Cadar dalam Kitab-Kitab NU (3)

Di antara kitab dasar untuk belajar fiqh Syafii adalah Matan al Taqrib atau Matan Abi Syuja’ karya Ahmad bin al Husain yang terkenal dengan sebutan Abu Syuja’. Syarh ringkas untuk matan Abi Syuja’ yang umum dipakai dan dipegang oleh para ustadz atau kyai NU adalah buku yang berjudul Fath al Qorib al Mujib karya Syaikh Muhammad bin Qasim al Ghazzi.

Ketika membahas syarat-syarat sah shalat dalam Fath al Qorib al Mujib hal 13 disebutkan sebagai berikut:

(و)الثاني (ستر) لون (العورة) عند القدرة ولو كان الشخص خاليا أو في ظلمة فإن عجز عن سترها صلى عاريا ولا يومئ بالركوع والسجود بل يتمهما ولا إعادة عليه.

(Dan) syarat sah shalat yang kedua adalah (menutupi) warna kulit dari (aurat) ketika memungkinkan meski sendirian atau pun shalat dikerjakan di dalam kegelapan. Jika seorang itu tidak mampu menutupi auratnya ketika hendak shalat hendaknya dia tetap shalat meski dalam kondisi telanjang. Ruku dan sujud ketika shalat dalam kondisi telanjang tidaklah dilakukan dengan isyarat namun dikerjakan secara sempurna sebagaimana dalam kondisi normal. Shalat yang dikerjakan dalam kondisi telanjang karena tidak memungkinkan itu sah sehingga tidak perlu diulangi ketika kondisi normal.

ويكون ستر العورة (بلباس طاهر)

Pakaian yang dipergunakan untuk menutup aurat haruslah (pakaian yang suci).

ويجب سترها أيضا في غير الصلاة عن الناس وفي الخلوة إلا لحاجة من اغتسال ونحوه.

Wajib hukumnya menutupi aurat meski di luar shalat dari pandangan orang. Demikian pula wajib menutupi aurat meski sendirian kecuali ketika ada keperluan semisal mandi.

وأما سترها عن نفسه فلا يجب لكنه يكره نظره إليها.

Adapun menutupi aurat sehingga tidak terlihat oleh diri sendiri itu tidak wajib namun makruh hukumnya memandangi aurat sendiri.

وعورة الذكر ما بين سرته وركبته وكذا الأمة.

Aurat laki-laki adalah antara pusar sampai lutut. Demikian pula aurat budak perempuan.

وعورة الحرة في الصلاة ما سوي وجهها وكفيها ظاهرا وباطنا إلى الكوعين.

Aurat wanita merdeka di dalam shalat adalah seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan baik bagian atas ataupun bagian dalam telapak tangan hingga pergelangan tangan.

وأما عورة الحرة خارج الصلاة فجميع بدنها.

Sedangkan aurat wanita merdeka di luar shalat adalah seluruh badannya.

وعورتها في الخلوة كالذكر.

Aurat perempuan merdeka ketika sendirian adalah sebagaimana aurat laki-laki.

والعورة لغة النقص

Dalam bahasa Arab, aurat artinya adalah kekurangan.

وتطلق شرعا على ما يجب ستره وهو المراد هنا وعلى ما يحرم نظره وذكره الأصحاب في كتاب النكاح.

Sedangkan secara syariat memiliki dua pengertian a) bagian tubuh yang wajib ditutupi dan itulah yang dimaksud dengan aurat dalam topik bahasan ini b) bagian tubuh yang haram dipandangi oleh orang lain. Aurat dengan makna kedua ini disebutkan oleh para ahli fikih dalam bab nikah.

Catatan:

Yang ada di dalam kurung adalah perkatan penulis matan Abi Syuja’. Sedangkan yang berada di luar tanda kurung adalah perkataan penulis Fath al Qorib al Mujib.

Jelaslah dari kutipan di atas bahwa penulis kitab Fath al Qorib al Mujib yang merupakan syarah ringkas untuk Matan Abi Syuja’ berpendapat bahwa muslimah itu wajib bercadar secara sempurna sehingga matanya sekalipun tidak terlihat. Demikian pula telapak kaki adalah aurat yang wajib ditutupi. Namun mengapa kita tidak pernah melihat ibu-ibu atau mbak-mbak dari Muslimat NU yang memakai kaos kaki atau cadar –misalnya- dalam rangka menutupi aurat.
Dalam kutipan di atas juga terdapat pelajaran penting tentang syarat pakaian muslim dan muslimah. Syarat sebuah pakaian adalah bisa menutupi warna kulit orang yang memakainya alias tidak tembus pandang (baca:transparan).
Sehingga pakaian yang ‘nrawang’ sehingga terlihat dan diketahui apa warna kulit pemakainya misal kuning atau sawo matang, bukanlah pakaian yang memenuhi kriteria.

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 8
  • ” Namun mengapa kita tidak pernah melihat ibu-ibu atau mbak-mbak dari Muslimat NU yang memakai kaos kaki atau cadar –misalnya- dalam rangka menutupi aurat.”
    Barangkali sebagian besarnya memang belum mengetahui hukumnya secara detail. Yang paling bertanggung jawab menjelaskan tentu saja para kyai yang petuahnya memang memiliki pengaruh di dalam jiwa para pengikutnya. Guru saya, seorang kyai NU pemilik ponpes dengan santri berjumlah ratusan, dahulu masih terlihat kulit leher istrinya. Sekarang Allohu a’lam. Kalau istrinya saja belum dikasih tahu, apalagi orang lain?
    Kasus lain, waktu saya belajar kitab di atas, seingat saya terdapat penjelasan tentang larangan mengapur (semen), menulisi dan meninggikan kubur. Juga larangan alat musik. Tapi saya belum pernah mendengar sekalipun dari mulut para kyai yang menyampaikan kepada ummat.
    Allohul musta’an.

  • mas, saya pikir bukan masalah kiai itu tidak paham. ketika menjelaskan tentang pakaian dalam shalat, aturan yang digunakan adalah ketertutupan aurat sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama. sedangkan pakaian di luar shalat, batasan aurat itu adalah masalah perbedaan budaya. jelas banget kok dalam al-qur’an sebab musabab ayat hijab, khimar, dan jilbab.
    pakaian di luar shalat yang benar adalah pakaian yang menutupi bagian-bagian tubuh yang tidak seharusnya terlihat sesuai dengan nilai agama dan kesepakatan masyarakat. nah, kalau telanjang itu dianggap normal, baru itu yang salah.
    coba lihat istrinya KH Ahmad Dahlan, gak berjilbab tho. istrinya KH Hasyim Asy’ari juga ndak berjilbab. berkerudung ala indonesia aja. jilbab digaungkan juga baru-baru ini sekitar tahun 1980an ketika iran menang revolusi.

  • zakkiy 8 years ago

    tolong di komentari lagi ustadz, sudah jelas2 disebutkan di atas, namun istilah budaya masih juga dikaburkan dalam hukum cadar, seperti halnya komentar terakhir tadi, begitu juga dengan yang kami alami,

  • wah nambah ilmu pak ustadz

  • Abu ayu 7 years ago

    Mas ade: jika agama ini harus mengikuti aturan budaya atau kesukaan banyak orang, niscaya rusaklah agama ini. jadi anda jangan terbalik, yang seharusnya adalah budaya yang mengikuti syariat, bukan syariat yang mengikuti budaya. pebuatan manusia di atur oleh wahyu, bukan wahyu yang diatur oleh perbuatan manusia.

  • jazakallah khoiron ustadz banyak faedah yang dapat kami ambil, tolok ukur syariat / alhaq itu bukanlah pd tokoh – tokoh tertentu akan tetapi… berdasarkan kecocokan dengan alqur’an dan sunnah diatas pemahaman para sahabat rodhiallahuanhum ( salafush sholeh )

  • marlia sugiarti 7 years ago

    saya sudah bercadar selama 2 bulan lebih dan ibu saya selalu membanding-bandingkan dengan istri-istri para ustadz “ah, istri ustadz aja gak pake cadar!”, saya butuh hujjah yang kuat tentang cadar ini. jazakalloh khoiron katsir

  • iya, dulu banget pernah diadakan kajian kitab fiqih di rumah, cuma saya gak tau nama kitabnya. Waktu itu juga disebutkan kalau aurat wanita ketika diluar rumah adalah seluruh tubuhnya. Tapi anehnya sang ustadz malah bilang kalo cadar adalah budaya arab?