Akidah Istilah Syar’i

Akidah Istilah Syar’i

Diantara istilah yang sangat populer di kalangan peminat kajian keislaman terutama kajian mengenai iman dan tauhid adalah istilah akidah. Banyak pihak yang berpandangan bahwa istilah akidah adalah istilah buatan ulama untuk salah satu cabang ilmu keislaman yaitu tauhid yang tidak pernah dipergunakan oleh Allah dalam al Quran atau pun Nabi dalam hadits-haditsnya. Lain halnya dengan istilah yang telah disebutkan dalam sejumlah hadits Nabi. Nampaknya pandangan semacam ini kepada istilah akidah patut untuk ditelaah ulang karena ternyata dijumpai hadits yang menunjukkan bahwa Nabi telah mempergunakan istilah akidah dalam pengertian keyakinan. Itulah hadits yang diriwayatkan oleh Darimi dalam sunannya sebagaimana berikut ini:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : خَرَجَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ مِنْ عِنْدِ مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ بِنِصْفِ النَّهَارِ ، قَالَ فَقُلْتُ : مَا خَرَجَ هَذِهِ السَّاعَةَ مِنْ عِنْدِ مَرْوَانَ إِلاَّ وَقَدْ سَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ ، فَأَتَيْتُهُ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ : نَعَمْ سَأَلَنِى عَنْ حَدِيثٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

Dari Aban bin Utsman, pada suatu hari di pertengahan siang Zaid bin Tsabit keluar dari rumah Marwan bin Hakam. Melihat hal tersebut aku berkata, “Tidaklah beliau keluar meninggalkan rumah Marwan di saat semisal ini kecuali karena Marwan hendak bertanya kepada beliau tentang suatu hal”. Akhirnya kudatangi Zaid dan kutanyakan hal tersebut kepada beliau. Jawaban beliau, “Benar, dia bertanya kepadaku mengenai sebuah hadits yang kudengar dari Rasulullah”.

قَالَ :« نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثاً فَحَفِظَهُ فَأَدَّاهُ إِلَى مَنْ هُوَ أَحْفَظُ مِنْهُ ، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ، لاَ يَعْتَقِدُ قَلْبُ مُسْلِمٍ عَلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ ».

Rasulullah bersabda, “Semoga Allah memberikan wajah yang bercahaya kepada orang yang mendengar hadits yang kusampaikan lantas menghafalkannya dan menyampaikan kepada orang yang lebih bagus hafalannya. Terkadang seorang hafal hadits itu tidak faham dengan baik hadits yang dia hafal. Terkadang seorang penghafal hadits mengajarkan hadits tersebut kepada murid yang ternyata murid ini lebih faham tentang kandungan hadits tersebut dibandingkan gurunya. Hati seorang muslim yang ber-akidah (baca: menyakini) tiga hal pasti orangnya akan masuk surga”

قَالَ قُلْتُ : مَا هُنَّ؟ قَالَ : « إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ ، وَالنَّصِيحَةُ لِوُلاَةِ الأَمْرِ ، وَلُزُومُ الْجَمَاعَةِ ، فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ ، وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ ، وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا نِيَّتَهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ ».

Zaid bertanya kepada Rasulullah, “Apa saja tiga hal tersebut?” Sabda Rasulullah, “Beramal ikhlas karena Allah, menginginkan kebaikan untuk penguasa dan loyal dengan penguasa muslim. Sungguh doa kaum muslimin untuk mengelilinginya. Siapa saja yang menjadikan akherat sebagai obsesinya maka Allah akan meletakkan kekayaan dalam hatinya, Allah akan mudahkan urusannya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina. Sebaliknya siapa saja yang dunia menjadi obsesinya maka Allah akan menceraiberaikan urusannya dan kemiskinan akan Allah letakkan di antara kedua matanya dan tidaklah dunia menghampirinya kecuali sebatas yang Allah takdirkan untuknya”.

قَالَ : وَسَأَلْتُهُ عَنْ صَلاَةِ الْوُسْطَى قَالَ :« هِىَ الظُّهْرُ ».

Kutanyakan kepada Nabi mengenai shalat yang paling utama. Jawaban beliau, “Shalat Zhuhur” (HR Darimi no 229, Husain Salim Asad mengatakan ‘sanadnya shahih’).

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0