Cadar dalam Kitab-Kitab NU (2)

Syarh ‘Uqud al Lajjiin fi Bayan Huquq al Jauzain karya Syarh Muhammad bin Umar Nawawi al Jawi adalah buku wajib santri NU yang ingin mewujudkan keluarga sakinah dalam rumah tangganya. Di dalamnya terdapat beragam nasihat untuk suami dan istri sehingga buku ini “wajib” dikaji oleh santri atau santriwati yang hendak menikah.

Sebatas pengetahuan saya penulis matan Uqud al Lajjiin yang bermakna untaian perak adalah anonim alias tidak diketahui secara pasti.

Di antara yang menarik di buku ini adalah bahasan tentang aurat wanita muslimah menurut penulis matan dan pen-syarah-nya.

Di halaman ke-3 baris ke-7 dari atas menurut cetakan dari penerbit Syarikah an Nur Asia (tanpa dicantumkan tahun terbit dan alamat penerbit) disebutkan sebagai berikut:

(الفصل الثاني في) بيان (حقوق الزوج) الواجبة (على الزوجة) و هي طاعة الزوج في غير معصية وحسن المعاشرة وتسليم نفسها إليه وملازمة البيت وصيانة نفسها من أن توطيء فراشه غيره و الاحتجاب عن رؤية أجنبي لشيء من بدنها ولو وجهها وكفيها إذ النظر إليهما حرام ولو مع اتفاء الشهوة والفتنة …

“(Fasal kedua itu berisi) penjelasan (mengenai hak-hak suami) yang menjadi kewajiban (istri). Hak-hak tersebut adalah:
1. mentaati suami selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat
2. memperlakukan suami dengan baik
3. menyerahkan dirinya kepada suami (jika suami mengajak untuk berhubungan badan, pent)
4. betah di rumah
5. menjaga diri jangan sampai ada laki-laki selain suaminya berada di tempat tidur suaminya
6. berhijab sehingga tidak ada satupun bagian tubuhnya yang terlihat oleh laki-laki ajnabi termasuk di antaranya adalah wajah dan kedua telapak tangannya karena adalah haram hukumnya seorang laki-laki melihat wajah dan telapak tangannya meski pandangan tersebut tanpa diiringi syahwat dan tidak dikhawatirkan adanya pihak-pihak yang tergoda…”

Catatan:
Yang ada di dalam kurung adalah perkataan penulis matan. Sedangkan yang diluar dalam kurung adalah perkataan Syaikh Muhammad bin Umar an Nawawi al Bantani, pensyarah matan Uqud al Lajjiin.

Di halaman 17 baris ke-9 dari bawah penulis matan berkata sebagaimana berikut ini:

(فيجب علي المرأة إذا أرادت الخروج أن تستر جميع بدنها ويديها من أعين الناظرين)

“Wajib atas perempuan muslimah jika hendak keluar rumah untuk menutupi semua badannya termasuk kedua telapak tangannya agar tidak terlihat mata para laki-laki yang melihat dirinya”.

Berdasarkan dua kutipan di atas jelaslah bahwa wajibnya seorang muslimah menutup seluruh badannya ketika bertemu lelaki ajnabi adalah pendapat penulis matan Uqud al Lajjain sebagaimana dalam kutipan kedua, sekaligus pendapat Syaikh Muhammad bin Umar al Jawi sebagaimana dalam kutipan pertama.

Bahkan di halaman 18 baris ke-9 dari bawah an Nawawi al Jawi al Bantani mengklaim adanya ijma’ amali (kesepakatan secara praktek nyata) bahwa muslimah itu bercadar ketika berada di luar rumah. Beliau mengatakan,

إذ لم يزل الرجال على ممر الزمان مكشوفي الوجوه والنساء يخرجن متنقبات

“Tidak henti-henti sepanjang zaman (umat Islam, pent) bahwa laki-laki itu keluar rumah dalam keadaan tidak bercadar sedangkan kaum wanita itu bercadar jika mereka keluar dari rumah”.

Jadi umat Islam tidak pernah mengenal dan tidak pernah tercatat dalam sejarah umat Islam sampai masa Syaikh Muhammad bin Umar an Nawawi al Jawi al Bantani adanya seorang wanita muslimah yang bukan budak keluar rumah dalam keadaan wajahnya terbuka.

Sungguh sangat aneh jika ada kaum nahdhiyyin yang lupa bahwa bercadar bagi wanita adalah ajaran resmi nahdhiyyin sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab dasar yang diajarkan kepada santri pemula dan orang-orang awam. Bahkan beranggapan bahwa cadar bagi muslimah hanya sekedar budaya Arab Saudi dan tidak ada dalam ajaran Islam. Memang benar, ilmu itu akan terjaga jika di amalkan bukan hanya sekedar diteorikan.

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 14
  • Abu Mufidah Al-Buyulaliy Al-Balik 8 years ago

    Barakallahufyk ustadz…

  • “Bahkan beranggapan bahwa cadar bagi muslimah hanya sekedar budaya Arab Saudi dan tidak ada dalam ajaran Islam.”
    Inilah salah satu yg saya pertanyakan termasuk beberapa waktu lalu ada salah seorang syaikh dari univ. Al Azhar yg melarang mahasiswinya memakai cadar karena cadar bukan ajaran Islam. Lalu bila ada muslimah di Indonesia yg bercadar maka lantas org2 disini akan langsung berkata penampilan spt teroris atau wahabi. Ternyata oh ternyata, masalah cadar pun ada didalam kitab Syaikh Nawawi al Bantani bahkan diwajibkan menurut beliau.
    Ustadz Aris membahas kitab2 NU. Tp pernah ga ya saudara2 kita di NU sekaliiiii saja membuka kitab At-Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab?

  • karpet refleksi 8 years ago

    pokoknya….. ngga mau sama dengan wahabi ^ ^
    apalagi kalo udah dikomporin sama orang2  JIL    ‘alumni’   NU

  • Setuju ama akh karpet refleksi, kiranya klo udh menyangkut kata “wahabi” seolah menjadi momok yg menakutkan bagi saudara2 NU dan mereka berusaha keras untuk menyelisihi wahabi dalam segala hal sampe2 menyelisihi syaikh Nawawi panutan mereka. Pokoke apa yg ada didalam kepala mereka,”jgn sampe aku dibilang wahabi…”
     
    Saya kok jadi penasaran ya dengan syaikh Nawawi ini? Adakah dia sebenarnya beraqidah salaf?

  • ustadzaris 8 years ago

    untuk tommi
    beliau berakidah asy’ari-rahimahullahu-. mudah-mudahan dilain waktu bisa kita bahas.

  • ustadz aris,
    disebabkan ada sebagian masyarakat islam di indonesia yang masih “mempertanyakan” untuk tidak menyebut memvonis teroris, wahabi, salafi, dll., adakah jalan tengah yang dapat dilakukan untuk masa kini dalam hal cadar, ustadz?
    jazakumullah khayr.

  • ustadzaris 8 years ago

    untuk fadli
    solusinya adalah dengan memasyarakatkan cadar.

  • ainain 8 years ago

    @Ust Aris
    Gimana kalau kita memasyarakatkan gamis ustadz ?
     
    Supaya tidak dianggap “aneh” lagi dimata masyarakat kita, boleh gak ?
     
    Apa masih jadi pakain syuhroh ?

  • ustadzaris 8 years ago

    untuk ain
    selama dianggap ‘aneh’ maka berstatus pakaian syuhroh yang makruh untuk dipakai. setelah tidak lagi dianggap aneh maka sudah tidak lagi menjadi pakaian syuhroh.

  • rizki m 8 years ago

    untuk guruku ustadz aris:
    assalamualaikum
    saya rasa gamis bukan pakaian syuhroh lagi di Indonesia, karena saudara kita dari sabang sampai merauke sudah tahu bahwa gamis adalah pakaian kaum muslimin. buktinya, banyak saudara kita muslim yang memakai gamis, bahkan artis – artis pun memakai gamis.
    pernyataan saya ini merupakan inti sari dari jawaban salah seorang ustadz salafy ketika ditanya masalah gamis…
     

  • ustadzaris 8 years ago

    untuk rizki
    Wa’alaikumussalam
    Demikian pendapat beliau, saya hormati pendapat beliau.
    Namun yang saya nilai lebih tepat adalah pendapat Ustadz Abdullah Zein di buku beliau 14 Contoh Sikap Hikmah dalam Dakwah yang merinci masalah ini. Tolong baca buku tersebut.

  • wong ndeso 8 years ago

    Ustadz, saya pernah dengar ceramah ustadz yang mantan nyantri di pesantren tambak beras, jombang, punyanya pamannya gus dur
    setelah keluar itu beliau didoktrin dengan 3 hal :
    1. hati-hati dengan ibnu taimiyah, karena beliau adalah khawarij
    2. hati-hati dengan ibnul qayim, karena beliau adalah rafidhah
    3. hati-hati dengan syaikh muhammad bin abdul wahab, karena beliau adalah wahabi..
    makanya orang-orang lulusan pesantren NU tersebut sangat anti dengan tokoh-tokoh diatas,
    sehingga jika ada orang yang pergi haji, sebelumnya juga sudah diwanti-wanti, awas, saudi itu negeri wahabi,…
    mudah2an saja banyak dari saudara kita dari NU yang menyadari kekeliruan doktrin diatas, sehingga bisa kembali ke jalan yang benar…

  • marlia sugiarti 7 years ago

     
    setuju dengan pengomentar kedua dari halaman ini. saya pun belum pernah melihat istri-istri para ustadz NU yg memakai cadar. ya intinya karena hal ini saya jadi sulit menjawab ketika ibu saya menentang keras cadar saya. hmmm…I see now. syukron ustadz. tapi untuk gamis kayanya udah gak aneh ya…dan banyak juga kok sekarang ibu-ibu atau remaja yang bergamis. tapi tergantung domisilinya juga kali ya..

  • Ibnu Marwadi 6 years ago

    Faidah:
    Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Bantani asy-Syafi’i juga berkata,
    “Dan wanita merdeka memiliki 4 aurat, yaitu:
    1. Seluruh badannya kecuali muka & telapak tangannya, baik luar maupun dalam. Ini adalah auratnya ketika shalat. Maka wajib baginya menutupnya tatkala shalat sampai kedua lengan, rambut & kedua telapak kakinya,
    2. Antara pusar & lututnya ketika sendirian, di hadapan laki-laki mahramnya dan wanita mukminah,
    3. Seluruh badannya kecuali yg biasa nampak ketika bekerja. Ini juga auratnya di hadapan wanita kafir, dan
    4. Seluruh badannya, sampai kukunya. Ini adalah auratnya di hadapan laki-laki asing (bukan mahram). Maka, laki-laki asing diharamkan melihat sesuatu pun darinya, dan wajib bagi wanita menutupinya.
    Dan seorang remaja dalam hal itu sama dengan laki-laki dewasa, maka wajib bagi walinya melarangnya dari melihat kepada wanita asing (bukan mahram), dan wajib menutupinya darinya.
    Juga, yang seperti wanita seperti itu adalah amrad (anak kecil, belum tumbuh kumis/ jenggot) yg berwajah tampan. Dan banci (seorang yg kelaminnya samar-samar, apakah laki-laki atau perempuan) hukumnya seperti wanita dalam mas-alah yang telah diterangkan di atas.”
    [Nihayatuz-Zain fi Irsyadil Mubtadi-in syarh Qurrotil ‘Ain, hal. 58, cet. pertama. Jakarta: Darul Kutub al-Islamiyah]
    Allohu Ta’aalaa a’lam*