Bolehkah Bermakmum kepada Masbuq?
Bolehkah bermakmum kepada masbuq? Silakan simak dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ beriktu ini.
السؤال الثامن والتاسع من الفتوى رقم ( 820 )
Pertanyaan kedelapan untuk fatwa no 820
س8: إذا دخلت المسجد فوجدت الإمام قد صلى ما كتب له الله أن يصلي فدخلت معه، ثم بعد ما سلم قمت أتمم ما فاتني، ثم دخل رجل آخر واقتدى بي، فهل يصح لهذا الرجل الاقتداء بي أو لا؟
Pertanyaan, “Jika aku masuk ke dalam masjid dan menjumpai imam telah shalat sebanyak beberapa rakaat lalu aku pun shalat bersamanya. Setelah imam mengucapkan salam aku berdiri untuk melengkapi rakaat yang tertinggal. Kemudian ternyata ada orang yang masuk ke masjid dan bermakmum kepadaku. Bolehkan orang tersebut bermakmum kepadaku yang berstatus sebagai masbuq?”
ج8: إذا كان المأموم قد أدرك بعض الركعات مع الإمام ثم قام بعد سلام إمامه ليتم ما بقي عليه من الصلاة فلمن يريد أن يصلي معه أن يقتدي به على الصحيح من أقوال الفقهاء،
Jawaban al Lajnah ad Daimah, “Jika ada makmum masbuq yang mendapatkan beberapa rakaat bersama imam lalu si masbuq berdiri untuk melengkapi rakaat yang tertinggal maka boleh bagi siapa saja yang ingin shalat bersamanya untuk bermakmum dengannya menurut pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat pakar fikih dalam masalah ini.
وذهب بعضهم كالحنفية والمالكية إلى أنه لا يصح الاقتداء بمن قام يقضي ما بقي عليه بعد سلام إمامه، والمسألة اجتهادية، حيث لم يرد فيها نص صريح.
Meski sebagian ulama fikih semisal para ulama yang bermazhab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa tidak sah bermakmum kepada makmum masbuq yang sedang melengkapi kekurangan rakaatnya setelah imam mengucapkan salam.
Perlu diketahui bahwa masalah ini adalah masalah khilafiyyah ijtihadiah dikarenakan tidak ada dalil tegas dalam masalah ini”.
س9: إذا دخلت المسجد فوجدت الإمام في التشهد الأخير فدخلت معه، ولما سلم قمت أصلي، فدخل رجل واقتدى بي، فهل أصلي بهذا أو أدفعه؟
Pertanyaan kesembilan, “Jika aku masuk ke dalam masjid dan kujumpai imam sudah dalam posisi tasyahud akhir lalu tetap bermakmum kepadanya. Setelah imam mengucapkan salam aku berdiri untuk menyelesaikan shalatku. Taklama setelah itu ada orang yang masuk masjid dan bermakmum kepadaku. Bolehkah aku shalat bersama orang tersebut ataukah aku tolak kehadirannya?”
ج9: من أدرك التشهد الأخير مع الإمام فلغيره ممن يريد الصلاة معه أن يقتدي به، وهذه المسألة أولى بالجواز من المسألة التي قبلها، وعلى ذلك فليس لهذا الشخص أن يدفع من يريد الاقتداء به في الصلاة.
Jawaban al Lajnah ad Daimah, “Siapa saja yang menjumpai tasyahud akhir bersama imam maka boleh bagi orang lain yang ingin shalat bersamanya untuk bermakmum dengan orang tersebut. Kasus ini lebih layak untuk kita katakan bahwa hukumnya boleh dibandingkan kasus sebelumnya. Berdasarkan penjelasan di atas maka si masbuq tidak boleh menolak orang yang ingin bermakmum kepadanya dalam shalat tersebut”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب الرئيس
عبد الله بن منيع … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي
Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Abdurrazaq Afifi selaku wakil ketua Lajnah Daimah dan Abdullah bin Ghudayan serta Abdullah bin Mani’ selaku anggota.
Sumber: Fatawa Lajnah Daimah jilid 7 hal 395-396 terbitan Dar Balansiah Riyadh, cetakan ketiga tahun 1421 H
Artikel www.ustadzaris.com











29 Comments
karpet refleksi
Jul 11, 2010, 7:48 am
daripada bermakmum kepada orang yg masbuq, lebih afdhal mana dengan memulai sholat sendirian ?
Mas Kukun
Jul 11, 2010, 4:10 pm
Assalamu’alaikum
Bolehkah kita bermakmum kepada imam yang ternyata sedang shalat sunnah ? Jazakallah
ustadzaris
Jul 11, 2010, 9:58 pm
untuk kukun
Wa’alaikumussalam
Boleh.
ustadzaris
Jul 11, 2010, 9:59 pm
untuk karpet
jika masjid tersebut tidak memiliki imam tetap maka lebih baik buat jamaah sendiri.
chairil
Jul 12, 2010, 3:41 am
afwan usd, jika ada beberapa ikhwan yang datang menjadi ma’mum masbuq, kemudian imam pertama salam, dan para ma’mum masbuq berdiri untuk menyempurnakan shalat mereka.
tetapi ada salah satu dari mereka menjadi imam,dan sebagian mundur untuk menjadi ma’mum, apakah hal ini dibolehkan usd? apakah ada dalil yang menyebutkan hal ini?
semoga dapat dipahami maksud anna.
Abu Hanif #01
Jul 12, 2010, 5:52 am
Ustadz, saya mengambil pendapat yg tdk membolehkan makmum kpd masbuq. Ttp krn merasa tdk nyaman hrs menolak org yg mau makmum, bolehkah sbg seorang AWAM mengubah pendapat menjadi yg lebih cocok dg kondisi lingkungannya? Bgmn juga dalam masalah ijtihadiyah lain spt tata cara sholat dan lainnya?
Jazakallahu khairan
ustadzaris
Jul 12, 2010, 4:40 pm
untuk abu hanif
Menerima orang yang bermakmum kepada kita dalam hal ini adalah bentuk toleransi dalam masalah ijtihadiah. Pendapat yang telah anda pilih anda terapkan dengan bentuk tidak mau bermakmum dengan masbuq.
ustadzaris
Jul 12, 2010, 4:40 pm
untuk khairil
akan kita bahan di lain waktu.
abdulloh
Jul 12, 2010, 5:28 pm
ustad mau bertanya saya pernah melihat sebagian ormas islam seperti persis di daerah garut dan bandung sering mereka (mungkin mayoritasnya yg saya liat) jika imam selesai solat maka sesama masbuk yang tertinggal membikin jamaah lagi dengan imam salah satu masbuk..jadi merantai solat jamaahnya..kadang kala yang menjadi makmum adalah masbuk yang tertinggal lebih sedikit rokaatnya daripada yang menjadi imam.bagaimana hukumnya??Jazakallah
ustadzaris
Jul 13, 2010, 7:29 am
untuk abdullah
ada tulisan khusus membahas hal tersebut, insya Allah.
Ummu Khaulah
Jul 16, 2010, 7:49 am
Ustadz, jika suami istri shalat berjama’ah, di mana posisi istri? Tepat di belakang atau agak geser ke kanan? Jazakallah khair.
ustadzaris
Jul 16, 2010, 9:25 am
untuk ummu
tepat di belakang
jun
Jul 27, 2010, 7:21 pm
Assalamu’alaykum ustadz,
jika si imam yang masbuk ini masih dalam rakaat pertama atau kedua apakah dia men-sirr-kan bacaannya atau harus dibaca secara jahr sebagaimana berlaku untuk imam pada shalat Subuh, Maghrib maupun Isya yang men-jahr-kan bacaan pada rakaat pertama dan kedua?
ustadzaris
Agu 1, 2010, 9:49 am
untuk jun
Wa’alaikumussalam
Dianjurkan untuk jahr. andai tidak jahr maka shalat tetap sah.
sedang belajar
Sep 16, 2010, 9:14 am
ustadz,,jika kita sedang mengikuti tes seleksi karywan sehingga kita tidak bisa sholat jama’ah tepat pada waktunya hingga mungkin molor sampai 1 jam,,apakah kita terkena udzur sehingga boleh sholat jama’ah terlambat dengan orang2 yg terlambat pula?
ustadzaris
Sep 16, 2010, 12:34 pm
#sedang
semoga boleh
arfin jogja
Okt 11, 2010, 11:37 am
ustadz, apabila ada orang sholat dengan munfarid, kemudian datang orang lain bermaksud menjadikan orang yg pertama sebagai imam, apakah dibolehkan dan apabila boleh apakah orang yg pertama mendapatkan pahala sholat jama’ah?
ustadzaris
Okt 11, 2010, 4:27 pm
#arfin
Ya, jika dia mengubah niat untuk berjamaah
abu muslih
Okt 24, 2010, 6:37 pm
Assalamualaikum.
Ustadz,ana ingin brtanya.Bagaimana bila orang yg sedang shalat rawatib ba’diyah,kemudian di tengah shalat ada orang yg ingin menjadikannya imam shalat fardhu.Sebaiknya bagaimana?Apakah boleh mengubah niat sholat sunnah mjadi wajib?Atau cukup niatnya diubah mjadi imam?Jazakallahu khairan y ustadz..
ustadzaris
Okt 25, 2010, 5:44 am
#abu
1. tidak boleh mengubah niat menjadi wajib.
2. Berniatlah jadi imam dengan niat shalat sunnah dan biarkan makmum berniat shalat fardhu
Abu Charis
Feb 22, 2011, 12:15 am
Ustadz, misal saya telah selesai shalat maghrib kemudian datang seseorang yang akan menunaikan shalat maghrib. Bolehkah saya shalat lagi bersama dia (untuk menegakkan salat jamaah)?
Pernah ada kejadian nyata seseorang (si A) yang telah usai berjamaah magrib, kemudian ada rombongan lain datang untuk menunaikan jamaah maghrib tetapi di antara mereka tidak ada yang mau menjadi imam (mereka orang2 yg masih sangat awam dalam agama). Mengetahui hal itu, si A menyediakan diri sebagai imam shalat maghrib rombongan kedua. Bolehkah tindakan si A ini? Hal itu berlangsung di mushola pinggir jalan yang tidak ada imam tetapnya. Mohon penjelasan Ustadz.
Jazakallahu khoyron
ustadzaris
Feb 22, 2011, 1:25 pm
#abu
Boleh
herbono
Mar 5, 2011, 9:43 pm
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh Pak Ustadz,
1. Bagaimana sikap seorang masbuq mendapati imam dan seorang makmum yg berdiri di sebelah kanan imam: apakah menepuk bahu atau menarik tangan makmum tsb supaya mundur? Khawatir mereka tdk mengetahui kedatangan makmum yg masbuq.
2. Jika bermakmum kepada masbuq sementara disamping kanan calon imam tsb ada orang yg sdg berdzikir, apakah boleh menyuruh org yg berdzikir tsb bergeser agar calon makmum dpt berada di kanan imam? Atau berada di belakang imam sambil menepuk pundak imam?
Jazakallahu khoiran katsiiro
ustadzaris
Mar 6, 2011, 8:16 am
#herbono
1. cukup menarik makmum saja
2. boleh
Aksatriya Nusantara
Agu 5, 2011, 8:25 pm
wah terimakasih banayak nih ilmu nya … bagus banget !!!
Bermanfaat gan :)
semoga allah melipat gandakan pahala ente (amin) !!!!
ahmad sobari
Okt 28, 2011, 2:01 pm
assalamualaikum ..
ustadz, saya mau tanya ..
bagaimana sikap kita saat sedang shalat sunah ada yang ingin ikut jadi makmum karena dikira kita sedang shalat fardhu ?
terima kasih sebelumnya atas jawaban ustadz .
wassalamualaikum ,
ustadzaris
Okt 29, 2011, 9:12 am
#ahmad
Biarkan saja dia mengikuti kita.
putra
Jan 15, 2012, 10:13 am
dari artikel2 ustadz terkait hal ini, saya masih belum menemukan penjelasan mengenai dua pertanyaan berikut:
1. apakah kita perlu men-jahr-kan takbir ketika kita tahu bahwa di belakang ternyata ada yang bermakmum/mengikuti? ditakutkan dia tidak mendengar ketika kita sudah beralih ke rukun shalat yg lain, semisal dari sujud ke duduk/berdiri.
2. dalam shalat jahr semacam shalat maghrib, jika masbuq tertinggal 2 rakaat, kemudian datang orang lain yang bermakmum padanya, apakah imam masbuq ini perlu men-jahr-kan bacaan?
3. apakah menepuk bahu itu ada dalilnya dan perlu dilakukan?
Jazakallahu khair
ustadzaris
Jan 18, 2012, 9:42 pm
#putra
Setahu saya tidak ada dalil mengenai menepuk bahu dalam kasus semisal ini.