<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tegar Di Atas Sunnah</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com</link>
	<description>Blog Ustadz Aris Munandar</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Feb 2010 20:00:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Keadaan Nabi dan Rasul Bertingkat-Tingkat</title>
		<link>http://ustadzaris.com/keadaan-nabi-dan-rasul-bertingkat-tingkat</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/keadaan-nabi-dan-rasul-bertingkat-tingkat#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 20:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1268</guid>
		<description><![CDATA[Tanya, “Tolong jelaskan yang dimaksud bahwa para nabi dan rasul itu bertingkat-tingkat dalam masalah mengikuti perintah-perintah Allah!”.
Jawab:
Tidak ada nabi dan rasul yang meremehkan aturan-aturan Allah. Namun kedudukan mereka di sisi Allah itu bertingkat-tingkat sesuai dengan kesempurnaan yang mereka miliki.
وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ وَآَتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا
“Dan Sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya</strong>, “Tolong jelaskan yang dimaksud bahwa para nabi dan rasul itu bertingkat-tingkat dalam masalah mengikuti perintah-perintah Allah!”.<span id="more-1268"></span></p>
<p><strong>Jawab</strong>:</p>
<p>Tidak ada nabi dan rasul yang meremehkan aturan-aturan Allah. Namun kedudukan mereka di sisi Allah itu bertingkat-tingkat sesuai dengan kesempurnaan yang mereka miliki.<br />
وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ وَآَتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا</p>
<p>“<em>Dan Sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud</em>” (QS al Isra:55).<br />
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ</p>
<p>“<em>Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat</em>” (QS al Baqarah:253).</p>
<p>Sehingga tidaklah diragukan bahwa kedudukan para nabi di sisi Allah itu bertingkat-tingkat. Rasul yang menjadi <em>ulul azmi</em> itu lebih mulia dibandingkan rasul yang bukan ulul azmi karena mereka itu lebih sempurna meski para nabi juga mengikuti aturan-aturan Allah. Bahkan para shiddiq, syuhada dan semua orang beriman itu mengikuti aturan Allah.</p>
<p><strong>[Disarikan dari <em>Ajwibah Mufidah an Masa-il Adidah </em>karya Syaikh Abdul Aziz ar Rajihi hal 1-4].</strong></p>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1268&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/keadaan-nabi-dan-rasul-bertingkat-tingkat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Pajak dan Bea Cukai (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah)</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 20:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bea cukai]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1266</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan,
قرأت في كتاب ( الزواجر عن اقتراف الكبائر ) لابن حجر الهيتمي في حكم المكوس ، ونهي النبي صلى الله عليه وسلم عنها ، وأن أصحابها أشد الناس عذابا يوم القيامة ، وكثير من الدول يعتمد اقتصادها على تحصيل الرسوم الجمركية على الواردات والصادرات وهذه الرسوم بالتالي يقوم التجار بإضافتها إلى ثمن البضاعة المباعة بالتجزئة [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan</strong>,<br />
قرأت في كتاب ( الزواجر عن اقتراف الكبائر ) لابن حجر الهيتمي في حكم المكوس ، ونهي النبي صلى الله عليه وسلم عنها ، وأن أصحابها أشد الناس عذابا يوم القيامة ، وكثير من الدول يعتمد اقتصادها على تحصيل الرسوم الجمركية على الواردات والصادرات وهذه الرسوم بالتالي يقوم التجار بإضافتها إلى ثمن البضاعة المباعة بالتجزئة للجمهور ، وبهذه الأموال المحصلة تقوم الدولة بمشروعاتها المختلفة لبناء مرافق الدولة . فأرجو توضيح حكم هذه الرسوم وحكم الجمارك والعمل بها وهل يعتبر نفس حكم المكوس أم لا يعتبر نفس الحكم ؟.<br />
“Aku membaca buku <em>al Zawajir ‘an Iqtiraf al Kabair</em> karya Ibnu Hajar al Haitami tentang hukum <em>maks </em>(pajak) dan larangan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>melakukan hal tersebut. Di sana juga disebutkan bahwa pemungut <em>maks </em>adalah manusia yang paling keras siksaannya pada hari Kiamat nanti. Di sisi lain, banyak negara yang perekonomiannya mengandalkan bea cukai atas barang impor ataupun barang ekspor. Pada gilirannya bea cukai ini oleh produsen dibebankan kepada konsumen sehingga harga barang tersebut menjadi lebih mahal. Dari uang bea cukai ini negara mengadakan berbagai proyek untuk membangun berbagai fasilitas negara. Aku berharap akan adanya penjelasan tentang hukum pajak dan bea cukai serta bekerja di bidang itu. Apakah hukum pajak itu sama dengan hukum <em>maks </em>ataukah berbeda?”<span id="more-1266"></span><br />
فيما يلي نص فتوى اللجنة الدائمة للإفتاء<br />
تحصيل الرسوم الجمركية من الواردات والصادرات من المكوس ، والمكوس حرام ، والعمل بها حرام ، ولو كانت ممن يصرفها ولاة الأمور في المشروعات المختلفة كبناء مرافق الدولة لنهي النبي صلى الله عليه وسلم عن أخذ المكوس وتشديده فيه ،</p>
<p><strong>Jawaban dari Lajnah Daimah</strong>,</p>
<p>“<span style="text-decoration: underline;">Bea cukai atas barang impor atau ekspor</span> itu termasuk <em>maks </em>sedangkan <em>maks </em>adalah <strong>haram</strong>. Oleh karena itu, bekerja di bidang itu hukumnya <strong>haram </strong>meskipun pajak tersebut dibelanjakan oleh negara untuk mengadakan berbagai proyek semisal membangun berbagai fasilitas negara. Hal ini dikarenakan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>melarang bahkan memberi ancaman keras untuk perbuatan mengambil <em>maks.</em><br />
فقد ثبت في حديث عبد الله بن بريدة عن أبيه في رجم الغامدية التي ولدت من الزنا أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( والذي نفسي بيده لقد تابت توبة لو تابها صاحب مكس لغفر له ) الحديث رواه أحمد ومسلم وأبو داوود</p>
<p>Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya tentang dirajamnya wanita dari suku al Ghamidiyyah setelah melahirkan anak karena zina. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda tentang wanita tersebut, “<em>Demi zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh wanita ini telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya penarik maks (baca: pajak) bertaubat seperti itu niscaya Allah akan mengampuninya</em>” (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Daud).<br />
وروى أحمد وأبو داوود  والحاكم عن عقبة بن عامر عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : ( لا يدخل الجنة صاحب مكس ) وصححه الحاكم .</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan al Hakim dari ‘Uqbah bin ‘Amir, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda, “<em>Penarik pajak itu tidak akan masuk surga</em>”. Hadits ini dinilai sahih oleh al Hakim.<br />
وقد قال الذهبي في كتابه الكبائر : والمكاس داخل في عموم قوله تعالى : ( إنما السبيل على الذين يظلمون الناس ويبغون<br />
في الأرض بغير الحق أولئك لهم عذاب أليم ) الشورى/42 .</p>
<p>Dalam <em>al Kabair</em>, adz Dzahabi mengatakan, “Pemungut pajak itu termasuk dalam keumuman firman Allah yang artinya, “<em>Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih</em>” (QS asy Syura:42).<br />
والمكاس من أكبر أعوان الظلمة بل هو من الظلمة أنفسهم فإنه يأخذ ما لا يستحق ، واستدل على ذلك بحديث بريدة وحديث عقبة المتقدمين ثم قال : والمكاس فيه شبه من قاطع الطريق وهو من اللصوص ، وجابي المكس وكاتبه وشاهده وآخذه من جندي وشيخ وصاحب راية شركاء في الوزر آكلون للسحت والحرام . انتهى .</p>
<p>Pemungut pajak adalah termasuk pembantu bagi penguasa zalim yang paling penting. Bahkan pemungut pajak itu termasuk pelaku kezaliman karena mereka mengambil harta yang tidak berhak untuk diambil”.</p>
<p>Adz Dzahabi lantas berdalil dengan hadits dari Buraidah dan ‘Uqbah yang telah disebutkan di atas. Setelah itu adz Dzahabi mengatakan, “Pemungut pajak itu memiliki kesamaan dengan <strong>pembegal </strong>bahkan dia termasuk <strong>pencuri</strong>. Pemungut pajak, jurus tulisnya, saksi dan semua pemungutnya baik seorang tentara, kepala suku atau kepala daerah adalah orang-orang yang bersekutu dalam dosa. Semua mereka adalah orang-orang yang memakan harta yang haram”. Sekian kutipan dari <em>al Kabair.</em><br />
ولأن ذلك من أكل أموال الناس بالباطل وقد قال تعالى :( ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل ) البقرة/188 .</p>
<p>Dalam pajak terdapat perbuatan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar padahal Allah berfirman yang artinya, “<em>Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang tidak benar”</em> (QS al Baqarah:188).<br />
ولما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال في خطبته بمنى يوم العيد في حجة الوداع : ( إن دماءكم وأموالكم وأعراضكم حرام عليكم كحرمة يومكم هذا في بلدكم هذا في شهركم هذا ) .</p>
<p>Ketika memberikan khutbah di Mina pada tanggal 10 Dzulhijjah ketika haji wada’, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian itu tidak boleh diganggu sebagaimana kehormatan hari ini, di negeri ini dan bulan ini</em>”.<br />
فعلى المسلم أن يتقي الله ويدع طرق الكسب الحرام ويسلك طرق الكسب الحلال وهي كثيرة ولله الحمد ومن يستغن يغنه الله ،</p>
<p>Menjadi kewajiban setiap muslim untuk bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan cara-cara mendapatkan rezeki yang haram dan memilih cara-cara mendapatkan rezeki yang halal yang jumlahnya banyak, <em>Alhamdulillah</em>. Barang siapa yang merasa cukup dengan yang halal maka Allah akan memberi kecukupan untuknya.<br />
قال الله تعالى : (ومن يتق الله يجعل له مخرجا * ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه إن الله بالغ أمره قد جعل الله لكل شيء قدرا ) الطلاق/2-3</p>
<p>Allah berfirman yang artinya, “<em>Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu</em>” (QS ath Thalaq:2-3).<br />
وقال : ( ومن يتق الله يجعل له من أمره يسرا ) الطلاق/ 4</p>
<p>Allah juga berfirman yang artinya, “<em>Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya</em>” (QS ath Thalaq:4).<br />
وبالله التوفيق<br />
فتاوى اللجنة الدائمة للإفتاء 23 / 489 .</p>
<p>Demikian yang terdapat dalam <strong>Fatwa al Lajnah al Daimah lil Ifta’ jilid 23 halaman 489.</strong></p>
<p><strong>Sumber</strong>:</p>
<p>http://islamqa.com/ar/ref/42563/%20%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%85%D8%A7%D8%B1%D9%83</p>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1266&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-pajak-dan-bea-cukai-fatwa-al-lajnah-ad-daimah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Nonton Televisi di Zaman Ini</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 20:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islam]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1262</guid>
		<description><![CDATA[Pendengaran adalah nikmat Allah. Penglihatan juga merupakan nikmat. Dua bibir dan lidah juga nikmat. Akan tetapi, banyak dari berbagai nikmat yang menjadi sumber bencana bagi orang yang mendapatkan nikmat tersebut karena mereka tidak mempergunakan nikmat dalam perkara yang Allah inginkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani <em>rahimahullah </em>mendapat pertanyaan sebagai berikut, “<em>Apa hukum menonton televisi di masa kini?</em>”.<span id="more-1262"></span></p>
<p>الجواب: التلفزيون اليوم لا شك أنه حرام، لأن التلفزيون مثل الراديو والمسجل، هذه كغيرها من النعم التي أحاط الله بها عباده</p>
<p><strong>Jawaban beliau</strong>, “Tidaklah diragukan bahwa hukum menonton televisi pada masa kini adalah <strong>haram</strong>. Televisi itu seperti radio dan tape recorder. Benda-benda ini dan yang lainnya adalah di antara limpahan nikmat Allah kepada para hamba-Nya.<br />
كما قال: {وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها}</p>
<p>Sebagaimana firman Allah yang artinya, “<em>Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak bisa menghitungnya</em>”<br />
فالسمع نعمة والبصر نعمة والشفتان نعمة واللسان، ولكن كثيرا من هذه النعم تصبح نقما على أصحابها لأنهم لم يستعملوها فيما أحب الله أن يستعملوها؛</p>
<p>Pendengaran adalah nikmat Allah. Penglihatan juga merupakan nikmat. Dua bibir dan lidah juga nikmat. Akan tetapi, banyak dari berbagai nikmat yang menjadi sumber bencana bagi orang yang mendapatkan nikmat tersebut karena mereka tidak mempergunakan nikmat dalam perkara yang Allah inginkan.<br />
فالراديو والتلفزيون والمسجل أعتبرها من النعم ولكن متى تكون من النعم؟ حينما توجه الوجهة النافعة للأمة،</p>
<p>Radio, televisi dan tape recorder adalah nikmat ketika dipergunakan untuk perkara yang mendatangkan nikmat bagi umat.<br />
التلفزيون اليوم بالمئة تسعة وتسعون فسق، خلاعة، فجور، أغاني محرمة، إلى آخره،</p>
<p>Isi televisi pada masa kini <strong>99 persen</strong> adalah kefasikan, pornografi atau porno aksi, kemaksiatan, nyanyian yang haram dst.<br />
بالمئة واحد يعرض أشياء قد يستفيد منه بعض الناس</p>
<p>Sedangkan hanya 1% saja dari tontonannya yang bisa diambil manfaatnya oleh sebagian orang.<br />
فالعبرة بالغالب،</p>
<p>Sedangkan kaedah mengatakan bahwa nilai sesuatu itu berdasarkan unsur dominan dalam sesuatu tersebut.<br />
فحينما توجد دولة مسلمة حقا وتضع مناهج علمية مفيدة للأمة حينئذ لا أقول : التلفزيون جائز، بل أقول واجب.</p>
<p>Ketika ada negara Islam yang sesunggunnya lalu negara membuat <strong>program acara TV yang ilmiah dan bermanfaat bagi umat</strong> maka –pada saat itu- kami tidak hanya mengatakan bahwa hukum menonton TV adalah <span style="text-decoration: underline;">boleh </span>bahkan akan kami katakan bahwa menonton TV hukumnya <span style="text-decoration: underline;">wajib</span>.</p>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<p>http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=342586</p>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
Jika demikian hukum menonton TV –menurut al Albani- di zaman beliau padahal beliau tinggal di Yordania, lalu bagaimana dengan hukum menonton TV saat ini di negeri kita??!!<br />
Fatwa di atas mengisyaratkan bahwa al Albani tidak mengharamkan gambar bergerak yang tentu ada di layar TV.</p>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1262&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-menonton-televisi-di-zaman-ini/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Bermain Play Station (PS)</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 20:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Play station]]></category>
		<category><![CDATA[PS]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islam]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1260</guid>
		<description><![CDATA[Alat-alat di atas baik TV, video ataupun yang lainnya pada asalnya adalah alat-alat yang netral, bisa digunakan untuk hal-hal yang baik ataupun hal-hal yang buruk, untuk taat ataupun untuk maksiat. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hukum Menjual TV, Video dan PS</strong><br />
لدي محل أجهزة كهربائية ، فهل يجوز أن أبيع أجهزة التلفاز والفيديو وأجهزة ( البلايستيشن ) والاسطوانات الخاصة به ، مع العلم أنني لا أعرف لأي غرض ستستخدم هذه الأجهزة ؟<br />
Pertanyaan, “<em>Aku memiliki toko yang menjual alat-alat elektronik. Apakah aku boleh menjual TV, video dan PS (Playstation) serta CD khusus untuk PS? Aku tidak mengetahui untuk tujuan apakah alat-alat ini dipergunakan</em> oleh pembeli”.<span id="more-1260"></span><br />
الحمد لله<br />
هذه الأجهزة من التلفاز والفيديو وغيرها &#8211; مما يستعمل في الخير والشر ، والطاعة والمعصية، لكن يغلب اليوم استعمالها في الشر، من رؤية النساء العاريات ، وسماع اللهو واللغو والباطل من الموسيقى وغيرها- . والواجب في مثل هذا أن يعمل الإنسان بما يغلب على ظنه .</p>
<p><strong>Jawaban</strong>, “Alat-alat di atas baik TV, video ataupun yang lainnya pada asalnya adalah <strong>alat-alat yang netral</strong>, bisa digunakan untuk hal-hal yang baik ataupun hal-hal yang buruk, untuk taat ataupun untuk maksiat. Akan tetapi pada hari ini alat-alat tersebut <span style="text-decoration: underline;">lebih dominan</span> dipergunakan <span style="text-decoration: underline;">untuk keburukan</span> baik berupa menonton perempuan telanjang, mendengarkan hal yang terlarang semisal musik atau pun yang lainnya. Dalam kondisi semisal ini kita wajib beramal sebagaimana yang menjadi prasangka kuat kita.<br />
فلا يجوز بيعها إلا لمن عُلم أو غلب على الظن أنه يستعملها في المباح.</p>
<p>Oleh karena itu, tidak diperbolehkan menjual alat-alat tersebut kecuali kepada orang yang kita memiliki prasangka kuat bahwa orang tersebut akan menggunakannya dalam hal yang mubah.<br />
أما من عُلم أو غلب على الظن أنه يستعملها في الحرام ، فلا يجوز بيعها عليه ؛ لقول الله تعالى : ( وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ) المائدة /2 .</p>
<p>Sedangkan orang yang diyakini atau ada prasangka kuat bahwa dia akan menggunakan benda-benda tersebut dalam hal yang haram maka tidak boleh menjual benda tadi kepadanya mengingat firman Allah yang artinya, “<em>Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran</em>” (QS al Maidah:2).<br />
جاء في فتاوى اللجنة الدائمة : &#8221; كل ما يستعمل على وجه محرم ، أو يغلب على الظن ذلك ، فإنه يحرم تصنيعه واستيراده وبيعه وترويجه بين المسلمين&#8221; اهـ  فتاوى اللجنة الدائمة  (13/109(</p>
<p>Dalam Fatawa al Lajnah al Daimah 13/109 disebutkan, “Segala benda yang dipergunakan untuk hal yang haram atau ada prasangka kuat untuk hal yang haram maka <strong>haram </strong>hukumnya memproduksi barang tersebut. Demikian pula mengimpornya, menjualnya dan memasarkannya di antara kaum muslimin”.<br />
وسئلت اللجنة الدائمة للإفتاء ، ما نصه : أنا أعمل مهندس إلكترونيات ، ومن عملي إصلاح الراديو والتليفون والفيديو ومثل هذه الأجهزة ، فأرجو إفتائي عن الاستمرار في هذه الأعمال ، مع العلم أن ترك هذا العمل يفقدني كثيرا من الخبرة ومن مهنتي التي تعلمتها طوال حياتي ، وقد يقع علي ضرر خلال تركها</p>
<p>Al Lajnah al Daimah lil Ifta mendapatkan pertanyaan dengan teks sebagai berikut, “Aku adalah sarjana elektro. Aku bekerja menservis radio, TV, video dan alat-alat semisal. Aku berharap mendapatkan fatwa tentang terus menerus bekerja seperti ini. Perlu diketahui jika aku meninggalkan pekerjaanku ini aku akan kehilangan banyak dari kemampuanku dan berarti aku kehilangan profesi yang telah kupelajari sepanjang hidupku. Aku akan mendapatkan banyak masalah jika meninggalkan pekerjaan tersebut”.<br />
فأجابت : &#8221; دلت الأدلة الشرعية من الكتاب والسنة أنه يجب على المسلم أن يحرص على طيب كسبه، فينبغي لك أن تبحث عن عمل يكون الكسب فيه طيبا. وأما الكسب من العمل الذي ذكرته فهذا ليس بطيب؛ لأن هذه الآلات تستعمل غالبا في أمور محرمة&#8221; اهـ . فتاوى اللجنة الدائمة (14/420(</p>
<p>Jawaban al Lajnah, “Terdapat banyak dalil dari al Qur’an dan sunah yang menunjukkan bahwa seorang muslim berkewajiban untuk mencari pekerjaan yang halal. Sehingga sepatutnya anda mencari pekerjaan lain yang halal. Sedangkan pekerjaan sebagaimana yang anda ceritakan bukanlah pekerjaan yang halal karena <span style="text-decoration: underline;">alat-alat tersebut pada umumnya dipergunakan untuk hal-hal yang haram</span>” (Fatawa al Lajnah al Daimah 14/420).<br />
وأما (البلايستيشن ) وأقراصه ، فله الحكم السابق نفسه ، فيجوز بيعه على من غلب على الظن أن يستعمله استعمالاً مباحاً ، ويحرم بيعه على من غلب على الظن أنه يستعمله استعمالاً محرماً .</p>
<p>Sedangkan PS (Play station) dan CD-nya hukumnya sama dengan hukum masalah di atas. Sehingga boleh dijual kepada orang yang kita memiliki prasangka kuat bahwa orang tersebut akan menggunakannya dalam hal yang mubah. Haram hukumnya menjual benda tersebut kepada orang yang kemungkinan besar akan menggunakannya dalam hal yang haram.<br />
وكثير من الناس الآن يستعمله استعمالاً محرماً ، فبدلاً من أن يكون الترفيه شيئاً عارضاً يفعله الإنسان إذا احتاج إليه ، صار الترفيه هو الأصل عند كثير من الناس ، فينفق فيه كثيراً من عمره وماله وجهده ما بين اللعب بنحو هذه الألعاب ، والذهاب إلى النوادي وحمامات السباحة ، والسفر والجلوس مع الأصحاب ، والذهاب إلى المنتزهات &#8230;إلخ .</p>
<p>Banyak orang menggunakan PS dengan penggunaan yang haram. Seharusnya hiburan itu seperlunya, dilakukan jika memang dibutuhkan. <span style="text-decoration: underline;">Namun ternyata menurut banyak orang isi pokok hidup adalah hiburan</span>. Banyak orang menghabiskan banyak waktu, harta dan tenaganya di depan PS atau semisalnya. Jika tidak, mereka pergi ke tempat-tempat nongkrong, kolam renang, jalan-jalan dan duduk santai dengan kawan, pergi ke tempat-tempat wisata dan semisalnya.<br />
وكثير ممن يستعمل البلايستيشن أو نحوه من الألعاب يضيع بسببه الصلوات ، وينشغل به عن كثير من مصالح دينه ودنياه ، مما يجعلنا نجزم بتحريمه على أمثال هؤلاء .</p>
<p>Banyak orang yang main PS atau alat permainan semisalnya karena sebab PS melalaikan kewajiban shalat lima waktu dan tidak melakukan hal-hal bermanfaat secara agama ataupun dunia. Dengan alasan-alasan tersebut kami berani menegaskan haramnya bermain PS bagi orang-orang semisal di atas.<br />
وأما من يقدر الأمور حق قدرها ، ويلعب بهذه الألعاب قليلاً من الوقت للترويح عن النفس ، ولا يضيع بسببها شيئاً من الواجبات ولا مصالح دينية أو دنيوية ، ومع خلو هذه الألعاب من المنكرات كالموسيقى وصور النساء العاريات ونحو ذلك فلا حرج في ذلك إن شاء الله تعالى .</p>
<p>Adapun orang yang bisa bersikap proporsional, hanya sejenak saja bermain PS dengan tujuan mencari hiburan, PS tidak menyebabkan melalaikan kewajiban dan melakukan hal-hal bermanfaat secara agama ataupun dunia ditambah PS tersebut bebas dari berbagai kemungkaran semisal musik, gambar wanita telanjang maka bermain PS untuk orang yang memenuhi kriteria di atas itu <span style="text-decoration: underline;">tidak masalah</span>, <em>insya Allah</em>.<br />
والأجدر بالمسلم أن يحرص على كسب المال الحلال الذي لا شبهة فيه ، وليتذكر قول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( كل جسد نبت من سحت فالنار أولى به ) . رواه الطبراني وصححه الألباني في صحيح الجامع (4519) .</p>
<p>Yang terbaik bagi seorang muslim adalah berusaha untuk mencari pekerjaan halal yang tidak ada subhat di dalamnya. Hendaknya kita selalu ingat dengan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “<em>Semua bagian badan yang tumbuh dari harta yang haram maka api neraka itulah yang lebih baik untuknya</em>” (HR Thabrani dan dinilai sahih oleh al Albani dalam Shahih al Jami’ no 4519).</p>
<p><strong>Sumber</strong>:</p>
<p>http://islamqa.com/ar/ref/39744/%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85</p>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1260&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sufi Ingin Mengembara karena-Nya</title>
		<link>http://ustadzaris.com/hukum-mengembara-karenanya</link>
		<comments>http://ustadzaris.com/hukum-mengembara-karenanya#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 20:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[mengembara]]></category>
		<category><![CDATA[sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=1245</guid>
		<description><![CDATA[“Berjalanlah kalian di muka bumi baik ke sana maupun kemari dengan penuh rasa aman tanpa perlu merasa takut dari gangguan rasulullah dan orang-orang yang mengikutinya” (Tafsir ath Thabari 6/309).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam bahasa Arab mengembara diistilahkan dengan <em>siyahah</em>. Menurut tinjauan bahasa <em>siyahah </em>bermakna mengadakan perjalanan di muka bumi (<em>at Tahrir wat Tanwir </em>karya Ibnu Asyur 6/106).<span id="more-1245"></span><br />
Sebagaimana firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">فَسِيحُوا فِي الْأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ</p>
<p>Yang artinya, “<em>Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan</em>” (QS at Taubah:2).<br />
Tentang makna ayat ini ath Thabari mengatakan, “Berjalanlah kalian di muka bumi baik ke sana maupun kemari dengan penuh rasa aman tanpa perlu merasa takut dari gangguan rasulullah dan orang-orang yang mengikutinya” (Tafsir ath Thabari 6/309).</p>
<p>Di kitab Lisan al Arab disebutkan bahwa makna <em>siyahah </em>adalah &#8220;<em>meninggalkan tempat kediaman untuk bepergian di muka bumi</em>”.</p>
<p>Demikianlah makna siyahah dalam bahasa Arab. Makna ini kemudian mengalami penyempitan. Istilah siyahah digunakan untuk kegiatan mengembara yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Nasrani dan yang lainnya. Mereka jauhi interaksi dengan masyarakat dengan mengembara di berbagai padang pasir dan pegunungan dalam rangka menyendiri dan mencari tempat sepi untuk beribadah kepada Allah.</p>
<p>Dalam kitab Lisan Arab sampai disebutkan bahwa pengertian <em>siyahah </em>adalah mengembara dengan tujuan beribadah.<br />
Mengembara dengan tujuan semacam ini lalu dijadikan oleh orang-orang sufi sebagai bagian dari ajaran Islam padahal Islam tidak pernah mengajarkannya. Pada akhirnya mengembara semacam ini menjadi simbol bagi orang-orang yang hendak konsentrasi penuh beribadah kepada Allah. Orang yang punya niat semacam itu diperintahkan oleh orang-orang sufi agar meninggalkan masyarakat dan mengembara ke berbagai tempat. Mereka tinggalkan kewajiban melaksanakan shalat Jumat dan jamaah dengan kedok membersihkan diri dari cinta dunia.</p>
<p>Para ulama pun mengingatkan umat bahaya hal ini. Suatu hal yang dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam padahal bukan.</p>
<p>Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Mengembara ke tempat tertentu tanpa tujuan yang disyariatkan oleh Islam sebagimana yang dilakukan oleh para ahli ibadah adalah <strong>perkara yang terlarang</strong>. Imam Ahmad mengatakan, ‘<em>Mengembara itu sama sekali bukanlah ajaran Islam, bukan pula prilaku para nabi dan orang-orang yang shalih</em>” (Majmu Fatawa 10/643).</p>
<p>Beliau juga mengatakan, “Islam tidak mengajarkan kepada kita untuk pergi ke berbagai goa yang ada di gunung, tidak pula menyepi di berbagai goa. Yang diajarkan oleh Islam adalah i’tikaf di masjid. Itulah yang ada ajarannya dalam Islam” (Majmu Fatawa 27/500).</p>
<p>Ibnul Jauzi mengatakan, “Tipuan Iblis kepada orang-orang dengan menjadikan bepergian dan mengembara sebagai ibadah. Iblis telah berhasil menipu <span style="text-decoration: underline;">banyak orang sufi</span>. Akhirnya mereka mengembara tanpa ada tujuan yang jelas dan bukan pula untuk menuntut ilmu. Mayoritas orang sufi berkelana sendirian tanpa membawa bekal sedikit pun. Mereka mengklaim bahwa itulah tawakkal.</p>
<p>Betapa banyak amal sunnah dan amal wajib yang mereka tinggalkan. Sayangnya mereka beranggapan bahwa mengembara itu sebuah ketaatan dan mempercepat mereka untuk menjadi wali. Padahal sebenarnya yang mereka lakukan adalah maksiat dan menyelisihi ajaran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mengembara tanpa ada tempat tertentu yang dituju itu termasuk dalam larangan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>untuk bepergian tanpa ada keperluan” (Talbis Iblis hal 420).</p>
<p>Dalam Adab Syar’iyyah 1/431, Ibnu Muflih membuat sub bab dengan judul ‘<em>terlarangnya berkelana tanpa ada tempat yang dituju dan tanpa tujuan yang dibenarkan oleh syariat</em>’.</p>
<p>Boleh jadi asal muasal timbulnya bidah yang dilakukan oleh orang sufi ini adalah salah faham dengan maksud dari dua ayat dalam al Qur’an yang memuji <em>sa-ihin fi ardhi </em>yang jika dimaknai secara bahasa bisa berarti orang yang bepergian di muka bumi.</p>
<p>Dalam ayat pertama Allah memuji orang-orang yang beriman dengan firmanNya,</p>
<p style="text-align: center;">التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ <span style="text-decoration: underline;">السَّائِحُونَ </span>الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآَمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ</p>
<p>“<em>Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku&#8217;, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma&#8217;ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu</em>” (QS at Taubah:112).</p>
<p>Dalam terjemah Depag RI terdapat penjelasan tentang yang dimaksud dengan orang-orang yang melawat adalah orang yang melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad. Ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa.<br />
Dalam ayat yang lain Allah berfirman pada para istri Nabi dengan mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ <span style="text-decoration: underline;">سَائِحَاتٍ </span>ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا</p>
<p>“<em>Jika Nabi menceraikan kamu, boleh Jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan</em>” (QS at Tahrim:5).</p>
<p>Orang-orang sufi beranggapan bahwa yang dimasud dengan <em>sa-ihin</em> dan <em>sa-ihat </em>yang ada dalam dua ayat di atas adalah berkelana ke padang pasir dan gunung-gunung agar bisa menyendiri dan konsentrasi beribadah kepada Allah.</p>
<p>Tentang makna istilah di atas ahli tafsir bersilang pendapat. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah jihad, ada juga yang mengatakan maknanya adalah puasa. Sedangkan Ibnul Qoyyim mengambil jalan tengah dalam menyikapi perbedaan pendapat ini.</p>
<p>Beliau mengatakan, “<em>Siyahah </em>dalam ayat ini ada yang menafsirkan dengan puasa, bepergian untuk menuntut ilmu, jihad dan terus-menerus dalam ketaatan. Setelah melakukan telaah bisa kita simpulkan bahwa yang dimaksudkan adalah <span style="text-decoration: underline;">perjalanan hati untuk mengingat Allah, mencintai, kembali dan rindu berjumpa dengan Allah</span>. Pada gilirannya semua pendapat yang ada tentang ayat ini tercakup dalam simpulan di atas.</p>
<p>Oleh karena itu, Allah katakan bahwa jika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>mencerai istri-istrinya maka akan Allah gantikan untuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>wanita yang memiliki sifat sa-ihat. Kita tahu bahwa istri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>tentu tidak berjihad, berkelana untuk menuntut ilmu, tidak pula terus menerus berpuasa. Oleh karena itu yang dimaksudkan adalah hati yang berkelana untuk mencintai Allah, merasa takut kepada-Nya, kembali dan mengingat Allah.</p>
<p>Dalam at Taubah 112 Allah menggandeng istilah taubat dengan ibadah karena taubat adalah meninggalkan amal yang Allah benci sedangkan ibadah adalah melakukan amal yang Allah cintai.</p>
<p>Allah juga menggandeng istilah ‘<em>alhamdu</em>’ dan siyahah. Sebabnya adalah dikarenakan <em>alhamdu </em>adalah menyanjung Allah dengan menyebutkan sifat-sifat sempurna yang Dia miliki. Inilah pengembaraan lisan untuk mengingat Allah dengan dzikir yang terbaik. Sedangkan <em>siyahah </em>adalah pengembaraan hati untuk mencintai, mengingat dan mengagungkan Allah.<br />
Dalam at Tahrim ayat 5 Allah menggandengkan ibadah dengan siyahah. Ibadah yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah <span style="text-decoration: underline;">ibadah badan</span>. Sedangkan yang dimaksud dengan <em>siyahah </em>adalah<span style="text-decoration: underline;"> ibadah hati </span>(<em>Hadil Arwah</em> hal 109-110).</p>
<p>[Diringkas dari Ahkam as Siyahah hal 10-15 karya Syeikh Abdullah al Jibrin].</p>
<img src="http://ustadzaris.com/?ak_action=api_record_view&id=1245&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadzaris.com/hukum-mengembara-karenanya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
