<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Bai’at Antara yang Sunnah dan yang Bid’ah (2)</title>
	<atom:link href="http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2</link>
	<description>Blog Ustadz Aris Munandar</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Sep 2010 22:50:32 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>Oleh: dzulfikar</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2/comment-page-1#comment-4399</link>
		<dc:creator>dzulfikar</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 07:35:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=435#comment-4399</guid>
		<description>Akhirnya,sebagai penutup atas tulisanku. Aku sampaikan semua ini untuk menunaikan nasihat antara kita sesama muslim. Mohon halalkan segala hak yang mungkin aku zhalimi,mohon maaf segala kesalahan. Kepada &quot;ustadzaris.com&quot; dan Ustadz Aris, semoga senantiasa istiqomah di manhaj yang mulia ini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya,sebagai penutup atas tulisanku. Aku sampaikan semua ini untuk menunaikan nasihat antara kita sesama muslim. Mohon halalkan segala hak yang mungkin aku zhalimi,mohon maaf segala kesalahan. Kepada &#8220;ustadzaris.com&#8221; dan Ustadz Aris, semoga senantiasa istiqomah di manhaj yang mulia ini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: dzulfikar</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2/comment-page-1#comment-4398</link>
		<dc:creator>dzulfikar</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 07:14:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=435#comment-4398</guid>
		<description>Sebagai tambahan,ustadz yang merespon aku, dan sekarang aku anggap sebagai murobbi-ku adalah Ust. Aris Munandar. Meskipun beliau tidak pernah merasa menjadi &quot;guru&quot;, tetapi aku sangat banyak dibantu oleh beliau dalam hal ilmu syar&#039;i dan dalam problematika da&#039;wah di masyarakat. Aku tidak menyangka jika SMS-SMS yang aku kirimkan selalu terbalas (hanya 1 kali belum terbalas, itu pun aku yakin karena kesibukan beliau). Jazakumullohukhoiron kepada Ust. Aris.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai tambahan,ustadz yang merespon aku, dan sekarang aku anggap sebagai murobbi-ku adalah Ust. Aris Munandar. Meskipun beliau tidak pernah merasa menjadi &#8220;guru&#8221;, tetapi aku sangat banyak dibantu oleh beliau dalam hal ilmu syar&#8217;i dan dalam problematika da&#8217;wah di masyarakat. Aku tidak menyangka jika SMS-SMS yang aku kirimkan selalu terbalas (hanya 1 kali belum terbalas, itu pun aku yakin karena kesibukan beliau). Jazakumullohukhoiron kepada Ust. Aris.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: dzulfikar</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2/comment-page-1#comment-4390</link>
		<dc:creator>dzulfikar</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 23:36:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=435#comment-4390</guid>
		<description>&lt;strong&gt;Sepenggal Kisah bersama &lt;em&gt;Ikhwan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;
 
“Akhiy, antum boleh berbeda, tapi jangan &lt;em&gt;tafarruq&lt;/em&gt; dari jama’ah; dosa besar!”
 “Sesungguhnya jika kamu tidak dengan mereka, engkau tidak dengan selainnya, sementara mereka jika tidak dengan kamu, mereka bisa dengan selainmu.”
 Dua ucapan yang hingga kini masih aku kenang, pertama diucapkan langsung di sebuah masjid, dan yang kedua mampir di handphone-ku dalam bentuk pesan singkat. Dua ucapan yang mengiringi pamitku dari sebuah jama’ah besar, Ikhwanul Muslimin.
 Pada tahun 2003 akhir, saat itu aku menghampiri salah seorang teman kuliahku. Aku sampaikan padanya, ”&lt;em&gt;Mbok&lt;/em&gt;, aku dicarikan guru &lt;em&gt;ngaji&lt;/em&gt;.” ”Serius &lt;em&gt;nih&lt;/em&gt;?” ’Ya,” jawabku singkat.
 Beberapa hari kemudian, datang sebuah sms ke hp-ku. ”Ana dengan antum ingin ngaji, kita ketemu besok pagi.” Paginya aku ketemu dengan beliau, seorang mahasiswa dengan wajah yang menyejukkan. Aku ceritakan tentang kisah suramku semasa SMU dan awal-awal kuliah. Ya. Pemuda yang sangat jauh dengan nilai-nilai din. Pendek kata, akhirnya aku menuntut ilmu dengan beliau. Hanya berdua saja. Setelah beberapa kali pertemuan, baru aku mengetahui bahwa guru ngaji –yang belakangan aku diberi tahu bahwa beliau adalah seorang &lt;em&gt;murobbi&lt;/em&gt;, dan aku &lt;em&gt;mutarobbi&lt;/em&gt;– yang aku belajar padanya adalah seorang kader dari salah satu partai Islam. Sederhana saja cara aku tahu, beliau membawa sebuah buku notes kecil dengan logo partai tersebut.
 Mungkin berbeda dengan yang lainnya. Yang aku ketahui beberapa mahasiswa yang saat ini aku temui adalah sebuah keluhan: ”Ana ini pingin cari ilmu agama, bukan berpolitik.” Lalu mereka lari dari ta’lim pekanan mereka. Namun diriku justru bangga dengan simbol tersebut. Mulai aku membeli stiker lambang partai tersebut, rompi berlambangkan simbol partai, atau juga baju koko yang berbodirkan logo partai Islam tersebut. Rasanya sudah menjadi bagian dari kumpulan orang-orang sholih. Demikian pikirku.
 Sayang, proses pendidikan Islam yang aku lalui dengan beliau tidak begitu lancar karena kesibukan beliau. Namun ternyata aku memperoleh gantinya. Suatu ketika, aku bertemu seorang Ustadz yang menurut penilaianku lebih berilmu. Aku langsung jatuh cinta. Walhasil, bergabunglah aku di dalam halaqohnya. Delapan bulan kira-kira aku dibina.
 Suatu ketika sang murobbi meminta aku untuk mengatur waktu pertemuan dengan beliau, seminggu sekali di luar waktu halaqoh. Aku diminta mengajak satu orang teman yang lain. Aku tidak tahu mengapa dia yang harus aku ajak. Yang jelas, saat itu aku diminta untuk merahasiakan aktivitas tersebut, bahkan dari teman satu halaqoh. Padahal, menurut yang dianut oleh mereka, teman satu halaqoh adalah seperti satu tubuh; persoalan pribadi pun tahu.
 Aku mulai majelis khusus dengan rasa bangga. Sepertinya kami dikhususkan dari yang lain. Di majelis tersebut, aku dikenalkan dengan fiqh da’wah dan amal jama’i. Setelah materi tersebut usai, kami mulai diperkenalkan sebuah risalah yang ditulis oleh seorang tokoh pergerakan yang bernama Hasan al-Banna. Tidak semua memang dalam buku tersebut dibahas, tetapi yang jelas kami sangat bersemangat membahas &lt;em&gt;Majmuaturrosail&lt;/em&gt;. Para aktivis sering menyebutnya dengan Risalah Pergerakan. Beberapa pertemuan, aku agak lupa, lalu kami pun selesai dan diminta menunggu kabar dari murobbi dari murobbiku. Gampangnya, kakek guruku.
***
 Di dalam masa itu juga, aku sudah belajar menjadi murobbi. Itu artinya, aku mempunyai mutarobbi. Ada suatu hari yang sangat berharga, yang merupakan titik balik bagi diriku. Tatkala aku berkunjung ke tempat tinggal mutarobbi-ku, beliau sedang mendengarkan ceramah. Kata beliau, Syaroh Hadits Arba’in yang disampaikan oleh Ustadz Abu Isa Abdulloh bin Salam. Aku pinjam CD tersebut dan aku &lt;em&gt;copy&lt;/em&gt; di komputerku. 
 Sementara aku masih &lt;em&gt;ngaji&lt;/em&gt; dengan murobbi-ku, aku juga kesana-kemari membeli buku-buku dari penulis yang tidak direkomendasikan oleh teman-teman satu jama’ah, atau bahkan dijauhi. Masih ingat saat aku menceritakan jika aku membeli di Toko Buku Ihya’, milik Ustadz Afifi Abdul Wadud, seorang akhwat senior di jama’ah berkata: ”&lt;em&gt;Kok, &lt;/em&gt;beli di toko itu &lt;em&gt;to&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;akh&lt;/em&gt;. Awas, nanti ter­-&lt;em&gt;sibghoh&lt;/em&gt; (baca: tercelup aroma salafi)?!” 
 Di tengah perjalanan aku mendengarkan ceramah dari Ustadz Abu Isa, aku tahu dari beliau, bahwa ternyata musik itu harom. Aku terperanjat. Mengapa? Padahal saat itu aku sangat gandrung dengan nasyid. Aku pun mencari tahu. Dua buah buku aku beli: yang pertama, ditulis oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dan yang kedua ditulis oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Pembaca pasti sudah familiar dengan buku tersebut. Bismillah... aku mulai menjauhi nasyid dan &lt;em&gt;asyik masyuk&lt;/em&gt; dengan lantunan suara murottal Syaikh Masyari Rosyid. Lama kelamaan, saat aku mendengar nasyid, rasanya dada ini sesak, panas, gelisah, benci. Nasyid hanya menumbuhkan angan-angan kosong dan kemunafikan.
 Siapa yang nyana, ternyata dari haromnya musik, aku mulai membuka wawasan diniyah. Lepas dari kungkungan jama’ah yang melarang untuk membaca buku ini dan itu. Lepas dari orang-orang yang mengatakan Salafi itu kecil amalnya, &lt;em&gt;ngurusi&lt;/em&gt; tauhid tidak habis-habisnya, tidak mau ngurusi orang dan maunya harus diurusi, malas berda’wah, keras jika menasihati, dan berbagai tuduhan yang merendahkan orang yang terkenal dengan nama ”salafi.” Saat itu, aku hanya sedikit heran, jika musik harom, mengapa jama’ah ini hampir tidak pernah lepas dari musik (nasyid). Berbagai pertanyaan juga muncul, yang mungkin lahir karena saking bodohnya diriku, salah satunya: apa yang membuat di jama’ah ini ada mekanisme amniyah. 
***
 Selesai sudah aku menunggu kabar dari ”kakek murobbi”ku, akhirnya datang juga perintah untuk menemui murobbiku. Aku diminta berboncengan bersama dengan salah seorang temanku. Tanpa mengetahui akan diapakan, aku menurut saja. Murobbi-ku lalu mampir di rumah temannya. Aku melihat mereka seolah sama-sama tahu tanpa menjelaskan apa yang akan dilakukan, hanya berbicara: ”Ini yang mau di-itu.” Yang diajak bicara pun &lt;em&gt;manggut-manggut &lt;/em&gt;tanda paham. 
 Kami lalu berangkat menuju sebuah masjid yang aku tidak tahu dimana letaknya, saat itu malam hari. Di sana akhirnya bertemu dengan beberapa orang lain. Orang terakhir yang datang adalah kakek murobbiku. Saat pertemuan dimulai, beliau menjelaskan tentang bai’at yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Pendek kata, beliau menjelaskan bahwa apa yang akan dilakukan malam ini adalah ada dalilnya. Usai penjelasan tersebut, kami ditawari untuk di-bai’at. Dan kami bersedia. Aku disodori teks bai’at, menjabat tangan kakek murobbiku, dan diminta melafazhkan teks bai’at dalam bahasa Arob. Inti teks tersebut adalah bahwa aku berjanji setia untuk menjadi anggota Ikhwanul Muslimin. Aku terperanjat, kaget tapi ada rasa kebanggaan yang luar biasa, mungkin karena aku bodoh. Luar biasa: aku dibai’at secara rahasia, sangat rahasia, bahkan dirahasiakan dari istri sekalipun.
***
 Entah kenapa, gerak hati ini semakin tidak nyaman untuk berada di dalam jama’ah tersebut. Ada rasa berdosa ketika aku harus berda’wah tetapi di waktu yang sama, aku harus menyembunyikan sesuatu kepada para mutarobbiku. Ada rasa berdosa ketika harus melakoni tugas-tugas kejama’ahan yang menurut buku-buku ”salafi” tidak dibenarkan. 
 Aku bersyukur, kembali mutarobbi-ku lagi yang menjadi wasilah. Beliau memberikan beberapa nomor handphone beberapa ustadz dari para ikhwah salafiyyin. Aku hubungi semuanya dan satu yang memberikan respon, yang sekarang menjadi murobbiku. 
***
 Aku tidak ingin berpanjang lebar disini. Pada suatu hari, aku ditekan untuk memberi jawaban atas sebuah tawaran. Jika masih ingin berada di &lt;em&gt;shoff &lt;/em&gt;jama’ah, maka materi da’wahku juga harus dikontrol. Aku melihat ada sebuah kejanggalan. Mengapa? Aku menyampaikan apa yang tertulis dari apa yang aku baca. Hanya saja, yang aku baca bukan dari buku-buku yang biasa dibaca oleh para anggota jama’ah; yang mungkin banyak bertentangan dengan ideologi jama’ah. Namun aku tetap yakin, apa yang aku sampaikan adalah kebenaran, mengapa harus dihentikan? Akupun dituduh mencela para ulama? Dan sebagainya, dan sebagainya. Hingga pada suatu hari, aku mendengar bahwa seorang senior jama’ah memberikan instruksi pada anggota jama’ah yang masih ”muda” untuk tidak mendekati diriku. Ya. Ceritanya aku diboikot, meski tidak semua memboikot 
Alhamdulillah, saat itu aku memutuskan untuk pamit dari jama’ah. Rasanya lega. Banyak pesan singkat yang mencela diriku. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Ada beberapa cerita unik yang mengiringi pamitku dari jama’ah ini. Suatu ketika aku mendapatkan pesan singkat (sms) dari mutarobbi-ku. Mereka adalah mutarobbi yang mengikuti jejakku dan sedang dikondisikan agar tetap berada di jama’ah oleh murobbi atau teman satu jama’ah. 
”Salafiyyin itu tafsir (kitab tafsir)nya dangkal, tidak kontemporer.” 
Juga sms lainnya: 
”Orang salafiy itu: 1. Terlalu mengutamakan menuntut ilmu sehingga meninggalkan da’wah, 2. Terlalu &lt;em&gt;saklek&lt;/em&gt; dengan al-Qur’an dan Sunnah sehingga cenderung tidak menerima hal-hal baru atau ijtihadiyah, 3. Mudah mengatakan bid’ah pada seseorang dan jama’ah lain... Bagaimana penjelasannya?” 
Juga sampai sebuah komentar dari salah seorang ikhwah jama’ah senior (sekarang menjadi anggota DPRD Kota Yogyakarta) kepadaku:
Yang kita bahas adalah tentang hukum-hukum/aturan-aturan dalam kerangka hidup bernegara. Contoh: RUU Pedidikan, RUU APP (Anti Pornografi-Pornoaksi), ataupun RUU lain yang akan lebih menjamin payung hukum ummat Islam melaksanakan syari’at Islam secara kaffah. Itu tidak akan perah berlaku di Republik ini tanpa perjuangan, sekedar dengan ta’lim di masjid-masjid besar sambil membid’ah-bid’ahkan Muslim lain yang sedang berjuang dengan ikhlash &lt;em&gt;lillahi ta’ala&lt;/em&gt;, merasa diri paling &lt;em&gt;nyunnah &lt;/em&gt;walau dengan pemahaman yang &lt;em&gt;cethek &lt;/em&gt;(dangkal), &lt;em&gt;tekstual&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;tidak integral dalam permasalahan dan dalam mengambil dalil. &lt;/em&gt;So, silakan belajar dan amalkan Islam secara kaffah. Fiqh siyasah, ibadah, ekonomi, sosbud, dll. Jangan mencukupkan diri dengan fiqh ibadah, &lt;em&gt;ndak&lt;/em&gt; ku (rang) per (gaulan), &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; funky, (&lt;em&gt;ga&lt;/em&gt;) cool, (&lt;em&gt;ga&lt;/em&gt;) calm, (&lt;em&gt;ga&lt;/em&gt;) confident, he.. he ...
Juga seorang ikhwah yang ketika memberitahukan kepada saudaranya bahwa beliau &lt;em&gt;ngaji &lt;/em&gt;bersama ikhwah salafiyyin, kakak beliau pun (yang merupakan salah satu anggota partai dakwah tersebut) mengatakan padanya: ”Sekarang jangan anggap saya dan mbakmu sebagai saudara!”
Kisah lain yang tidak kalah luar biasanya. Ada seorang ukhtun yang telah menjadi kader inti menanyakan kepada seorang Ustadz, sebut saja GM, ”Bagaimana hukum keluar dari al jamaah?” Dijawab, ”Bunuh”-sebagaimana dalam hadits yang ada di Arbain Nawawiyyah-. Lalu, ukhtun tersebut bertanya lagi, ”Apa hukum keluar dari jama’ah Ikhwanul Muslimin?” Dijawab, ”Seandainya kami mempunyai kemampuan pasti akan demikian pula (akan dibunuh).”
Terakhir, mungkin ini yang tidak diketahui oleh banyak orang, bahwa Ust. Prof. Dr. YI adalah seorang kader Ikhwanul Muslimin, dan beliau termasuk sesepuh di jama’ah tersebut. Aku sendiri tahu setelah dibai’at.
Ya. Demikian yang bisa aku sampaikan pada umat. Mudah-mudahan Alloh selalu memberikan keistiqomahan pada diriku untuk meniti manhaj salaf. Kepada saudara-saudaraku yang telah mendapat hidayah untuk meninggalkan ”rumah lama”, memegang kebenaran itu seperti memegang bara. Semakin erat dipegang, semakin hancur jasad kita.
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sepenggal Kisah bersama <em>Ikhwan</em></strong><br />
 <br />
“Akhiy, antum boleh berbeda, tapi jangan <em>tafarruq</em> dari jama’ah; dosa besar!”<br />
 “Sesungguhnya jika kamu tidak dengan mereka, engkau tidak dengan selainnya, sementara mereka jika tidak dengan kamu, mereka bisa dengan selainmu.”<br />
 Dua ucapan yang hingga kini masih aku kenang, pertama diucapkan langsung di sebuah masjid, dan yang kedua mampir di handphone-ku dalam bentuk pesan singkat. Dua ucapan yang mengiringi pamitku dari sebuah jama’ah besar, Ikhwanul Muslimin.<br />
 Pada tahun 2003 akhir, saat itu aku menghampiri salah seorang teman kuliahku. Aku sampaikan padanya, ”<em>Mbok</em>, aku dicarikan guru <em>ngaji</em>.” ”Serius <em>nih</em>?” ’Ya,” jawabku singkat.<br />
 Beberapa hari kemudian, datang sebuah sms ke hp-ku. ”Ana dengan antum ingin ngaji, kita ketemu besok pagi.” Paginya aku ketemu dengan beliau, seorang mahasiswa dengan wajah yang menyejukkan. Aku ceritakan tentang kisah suramku semasa SMU dan awal-awal kuliah. Ya. Pemuda yang sangat jauh dengan nilai-nilai din. Pendek kata, akhirnya aku menuntut ilmu dengan beliau. Hanya berdua saja. Setelah beberapa kali pertemuan, baru aku mengetahui bahwa guru ngaji –yang belakangan aku diberi tahu bahwa beliau adalah seorang <em>murobbi</em>, dan aku <em>mutarobbi</em>– yang aku belajar padanya adalah seorang kader dari salah satu partai Islam. Sederhana saja cara aku tahu, beliau membawa sebuah buku notes kecil dengan logo partai tersebut.<br />
 Mungkin berbeda dengan yang lainnya. Yang aku ketahui beberapa mahasiswa yang saat ini aku temui adalah sebuah keluhan: ”Ana ini pingin cari ilmu agama, bukan berpolitik.” Lalu mereka lari dari ta’lim pekanan mereka. Namun diriku justru bangga dengan simbol tersebut. Mulai aku membeli stiker lambang partai tersebut, rompi berlambangkan simbol partai, atau juga baju koko yang berbodirkan logo partai Islam tersebut. Rasanya sudah menjadi bagian dari kumpulan orang-orang sholih. Demikian pikirku.<br />
 Sayang, proses pendidikan Islam yang aku lalui dengan beliau tidak begitu lancar karena kesibukan beliau. Namun ternyata aku memperoleh gantinya. Suatu ketika, aku bertemu seorang Ustadz yang menurut penilaianku lebih berilmu. Aku langsung jatuh cinta. Walhasil, bergabunglah aku di dalam halaqohnya. Delapan bulan kira-kira aku dibina.<br />
 Suatu ketika sang murobbi meminta aku untuk mengatur waktu pertemuan dengan beliau, seminggu sekali di luar waktu halaqoh. Aku diminta mengajak satu orang teman yang lain. Aku tidak tahu mengapa dia yang harus aku ajak. Yang jelas, saat itu aku diminta untuk merahasiakan aktivitas tersebut, bahkan dari teman satu halaqoh. Padahal, menurut yang dianut oleh mereka, teman satu halaqoh adalah seperti satu tubuh; persoalan pribadi pun tahu.<br />
 Aku mulai majelis khusus dengan rasa bangga. Sepertinya kami dikhususkan dari yang lain. Di majelis tersebut, aku dikenalkan dengan fiqh da’wah dan amal jama’i. Setelah materi tersebut usai, kami mulai diperkenalkan sebuah risalah yang ditulis oleh seorang tokoh pergerakan yang bernama Hasan al-Banna. Tidak semua memang dalam buku tersebut dibahas, tetapi yang jelas kami sangat bersemangat membahas <em>Majmuaturrosail</em>. Para aktivis sering menyebutnya dengan Risalah Pergerakan. Beberapa pertemuan, aku agak lupa, lalu kami pun selesai dan diminta menunggu kabar dari murobbi dari murobbiku. Gampangnya, kakek guruku.<br />
***<br />
 Di dalam masa itu juga, aku sudah belajar menjadi murobbi. Itu artinya, aku mempunyai mutarobbi. Ada suatu hari yang sangat berharga, yang merupakan titik balik bagi diriku. Tatkala aku berkunjung ke tempat tinggal mutarobbi-ku, beliau sedang mendengarkan ceramah. Kata beliau, Syaroh Hadits Arba’in yang disampaikan oleh Ustadz Abu Isa Abdulloh bin Salam. Aku pinjam CD tersebut dan aku <em>copy</em> di komputerku.<br />
 Sementara aku masih <em>ngaji</em> dengan murobbi-ku, aku juga kesana-kemari membeli buku-buku dari penulis yang tidak direkomendasikan oleh teman-teman satu jama’ah, atau bahkan dijauhi. Masih ingat saat aku menceritakan jika aku membeli di Toko Buku Ihya’, milik Ustadz Afifi Abdul Wadud, seorang akhwat senior di jama’ah berkata: ”<em>Kok, </em>beli di toko itu <em>to</em>, <em>akh</em>. Awas, nanti ter­-<em>sibghoh</em> (baca: tercelup aroma salafi)?!”<br />
 Di tengah perjalanan aku mendengarkan ceramah dari Ustadz Abu Isa, aku tahu dari beliau, bahwa ternyata musik itu harom. Aku terperanjat. Mengapa? Padahal saat itu aku sangat gandrung dengan nasyid. Aku pun mencari tahu. Dua buah buku aku beli: yang pertama, ditulis oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dan yang kedua ditulis oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Pembaca pasti sudah familiar dengan buku tersebut. Bismillah&#8230; aku mulai menjauhi nasyid dan <em>asyik masyuk</em> dengan lantunan suara murottal Syaikh Masyari Rosyid. Lama kelamaan, saat aku mendengar nasyid, rasanya dada ini sesak, panas, gelisah, benci. Nasyid hanya menumbuhkan angan-angan kosong dan kemunafikan.<br />
 Siapa yang nyana, ternyata dari haromnya musik, aku mulai membuka wawasan diniyah. Lepas dari kungkungan jama’ah yang melarang untuk membaca buku ini dan itu. Lepas dari orang-orang yang mengatakan Salafi itu kecil amalnya, <em>ngurusi</em> tauhid tidak habis-habisnya, tidak mau ngurusi orang dan maunya harus diurusi, malas berda’wah, keras jika menasihati, dan berbagai tuduhan yang merendahkan orang yang terkenal dengan nama ”salafi.” Saat itu, aku hanya sedikit heran, jika musik harom, mengapa jama’ah ini hampir tidak pernah lepas dari musik (nasyid). Berbagai pertanyaan juga muncul, yang mungkin lahir karena saking bodohnya diriku, salah satunya: apa yang membuat di jama’ah ini ada mekanisme amniyah.<br />
***<br />
 Selesai sudah aku menunggu kabar dari ”kakek murobbi”ku, akhirnya datang juga perintah untuk menemui murobbiku. Aku diminta berboncengan bersama dengan salah seorang temanku. Tanpa mengetahui akan diapakan, aku menurut saja. Murobbi-ku lalu mampir di rumah temannya. Aku melihat mereka seolah sama-sama tahu tanpa menjelaskan apa yang akan dilakukan, hanya berbicara: ”Ini yang mau di-itu.” Yang diajak bicara pun <em>manggut-manggut </em>tanda paham.<br />
 Kami lalu berangkat menuju sebuah masjid yang aku tidak tahu dimana letaknya, saat itu malam hari. Di sana akhirnya bertemu dengan beberapa orang lain. Orang terakhir yang datang adalah kakek murobbiku. Saat pertemuan dimulai, beliau menjelaskan tentang bai’at yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Pendek kata, beliau menjelaskan bahwa apa yang akan dilakukan malam ini adalah ada dalilnya. Usai penjelasan tersebut, kami ditawari untuk di-bai’at. Dan kami bersedia. Aku disodori teks bai’at, menjabat tangan kakek murobbiku, dan diminta melafazhkan teks bai’at dalam bahasa Arob. Inti teks tersebut adalah bahwa aku berjanji setia untuk menjadi anggota Ikhwanul Muslimin. Aku terperanjat, kaget tapi ada rasa kebanggaan yang luar biasa, mungkin karena aku bodoh. Luar biasa: aku dibai’at secara rahasia, sangat rahasia, bahkan dirahasiakan dari istri sekalipun.<br />
***<br />
 Entah kenapa, gerak hati ini semakin tidak nyaman untuk berada di dalam jama’ah tersebut. Ada rasa berdosa ketika aku harus berda’wah tetapi di waktu yang sama, aku harus menyembunyikan sesuatu kepada para mutarobbiku. Ada rasa berdosa ketika harus melakoni tugas-tugas kejama’ahan yang menurut buku-buku ”salafi” tidak dibenarkan.<br />
 Aku bersyukur, kembali mutarobbi-ku lagi yang menjadi wasilah. Beliau memberikan beberapa nomor handphone beberapa ustadz dari para ikhwah salafiyyin. Aku hubungi semuanya dan satu yang memberikan respon, yang sekarang menjadi murobbiku.<br />
***<br />
 Aku tidak ingin berpanjang lebar disini. Pada suatu hari, aku ditekan untuk memberi jawaban atas sebuah tawaran. Jika masih ingin berada di <em>shoff </em>jama’ah, maka materi da’wahku juga harus dikontrol. Aku melihat ada sebuah kejanggalan. Mengapa? Aku menyampaikan apa yang tertulis dari apa yang aku baca. Hanya saja, yang aku baca bukan dari buku-buku yang biasa dibaca oleh para anggota jama’ah; yang mungkin banyak bertentangan dengan ideologi jama’ah. Namun aku tetap yakin, apa yang aku sampaikan adalah kebenaran, mengapa harus dihentikan? Akupun dituduh mencela para ulama? Dan sebagainya, dan sebagainya. Hingga pada suatu hari, aku mendengar bahwa seorang senior jama’ah memberikan instruksi pada anggota jama’ah yang masih ”muda” untuk tidak mendekati diriku. Ya. Ceritanya aku diboikot, meski tidak semua memboikot<br />
Alhamdulillah, saat itu aku memutuskan untuk pamit dari jama’ah. Rasanya lega. Banyak pesan singkat yang mencela diriku. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Ada beberapa cerita unik yang mengiringi pamitku dari jama’ah ini. Suatu ketika aku mendapatkan pesan singkat (sms) dari mutarobbi-ku. Mereka adalah mutarobbi yang mengikuti jejakku dan sedang dikondisikan agar tetap berada di jama’ah oleh murobbi atau teman satu jama’ah.<br />
”Salafiyyin itu tafsir (kitab tafsir)nya dangkal, tidak kontemporer.”<br />
Juga sms lainnya:<br />
”Orang salafiy itu: 1. Terlalu mengutamakan menuntut ilmu sehingga meninggalkan da’wah, 2. Terlalu <em>saklek</em> dengan al-Qur’an dan Sunnah sehingga cenderung tidak menerima hal-hal baru atau ijtihadiyah, 3. Mudah mengatakan bid’ah pada seseorang dan jama’ah lain&#8230; Bagaimana penjelasannya?”<br />
Juga sampai sebuah komentar dari salah seorang ikhwah jama’ah senior (sekarang menjadi anggota DPRD Kota Yogyakarta) kepadaku:<br />
Yang kita bahas adalah tentang hukum-hukum/aturan-aturan dalam kerangka hidup bernegara. Contoh: RUU Pedidikan, RUU APP (Anti Pornografi-Pornoaksi), ataupun RUU lain yang akan lebih menjamin payung hukum ummat Islam melaksanakan syari’at Islam secara kaffah. Itu tidak akan perah berlaku di Republik ini tanpa perjuangan, sekedar dengan ta’lim di masjid-masjid besar sambil membid’ah-bid’ahkan Muslim lain yang sedang berjuang dengan ikhlash <em>lillahi ta’ala</em>, merasa diri paling <em>nyunnah </em>walau dengan pemahaman yang <em>cethek </em>(dangkal), <em>tekstual</em>, <em>tidak integral dalam permasalahan dan dalam mengambil dalil. </em>So, silakan belajar dan amalkan Islam secara kaffah. Fiqh siyasah, ibadah, ekonomi, sosbud, dll. Jangan mencukupkan diri dengan fiqh ibadah, <em>ndak</em> ku (rang) per (gaulan), <em>ga</em> funky, (<em>ga</em>) cool, (<em>ga</em>) calm, (<em>ga</em>) confident, he.. he &#8230;<br />
Juga seorang ikhwah yang ketika memberitahukan kepada saudaranya bahwa beliau <em>ngaji </em>bersama ikhwah salafiyyin, kakak beliau pun (yang merupakan salah satu anggota partai dakwah tersebut) mengatakan padanya: ”Sekarang jangan anggap saya dan mbakmu sebagai saudara!”<br />
Kisah lain yang tidak kalah luar biasanya. Ada seorang ukhtun yang telah menjadi kader inti menanyakan kepada seorang Ustadz, sebut saja GM, ”Bagaimana hukum keluar dari al jamaah?” Dijawab, ”Bunuh”-sebagaimana dalam hadits yang ada di Arbain Nawawiyyah-. Lalu, ukhtun tersebut bertanya lagi, ”Apa hukum keluar dari jama’ah Ikhwanul Muslimin?” Dijawab, ”Seandainya kami mempunyai kemampuan pasti akan demikian pula (akan dibunuh).”<br />
Terakhir, mungkin ini yang tidak diketahui oleh banyak orang, bahwa Ust. Prof. Dr. YI adalah seorang kader Ikhwanul Muslimin, dan beliau termasuk sesepuh di jama’ah tersebut. Aku sendiri tahu setelah dibai’at.<br />
Ya. Demikian yang bisa aku sampaikan pada umat. Mudah-mudahan Alloh selalu memberikan keistiqomahan pada diriku untuk meniti manhaj salaf. Kepada saudara-saudaraku yang telah mendapat hidayah untuk meninggalkan ”rumah lama”, memegang kebenaran itu seperti memegang bara. Semakin erat dipegang, semakin hancur jasad kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ustadzaris</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2/comment-page-1#comment-3147</link>
		<dc:creator>ustadzaris</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 02:55:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=435#comment-3147</guid>
		<description>Untuk Andi
1. a. Hadits nabi tentang taat kepada budak padahal dalam kondisi ideal budak tidak boleh jadi penguasa. Demikian    pula ahli bid&#039;ah, dalam kondisi ideal ahli bid&#039;ah tidak boleh jadi penguasa.
    b. Ijma ahli sunnah tentang taat kepada penguasa yang asalnya adalah pemberontak.
    c. praktek para imam sebagaimana Imam Ahmad. beliau hidup di masa al Makmun yang merupakan penyeru kepada bid&#039;ah kekafiran yaitu al Qur&#039;an adalah makhluk.
2. Kewajiban rakyat adalah merasa terikat dengan baiat meski dia sendiri tidak berbaiat. Orang indonesia yang berada di Saudi wajib taat dan menyakini bahwa raja saudi yang ada adalah penguasa yang wajib dia taati selama dia di Saudi. Ini adalah ijma para imam sebagaimana nukilan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang bisa dibaca di Muamalatul Hukkam
3. a. Banyak ulama yang mengharamkan bid&#039;ah ala LDII. Salaf LDII dalam membuat baiat semacam itu adalah tarekat shufiyyah yang membaiat guru tarekatnya (mursyid). Para ulama telah mengingkari baiat bid&#039;ah kepada guru ngaji ala shufiyyah dan LDII. Tolong baca buku al Baiah baina as Sunnah wal Bid&#039;ah karya Ali al Halabi (bisa didown load di situs resmi beliau) dan Hukmul Intima&#039; karya Bakr Abu Zaid.
b. Baiat sembunyi-sembunyi adalah kesesatan sebagaimana perkataan Umar bin Abdul Aziz, tolong baca artikel &quot;pengajian sembunyi-sembunyi&quot; yang ada di blog ini.
Baiat itu diberikan kepada imam, imam itu disebut imam karena fil amam (berada di depan, terang-terangan bukan sembunyi). Imam disebut juga amir karena memiliki imarah (kekuasaan, kalo amir bisa ditangkap polisi itu bukan amir). Imam disebut juga ulil amri yang maknanya pemilik hak untuk memerintah, kalo amir malah diperintah atau diatur maka bukan amir namanya.
Menyakini adanya imam yang sembunyi adalah akidah syiah rafidhah. Imam yang diyakini sebagai penguasa dan dibaiat adalah orang yang tidak sembunyi dan punya kekuasaan. Baca Muamalatul Hukkam karya Abdussalam Barjas.
Siapa salaf LDII dalam masalah &#039;tidak cukup mentaati penguasa setempat&#039;? Lau kana khoiron lasabuna ilaihi.
Pemerintah telah memerintahkan orang LDII ketika masih berbentuk Islam Jamaah atau Darul Hadits untuk bubar namun mereka lebih memilih taat pada amir yang sembunyi dari pada amir yang nyata dengan ganti nama menjadi LDII. Ini bukti kalo mereka itu membangkang dan tidak mau taat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Andi<br />
1. a. Hadits nabi tentang taat kepada budak padahal dalam kondisi ideal budak tidak boleh jadi penguasa. Demikian    pula ahli bid&#8217;ah, dalam kondisi ideal ahli bid&#8217;ah tidak boleh jadi penguasa.<br />
    b. Ijma ahli sunnah tentang taat kepada penguasa yang asalnya adalah pemberontak.<br />
    c. praktek para imam sebagaimana Imam Ahmad. beliau hidup di masa al Makmun yang merupakan penyeru kepada bid&#8217;ah kekafiran yaitu al Qur&#8217;an adalah makhluk.<br />
2. Kewajiban rakyat adalah merasa terikat dengan baiat meski dia sendiri tidak berbaiat. Orang indonesia yang berada di Saudi wajib taat dan menyakini bahwa raja saudi yang ada adalah penguasa yang wajib dia taati selama dia di Saudi. Ini adalah ijma para imam sebagaimana nukilan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang bisa dibaca di Muamalatul Hukkam<br />
3. a. Banyak ulama yang mengharamkan bid&#8217;ah ala LDII. Salaf LDII dalam membuat baiat semacam itu adalah tarekat shufiyyah yang membaiat guru tarekatnya (mursyid). Para ulama telah mengingkari baiat bid&#8217;ah kepada guru ngaji ala shufiyyah dan LDII. Tolong baca buku al Baiah baina as Sunnah wal Bid&#8217;ah karya Ali al Halabi (bisa didown load di situs resmi beliau) dan Hukmul Intima&#8217; karya Bakr Abu Zaid.<br />
b. Baiat sembunyi-sembunyi adalah kesesatan sebagaimana perkataan Umar bin Abdul Aziz, tolong baca artikel &#8220;pengajian sembunyi-sembunyi&#8221; yang ada di blog ini.<br />
Baiat itu diberikan kepada imam, imam itu disebut imam karena fil amam (berada di depan, terang-terangan bukan sembunyi). Imam disebut juga amir karena memiliki imarah (kekuasaan, kalo amir bisa ditangkap polisi itu bukan amir). Imam disebut juga ulil amri yang maknanya pemilik hak untuk memerintah, kalo amir malah diperintah atau diatur maka bukan amir namanya.<br />
Menyakini adanya imam yang sembunyi adalah akidah syiah rafidhah. Imam yang diyakini sebagai penguasa dan dibaiat adalah orang yang tidak sembunyi dan punya kekuasaan. Baca Muamalatul Hukkam karya Abdussalam Barjas.<br />
Siapa salaf LDII dalam masalah &#8216;tidak cukup mentaati penguasa setempat&#8217;? Lau kana khoiron lasabuna ilaihi.<br />
Pemerintah telah memerintahkan orang LDII ketika masih berbentuk Islam Jamaah atau Darul Hadits untuk bubar namun mereka lebih memilih taat pada amir yang sembunyi dari pada amir yang nyata dengan ganti nama menjadi LDII. Ini bukti kalo mereka itu membangkang dan tidak mau taat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: andi</title>
		<link>http://ustadzaris.com/bai%e2%80%99at-antara-yang-sunnah-dan-yang-bid%e2%80%99ah-2/comment-page-1#comment-3145</link>
		<dc:creator>andi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 16:45:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ustadzaris.com/?p=435#comment-3145</guid>
		<description>terima kasih ustadz atas penjelasanny, sy ingin bertanya dn mmperjelas lagi
1. jadi apakah benar walaupun amir/imam tsb ahli bid&#039;ah kita tetap wajib berbaiat kpdny? apakah ada dalil yg bs memperkuat hal ini ustadz?
2. jadi apakah taat kpd penguasa setempat = baiat kpd penguasa tsb ustadz? persoalanny begini, sy tinggal di indonesia jd sy kan taat kpd SBY, berarti sy berbaiat kpd SBY. nah bagaimana ketika misal sy ada tugas 1 thn di saudi arabia yg mana di saudi jg ada baiat kpd king saudi, nah ketika disaudi, sy menaati aturan pnguasa saudi sana dlm 1 thn, apakah berarti sy berbaiat kpd king saudi tsb ktk di saudi arabia krn mentaati peraturan king saudi?  sy msh krg jelas ttg menaati penguasa yg sama dgn berbaiat ini ustadz.
3. sy pernah smpekn ttg bid&#039;ahny baiat ini kpd sepupu/org ldii yg laen. Tetapi org ldii (yg sdh terlanjur baiat) biasany beragumen bahwa klo pun benar baiat mrk itu bid&#039;ah, toh ulama tdk ada yg mengharamkan baiat ini. mrk beragumen bahwa baiat yg mereka lakukan scr sembunyi2 krn keadaan yg darurat (tdk memungkinkan scr terang2an). dan mereka pun beragumen bahwa mereka msh menaati peraturan pemerintah indonesia (SBY), tdk ada niatan untuk memberontak, jd baiat kpd amir mrk ini cm smata2 dlm rangka beribadah dn menetapi hadits2 yg mewajibkn baiat tsb. kmdian mrk balik bertanya bagaimana jika tyt pemahamn mrk yg benar (wajibny baiat, menaati penguasa stempat saja tdk ckup), mrk balik bertanya bukanny berarti sy tdk ada ikatan baiat? jd disini mrk beranggapan bahwa baiat kpd amir mrk adalah option terbaik dn yg paling aman. sy selalu mentok klo diskusiny sampe disini, mungkin ustadz bs membantu?
maaf ustadz pertanyaanny klo agak aneh2
 </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih ustadz atas penjelasanny, sy ingin bertanya dn mmperjelas lagi<br />
1. jadi apakah benar walaupun amir/imam tsb ahli bid&#8217;ah kita tetap wajib berbaiat kpdny? apakah ada dalil yg bs memperkuat hal ini ustadz?<br />
2. jadi apakah taat kpd penguasa setempat = baiat kpd penguasa tsb ustadz? persoalanny begini, sy tinggal di indonesia jd sy kan taat kpd SBY, berarti sy berbaiat kpd SBY. nah bagaimana ketika misal sy ada tugas 1 thn di saudi arabia yg mana di saudi jg ada baiat kpd king saudi, nah ketika disaudi, sy menaati aturan pnguasa saudi sana dlm 1 thn, apakah berarti sy berbaiat kpd king saudi tsb ktk di saudi arabia krn mentaati peraturan king saudi?  sy msh krg jelas ttg menaati penguasa yg sama dgn berbaiat ini ustadz.<br />
3. sy pernah smpekn ttg bid&#8217;ahny baiat ini kpd sepupu/org ldii yg laen. Tetapi org ldii (yg sdh terlanjur baiat) biasany beragumen bahwa klo pun benar baiat mrk itu bid&#8217;ah, toh ulama tdk ada yg mengharamkan baiat ini. mrk beragumen bahwa baiat yg mereka lakukan scr sembunyi2 krn keadaan yg darurat (tdk memungkinkan scr terang2an). dan mereka pun beragumen bahwa mereka msh menaati peraturan pemerintah indonesia (SBY), tdk ada niatan untuk memberontak, jd baiat kpd amir mrk ini cm smata2 dlm rangka beribadah dn menetapi hadits2 yg mewajibkn baiat tsb. kmdian mrk balik bertanya bagaimana jika tyt pemahamn mrk yg benar (wajibny baiat, menaati penguasa stempat saja tdk ckup), mrk balik bertanya bukanny berarti sy tdk ada ikatan baiat? jd disini mrk beranggapan bahwa baiat kpd amir mrk adalah option terbaik dn yg paling aman. sy selalu mentok klo diskusiny sampe disini, mungkin ustadz bs membantu?<br />
maaf ustadz pertanyaanny klo agak aneh2<br />
 </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
