Bolehkah Iqamah Memakai Pengeras Suara?

Tanya:
Sebagian orang ada yang berpendapat bahwa mengumandangkan iqamah itu tidak perlu menggunakan pengeras suara. Alasannya, pada jaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum ada pengeras suara seperti saat ini, dan tidak pernah dicontohkan. Sebab, bila iqamah diperdengarkan, maka orang-orang akan malas datang ke masjid sebelum mendengarkan iqamah. Benarkah pendapat seperti ini?

Jawab:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika iqamah sudah dikumandangkan maka janganlah kalian mendatangi masjid sambil berlari-lari. Akan tetapi datanglah ke masjid sambil berjalan dengan penuh ketenangan. Bagian shalat yang kalian dapatkan hendaklah kalian lakukan, sedangkan yang tertinggal hendaklah kalian sempurnakan.” (HR Bukhari 908 dan Muslim no 602)

Maksud hadits di atas, jika kita mendengar suara iqamah dari luar masjid maka diperintahkan untuk berjalan dengan tenang. Di sini menunjukkan bahwa suara iqamah yang terdengar dari luar masjid bermakna sama dengan hadits di atas. Dalam hadist yang lain dijelaskan bahwa Bilal pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kau tinggal aku sehingga aku tidak bisa mengucapkan salam bersamamu.” (HR Abu Dawud no 3937). Hadits ini menunjukkan bahwa Bilal mengumandangkan iqamah di suatu tempat, sehingga suaranya bisa di dengar oleh banyak orang. Oleh karena itu dalam lanjutan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Datanglah ke masjid sambil berjalan dengan penuh ketenangan.” Artinya kita diperintahkan untuk berjalan sebagaimana biasa dengan penuh ketenangan.

Jadi, diperbolehkan mengumandangkan iqamah hingga terdengar di luar masjid. Berdasarkan keterangan tersebut maka iqamah boleh dikumandangkan dengan pengeras suara sehingga orang yang berada di luar masjid bisa mendengarnya.

Ada sebagian orang yang tidak menyetujui hal ini. Mereka mengatakan, jika iqamah terdengar di luar masjid, maka orang akan menjadi malas datang ke masjid lebih awal. Mereka baru akan datang ke masjid jika sudah mendengar iqamah, sehingga mereka tertinggal rakaat yang pertama atau bahkan lebih, tergantung jauh dekatnya masjid dari tempat tinggal mereka.

Akan tetapi selama masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi hal seperti itu, yaitu suara iqamah terdengar dari luar masjid. Sehingga menurut kami hal itu boleh-boleh saja dilakukan. Akan tetapi yang dikhawatirkan bernilai dosa adalah perbuatan sebagian orang yang memperdengarkan bacaan imam melalui pengeras suara masjid yang berada di atas menara. Hal ini dikhawatirkan karena akan mengganggu orang-orang yang berada di sekitar masjid. Lebih-lebih pada saat shalat Tarawih. Hal ini dapat mengganggu rumah-rumah di sekeliling masjid dan mengganggu masjid-masjid yang berada di dekatnya. (lihat Syarah Riyadhus Shalihin Cetakan Dar wathan Juz 7 hal 101-103)

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 15
  • Ridho Amrullah 9 years ago

    Assalammu’alaikum Ustadz,
    1. Saya mau bertanya apakah sujud kakinya terbuka atau merapat tumitnya di dalam solat?
    2. Berapa harokat lafadz ‘alaa dan aali dalam solawat dalam solat, karena saya menemukan hadist solawat di kitab syeikh albani dipanjangkan  2 harokat jadi ‘aala muhammad dan aali muhammad. Tapi, apakah itu benar ataukah saya juga bisa menggunakan 1 harokat jadi ala muhammad dan ali muhammad. Apakah perbedaan harokat menjadi beda arti? Menurut sunnah yang benar bagaimana? Saya belum sempat menanyakan ke dosen saya. :)
    Saya tunggu jawabannya ustadz, syukron

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Ridho
    Wa’alaikumussalam
    1. Lakukan sebagaimana dalil yang anda ketahui.
    2. Masak ‘ala yang panjang ‘ain-nya?
    Untuk ali, hamzahnya sedikit dipanjangkan.

  • Ridho Amrullah 9 years ago

    Benar ustadz saya menemukan di buku sifat sholat nabi panjang ‘ainnya? Tapi, kan ‘ala adalah huruf yang berarti di atas kepada dll brarti lafadz ‘ala pendek ustadz? Betul tidak jadi ‘ala bukan ‘aala?

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Ridho
    Yang anda temukan itu mungkin karena salah cetak.

  • ar-Rasyid 9 years ago

    Assalamu ‘alaikum pa’ ustadz. Afwan ana mau menanyakan tentang bagaimana sebenarnya konsep kema’shuman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau kita merujuk ke al-Qur’an, maka kita akan mendapatkan beberapa ayat yang isinya menegur perbuatan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Di antaranya surat Abasa ayat 1-11 dan surat at-Tahrim ayat 1. Kedua ayat tersebut secara tekstual berisi teguran terhadap perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kalau kita merujuk kepada as-sunnah maka akan kita dapati bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Dzuhur 2 rakaat yang kemudian ditegur oleh sahabatnya dan kemudian melakukan sujud sahwi serta shalat dua rakaat lagi. Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam juga pernah tegur oleh Allah berkenaan dengan hal penasaban. Oleh karena itu, ana mohon penjelasan yang sebenarnya dari pa’ ustadz tentang apa dan bagaimana sebenarnya konsep kema’shuman Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Ana tunggu jawabannya dan kalau bisa dijadikan suatu artikel khusus. Jazakumullah khairan katsiraan.

  • Assalamualaikum Ustadz Aris…
    Saya ingin menanyakan bagaimana hukumnya seorang laki-laki muslim yang memakai parfum/wewangian/deodorant yang mengandung alkohol..dan parfum/deodorant tersebut dipakai/disemprot di kulit…
    Atas advice dan jawaban dari Ustadz saya sampaikan terima kasih.
    Wassalamualaikum..

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Dedit
    Wa’alaikumussalam
    parfum beralkohol itu hukumnya diperselisihkan oleh ulama. saya sarankan agar menjauhi dan menghindarinya dalam rangka keluar dari khilaf ulama.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Rasyid
    Wa’alaikumussalam
    Rasul tidak ma’shum dari lupa.
    Rasul tidak ma’shum dari kesalahan yang berstatus dosa kecil namun rasul maksum dari terus menerus melakukan kesalahan yang berstatus dosa kecil.

  • Abu Ashma' 9 years ago

    Ustadz…bagaimana kalo di acara walimah tradisional yang belum kenal sunnah yang biasanya diputar adalah kaset2 dangdut atau qasidah atau gendhing jawa kita ganti dengan kaset2 ceramah atau murottal apakah diperbolehkan?Bagaimana solusinya ya ustadz?

  • Untuk Rasyid
    Wa’alaikumussalam
    Rasul tidak ma’shum dari lupa.
    Rasul tidak ma’shum dari kesalahan yang berstatus dosa kecil namun rasul maksum dari terus menerus melakukan kesalahan yang berstatus dosa kecil.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Abu
    Bisa diganti dengan kaset ceramah.

  • alhamdulillah nambah ‘ilmu baru

  • riyanto 8 years ago

    Assalamu’alaikum… Ustadz. mohon pencerahan, setelah adzan selesai dianjurkan berdo’a, apakah do’a itu hanya yang mendengarkan atau yang mengumandangkan juga, dan do’a itu dengan mengangkat tangan atau tidak, mohon penjelasan yang sesuai sunnah. syukron 

  • ustadzaris 8 years ago

    untuk ri
    Wa’alaikumussalam
    1. Ulama berselisih pendapat, pendapat yang paling kuat yang berdoa hanya yang mendengarkan adzan saja.
    2. Bisa sambil mengangkat tangan.

  • zakkiy 8 years ago

    assalamu’alaykum
    apakah maksud dari kalimat berikut?
    Dalam hadist yang lain dijelaskan bahwa Bilal pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kau tinggal aku sehingga aku tidak bisa mengucapkan salam bersamamu.” (HR Abu Dawud no 3937). Hadits ini menunjukkan bahwa Bilal mengumandangkan iqamah di suatu tempat, sehingga suaranya bisa di dengar oleh banyak orang.