Berdzikir di Hari Tasyriq

Hari Tasyriq adalah tiga hari setelah hari nahr (hari penyembelihan yaitu tanggal 10 Dzulhijjah). Disebut tasyriq karena pada hari tersebut banyak orang yang mendedeng dan menjemur daging hewan kurban (Syarah Nawawi untuk Shahih Muslim 3/131).

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah dengan menyebut nama Allah pada hari-hari yang berbilang” (QS al Baqarah:203).

عن ابن عباس في قوله:” واذكروا الله في أيام معدودات”، قال: أيام التشريق.

Tentang ayat di atas, Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah hari-hari tasyriq (Diriwayatkan oleh al Thabari dalam tafsirnya no 3886. Riwayat ini statusnya hasan, lihat al Tafsir al Mukhtashar al Shahih hal 45).

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ».

Dari Nubaisyah al Hudzali, Rasulullah bersabda, “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum” (HR Muslim no 2733).

عَنْ أَبِى الشَّعْثَاءِ قَالَ أَتَيْنَا ابْنَ عُمَرَ فِى الْيَوْمِ الأَوْسَطِ مِنْ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ – قَالَ – فَأُتِىَ بِطَعَامٍ فَدَنَا الْقَوْمُ وَتَنَحَّى ابْنٌ لَهُ قَالَ فَقَالَ لَهُ ادْنُ فَاطْعَمْ. قَالَ فَقَالَ إِنِّى صَائِمٌ. قَالَ فَقَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّهَا أَيَّامُ طُعْمٍ وَذِكْرٍ ».

Dari Abu Sya’sa’, “Aku mendatangi Ibnu Umar pada hari kedua dari hari-hari tasyriq. Setelah makanan disajikan maka orang-orang pun mendekat. Hanya salah seorang putra Ibnu Umar yang menjauh maka Ibnu Umar berkata kepadanya, ‘Mendekatlah dan makanlah’. Dia menjawab, ‘Aku sedang berpuasa’. Ibnu Umar berkata, ‘Tidakkah kau tahu bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya hari-hari tasyriq adalah hari makan dan hari berdzikir” (HR Ahmad no 4970 dan dinilai hasan oleh Syeikh Syuaib al Arnauth).

Ibnu Rajab berkata, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan isyarat bahwa makan dan minum di hari-hari ied adalah sarana untuk mengingat dan mentaati Allah. Bentuk syukur terhadap nikmat adalah memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan. Dalam Al Qur’an Allah memerintahkan untuk memakan makanan yang baik dan menyukurinya dengan melakukan berbagai ketaatan. Siapa yang memanfaatkan nikmat Allah untuk berbuat maksiat maka dia telah ingkar dengan nikmat Allah dan mengganti nikmat dengan kekafiran. Sehingga nikmat yang ada pada orang tersebut layak untuk diambil” (Lathaif al Ma’arif hal 507).

Ibnu Rajab mengatakan, “Mengingat Allah yang diperintahkan pada hari-hari tasyriq itu ada beberapa macam.

1. Mengingat nama Allah setelah selesai shalat lima waktu dengan bertakbir. Dzikir ini disyariatkan pada hari-hari tasyriq menurut mayoritas ulama. Hal ini diriwayatkan dari Umar, Ali dan Ibnu Abbas. Ada juga hadits marfu (yaitu hadits Nabi) namun ada kelemahan pada sanadnya.

2. Mengingat Allah dengan membaca bismillah dan bertakbir saat menyembelih kurban. Karena waktu penyembelihan hadyu dan kurban adalah sampai akhir hari tasyriq menurut sejumlah ulama. Itulah pendapat Syafii dan salah satu pendapat Imam Ahmad. Dalam masalah ini terdapat hadits Nabi,

وَكُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“Semua hari tasyriq adalah waktu menyembelih kurban” (HR Ahmad no 17206 dari Jubair bin Muth’im) akan tetapi dalam sanadnya terdapat pembicaraan. Sedangkan mayoritas shahabat berpendapat bahwa waktu menyembelih itu cuma dua hari pertama dari hari tasyriq ditambah tanggal 10 Dzulhijjah. Inilah pendapat Ahmad yang terkenal, pendapat Malik, Abu Hanifah dan mayoritas ulama.

3. Menyebut nama Allah ketika makan dan minum. Ketika makan dan minum disyariatkan untuk menyebut nama Allah pada awal makan dan memuji Allah di akhir makan. Nabi bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap hambaNya yang makan lalu memuji Allah dan yang minum lalu memuji Allah” (HR Muslim no 2734 dari Anas). Diriwayatkan bahwa barang siapa menyebut nama Allah pada awal makan dan memuji Allah setelah selesai makan maka dia telah membayar makanan tersebut dan nanti tidak akan ditanya tentang kewajiban untuk mensyukuri makanan tersebut.

4. Mengingat Allah dengan bertakbir saat melempar jumroh di hari-hari tasyriq. Amal ini hanya berlaku untuk jamaah haji.

5. Mengingat Allah setiap saat. Memperbanyak dzikir pada hari-hari tasyriq adalah amal yang dianjurkan. Pernah Umar bertakbir di Mina dari kemahnya lalu didengar oleh banyak orang. Akhirnya mereka ikut bertakbir sehingga Mina menjadi goncang karena suara takbir.

Allah berfirman yang artinya,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201)

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia”, dan Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka” (QS al Baqarah:200-201).

Banyak ulama salaf yang menganjurkan untuk memperbanyak doa ‘rabbana atina fid dunya…’ pada hari-hari tasyriq. Ikrimah mengatakan, “Dianjurkan pada hari tasyriq untuk berdoa rabbana atina…”. Atha’ mengatakan, “Dianjurkan bagi jamaah haji yang hendak pulang kampung di hari-hari tasyriq untuk berdoa, ‘rabbana atina…’, diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid dalam tafsirnya.

Doa ini termasuk doa paling lengkap memuat kebaikan. Nabipun sering berdoa dengannya. Diriwayatkan bahwa Nabi memperbanyak doa tersebut (HR Bukhari dan Muslim dari Anas). Jika Nabi berdoa pasti doa ini disebutkan karena doa ini mencakup kebaikan dunia dan kebaikan akherat.

Al Hasan al Bashri berkata, “Yang dimaksud dengan hasanah di dunia adalah ilmu dan ibadah. Sedangkan hasanah di Akherat adalah surga”.

Sufyan mengatakan, “Hasanah di dunia adalah ilmu dan rizki yang halal. Sedangkan hasanah di akherat adalah surga”.

Doa adalah termasuk jenis dzikir yang terbaik.

Diriwayatkan oleh Ziyad al Jashash dari Abu Kinanah al Qurasyi, dia mendengar khutbah yang disampaikan oleh Abu Musa al Asy’ari pada saat Idul Adha, “Setelah tanggal 10 Dzulhijjah terdapat tiga hari yang Allah sebut dengan hari-hari yang berbilang. Doa tidaklah ditolak pada hari-hari tersebut. Oleh karena itu sampaikanlah permohonan-permohonan kalian kepada Allah”.

Adanya perintah untuk berdzikir setelah selesainya ibadah menyembelih kurban itu mengandung rahasia. Yaitu semua ibadah itu ada waktu akhirnya. Sedangkan mengingat Allah itu tidak ada akhirnya. Bahkan seorang mukmin itu akan terus berdzikir di dunia dan di akherat”

[Lathoif al Ma’arif 504-505 cetakan al Maktab al Islami].

COMMENTS

WORDPRESS: 12
  • Ustadz, berkaitan dengan point ke 1 : “Mengingat nama Allah setelah selesai shalat lima waktu dengan bertakbir”, bagaimana lafaz takbirnya? Apakah seperti takbir yang biasa diucapkan waktu hari idul fitri (Allohu akbar 3x, la ilaha illalloh, allohu akbar, allohu akbar walillah hil hamd) ?

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Wawan
    Ya benar.
    Allahu akbar-nya boleh 3x, boleh juga 2x.

  • بسم الله الرحمن الرحيم
    السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
     
    Afwan, ustadz. Saya ingin bertanya kembali tentang masalah jagal. Yang saya tanyakan:

    Apa dalil Ustadz yang memperluas makna jagal (jizarah) hingga pada selain yang menyembelih hewannya, tetapi juga panitia kurbannya?
    Pertanyaan ini muncul setelah membaca >>>artikel ini (KLIK)<<< tulisan saudara kita.
    Di samping itu, ini karena yang di benak saya (afwan, masalahnya sudah tertancap sejak kecil ^^) bahwa yang namanya jagal adalah yang menyembelih saja (motong lehernya itu). Maka, saya jadi bingung apakah yang sekadar potong-potong/nyacah-nyacah juga termasuk jagal, padahal dia tidak sembelih hewannya.

    Jazakallah khair atas penjelasannya.
     

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Jati
    Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh
    1. Tidak ada masalah dengan tulisan tersebut, lihat perkataan penulis di paragraf ketiga dari bawah.
    2. Saya pernah dapat penjelasan dari salah seorang ustadz bahwa dalam al I’lam bi Fawaid Umdah al Ahkam karya Ibnu Mulaqqin asy Syafii bahwa orang yang nguliti dan yang motong-motong hewan itu termasuk jagal.
    3. Suatu hal yang bagus jika antum mau mengumpulkan berbagai keterangan tentang pengertian jazuur atau jazir secara bahasa Arab maupun secara fiqih dari berbagai kitab bahasa, syarah hadits ataupun buku-buku fiqh lalu antum tulis dalam sebuah tulisan. Bagaimana? Saya tunggu tulisan antum. Jazakumullahu khairon.

  • Waduh jadi PR nanti ustadz….
    Na’am, akan saya coba susun ustadz, karena di hati belum mantap.
    Namun…
    Semoga ada ikhwan lain mendahului… ^_^ karena skripsinya sudah dikejar-kejar ortu…^__^
    Jazakallah khair atas penjelasan di atas…

  • Muhammad 9 years ago

    Assalamu’alaikum Ustadz. Semoga Allah selalu mnjaga antum.

    Ustadz, bagaimana dgn kasus berikut ini, apa dibolehkan:
    1. Panitia qurban dpt jatah makan dari daging qurban yg mereka urus krn mereka telah membantu dlm proses penyembelihan qurban.
    2. Panitia qurban dan warga yg ada dpt jatah makan-makan bareng di masjid. Baik warga maupun panitia qurban dpt jatah yg sama dan tdk ada yg dispesialkan.
    3. Panitia qurban dpt jatah 1 kg daging qurban sebagaimana juga warga dapat 1 kg. Artinya keduanya dpt jatah yg sama shg tdk ada upah bagi panitia qurban.

    Mohon tanggapannya ustadz. Apa ada yg tdk dibolehkan?
    Jazakumullah khoiron atas keluangan waktu antum.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Muhammad
    Wa’alaikumussalam
    1. Ini tidak boleh karena berarti daging tersebut berstatus sebagai upah untuk pekerjaan panitia.
    2. Jika semua warga diundang untuk makan siang maka insya Allah boleh. Dalam hal ini daging korban dibagikan dalam bentuk sudah masak.
    3. boleh dengan catatan jika bapak dan anak jadi panitia maka cukup yang diberi salah satu karena yang jadi tolak ukur adalah satu KK atau satu rumah mendapat jatah 1kg. Wallahu a’lam.

  • Muhammad 9 years ago

    Maaf, ustadz tanya lagi.

    Lalu apa yg dimaksud jagal boleh dapat sedekah tapi bukan sebagai upah sebagaimana dijelaskan dlm link yg diberikan akh Jati?

    Jazakumullah khoiron ats keluangan waktu antum untuk menjelaskannya.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Muhammad
    Maksudnya jika jagal tersebut adalah orang miskin maka dia berhak mendapatkan jatah sedekah sebagaimana umumnya sedekah untuk orang miskin berupa daging korban.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Pembaca Blog ini
    Kemarin saya ngirim sms kepada al akh al Ustadz Ridho Abdillah, mahasiswa fakultas Syariah Jamiah Islamiyyah untuk menanyakan sebagian praktek qurban di tempat kita. Yaitu kulit hewan korban ditukar dengan daging lalu dibagikan kepada fakir miskin. Jawaban dari beliau saya terima jam 16:08, 01 Desember 2009 sebagai berikut, “Sudah ditanyakan kepada murid Syeikh Utsaimin. Kata beliau tetap tidak boleh diganti (ditukar dengan daging). Jadi tetap kulit itu yang dikasihkan dan nanti terserah yang menerima mau dijual lagi apa ditukar daging”.
    Setelah saya tanyakan kembali siapa nama murid Syeikh Utsaimin tersebut, beliau sampaikan bahwa beliau adalah Syeikh Samy al Kholil.

  • Abu Farras 8 years ago

    Afwan ustad ijin copast artikel ini
    Syukron

  • ustadzaris 8 years ago

    #abu
    Silahkan