<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Bolehkah Meminta Diruqyah?</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/bolehkah-meminta-diruqyah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-meminta-diruqyah</link>
	<description>Cukupkan Diri Dengan Ajaran Nabi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 13:19:38 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<item>
		<title>Oleh: aba aljauzi</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-meminta-diruqyah/comment-page-1#comment-7236</link>
		<dc:creator>aba aljauzi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 14:11:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=819#comment-7236</guid>
		<description>Assalaamu&#039;alaikum Ustadz Aris,

Bagaimana jika kita melihat &lt;em&gt;&lt;strong&gt;org yg sedang kesurupan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, org2 disekitarnya tdk ada yg bisa meruqyah. Jika kita memanggil seorang ustadz utk meruqyah, apakah ini juga termasuk &lt;strong&gt;&lt;em&gt;makruh krn kita meminta seseorang utk meruqyah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;? Dan makruh itu sebaknya dihindari. Bagaimana solusinya ustadz? jazakallahu khoir.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu&#8217;alaikum Ustadz Aris,</p>
<p>Bagaimana jika kita melihat <em><strong>org yg sedang kesurupan</strong></em>, org2 disekitarnya tdk ada yg bisa meruqyah. Jika kita memanggil seorang ustadz utk meruqyah, apakah ini juga termasuk <strong><em>makruh krn kita meminta seseorang utk meruqyah</em></strong>? Dan makruh itu sebaknya dihindari. Bagaimana solusinya ustadz? jazakallahu khoir.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ridho Amrullah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-meminta-diruqyah/comment-page-1#comment-6802</link>
		<dc:creator>Ridho Amrullah</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2011 01:15:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=819#comment-6802</guid>
		<description>Assalammu&#039;alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh,
Dan perlu kita ingat. Jumlah 70.000 orang yang masuk jannah tanpa hisab tersebut bisa dibilang masih ‘koma’, belum ‘titik’. Masih ada kelanjutannya. Nabi SAW bersabda,

وَعَدَنِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعِينَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفًا وَثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ
“Rabbku berjanji kepadaku, untuk memasukkan  tujuhpuluh ribu orang di antara ummatku ke dalam Jannah tanpa hisab dan adzab, setiap seribu membawa tujuhpuluh ribu orang dan tiga cakupan tangan dari cakupan tangan Rabbku.” (HR. Ahmad)
Jika demikian, mengapa masih pesimis? Mari kita lanjutkan perlombaan ini dengan semangat yang baru. &lt;em&gt;Wallahul muwaffiq&lt;/em&gt;.
&lt;a href=&quot;http://www.arrisalah.net/kajian/2011/01/perlombaan-hakiki-dan-hadiah-tak-tertandingi.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;http://www.arrisalah.net/kajian/2011/01/perlombaan-hakiki-dan-hadiah-tak-tertandingi.html&lt;/a&gt;
Syukron,
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalammu&#8217;alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh,<br />
Dan perlu kita ingat. Jumlah 70.000 orang yang masuk jannah tanpa hisab tersebut bisa dibilang masih ‘koma’, belum ‘titik’. Masih ada kelanjutannya. Nabi SAW bersabda,</p>
<p>وَعَدَنِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعِينَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفًا وَثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ<br />
“Rabbku berjanji kepadaku, untuk memasukkan  tujuhpuluh ribu orang di antara ummatku ke dalam Jannah tanpa hisab dan adzab, setiap seribu membawa tujuhpuluh ribu orang dan tiga cakupan tangan dari cakupan tangan Rabbku.” (HR. Ahmad)<br />
Jika demikian, mengapa masih pesimis? Mari kita lanjutkan perlombaan ini dengan semangat yang baru. <em>Wallahul muwaffiq</em>.<br />
<a href="http://www.arrisalah.net/kajian/2011/01/perlombaan-hakiki-dan-hadiah-tak-tertandingi.html" rel="nofollow">http://www.arrisalah.net/kajian/2011/01/perlombaan-hakiki-dan-hadiah-tak-tertandingi.html</a><br />
Syukron,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-meminta-diruqyah/comment-page-1#comment-6794</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 15:19:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=819#comment-6794</guid>
		<description>#eko
1. meruqyah diri sendiri, dianjurkan
2. meruqyah orang lain, dianjurkan
3. minta diruqyah oleh orang lain, makruh</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#eko<br />
1. meruqyah diri sendiri, dianjurkan<br />
2. meruqyah orang lain, dianjurkan<br />
3. minta diruqyah oleh orang lain, makruh</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Eko Juniarso</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-meminta-diruqyah/comment-page-1#comment-6778</link>
		<dc:creator>Eko Juniarso</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 00:11:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=819#comment-6778</guid>
		<description>Assalamualaikum ustadz,
Saya jadi agak bingung karena selama ini saya memahami bahwa &quot;ruqyah syar&#039;iyah&quot; seperti itu adalah cara berobat yang paling benar dan paling dianjurkan untuk menghindari syirik.
jika itupun makruh, lalu ruqyah/pengobatan yang dianjurkan/benar sesuai tuntunan itu yang seperti apa? Jika penyakit medis mungkin kita masih bisa berobat ke dokter. namun bagaimana jika penyakit itu non medis (kiriman,dll)?
Bagaimana ikhtiar yang tepat untuk mencari asbab kesembuhan?
Syukron.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum ustadz,<br />
Saya jadi agak bingung karena selama ini saya memahami bahwa &#8220;ruqyah syar&#8217;iyah&#8221; seperti itu adalah cara berobat yang paling benar dan paling dianjurkan untuk menghindari syirik.<br />
jika itupun makruh, lalu ruqyah/pengobatan yang dianjurkan/benar sesuai tuntunan itu yang seperti apa? Jika penyakit medis mungkin kita masih bisa berobat ke dokter. namun bagaimana jika penyakit itu non medis (kiriman,dll)?<br />
Bagaimana ikhtiar yang tepat untuk mencari asbab kesembuhan?<br />
Syukron.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ana Muslimah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-meminta-diruqyah/comment-page-1#comment-6733</link>
		<dc:creator>Ana Muslimah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2011 15:59:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=819#comment-6733</guid>
		<description>Afwan ustadz, bukankah ruqyah itu untuk mengobati penyakit fisik dan rohani? Menurut ana, anak nakal itu mengalami penyakit rohani karena hatinya sudah tidak bersih sehingga tidak bisa menerima nasihat orang lain. Ia suka menunda2 shalat padahal sudah diingatkan. Terkadang jika dinasihati oleh ibunya ia malah menutup kupingnya. Ia juga suka mengancam bunuh diri jika permintaanya tidak dituruti. Oh iya, anak yang ana maksud bukan anak kecil tapi anak yang sudah menginjak usia akil baligh.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Afwan ustadz, bukankah ruqyah itu untuk mengobati penyakit fisik dan rohani? Menurut ana, anak nakal itu mengalami penyakit rohani karena hatinya sudah tidak bersih sehingga tidak bisa menerima nasihat orang lain. Ia suka menunda2 shalat padahal sudah diingatkan. Terkadang jika dinasihati oleh ibunya ia malah menutup kupingnya. Ia juga suka mengancam bunuh diri jika permintaanya tidak dituruti. Oh iya, anak yang ana maksud bukan anak kecil tapi anak yang sudah menginjak usia akil baligh.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-meminta-diruqyah/comment-page-1#comment-6708</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Feb 2011 06:29:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=819#comment-6708</guid>
		<description>#ana
Ruqyah itu bukan obat anak nakal</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#ana<br />
Ruqyah itu bukan obat anak nakal</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ana Muslimah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-meminta-diruqyah/comment-page-1#comment-6704</link>
		<dc:creator>Ana Muslimah</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Feb 2011 05:27:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=819#comment-6704</guid>
		<description>Assalamu&#039;alaikum.. Ustadz, saya masih bingung masalah ruqyah ini. Saya pernah baca katanya ruqyah merupakan perbuatan para nabi dan orang2 sholeh. Sedangkan kita dimakruhkan untuk minta diruqyah. Jadi, yang benar bagaimana ustadz? Apakah meminta orang lain untuk meruqyah anak nakal dan melawan orang tua juga makruh hukumnya? Anak tsb jelas tidak mau meruqyah diri sendiri dan orang tuanya pun tidak bisa meruqyahnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum.. Ustadz, saya masih bingung masalah ruqyah ini. Saya pernah baca katanya ruqyah merupakan perbuatan para nabi dan orang2 sholeh. Sedangkan kita dimakruhkan untuk minta diruqyah. Jadi, yang benar bagaimana ustadz? Apakah meminta orang lain untuk meruqyah anak nakal dan melawan orang tua juga makruh hukumnya? Anak tsb jelas tidak mau meruqyah diri sendiri dan orang tuanya pun tidak bisa meruqyahnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ridho Amrullah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-meminta-diruqyah/comment-page-1#comment-6451</link>
		<dc:creator>Ridho Amrullah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Jan 2011 02:17:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=819#comment-6451</guid>
		<description>Assalammu&#039;alaikum Ustadz,
Saya memiliki beberapa pertanyaan ustadz,
1. Bagaimana ustadz kalau hukumnya meruqyah orang lain ? Misal, ketika orang tua saya terkena sengatan kalajengking ?
2. Bukankah Alfatihah itu sebagai Arruqyah, nah sesuai buku yang saya baca bolehkah saya meruqyah diri sendiri dengan surat Alfatihah ini sebanyak 3 kali atau 7 kali  di tempat yang sakit ( diusapkan setelah ditiup di tangan ) ? ( Karena menurut keterangan buku yang saya baca yaitu Lautan Alfatihah karangan Khalid al-Jundi seperti itu, setelah melalui keterangan hadis ruqyah upah kambing di atas.  Apakah pengobatan dengan surat Alfatihah kepada diri sendiri itu ada hadisnya, apakah ruqyah upah kambing itu menjadi dasar mengobati penyakit/ruqyah sendiri dengan ruqyah surat Alfatihah. Seperti, Ibnul qayyim mengobati dirinya dengan keberkahan surat alfatihah dengan membacakannya beberapa kali dan meniupkannya lewat segelas air. 
3. Apakah redaksi hadis ini sohih. . Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam meruqyah dirinya

&gt; sendiri tatkala mau tidur dengan membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq
&gt; dan an-Nas lalu beliau tiupkan pada kedua telapak tangannya, kemudian
&gt; beliau usapkan ke seluruh tubuh yang terjangkau oleh kedua tangannya.
&gt; (HR.al-Bukhari).
4. Apakah ruqyah ini boleh untuk penyakit lain ? Misalkan, untuk orang tua saya yang sakit demam, sakit kepala dan lainnya.
5. Saya minta tanggapannya,
Sekarang banyak umumnya yang saya lihat di internet pengobatan dengan surat-surat Alquran. Karena, jikalau menurut saya sendiri ruqyah tersebut hanya sebatas pada penyakit tertentu saja seperti sengatan ular dan kalajengking bukan untuk penyakit lain seperti sekarang jantung, kanker dan lain-lain. Sebagai inovasi manusia sekarang dari mengambil keberkahan dari Alquran tetapi tidak sesuai dengan hadis Nabi. Seperti tak ada dalil dari sunnah, membaca alfatihah sebagai dzikir pada pagi dan petang. Termasuk, ruqyahnya Ibnul qayyim kepada dirinya sendiri itu. Karena, hadis yang menyatakan bahwa ada sahabat atau ketika nabi meruqyah dirinya sendiri karena penyakit medis  kan tidak ada ? Artinya, Ibnul Qayyim itu menyimpang dari Hadis ustazd ? Walaupun alfatihah berdasar keterangan hadis sebagai arruqyah tapi tidak ada keterangan tentang meruqyah diri sendiri dengan surat alfatihah.
Karena kalau begitu, banyak di zaman sekarang yang salah mempergunakan Alquran sebagai inovasi penyembuh yang prakteknya tak sesuai sunnah. Yang ujung-ujungnya &quot;USKUN =  USTADZ PRAKTEK DUKUN&quot;.
Syukron ustadz,
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalammu&#8217;alaikum Ustadz,<br />
Saya memiliki beberapa pertanyaan ustadz,<br />
1. Bagaimana ustadz kalau hukumnya meruqyah orang lain ? Misal, ketika orang tua saya terkena sengatan kalajengking ?<br />
2. Bukankah Alfatihah itu sebagai Arruqyah, nah sesuai buku yang saya baca bolehkah saya meruqyah diri sendiri dengan surat Alfatihah ini sebanyak 3 kali atau 7 kali  di tempat yang sakit ( diusapkan setelah ditiup di tangan ) ? ( Karena menurut keterangan buku yang saya baca yaitu Lautan Alfatihah karangan Khalid al-Jundi seperti itu, setelah melalui keterangan hadis ruqyah upah kambing di atas.  Apakah pengobatan dengan surat Alfatihah kepada diri sendiri itu ada hadisnya, apakah ruqyah upah kambing itu menjadi dasar mengobati penyakit/ruqyah sendiri dengan ruqyah surat Alfatihah. Seperti, Ibnul qayyim mengobati dirinya dengan keberkahan surat alfatihah dengan membacakannya beberapa kali dan meniupkannya lewat segelas air.<br />
3. Apakah redaksi hadis ini sohih. . Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam meruqyah dirinya</p>
<p>&gt; sendiri tatkala mau tidur dengan membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq<br />
&gt; dan an-Nas lalu beliau tiupkan pada kedua telapak tangannya, kemudian<br />
&gt; beliau usapkan ke seluruh tubuh yang terjangkau oleh kedua tangannya.<br />
&gt; (HR.al-Bukhari).<br />
4. Apakah ruqyah ini boleh untuk penyakit lain ? Misalkan, untuk orang tua saya yang sakit demam, sakit kepala dan lainnya.<br />
5. Saya minta tanggapannya,<br />
Sekarang banyak umumnya yang saya lihat di internet pengobatan dengan surat-surat Alquran. Karena, jikalau menurut saya sendiri ruqyah tersebut hanya sebatas pada penyakit tertentu saja seperti sengatan ular dan kalajengking bukan untuk penyakit lain seperti sekarang jantung, kanker dan lain-lain. Sebagai inovasi manusia sekarang dari mengambil keberkahan dari Alquran tetapi tidak sesuai dengan hadis Nabi. Seperti tak ada dalil dari sunnah, membaca alfatihah sebagai dzikir pada pagi dan petang. Termasuk, ruqyahnya Ibnul qayyim kepada dirinya sendiri itu. Karena, hadis yang menyatakan bahwa ada sahabat atau ketika nabi meruqyah dirinya sendiri karena penyakit medis  kan tidak ada ? Artinya, Ibnul Qayyim itu menyimpang dari Hadis ustazd ? Walaupun alfatihah berdasar keterangan hadis sebagai arruqyah tapi tidak ada keterangan tentang meruqyah diri sendiri dengan surat alfatihah.<br />
Karena kalau begitu, banyak di zaman sekarang yang salah mempergunakan Alquran sebagai inovasi penyembuh yang prakteknya tak sesuai sunnah. Yang ujung-ujungnya &#8220;USKUN =  USTADZ PRAKTEK DUKUN&#8221;.<br />
Syukron ustadz,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-meminta-diruqyah/comment-page-1#comment-6446</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 16:17:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=819#comment-6446</guid>
		<description>#ridho
Yang terlarang adalah meminta untuk diruqyah, bukan meruqyah diri sendiri</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#ridho<br />
Yang terlarang adalah meminta untuk diruqyah, bukan meruqyah diri sendiri</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ridho Amrullah</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bolehkah-meminta-diruqyah/comment-page-1#comment-6445</link>
		<dc:creator>Ridho Amrullah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 12:03:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=819#comment-6445</guid>
		<description>Assalammu&#039;alaikum Ustadz,
Jikalau meruqyah diri sendiri dengan ruqyah yang diajarkan nabi yaitu antara lain dalil hadis di bawah ini apakah termasuk kategori minta diruqyah ( termasuk hadis di atas ) :
1. .	Dari Abu Al-‘Ash Ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu bahwa beliau mengeluhkan sakit yg dirasakan di tubuh semenjak masuk Islam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ فِيْ جَسَدِكَ وَقُلْ: بِسْمِ اللهِ ثَلاَثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
“Letakkanlah tanganmu pada tempat yg sakit dari tubuhmu dan ucapkanlah ‘Bismillah ’ sebanyak tiga kali. Lalu ucapkanlah:
أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
‘Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan sesuatu yg kurasakan dan kuhindarkan’ sebanyak tujuh kali.”
2. Ada juga keterangan dari buku-buku yang saya baca mungkin menurut kalangan ulama dibolehkan meruqyah diri sendiri dengan bacaan alfatihah 3 atau 7 kali di tempat yang sakit ( diusapkan setelah ditiup di tangan ).
3. Nabi Muhammad shallallahu &#039;alaihi wasallam meruqyah dirinya

&gt; sendiri tatkala mau tidur dengan membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq
&gt; dan an-Nas lalu beliau tiupkan pada kedua telapak tangannya, kemudian
&gt; beliau usapkan ke seluruh tubuh yang terjangkau oleh kedua tangannya.
&gt; (HR.al-Bukhari).
4. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada Tsabit Al-Bunani: “Maukah engkau aku ruqyah dgn ruqyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Tsabit menjawab: “Ya”. mk Anas membaca:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبِأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَافِي لاَ شَافِيَ إِلاَّ أَنْتَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَفَمًا
“Ya Allah Rabb sekalian manusia yg menghilangkan segala petaka sembuhkanlah Engkaulah Yang Maha Penyembuh tdk ada yg bisa menyembuhkan kecuali Engkau sebuah kesembuhan yg tdk meninggalkan penyakit.”
Dalam riwayat lain dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha beliau berkata: “Dahulu bila salah seorang dari kami mengeluhkan rasa sakit mk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap dgn tangan kanan beliau dan membaca:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبِأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَفَمًا
“Ya Allah Rabb sekalian manusia hilangkanlah petaka dan sembuhkanlah dia Engkaulah Yang Maha Penyembuh tdk ada penyembuh kecuali penyembuhan-Mu sebuah penyembuhan yg tdk meninggalkan penyakit.”
Syukron,
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalammu&#8217;alaikum Ustadz,<br />
Jikalau meruqyah diri sendiri dengan ruqyah yang diajarkan nabi yaitu antara lain dalil hadis di bawah ini apakah termasuk kategori minta diruqyah ( termasuk hadis di atas ) :<br />
1. .	Dari Abu Al-‘Ash Ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu bahwa beliau mengeluhkan sakit yg dirasakan di tubuh semenjak masuk Islam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:</p>
<p>ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ فِيْ جَسَدِكَ وَقُلْ: بِسْمِ اللهِ ثَلاَثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ<br />
“Letakkanlah tanganmu pada tempat yg sakit dari tubuhmu dan ucapkanlah ‘Bismillah ’ sebanyak tiga kali. Lalu ucapkanlah:<br />
أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ<br />
‘Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan sesuatu yg kurasakan dan kuhindarkan’ sebanyak tujuh kali.”<br />
2. Ada juga keterangan dari buku-buku yang saya baca mungkin menurut kalangan ulama dibolehkan meruqyah diri sendiri dengan bacaan alfatihah 3 atau 7 kali di tempat yang sakit ( diusapkan setelah ditiup di tangan ).<br />
3. Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wasallam meruqyah dirinya</p>
<p>&gt; sendiri tatkala mau tidur dengan membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq<br />
&gt; dan an-Nas lalu beliau tiupkan pada kedua telapak tangannya, kemudian<br />
&gt; beliau usapkan ke seluruh tubuh yang terjangkau oleh kedua tangannya.<br />
&gt; (HR.al-Bukhari).<br />
4. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada Tsabit Al-Bunani: “Maukah engkau aku ruqyah dgn ruqyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Tsabit menjawab: “Ya”. mk Anas membaca:</p>
<p>اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبِأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَافِي لاَ شَافِيَ إِلاَّ أَنْتَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَفَمًا<br />
“Ya Allah Rabb sekalian manusia yg menghilangkan segala petaka sembuhkanlah Engkaulah Yang Maha Penyembuh tdk ada yg bisa menyembuhkan kecuali Engkau sebuah kesembuhan yg tdk meninggalkan penyakit.”<br />
Dalam riwayat lain dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha beliau berkata: “Dahulu bila salah seorang dari kami mengeluhkan rasa sakit mk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap dgn tangan kanan beliau dan membaca:<br />
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبِأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَفَمًا<br />
“Ya Allah Rabb sekalian manusia hilangkanlah petaka dan sembuhkanlah dia Engkaulah Yang Maha Penyembuh tdk ada penyembuh kecuali penyembuhan-Mu sebuah penyembuhan yg tdk meninggalkan penyakit.”<br />
Syukron,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.412 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-05-21 22:28:37 -->

