p>Dalam hadits ini hubungan yang Nabi perintahkan untuk  tetap dipelihara adalah kerabat yang dekat. Yang dimaksud kerabat yang dekat adalah yang masih berstatus ahli waris.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, semua kerabat baik mahram ataukah bukan, ahli waris ataukah bukan.</p>
<p>Pendapat ketiga ini dikomentari oleh Syeikh Abdullah Al Bassam, “Ini merupakan pendapat yang kuat namun bentuk menjalin hubungan kekerabatan itu berbeda-beda tergantung kedekatan hubungan dan kemampuan serta kebutuhan” (Lihat Taudhih al Ahkam 7/324-325).</p>
<p>Inilah pengertian rahim yang dimaksudkan dalam hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan silaturahmi. Oleh karena itu tidaklah tepat menggunakan hadits-hadits tentang keutamaan silaturahmi untuk memotivasi agar menjaga hubungan baik dengan sesama muslim dengan saling berkunjung saat hari raya atau yang lainnya.</p>
<p>Meskipun sesama muslim itu saudara,</p>
<p>الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “<em>Muslim itu saudara bagi muslim yang lain</em>” (HR Bukhari no 6951 dan Muslim no 6743 dari Ibnu Umar). Namun ini adalah ikatan kekerabatan dengan pengertian yang luas, sebagaimana yang dijelaskan oleh al Qurthubi.</p>
<p>قَالَ الْقُرْطُبِيّ : الرَّحِم الَّتِي تُوصَل عَامَّة وَخَاصَّة ، فَالْعَامَّة رَحِم الدِّين وَتَجِب مُوَاصَلَتهَا بِالتَّوَادُدِ وَالتَّنَاصُح وَالْعَدْل وَالْإِنْصَاف وَالْقِيَام بِالْحُقُوقِ الْوَاجِبَة وَالْمُسْتَحَبَّة . وَأَمَّا الرَّحِم الْخَاصَّة فَتَزِيد لِلنَّفَقَةِ عَلَى الْقَرِيب وَتَفَقُّد أَحْوَالهمْ وَالتَّغَافُل عَنْ زَلَّاتهمْ</p>
<p>Beliau mengatakan, “Rahim (kekerabatan) yang wajib dijaga itu ada dua, kekerabatan dalam makna luas dan kekerabatan dalam makna sempit. Kekebatan dalam makna luas adalah kekerabatan karena agama. Kekerabatan ini wajib dijaga dengan saling mencintai, saling memberi nasihat, bersikap adil dan menunaikan hak sesama muslim baik yang wajib maupun yang dianjurkan.</p>
<p>Sedangkan kekerabatan dalam makna sempit itu dijaga dengan memberi bantuan materi kepada kerabat, memperhatikan keadaan mereka dan mudah melupakan kesalahan mereka” (Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 17/115).</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com">www.ustadzaris.com</a>
<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fustadzaris.com%2Fmemahami-silaturahmi&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=segoe ui&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1806&type=feed" alt="" /><h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://ustadzaris.com/alergi-dengan-shalat-tarawih-23-rakaat" title="Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?">Alergi dengan Shalat Tarawih 23 Raka&#8217;at?</a> (17)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran" title="Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?">Adakah Do&#8217;a Khataman Al Qur&#8217;an?</a> (4)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman" title="Hukum Sungkeman">Hukum Sungkeman</a> (17)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/mengganti-puasa-ramadhan-karena-hamil" title="Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil">Mengganti Puasa Ramadhan Karena Hamil</a> (14)</li><li><a href="http://ustadzaris.com/apakah-panitia-zakat-sama-dengan-amil" title="Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?">Apakah Panitia Zakat Sama Dengan Amil?</a> (12)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/memahami-silaturahmi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.796 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2010-09-04 07:08:40 -->
