Apakah Halaman Masjid Termasuk Masjid?

Apakah Halaman Masjid Termasuk Masjid?

Penjelasan lanjutan dari pembahasan Berjualan di Halaman Masjid. Semoga bermanfaat.

رحبة المسجد

Halaman Masjid

الرحبة: بفتح الراء وسكون الحاء أو بفتحهما: الأرض الواسعة، ورحبة المكان: ساحته ومتسعه وجمعه: رحاب.
ورحبة المسجد: ساحته و صحنه (المصبح المنير 1|222 مادة (رحب) وإكمال إكمال المعلم 3|288).

Rohbah atau rohabah adalah tanah yang luas. Jika kata-kata rohbah dikaitkan dengan tempat tertentu maknanya adalah halaman yang luas dari tempat tersebut.

Sehingga pengertian rohbah masjid adalah halaman masjid. (Mishbah al Munir 1/222 dan Ikmal Ikmal al Mu’allim 3/288).

واختلف أهل العلم في دخولها مسمي المسجد وخروج المعتكف إليها على الأقوال الآتية:

Para ulama berselisih pendapat apakah halaman masjid itu termasuk masjid ataukah tidak. Konsekuensi hal ini adalah apakah orang yang sedang iktikaf boleh keluar dari ruang utama masjid lalu berada di halaman masjid tanpa menyebabkan batalnya iktikafnya ataukah tidak. Ada tiga pendapat tentang hal ini.

القول الأول: إن كانت متصلة بالمسجد داخلة في سوره فهي من المسجد وإن كانت غير متصلة به ولا محوطة بسياجه فليست منه.

Pendapat pertama, jika halaman masjid tersebut bersambung dengan masjid dan berada di dalam pagar masjid maka halaman masjid tersebut adalah bagian dari masjid. Namun jika halaman tersebut tidak bersambung dengan masjid dan tidak berada di dalam pagar masjid maka halaman tersebut bukanlah bagian dari masjid.

وبه قال الشافعية وهو رواية عن أحمد وبه قال القاضي من الحنابلة.

Inilah pendapat para ulama bermazhab Syafii, salah satu pendapat Imam Ahmad dan pendapat yang dipilih oleh Qadhi Abu Ya’la salah seorang ulama bermazhab Hanbali.

قال النووي: المراد بالرحبة ما كان مضافا إلى المسجد محجرا عليه وهو من المسجد نص الشافعي على صحة الاعتكاف فيها (المجموع 6|507)

An Nawawi asy Syafii mengatakan, “Yang dimaksud dengan halaman masjid adalah areal yang melekat pada bangunan masjid dan berada di dalam pagar masjid. Halaman masjid semisal ini adalah bagian dari masjid. Dengan tegas Imam Syafii mengatakan sahnya iktikaf di halaman masjid semisal ini” (al Majmu’ 6/507).

وقال المردوي: رحبة المسجد ليست منه علي الصحيح من المذهب والروايتين … وعنه- أي الإمام أحمد- أنه منه… وجمع القاضي بينهما في موضع من كلامه فقال: إن كانت محوطة فهي منه وإلا فلا… وقدم هذا الجمع في المستوعب وقال: من أصحابنا من جعل المسألة على روايتين والصحيح أنها رواية واحدة على اختلاف الحالين أهـ. (الإنصاف 3| 364).

Al Mardawi al Hanbali mengatakan, “Halaman masjid itu bukanlah bagian dari masjid menurut pendapat yang benar dalam mazhab Hanbali dan pendapat yang dinilai paling kuat diantara dua pendapat Imam Ahmad dalam masalah ini. Pendapat Imam Ahmad yang lain mengatakan bahwa halaman masjid adalah bagian dari masjid. Qadhi Abu Ya’la berusaha memadukan dua pendapat Imam Ahmad ini dengan mengatakan bahwa jika halaman masjid itu berada di dalam pagar masjid maka halaman masjid adalah bagian dari masjid. Jika tidak maka tidak. Pendapat Qadhi Abu Ya’la ini dinilai sebagai pendapat yang tepat dalam kitab al Mustau’ib. Penulis kitab al Mustau’ib mengatakan bahwa sebagian ulama bermazhab Hanbali beranggapan bahwa dalam masalah ini Imam Ahmad memiliki dua pendapat. Padahal yang benar Imam Ahmad hanya memiliki satu pendapat dalam masalah ini namun dengan membedakan antara halaman yang berada di dalam pagar masjid dengan halaman masjid yang tidak dikelilingi pagar masjid” (al Inshaf 3/364).

ودليله قوله تعالى: ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد (البقرة:187).
وإذا كانت الرحبة محوطة متصلة بالمسجد فهي منه.

Dalil pendapat ini adalah firman Allah yang artinya, “Jika kalian mencumbu istri-istri kalian ketika kalian sedang beriktikaf di masjid’ (QS al Baqarah:187). Jika halaman tersebut dikelilingi pagar masjid dan menyatu dengan bangunan masjid maka halaman adalah bagian dari masjid.

القول الثاني: أنها ليست من المسجد فلا يصح الاعتكاف فيها

Pendapat kedua mengatakan bahwa halaman masjid itu bukan bagian dari masjid sehingga iktikaf di sana tidaklah sah.

وهو المشهور عند المالكية (إكمال إكمال المعلم 3|288، وشرح الزرقاني 2|206، ومواهب الجليل 2|455، والشرح الكبير وحاشيته 1|542).
والمصحح عند الحنابلة من المذهب (المغني4|487 والمبدع3|68 والإنصاف3|364).

Inilah pendapat yang terkenal di antara para ulama bermazhab Maliki sebagaimana dalam Ikmal Ikmal al Mu’allim 3/288, Syarh al Zarqani 2/206, Mawahib al Jalil 2/455 dan al Syarh al Kabir beserta penjelasannya 1/542.

Demikian pula pendapat ini adalah pendapat yang menurut para ulama bermazhab Hanbali adalah pendapat yang paling tepat dalam mazhab Hanbali sebagaimana dalam al Mughni 4/487, al Mubdi’ 3/68 dan al Inshaf 3/364.

واستدلوا بما ورد عن عائشة رضي الله عنها قالت: كن المعتكفات إذا حضن أمر رسول الله-صلى الله عليه و سلم – بإخراجهن من المسجد وأن يضربن الأخبية في رحبة المسجد حتى يطهرن.

Mereka berdalil dengan perkataan Aisyah, “Para wanita yang beriktikaf jika sedang haid diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar keluar dari masjid dan memasang bilik-bilik iktikaf mereka di halaman masjid sampai mereka suci dari haid”.

ونوقش بحمله على رحبة ليست محوطة.

Dalil ini bisa dibantah dengan kita katakan bahwa dalil tersebut adalah tepat pada tempatnya jika halaman masjid tersebut tidak berada di dalam pagar masjid.

القول الثالث: أنه يصح الاعتكاف فيها إذا ضرب خباءه فيها

Pendapat ketiga mengatakan bahwa beriktikaf di halaman masjid itu sah jika bilik iktikaf dipasang di halaman masjid.

وهو قول للامام مالك.

Inilah pendapat Imam Malik.

قال مالك: لا يبيت المعتكف إلا في المسجد الذي اعتكف فيه ألا أن يكون خباءه في رحبة من رحاب المسجد (المدونة مع المقدمات 2|203، والموطأ مع المنتقى 2|79 وإكمال إكمال المعلم 3|288).

Imam Malik mengatakan, “Seorang yang sedang beriktikaf tidak boleh menginap kecuali di dalam masjid yang dia pergunakan untuk iktikaf kecuali jika bilik iktikafnya berada di halaman masjid” (al Mudawwanah yang dicetak bersama al Muqaddimat 2/203, al Muwatha yang dicetak bersama dengan al Muntaqa 2/79 dan Ikmal Ikmal al Mu’allim 3/288).

ولعله دليله ما تقدم من حديث عائشة رضي الله عنها

Boleh jadi dalil Imam Malik adalah perkataan Aisyah di atas.

وأقرب الأقوال هو القول الأول. والله أعلم.

Pendapat yang paling kuat adalah pendapat pertama, wallahu a’lam.

فقه الاعتكاف تاليف د. خالد بن علي المشيقح ص 129- 131 دار أصداء المجتمع، بريدة قصيم السعودية، 1419 هـ.

Sumber: Fikih I’tikaf karya Syaikh Dr Khalid bin Ali bin Muhammad al Musyaiqih-murid senior Syaikh Ibnu Utsaimin-halaman 129-131 terbitan Dar Ashda’ al Mujtama’, Buraidah Qashim KSA terbitan tahun 1419 H.

Catatan:
Tentang status halaman masjid kita jumpai dua pendapat ulama. Ada yang merinci dan ada yang berpendapat bahwa halaman masjid itu bukanlah bagian dari masjid.
Pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah dengan merinci apakah masjid tersebut memiliki pagar masjid ataukah tidak. Jika masjid tidak memiliki pagar maka halaman masjid adalah bukan masjid. Jika masjid memiliki pagar maka halaman masjid yang berada di dalam pagar adalah bagian dari masjid sehingga berlaku padanya segala ketentuan-ketentuan untuk masjid semisal sah iktikaf di sana dan dilarang mengadakan transaksi jual beli di sana. Inilah pendapat yang dinilai lebih kuat oleh Syaikh Ibnu Baz dan Lajnah Daimah.
Oleh karena itu, terlarang hukumnya berdagang ataupun promosi dagangan di halaman masjid yang berada di dalam pagar masjid semisal halaman Masjid Kampus UGM.
Kami menghormati orang yang memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapat yang kami pilih jika dia memilih pendapat tersebut karena berpandangan bahwa pendapat tersebut adalah pendapat yang lebih kuat ditinjau dari dalilnya. Akan tetapi adalah tercela orang yang mengambil pendapat yang lain dikarenakan itulah yang cocok dan selaras dengan selera dan hawa nafsunya.

Artikel www.ustadzaris.com

COMMENTS

WORDPRESS: 17
  • Ibnu Shalih 8 years ago

    Assalaamu’alaykum
    Stadz, jujur ana dah baca berulang2 tapi ana tetap belum paham mana sisi pendalilan [ QS al Baqarah:187] dari ulama yang berpendapat dengan pendapat pertama? Mohon dijelaskan lebih lanjut stadz…

  • ustadzaris 8 years ago

    untuk ibnu
    Adanya pagar masjid adalah lisan hal yang mengatakan bahwa semua yang ada di dalam pagar adalah bagian dan wilayah dari masjid.
    sehingga orang i’tikaf yang keluar ke halaman masjid terhitung masih di dalam masjid.

  • Ustadz, semoga Alloh memberi barokah pada ilmu antum
    Kalau ada kuburan masuk dalam tanah dan pagar masjid akan tetapi tidak didalam masjid (misal dihalaman masjid atau lainnya yg jelas masih masuk tanah masjid), apakah boleh juga bagi kita untuk shalat di masjid tersebut ?
     
    Maaf, apakah itu tidak masuk dalam hadits Nabi yg mana Beliau shallallahu alaihi wa sallam melaknat yahudi dan nasrani yang menjadikan kubur Nabi mereka sebagai masjid
     
    Apakah tafsiran para ulama’ tentang makna menjadikan kubur sebagai masjid ?
     
    Karena ilmu yg sampai kepada saya selama ini dan inilah yg menenangkan hati saya bahwa tidak boleh shalat di masjid yg ada kuburnya, meskipun kubur tersebut tidak masuk masjid tetapi masih dalam area tanah masjid atau berada dalam pagar masjid
     
    Jazakalloh khoir

  • ustadzaris 8 years ago
  • Abu Hanif #01 8 years ago

    Ustadz, bagaimanakah hukum hal2 berikut (afwan tdk pas dg temanya):
    1. Dalam suatu musholla, membagi shaf laki-perempuan bukan depan-belakang tetapi samping kiri-kanan, spt banyak dijumpai di masjid/musholla sekitar kita.
    2. Hukum melakukan adzan untuk musholla kecil di pasar atau kantor ketika masuk waktu sholat?
    Barakallahu fiik
     

  • ustadzaris 8 years ago

    untuk abu hanif
    1. Shalat sah namun kurang utama
    2. Dianjurkan untuk adzan.

  • Ustadz,
     
    Ada beberapa pertanyaan:
    Bagaimana dengan toilet yang ada pada kebanyakan masjid, dan itu di dalam pagar?
     
    Di tempat kami, di pintu masuk dewan shalat di tulis “Batas I’tikaf”. Di luar dewan shalat terjadi kegiatan jual beli pada event-event tertentu.
    Apakah dengan memasang tanda tersebut berarti kawasan di halaman masjid tetap dianggap bagian dari masjid?
    Jazakallahu khairan.
     

  • adiansyah 7 years ago

    bismillah. semoga ustadz dirahmati oleh Allah Ta’ala. ana tinggal di ma’had utsman bin affan jakarta timur. ana ingin menjelaskan bahwasanya di ma’had ana terdapat 3 bangunan utama. pertama, masjid yang mana di lt. II salah satunya terdapat ruang penyimpanan buku-buku yang menjadi kurikulum ma’had. kedua, bangunan kelas yang terdiri dari 3 lantai yang mana di lt. I salah satunya terdapat maqshof (kantin) untuk mahasiswa dan di tempat tersebut terjadi jual-beli, sedangkan di lt. II salah satunya terdapat ruang idaroh (TU) dan di ruangan tersebut thullab (para mahasiswa) membayar uang SPP, dan hal-hal lainnya yang berkenaan dengan pendidikan di ma’had termasuk pembayaran diktat kuliah kemudian setelah menyelesaikan pembayaran para mahasiswa dapat mengambilnya di ruang penyimpanan buku-buku di lt. II masjid. ketiga, bangunan sakan (asrama) terdiri dari 2 lantai yang mana di lt. I maupun di lt. II biasa terjadi jual-beli di antara thullab baik yang tinggal di sakan maupun yang berada di luar sakan.
    Ma’had kami memiliki gerbang utama dan tembok yang mengelilingi ma’had.

    Pertanyaan:
    Bagaimana hukum dari aktivitas jual-beli yang dilakukan di ma’had kami? apakah pagar pembatas ma’had juga menjadi standar pembatas bagi masjid ataukah bukan?

    mohon penjelasannya. semoga Allah menjadikan ilmu yang ustadz miliki bermanfaat. 

  • #adi
    Kalo ikrar waqif menyatakan bahwa lantai dua dan tiga bukan masjid maka boleh berjual beli di sana.

  • adiansyah 7 years ago

    ‘afwan ustadz, maksud pertanyaan ana tentang hukum penentuan batas halaman masjid dengan cakupan yang lebih luas yaitu pagar yang ada membatasi ma’had secara keseluruhan. 

  • #adian
    ya, apa yang ada di bagian dalam pagar pada dasarnya adalah termasuk bagian masjid.

  • abu faiz 7 years ago

    Ada beberapa pertanyaan:
    Bagaimana dengan toilet yang ada pada kebanyakan masjid, dan itu di dalam pagar?

  • eko rahmad 5 years ago

    Assalaamu’alaykum
    Bagaimana dengan 1 keluarga yang tinggal di lingkungan halaman Masjid dari awal menikah hingga sekarang memiliki anak dan tetap tinggal di dalam pagar Masjid ?

  • #eko
    Jika niat awal pembangunan masjid memang ada rumah imam masjid maka tidak masalah.

  • assalamualaikum wr wb, ustad
    saya ingin menanyakan kembali hukum tentang orang yang tinggal di dalam area mesjid. seorang pemuda datang ke kompleks kami pada awal 2012 lalu dan bersedia menjadi imam sekaligus pengurus mesjid. karena baru berkeluarga, warga kompleks pun bergotong royong membangunkan sebuah rumah persis di samping masjid(masih dalam halaman mesjid). pertanyaan saya :
    1. karena memiliki mobil, ia meminta untuk dibangunkan garasi pas di halaman rumahnya (masih dlm area masjid). bisa atau tidak kah itu , ustad ?
    2. sang imam mesjid mulai memasangi AC dan kulkas untuk keperluan rumah tangganya. padahal listrik dari rumah beliau masih sealiran dengan listrik mesjid, yang biayanya diambil dari operasional mesjid yg notabene dari dana jamaah. diperbolehkan kah hal spt itu ?
    3. status tanah mesjid adalah fasum/fasos kompleks yang belum diserahterimakan oleh developer ke pemda. nah, sang imam berniat untuk membeli tanah beserta bangunan yang ia tinggali tsb dengan cara menambahkan beberapa puluh juta rupiah ke dalam anggaran renovasi mesjid yg Insya Allah sebentar lagi akan dilaksanakan. bagaimana hukum dalam Islam tentang hal tersebut ?
    sekian pertanyaan saya , ustad. mohon dijawab. terima kasih. wassalam.

  • Abdullah 3 years ago

    Jazakallahu khairon atas ilmunya

  • Assalamualaikum ustadz maaf ustad maaf nama kita Majmu itu MAJMU apa ya?kan ada majmu syarah muhaddab , ada juga MAJMU fatawa ibnu taimiyyah