Akhlaq Seorang Ahlus Sunnah Terhadap Musuhnya

Berikut ini adalah praktek nyata yang menunjukkan bagaimana akhlak seorang ahli sunnah terhadap musuhnya. Inilah contoh akhlak Ibnu Taimiyyah sebagaimana diceritakan sendiri oleh muridnya yang demikian berbakti, Ibnul Qoyyim.

وما رأيت أحدا قط أجمع لهذه الخصال من شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه وكان بعض أصحابه الأكابر يقول : وددت أني لأصحابي مثله لأعدائه وخصومه

Ibnul Qoyyim mengatakan, “Aku tidak mengetahui seorang yang memiliki sifat-sifat ini selain Ibnu Taimiyyah. Moga Allah menyucikan arwahnya.”

Salah seorang murid senior beliau pernah mengatakan, “Aku berharap bisa bersikap dengan para shahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh-musuhnya”.

وما رأيته يدعو على أحد منهم قط وكان يدعو لهم

Aku tidak pernah mengetahui Ibnu Taimiyyah mendoakan kejelekan untuk seorang pun dari musuh-musuhnya. Sebaliknya beliau sering mendoakan kebaikan untuk mereka.

وجئت يوما مبشرا له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له فنهرني وتنكر لي واسترجع ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال : إني لكم مكانه ولا يكون لكم أمر تحتاجون فيه إلى مساعدة إلا وساعدتكم فيه ونحو هذا من الكلام فسروا به ودعوا له وعظموا هذه الحال منه فرحمه الله ورضى عنه

Suatu hari aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilahi raji’un).

Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut. Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati . Bahkan beliau mengatakan, “Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan pasti aku akan membantu kalian” dan ucapan semisal itu.

Akhirnya mereka pun bergembira, mendoakan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut. Moga Allah menyayangi dan meridhoi Ibnu Taimiyyah”.

Perkataan Ibnul Qoyyim di atas saya jumpai dalam Madarij as Salikin 2/328-329, tahqiq Imad ‘Amir, terbitan Darul Hadits Kairo, cetakan pertama 1316H.

Allahu Akbar, demikian agung akhlak seorang sunni salafi.
Marilah kita merenung seberapa jauh kita bisa meneladani akhlak beliau.

Ya Allah, maafkanlah segala kekurangan kami.

COMMENTS

WORDPRESS: 7
  • Subhanallah………….beginilah seharusnya kita bersikap terhadap musuh-musuh kita. Aina nahnu min akhlaqis salaf?

  • tapi kadang bikin dongkel atas sikap keras kepala mereka. gimana cara menghilangkan penyakit hati ini ?

  • Ibnu Shalih 9 years ago

    Subhanalloh…Semoga Alloh merahmati Ibnu Taimiyah, Semoga Alloh merahmati Ibnu Taimiyah, Semoga Alloh merahmati Ibnu Taimiyah dan antum yaa ustadzunaa

  • Sastro 9 years ago

    Dari artikel yg saya baca ini, Ibnu Taimiyah tidak pernah mendoakan kejelekan kpd musuh2nya.
    Lantas apakah tercela, jika kita mendoakan kejelekan kepada musuh kita tatkala kita nasehati dia dgn AlQuran atau Hadits Shahih malah dia tentang.?
    Karena ada hadits shahih juga yg menjelaskan bhw Rosulullah pernah mendoakan kejelekan utk org yg makan dgn tangan kiri.

  • ustadzaris 9 years ago

    Untuk Sastro
    Bolehkan tidak harus.

  • @sastro
    sedikitnya riwayat nabi mendoakan keburukan seperti yang antum ceritakan itu, dan sangat banyaknya riwayat nabi mendoakan ummat ini. menunjukkan bahwa yang menjadi asal isi doa itu adalah mendoakan kebaikan bukan justru mendoakan keburukan. dan begitulah apa yang dilakukan oleh salafushshaleh teramsuk para ulama yang mengikuti mereka (ibn taimiyah termasuk di dalamnya).
    Bisa jadi pada kisah yang antum sebutkan itu, merupakan bentuk pengajaran nabi akan pentingnya makan dengan tangan kanan.
    Wallaahu’alam
    nb: maaf ustadz aris kalo saya lancang dalam berkomentar.