• Twitter
  • Facebook
  • RSS
Tegar Di Atas Sunnah
  • Depan
  • Download
    • E-Artikel
    • E-Kitab
    • Audio Kajian
  • Jadwal Kajian Rutin
  • Tanya Ustadz
  • Tentang Blog ini
  • Fiqih
  • Adab
  • Manhaj
  • Bimbingan Islam
  • Aqidah
  • Konsultasi
  • Kisah
  • Mu’amalah
  • Nasehat

You are here:

  • Home
  • Mu'amalah
  • Apakah Halaman Masjid Termasuk Masjid?

Apakah Halaman Masjid Termasuk Masjid?

03 Juli, 2010

By: muhammad abduh

category: Mu'amalah

251 12

Penjelasan lanjutan dari pembahasan Berjualan di Halaman Masjid. Semoga bermanfaat.

رحبة المسجد

Halaman Masjid

الرحبة: بفتح الراء وسكون الحاء أو بفتحهما: الأرض الواسعة، ورحبة المكان: ساحته ومتسعه وجمعه: رحاب.
ورحبة المسجد: ساحته و صحنه (المصبح المنير 1|222 مادة (رحب) وإكمال إكمال المعلم 3|288).

Rohbah atau rohabah adalah tanah yang luas. Jika kata-kata rohbah dikaitkan dengan tempat tertentu maknanya adalah halaman yang luas dari tempat tersebut.

Sehingga pengertian rohbah masjid adalah halaman masjid. (Mishbah al Munir 1/222 dan Ikmal Ikmal al Mu’allim 3/288).

واختلف أهل العلم في دخولها مسمي المسجد وخروج المعتكف إليها على الأقوال الآتية:

Para ulama berselisih pendapat apakah halaman masjid itu termasuk masjid ataukah tidak. Konsekuensi hal ini adalah apakah orang yang sedang iktikaf boleh keluar dari ruang utama masjid lalu berada di halaman masjid tanpa menyebabkan batalnya iktikafnya ataukah tidak. Ada tiga pendapat tentang hal ini.

القول الأول: إن كانت متصلة بالمسجد داخلة في سوره فهي من المسجد وإن كانت غير متصلة به ولا محوطة بسياجه فليست منه.

Pendapat pertama, jika halaman masjid tersebut bersambung dengan masjid dan berada di dalam pagar masjid maka halaman masjid tersebut adalah bagian dari masjid. Namun jika halaman tersebut tidak bersambung dengan masjid dan tidak berada di dalam pagar masjid maka halaman tersebut bukanlah bagian dari masjid.

وبه قال الشافعية وهو رواية عن أحمد وبه قال القاضي من الحنابلة.

Inilah pendapat para ulama bermazhab Syafii, salah satu pendapat Imam Ahmad dan pendapat yang dipilih oleh Qadhi Abu Ya’la salah seorang ulama bermazhab Hanbali.

قال النووي: المراد بالرحبة ما كان مضافا إلى المسجد محجرا عليه وهو من المسجد نص الشافعي على صحة الاعتكاف فيها (المجموع 6|507)

An Nawawi asy Syafii mengatakan, “Yang dimaksud dengan halaman masjid adalah areal yang melekat pada bangunan masjid dan berada di dalam pagar masjid. Halaman masjid semisal ini adalah bagian dari masjid. Dengan tegas Imam Syafii mengatakan sahnya iktikaf di halaman masjid semisal ini” (al Majmu’ 6/507).

وقال المردوي: رحبة المسجد ليست منه علي الصحيح من المذهب والروايتين … وعنه- أي الإمام أحمد- أنه منه… وجمع القاضي بينهما في موضع من كلامه فقال: إن كانت محوطة فهي منه وإلا فلا… وقدم هذا الجمع في المستوعب وقال: من أصحابنا من جعل المسألة على روايتين والصحيح أنها رواية واحدة على اختلاف الحالين أهـ. (الإنصاف 3| 364).

Al Mardawi al Hanbali mengatakan, “Halaman masjid itu bukanlah bagian dari masjid menurut pendapat yang benar dalam mazhab Hanbali dan pendapat yang dinilai paling kuat diantara dua pendapat Imam Ahmad dalam masalah ini. Pendapat Imam Ahmad yang lain mengatakan bahwa halaman masjid adalah bagian dari masjid. Qadhi Abu Ya’la berusaha memadukan dua pendapat Imam Ahmad ini dengan mengatakan bahwa jika halaman masjid itu berada di dalam pagar masjid maka halaman masjid adalah bagian dari masjid. Jika tidak maka tidak. Pendapat Qadhi Abu Ya’la ini dinilai sebagai pendapat yang tepat dalam kitab al Mustau’ib. Penulis kitab al Mustau’ib mengatakan bahwa sebagian ulama bermazhab Hanbali beranggapan bahwa dalam masalah ini Imam Ahmad memiliki dua pendapat. Padahal yang benar Imam Ahmad hanya memiliki satu pendapat dalam masalah ini namun dengan membedakan antara halaman yang berada di dalam pagar masjid dengan halaman masjid yang tidak dikelilingi pagar masjid” (al Inshaf 3/364).

ودليله قوله تعالى: ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد (البقرة:187).
وإذا كانت الرحبة محوطة متصلة بالمسجد فهي منه.

Dalil pendapat ini adalah firman Allah yang artinya, “Jika kalian mencumbu istri-istri kalian ketika kalian sedang beriktikaf di masjid’ (QS al Baqarah:187). Jika halaman tersebut dikelilingi pagar masjid dan menyatu dengan bangunan masjid maka halaman adalah bagian dari masjid.

القول الثاني: أنها ليست من المسجد فلا يصح الاعتكاف فيها

Pendapat kedua mengatakan bahwa halaman masjid itu bukan bagian dari masjid sehingga iktikaf di sana tidaklah sah.

وهو المشهور عند المالكية (إكمال إكمال المعلم 3|288، وشرح الزرقاني 2|206، ومواهب الجليل 2|455، والشرح الكبير وحاشيته 1|542).
والمصحح عند الحنابلة من المذهب (المغني4|487 والمبدع3|68 والإنصاف3|364).

Inilah pendapat yang terkenal di antara para ulama bermazhab Maliki sebagaimana dalam Ikmal Ikmal al Mu’allim 3/288, Syarh al Zarqani 2/206, Mawahib al Jalil 2/455 dan al Syarh al Kabir beserta penjelasannya 1/542.

Demikian pula pendapat ini adalah pendapat yang menurut para ulama bermazhab Hanbali adalah pendapat yang paling tepat dalam mazhab Hanbali sebagaimana dalam al Mughni 4/487, al Mubdi’ 3/68 dan al Inshaf 3/364.

واستدلوا بما ورد عن عائشة رضي الله عنها قالت: كن المعتكفات إذا حضن أمر رسول الله-صلى الله عليه و سلم – بإخراجهن من المسجد وأن يضربن الأخبية في رحبة المسجد حتى يطهرن.

Mereka berdalil dengan perkataan Aisyah, “Para wanita yang beriktikaf jika sedang haid diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar keluar dari masjid dan memasang bilik-bilik iktikaf mereka di halaman masjid sampai mereka suci dari haid”.

ونوقش بحمله على رحبة ليست محوطة.

Dalil ini bisa dibantah dengan kita katakan bahwa dalil tersebut adalah tepat pada tempatnya jika halaman masjid tersebut tidak berada di dalam pagar masjid.

القول الثالث: أنه يصح الاعتكاف فيها إذا ضرب خباءه فيها

Pendapat ketiga mengatakan bahwa beriktikaf di halaman masjid itu sah jika bilik iktikaf dipasang di halaman masjid.

وهو قول للامام مالك.

Inilah pendapat Imam Malik.

قال مالك: لا يبيت المعتكف إلا في المسجد الذي اعتكف فيه ألا أن يكون خباءه في رحبة من رحاب المسجد (المدونة مع المقدمات 2|203، والموطأ مع المنتقى 2|79 وإكمال إكمال المعلم 3|288).

Imam Malik mengatakan, “Seorang yang sedang beriktikaf tidak boleh menginap kecuali di dalam masjid yang dia pergunakan untuk iktikaf kecuali jika bilik iktikafnya berada di halaman masjid” (al Mudawwanah yang dicetak bersama al Muqaddimat 2/203, al Muwatha yang dicetak bersama dengan al Muntaqa 2/79 dan Ikmal Ikmal al Mu’allim 3/288).

ولعله دليله ما تقدم من حديث عائشة رضي الله عنها

Boleh jadi dalil Imam Malik adalah perkataan Aisyah di atas.

وأقرب الأقوال هو القول الأول. والله أعلم.

Pendapat yang paling kuat adalah pendapat pertama, wallahu a’lam.

فقه الاعتكاف تاليف د. خالد بن علي المشيقح ص 129- 131 دار أصداء المجتمع، بريدة قصيم السعودية، 1419 هـ.

Sumber: Fikih I’tikaf karya Syaikh Dr Khalid bin Ali bin Muhammad al Musyaiqih-murid senior Syaikh Ibnu Utsaimin-halaman 129-131 terbitan Dar Ashda’ al Mujtama’, Buraidah Qashim KSA terbitan tahun 1419 H.

Catatan:
Tentang status halaman masjid kita jumpai dua pendapat ulama. Ada yang merinci dan ada yang berpendapat bahwa halaman masjid itu bukanlah bagian dari masjid.
Pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah dengan merinci apakah masjid tersebut memiliki pagar masjid ataukah tidak. Jika masjid tidak memiliki pagar maka halaman masjid adalah bukan masjid. Jika masjid memiliki pagar maka halaman masjid yang berada di dalam pagar adalah bagian dari masjid sehingga berlaku padanya segala ketentuan-ketentuan untuk masjid semisal sah iktikaf di sana dan dilarang mengadakan transaksi jual beli di sana. Inilah pendapat yang dinilai lebih kuat oleh Syaikh Ibnu Baz dan Lajnah Daimah.
Oleh karena itu, terlarang hukumnya berdagang ataupun promosi dagangan di halaman masjid yang berada di dalam pagar masjid semisal halaman Masjid Kampus UGM.
Kami menghormati orang yang memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapat yang kami pilih jika dia memilih pendapat tersebut karena berpandangan bahwa pendapat tersebut adalah pendapat yang lebih kuat ditinjau dari dalilnya. Akan tetapi adalah tercela orang yang mengambil pendapat yang lain dikarenakan itulah yang cocok dan selaras dengan selera dan hawa nafsunya.

Artikel www.ustadzaris.com

    • Tweet

    About the Author

    muhammad abduh

    rumaysho.com

    jejak.bc@gmail.com

    Tags: halaman masjid, jual beli, masjid

    B

    Rating

    • 251views
    • 12comments

    Subscribe

    Subscribe to comments

    recommend to friends

    Recent Posts

    Adab, Nasehat

    Keutamaan Ngaji Live Via Internet

    14 Mei, 2013

    215

    Bimbingan Islam, Manhaj

    Mengenal Taklid

    11 Mei, 2013

    298

    Nasehat

    Tundukan Pandangan Terhadap Empat Hal

    23 April, 2013

    877

    Adab, Fiqih

    Adab Makan di Rumah Teman

    10 April, 2013

    971

    12 Comments

      Ibnu Shalih

      Jul 4, 2010, 10:12 am

      Assalaamu’alaykum
      Stadz, jujur ana dah baca berulang2 tapi ana tetap belum paham mana sisi pendalilan [ QS al Baqarah:187] dari ulama yang berpendapat dengan pendapat pertama? Mohon dijelaskan lebih lanjut stadz…

      ustadzaris

      Jul 4, 2010, 5:14 pm

      untuk ibnu
      Adanya pagar masjid adalah lisan hal yang mengatakan bahwa semua yang ada di dalam pagar adalah bagian dan wilayah dari masjid.
      sehingga orang i’tikaf yang keluar ke halaman masjid terhitung masih di dalam masjid.

      yahya

      Jul 5, 2010, 10:51 am

      Ustadz, semoga Alloh memberi barokah pada ilmu antum
      Kalau ada kuburan masuk dalam tanah dan pagar masjid akan tetapi tidak didalam masjid (misal dihalaman masjid atau lainnya yg jelas masih masuk tanah masjid), apakah boleh juga bagi kita untuk shalat di masjid tersebut ?
       
      Maaf, apakah itu tidak masuk dalam hadits Nabi yg mana Beliau shallallahu alaihi wa sallam melaknat yahudi dan nasrani yang menjadikan kubur Nabi mereka sebagai masjid
       
      Apakah tafsiran para ulama’ tentang makna menjadikan kubur sebagai masjid ?
       
      Karena ilmu yg sampai kepada saya selama ini dan inilah yg menenangkan hati saya bahwa tidak boleh shalat di masjid yg ada kuburnya, meskipun kubur tersebut tidak masuk masjid tetapi masih dalam area tanah masjid atau berada dalam pagar masjid
       
      Jazakalloh khoir

      ustadzaris

      Jul 6, 2010, 5:43 am

      untuk yahya
      tolong baca di sini:
      http://ustadzaris.com/bila-di-kiblat-masjid-ada-makam

      Abu Hanif #01

      Jul 7, 2010, 9:45 am

      Ustadz, bagaimanakah hukum hal2 berikut (afwan tdk pas dg temanya):
      1. Dalam suatu musholla, membagi shaf laki-perempuan bukan depan-belakang tetapi samping kiri-kanan, spt banyak dijumpai di masjid/musholla sekitar kita.
      2. Hukum melakukan adzan untuk musholla kecil di pasar atau kantor ketika masuk waktu sholat?
      Barakallahu fiik
       

      ustadzaris

      Jul 7, 2010, 1:22 pm

      untuk abu hanif
      1. Shalat sah namun kurang utama
      2. Dianjurkan untuk adzan.

      irfan

      Sep 28, 2010, 11:07 am

      Ustadz,
       
      Ada beberapa pertanyaan:
      Bagaimana dengan toilet yang ada pada kebanyakan masjid, dan itu di dalam pagar?
       
      Di tempat kami, di pintu masuk dewan shalat di tulis “Batas I’tikaf”. Di luar dewan shalat terjadi kegiatan jual beli pada event-event tertentu.
      Apakah dengan memasang tanda tersebut berarti kawasan di halaman masjid tetap dianggap bagian dari masjid?
      Jazakallahu khairan.
       

      adiansyah

      Okt 13, 2011, 10:39 am

      bismillah. semoga ustadz dirahmati oleh Allah Ta’ala. ana tinggal di ma’had utsman bin affan jakarta timur. ana ingin menjelaskan bahwasanya di ma’had ana terdapat 3 bangunan utama. pertama, masjid yang mana di lt. II salah satunya terdapat ruang penyimpanan buku-buku yang menjadi kurikulum ma’had. kedua, bangunan kelas yang terdiri dari 3 lantai yang mana di lt. I salah satunya terdapat maqshof (kantin) untuk mahasiswa dan di tempat tersebut terjadi jual-beli, sedangkan di lt. II salah satunya terdapat ruang idaroh (TU) dan di ruangan tersebut thullab (para mahasiswa) membayar uang SPP, dan hal-hal lainnya yang berkenaan dengan pendidikan di ma’had termasuk pembayaran diktat kuliah kemudian setelah menyelesaikan pembayaran para mahasiswa dapat mengambilnya di ruang penyimpanan buku-buku di lt. II masjid. ketiga, bangunan sakan (asrama) terdiri dari 2 lantai yang mana di lt. I maupun di lt. II biasa terjadi jual-beli di antara thullab baik yang tinggal di sakan maupun yang berada di luar sakan.
      Ma’had kami memiliki gerbang utama dan tembok yang mengelilingi ma’had.

      Pertanyaan:
      Bagaimana hukum dari aktivitas jual-beli yang dilakukan di ma’had kami? apakah pagar pembatas ma’had juga menjadi standar pembatas bagi masjid ataukah bukan?

      mohon penjelasannya. semoga Allah menjadikan ilmu yang ustadz miliki bermanfaat. 

      ustadzaris

      Okt 13, 2011, 2:16 pm

      #adi
      Kalo ikrar waqif menyatakan bahwa lantai dua dan tiga bukan masjid maka boleh berjual beli di sana.

      adiansyah

      Okt 14, 2011, 3:45 pm

      ‘afwan ustadz, maksud pertanyaan ana tentang hukum penentuan batas halaman masjid dengan cakupan yang lebih luas yaitu pagar yang ada membatasi ma’had secara keseluruhan. 

      ustadzaris

      Okt 17, 2011, 3:18 pm

      #adian
      ya, apa yang ada di bagian dalam pagar pada dasarnya adalah termasuk bagian masjid.

      abu faiz

      Mar 1, 2012, 3:01 pm

      Ada beberapa pertanyaan:
      Bagaimana dengan toilet yang ada pada kebanyakan masjid, dan itu di dalam pagar?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked. *

    Name*

    E-mail*

    Website

    Comment

    Cancel reply

    Video Ustadz

    Artikel Populer

    Hitam di Dahi Perlu Diwaspadai

    10 August, 2009

    • 1634
    • 208
    jamaah

    Khuruj bersama Jama'ah Tabligh

    12 August, 2009

    • 1316
    • 168

    Pacaran Terselubung Via Chatting dan HP

    20 October, 2009

    • 1142
    • 137

    Hukum Mencium Tangan dan Membungkukkan Badan

    04 June, 2009

    • 1421
    • 119

    Do'a Qunut Ketika Shubuh

    20 July, 2009

    • 1620
    • 118

    Berlangganan Artikel

    • Kategori
      • Adab
      • Aqidah
      • Bimbingan Islam
      • Fiqih
      • Info
      • Kajian Audio
      • Kisah
      • Konsultasi
      • Manhaj
      • Mu'amalah
      • Nasehat
    Follow on Twitter
    BACK TO TOP
    • abdullah al sulmi
    • abdullah alsulmi
    • abu bakar
    • abu hurairah
    • Abul Hasan al Ma’ribi
    • acara keluarga
    • Adab
    • adab majelis
    • adab makan
    • adab minum

    Flag Counter

    Free counters!

    Name:

    Email:

    Message:

    • Twitter
    • Facebook
    • RSS

    © 2008-2013 Ustadz Aris Munandar

    Close

    Enter the site

    Login

    Password

    Remember me

    Forgot password?

    Login